Perjalanan ke Giethoorn : Berawal dari Khalayan

Giethoorn, 17 Oktober 2017

Perjalanan ke Giethoorn ini bisa dibilang magical trip. Lho kok? Hehehe… jadi ceritanya begini. Bulan Maret yang lalu ketika dalam perjalanan pulang ke Makassar dari Jeddah, saya membaca majalah yang disediakan di pesawat. Ini adalah kebiasaan saya dan suami untuk membunuh waktu. Di salah satu artikel majalah tersebut membahas Desa Giethoorn di Belanda yang katanya bak di negeri dongeng. Tulisan tentang keindahan Giethoorn ternyata  tak terbantahkan saat suami memperlihatkan gambar-gambarnya di halaman berikutnya.
“Sayang lihat deh, pasti mama suka ini.” Kata Kak Idu sambil menunjukkan saya gambar rumah beratap jerami dengan kanal di sekelilingnya. Pohon dan bunga merekah beragam warna dengan langit biru cerah yang terang. Ah indah sekali. Sepertinya foto-foto itu diambil saat musim semi.

Pikiran saya melayang jauh. Membawaku ke dalam majalah itu dan saya seolah hidup di sana, menikmati keindahan dan ketenangan Giethoorn. Suara Ochy yang minta susu segera menyadarkan saya kembali. Wajah bengong saya tertangkap basah Kak Idu dan ia menertawai saya habis-habisan. Sambil terkekeh, Kak Idu menggoda saya “Hmm.. Jangan-jangan mama berkhayal lagi ini main di Giethoorn.” Dia sudah hafal betul kebiasaanku yang satu ini soalnya. Saya yang tidak punya pembelaan cuma bisa mencubit bahunya sambil tertawa malu-malu.

Giethoorn

Namun siapa sangka, tujuh bulan kemudian kami benar-benar berada di Giethoorn. Menikmati setiap jengkal kanalnya. Memandangi rumah-rumah warga yang unik, rumah tradisional Belanda dengan atap jerami di atas pulau gambut. Meresapi aroma sejuk udaranya, di bawah pohon-pohon maple yang berguguran. Apa yang bisa saya katakan? Jangan pernah remehkan khayalanmu! 

Sejarah Giethoorn

Konon desa ini pertama kali dihuni pada tahun 1230 oleh sekelompok pelarian dari wilayah Mediterania. Pada saat mereka tiba di sana, desa ini dipenuhi tanduk kambing yang berserakan dalam jumlah sangat banyak sebagai sisa banjir besar St Elisabeth yang melanda daerah tersebut pada tahun 1170. Lalu mereka pun menamai desa ini dengan Geytenhorn yang berarti tanduk kambing (Geyten = kambing dan Hoorn = tanduk) . Tapi dengan perubahan dialeg selama bertahun-tahun, desa inipun lebih dikenal dengan sebutan Giethoorn.

Giethoorn

Bagaimana cara menuju Giethoorn?

Giethoorn berada di kotamadya Steenwijkerlaan provinsi Overijssel, berjarak sekitar 2.5 jam dari kota Amsterdam menggunakan transportasi umum : kereta dan bus. Begitu tiba di stasiun steenwijk kita melanjutkan perjalanan dengan bus no.70 agar bisa sampai ke desa Giethoorn. Jangan sampai ketinggalan bus ya karena bus berikutnya akan tiba 1 jam lagi. 

Giethoorn bisa dijadikan sebagai one day trip jika memang tidak ada niat menginap di sana. Kalaupun ingin merasakan suasana Giethoorn seutuhnya, mungkin ada baiknya jika meluangkan satu dua malam di sini. Meskipun tidak ada hotel, karena memang dilarang untuk menjaga citra desanya, namun ada banyak guest house yang menawarkan konsep bed and breakfast. Pasti menyenangkan sekali ya menginap di desa tenang seperti Giethoorn ini. 

Apa yang bisa dinikmati di Giethoorn?

Giethoorn adalah desa kecil yang tenang dan bebas polusi karena tidak ada kendaraan bermotor yang lalu lalang. Meski luas wilayahnya tidak seberapa, tapi ada banyak hal yang bisa kita lakukan di Giethoorn. Diantaranya :

1. Boat Tour yaitu menjelajahi Giethoorn dengan kanal-kanalnya yang khas. Boat tour ini bisa kita pilih memakai perahu besar seharga 7.5 € per orang dewasa dan stroller dikenakan cas 1 €. Ini sudah termasuk tour guide yang menjelaskan sejarah Giethoorn dan hal-hal menarik apa saja yang ada di Giethoorn. Tour guide ini adalah si driver sendiri. Di atas perahu ini juga tersedia meja dan kursi. Dinding kapal merupakan kombinasi kayu dan kaca yang bisa di buka layaknya jendela. Karena ini transportasi umum maka kita akan berbaur dengan turis lainnya. Sedangkan jika ingin lebih privat boleh menyewa satu perahu kecil (semacam long boat tanpa atap) yang bisa memuat hingga 7 orang peumpang. Hanya saja pastikan bahwa kamu bisa mengendarainya sendiri karena tidak ada drivernya.

Perahu besar dan perahu kecil
Perahu kecil

Kami sendiri mencoba boat tour di Giethoorn. Tapi sayang sekali, kami harus mengakhirinya pun masih di awal-awal perjalanan karena Yui menangis kencang sekali. Mungkin dia kedinginan karena rombongan turis asal Cina yang satu perahu dengan kami membuka jendela yang sekaligus dinding perahu karena ingin foto selfie dan merekam dengan video sehingga hawa dingin musim gugur yang begitu menusuk menyerbu ke dalam. Ketika kami menyampaikan niat ke driver untuk turun dari perahu, dia berkali-kali meyakinkan : “Apakah kalian serius? Kita bahkan baru saja memulainya. Sayang sekali karena kalian sudah bayar mahal-mahal. Anak kecil yang menangis itu biasa. Santai saja” Tapi kami tetap bersikukuh turun karena tidak enak dengan penumpang lainnya yang bisa saja terganggu dengan tangisan Yui. 

Perahu besar yang kami tumpangi

Driver dan stroller adek di bagian depan

Begitu perahu menepi, si driver tersenyum pasrah lalu kami meminta maaf kepada penumpang lainnya dan segera turun mencari kursi atau apapun yang bisa di duduki untuk menyusui Yui dengan nyaman. Tapi kami tidak menemukan kursi ataupun taman terdekat. Syukurlah ada salah satu restoran tak jauh di depan kami. Di sana kami menghangatkan badan dengan coklat panas dan kentang goreng yang rasanya enak sekali.

2. Bersepeda adalah hal lain yang bisa dicoba untuk menjelajahi jalanan Giethoorn yang kecil. Kelebihannya karena bisa menjangkau hingga ke rumah-rumah warga bahkan bisa parkir di halamannya. Selain itu kita juga bisa berhenti sesuka hati di spot manapun yang kita inginkan. Tapi harga sepeda di sini cukup mahal yaitu 15 € untuk satu jam.

Sepeda yang disewakan
Breastfeeding everywhere

3. Walking Tour. Kalau kamu suka berjalan kaki, maka Giethoorn adalah tempat yang wajib kamu kunjungi karena setiap jengkal tanahnya begitu indah. Kita bisa dengan bebas melalui jembatan-jembatan kayunya yang bersejarah karena usianya telah ratusan tahun, menapaki padang rumputnya yang hijau atau bermain bersama hewan ternak warga di pekarangan rumahnya.

Giethoorn
Giethoorn
Jembatan kayu

Selain kanal dan rumah tradisional, kita juga bisa menikmati wisata museum, mencicipi aneka makanan khas Belanda di cafe dan restoran atau membeli cinderamata di toko souvenir.

Advertisements

Pengalaman Mengurus Sendiri Visa Ke Eropa (Schengen) di Kedubes Belanda Via VFS Global Surabaya

Mengurus visa ke Eropa dalam hal ini visa schengen di kedutaan Belanda secara mandiri tidaklah sulit. Hanya saja sejak 1 Juli 2016 pengajuan visa schengen tidak lagi bisa dilakukan secara langsung di kedutaan tetapi harus melalui agency yang ditunjuk yaitu VFS Global sehingga proses visa yang dulunya hanya sehari, kini menjadi 7-15 hari. Pengajuan visa ini bisa dilakukan paling cepat 90 hari sebelum keberangkatan dan paling lambat 2 minggu sebelum keberangkatan.
VFS Global tidak hanya melayani pembuatan visa schengen, tetapi juga untuk visa Inggris, Australia dan New zealand. VFS murni sebagai perantara calon aplikan dan seksi visa kedutaan yang dituju sehingga disetujui atau tidaknya visa kita tidak ditentukan oleh VFS Global melainkan oleh pihak kedutaan. Di Indonesia, kantor VFS Global hanya bisa dijumpai di 3 kota yaitu Jakarta, Surabaya dan Kuta Bali. 

Yang Perlu Dilakukan Sebelum Mengajukan Visa

1. Tentukan Kedutaan

Sebelum mengajukan visa, tentukanlah kedutaan mana yang akan dituju dengan berdasar pada dua poin ini : negara pertama yang dikunjungi atau  negara paling lama yang akan kita tinggali. Saya sendiri mengajukannya di kedutaan Belanda karena tiket masuk ke Eropa memang melalui Amsterdam, Belanda. Lagipula, kata orang-orang (katanya sih) pihak Belanda dikenal lebih friendly menyetujui visa kita. 

2. Membuat Temu Janji 

Hal berikutnya yang dilakukan adalah membuat temu janji secara online melalui website resmi VFS Global. Awalnya kami memilih VFS Global Bali, selain hitung-hitungan biaya lebih murah dari Makassar juga karena kami sedikit lebih mengenal jalan di sana karena pernah tinggal di Denpasar. VFS Global Bali ini hanya bisa memuat satu temu janji untuk satu orang. Jadi kalau berangkatnya berempat seperti kami, berarti harus membuat empat temu janji. Untuk anak-anak di bawah 17 tahun, tetap diregistrasi sebagai orang dewasa dan saat penyerahan dokumen di kantor VFS Global, akan diwakili oleh salah satu orang tua. Sayangnya, tanggal temu janji yang kami inginkan sudah full. Bahkan hingga akhir Juli 2017. Sementara Kak Idu hanya bisa hingga akhir Juli karena masa cuti yang sudah di penghujung waktu.

Akhirnya kamipun memutuskan mengajukan visa melalui VFS Global Jakarta. Di sini, kita bisa mengajukan satu temu janji untuk lima orang sekaligus. Lebih mudah karena tidak harus keluar masuk website VFS Global. Tapi lagi-lagi tanggal yang kami inginkan juga sudah full booked, bahkan tidak ada slot hingga akhir Juli 2017. Saya dan Kak Idu mulai was-was. Sedikit pusing memikirkan waktu yang pas. Bisa saja sih mengurusnya di bulan Agustus karena keberangkatan kami nanti di bulan Oktober. Tapi itu dia masalahnya. Cuti besar Kak Idu sudah habis per Juli 2017 ini sementara tidak seperti visa Jepang yang bisa diwakili oleh salah satu pemohon saja, visa schengen harus diajukan sendiri oleh masing-masing pemohon karena akan dilakukan pengambilan data biometrik. Untuk anak-anak tidak perlu ikut hadir tapi kami tetap membawa mereka karena sudah janji kepada Ochy untuk mengajaknya naik pesawat sedangkan Yui masih asi ekslusif, jadi kemana-mana memang ikut emaknya. Ternyata membuat temu janji ini gampang-gampang susah ya. Apalagi jika waktunya mepet begini.

Karena tidak mendapat jadwal temu janji di VFS Global Bali dan Jakarta, maka satu-satunya yang bisa kami andalkan adalah VFS Global Surabaya. Alhamdulillah, slotnya masih ada untuk tanggal yang kami inginkan. Di sini, kita bisa membuat temu janji untuk dua orang sekaligus. Jadi karena kami berempat, berarti akan mengantongi dua jadwal temu janji. Kak Idu dan Ochy di jam 10.00 pagi sementara saya dan Yui di jam 10.15 waktu Surabaya.

Tips : Saat membuat temu janji, sebaiknya menggunakan satu nomor telepon yang sama, jika mengajukannya sekeluarga atau beramai-ramai dengan teman. Karena jika tidak, maka akan tampil sendiri-sendiri jadwal temu janjinya meskipun dijadwalkan di jam yang sama. Sehingga menyulitkan jika suatu waktu kita ingin melakukan perubahan seperti mengganti tanggal janji, jam dan sebagainya. Perubahan ini bisa dilakukan paling cepat 24 jam sejak terbitnya jadwal temu janji.

Dokumen Yang Diperlukan Saat Pengajuan Visa Schengen Keluarga

Dokumen yang diperlukan untuk pengajuan visa schengen adalah sebagai berikut :

1. Formulir pengajuan visa yang bisa diunduh di website resmi VFS Global. Pengisian formulir ini bisa diketik bisa juga ditulis manual. Kami sendiri mengisinya dengan tulisan tangan atau manual. Pastikan saja tulisannya rapih dan jelas menggunakan huruf kapital.

2. Paspor dengan masa berlaku lebih dari 6 bulan. Jangan coba-coba mengajukan visa jika paspornya sudah mau expired. Selain paspor asli, juga perlu melampirkan fotokopinya yang memuat data diri kita. Jika punya paspor lama, fotokopi halaman pertama dan visa-visa yang pernah terbit di sana. Selain fotokopinya, fisik asli paspor lama tersebut juga harus disertakan.

3. Keterangan domisili yaitu KTP dan Kartu Keluarga yang harus dalam bahasa Inggris. Saya tidak memakai jasa sworn translator karena saya menerjemahkannya sendiri. Untuk anak-anak, cukup lampirkan fotokopi KTP kedua orang tuanya beserta yang telah diterjemahkan.

4. Akte lahir dan buku nikah yang juga dalam bahasa Inggris. Sama seperti poin nomor 3, akte lahir ini saya terjemahkan sendiri juga. Untuk anak-anak tidak perlu lagi diterjemahkan. Cukup difotokopi saja karena akte lahir terbitan sekarang sudah tercetak dalam dua bahasa. Begitupun dengan buku nikah cukup difotokopi saja karena sudah terbit dalam dua bahasa.

5. Tiket pesawat yang menunjukkan tanggal masuk ke Eropa hingga kepulangan kembali ke tanah air. Jadi kalau berangkatnya dari Kuala Lumpur atau Singapore (karena biasanya tiket promo banyak yang start dari sana) berarti harus mencantumkan juga tiket dari Indonesia ke Kuala Lumpur ataupun ke Singapore. Tiket pesawat ini tidak harus dengan status issued. Status booking pun bisa digunakan. Pastikan saja status bookingnya masih aktif ketika mengajukan permohonan visa. Kami sendiri karena sudah mengantongi tiket Qatar Airways KL-Amsterdam (tiket promo yang dibeli 8 bulan yang lalu) maka untuk Makassar-KL nya kami menggunakan tiket booking-an Garuda Indonesia oleh bantuan teman yang bekerja di Garuda Airlines sehingga tidak rugi-rugi amat kalaupun visanya unapproved (naudzubillah, amit-amit dah. Soalnya tiket Qatar buat berempat saja lumayan banget harganya, meskipun sudah tiket promo).

6. Pas foto ukuran 3.5 cm x 4.5 cm berlatar belakang putih. Sebaiknya membuat fotonya di studio foto yang sudah terbiasa membuat visa. 

7. Travel itinerary yang memuat informasi daerah yang akan kita tuju beserta tempat menginap selama di area Schengen. Itinerary ini tidak harus sesuai dengan perjalanan kita ketika tiba nanti di Eropa. Juga tidak mesti secara gamblang dituliskan akan kemana saja dalam satu negara, jika yang dituju lebih dari satu negara. Itinerary kami bahkan hanya memuat informasi ke negara mana saja (tanpa menuliskan akan mengunjungi apa saja di negara tersebut), menginap dimana dan naik apa saat pindah ke negara lainnya. Karena inti dari itinerary bagi pihak kedutaan adalah memastikan kita tidak menjadi gelandangan setibanya di negara mereka. 

8. Travel insurance dengan coverage minimal 30.000 €. Kami sendiri membeli travel insurance AXA secara online untuk perjalanan 16 hari sekeluarga : 2 dewasa, 1 anak dan 1 bayi dengan paket platinum seharga 57.80 € atau Rp 867.000 (Kurs 1 € = Rp 15.000, Juli 2017)

9. Surat keterangan kerja. Sebenarnya surat keterangan ini hanya untuk menunjukkan ke pihak kedutaan bahwa kita tidak akan menetap di sana sebagai imigran dan akan kembali lagi ke negara asal jika liburannya telah usai. Surat keterangan kerja ini sebagai bukti yang kuat atas keterikatan kita dengan negara asal.

10. Reservasi hotel. Semua reservasi hotel yang saya gunakan adalah yang free cancellation yang saya booking melalui situs bookingdotcom sehingga jikapun visa kami ditolak, kami gak rugi biaya hotel karena reservasi hotel tersebut bisa kami batalkan sewaktu-waktu tanpa dikenakan biaya apapun. Oh iya, pastikan reservasi hotel yang dibuat sesuai jumlah hari selama di Eropa. Jadi kalaupun dalam perjalanan realnya ada malam yang dihabiskan di atas kereta/bus, khusus pengajuan visa ini sebaiknya tetap mencantumkan nama hotel beserta reservasinya untuk menghindari wawancara lanjutan.

11. Bank statement adalah surat referensi bank yang menjelaskan sejak kapan kita menabung di sana dan berapa jumlah saldo tabungan yang tersisa. Kalau menabung di BNI maka dikenakan biaya pembuatan bank statement sebesar Rp 250.000 dan akan terbit dalam tiga hari kerja. Kalau di bank Mandiri dikenakan biaya Rp 100.000 dan langsung terbit hari itu juga. Saya tidak tahu apakah harus membuat bank statement di bank penerbitan buku rekening pertama kalinya karena berdasarkan pengalaman kami, suami membuka nomor rekening di bank mandiri Timika tapi membuat bank statementnya di salah satu cabang bank Mandiri Makassar. Tapi ini karena dibantu teman sih yang bekerja di bank Mandiri Makassar. Makanya jadi orang yang baik-baik, biar temannya banyak. Hehehehe.

Lalu berapa sih saldo tabungan yang harus dimiliki jika ingin ke Eropa? Sungguh ini pertanyaan yang paling sering saya jumpai setiap akan mengurus visa. Apakah memang harus beratus-ratus juta??

Sebenarnya sih ini tergantung kita mengunjungi Eropa bagian apa. Karena Eropa barat dan Eropa timur itu memiliki biaya minimum yang berbeda yaitu 50 €- 70 € untuk Eropa barat dan 30 € – 50 € untuk Eropa Timur. Namun kabarnya, khusus untuk pengajuan visa schengen hanya diperlukan biaya minimal 35 € per hari. Jadi kalau di Eropa selama seminggu, tinggal kalikan saja dengan 7 hari. Kalau 16 hari seperti kami berarti harus menyiapkan minimal 560 € per orang. Angka ini dikalikan dengan jumlah keluarga yang berangkat. Karena kami berempat berarti 560 € x 4 orang = 2.240 €. Tapi ini adalah nominal minimal. Sebaiknya dilebihkan untuk menunjukkan bahwa kita mampu. Dan lagi perlu diperhitungkan juga kondisi ketika kita kembali ke negara asal. Gak mungkin kan pulang-pulang ke Imdonesia kita kelihatan gak punya uang lagi di rekening. Karena itu rasionalkan saja jumlah tabungan tersebut.

12. Dokumen penunjang lainnya. Sebenarnya ini tidak dicantumkan dalam form persyaratan visa. Tetapi kami melampirkan dokumen tambahan seperti fotokopi visa-visa yang pernah kami punya, rekening koran, slip gaji (asli dan terjemahan).

Proses Pengajuan Visa Schengen di VFS Global Surabaya

Kami berangkat ke Surabaya sehari sebelum jadwal temu janji dengan VFS Global lalu kembali lagi ke Makassar di hari yang sama setelah proses pengajuan visa selesai dan kak Idu sendiri akan melanjutkan perjalanan ke Timika setelah mengantar kami ke Makassar karena besoknya sudah harus masuk kantor lagi. Kami menginap di Hotel Papilio Best Western yang reviewnya bisa dibaca di sini.

Kantor VFS Global Surabaya berada di gedung Graha Pena lantai 15, Jl. Ahmad Yani No.88. Letaknya sangat dekat dari hotel kami. Begitu tiba di lantai 15, berbeloklah ke arah kanan setelah keluar dari lift. Kantor VFS Global menempati ruang di pojok kanan. Di sini proses pengajuan visa dimulai yaitu :

1. Pemeriksaan berkas di front office.

Begitu memasuki kantor VFS Global Surabaya, kita akan disambut oleh dua orang security, perempuan dan laki-laki. Selain memeriksa kelengkapan dokumen, tas dan barang bawaan kita juga diperiksa semua. Hp dan segala peralatan elektronik harus dimatikan. Prosesnya sangat cepat dan ramah. Kita bahkan bisa membawa serta semua barang kita ke ruang berikutnya. Agak aneh sih menurutku. Mengingat pengalaman saya mengajukan visa Jepang di Makassar yang begitu ketat, dimana kita hanya boleh membawa masuk berkas pengajuan visa saja sementara barang-barang lainnya di simpan di loker yang telah disediakan.

2. Antre di loket penyerahan berkas sekaligus pembayaran visa

Beberapa teman mengatakan bahwa saat pengajuan visa schengen di VFS Global Jakarta, mereka hanya bisa dipersilahkan masuk jika memang telah sesuai dengan jadwal temu janji mereka. Bahkan kalaupun masih kurang satu menit, tetap tidak dibiarkan masuk. Lain halnya dengan VFS Global Surabaya, kami langsung saja disuruh masuk oleh security di front office, padahal jadwal kami masih 30 menit lagi. Saya bahkan berkali-kali meyakinkan. Masuk sekarang mbak? tanya saya pada mbak security yang memeriksa kelengkapan berkas saya. Ditanya dengan muka bengong begitu, saya malah dibercandain. Mbak securitynya bilang “Tidak. Masuk tahun depan saja.” Lalu kamipun tertawa beramai-ramai.

Di ruangan ini, ada dua barisan antrean. Mengantrenya cukup nyaman karena disediakan kursi dan minuman air mineral. Antrean pertama untuk verifikasi berkas visa sekaligus pembayaran biaya visa. Antrean yang lainnya untuk pengambilan data biometrik.

Pada proses ini cukup memakan waktu karena data kita yang dituliskan di form pengajuan visa akan diketik kembali oleh petugas ke dalam komputernya. Di sini juga berlangsung wawancara singkat seputar pertanyaan dasar seperti dalam rangka apa ke Eropa? mau kemana saja? Berapa lama? Jawab saja seperlunya. Tidak perlu bacrit atau banyak cerita untuk menghindari pertanyaan lanjutan yang timbul akibat jawaban kita.

Selanjutnya membayar biaya visa yaitu 60 € ditambah biaya jasa VFS 25 € per aplikan. Untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun, biaya visanya gratis namun tetap harus membayar biaya jasa VFS sebesar 25 € per orang. Jadi untuk kami yang dua dewasa, satu anak dan satu bayi, kami membayar sebesar 220 €. Bisa dibayar dalam rupiah sesuai dengan kurs yang berlaku hari itu. Membayarnya bisa cash ataupun debit dan kartu kredit. Kami sendiri membayarnya dengan cash setelah susah-susah mencari ATM karena menurut pengalaman teman-teman yang mengajukan visa di VFS Global Jakarta, katanya hanya bisa dibayar dengan cash saja. Di VFS Global Surabaya ternyata memberikan lebih banyak kemudahan.

Untuk kami yang tinggal di luar Surabaya, boleh menggunakan jasa kurir untuk pengiriman paspor. Setiap paspor dikenakan biaya Rp 50.000. Fasilitas SMS tentang status visa kita juga tersedia dengan membayar Rp 25.000 per aplikan. Kami hanya mengambil satu layanan sms saja sehingga total yang kami bayarkan keseluruhannya adalah 220 € + Rp 225.000 = Rp 3.525.000 (dengan kurs 1 € = Rp 15.000, Juli 2017). Oh iya, fasilitas sms ini tidak memberikan informasi visa kita approved atau tidak, tetapi memuat informasi status perjalanan proses visa kita, apakah sudah selesai atau tidak. 

3. Pengambilan Data Biometrik

Proses ini berlangsung singkat. Apalagi saat petugas mengetahui kami kejar-kejaran waktu ke bandara karena pesawat kami akan lepas landas 1, 5 jam lagi. Untuk anak-anak tidak dilakukan pengambilan data biometrik.

Selesai dan mari menunggu kabar pengajuan visa kita 🙂

———————————-

Ketika mendapat sms dari VFS Global Surabaya, proses pengajuan visa kami telah selesai dan paspor siap dikirim kembali, saya sudah tidak bisa tidur. Deg-degan apakah visanya approved atau tidak. Saya semakin deg-degan ketika hingga keesokan harinya, paspor kami belum juga di tangan. Dua hari kemudianpun belum ada. Alamaaakkk… ini saya seperti sudah mau meledak saja. Lalu keesokan harinya, pagi sekitar jam delapan, seorang kurir datang ke rumah membawa tiga buah paspor saja. Saya mulai takut, ini kok paspornya cuma tiga? Paspor milik Kak Idu kemana? tanya saya pada kurir. Takut kalau-kalau bermasalah sehingga masih jalan-jalan entah di mana. Syukurnya si kurir bilang ngasih ke sebelah karena saat menanyakan alamat rumah kami, nyangkutnya di sebelah yang kebetulan namanya sama dengan nama pak suami. Hahahaha. Buru-buru, si kurir mengambil dan menyerahkannya kepada saya. Alhamdulillah paspornya sudah lengkap. Meski demikian, perasaan deg-degan saya semakin menjadi hingga jantung rasa-rasanya mau copot. Saya tidak berani menyobek sampulnya dan mengintip halaman paspor. Saya lalu berwudhu dan sholat dhuha dulu untuk menenangkan hati dan memohon diberikan hasil yang terbaik. Wasyukurillah, stiker visa schengen telah tertempel manis di salah satu halaman paspor Yui. Sengaja saya membuka paspor anak-anak terlebih dahuli. Karena jika mereka approved, insyaAllah kami kedua orang tuanyapun approved. Sungguh, kado ulang tahun yang sangat istimewa. Happy mi’lad myself 🙂

Makassar, 10 Agustus 2017. 

Tips dan Trik Liburan Hemat ke Eropa

Eurotrip

Eropa disebut-sebut sebagai destinasi impian banyak orang, terumata bagi orang Asia seperti kami yang di negaranya hanya berlaku 2 musim saja, yaitu hujan dan kemarau. Merasakan musim gugur dan musim dingin tentunya dinanti-nanti karena tidak bisa merasakan sensasinya di negeri sendiri. Apalagi Eropa menyuguhkan keindahan bangunan bersejarah yang sudah beratus bahkan ada yang usianya telah ribuan tahun. Menjadi daya tarik tersendiri mengapa banyak orang ingin berkunjung ke Eropa. Belum lagi modernitas yang segala-galanya serba canggih, bisa kita nikmati di benua biru tersebut.
Alhamdulillah wa syukurillah, impian saya dan keluarga ke Eropa baru saja kami realisasikan dua hari yang lalu menyambangi beberapa negara di eropa barat, tengah dan timur.

Sebenarnya belum percaya seutuhnya bahwa kami baru saja menyelesaikan the top travel wish list kami mengingat Eropa bukanlah destinasi murah bagi orang berpenghasilan rupiah seperti kami. Apalagi ini berangkatnya sekeluarga pula, but it happened! so real and memorable. 😘😘

Ya, Eropa mungkin bukan destinasi yang murah tapi bukan berarti tidak bisa direncanakan dengan low budget seperti perjalanan kami. Lalu bagaimana ceritanya hingga akhirnya kami bisa menginjakkan kaki di benua eropa? Kunci utamanya adalah menabung, setidaknya untuk membeli tiket pesawat dulu. Berikutnya banyak-banyakin sedekah dan berdo’a serta menahan diri untuk tidak ke mall. InsyaAllah dimampukan.

Berikut tips dan trik yang kami praktekkan. Check them out!

1. Tiket Pesawat

Belilah tiket pesawat jauh-jauh hari sebelumnya. Tiket promo bisa didapatkan 6 bulan sampai 1 tahun sebelum keberangkatan. Saya sendiri membeli tiket promo 8 bulan sebelum keberangkatan yang saat itu mengandung Yui usia 7 bulan-an. Sebenarnya tiga bulan kemudianpun maaih hitungan promo dengan harha yang sama, tapi kalau memilih yang 3 bulan berarti Yui masih usia satu bulan dong jika ia lahir di bulan Mei seperti perkiraan. Gak mungkinlah saya membawa dia pergi jauh begitu. Masih sangat rentan. Yang paling masuk akal adalah ketika dia berusia 5 bulan ke atas. Maka kamipun memilih bulan Oktober saja yang bertepatan dengan musim gugur. Perjalanan di musim gugur adalah salah satu yang sudah lama saya impikan. 

Oh iya, tentang membeli tiket untuk si jabang bayi, pastikan terlebih dahulu jenis kelaminnya melalui USG karena nama penumpang sama sekali tidak bisa diubah begitu tiket sudah issued. Sedangkan keterangan tanggal lahir dan lainnya masih bisa dimodifikasi. Seperti tanggal lahir Yui yang saya masukkan asal saja saat pembelian tiket tersebut. Soalnya gak tau Yui lahirnya kapan. Memasukkan HPL sekalipun tidak ada jaminan si anak bakal lahir sesuai perkiraan kan. Nah keuntungan lain membeli tiket jauh-jauh hari selain mendapat harga lebih murah adalah kita juga punya waktu untuk menabung biaya hidup yang akan dipakai selama di Eropa.

Maskapai penerbangan dari timur tengah biasanya paling sering melakukan promo seperti Emirates, Qatar Airways, Etihad, Turkish Airlines dan lain-lain karena menurut kabar yang beredar, mereka mendapat subsidi dari negara asal. Harga promonya bahkan bisa gila-gilaan seperti kami yang mendapat tiket Qatar Airways PP ke Amsterdam hanya 4,5 juta saja (yang dalam harga normal mencapai 8-12 juta) dengan keberangkatan dari Kuala Lumpur. Promo berangkat dari Jakarta juga ada sih tapi harganya 6 juta PP. Dihitung-hitung masih lebih murah berangkat dari Kuala Lumpur karena tiket Air Asia dari Makassar ke Kuala Lumpur hanya 500 ribuan saja. 

Rajin-rajinlah mengecek skyscanner.com atau kayak.com untuk pencarian tiket promo. Kedua aplikasi itu menampilkan harga tiap hari mulai dari yang termurah hingga yang termahal. Asyiknya pula karena kita bisa memilih filter untuk menampilkan hasil pencarian berdasarkan jam keberangkatan atau kedatangan yang kita inginkan atau justru filter harga paling murah dalam satu bulan dan bisa menyimpan hasil pencarian tersebut dan mendapat notifikasi ketika harga tersebut menjadi lebih rendah dari hasil pencarian kita sebelumnya. Serunya lagi di kayak, kita bisa memilih penerbangan multi city, sehingga bisa lebih hemat waktu dan biaya. Jadi misalnya masuk ke Eropa lewat Amsterdam, lalu pulangnya lewat Barcelona dan kota-kota lainnya. 

Harga termurah biasanya didapat dengan keberangkatan dari Kuala Lumpur atau Singapore. Jika tinggal di daerah Indonesia Tengah dan Timur, keberangkatan dari Kuala Lumpur adalah yang terbaik meski tidak menutup kemungkinan juga bahwa tiket pesawat ke Singapore lebih murah daripada ke Kuala Lumpur. Intinya, rajin-rajin mengecek dan membandingkan. Saya rasa kalau urusan membanding-bandingkan harga, emak-emak pasti ahlinya 😅

2. Itinerary

Itinerary atau jadwal perjalanan sangat mempengaruhi biaya yang kita butuhkan. Karena itu sejak awal sebaiknya sudah menentukan akan kemana saja selama di Eropa. Tinggal di satu negara saja tentu akan jauh lebih hemat daripada mengunjungi banyak negara sekaligus. Tapi rasanya sayang sekali jika sudah di Eropa dan tidak ke negara tetangga. Padahal kita  punya jatah 29 negara yang bebas dikunjungi ketika sudah memegang visa schengen.

Itinerary ke Eropa ini bisa saja berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya karena setiap orang memiliki deatinasi impian masing-masing. Ada orang yang berjuang habis-habisan demi kesampaian ke Paris sedangkan kami sendiri lebih tertarik ke Austria. Menyusun itinerary di awal ini juga sangat penting mengingat banyaknya negara di Eropa yang terbenatang dari barat ke timur yang kadang membuat nafsu kita ingin mengunjunginya semua namun tidak sadar akan keterbatasan waktu dan biaya yang kita punya.

Adapun itinerary kami selama perjalanan 16 hari di Eropa mengunjungi Belanda dan Belgia di Eropa barat, Republik Ceko dan Slovakia di Eropa timur serta Austria dan Jerman di Eropa tengah adalah sebagai berikut : Amsterdam – Giethoorn – Brussels – Prague – Bratislava – Vienna – Obertraun – Hallstatt – Munich – Amsterdam.

3. Akomodasi

Salah satu pengeluaran terbesar dalam setiap perjalanan adalah penginapan. Meski ini sebenarnya bisa disiasati dengan menginap gratis melalui akun couchsurfing. Tapi saya kurang sreg menginap di tempat orang yang baru saya kenal apalagi bawa pasukan lengkap begini 😅. Karena itu saya memilih hotel dan apartemen yang menyediakan fasilitas dapur dan mesin cuci sehingga bisa menghemat pengeluaran untuk makan dan laundry. Selain poin tersebut, yang paling penting dalam pemesanan akomodasi adalah lokasinya yang dekat dengan stasiun sehingga memudahkan kemana-mana. 

Aplikasi andalan saya saat memesan hotel adalah booking.com dan agoda sedangkan untuk apartemen saya memesannya melalui airbnb. Pastikan pula sudah mengecek harganya langsung di website hotel tersebut karena kadang harga termurah justru didapat dari sana.

Seperti halnya tiket pesawat, pemesanan penginapan ini harus jauh-jauh hari sebelumnya jika menginginkan harga lebih murah. Biasanya tiga bulan sebelum keberangkatan, kita sudah bisa memesannya. Mau diskon saat melakukan pemesanan di booking.com? masukkan saja kode ini : booking.com/s/suarni51 untuk mendapatkan potongan harga sebesar US $ 15. Lumayaaaan kan? Kurang baik apa coba saya ini? Hihihi.

Berikut akomidasi kami selama di Eropa yaitu :

  1. Hotel Meininger Amsterdam yang hanya sepelemparan batu dari stasiun Sloterdijk.
  2. Hotel Euro Capital Brussels yang cuma 2 menit jalan kaki dari stasiun Bruxelles-Midi
  3. Penzion V Maštali, Praha. Karena kami tiba malam dari Brussels, kami memilih penginapan yang dekat dari bandara. Tapi sayangnya, menuju ke hotel ini hanya bisa dengan taxi saja. Harganya 10 €. Meski sebenarnya bisa dibayar dengan mata uang Koruna yang kenanya lebih murah, tapi kami belum sempat menukar uang sehingga membayarnya dalam mata uang Euro. Asyiknya di hotel ini, ada playground untuk anak-anak.
  4. Apartemen Golden Spring yang hanya 10 meter dari stasiun bus Černínova Praha. 
  5. Patio Hostel. Ini sebenarnya sebuah kesalahan. Ketika memesan ini sebenarnya untuk keperluan saat pengajuan visa dulu. Tapi saya lupa membatalkannya hingga hari kedatangan di Bratislava. Tempatnya agak jauh berjalan kaki dari stasiun utama, apalagi saat itu sedang hujan deras dan kami membawa satu koper besar, ransel, stroller dan anak-anak. Rasanya tidak cocok naik metro yang berhentinya hanya satu menit saja menurun-naikkan penumpang sehingga kami memutuskan naik uber saja seharga 4 € di aplikasi. Tapi ternyata kalau naik uber, hitungannya masuk jarak dekat sehingga dikenakan biaya minimum yang totalnya 12 €. Gak papalah daripada dingin-dinginan di stasiun. Mana stasiunnya sudah tua dan bau pesing dimana-mana. (sumpah, ini stasiun paling gak banget yang saya temukan di Eropa. Padahal stasiun utama). Pas sudah pesan uber, ternyata disuruh jalan kaki keluar stasiun agak jauh karena tempat parkir uber letaknya agak ke depan. Kamipun membatalkannya saja dan memilih naik taxi konvensional yang mangkal tepat di depan kami. Deal-dealan jatuhnya 15 €. Mahaaaal banget siikkk 😭😭 dan pas kita turun malah disuruh bayar 19 € karena peraturan taxi di Bratislava mengenakan cas 2 € setiap barang yang dibawa. Untung strollernya gak dikenakan cas. Cuma koper dan ransel saja. Dan syukurnya pula harga kamar yang saya pesan cuma 41 € saja (sekitar 600 ribuan). Masih jauh di bawah standar kami yang mematok biaya penginapan tidak lebih dari 100 € per malamnya.
  6. Meininger Wien yang hanya 8 menit dari staiun utama Wien Hauptbahnhof dan cuma 2 menit dari stasiun metro. Pokoknya hotel Meininger ini favorit banget deh. Baik yang di Amsterdam maupun yang di Wien/Vienna ini. 
  7. B&B Seehotel Am Hallstättersee. Sebenarnya pengen menginap di Hallstatt, tapi harga penginapan di sana bikin sakit kepala. Puyeng dengan harga permalamnya. Padahak kami berencana menghabiskan tiga hari  di sini. Akhirnya diputuskanlah menginap di desa seberang, Obertraun. Di sini masih jauh lebih murah. Tapi semurah-murahnya, tetap saja bikin dompet menangis 😂. Tapi sepadanlah dengan view dan suasananya. Menginap di sini benar-benar berasa seperti luxury traveler. Gak papalah ya sekali-sekali, ini juga untuk mengajarkan anak-anak bahwa terkadang kita perlu menikmati hidup. Soalnya selama ini kita ngetrip biasanya ala backpacker gitu 😂
  8. Euro Youth Hotel Munich. Dibilang hotel, kayaknya gak pas. Tapi dibilang hostel juga gak cocok. Whateverlah ya asal bisa tidur dengan nyenyak. Hehehe. Lokasinya top banget karena sangat dekat dengan stasiun utama Munchen dan juga sangat dekat ke daerah oldtown (ditempuh hanya dengan berjalan kaki saja).
  9. Bastion Hotel Schipol. Karena kami tiba malam dari Munchen dan besok siang sudah harus meninggakan Eropa, terbang kembali ke tanah air, kamipun memilih menginap di daerah bandara Schipol Amsterdam. Enaknya nginap di sini karena ada free shuttle bus dari dan ke bandara sehingga menghemat biaya taxi yang mencapai 15 €.

4. Transportasi

Karena kami travel like a local jadi kemana-mana memakai transportasi umum : kereta, bus dan metro. Kalaupun ada yang harus naik taxi itu karena memang menuju ke tempat tersebut hanya bisa dijangkau dengan taxi seperti saat kami menuju hotel di dekat bandara Praha dan saat terjebak hujan deras di Bratislava.

Sebelum ke Eropa saya sudah memperkirakan besaran biaya tranaportasi yang saya akses melalui aplikasi rome2rio dan website seat61. Melalui aplikasi ini, akan nampak berapa biaya kereta, tram, bus ataupun pesawat antar daerah di Eropa. Itulah mengapa saya katakan sebelumnya bahwa penyusunan itinerary itu penting di awal sehingga memudahkan kita menentukan besaran biaya transportasi. Biaya ini bahkan bisa lebih murah jika dibooking jauh-jauh hari sebelumnya. Tiga bulan sebelum keberangkatan, bisanya sudah bisa dibuking. Jika berangkat tanpa bayi, akan lebih hemat lagi menggunakan megabus dan flixbus. Saking murahnya, jangan heran jika menemukan harga 1 € saja dari Amsterdam ke Paris. Tidak usah khawatir kelamaan di bus untuk jarak jauh antar negara karena bus-bus di Eropa itu keren : ada monitor lcdnya, free wifi, soket colokan, gantungan jaket, tempat koper, tempat tas. Pokoknya busnya mewaaahhh. Sayangnya bagi yang membawa bayi dan toddler harus menyiapkan car seat sendiri untuk alasan keselamatan.

5. Biaya Makan

Biaya ini mungkin bisa saya tekan karena saya rajin masak 😁. Jadi cukup membeli beras dan ikan kaleng di supermarket lokal saja kalau perbekalan saya dari Indonesia sudah habis. Jatuh-jatuhnya sangat hemaaaatttt dibandingkan biaya makan di luar yang bisa menghabiskan 7€ -15 € per orang sekali makan. Kalau masak sendiri, 10 € itu cukup buat berempat dan bisa dimakan seharian sampai malam. Selain lebih hemat, kehalalannya juga lebih terjamin. 

Kami makan diluar kalau memang terpaksa seperti ketika kami di Giethoorn, baby Yui nangis kencang sekali dan saya tidak menemukan kursi terdekat untuk menyusuinya. Belum udara dingin yang begitu menusuk. Tangisan Yui terdengar lebih kencang karena di Giethoorn sangat tenang, sehingga kami menjadi pusat perhatian orang. Syukurnya beberapa meter di depan kami ada restoran. Di sana saya bisa menyusui Yui dengan nyaman ditemani kentang goreng dan hot chocolate. Rasanya enaaaak sekali dan harganya juga tidak bikin bokek.

Ok deh kayaknya tulisannya sudah panjang banget ini. Tulisan eurotrip berikutnya, doakan semoga bisa segera diselesaikan ya. Sebagai gambaran eurotrip kami, foto-foto berikut ini mungkin bisa mewakili :

Gimana mak emak, sudah siap menyusun rencana liburan ke Eropa? Semoga informasinya bermanfaat ya. 😘😘😘

Pengalaman Mengurus Visa Umrah untuk Keluarga

Umrah adalah salah satu perjalanan sakral bagi ummat muslim di dunia, tak terkecuali Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Setiap muslim pasti mendambakan perjalanan ke tanah suci setidaknya sekali dalam hidup, entah untuk berhaji menyempurnakan rukun Islam ataupun untuk umrah dan berziarah.

Syukur alhamdulillah, kami sekeluarga akhirnya diberi kesempatan menginjakkan kaki di tanah haram pada bulan Maret yang lalu setelah tiga kali mengalami kegagalan dengan dua travel sebelumnya. Adalah sebuah rezeki, berkenalan dengan seorang ibu hajjah via online yang merupakan agen sebuah perjalanan umroh dengan paket super hemat. Soalnya dibandingkan dengan kedua travel sebelumnya, harga yang ia tawarkan sangat fantastis. Bahkan sedikit irrasional mengingat tiket pesawat PP Makassar-Jeddah saja minimal 14 juta dengan pesawat Garuda Indonesia. Namun beliau menawarkan nominal yang sama dengan janji full service selama perjalanan sejak keberangkatan hingga tiba kembali di kota asal. Rada takut sih awalnya. Apalagi kita baru kenalan. Itupun via medsos. Kita belum pernah bertatap muka secara langsung. Masih menimbang-nimbang karena umrah backpacker saja masih kalah jauh selisihnya. 

Saya berpikir, mungkin harga yang beliau tawarkan belum termasuk pengurusan visa. Tapi ternyata saya keliru. Harga tersebut sudah all in. Makin ragu dong jadinya. Ini beneran atau modus penipuan sih? Untung saat itu belum terkuak kasus First Travel, sehingga bismillah kami berani saja mengambil paket hemat Abu Tours tersebut.

Berhubung saya menggunakan jasa travel dalam perjalanan kali ini yang sudah mengatur semuanya, maka saya tidak punya pengalaman pribadi bagaimana mengurus visa umrah secara mandiri. Dan memang sepertinya kita tidak bisa mengurusnya sendiri sih. Soalnya temanku saja yang melakukan umrah backpacker, visanya tetap juga dibantu oleh travel agent. Karena Kedutaan Besar Arab Saudi tidak akan menerbitkan visa secara personal tanpa ada travel agent yang mau bertanggungjawab. Jadi kita memang tidak bisa benar-benar mengurusnya sendiri face to face dengan pihak kedutaan layaknya pada pengurusan visa lainnya.

Dokumen Apa Saja Yang Dibutuhkan Untuk Mengurus Visa Umrah Keluarga?

1. Paspor. Masa berlaku lebih dari 6 bulan sejak keberangkatan. Nama di paspor harus memuat tiga suku kata. Jadi kalau di paspornya masih kurang dari tiga, harus menambahkannya di kolom endorsment pada halaman 4 dengan urutan : nama asli_nama ayah_nama kakek. Nama kakek di sini, boleh menggunakan salah satunya, kakek dari pihak ayah atau dari pihak ibu. Yang tidak boleh itu jika memakai nama kakek dari pihak tetangga. Apalagi nama ayah tetangga.

2. Pas foto terbaru ukuran 4 cm x 6 cm dengan background berwarna putih. Sebaiknya mengenakan hijab yang cerah dan pastikan sudah touch up sebelum cekrek.

3. KTP dan Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja dan khusus untuk KTP jangan dipotong mengikuti ukurannya. Biarkan saja tetap dalam satu lembaran utuh kertas A4. Untuk anak-anak, KTPnya memakai KTP kedua orang tua yang difotokopi dalam lembar kertas yang sama. Misalnya fotokopi KTP ayah diatas, lalu dibawahnya fotokopi KTP ibunya, dalam satu kertas.

4. Akte lahir masing-masing anggota keluarga. Difotokopi pada kertas A4. Khusus untuk anak dibawah 17 tahun, selain kopiannya, akte lahir aslinya juga diikutsertakan.

5. Buku nikah yang memuat keterangan kita adalah pasangan yang sah. 

6. Kartu kuning yang memuat informasi vaksin meningitis yang telah kita lakukan.

Udah gitu aja. Berkasnya sesimple itu. Tidak butuh surat keterangan kerja apalagi rekening koran yang ketentuan jumlah saldonya bikin panas dingin.

Urusan selanjutnya, semuanya ditangani oleh pihak travel agent. Untuk yang umrah backpacker, menurut pengakuan temanku rada gampang-gampang susah untuk menentukan travel agent (mofa) yang bisa membantu pengurusan visa umrah. Soalnya gak semua mofa berani menerima risiko menerbitkan visa untuk kalangan yang ingin melakukan umrah secara mandiri. Biasanya harus satu paket dengan Land Arrangement, paket selama di Arab Saudi berupa fasilitas penginapan dan transportasi. Ujung-ujungnya mirip umrah yang di-handle sama travel pada umumnya sih. Bedanya hanya pada waktu yang fleksibel dan itinerary yang tidak mengikat. 

Menurut temanku, tidak ada travel agent yang berani menerima jika hanya untuk proses visa saja tetapi mesti disertakan paket land arrangement dari mereka sehingga si travel agent ini bisa tetap memantau jamaah yang dibantu proses penerbitan visanya. Bukan apa-apa, si travel agent tersebut terancam denda sebesar SAR 50.000 serta pencabutan izin usaha jika ditemukan jamaahnya melakukan penyelewengan terhadap visa yang diterbitkannya. Misalnya si jamaah over stay dari masa berlaku visa, atau malah menjadi TKI/TKW, dan lain-lain.

Lain kali jadi pengen coba umrah backpacker juga. Biar bisa lebih detail memberikan gambarannya. Tapi tunggu sampai anak-anak berusia minimal tujuh tahun kali ya. Biar kerempongannya sedikit berkurang 😁😁. Semoga diberi umur panjang dan dicukupkan rezekinya untuk kembali lagi ke tanah haram, insyaAllah. Amiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Mudahnya Mengurus Sendiri Visa Jepang di Makassar

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman SMA menelepon menanyakan tentang cara pengajuan visa Jepang di Kota Makassar secara mandiri alias tanpa calo atau travel agent. Saya mengingat-ingat kembali prosesnya dan mungkin tidak ada salahnya jika saya menuangkan pengalaman itu ke dalam tulisan di blog ini. 

Jadi waktu itu, saya akan ke Jepang bersama suami beserta dua orang teman perempuan. Awalnya ingin mengajukan permohonan visa pada konsulat jendral Jepang di Denpasar yang letaknya tidak jauh dari rumah tapi berhubung kartu keluarga  dan KTP kami belum terbit, saya akhirnya memutuskan untuk mengajukan visa pada konjen Jepang di Makassar dengan menggunakan fotokopi ktp dan kartu keluarga lama yang berarti status masih single 😅. Begitupun dengan suami, menggunakan kartu identitas lama yang masih berdomisili di Timika, juga dengan status masih single. Syukurnya, Timika masuk ke dalam wilayah yurisdiksi konjen Jepang di Makassar sehingga sangat pas untuk mengajukannya bersama-sama.

Pengajuan visa ini bisa diwakili oleh salah satu orang saja jika bepergian dua orang atau lebih. Alhamdulillah, itu berarti suami gak harus terbang ke Makassar hanya untuk mengurus visa. Sedangkan kedua teman perempuanku memilih jasa travel agent. Mungkin karena ini adalah perjalanan internasional pertama mereka sehingga dirasa lebih aman memakai jasa travel agent untuk mengurus visa. Atau mungkin juga belum percaya sama saya. Takut kalau-kalau visanya gak disetujui. Padahal mengajukan lewat travel agent sekalipun sebenarnya tidak ada jaminan visa akan approved. Karena semuanya tergantung pihak konjen, mau ngasih atau tidak. Tapi yasudahlah, karena mereka tidak keberatan membayar biaya administrasi tambahan buat travel agent diluar biaya visa itu sendiri plus harus menyiapkan saldo min 50 juta rupiah di rekening koran, ya silakan saja. 😊😊

Syarat-syarat pengajuan visa Jepang

Sebelum mengajukan visa jepang (dalam hal ini menggunakan paspor biasa bukan e-passport) maka harus melengkapi dokumen yang diperlukan terlebih dahulu yaitu :

  1. Paspor yang masa berlakunya setidaknya lebih dari 6 bulan
  2. Formulir permohonan visa yang bisa di download di website konjen Jepang 
  3. Pas foto terbaru ukuran 4,5cm x 4,5 cm berlatar putih. Yang berhijab bisa tetap mengenakan hijabnya. Sebaiknya memakai hijab yang kontras dengan latar foto, sehingga kelihatan lebih bright.
  4. KTP (surat keterangan domisili). Fotokopi di kertas A4 tanpa memotongnya. 
  5. Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja. Disertakan jika berangkat bersama keluarga sebagai bukti hubungan dengan si pemohon. Jika pemohon sendiri-sendiri, tidak perlu melampirkannya.
  6. Tiket pesawat. Tidak harus menggunakan tiket yang sudah lunas. Bisa menggunakan tiket booking-an. Pastikan saja, statusnya masih aktif ketika melakukan pengajuan visa.
  7. Itinerary. Buat yang simple saja, gak usah heboh menjelaskan kegiatan per jam hingga berlembar-lembar. Cukup menunjukkan akan pergi ke mana saja setiap hari sejak masuk hingga keluar Jepang. Juga tidak harus menuliskan semua tempat yang akan kita datangi. Pokoknya as simple as in one page.
  8. Rekening koran atau fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Nah inilah bagian terhoror dalam mengurus visa. Berapa sih jumlah tabungan yang harus kita punya? Benarkah harus 50 juta rupiah seperti kata orang-orang? Sebenarnya sih tidak disebutkan berapa jumlah yang pasti oleh pihak kedutaan, hanya saja perhitungkan semua biaya yang bisa men-cover seluruh perjalanan kita selama di Jepang. Amannya, sediakan 1 juta rupiah/hari. Jadi kalau di Jepang selama 1 minggu, berarti kalikan saja selama 7 hari. Terus lebihkan sedikit untuk menunjukkan bahwa ketika kembali ke negara asal, kita masih punya biaya hidup selama beberapa hari ke depan.
  9. Surat keterangan kerja bagi karyawan atau SIUP bagi pengusaha. Intinya, surat keterangan yang menunjukkan kita punya penghasilan. Kalau misalnya pemohon adalah ibu rumah tangga, berarti lampirkan surat keterangan kerja milik suami beserta KK, buku nikah dan buku tabungan atas nama suami. Berhubung saya dan suami mengajukannya pakai status masih single jadi kami memakai surat keterangan kerja dan buku tabungan sendiri-sendiri.

    Pastikan semua dokumen sudah lengkap dan disusun berurutan sebelum dibawa ke loket pendaftaran, sebab kita tidak akan dilayani jika berkasnya kurang ataupun tidak lengkap. Namun apabila sudah diproses dan diperlukan dokumen pendukung lainnya, pemohon visa akan dihubungi lagi.

    Langkah-langkah pengajuan visa Jepang di Makassar

    Setelah semua berkasnya lengkap, datanglah ke konjen Jepang sesuai jam kerjanya yaitu senin-jum’at pada jam 8.00 – 12.00 untuk permohonan visa dan jam 13.00-15.00 untuk pengambilan paspor.

    Untuk daerah Makassar, kantor konjen Jepang berada di gedung Wisma Kalla lantai 7 Jl.Dr. Sam Ratulangi No 8-10. No. Tlp (0411) 871-030.

    Setelah menyerahkan dokumen di loket pendaftaran, kita akan membayar biaya single visa sebesar Rp 320.000 (Maret 2015) lalu diberi surat keterangan pengambilan paspor 4 hari kerja kemudian.

    Ketika waktu pengambilan paspor tiba, datanglah kembali ke konjen Jepang pada pukul 13.00-15.00. Alhamdulillah ketika saya membuka paspor, stiker visa jepang sudah tertempel cantik di salah satu halamannya dengan masa berlaku visa selama 3 bulan.

    Visa Jepang

    Mudah bukan?! Semoga bermanfaat ya 🙂

    Pengalaman Apply VoA China di Shenzen

    Biasanya orang yang berkunjung ke Hong Kong, akan sekaligus memasukkan Shenzen ke dalam itinerary. Negara tetangga yang jaraknya sangat dekat serta transportasinya mudah diakses. Hanya saja, sebagai pemegang paspor hijau (atau sekarang tosca), kita diwajibkan mengantongi visa on arrival terlebih dahulu untuk memasuki negara bagian China tersebut.

    Menuju Shenzen dari Hong Kong

    Cara mengurus voa China di Shenzen yang saya tulis ini berdasarkan jalur masuk melalui Hong Kong dengan kereta KCR dari stasiun Kowloon Tong. Lama perjalanan sekitar 45 menit dengan biaya HKD 31.3 menggunakan octopus card. Kereta ini akan berhenti di ujung perbatasan Hong Kong – Shenzen, Lo Wu – Luo Wu. Memang mirip sih nama stasiunnya tetapi sebenarnya berbeda dalam pengucapannya.

    Begitu tiba di Lo Wu, semua penumpang akan turun. Di border ini, paspor kita akan distempel keluar Hong Kong oleh petugas bermata sipit yang lempeng banget. Pokoknya gak ada basa-basi apalagi nanyain dengan senyum manis, datangnya bersama siapa neng?! Padahal ya mau banget pamer kalau saya datangnya bersama suami sebagai rangkaian bulan madu perdana kami. Hahahaha. Penting gak sih? 😏😏

    Nah setelah paspor di stempel, ikutilah papan petunjuk hingga keluar stasiun Shenzen yaitu Luo Wu (dibaca Luo Hu). Jaraknya lumayan jauuuhhh. Saya tidak yakin sih berapa angka pastinya tapi sepertinya hampir 1 km dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di sini saya jahilin Kak Idu yang newbie backpackeran hemat keluar negeri. Habisnya dia keseringan jalan-jalan luxury sih, (sstt… karena dalam rangka dinas sehingga semuanya dibayarin kantor). Kalau pakai uang pribadi, apa daya hanya bisa backpackeran begini buat melancong 😅.

    Jadi selama jalan kaki keluar stasiun itu, saya sering mendahului Kak Idu lalu bersembunyi di suatu tempat dan mengagetkannya ketika sudah dekat denganku. Beberapa kali berhasil mengerjainya. Sampai suatu ketika kok malah saya yang kejebak sendiri. Jadi saat sedang dalam persembunyian, tiba-tiba petugas wanita memegang tanganku erat dan membawa saya ke salah satu ruang sempit lalu diinterogasi dengan bahasa Cina yang sumpah satupun saya tidak tau artinya. Jadi dia ngoceh aja terus, mimik mukanya sampai tegang begitu karena melontarkan banyak pertanyaan tapi yang dihadapi malah diam seribu bahasa. Hingga akhirnya dia frustasi sendiri dan jadilah kami diam-diaman. Jadi pengen nyanyi lagunya Jamrud : 30 menit kita di sini, tanpa bicara. Dan aku benciiii harus jujur padamu tentang semua ini.

    Tak lama kemudian, datang petugas wanita lainnya. Selain lebih cantik, dia juga lebih menyenangkan karena pembicaraan akhirnya menjadi dua arah. Fasih berbahasa Inggris meski dengan logat Cina yang kental. Rupanya gerak gerik saya tertangkap cctv dan dianggap mencurigakan. Apalagi saya mengenakan hijab. Makanya saya digiring ke ruang interogasi ini. Lalu sayapun menjelaskan semuanya, bahwa saya sedang mengerjai suami yang baru pertama kali ke tempat ini sebagai upaya menciptakan perjalanan mengasyikkan yang tak terlupakan bersamanya.

    Setelah lama berdialog dengannya, saya akhirnya dilepaskan juga. Fiuuhh… alhamdulillah banget. Syukur-syukur gak sampai sejam. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bingungnya Kak Idu mencari-cari saya jika terjebak di ruang sempit itu semalaman. Sumpah jadi kapok sendiri.

    Begitu bertemu Kak Idu di section imigrasi China, langsung saja saya peluk erat sambil menangis. Dianya heran, kok saya sampai nangis begitu. Rupanya dia tidak sadar bahwa istrinya ini baru saja ‘diculik’. Dikiranya, saya masih main-main dengannya dan akan menemukanku di gate imigrasi China. Ketika saya menceritakan ulang kejadiannya, eh dianya bukan berempati malah ngakak habis-habisan.

    Langkah-langkah dan biaya apply voa Shenzen

    Mengajukan voa Shenzen sangatlah mudah. Pertama-tama ikuti petunjuk menuju visa office yang letaknya naik satu lantai dari gate imigrasi yang ditandai dengan tiga loket kecil berjejer. Selanjutnya mengisi formulir dan mengambil nomor antrian. Setelah nomor antrian kita dipanggil, datangi loket pertama untuk menyerahkan paspor dan sekaligus untuk difoto petugas. Fotonya melihat lurus ke depan, tidak miring kanan apalagi sambil monyongkan bibir. Karena ini foto untuk visa bukan foto alay. Berikutnya pindah ke loket dua untuk melakukan pembayaran sebesar RMB 160 (Oktober 2013). Catat, hanya menerima mata uang China. Selainnya, silahkan menukar di money changer terlebih dahulu. Terakhir tinggal menunggu visa ditempel di paspor yang akan diambil di loket ketiga. Prosesnya sangat mudah dan cepat. Tidak lebih dari 10 menit. Dan viola…  selamat berjalan-jalan di Shenzen.

    OURS (Part 1 : Yes, I Do)

    Jodoh itu misteri

    Kalimat ini pastinya sudah sangat familiar di telinga kita. Saya rasa siapapun pernah membaca, mendengar ataupun mengalaminya sendiri. Sungguh tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa mengetahui kelak akan berjodoh dengan siapa, kapan datangnya dan seperti apa rupanya. Ini adalah rahasia Allah semata. Tak bisa diduga, dikira-kira apalagi dipaksakan harus dengan si X, Y ataupun Z seberapa cepat atau lamapun kita menjalin hubungan dengannya.

    Persis seperti kisah saya dan Kak Idu yang awalnya hanya berkenalan di sebuah lembaga pendidikan bahasa asing di Makassar. Jika saya tidak salah ingat (dan semoga memang tidak), saat itu Maret 2011 saya dan Kak Idu terdaftar sebagai siswa persiapan tes TOEFL untuk tiga bulan kedepan yang jam belajarnya dimulai pukul 7 malam.

    Selama 3 bulan itu, tak pernah sekalipun kami berinteraksi lebih dari teman kelas. Bertemu di kelas, berpisahnya juga di kelas. Punya nomor telepon masing-masing aja nggak. Kalaupun hangout selepas kelas usai, itu juga ramai-ramai dengan teman yang lain. Syukurnya peserta di kelas kami sangat kompak. Tim pengajar dan management yang menangani bahkan menobatkan kelas kami adalah yang terkompak dan tergokil yang pernah ada sejak mereka bekerja di sana. Padahal kami sangat heterogen dari segi usia dan profesi. Ada yang karyawan BUMN, karyawan bank swasta, guru SMK, kontraktor, pengusaha, dan fresh graduate. Karena sangat kompak jadi sangat mudah untuk menyatukan suara buat hangout di akhir pekan. Nongky di cafe, nobar di cinema atau traveling ke tempat wisata. Cuma Kak Idu aja tuh yang biasanya menghilang karena dia sibuk pacaran melulu. Tapi baiknya, dialah yang paling sering mentraktir kita kalau makan-makan. Hahahaha.

    Jadi pernah ada kejadian lucu. Di depan tempat kursus tuh ada penjual kebab, burger, toko roti dan bakso gerobak yang mangkal di parkiran. Kak Idu tuh paling senaaaangggg sekali mentraktir teman-teman makan bakso karena dia memang pecinta bakso gerobak pendek (bakso daeng atau di Makassar disebutnya nyuknyang. Soalnya yang jualan bukan orang Jawa seperti mas-mas tukang bakso umumnya, tapi orang lokal). Mungkin tidak berlebihan jika saya menyebut Kak Idu nyuknyangholic karena hampir tiap malam dia pasti nyangkut di sana beramai-ramai dengan teman yang lain termasuk sahabatku sendiri, Miftah. Jadi kebetulan saat itu saya gabungnya telat karena mendiskusikan sesuatu dengan Sir Wawan, pengajar kami. Begitu melihat saya datang, Kak Idu langsung nawarin saya bakso. Terus saya refleks menolak. Soalnya saya memang tidak terbiasa dan tidak suka dibayarin sama cowok sih dan lagi selama saya belajar di sana memang belum pernah sekalipun mencicipi jualan bakso itu. Nggak doyan karena kelihatan kurang bersih, menurut saya. Karena itu saya biasanya hanya membeli kebab di toko sebelah kalau gak roti. Waduhh ternyata dia tersinggung dan menyindir gak usah sok bersih dan bla bla bla… (Dalam hati nih cowok mulut ember juga ya 😅😅)

    Sejak saat itulah genderang perang pecah diantara kami. Hampir selalu kami bersilangan pendapat dalam hal apapun. Iya, dalam hal apapun. Bukan hanya tentang pelajaran tapi juga hal remeh temeh lainnya. Sialnya teman-teman yang lain malah menciumnya sebagai tanda-tanda cinta. Jadilah kami dijodoh-jodohkan. Padahal saat itu, baik saya maupun Kak Idu sama-sama menjalin hubungan dekat dengan seseorang.

    Meskipun sering bersilang pendapat, tapi kami bukan anak kecil yang harus musuhan. Semuanya baik-baik saja dan disikapi dengan dewasa. Kami tetap berkawan baik sebagaimana teman yang lainnya. Gak ada yang berubah meski sebelumnya tegang-tegangan syaraf mempertahankan pendapat masing-masing. Kalau diskusinya sudah selesai, ya sudah. Kembali lagi seolah tidak terjadi pertentangan apa-apa.

    ***

    Bagi saya, pribadi Kak Idu ini sangat unik. Jadi suatu ketika saya baru selesai sholat magrib di musholla samping kelas sementara Kak Idu baru akan memulainya karena baru saja tiba. Ketika saya memasang sepatu diluar, sholat magrib berjamaah sedang dilaksanakan di dalam. Berhubung, bacaan sang imam sangat merdu dan tartil, saya menyesal kenapa tidak sholat magrib bareng mereka saja ya, padahal tadi saya sholatnya cuma sendiri. Habis gak kepikiran sih bakalan ada jamaah yang datang setelahku karena saya sendiri tibanya sudah telat. Beberapa menit lagi, kelas akan dimulai. Dan betapa kagetnya saat sepatu sudah terikat sempurna di kaki, lalu membangkitkan badan hendak menuju kelas saya melihat pemilik suara merdu itu adalah Kak Idu! Rada aneh sih awalnya. Soalnya gak nyangka cowok modis seperti dia, bagus juga bacaan alqur’annya. Padahal dia itu gokil sekali. Gak ada tanda-tanda sholehnya. Malah cenderung tipikal playboy gitu deh kelihatannya. 😅😅

    Terus kok bisa akhirnya berjodoh???

    Itulah mengapa pembuka tulisan ini dimulai dengan kalimat jodoh itu misteri. Karena memang gak disangka-sangka. Jadi setelah kelas TOEFL berakhir, kami kembali ke dunia masing-masing. Bertemu kembali setelah 2 tahun lamanya yaitu bulan Maret 2013 di acara reuni kecil-kecilan sesama ex Melbourne Class. Cerita ngalor ngidul dari yang konyol sampai cerita kesuksesan masing-masing. Ada yang akhirnya berhasil mendapat beasiswa ke luar negeri, ada yang berhasil masuk kerja di perusahaan impiannya, ada juga yang berhasil dalam bidang enterpreneur seperti saya dan sahabatku Miftah yang sukses mendirikan lembaga kursus Bahasa Inggris khusus mahasiswa : umum dan kesehatan. 

    Di sela-sela cerita itu, ada saja teman yang masih mengingat tentang dijodoh-jodohkannya kami dulu. Arisan saya naik lagi deh. Jadi bahan ejek-ejekan teman. Tapi dari sanalah akhirnya terkuak sebuah kebenaran bahwa saya dan Kak Idu kini sendiri alias jomblo. Lalu Kak Idu langsung nembak aja, “Ya sudah kita sama-sama saja sekarang kalau gitu”. Diucapkannya malah sambil tertawa mengejek, bikin sakit hati sih ekspresinya. Terus saya menanggapinya dengan jutek padahal sebenarnya mau banget. Lalu saya bilang dengan dingin : “Datang ke rumah jika serius.” Kemudian buang muka lalu senyum malu-malu. Hahaha. Nah jadilah sejak saat itu, saya dan Kak Idu akhirnya saling bertukar nomor telepon untuk pertama kalinya. Hahahahaha.

    Besoknya, dia beneran datang setelah saya beri alamat rumah. Padahal saya tidak harap sih karena sudah nge-judge di awal Kak Idu itu bukan tipe laki-laki yang serius. Udah gitu, pas ketemu malah langsung ngomong serius ke orang tua. Memohon restu untuk mengenali lebih jauh anak perempuan semata wayangnya. Saat itu cuma ada mamak karena bapak masih di luar kota. Mamak ditodong begitu, ya cuma bisa bilang tergantung anaknya, mau apa tidak. Lha, saya dengar kata seperti itu jadi salah tingkah dong. Apalagi ini langsung berhadapan begini. Pengen sih memang tapi kan malu bilangnya. Jadinya cukup menunduk dan mengangguk malu-malu. Hahahaha. Habis gak tau mau basa-basi gimana.

    Kak Idu bilang, disempat-sempatkan datang ke rumah hari ini karena besok sudah harus balik lagi ke Timika. Ternyata selama gak ada kontak 2 tahun itu, Kak Idu sudah tidak bekerja lagi di bank seperti dulu waktu masih belajar TOEFL. Dia sudah pindah ke salah satu perusahaan BUMN dan ditugaskan di Timika.

    Terus habis itu apa? Ya gak ada apa-apa. Dianya sibuk kerja di Timika, saya juga sibuk kerja di Makassar. Meski sudah mengantongi nomor telepon masing-masing, kita jarang banget contact-an. Kalaupun ada kesempatan luang, kita gunakan lebih banyak bercerita tentang diri dan keluarga masing-masing sebagai upaya taaruf lebih jauh.

    ***

    Dua bulan kemudian, keluarga Kak Idu datang melamar secara personal. Saat itu diwakili oleh kakak laki-laki tertua yang datang bersama istri dan anak-anaknya. Ajaibnya orang tuaku menerima lamaran itu. Padahal bapakku sendiri belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Kak Idu. Tau gimana bentuk mukanya saja tidak. Pokoknya bapakku iya saja. Saat ditanya kok mau aja pak? Jawabannya bikin ngeces cuy! Bapak bilang : hanya laki-laki baik-baik yang berani memulai hubungan cinta dengan jalan halal. Makanya saya terima karena saya tau dia laki-laki yang baik. MasyaAllah bapaaakk 😍😍

    Selanjutnya dilangsungkanlah acara mappetttuada, yaitu prosesi lamaran secara formal yang saat itu dilakukan di bulan puasa. Acara itu semacam pertemuan resmi kedua belah keluarga besar untuk menentukan hari pernikahan dan besarnya mahar yang akan diberikan kepada calon mempelai wanita. Prosesnya alhamdulillah sangat singkat dan berjalan lancar meskipun Kak Idu sendiri tidak bisa menghadirinya karena dia masih di Timika.

    Nah lucunya, karena bapak belum pernah ketemu dengan calon menantunya, bapak tidak mengenali Kak Idu yang datang silaturrahim ke rumah menjelang lebaran Idul Fitri yang juga sekaligus menjelang hari pernikahan kami. Saat itu bapak lagi nge-cat rumah, kakak adikku merapikan gorden sementara saya dan mamak membuat buras. Berhubung yang mengenali Kak Idu hanya saya dan mamak karena kedua saudarakupun tidak ada yang tau bagaimana rupa dan bentuknya Kak Idu, terjadilah dialog canggung berikut ini :

    “Assalamu’alaikum.”

    “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Cari siapa nak? 

    “Eh, ada Ainun, Pak”

    “Dari siapa? Temannya ya. Tunggu sebentar ya.” Memanggil-manggil namaku.

    “Hmm.. eh.. Bapak, ini saya, Idu, eng… calon suaminya Ainun.” Cengengesan lalu mencium tangan bapak.

    Lalu tawa keduanyapun pecah. Melebur dalam hangatnya pelukan calon mertua dan menantu.

    Beberapa hari setelah lebaran, tepatnya pada 9 September 2013 akad nikah dan resepsipun digelar. Berlangsung singkat dalam sehari. Tidak seperti adat Bugis-Makassar pada umumnya yang akan menghabiskan waktu sedikitnya tiga hari. Saya dan Kak Idu basically santai bawaannya, tidak terkecuali dalam urusan pesta pernikahan. Pagi hari mapacci, siang akad nikah lalu sore hingga malam menggelar resepsi. Selesai. Gitu aja. Sangat minimalis. Tidak perlu mengikuti ritual macam-macam. Lalu resmilah kami menjadi pasangan suami istri. Alhamdulillah sah. 🙂

    ****

    Kisah pacaran setelah menikahpun dimulai. Rasanya nano-nano banget. Ada lucu-lucunya karena masih malu-malu, ada rasa canggungnya karena dulunya sering bertengkar, ada rasa romantisnya sebagai pengantin baru, ada cerita konyol di dapur mertua hingga carita malam pertama yang bla bla bla… Hahahaa. Nah bagaimanakah kisahnya?? Nantikan di postingan berikutnya yaaa.

    ________________________________________

    9 September 2017.

    Ditulis sebagai kado ulang tahun pernikahan kita yang keempat. Jika saat membacanya ingatanmu kembali ke masa-masa itu lalu senyummu merekah atau mungkin ngakak, saya sudah sangat bahagia. Iya, sesederhana itu. Juga kutulis kisah ini andaikata besok lusa saya telah tutup usia namun belum sempat mengisahkan perjalanan cinta kita ke anak-anak , semoga tulisan ini bisa mewakili.

    Empat tahun sudah kita menjalani mahligai rumah tangga ini. Semoga selalu sakinah mawaddah wa rahmah bersamamu hingga ke JannahNya. Amiin.

    No Nanny No Cry??

    Source : Google

    Jujur saja sebelum saya menikah lalu dianugerahi anak-anak yang lucu, menggemaskan dan semoga shalih-shalihah nantinya (amiin) saya tidak pernah membayangkan akan luar biasa begini perjalanannya. Dulu saya berpikir bahwa mengasuh anak itu mudah, tidak perlu disekolahipun bisa karena ini menyangkut kemampuan dasar perempuan yang sudah fitrahnya hamil dan melahirkan. Pastinya akan sangat menyenangkan. Apalagi basically saya memang sudah cinta dengan dunia anak-anak. Saya mendedikasikan waktu-waktu luang saat kuliah dulu dengan komunitas-komunitas yang berkonsentrasi pada masalah anak. Beberapa kali juga terlibat dalam proyek dan kegiatan yang bekerjasama dengan UNICEF khususnya yang berkaitan dengan kesehatan karena disiplin ilmu saya di bidang Kesehatan Masyarakat. Bahkan pernah secara mandiri berinisiatif mendirikan kelompok anak asuh dari anak-anak segala usia di sekitar rumah. Pun ajaibnya, saya kecil yang dulunya jika ditanya hendak menjadi apa (profesi) saat dewasa nanti, saya selalu menjawab dengan lantang : mau jadi dokter anak atau guru TK. Sayangnya saya tidak pernah berhasil masuk dalam sekolah kedokteran tapi alhamdulillah punya pengalaman seru sebagai guru TK.

    Saya baru sadar setelah memiliki anak sendiri, semua tidak seindah dengan pengalaman yang saya punya dan teori-teori yang saya terima dari seminar parenting. Mengasuh dan mendidik anak sendiri rupanya tantangannya luar biasa. Apalagi jika mengasuhnya seorang diri dalam artian yang sesungguhnya (di rumah hanya tinggal bersama anak-anak tanpa siapapun termasuk suami dan orang tua atau kerabat apalagi nanny). Ternyata beraaaatttt shaaayy! 😂😂

    Dulunya terasa mudah karena mungkin waktu saya tidak dihabiskan 24 jam bersama anak-anak. Palingan 3-4 jam saja. Kalaupun ada yang harus 24 jam, setidaknya hanya berlangsung maksimal 3 hari, tidak lebih. Dan lagi anak-anak tersebut juga tidak ada yang bayi. Paling kecil usia 4 tahunan. Sudah pintar makan sendiri, pintar pipis sendiri dan sudah pintar berbicara untuk menyatakan apa yang mereka inginkan. Pun saya tidak sendiri menghadapinya. Tapi beramai-ramai dengan teman komunitas.

    Lain halnya dengan kondisi saya saat ini yang diamanahi 1 toddler super aktif dan 1 bayi super nenen. 

    Anak pertama saya laki-laki. Di bulan September ini sudah berusia 2.8 tahun dan sedang aktif-aktifnya. Rasa penasarannya sangat tinggi sehingga sering melakukan hal-hal yang membuatku kewalahan dalam mengawasi. Kalau sudah begini sering tanpa sadar terlontar kalimat-kalimat larangan yang secara teori saya tau itu tidak baik bagi perkembangan anak namun pada praktiknya saya tetap tidak bisa menghindari. Dalam sehari pasti ada saja hal yang memaksa saya pada akhirnya berkata “jangan”, “tidak boleh”, “no” dan sejenisnya. Dan ini membuat saya kadang merasa sedih setelahnya. Karena saya tau persis, itu sangat buruk bagi tumbuh kembang anak. Apalagi jika sudah terlanjur memarahi Ochy yang seringkali karena refleks jika Ochy melakukan hal-hal yang sangat membahayakan keselamatan adiknya seperti ditutupin bantal (yang dalam dunia Ochy ternyata itu adalah main ci luk ba), dicium sampai digigitin karena katanya gemes atau lompat-lompat di sekitar adiknya lalu menjatuhkan diri ke segala arah, yang fatalnya sering menuju si adik. Kalau sudah begitu, tangan saya bertindak lebih cepat dari mulut. Praktis, Ochy ditarik yang sayangnya dengan kasar. Lalu setelah itu saya akan sangat menyesalinya. Karena saya tau persis, perbuatan itu tidak hanya menyakiti fisik si anak, tapi juga menyakiti perasaannya. Lalu mengapa saya masih juga terpancing melakukannya? Sungguh perasaanku terluka atas perbuatanku itu. Susah menjelaskannya. Tapi saya percaya, emak-emak pasti tau gimana rasanya. Sakit say! 

    Anak kedua saya perempuan. Saat ini berusia 4 bulan dan sangat kuat menyedot ASI. Ya, saya berkomitmen dengan diri sendiri agar Baby Yui mendapatkan haknya : ASI hingga usia 2 tahun sejak hari pertama ia lahir ke dunia. Yui termasuk baby yang lebih suka nenen secara langsung sehingga botol-botol ASIP saya banyak yang menganggur. Ada baiknya juga sih karena saya tidak harus repot-repot mencuci dot dan botol susu. Tidak mesti was-was dengan higienitas pompa asi juga tidak perlu khawatir kualitas asinya masih bagus atau tidak. Apalagi jika harus bepergian. Tidak perlu membawa alat perang seperti tentara. Kalau Yui lapar atau haus tinggal buka baju dan sodorin langsung ke pabriknya. Aman. 

    Tapi Yui tipe baby yang kuat nenen. Apalagi di masa-masa GS kemarin. Bisa nenen 5 jam! Serius??? Iya. Sampai semua posisi sudah dilakukan agar tidak encok. Ya duduk, baring miring kanan-kiri, duduk lagi sampai si emak tertidur dan tidak sadar lagi apakah si baby masih menyedot atau tidak. Masa GS itu berat karena si baby tidak mau berhenti menyusu. Meski sudah kenyang, gumoh tetap saja ia tidak mau lepas ngenyot. Asal buka mataaaaa aja, akan nangis jedeerrr jika tidak nempel ke gentong asinya. Jujur saya hampir menyerah untuk ASI ekslusif apalagi di masa GS yang berlangsung selama 2 bulan itu. Tapi karena sudah diniatkan, alhamdulillah terlewati juga.

    Nah mengasuh anak ternyata menguji iman dan kewarasan lho. Bayangkan saja, sejak subuh buta sudah harus masak sambil beres-beres rumah yang berlangsung berjam-jam, eh dalam semenit rumah yang rapih sudah seperti kapal pecah lagi oleh si Ochy yang baru bangun tidur. Belum juga merapikan kembali, si baby ikut bangun minta nenen. Well, tinggalkan sementara pekerjaan rumah. Baby yang kelaparan adalah prioritas. Sedang posisi uwenak menyusui Yui, tiba-tiba si toddler teriak dari kamar mandi minta dicebokin karena pup. Diminta tunggu sebentar, ogah kompromi. Adanya teriakan lebih kencang. Kalau dibiarkan terus, bisa mengganggu si baby yang sebenarnya sudah siap-siap tidur kembali. Tapi kalau melepaskan pabrik asi si baby sebelum ia melepaskannya sendiri, bukannya tertidur si baby malah nangis jeder. Pusiiiinggg cyint! Bingung mau dahulukan yang mana. Ngarepnya sih kalau dahulukan Ochy, Baby Yui plissss tidurlah. Kan sudah agak lama nenennya. Atau kalau prioritaskan Yui, pengennya sih Ochy tenang-tenang saja dulu di kamar mandi sampai akhirnya saya datang yang berarti si baby sudah tidur. Kenyataannya?? Saya seperti setrika rusak yang bolak-balik kamar tidur dan kamar mandi. Kok bolak-balik? Karena keduanya berkonspirasi untuk menyajikan konser pagi : sama-sama nangis kencang!

    Pernah juga dihadapkan pada kondisi tangan kanan menyuapi si toddler yang masih ingin bermanja, meski sebenarnya dia sudah bisa makan sendiri. Tapi ya namanya juga anak-anak. They are according to their mood. Lalu tangan kiri memegang sapu dan si baby di gendong di dada dengan bantuan geos. Badut sudah kalah gaya deh pokoknya dari saya. Dan menjadi kurang waras jika si toddler makannya sambil lari ke sana ke mari, keluar masuk rumah sambil membawa pasir atau rumput di lantai yang baru beberapa menit yang lalu saya gosok.

    Juga sering sekali dihadapkan pada kondisi anak-anak tidurnya tidak bersamaan. Jadi harus dikeloni satu-satu. Si baby tidur, si toddler minta ditemani main. Giliran si toddler mengantuk, eh si baby sudah terbangun. Terus ini emaknya kapan istirahatnya?? 😂😂 padahal pengennya sih ya anak-anak tidur bersamaan, biar si emak juga bisa ikut tidur.

    Hal lain yang sangat menganggu karena sifat ke-rapih-an saya yang tidak mau kompromi. Lihat ruangan berantakan saja, pikiran saya ikut kusut seberantakan ruangan itu. Menambah kadar perasaan stress. Dan tau sendiri kalau sudah stress = asi seret. Semakin sereeeettt karena belum makan apa-apa sejak buka mata.

    Kalau sudah lelah begini, saya kadang menyerah, melambaikan bendera putih tinggi-tinggi lalu melarikan diri ke rumah orang tua 😂😂.

    Lho… memangnya kenapa gak pakai jasa Nanny?? Jujur saja, untuk pengasuhan anak-anak saya tidak pernah mau menyerahkannya kepada siapapun termasuk orang tua dan keluarga saya sendiri. Bukannya tidak percaya, tapi saya selalu memikirkan hal ini : saya sendiri, ibu yang melahirkannya, bisa saja memarahi dan memukulnya. Bagaimana dengan orang lain?? Soalnya saya tau persis tingkat super duper keaktifan si Ochy yang sangat menguji iman 😂 . Ah… sudahlah. Semua ibu pasti pernah memarahi anaknya, tapi tidak akan terima jika orang lain yang memarahinya, meskipun itu suaminya sendiri. Iyya gak bu ibuuk?? Hehehe. Lagian kalau mau dititipkan ke orang tua. Duh ya Allah… mereka itu sudah seharusnya menikmati masa tua tanpa urusan beginian lagi. Sudah cukup lelahnya saat mengasuh kita dulu di waktu kecil.

    Beda halnya dengan urusan rumah tangga seperti cuci piring, cuci baju, setrika, melipat, menyapu, pel, memasak, siram tanaman dan lain-lain, saya mau saja ada yang mengambil alih tugas ini. Misalnya oleh asisten rumah tangga (selanjutnya disingkat ART) yang bertugas menjaga kebersihan dan kerapihan rumah. Tapi entah mengapa kok tidak ada yang bertahan lama 😂😂😅

    ART pertama, ibu-ibu usia 40 tahun. Kerjanya 30%, ceritanya 70%. Asli bacrit alias banyak cerita. Sampai-sampai bagikan gosip tetangga-tetangga yang seharusnya tidak perlu saya tau. Hal menyebalkan lainnya sering minta pinjam uang dengan berbagai alasan. Pertama buat bayar spp anak, oke saya kasih. Kedua buat beli baju anak bungsu, oke juga saya kasih. Ketiga untuk dikirimkan ke orang tua di Jawa. Saya mulai curiga, ini kok saya kayak dimanfaatin ya. Meski begitu saya tetap kasih. Yang keempat, saya sudah bilang NO duluan sebelum dia menyatakan alasannya. Bukan apa-apa, yang sebelum-sebelumnya dipinjamkan saja belum lunas semua! Bahkan tidak bisa gajian lagi karena harus membayar sisa utang. Akhirnya saya minta dia berhenti bekerja setalah 3 bulan bersama-sama.

    ART kedua, gadis usia 18 tahun. Kerjanya kebanyakan main HP alih-alih menyelesaikan pekerjaan rumah. Bikin capek hati karena ujung-ujungnya saya yang tetap turun tangan. Fatalnya, dia menginap di pos security saat saya tinggal ke Timika. Padahal saya sudah minta dia pulang ke rumahnya dulu karena selama beberapa bulan ke depan saya tidak akan di Makassar. Kejadian itu membuat saya dan Kak Idu maluuuu banget. Apalagi saya tau kejadian itu dari petugas kebersihan yang akrab menyapu halaman rumah kami. Cerita yang sama juga kami dengar dari security blok sebelah. Parahnya, ke semua security dia mengaku sebagai keponakan saya 😂. Syukurnya security di blok rumah kami sekarang sudah diganti. Jadi saya pura-pura saja tidak tahu menahu soal itu.

    ART ketiga, janda usia 19 tahun. Orangnya rajin sekali. Belum saya suruh kerja saja, sudah dikerjakan duluan. Saya suka dengannya dan berharap bisa tinggal lama-lama dengan saya. Apalagi status pendidikannya terakhir tercatat sebagai mahasiswa. Tapi baru juga 3 hari bekerja, 3 orang lelaki datang ke rumah menjemputnya. Mengaku sebagai keluarganya. Rupanya dia ini sudah setahun dicari-cari. Jadilah sejak hari itu juga dia meninggalkan rumah kami. Meski baru 3 hari bekerja, saya tetap membayarkan setengah bulan gajinya sebagai hadiah untuk anaknya.

    ART keempat, gadis usia 17 tahun. Dia datang hanya beberapa hari sejak kepergian Tina, ART sebelumnya yang dijemput oleh keluarganya. Dia ini bersiiihhh dan cepat kerjanya. Saya suka cara kerjanya, apalagi dia polooosss banget. Jadi suatu malam sekitar jam 2 dini hari, saya ke dapur hendak buatkan Ochy susu. Ketika melintas di kamarnya, saya melongo karena pintunya dibiarkan terbuka. Dan betapa terkejutnya karena dia tidur di lantai tanpa alas apapun! Keesokan paginya saya tanya, kenapa tidur di bawah? Dengan polosnya dia jawab tidak terbiasa tidur di atas spring bed 😅😂. Sayangnya, hanya bertahan 2 hari saja. Katanya tidak betah karena sepi dan kurang kerjaan. Ya ampuun..

    Ini kok kayaknya curcol banget ya 😂😂 Ah… biarin ajalah. Setidaknya dengan berbagi cerita seperti ini sedikit mengurangi tingkat ketegangan syaraf di kepalaku 😆😆

    Source : Google

    So no nanny no cry?? Kalau aku sih yes! Tapi nangis bombay kalau gak ada housemaid. Soalnya gak kuat membayangkan pekerjaan rumah yang tak ada habis-habisnya. 😆😆

    Sabtu Pagi di Lokasi Syuting Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

    19 Agustus 2017

    Pantai Punaga

    Rencana main ke pantai ini sebenarnya dadakan. Terlintas di antara obrolan santai saya bersama Aisda, salah seorang sahabat yang malam itu kedatangan temannya jauh-jauh dari Pontianak. Kamipun memilih pantai Punaga yang ada di Kabupaten Takalar sebagai tujuan, kampung halaman Aisda. Agar temannya itu bisa sekalian main-main ke rumahnya dan bertemu dengan bapaknya. Hitung-hitung kenalan sama calon mertua. Siapa tau jodoh kan? Eh..! Hihihihi. *lalu tiba-tiba di tabok Aisda* hahaha.

    Saya dijemput di rumah pagi-pagi sekali. Anak-anak bahkan belum ada yang mandi. Karena kami akan ke pantai, ya sudah mandinya sekalian di sana saja. Main air sepuasnya hingga tangan keriput. Sarapanpun seadanya. Biskuit isi coklat sisa perjalanan kemarin yang dimakan ramai-ramai di mobil. Untuk makanan berat, kami membeli nasi kuning di jalan dan akan disantap saat tiba di pantai nanti. Ditemani angin sepoi pagi hari, rasanya pasti nikmat sekali.

    Pagi itu jalan masih lengang di Makassar namun sangat padat memasuki perbatasan Gowa oleh pengendara motor. Jalur kami bahkan diembat juga. Beberapa titik jalan mengalami perbaikan dan kendaraan alat berat parkir di bahu jalan membuat arus lalu lintas sedikit tersendat. Begitu tiba di Takalar, perjalanan kembali lancar.

    Oh iya, Takalar adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan berjarak sekitar 30 km dari kota Makassar dan dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam melalui jalur trans Sulawesi : poros Makassar – Bulukumba.

    Cara menuju pantai Punaga

    Pantai Punaga terletak di Desa Punaga, Kecamatan Mangara Bombang yang jaraknya 25 km dari Kota Takalar. Untuk mencapainya sangatlah mudah. Sekitar 5 km sebelum perbatasan Takalar-Jeneponto, berbeloklah ke arah kanan dan ikuti papan petunjuk menuju pantai Punaga yang terdapat di setiap persimpangan jalan. Lokasinya berada di antara pantai Tope Jawa dan PPLH Puntondo sehingga sangat cocok dijadikan sebagai day trip. Namun karena sejak awal tujuan kami memang hanya akan ke pantai Punaga, kamipun mencoret ke dua tempat tersebut. Sebab dijadwalkan si abang dari Pontianak ini harus tiba kembali di Makassar siang selepas dzuhur.

    Ochy dan Aisda berjalan menyusuri bibir pantai
    Ochy dan Aisda yang bermain kejar ombak

    Pantai Punaga ini masih sangat alami. Pasirnya putih dan lautnya bersih. Beberapa tebing menjorok ke dalam menciptakan pemandangan yang epik sekali. Kata orang lokal sih, saat sedang surut pesona tebingnya tidak kalah dengan Tanah Lot milik Bali. Sayangnya, saat kami berkunjung ke sana, air laut sedang pasang, menenggelamkan sebagian tebing-tebing indah tersebut. Meski demikian, keindahan pantai Punaga sama sekali tidak berkurang. 

    Keindahan pantai Punaga ini juga menarik hati seorang sutradara untuk dijadikan sebagai salah satu lokasi syuting film tenggelamnya kapal van der wijck, film yang disadur dari novel Buya Hamka yang dibintangi oleh Pevita Pearch dan Herjunot Ali sebagai Hayati dan zainuddin. Film yang sempat booming di akhir tahun 2013 yang bercerita tentang perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta Hayati dan Zainuddin hingga berakhir kematian.

    Saat matahari tenggelam, viewnya pasti akan lebih indah

    Hal lain yang menjadi daya tarik pantai Punaga adalah tempatnya yang masih alami. Belum tergerus tangan-tangan nakal investor asing. Terbukti dengan tidak adanya sinyal dan belum adanya fasilitas yang memadai sebagai objek wisata. Hanya ada dua buah balai-balai sederhana dan rumah panggung kosong yang sepertinya telah lama ditinggal pemiliknya. Kami menempati salah satu balai-balai itu untuk beristirahat. 

    Rumah panggung di pantai Punaga

    Akses masuk ke Pantai Punaga sebenarnya ada dua. Terlihat dari sisi kami, pintu masuk yang pertama sepertinya dikelola lebih baik. Ada villa dan jika saya menebak dengan benar juga ada kafenya. Saya kurang yakin apa ada tiket masuk atau tidak dari sana karena kami sendiri masuk melalui jalur gratis yang dikelola oleh keluarga Aisda.

    Sejak tiba di pantai Punaga ini, Ochy terus saja bermain pasir dan air. Dia begitu menikmatinya hingga menolak diinterupsi untuk makan nasi kuning yang kami beli di jalan tadi. Bajunya bahkan telah basah karena mengejar ombak hingga terjatuh bersama Aisda dan temannya. Saya yang melihat dari jauh hanya senyum-senyum saja. Ochy ini memang sangat dekat dengan Aisda. Sejak Ochy masih kecil, Aisdalah satu-satunya sahabatku yang meluangkan banyak waktunya menemaniku. Padahal dia sendiri juga sibuk bekerja dari senin-sabtu. Dia sudah seperti saudara sendiri bagiku. Kami berbagi suka dan duka bersama. Meski agak lucu juga sih jika mengingat kami akrabnya justru setelah tamat kuliah. Padahal dulu sama-sama satu fakuktas, satu jurusan pula. Apa mungkin karena dulu beda resonansi kali ya? Saya aktif berorganisasi sedangkan dia termasuk anak bureng yang murni hanya kampus-rumah-kampus.

    Hal yang paling mencolok dari pantai Punaga ini adalah tebing yang menjorok ke laut dengan pohon raksasa yang berdiri kokoh di atasnya. Saya tidak tahu ini pohon apa, tapi jelas dari batangnya pohon ini usianya sangat tua. Dari sini, pemandangannya sangat eksotik. Tapi kamera saya terlanjur lobet sehingga tidak banyak foto yang bisa dibekukan dengan lensa kamera.

    Tebing di Pantai Punaga

    Overall, saya sendiri sangat menikmati tempat ini. Apalagi sepi pengunjung sehingga lebih terasa sensasi pantainya. Baby Yui juga sepertinya betah di sini. Tapi kami harus cepat-cepat pulang supaya bisa tiba di Makassar siang nanti.

    Berikut beberapa tips bagi kalian yang akan berkunjung ke sini : 

    1. Bawalah tikar lipat. Sebagai alas duduk yang bisa dipakai di balai-balai ataupun ngempar langsung di pasir.
    2. Bawalah tissue kering dan basah. Belum ada fasilitas toilet yang memadai di tempat ini. Bahkan untuk sekedar cuci tangan.
    3. Pastikan kamera full charge agar tidak kehilangan momen foto.

    Well, ini cerita akhir pekan kami. Bagaimana dengan kalian? Happy weekend yaa, happy family 😊😁.

    A Day in Bantimurung National Park

    18 Agustus 2017

    Jum’at ini adalah hari perdana saya mengajak Ochy kembali ke alam setelah hampir tiga bulan tidak pernah bersentuhan agenda rutin ini karena terlalu sibuk sebagai ibu yang baru melahirkan. 

    Bantimurung

    Saya memilih Bantimurung sebagai destinasi karena jaraknya yang cukup dekat dari Kota Makassar. Lagipula, saya sendiri terakhir kali ke tempat ini sekitar lima tahun yang lalu ketika saya masih gadis. Sehingga cukup penasaran dengan kondisi Bantimurung hari ini yang katanya mengalami banyak metamorfosis. Tentunya akan menjadi pengalaman menarik karena ini adalah perjalanan perdana Baby Yui sekaligus menjadi perjalanan perdana saya bersama baby dan todler bepergian ke alam terbuka seperti ini.

    Cara menuju Taman Nasional Bantimurung

    Bantimurung terletak di Kabupaten Maros, sekitar 50 km dari Kota Makassar atau 20 km dari Bandara Sultan Hasanuddin dan dapat di tempuh dengan kendaraan umum dan pribadi baik roda dua maupun roda empat. Lama perjalanan diperkirakan 1-2 jam tergantung kecepatan mengemudi dan arus lalu lintas.

    Sangatlah mudah mencapai Bantimurung ini. Berikut beberapa pilihan transportasi dan kelebihan serta kekurangan masing-masing.

    • Kendaraan umum : naiklah pete-pete (sebutan angkot lokal di Makassar) tujuan terminal Daya seharga Rp 5.000. Lalu lanjutkan perjalanan dengan angkot tujuan Maros/Pangkep seharga Rp 15.000 dan turun di pasar maros. Di pasar inilah banyak angkot tujuan Bantimurung yang ngetem. Biaya angkot dari sini hanya Rp 5.000 saja. Kelebihan naik angkot adalah biayanya yang relatif murah namun harus siap dengan waktu yang lebih lama karena biasanya pete-pete akan berangkat jika sudah terisi penuh penumpang.
    • Roda dua : rutenya sama. Di depan pasar maros (tempat pete-pete ngetem), berbeloklah ke arah kanan dan ikuti jalan itu hingga tiba di gerbang masuk kawasan Taman Nasional Bantimurung yang ditandai dengan pigura kupu-kupu yang besar serta patung monyet raksasa. Kelebihan roda dua ini kita bisa berhenti di mana saja dan kapan saja untuk mengambil foto karena sepanjang jalan ke Bantimurung sangat indah dengan paduan sawah dan bentangan pegununungan karst. Kekurangannya, panas saat terik dan basah kalau hujan. Kalau hal itu tidak menjadi masalah, maka naik roda dua adalah pilihan yang tepat. Apalagi harga sewa motor di Makassar sangat terjangkau yaitu Rp 75.000/24 jam
    • Mobil pribadi : rutenya sama persis karena memang melalui jalan yang sama. Kelebihannya jika berangkat ramai-ramai tentu akan lebih hemat karena bisa sharing biaya rental mobil. Selain itu bisa singgah jika ingin berfoto-foto dengan pemandnagan sepanjang jalan dan pastinya bebas panas dan hujan. Kekurangannya kalau jalan macet ya maaf, gak bisa nyelap-nyelip selincah roda dua.

    Wisata apa yang bisa dinikmati di Kawasan Taman Nasional Bantimurung?

    Di kawasan Taman Nasional Bantimurung ini ada banyak wisata yang bisa dinikmati selain wisata utama air terjun yaitu pegunungan karst, gua-gua prasejarah, danau, waterpark, dan yang terbaru penangkaran kupu-kupu dengan Helena Sky Bridge, jembatan gantung sepanjang 50 meter dengan ketinggian 100 mdpl. Meniti jembatan ini penuh sensasi karena kita akan dikelilingi dengan aneka warna kupu-kupu yang cantik.

    Batu karst Bantimurung
    Helena Sky Bridge Bantimurung. Source : @hajraali05
    Air terjun Bantimurung

    Pagi itu, sekitar pukul 10 kamipun berangkat. Membelah jalan poros Makassar-Maros yang sepi dari pengendara. Alhamdulillah, awal yang baik. Mengingat jalan ini salah satu jalan terpadat menjelang akhir pekan begini.

    Cuaca hari ini sangat bersahabat. Cerah namun tidak terasa terik. Anak-anak juga alhamdulillah sangat bersahabat. Anteng selama perjalanan. Terutama baby Yui yang lebih banyak tidur.

    Patung monyet raksasa menyambut di gerbang masuk wisata. Tidak ada yang berubah. Patung ini masih patung yang sama terakhir kali saya ke Bantimurung. Dari sini, jika berbelok ke kiri maka akan tiba di wisata penangkaran kupu-kupu dengan Helena Sky Bridgenya yang keren itu. Namun jika kita memilih lurus setelah patung monyet tersebut maka aka tiba di sebuah loket masuk berbayar seharga Rp 25.000/orang dewasa dan setengah harga untuk anak usia 4 -13 tahun serta gratis bagi bayi dan anak di bawah 4 tahun. Untuk bule sendiri, harga karcisnya berkali lipat yaitu Rp 225.000/orang (Agustus 2017). Biaya ini adalah tiket masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung untuk menikmati air terjun dan berbagai wahana seperti gua mimpi, kolam renang, waterpark, danau dan lain-lain.

    Kolam renang Bantimurung
    Bantimurung

    Bagi yang ingin berpiknik ria pun sangat bisa karena juga tersedia tikar sewaan maupun saung serta tempat pembakaran ikan.

    Deretan Saung di Bantimurung

    Berada di dalam kawasan ini memang menyenangkan hingga bisa lupa waktu. Loket masuk sendiri tutup pada pukul 5 sore. Tapi tidak usah khawatir jika lupa waktu hingga kemalaman karena di sinipun sudah disediakan berbagai jenis penginapan seperti hotel dan villa dengan room rate mulai dari Rp 300.000

    Hotel Bantimurung
    Musholla Bantimurung
    Air terjun Bantimurung

    Sangat lengkap bukan di Bantimurung ini? Jadi kapan kamu mau jalan-jalan ke sini? 😁😁😁