UK Trip 2018 : Day 3 – Platform 9 3/4 dan London Bridge

Hari ketiga kami di London dilalui dengan sangat santai. Sarapan – jemur baju – tiduran – mandi – ngeteh di teras – ngobrol dengan tetangga – bermain di playground – ke supermarket – keliling kompleks. Rutinitas yang sama seperti di rumah sendiri. Inilah salah satu alasan mengapa kami lebih senang jalan sendiri ketimbang ikut tour dengan travel agent. Bagi kami, tak mengapa tak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Apalagi cuma sekedar datang, foto lalu pulang dan membagikannya di media sosial, dapat likes and comments, selesai. Well, itu mungkin gaya traveling kami beberapa tahun yang lalu. Seiring dengan seringnya kami bepergian, gaya travelingnyapun bergeser. Tidak lagi untuk mengejar itinerary dan checklist objek wisata. Lompat sana lari sini kejar sono demi sebuah tanda centang telah berkunjung ke tempat X. Sekarang kami lebih memilih menimati. Menikmati atmosfer kota London sebagai warga lokal.

King Cross Station

Kami meninggalkan apartemen setelah sholat Ashar. Hari ini kami akan ke King Cross Station, stasiun yang sama sejak awal kedatangan kami di London. Stasiun ini berhadapan langsung dengan St. Pancras yang merupakan stasiun internasional penghubung London dengan kota-kota besar lainnya di Eropa. Selain untuk mencetak tiket kereta yang telah kami beli sejak masih di Indonesia dulu, kedatangan kami ke King Cross ini juga dilatarbelakangi tujuan ke peron 9 3/4. Kalau Anda penggemar Harry Potter, tentu tidak asing dengan platform yang menuju Hogwarts ini.

King Cross Station and St.Pancras
Suasana di dalam King Cross Station

Ada kejadian kurang menyenangkan ketika kami sedang mengantre di konter pencetakan tiket. Saat itu saya dan anak-anak yang keduanya berada di stroller masing-masing, berkeliling keluar masuk konter. Dari bilik mesin-mesin khusus untuk yang mau cetak sendiri (self service), sampai di ujung koridor yang dilayani dengan beberapa petugas. Niatnya sebenarnya untuk membunuh kebosanan anak-anak menunggu Kak Idu yang berhadapan dengan seorang petugas untuk mencetak tiket-tiket kami. Daripada mereka melihat pemandangan itu-itu saja, ya saya ajaklah mereka berkeliling. Ketika saya akan keluar konter, seorang pria menegur saya dengan salam. Dari penampilannya kutaksir usianya mungkin 40-an tahun. Dia berbahasa Arab dan saya sama sekali tidak mengerti selain kata untuk menjawab salamnya dengan wa’alaikumussalam. Melihat raut muka saya yang kebingungan, dia akhirnya berbahasa Inggris. Menurut bapak itu, dia kehilangan tiketnya. Dia telah melapor ke petugas tapi katanya dia tidak mendapatkan tiket pengganti. Sebagai solusinya, bapak itu disuruh membeli kembali tiket yang baru. Nah, katanya dia sudah tidak punya uang lagi. Karena itu dia meminta bantuan saya. Dari sekian orang yang ada di konter tersebut, bapak itu memilihku karena saya berhijab yang berarti saudara seiman. Dia membacakan saya beberapa hadis tentang membantu sesama juga beberapa kali mengakhiri kalimatnya dengan wallahi untuk menunjukkan dirinya bersungguh-sungguh. 

Konter tiket
Di depan konter tiket

Sebenarnya tidak banyak yang dia minta. Cuma 10 pound saja. Tapi masalahnya saya tidak memegang uang sama sekali. Jangankan 10 pound, 1 penny saja saya tidak punya. Semua uang dibawa Kak Idu. Saya sangat bimbang. Antara ingin menolong bapak itu atau mempertaruhkan hijabku menjadi tontonan orang-orang karena menerobos antrian di belakang Kak Idu hanya untuk mengambil dompet. Dan pada akhirnya, saya hanya menyampaikan kalimat lirih , I’m so sorry brother. But I don’t have money. Bapak itu pun tersenyum, menangkupkan kedua tangannya di dada memberi salam lalu pergi. Sedih banget rasanya. 

Ekor mataku membuntuti ke mana bapak itu pergi. Berharap setelah Kak Idu selesai, saya bisa menyusulnya. Tapi dengan banyaknya orang di stasiun ini, bapak itu segera menghilang. Celingak celinguk ke sana kemari sambil mendorong dua stroller sekaligus rupanya menjadi hal yang mencurigakan di mata petugas yang sedang berpatroli. Dia mendekatiku dan dengan sopan bertanya apakah aku tersesat? Apakah aku membutuhkan bantuan? Dengan sama sopannya saya juga menyampaikan bahwa saya hanya berkeliling agar anak-anak tidak bosan menunggu bapaknya mencetak tiket di dalam. Kupikir setelah mendengar itu dia akan segera pergi. Eh saya malah ditanya macam-macam. Mirip interogasi ringan begitu. Seperti dari mana? Mau kemana? Sama siapa? Tinggal di mana? Berapa lama di London? Mau ngapain aja? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang lebih berhak disampaikan oleh petugas imigrasi.

Ketika Kak Idu selesai, saya menyampaikan ke petugas tersebut bahwa lelaki berjaket tosca yang berjalan keluar antrian itu adalah suamiku. Kirain dengan info itu dia sudah bisa meninggalkanku. Tau-taunya dia menunggu sampai Kak Idu benar-benar hanya beberapa langkah saja dari kami. Dia pergi setelah saya meminta anak-anak memanggil papanya dan dibalas Kak Idu dengan senyum lebar. Mungkin si petugas baru percaya bahwa saya memang benar-benar dengan semua perkatannku tadi : hanya menunggu suami yang sedang mengantre mencetak tiket!

Saya sampaikan semua kejadian itu ke Kak Idu. Tanggapannya : untuk bapak yang meminta bantuan bisa jadi itu hanya salah satu modus penipuan. Jangan mudah percaya sama orang yang tidak dikenal. Apalagi minta-minta uang begitu. Untuk bapak petugas, mungkin karena wajahku mirip penculik anak-anak atau mirip teroris yang sedang kebingungan mau meledakkan bom di mana sehingga petugasnya nempel terus dan menginterogasi. Katanya sambil terkekeh mengejek yang saya balas dengan cubitan di lengannya sekuat-kuatnya. 

***

Platform 9 3/4

Semua tiket kereta yang kami beli sejak masih di Indonesia kini sudah ada tiket fisiknya. Kak Idu mencetaknya di konter yang tidak jauh dari platform 9 3/4. Orang-orang sudah banyak mengantre untuk berfoto dengan trolley berisi koper dan sarang burung milik Hedwig yang setengahnya terlihat tertancap ke dalam tembok. Tua, muda, single, keluarga semuanya lebur dalam barisan mengular yang rapih. Sebagai pecinta Harry Potter, kami tentu tidak melewatkan sesi ini. Kita akan difoto oleh petugas resmi dari The Harry Potter Shop yang hasilnya bisa dicetak di toko merchandise Harry Potter di depan. Bisa juga foto sendiri dengan kamera pribadi. Saran saya sih foto saja dengan kamera sendiri. It’s free. Kalaupun bepergian sendiri, bolehlah meminta bantuan orang yang mengantre di belakangmu untuk di fotokan. Sebagai balasannya, nanti kamu fotokan dia balik dengan kameranya sendiri. Ketimbang difotoin sama petugas merchandise. Sudahlah hasilnya kurang ok, harga cetaknya muahhaaal yaitu £20 atau sekitar 400 ribu rupiah per foto ukuran paling standar mereka : 10 R. 

Antrian pertama untuk foto di platform 9 3/4
Antrian kedua untuk berfoto di platform 9 3/4

Posisi titik foto ini berujung pada sebuah pintu toko yang menjual merchandise resmi Harry Potter. Saya sendiri karena kebingungan jadi langsung iya saja saat ditodong petugas untuk mengambil hasil cetakan fotonya. Saya pikir, ini wajib diambil. Jadi sayapun ok saja untuk mencetak 3 foto sekaligus : Foto keluarga lengkap, saya bersama anak-anak dan foto Kak Idu seorang diri. Lumayan dapat diskon 10 pound jika mencetak 3 foto sekaligus. Setelah saya tiba diantrian kasir, saya melihat beberapa orang melewati petugas cetak foto cuek saja bahkan ada yang menolak. Ya ampuuunn tau gitu kan, saya gak perlu mencetak foto-foto ini. Toh di kamera kami juga sudah ada, difotoin sama gadis remaja bule yang senang banget godain Yui. Terus gimana dong? Mau dikembalikan, udah gak mungkin. Keluarin duit sejuta untuk foto-foto ini juga kok rasanya ogah banget ya. Lemeesss. 

Calon murid Gryfindor

Saya jadi ingat peristiwa di konter tiket tadi. Ketika seorang bapak meminta bantuan 10 pound tapi saya tidak memberinya karena memang tidak mengantongi satu penny-pun meski sebenarnya saya punya pilihan menerobos antrean untuk mengambil dompet di Kak Idu. Tapi saya tidak melakukannya. Sekarang saya malah ‘dipaksa’ keadaan mengeluarkan 50 pound. Masih mau ragu-ragu sedekah?? Maki saya dalam hati.

Kejadian itu membuat saya kehilangan gairah untuk membeli barang dagangan lainnya. Padahal jatuh cinta banget sama mug gryfindor. Cuma pas liat harganya ya Allaahh rasanya pengen cepat-cepat keluar dari antrian kasir ini. Gak sanggup. Hahahaha. Di way out gate sudah ada Kak Idu dan anak-anak yang menunggu. Dia heran kok saya hanya membawa cetakan foto, tidak membeli apa-apa. Padahal dia tau saya ini Potter Head banget. Saya cuma geleng kepala. Gak sanggup berkata-kata. Akhirnya Kak Idu gantian masuk dan saya jagain anak-anak. Keluar-keluar, dia sudah menenteng tas belanja. Saya intip isinya seperti baju kaos.

Taman di depan King Cross Station

Keluar dari kerumunan orang-orang di The Harry Potter Shop, kami menuju taman di depan King Cross station. Di sana kami membuka bekal dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke London Bridge.

London Bridge

Sangat mudah menuju London Bridge dari King Cross station. Cukup naik underground kurang lebih 12 menit lalu ikuti petunjuk berjalan kaki yang tertera di signboard ketika tiba di stasiun tujuan. Untuk yang membawa stroller seperti kami, siap-siaplah menggotongnya di tangga karena tidak ada eskalator apalagi lift. Selanjutnya akan tiba di persimpangan jalan yang berhadapan dengan sebuah castle. Dari sini harus lanjut lagi berjalan kaki sejauh 300 meter untuk tiba di jembatan ikonik tersebut. 

Castle di depan persimpangan jalan

Kedua arah di persimpangan tadi semuanya menuju London Bridge. Hanya saja untuk menghasilkan foto dengan latar belakang jembatan yang keren sangat dipengaruhi dari keputusan arah yang kita ambil. Kami sendiri awalnya mengambil arah ke kanan. Tapi sudah berjalan beberapa meter, kami diguyur hujan. Akhirnya kembali lagi karena kami tidak membawa payung dan mantel. Berbekal kantong kresek untuk melindungi kepalanya, Kak Idu berinisiatif melihat jembatan dari sisi kanan ini. Balik-balik, eh dia sudah basah sebagian badan. Kak Idu lalu menyarankan mengambil arah yang kiri saja. Karena dari arah kiri, cenderung lebih dekat berdasarkan hasil pengamatannya. 

Di depan kereta underground. Kiddos sudah terlelap semua di stroller. Hahaha

Kamipun menerobos malam dengan sisa-sisa hujan yang menggantung di kaki langit. Setengah perjalanan, ternyata hujan menderas lagi. Syukurnya ada terowongan untuk berlindung. Bersama pengunjung lainnya, kami menunggu hujan reda di terowongan ini. Hujan di London memang datang dan pergi dalam kurun waktu yang singkat. Orang-orang biasa menyebutnya hujan lewat. Tapi setelah menunggu 25 menit, kok tidak ada tanda-tanda mereda sementara malam semakin pekat dan anak-anak mengantuk berat. Kami putuskan pulang. Hanya sempat melihat London Bridge dari dekat tapi tidak  berhasil mengabadikan dalam satu potretpun. Hujannya awet.

Advertisements

UK Trip 2018 : Day 2 – Wisata Mainstream London 

Jam menunjukkan pukul 3.40 dini hari saat Adzan berkumandang di HP melalui aplikasi muslim pro. Seumur-umur ini sholat subuh tercepat yang pernah saya lakukan. Setelah sholat lanjut memasak untuk sarapan sekaligus menyiapkan bekal dan barang bawaan untuk jalan-jalan nanti. Bahan masakan ini saya bawa dari Indonesia. Tidak banyak, karena memang hanya dikhususkan untuk hari-hari pertama kami di London untuk mengantisipasi kelaparan andai belum sempat belanja ransum di supermarket lokal misalnya. Sedangkan sebagian lainnya memang sudah disiapkan oleh host kami di dapur seperti telur, sereal, susu, aneka bumbu, butter, minyak goreng, sayuran dan buah. 
Apartemen kami di Camden Town sangat mini tapi terasa homey banget. Atmosfer sekitar kompleks juga terasa sangat nyaman. Cocok untuk keluarga traveller dengan balita seperti kami. Di depan flat ada taman bermain dan tak jauh dari sana ada kanal yang terhubung ke Regent’s Park. Supermarket 7/11 juga dekat dari sini. Hanya sekitar 2 blok saja.

Di sekitar flat kami di Camden Town

Setelah semua sarapan, saya dan Kak Idu seperti biasa berbagi tugas. Saya mencuci piring dan merapikan kamar sedangkan dia memandikan anak-anak hingga mereka rapih dan siap diajak jalan. Hari ini kami akan ke pusat kota London mengunjungi Big Ben, Westminster Abbey dan London Eye. Jika masih sempat, rencananya kami juga akan ke St. James Park dan Buckingham Palace yang berada di lokasi yang sama. Menuju semua destinasi itu sangat mudah dari sini dengan bus ataupun underground alias kereta bawah tanah.

Kami meninggalkan flat setelah menjamak sholat dzuhur dan ashar karena Kak Idu tiba-tiba demam dan lemas. Padahal sejak semalam sudah direncanakan akan keluar selambat-lambatnya pukul 8 pagi. Saya putuskan Kak Idu istirahat saja dulu setelah dia meminum tablet sanmol yang tadi diberikan oleh co-host kami, Allycat. Sementara dia tidur di kamar, saya dan anak-anak main di sekitar flat. Tidak pernah terpikirkan bahwa demamnya ini ternyata karena terkena penyakit malaria. Kami mengetahui hal ini setelah kami berada di Liverpool beberapa hari kemudian. Itupun saat di rawat di rumah sakit.

Flat / apartemen kami di Camden Town

Cara menuju Big Ben dari Camden Town

Dari flat kami berjalan kaki sekitar 200 meter hingga tiba di stasiun Camden Town. Lalu naik underground menuju Waterloo selama 13 menit. Kami harus melipat stroller karena tidak ada lift di stasiun. Sementara eskalatornya sangat curam dan tentu tidak stoller friendly. Saat itu suasana stasiun sangat ramai. Tidak heran sih, karena di kota super sibuk seperti London pemandangan ini adalah biasa. Saya justru kehilangan kata-kata ketika seseorang menawarkan diri membantu kami membawakan dua stroller ke bawah sehingga Kak Idu bisa memegang Ochy. Sedangkan Yui saya gendong sambil kak Idu juga memegangiku. Agak wow saja karena dibayanganku, kota super sibuk itu biasanya identik dengan orang-orang yang individualis. 

Wajib banget lho foto dengan red box telepon ini. Banyak tersebar di mana-mana kok.

Dari Waterloo kita bisa memilih naik underground (2 menit) ke stasiun Westminster bisa juga dengan berjalan kaki. Dari sini kita sudah bisa melihat Big Ben, Westminster Abbey sekaligus bianglala raksasa bernama London Eye. Lalu lalang bus HoHo dan double decker dengan warna merah menyala menjadi pemandangan yang sangat atraktif. Saya sendiri mampir dulu di Tesco (supermarket seperti Alfa Mart atau Indomaret kalau di Indonesia) membeli beberapa camilan sebelum melangkah lebih jauh. 

Bus HoHo dan Double Decker
Bus HoHo
Bus HoHo dengan latar Westminster Abbey dan Big Ben
Ramai pengunjung

Sebagai tujuan wisata nomor satu dunia, wajar banget area ini tumpah ruah dengan manusia. Di stasiun, di koridor, di jalan, orang-orang saling berdesakan. Kami memutuskan beristirahat dulu di depan London Eye, di sebuah kursi panjang yang menghadap sungai Thames. Hasil belanjaan saya di Tesco tadi nyaris habis saking lamanya kami duduk di sini. Bukan karena terpana dengan keindahan westminster ataupun karena meredakan rasa kecewa karena Big Ben yang sedang direnovasi. Tapi karena sakit kepala Kak Idu kambuh lagi yang disertai dengan demam tinggi.

Setelah merasa baikan, kamipun berjalan ke seberang untuk melihat sisi westminster dari depan. Di tengah perjalanan, kami mampir di sebuah toko souvenir membeli beberapa potong baju kaos, magnet kulkas dan pajangan untuk oleh-oleh. Dan betapa surprisenya karena si penjual bisa berbahasa Indonesia bahkan bahasa Makassar. “Murah saja. Ini cuma sepuluh.” Begitu katanya sambil menyodorkan gantungan baju kaos dan bertanya lagi kami dari daerah mana di Indonesia. Ketika kami sampaikan dari Makassar, eh dianya teriak-teriak : “Sampulo.. sampulo sajalah.” Kami ngakak so hard dan akhirnya jadi deh beli di toko tersebut. Padahal di depan sana dan diseberang juga masih ada beberapa toko souvenir. Keliatan banget ya kalau orang-orang Indonesia itu doyan belanja. Sampai-sampai penjual nun jauh di Inggris beginipun bisa mengucapkan beberapa kata dalam Bahasa Indonesia.

Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah bertansaksi di toko souvenir tersebut. Awalnya pengen naik HoHo ataupun double decker buat keliling-keliling ke semua tempat the most visited in London tapi anak-anak sedang rempong jadinya kami mampir ke taman yang ternyata taman rumah sakit. Anak-anak girang sekali kejar-kejaran merpati, lari sana sini, manjat, guling-gulingan, baca buku. Puas main pokoknya. Saya juga bisa meluruskan kaki dan badan di rumput. Selonjoran bahkan tiduran. Sedangkan Kak Idu tertidur pulas di kursi panjang tak jauh dari kami. Ketika langit sudah memerah dan sebentar lagi masuk waktu maghrib, kamipun memutuskan pulang ke apartemen. Saya melirik jam, sudah setengah sembilan malam. Ketika musim panas begini, waktu siang memang menjadi lebih panjang dari waktu malam. Bayangin saja, sholat subuh sebelum jam 4 pagi dan magrib nanti jam setengah sembilan begini.

Saya pastikan kembali tidak ada barang yang tertinggal setelah memunguti semua barang yang tadi saya tumplek ke rumput. Kamera, hp, go pro, buku, kotak bekal, saya rapikan kembali ke dalam anello. Sedangkan semua sampah yang kami hasilkan seperti bungkus makanan, kemasan snack, botol bekas, tissue, kotak buah, jerigen susu saya kumpulkan ke dalam kantong plastik lalu membuangnya ke tong. Ketika berdiri tegak dari posisi saya saat ini nampak view yang luar biasa indahnya. Saya baru sadar kalau dari spot inilah gambar-gambar yang beredar tentang London di instagram rupanya diambil dari sini. Keren sekali memang. Karena dalam satu bidikan kamera dapat menangkap landskap istana, jam raksasa dan jembatan sekaligus. Jika beruntung, kapal ferry yang melintas akan semakin melengkapi keindahannya. Langit jingga yang kemerahan menjadi bonus berlipat-lipat membingkai gambar tersebut.

Menjelang maghrib
So instagramable right?

UK Trip 2018 : Day 1 – From Makassar To London

Setidaknya ada tiga hari yang paling mendebarkan dalam hidupku yang membekas hingga saat ini. Pertama, ketika secara tiba-tiba Kak Idu melamar saya. Kedua, ketika akan melahirkan anak pertama di tanah rantau. Dan ketiga, ketika meninggalkan kota Makassar menuju London hari ini.

From Makassar to London

Pagi sekitar pukul sembilan, kami meninggalkan rumah. Bisa dibilang ini adalah keberangkatan kami yang paling ‘manusiawi’. Sarapan tidak terburu-buru, mandi sambil leyeh-leyeh, dandan super santai, rumahpun ditinggal dalam keadaan bersih. Kalau flashback dengan perjalanan kami ke Eropa beberapa waktu lalu yang harus kejar-kejaran dengan jadwal penerbangan, saya ngakak sendiri mengingat pakaian yang saya bawa justru membuat malu di Belgia. Yang pernah baca tulisan Brussels and all its drama dalam blog ini pasti tau deh apa yang terjadi. Hehehe.

Sepagi itu, Kota Makassar ternyata masih lengang di jalan-jalan protokol. Taksi online yang kami tumpangi pun melaju santai menuju bandara Sultan Hasanuddin. Mungkin karena hari sabtu kali ya sehingga jalan raya tidak sesibuk pada hari-hari kerja. Kak Idu juga masih sempat mampir ke salah satu toko outdoor untuk membeli tas gantung penyimpanan paspor, hp, uang tunai dan barang berharga lainnya. Orang-orang biasanya menyebut tas gantung itu dengan tas Doraemon karena digantung di leher dan diselipkan ke dalam baju sehingga terlihat seperti kantong ajaib milik Doraemon. Sebenarnya dulu sudah punya tapi entah tersimpan di mana. Sudah cari di rumah, juga di kamarku di rumah orang tua, juga di kontrakan kami di Timika tapi tetap gak ketemu barang ajaib itu. Hmm… Risiko hidup nomaden. Kadang nyari barang sampai kebingungan sendiri.

Perjalanan kami hari ini sepertinya akan melelahkan karena menempuh empat bandara internasional sebelum akhirnya mendarat di Heathrow. Makassar – Jakarta dengan Garuda Indonesia. Lalu Jakarta – Kuala Lumpur dengan maskapai KLM. Terakhir Kuala Lumpur – London dengan Emirates yang harus transit di Dubai terlebih dahulu. Lho… memangnya kenapa sih gak langsung dari Jakarta – London saja? Soalnya harga tiket Emirates via KL lebih hemat 2 juta per orang daripada via Jakarta. Lumayan banget kan selisihnya jika dikali 3 plus 1 infant. Sedangkan dari Makassar, juga masih lebih murah naik Air Asia ke KL daripada naik citylink ke Jakarta di tanggal yang sama. Maka fix dibelilah tiket Emirates KL – London. Sedangkan tiket Makassar – KL kami skip dulu hingga visa UK kami approved.

Boarding pass Emirates

Pembelian tiket KL – London inipun sebenarnya punya ceritanya sendiri. Jika biasanya saya yang bertanggungjawab untuk ticketing dan penyusunan itinerary di setiap perjalanan kami, maka lain halnya dengan UK Trip ini. Kak Idu ternyata secara diam-diam telah membeli tiket tersebut yang rupanya bertepatan dengan hari ulang tahunku. Di suatu siang ketika saya sedang menggoreng ikan untuk lunch bersama, dia mengirimkan email berisi e-ticket perjalanan Kuala Lumpur – London PP. Naik Emirates pula! Dasar man of surprise! Selaaluuu saja berhasil membuat saya meleleh. Padahal saya sudah mengubur dalam-dalam keinginan ke Inggris karena drama beasiswa ke Sheffield Hallam yang menguras emosi. Belum dengan keputusan Kak Idu yang membatalkan secara sepihak rencana perjalanan kami dengan alasan sangat absurd. Di waktu yang sama kami juga dihadapkan pada kondisi keluarga yang butuh bantuan. Egois sekali jika kami memaksakan berangkat sementara ada saudara yang menunggu uluran tangan kita. Maka kamipun sepakat untuk memakai uang tabungan traveling itu karena memang kami tidak punya budget yang mencukupi untuk kasus dadakan ini. Tak mengapa tabungan perjalanan kami berkurang dan harus menunda ke Inggris jika memang dananya belum cukup. Kami mengajak diri untuk berlapang dada bahwa ini semua untuk membangun tabungan akhirat. Bukankah membantu keluarga lebih utama dan sangat mulia? Sayapun mengumpulkan semua keberanian yang saya punya untuk mengubur dalam-dalam keinginan ke Inggris setelah bertahun-tahun lamanya berusaha dan kini juga harus bernasib sama. Mungkin memang saya tidak pernah ditakdirkan menginjakkan kaki di negeri Ratu Elizabeth. 

E-ticket yang dikirim ke emailku

Kejadian-kejadian itu membuat saya pasrah dan berusaha memeluk semua rasa kecewa. Berdamai dengan diri sendiri bahwa saya memang tidak pernah berjodoh dengan Big Ben. Hingga disuatu siang, ketika saya sedang menggoreng ikan untuk lunch bersama, sebuah email yang masuk di inboxku meruntuhkan semua tembok-tembok perdamaian itu. Sebuah tiket PP ke London dengan logo maskapai penerbangan terbaik dunia, Emirates! Saya akan ke Inggris, itulah takdirku! 

Untuk kesekian kalinya, lelaki bernama Kak Idu berhasil membuatku bungkam. Saya kehilangan kata-kata bahkan untuk sekadar ucapan terimakasih. Tubuhku sudah lebih dulu mendarat di dadanya. Memeluknya erat dengan derai air mata yang tak bisa dibendung. Bau hangus ikan yang digoreng mengembalikan seluruh kesadaranku. Oh tidak, tidak. Saya berharap ini bukan bunga tidur. Saya menampar-nampar pipiku, mencubit tanganku dan ternyata rasanya sakit berarti ini bukan mimpi. Ini nyata. Saya akan ke Inggris, itulah takdirku! Dengan malu-malu saya menunjukkan ikan di atas wajan. “Yaa… gagal deh makan siangnya.” Kata Kak Idu dengan wajah yang disetting cemberut. “Oh tenang. Kita makan di luar saja, sayang.” Kataku dengan tersenyum lalu buru-buru menambahkan kalimat “saya yang traktir “. Meski dalam kenyataannya kami tetap memutuskan makan di rumah untuk alasan penghematan demi mewujudkan impian ke Inggris. Hahaha.

Well, kembali ke cerita perjalanannya yang harus mendarat di empat bandara internasional : Soetta, KLIA, Dubai, Heathrow. Jika memang tiket kami KL – London, artinya bisa berangkat langsung dari Makassar. Seharusnya tidak perlu lagi ke Jakarta bukan? Tapi mungkin karena dulu Kak Idu sangat excited ketika membeli tiket Emirates tersebut, ia kehilangan fokus mengecek jadwal penerbangan Air Asia dari Makassar ke KL yang cuma 3 kali dalam seminggu. Sayangnya, dia ternyata membeli tiket justru di hari yang tak ada penerbangan ke KL. Maka mau tidak mau kami harus membeli tiket ke KL dari kota lain. Yang paling memungkinkan adalah Surabaya, Jakarta dan Bali. 

Child meal Emirates

Setelah membandingkan waktu penerbangan, biaya, dan lama perjalanan, kami memutuskan via Jakarta saja. Yang paling masuk diakal emak-emak seperti saya adalah naik LCC seperti Citylink. Tapi dasar man of surprise! Lagi-lagi dia membungkamku dengan tiket Garuda Indonesia yang dia beli beberapa hari kemudian. Katanya karena saya belum pernah melihat terminal 3 yang sangat internasional itu. Duh.. padahal harga tiket per orangnya menembus angka satu juta-an. Naluri emak-emak ku sebenarnya menolak keras. Sayang duitnya. Hahahaha. Syukurnya dapat promo KLM di bawah 600 ribu untuk penerbangan lanjutan kami dari Jakarta ke KL. Maka jadilah rute perjalanan kami Makassar – Jakarta dengan Garuda Indonesia, Jakarta – Kuala Lumpur dengan KLM, lalu Kuala Lumpur – London dengan Emirates yang harus transit di Dubai. Jadi pakbapak, sebelum fix membeli tiket perjalanan dengan tujuan memberi kejutan buat si istri, tolong ya dicek kembali jadwal penerbangan langsung dari kota anda untuk menghindari kejadian seperti kami.

Terminal 3 Soetta, Jakarta
Di dalam pesawat KLM menuju KL

Meski panjang, alhamdulillah perjalanan kami lancar. Apalagi semuanya dengan full service airline. Kami akhirnya tiba di Heathrow setelah menghabiskan hampir 2 hari di jalan sejak meninggalkan rumah kami di Makassar. Dari Heathrow kami langsung menuju visitor centre mengambil peta wisata, peta underground dan membeli kartu Oyster. Selanjutnya menuju apartemen di Camden Town untuk istirahat total.

Heathrow International Airport
Visitor Centre di terminal 4 Heathrow

Alhamdulillaaahh…. The dream becomes true. Salam dari London! 

-London, 5 Agustus 2018

UK TRIP 2018 : Hello Summer

Perjalanan ke Inggris bisa dibilang top wish list keluarga kami. Jauh sebelum kami bertemu dan memutuskan untuk menikah, baik saya maupun Kak Idu punya impian yang besar bisa ke Inggris suatu saat nanti. Saya sangat jatuh cinta dengan London sejak masih kecil. Sedangkan Kak Idu sangat memimpikan bisa ke Anfield juga ketika ia mulai mengenal sepakbola dunia saat masih kanak-kanak. 

Summer in London

Kami menabung keras untuk perjalanan ke negeri impian ini. Namun drama demi drama terjadi sehingga keberangkatan ke Inggrispun ditunda berkali-kali. Sejak tahun pertama kami menikah, kami sudah berniat untuk ke Inggris. Tapi pada saat itu tiket-tiket promo perjalanan belum segencar dan sebanyak sekarang. Semurah-murahnya masih hitungan belasan juta untuk maskapai full service airline dan kisaran 8 juta untuk low cost carrier. Akhirnya kami goyah dengan promo gila-gilaan ke destinasi lainnya. Tabungan ke Inggrispun terbagi bahkan habis sama sekali sehingga harus mulai menabung dari nol lagi. Soalnya tabungannya belum cukup jika dipaksakan ke Inggris. Tapi lumayan berlebih dipakai ke Kuala Lumpur, Hongkong, Shenzen dan Macau untuk liburan bulan madu kami yang baru resmi sebagai pasutri sebulan lebih. Tahun-tahun berikutnya kami mulai menabung lagi. Kehadiran anak ternyata membuat prioritas kami berubah. Inggris untuk sementara waktu mati suri. Kami butuh biaya yang tidak sedikit sebagai orang tua baru.

Seiring berjalannya waktu, kami justru disibukkan dengan keluarga dan pekerjaan. Kak Idu promosi di tempat baru membuat konsentrasi tidak lagi dipecahkan oleh urusan traveling. Kami fokus pindahan dari Denpasar ke Timika. Tapi karena bayi saya masih berumur 5 bulan, kamipun memutuskan untuk sementara saya stay dulu di Makassar di rumah orang tuaku sambil Kak Idu merampungkan semua urusan di awal-awal kepindahannya. Ketika Ochy umur 8 bulan, sayapun dijemput suami ikut ia ke tanah Papua.

Entah mengapa Inggris dengan segala kecongkakannya terasa begitu jauh dari jangkauan. Padahal tiket promo maskapai-maskapai ternama dunia berseliweran. Tiket PP bahkan ada yang dibawah 5 juta rupiah per orang! Mungkin karena sedang menikmati masa-masa menjadi ibu, sehingga setiap waktu hanya memikirkan semua tentang tumbuh kembang anak. Kak Idu sendiri pulang kantor selalu malam, sangat sibuk dengan pekerjaannya. Rasanya dunia begitu mempermainkan kami. Ketika dulu punya banyak waktu yang lowong untuk melakukan perjalanan ke Inggris, kami justru tidak mempunyai uang yang memadai untuk membiayai perjalanan tersebut. Sekarang setelah sudah memiliki uangnya, kami justru tidak punya waktu untuk kemana-mana. Lalu kami membaca hal tersebut sebagai sebuah ‘tanda’. Pasti ada maksud Tuhan di balik semua ini. Apa mungkin ada hal lain yang Allah inginkan harus kami lakukan terlebih dahulu sebelum menginjakkan kaki ke negeri Ratu Elizabeth? Entahlah. 

Summer in London

Dalam hitungan waktu yang panjang, kami akhirnya memutuskan untuk amnesia, pura-pura lupa dengan semua hal yang berbau Inggris. Kami memutuskan untuk umroh. Berkunjung ke rumah Allah. Rasanya memang aneh, sebagai seorang muslim kami memang berniat ke Baitullah tapi ternyata keinginan itu tidaklah sekuat keinginan kami ke Inggris. Buktinya, sejak dulu kami melakukan upaya perjalanan ke sana. Entah dengan menabung sendiri ataupun mengikuti seleksi beastudi. Saya bahkan sempat terjerumus dalam dunia MLM yang menawarkan perjalanan gratis ke Inggris saking ngebetnya ke sana. Sementara ke tanah suci? Kami tidak melakukan usaha lebih setelah gagal berangkat di awal-awal pernikahan kami karena misscommunication dengan travel teman sendiri. 

Singkat cerita, kami akhirnya putuskan untuk berumroh dulu. Kami sekalian mengajak Ochy yang sudah berusia dua tahun. Saat itupun saya sebenarnya sedang mengandung anak kedua. Dan betapa Allah maha baik kepada kami. Hanya berselang 7 bulan kemudian, Allah memberangkatkan kami ke Eropa. 10 bulan kemudian, mengizinkan kami menginjakkan kaki di daratan Britania Raya tepat di hari ulang tahunku pula saat Inggris sedang mengalami musim panas yang berarti musim terbaik mengunjungi The Black Country itu yang selalu hujan dan berawan gelap pada musim-musim lainnya. MasyaAllaahh. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.

Summer in London
Summer in London
Summer in London

Last stop : Munich

Munich atau Munchen adalah kota terakhir dalam Eurotrip kami kali ini. Sengaja kami pilih sebagai destinasi terakhir karena sudah dekat dari Salzburg yang merupakan kota perantara kami dari Hallstatt. Dan lagi bisa sekalian mengunjungi Allianz Arena. 

Salzburg – Munich

Sore itu kami meninggalkan Salzburg Hbf menuju Munchen Hbf dengan kereta Obb. Lama perjalanan kurang lebih 2 jam. Perbedaan suasana sangat terasa sejak kita mulai memasuki kawasan Bavaria ini. Ramai dan sangat ‘kota’. Kontras dengan Austria yang sangat tenang. Ya, Munich memang adalah ibukota dari German State of Bavaria sekaligus merupakan kota besar ketiga di Jerman setelah Berlin dan Hamburg. Letaknyapun sangat strategis karena berada di tengah-tengah Jerman bahkan di tengah-tengah Eropa jika kita memperhatikan googlemap.

Munich City Centre / Old Town

Marientplatz

Marientplatz adalah pusat kota di Munich. Untuk menuju ke area ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Munchen Hbf yang merupakan stasiun kereta utama di Munich. Kami sendiri tiba di stasiun ini . Namun sebelum kami mengeksplore kota Munich, kami terlebih dahulu ke tourist information centre untuk berkonsultasi dengan petugas. Dengan waktu singkat yang kami punya, kira-kira bisa mengunjungi apa saja di sana. Mempelajari jalur transportasi serta membeli tiket stadion tour ke Allianz Arena. Sayangnya, waktu kunjungan kami bertepatan dengan jadwal pertandingan Bayern Munchen sehingga stadium tour ditutup hingga beberapa hari ke depan. Mau beli tiket pertandinganpun sudah sold out semua. Festival tahunan yang menyedot wisatawan dari berbagai penjuru duniapun ternyata sudah berakhir beberapa pekan lalu.  Festival favorit warga Munich yang dikenal dengan nama Oktoberfest.

Salah satu kios penjual souvenir di Munich

Oktoberfest adalah acara paling terkenal di kota ini yang biasanya berlangsung selama 16 hari yang dipusatkan di daerah d’Wiesn. Saat saya tahu inti dari festival ini adalah bir, bahkan disediakan bir istimewa dengan kandungan alkohol yang pekat dari produsen pilihan, saya malah bersyukur karena sudah berlalu. Tidak tertarik. Hehehe. Officernya juga menambahkan informasi bahwa selain bir spesial, Oktoberfest juga menyajikan aneka makanan tradisional khas Munich yang katanya wajib dicoba karena kelezatannya tidak tertandingi. 

Well, setelah mendapat semua informasi yang kami butuhkan, kamipun menuju penginapan yang tak jauh dari Hauptbahnhof ini. Youth Hostel kami pilih dari booking dot com karena lokasinya yang juara. Sangat strategis. Dekat kemana-mana. Bahkan ke Old Town yang menjadi pusat kunjungan para traveler. Lumayan banget kan bisa menghemat biaya tram. Lalu apa saja sih yang bisa kita kunjungi di Munich Old Town? Berikut ini adalah daftar tempat yang sanggup kami datangi dengan walking tour membawa bocah 2 tahun-an dan bayi umur 5 bulan 

1. Karlsplatz

Perjalanan kami dimulai dari Karlsplatz. Sebuah alun-alun besar yang sekaligus menuju gerbang Old Town. Tempat ini sangat mudah dikenali karena gedung OSRAM yang mengelilinginya. Di sini, kami sempat membuka bekal untuk makan. Padahal baru beberapa jam yang lalu kami makan. Mungkin udara musim gugur yang dingin membuat lapar semakin cepat datang. Hehehe.

Karlsplatz
Karlsplatz

2. Bürgersaalkirche

Setelah melewati alun-alun Karlsplatz dan masuk ke dalam gerbang maka kita akan sampai di Bürgersaalkirche yang kini difungsikan sebagai gereja. Sangat mudah mengenali bangunan ini karena warnanya yang merah sendiri dari semua bangunan yang ada disekitarnya. Dulunya, ini adalah tempat pertemuan warga kota. Karena itulah bangunan ini juga dikenal sebagai Citizen’s Hall Church. Walaupun rusak berat akibat Perang Dunia ke II, bangunan ini direnovasi kembali persis seperti aslinya. 

Bürgersaalkirche

3. St. Michael Church

Tidak jauh dari Bürgersaalkirche, kami sampai di sebuah bangunan tua dengan patung seorang lelaki membawa tombak. Patung tersebut dikenal sebagai Archangel Michael yang sedang memerangi setan dengan tombaknya. Katanya, setan yang dimaksud di sini diibaratkan agama kristen protestan. Patung ini menggambarkan gerakan anti Protestan yang berkembang pada abad ke 15 dimana gereja St. Michael ini adalah pusatnya. 

Gereja ini paling banyak dikunjungi turis karena memiliki ruang bawah tanah yang menjadi kuburan 40 keluarga kerajaan terutama dari dinasti Wittelsbach yang memerintah Bavaria dari tahun 1180 – 1918. Termasuk salah satu diantaranya kuburan King Ludwig II. Untuk masuk ke gereja ini tidak dipungut biaya. Tapi jika akan ke ruang bawah tanah harus membayar € 2 per orang. Waktu berkunjung untuk umum yaitu dari Senin – Jum’at pada pukul 9.30 am – 5.30 pm dan sabtu pada pukul 9.30 am – 2.30 pm. 

Kami sendiri tidak masuk ke dalam gereja ataupun ke ruang bawah tanahnya. Hanya melihat dari luar saja lalu segera menuju Marientplatz di mana toko-toko branded berderet. Seperti biasa, kalau lagi traveling ke negara orang biasanya naluri belanja Kak Idu kumat tuh. Apalagi kalau dihadapkan langsung pada gerai-gerai ternama dunia begini. Imannya goyah. Hahahaha. Saya sebagai istri sih mensupport saja. Lagian dia sudah bekerja keras untuk mewujudkan impian kami ke Eropa sekeluarga. Maka tidak ada salahnya jika dia membeli barang yang disukainya. Saat itu dia masuk ke dalam footlocker dan akhirnya menemukan sepatu lari yang sudah sekian lama dia nantikan kehadirannya di Indonesia.

Deretan toko di Marientplatz
Yeeeii… Ada yang bahagia banget akhirnya nemu sepatu incaran 🙂

4. Sendlinger Tor

Sendlinger Tor adalah akhir dari walking tour kami di kawasan kota tua bersejarah Munich. Gerbang ini dulunya berfungsi sebagai benteng pertahanan dan kini menjadi satu dari tiga gerbang bergaya gothic yang tersisa di Munich.

Sebenarnya masih banyak tempat bersejarah yang bisa dikunjungi di Old Town ini. Tapi karena anak-anak sudah mulai rewel, kamipun putuskan untuk kembali beristirahat di hotel setelah membeli beberapa buah-buahan, magnet kulkas, kaos dan souvenir. Secara umum harga barang-barang di Munich hampir sama mahalnya di Wina, Austria.

Allianz Arena

Pagi setelah sarapan di hostel, kami langsung menuju Hauptbahnhof dengan berjalan kaki. Hanya satu kali menyeberang, kami sudah tiba di stasiun utama Munich tersebut. Sebelumnya, bekal untuk siang nanti sudah saya siapkan di ransel. Sedangkan koper dan barang bawaan kami lainnya sudah saya kemas dengan baik karena sore nanti kami sudah harus ke Bandara untuk terbang kembali ke Amsterdam.

Dari Hauptbahnhof, kita naik U5 dan turun di Odeonsplatz lalu naik U6  dan turun di Fröttmaning. Setelah itu hanya bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 1.2 km hingga tiba di Allianz Arena.

Bagian dalam kereta menuju dan dari Fröttmaning. Ketika berangkat keretanya penuh sampai kami tidak kebagian kursi. Saat kembali, malah kosong melompong seperti ini. Hehehe.
Allianz Arena

Ketika turun dari kereta, saya baru menyadari bahwa hipseat saya tercecer, hanya menyisakan tali gendongannya saja sehingga terpaksa harus menggendong baby Yui dengan tangan kosong menyusuri jalan sepanjang 1.2 km itu. Beraaatttt juga lho! Apalagi Yui memakai pakaian berlapis-lapis : longjhon, baju kaos, sweater, winter coat. Stroller ada sih, tapi dipakai sama kakak Ochy. Jalan sepanjang 1.2 km itu sebagiannya berupa lorong kaca dan sebagian besarnya jalan ‘bebas’ atau semacam itulah,  beratap langit. Ketika menuju jalan bebas tersebut, angin bertiup kencaaang sekali menumbangkan tenda-tenda sponsor yang ada. Arah anginnyapun berlawanan dengan kami sehingga langkah terasa cukup berat. Kami berhenti beberapa kali di tempat-tempat yang memungkinkan untuk sekedar berlindung dari cuaca yang kurang bersahabat ini.

Saya menyebut ini sebagai jalan lorong kaca karena tidak tahu apa nama sebenarnya. Ini sambil menggendong Yui dengan tangan kosong karena Hipseatnya tercecer. 
Kalau yang ini saya sebut jalan ‘bebas’. Angin yang kencang menumbangkan tenda sponsor
Salah satu tempat kami berhenti. Berlindung dari dinginnya cuaca dan angin yang kencang

Kalau dipikir-pikir, kenapa sih begitu ngotot ke Allianz Arena? Padahal baik saya maupun kak Idu sama-sama bukan fans club dari Bayern Munchen. Saya apalagi, tidak mengerti sepak bola bahkan! Sedangkan Kak Idu? Dia kopite sejati. Bukan di sini arena yang dia idam-idamkan. Tapi di Anfield, Liverpool, United Kingdom. Lalu mengapa kami begitu semangat mengunjungi Allianz Arena ini?

Oh well, to be honest karena saya pernah belajar dan bekerja di perusahaan asuransi Allianz meskipun hanya sebentar sih. Saya sangat penasaran melihat langsung kemegahan stadion tersebut yang disponsori oleh perusahaan Allianz. Stadion yang katanya menghabiskan dana € 340 juta sejak dibangun pada 21 Oktober 2002 lalu. Wow banget kan! Sedangkan bagi Kak Idu, kesempatan mengunjungi stadion sepakbola dunia tentu akan menjadi pengalaman yang berharga.

Setelah berhenti beberapa kali untuk berlindung, kami akhirnya sampai juga di Arena. Banyak supporter datang berbondong-bondong dengan berbagai atribut Bayern Munchen. Jalan ‘bebas’ yang saya maksud itu tiba-tiba menjadi merah. Orang-orang baik bersama teman, keluarga, tua dan muda memenuhi jalan dengan penuh suka cita. Syal, jaket, kaos, topi bahkan ada yang melukis wajahnya dengan logo klub bola kebanggan Bavaria tersebut. Takjub juga melihatnya. Mendadak saya merasakan euforia supporter tersebut. Hmm… begini ya rasanya jadi fans club sepak bola. Hehehehe. 

***

Sepulang dari Allianz Arena kami istirahat sebentar di hostel lalu menuju bandara. Eurotrip inipun berakhir dengan banyak cerita 🙂

Hallstatt, Negeri Dongeng di Dunia Nyata.

Landscape Hallstatt

Jika dibandingkan dengan ibukota Austria, saya justru lebih dulu mendengar nama Hallstatt daripada Viena. Saat itu saya masih sekolah dasar kelas lima dan mendapat tugas menggambar dari guru. Karena saya payah dalam hal gambar menggambar, saya tidak punya ide apapun selain meniru gambar pemandangan di kalender dengan kumpulan huruf kecil membentuk tulisan Hallstatt di pojok kanannya. Ehm…wait, bukan meniru. Tepatnya sih menjiplak. Huhuhu. Dan taulah ya, buku gambar anak SD tidak selebar kalender dinding, jadinya yang dijiplak cuma setengahnya saja. Ah… Sdahlah! Lupakan saja cerita memalukan itu. Mari kita kembali ke Hallstatt.

Jadi Hallstatt ini merupakan sebuah desa di Austria yang menyajikan pemandangan alam luar biasa indah. Terletak di depan danau dan dikelilingi dengan pegunungan berselimut salju abadi. Benar-benar berasa seperti di negeri dongeng.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

Karena keindahan desanya inilah, banyak traveller yang melakukan perjalanan ke sana. Bahkan konon kabarnya, orang-orang kaya Eropa, khususnya Austria menghabiskan liburan musim panasnya di tempat ini.

Kami sendiri mengunjungi Hallstatt pada musim gugur. Keindahannya berlipat-lipat karena warna daun pepohonan yang menguning, orange dan kemerahan. Suasana pedesaan yang tenang membuat saya berangan-angan betapa nikmatnya menghabiskan masa tua di tempat ini.

Sejarah Hallstatt

Dalam bahasa Celltic, Hall berarti garam dan Hallstatt bermakna lokasi garam. Konon Hallstatt adalah daerah penghasil garam pertama di dunia. Jadi dulunya orang-orang makan tanpa garam. Dan setelah ditemukannya garam di Hallstatt, makanan terasa lebih nikmat saat dicampurkan. Harga garam pada saat itu melambung, jauh melampaui harga emas. Karena itu, garam disebut white gold di zamannya dan diyakini sebagai komoditas yang membuat Austria menjadi negara yang kaya dan makmur.

Museum of history – Hallstatt

Bukti sejarah Hallstatt bermula dari ditemukannya mayat seorang pria yang membeku di dalam batu garam. Mayat ini dipercaya sebagai pekerja tambang yang menjadi korban kecelakaan saat bekerja sekitar tahun 1.000 SM. Penemuan ini kemudian melahirkan kisah “Men in Salt” yang kini menjadi objek wisata dalam tur Saltmine Hallstatt.

Selain “Men in Salt”, sejarah aktivitas pertambangan juga ditunjukkan potongan-potongan tanduk rusa pada 1838 yang dipakai untuk mengeruk garam. Potongan tersebut adalah bukti keberadaan masyarakat zaman neolitikum.

Cara menuju Hallstaat

Kami menuju Hallstatt dari Wien atau Vienna. Perjalanan dari Wien Hbf ke Hallstatt Hbf dapat ditempuh selama 4 jam dengan satu kali transfer kereta di Attnang-Pucheim. Pastikan tetap melek ya karena pemandangan di luar jendela luar biasa indahnya. Fasilitas di kereta juga sangat nyaman. Ada meja, tempat tas, gantungan jaket, colokan listrik dan heiii… wifi gratis! Ada dua perusahaan kereta Austria yaitu oebb dan westbahn. Oebb adalah kereta nasional yang beroperasi di seluruh negeri sedangkan westbahn adalah perusahaan swasta yang hanya melayani wilayah tertentu. Kami naik kereta oebb dengan fasilitas seperti yang saya sebutkan di atas.

Halte bus, Hallstatt
Perhatikan jadwalnya ya. Karena jadwal bus tiap 1 jam sekali. Kalau telat, ya nunggu sejam berikutnya.

Jika tujuannya hanya ke Hallstaat saja, maka turunlah di stasiun utama yaitu Hallstatt Hbf . Untuk menuju desanya bisa ditempuh dengan naik ferry, bus ataupun berjalan kaki. Jika ingin menyusuri keindahan danau hallstattersee, naik ferry adalah yang terbaik. Bisa ditempuh selama 15 menit perjalanan dengan membayar €8 per orang dewasa. Harga tersebut sudah pergi-pulang.  Sedangkan tarif bus lebih murah yaitu €2 per orang dewasa dengan lama perjalanan kurang lebih 10 menit. Kalau mau lebih hemat sambil bakar kalori, boleh juga berjalan kaki. Lama perjalanan kurang lebih 30 menit dengan pemandangan pedesaan yang spektakuler. Keunggulannya berjalan kaki, kita bisa berhenti kapanpun jika ingin berfoto ataupun menikmati spot tertentu. 

Menginap di mana?

Ketika mencari penginapan di Hallstatt, saya tidak menemukan harga yang cocok untuk kantong kami (2 dewasa, 1 anak dan 1 bayi). Rata-rata harganya mulai 3 juta-an per malam. Padahal saya sudah searching sejak 2 bulan sebelum berangkat setelah mengantongi visa schengen. Harga tersebut terlalu mahal bagi kami. Apalagi akan menghabiskan 3 malam di sana. Bisa-bisa gak makan tuh! Huhuhuhu. Kabar gembiranya, anda yang berangkat sendiri atau hanya berdua dengan pasangan tersedia banyak hotel dengan harga bersahabat. Tapi untuk keluarga, rata-rata harganya segitu di musim gugur karena penginapan di Eropa sebagian besar memang membebankan biaya tambahan untuk anak-anak. Makanya kami tidak menginap di Hallstatt tapi di Obertraun, desa tetangga. Harga permalam yang kami dapat di sana sekitar 2.3 juta per malam jika di rupiahkan. Nama hotelnya Seehotel am Hallstattersee, hotel yang sama ditempati oleh mbak vicky (www.jejakvicky.com) saat ia berkunjung ke Hallstatt bersama suami dan mertuanya di musim semi. View dari hotel ini luar biasa indah. Kamar kami dilengkapi balkon yang langsung menghadap kolam renang dengan deretan pegunungan berselaput es di sekitarnya. Backyardnya apalagi! Bersisian langsung dengan danau Hallstattersee dilengkapi lapangan bermain yang luassss dengan aneka permainan termasuk buku bacaan dan perlengkapan untuk barbaque. Ochy puas lari-lari, lompat ke sana kemari, jungkat jungkit, perosotan. Asyik banget buat liburan keluarga. Keren habis pokoknya.

Hotel di Hallstatt yang tidak terjangkau kantong kami. Huhuhu
Hotel kami di Obertraun
View di backyard hotel

Ada bagusnya juga sih menginap di Obertraun ini. Kami jadi bisa merasakan suasana dua desa sekaligus. Desa Hallstatt cenderung lebih ramai karena memang pamornya lebih dikenal diantara tiga desa di wilayah Salzkammergut (Hallstatt – Obertraun – Bad Ischl). Kebanyakan wisatawan memang mengunjungi desa ini. Sedangkan Obertraun lebih tenang karena tidak terlalu banyak wisatawan di sana. Jarak tempuh dari Obertraun ke Hallstatt cukup dekat. Pak suami bahkan pulang pergi ke Hallstatt sebanyak dua kali dalam sehari yaitu saat pagi ramai-ramai bersama kami dan sore hari ia berangkat sendiri. Alhamdulillahnya lagi, selama kami di sana cuaca ceraaaahhhh meski suhu mencapai satu digit. Hujan deras mengguyur persis di hari terakhir kami di Hallstatt saat perjalanan menuju Munchen, Jerman.

Vienna : Novel, kampus dan bangunan artistik

Sebelumnya saya tidak pernah tau ada kota bernama Vienna di dunia ini. Padahal Vienna atau Wina adalah kota besar, makmur dan sangat berpengaruh di Eropa tengah. Kotanya super cantik, seindah namanya. Awal mula perkenalan saya dengan ibukota Austria ini justru dari sebuah novel inspiratif karya Hanum Salsabila Rais, 99 Cahaya di Langit Eropa yang saya baca di tahun 2014 saat sedang menghamilkan anak pertama. Saking jatuh cintanya dengan kisah perjalanan tokoh utama di buku tersebut, saya dan suami sepakat menyamatkan nama belakang si tokoh kepada calon anak kami.

Karena itu ketika mendapat kesempatan jalan-jalan ke Eropa, maka tujuan utama kami bukanlah ke Paris ataupun Italia yang merupakan destinasi mainstream turis dunia. Kami sebenarnya ingin ke Austria untuk menuntaskan sebuah pengharapan. Sebuah doa yang sering kami ulang-ulangi yang tersirat pada makna nama anak kami, Muhammad Hideyoshi Almahendra. Maka siang itu, saat kereta terus menjauh meninggalkan Bratislava menuju Vienna, napasku naik turun tidak karuan. Dadaku sesak dipenuhi perasaan haru luar biasa.

Pegunungan Alpen yang berselimut salju menjadi pemandangan alami sepanjang perjalanan. Satu-dua desa khas Eropa kami lalui. Ladang pertanian dan perindustrian silih berganti nampak di jendela. Hingga memasuki stasiun utama Viena dengan segala modernitasnya. Bagi saya yang selama beberapa hari ini berpindah-pindah stasiun dari satu negara ke negara lainnya, Wien Hauptbahnhof adalah stasiun kereta terkeren yang saya jumpai. Bersih, ramai orang tapi tetap tenang, modern, desainnya futuristik, lift dan eskalator selalu berdampingan sehingga tidak perlu mutar sana sini dari dan ke platform dan yang pasti wifi gratis di mana-mana. Satu hal yang mungkin tidak ramah bagi kami di Vienna adalah apa-apa harganya mahal. Harga tiket kereta mahal, harga hotel mahal, makanan mahal, souvenirnya mahal bahkan untuk sebuah magnet kulkas berukuran mini diberandol dengan harga 9 €. Padahal saya biasanya beli cuma 3 – 5 € saja di negara-negara yang kami lalui sebelumnya. Itupun ukurannya bukan yang mini begitu.

Ochy kayaknya demam foto dengan lidah dijulurin begini deh 😅

Dari Wien Hauptbahnhof kami langsung menuju hotel. Kami menginap di hotel Meininger yang dekat dengan stasiun Wien Hbf ini. Bisa ditempuh dengan dua cara yaitu jalan kaki atau naik metro. Jika memutuskan jalan kaki, Rutenya : keluar stasiun, berjalanlah ke arah perempatan yang ada light trafficnya. Tunggu sampai lampu penyebrangan bagi pejalan kaki menyala. Jalan terus lalu berbelok ke arah kiri.  Jika arahmu benar, maka akan sampai di sebuah kompleks plaza atau pertokoan dan melalui taman dengan deretan kursi panjang. Beberapa hotel juga ada di daerah ini. Luruuusss saja sampai menemukan logo ‘M’ berwarna merah. Sedangkan jika naik metro : Ambillah jalur metro u1 menuju stasiun Keplerplatz. Turunlah di stasiun pertama dan jalan kaki sekitar 100 meter, ketemu deh hotelnya.

Hotel kami adalah quite zone. Sepertinya orang-orang di Vienna memang menyukai ketenangan. Di stasiun, kereta, tram, restoran bahkan hotel sekalipun semuanya quite zone. Saya jadi harus punya kekuatan ekstra untuk menjaga si kicik-kicik agar tidak berisik. Dijaga betul agar Ochy tidak teriak-teriak dan Yui tidak nangis. Ketika membuka kamar, saya jadi wow sendiri karena kamarnya luaaass dan diberi lima tempat tidur pula. Hehehe. 

Setelah mandi dan makan, kamipun bersiap keliling kota Vienna dengan one day ticket yang sudah kami beli tadi di stasiun. Tapi mungkin karena keenakan, apalagi dengan kamar yang comfy begini ditambah mood anak-anak yang lagi pengen leyeh-leyeh, kami malah mager alias malas gerak. Akhirnya gak jadi ke Schonbrunn Palace, Stephanplatz, Nationalbibliothek dan beberapa spot wisata utama di sana karena hari keburu sore. Kami hanya menyempatkan ke Wien University. Kampus di mana Rangga Almahendra, tokoh utama 99 Cahaya di Langit Eropa menuntut ilmu. Ketika tiba di WU, saya terkagum-kagum melihat arsitektur bangunannya yang tidak biasa. Elegan, artistik dan sangat berkelas. Saya bahkan tidak percaya ini sebuah kampus jika tidak membaca deretan huruf yang menempel di bangunan depan.

Ochy di Wien University.

( Source : architectuur.fotograaf.eu )

Tiket one day ticket tadi sebenarnya bisa dipakai untuk berkeliling kota Vienna mengunjungi berbagai ragam wisata yang ada di sana. Tapi berhubung traveling bawa bayi dan toddler itu tidak semudah traveling dengan orang dewasa ya kami harus tunggui sampai mood dan kondisi mereka siap diajak jalan. Yang awalnya kami rencananya berangkat pukul 2 siang, jadinya molor sampai pukul 5 sore. Karena itu sepulang dari kampus, kami memutuskan stay di hotel saja karena hari sudah gelap. Suhu saat itu cuma satu digit pula. Terlalu berisiko mengajak anak-anak jalan malam. Merasa rugi sih membeli one day ticket tadi. Tau gini kan lebih hemat beli tiket ketengan saja. But that’s life. We never know what will happen, even one minute ahead.

24 Jam di Bratislava, Slovakia

Danau Bled Bratislava (source : google)

Bratislava adalah ibukota Slovakia, negara yang dulunya bersatu dengan Ceko menjadi Cekoslovakia. Namun karena sudah tidak satu visi lagi, pada tahun 1993 mereka memutuskan berpisah menjadi Republik Ceko dan Slovakia. 

Tujuan utama kami sebenarnya ke Vienna, Austria. Tapi kereta kami dari Prague, Republik Ceko melewati Bratislava maka kamipun memutuskan untuk singgah. Hitung-hitung bisa menambah checklist negara yang dikunjungi dan lagi biaya penginapan di sini cenderung lebih murah daripada di Vienna. Lumayanlah bisa lebih hemat semalam. Selain itu saya sangat terpesona dengan Danau Bled dan Devin Castle yang saya lihat di internet saat browsing singkat tentang Bratislava.

Devin Castle (source : google)

Perjalanan ke Bratislava ditempuh selama 4 jam dari Prague dengan kereta. Kereta ini sebenarnya kereta terusan ke Budapest, Hongaria. Jadi yang punya banyak wakyu bisa tuh sekalian ke Budapest dulu. Sedangkan waktu tempuh dari Bratislava ke Vienna hanya 1 jam saja.

Kami tiba di stasiun utama Bratislava pukul 11 pagi dan disambut hujan deras. Kesan pertama saya tentang Bratislava jorok dan oldiest. Stasiunnya berbau pesing dan orang-orangnya kebanyakan lansia. Karena hujannya awet, pukul 1 siang kamipun ke penginapan dengan naik taxy. Awalnya ingin naik transportasi umum : bus atau tram. Tapi haltenya ada di luar stasiun. Dekat saja sih sebenarnya cuma karena hujan dan udara dingiiiinnn banget, kasian juga sama anak-anak. Mana bawa barang banyak pula. Rasanya tidak pas dengan tram atau bus yang berhentinya cuma 1-2 menit menurun naikkan penumpang. Takut kejadian seperti di Belgia yang waktu itu hampir membuat saya dan Kak Idu terpisah di kereta. Hahaha. Pilihan lainnya adalah naik uber. Saat memesan harganya cuma 4 €. Tapi diakhir pemesanan ada keterangan minimum payment sebesar 10 € untuk jarak dekat seperti tujuan kami. Penjemputannya juga di luar stasiun. Gak mungkinlah basah-basahan membawa anak-anak ke sana. Akhirnya pemesanannyapun kami batalkan dan memilih taxy konvensional yang mangkal tepat di depan kami. Taxynya ini gak pakai argo tapi deal-dealan dengan tawar menawar. Saat itu sepakat dengan harga 9 €. Mobilnya bagus, seperti Xpander sport. Lengkap dengan car seat pula untuk balita. Drivernya sudah tua. Mungkin usia 60-an dan tidak bisa berbahasa Inggris. Lalu bagaimana akhirnya kami sepakat di harga 9 € tadi? Gampang! kami tawar menawarnya memakai kertas dan pulpen. Pak sopirnya menuliskan angka 15 € kami coret dan menuliskan angka 5 €. Hahahaha. Kalau emak-emak yang menawar harga ya gini deh, sadis. Sambil geleng-geleng dan ngoceh, pak sopirnya lalu menulis angka 10 €. Kami coret lagi dan menulis angka 7 €. Dia geleng lagi dan mengoceh dengan tidak jelas lalu menulis angka 9 €. Siipp! kami setuju dan kamipun diangkut.

Sepanjang perjalanan menuju hostel, sopir taxynya menjelaskan banyak hal tempat-tempat yang kami lalui. Jadi dia merangkap sebagai tour guide gitu deh. Hanya saja kami tidak mengerti karena dia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Dia sangat tertarik dengan Ochy. Sejurus kemudian dia mengeluarkan Hpnya dan menunjukkan foto gadis kecil yang sangat cantik kira-kira seusia Ochy. Dia bilang itu anaknya atau entahlah. Kami hanya menduga-duga. Hahaha. Overall pak sopirnya baik banget, ramah. Hanya saja ketika kami diturunkan, pandangan saya tentangnya langsung berubah gara-gara dia meminta bayaran 13 € padahal di awal tadi kami sepakat di harga 9 €. Dia menjelaskan bahwa setiap barang yang kami bawa dikenakan cas masing-masing 2 € untuk koper dan ransel kami. Sebagai bonus, stroller dia tidak kenakan biaya. Tapi saya tidak percaya dan menuduh itu hanya akal-akalannya saja untuk menipu turis seperti kami. Tapi karena hujan tak juga reda dan ingin segera menyantap yang hangat-hangat di kamar sambil leyeh-leyeh, yasudahlah kamipun bayar 13 € dengan wajah cemberut. Lalu buru-buru masuk hotel dan meninggalkan pak tua itu tanpa kata. Mengucapkan terimakasihpun saya ogah.

Tiba di hostel masih kurang jam 2 siang. Meski demikian, resepsionisnya sudah membolehkan kami check in. Padahal rata-rata waktu check in penginapan di Eropa itu mulai jam 2. Sambil menunggu kamar kami disiapkan, saya ngobrol santai dengan mbak resepsionis termasuk menanyakan tentang biaya barang bawaan ketika naik taxy di sini. Dan dari pengakuannya, saya sangat merasa bersalah dengan pak tua sopir taxy tadi karena ternyata memang seperti itu peraturannya. Oh Tuhan… pengen rasanya ketemu lagi dengan bapak tadi dan meminta maaf berkali-kali. Saat saya beritahu Kak Idu di kamar, dia sama merasa bersalahnya. Bahkan menekuri mengapa kami mendadak jadi orang yang perhitungan sekali. Padahal uang segitu paling habis buat ngopi saja kalau di Indonesia. Sementara bagi orang lain itu bisa saja untuk menyambung hidup keluarganya. 

***

Langit Bratislava kelam sepanjang hari itu. Basah dengan hujan yang tak kunjung reda. Walhasil kami yang tadinya ingin ke old town hanya bisa meringkuk di bawah selimut. Makan-tidur-makan lagi-tidur lagi. Keindahan Devin Castle, Danau Bled dan Sungai Danube yang membelah Slovakia, Austria dan Jerman ternyata belum bisa saya lihat secara langsung.

Devin Castle dan Sungai Danube (source : google)

Keesokan harinya, pukul 9 pagi kami check out dan menitip bagasi di hostel agar kami bisa keliling kota tanpa geret-geret koper. Cuaca hari ini juga kurang bersahabat. Baru juga tiba di old town, langit sudah gelap lagi. Akhirnya kami gak bisa mengunjungi banyak tempat. Hanya mampir beli jaket di FO, makan di restoran Turkey dan mutar-mutar gak jelas di taman kota. Meski demikian, saya sudah cukup senang. Biarlah gak kesampaian ke Devin Castle dan Sungai Danube, bisa membawa pulang jaket Zara seharga 10 € juga sudah bikin hepi.

Taman kota Bratislava
Yang penting si kicik-kicik hepi bisa lelarian sepuasnya.
First time makan shawarma. Sizenya besar banget ternyata.

Pukul 12 siang kamipun sudah berada di stasiun Bratislava setelah mengambil koper kami di hostel tentunya. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Vienna, Austria. Tiketnya sudah kami beli kemarin di stasiun.

Tempat Wisata Menarik yang Bisa Dikunjungi di Prague (Praha) Bersama Bayi dan Balita

Saat menyusun itinerary liburan ke Eropa, saya tidak pernah ragu memasukkan Prague atau Praha, ibukota Republik Ceko ke dalam jadwal. Saya bahkan mengalokasikan waktu terlama di Prague dalam perjalanan Eurotrip kami (16 hari, 6 negara 9 kota) yaitu sekitar 5 hari khusus untuk menikmati keindahan kotanya yang disebut-sebut sebagai kota tercantik di dunia.
Hari 1. Kami mendarat di Václav Havel airport Prague dari Brussels dengan maskapai Czech Airlines sekitar pukul 10 malam. Saat itu sedang badai sehingga turbulensi terasa beberapa kali selama penerbangan. Dari bandara langsung menuju hotel yang hanya bisa diakses dengan taxy. Kami menginap di Penzion V Mastali, salah satu hotel yang lokasinya dekat bandara. Tapi menurut saya, dekatnya ini kok masih terasa jauh ya. Apalagi kami harus menembus badai malam-malam begini dengan kontur jalan yang berkelok-kelok. Saya dan Kak Idu sampai bertatap-tatapan cemas, apa mungkin kita dibawa ke tempat yang benar karena kok jalannya spooky banget, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dan ketika si driver menurunkan kami, saya semakin shock melihat hotelnya. Bagaimana tidak, kami disambut dua pemuda yang lagi minum-minum di pintu masuk. Saat menuju resepsionis saya bahkan nyaris pingsan karena asap rokok dimana-mana. Rupanya ruang receptionnya menyatu dengan bar. Kak Idu sampai memohon maaf berkali-kali kepadaku. Mungkin merasa bersalah karena hotel ini, ia yang reservasi via online. Tapi siapa sangka, ketika kami dibawa ke kamar yang letaknya di lantai dua, saya takjub luar biasa. Kamarnya baguuuusss banget dan pelayanannya juga sangat ramah. Ochy bahkan diberi cot yang bikin dia girang, padahal kami tidak request sebelumnya. Kamar mandinya apalagi, bikin betah sekali. Alhamdulillah bisa tidur nyenyak sampai pagi nanti.

Hotel kami di dekat bandara Prague

Hari 2. Ketika bangun keesokan harinya, saya semakin jatuh cinta dengan hotel ini karena pemandangannya dari jendela luar biasa indah. Warna-warni pohon maple di sepanjang jalan menjadi terapi emosi pembangkit semangat. Bergeser ke kiri, mata saya menangkap playground yang belakangan menjadi tempat favorit Ochy bermain.

Hari ini kami akan ke pusat kota dan selama hari-hari berikutnya di Prague , kami akan menginap di apartemen yang dipesan melalui Airbnb. Dari sini ke pusat kota kami memakai Uber dengan pertimbangan lebih praktis. Soalnya jika menggunakan transportasi umum, harus berjalan kaki jauh ke halte, setelah itu mesti transfer ke tram lain untuk tiba ke apartemen. Cukup repot jika membawa banyak barang begini. Biaya ubernya juga murah saja kok.

Begitu tiba di apartemen, ternyata host kami masih ada kerjaan di luar sehingga belum bisa bertemu. Akhirnya kami jalan-jalan dulu di sekitar flat. Lokasinya sangat strategis. Supermarket berada tepat di sampingnya, kafe dan restoran tersebar di mana-mana dan yang paling penting, halte bus cuma 10 meter saja dari flat. Tepat di seberang jalan juga ada park dan sepertinya sebuah kampus.

Maria, nama host kami yang masih sangat muda. Orangnya ramah dan super baik. Dia menjelaskan singkat tentang Prague. Transportasi ke tempat-tempat wisata, restoran dan kafe yang layak dikunjungi serta hal-hal apa saja yang menarik untuk dinikmati di kota kecil ini. Bagi saya dan Kak Idu, informasi warga lokal begini jauh lebih valid daripada saran dari mbah google.

Cuaca di Prague cenderung lebih dingin daripada Amsterdam dan Brussels. Curah hujannya juga lebih tinggi dan waktu siangnyapun lebih singkat. Kombinasi cuaca seperti itu sangat menggoda untuk ngulet-ngulet di kasur saja. Apalagi buat si bayi dan toddler, punya ruang luas untuk bermain tentu sangat menyenangkan. Tapi kok ya sayang sekali jika sudah jauh-jauh ke Eropa cuma buat tidur saja. Hehehe. Karena itu kamipun sightseeing di sekitar apartemen. Mampir di restoran kebab dan pizza lalu ke supermarket untuk membeli beras dan lauk. Selebihnya main di park kampus. Kami memang belum ke pusat wisata di old town hari ini karena sudah terlalu sore menunggu Maria datang.

Hari 3. Flat yang kami tinggali fasilitasnya sangat lengkap. Ada mini bar, kitchen set dan wash machine. Sambil menunggu masakan matang, saya memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Sementara Kak Idu memandikan si bayi dan toddler lalu menemani mereka bermain. Gaya traveling kami seperti inilah adanya. Kebiasaan-kebiasaan yang kami lakukan sendiri di rumah tetap dibawa kemanapun. Sederhananya mungkin cuma pindah tempat tidur saja. Hehehe.

Setelah sarapan, kamipun berangkat ke Old Town dengan sekali naik bus dari stasiun Cerninova. Menurut informasi Maria, kami harus menaiki bus no 136. Waktu tempuhnya tidak lama, sekitar 10 menit saja. Setelah itu walking tour dimulai. Awalnya sempat bingung ke arah mana kami akan memulainya. Tapi karena dalam kamus hidup saya dan Kak Idu tidak ada kata nyasar, kamipun melangkah asal arah saja yang menuntun kami akhirnya menemukan tempat-tempat baru. Ya, kami memaknai kesasar dengan menemukan tempat baru. Sebab pada hakikatnya kita memang berada di tempat yang baru. Dan lagi kata kesasar hanya akan membangkitkan emosi negatif sedangkan ‘menemukan tempat baru’ cenderung membawa hawa positif. Benar atau betul? Hehehe.

Selama walking tour ini, kami menikmati kota tua Praha yang sangat antik. Bangunan-bangunannya khas Romawi Kuno dengan menara lancip. Berada di sini membuat saya berpikir seperti tidak di dunia nyata tapi dalam dunia dongeng yang banyak disajikan film-film kartun Disney. Mungkin karena banyaknya jumlah menara di sini, Prague menyandang status sebagai kota seribu menara.

Berikut tempat-tempat yang kami kunjungi selama walking tour secara mandiri :

1. Prague Old Town Square

Tempat ini merupakan alun-alun kota lama yang menjadi pusat wisata kota tua di Prague. Menjadi the must visit when in Prague karena dikelilingi bangunan-bangunan kuno penuh sejarah dengan berbagai aneka warna dan gaya arsitektur mulai dari gothic, rococo hingga baroque style. Tak heran kompleks ini selalu dipadati wisatawan karena memang sangat colourful, indah luar biasa. 

Prague Old Town Square
Prague Old Town Square
Prague Old Town Square

Beberapa bangunan-bangunan indah di dalam kompleks ini antara lain : Old Town Hall, Astronomical Clock, Týn Cruch, House at The Stone Bell, Kinský Palace, Jan Hus Memorial dan St. Nicholas Church. Yang paling menarik bagi saya adalah astronomical clock karena saat jamnya berdentang akan keluar boneka-boneka lucu dan menari. Menariknya lagi karena merupakan jam astronomi tertua di dunia yang dibangun pada tahun 1410 yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini. Berhubung kami tiba di sana pengunjung sudah ramai sekali, sayapun tidak sempat memotretnya karena waspada dengan isi ransel dan kantong jaket. Takut kena copet. Hihihihi.

Selain menikmati keindahan bangunan kota tua tersebut, kita juga bisa menikmati kelezatan kuliner Prague. Salah satunya adalah Trdelnik. Adonan mentahnya digulung pada sebuah batang kayu yang panjang lalu dibakar di atas bara api. Teksturnya mirip croissant tapi tengahnya bolong. Biasanya diberi aneka filling seperti gula, coklat dan eskrim.

Trdelnik isi coklat
Proses pemanggangan Trdelnik

2. Charles Bridge atau Karluv Most

Jembatan yang membelah Sungai Vltava ini adalah salah satu yang tersohor di dunia. Dibangun pada pemerintahan Raja Charles IV (1357). Jembatan ini menghubungkan dua distrik bersejarah di kota Prague yaitu Old Town dan Lesser Town sekaligus menjadi penghubung destinasi wisata terkenal di Prague yaitu Kastil Praha dan old Town Square. Tidak heran jembatan ini selalu ramai dipadati wisatawan, seniman dan pedagang souvenir. Yang paling menonjol dari jembatan ini adalah deretan 30 patung bergaya baroque di kedua sisinya bersama lentara vintage yang unik.

Charles Bridge
Charles Bridge

3. Sungai Vltava

Sungai Vltava merupakan sungai terpanjang di Republik Ceko yang dilintasi oleh 18 jembatan, salah satunya Charles Bridge. Dengan berpesiar menggunakan kapal ataupun gondola, kita bisa menyaksikan pemandangan unik yang ada di kota Prague. Bagi yang tidak suka berlayar di sungai tidak perlu khawatir karena dengan berjalan kakipun kita bisa menikmati keindahan sungai ini. Pastikan saja kakinya cukup kuat ya sis! Hehehe. Disalah satu sisinya, akan kita temukan gerombolan angsa yang berenang bebas. Jadikanlah pengalamanmu lebih seru dengan memberi makan angsa-angsa tersebut.

Di tepi sungai Vltava
Vltava River
Cruise Tour
Angsa-angsa di tepi sungai Vltava

4. Prague Castle atau Pražky Hrad

Jujur saja tulisan ceko ini memang rada susah dibaca. Lidah sudah seperti kelipat-lipat saja rasanya. Jadi waktu walking tour di area old town square, tidak sengaja kami menempuh jalan yang menuju charles bridge. Dari sana kita bisa menyaksikan kemegahan dua kastil yaitu Pražký Hrad atau kastil Prague di sisi kiri dan Vysěhrad di sisi kanan.

Prague Castle di bangun tinggi di atas perbukitan dan merupakan kompleks kastil terluas di dunia versi Guinness Book of World Records (luasnya mencapai 70.000 m2). Kastil ini pernah menjadi pusat pemerintahan raja-raja Bohemian, kaisar Romawi dan Presiden Cekoslovakia. Kastil ini juga menjadi saksi perang dan pemberontakan yang bergejolak di Prague, diantaranya Bohemian Revolt, Battle of Prague, Perang Dunia II dan Velvet Revolution. Setelah Cekoslovakia terbagi menjadi dua yaitu Republik Ceko dan Slovakia, sebagian Prague Castle kini ditempati oleh Presiden Republik Ceko dan sebagian besar lainnya dibuka untuk umum.

Prague Castle

Kompleks kastil buka setiap hari dari pukul 05.00 – 24.00 tanpa biaya apapun alias gratis. Tapi kalau masuk ke interiornya harus membeli tiket seharga 250 ck untuk dewasa (short visit tour) dan 350 ck untuk long visit tour. Sedangkan untuk anak-anak usia lima tahun ke bawah, biayanya gratis.

5. Vysěhrad

Ini adalah kastil lain di Prague yang juga dihubungkan oleh Charles Bridge. Jadi di sisi kanan jembatan Charles ada Pražky Hrad, di sisi kirinya ada Vysěhrad. Keduanya sama-sama kastil. Meskipun tidak setenar kastil di sebelahnya yaitu Kastil prague, namun keindahan kastil Vysěhrad juga tidak kalah menarik. 

Vysěhrad

Kami sendiri hanya memandanginya dari jauh karena kaki sudah terlalu capai melangkah. Bermodal kursi taman di sisi selatan Charles Bridge, tempat kami beristirahat sekaligus menikmati semilir angin di tepian sungai Vltava, kami sangat mengagumi arsitektur bangunan kastil ini.

Hari ke 4. Rencananya kami akan ke Cesky Krumlov, salah satu desa tercantik yang ada di Prague yang dapat ditempuh selama 3 jam dengan bus maupun kereta. Sebagai penikmat desa, saya dan Kak Idu tentu tidak ingin melewatkannya. Tapi apa mau dikata, cuaca hari ini sedang tidak bersahabat bagi turis rempong seperti kami yang membawa bayi usia 5 bulan dan balita usia 2 tahunan. Hujan sepanjang hari benar-benar tidak membuat kami beranjak ke mana-mana. Seharian itu kami hanya di flat. Sangat disayangkan memang. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Allah menjaga kesehatan kami dengan cara seperti ini. Hitung-hitung buat istirahat setelah kemarin gempor-gemporan keliling old town square. Hehehe.

Hari 5. Yang dikunjungi di hari ke lima di Prague adalah Dancing House. Berbeda dengan bangunan-bangunan klasik di old town, Dancing House justru menawarkan arsitektur futuristik, sangat dekonstruktif dengan bentuk tidak biasa. Bangunan ini mencerminkan wanita dan pria (Ginger Rogers dan Fred Astair) yang sedang menari bersama. Bangunan ini memiliki 99 panel beton dengan bentuk dan dimensi berbeda-beda. Unik sekali bukan!

Hari 6. Pagi-pagi sekali kami meninggalkan flat Maria menuju stasiun kereta utama di Prague. Karena membawa banyak barang (seperti biasa setiap akan berpindah kota dan negara, maka kami pasti membawa serta koper besar) maka kami ke stasiun dengan naik uber. Hari ini kami akan ke Slovakia. Jujur saja saya belum puas menikmati kota Prague yang memang super cantik ini. Saya berharap suatu hari nanti bisa kembali ke kota ini lagi. Dear beautiful Prague, call me again someday!

Brussels And All Its Drama.

Brussels
Perjalanan dari Amsterdam ke Brussels bisa ditempuh dengan berbagai moda transportasi seperti kereta, bus dan kereta cepat. Masing-masing tentunya punya plus dan minus. Kalau mau yang paling hemat, pilihannya tentu saja naik bus. Tiket busnya bahkan ada yang cuma 1€ jika berhasil mendapat promonya. Kekurangannya, waktu tempuh yang cukup lama yaitu sekitar 4.5 jam. Meski demikian, perjalanannya terasa menyenangkan karena busnya super keren. Ada tv lcd di masing-masing kursi, ada wifi gratis, tempat tas dan soket colokan listrik. Sangat cocok bagi pejalan yang low budget seperti kami.
Tetapi perjalanan kami ke Brussels ditempuh dengan kereta cepat Thalys. Ada beberapa alasan mengapa kami memilih kereta cepat. Yang pertama karena ingin menambah pengalaman berkereta cepat kami (ini adalah yang kedua setelah naik Shinkansen di Jepang). Alasan lainnya karena waktu tempuh yang relatif lebih singkat yaitu sekitar 1 jam 51 menit saja. Jauh diatas kereta reguler yang memakan waktu 3.5 jam apalagi bus yang menghabiskan waktu lebih lama.

Saya akui harga tiketnya memang mahal. Ini bahkan menjadi tiket kereta termahal kami selama di Eurotrip kali ini. Padahal sudah saya buking jauh-jauh hari. Tapi demi sebuah pengalaman baru bagi keluarga, saya dan Kak Idu menyepakatinya bersama. Apalagi untuk anak kami Ochy yang sangat excited dengan dunia transportasi. Ini akan menjadi pelajaran berharga untuknya.

Kereta Cepat Thalys

***

Kami tiba di Bruxelles Midi Station sudah pukul 10 malam. Stasiunnya sudah sepi. Toko dan loket tiket sudah tutup. Nyaris tak ada petugas yang bisa ditanyai arah tepat menuju hotel kami yang cuma 2 menit dari stasiun. Bukan apa-apa, salah pintu exit bisa membuat kita jalan kaki berjam-jam karena memutar. Dan bisa lebih lama lagi jika sambil menggotong bayi dan anak yang semuanya tertidur pulas ditambah ransel, koper dan stroller serta mata yang tinggal 5 watt karena sudah mengantuk dan kaki lunglai karena sudah kelelahan. Karena itu kami rela mutar-mutar di dalam stasiun menanyai siapa saja yang penampilannya meyakinkan sebagai warga lokal. Berkeliling di dalam stasiun tentunya jauh lebih aman daripada di luar. Sudah hampir pasrah sih sebenarnya jika malam ini terpaksa menginap di stasiun dan reservasi hotel yang sudah kami lakukan terpaksa hangus. Apalagi malam semakin larut. Kami sudah sejaman lebih di sini dan setiap orang yang kami tanyai tidak ada yang tau. Giliran ada yang ngerti alamatnya, bicaranya malah pakai bahasa Perancis. Ya kali, kami ngerti. Adanya cuma ingat aksen sengau-sengaunya saja. Mengandalkan google maps juga ternyata bikin keliru. Ah nyasar-nyasar seperti ini nih yang akan jadi cerita seru nantinya buat saya ketawain bersama Kak Idu. Apalagi kalau pakai ngotot-ngototan sok benar dengan feeling masing-masing tentang arah mana yang akan dituju. Susah dilupain deh pengalaman kayak gini soalnya. Pengalaman yang hanya bisa dirasakan kalau kita jadi solo traveler begini. Kalau bareng travel agent mah gak bakal ada nyasar-nyasar begininya. Hahaha *menghibur diri*

Suami lalu berinisiatif untuk mempercayai arahan Gmaps. Saya dan anak-anak beserta barang bawaan kami menunggu di stasiun. Tak seberapa lama suami kembali dan memberi kode angkat bahu. Fix, kayaknya beneran nginap di stasiun ini. Huhuhu. Hingga pada akhirnya, seseorang yang kami tanyai berhasil menunjukkan arah yang tepat meskipun memakai kombinasi bahasa Belanda, Jerman dan lebih banyak bahasa tubuh. Alhamdulillah… yeayy! Gak jadi dingin-dinginan di stasiun sampai pagi. Hihihi.

Di Brussels ini unik sekali, orang-orangnya berbahasa Perancis, Belanda dan Jerman. Sangat jarang saya mendengar yang berbahasa Inggris. Begitupun dengan tulisan-tulisan di sign board, memuat empat bahasa sekaligus. 

Menurut saya, ada perbedaan yang mencolok antara otang-orang di Eropa dan Asia saat memberi tahu arah jalan begini. Orang Eropa biasanya menjelaskan singkat kemana kita harus melangkah : ke kanan, ke kiri, maju atau putar belakang dengan instruksi tangan yang digerakkan sesuai arah. Kalau orang Asia biasanya menjelaskan panjang lebar. Terus kalau melihat wajah kita belum paham juga, mereka rela mengantar ke arah yang dia maksud bahkan hingga sampai di tujuan.

Nah berdasarkan informasi dari stranger tadi, kamipun menuju arah exit di depan kami. Dan benar saja, jarak hotel dengan stasiun benar-benar cuma 2 menit jalan kaki sesuai dengan petunjuk dari website hotel. Nama hotelnya bahkan kelihatan dari pintu exit ini. Arah yang tadi sudah kami tuju sebenarnya. Duhh… rasanya kok jadi gemes ya saya. Lokasi hotelnya memang sangat top. Dekat dengan stasiun utama dan juga supermarket serta restoran halal. Syukurlah hotelnya ketemu. Kamipun lalu mandi, makan lalu tidur nyenyak. Siapin tenaga buat jalan-jalan cantik besok.

Hotel kami di Brussels
Supermarket dan restoran halal di dekat hotel
Hotel kami di Brussels

***

Proses pencarian hotel semalam rupanya menjadi awal dari drama perjalanan kami di Brussels. Pagi ini setelah anak-anak dan suami sarapan, sayapun menyiapkan semua keperluan yang akan dibawa keliling kota. Taulah ya bawa baby itu barangnya banyak. Syukur-syukur anaknya masih ASI ekslusif sehingga tidak perlu menambah kerepotan membawa botol, dot, sikat dan termos. 

Setelah semuanya siap, giliran si emak yang harus dandan super cepat. Tapi saya tercengang karena satu-satunya baju bersih yang saya punya ternyata sudah kekecilan bagian lengannya. Gak sadar kalau berat badanku sudah tidak se slim dulu. Baju ini sebenarnya asal saya comot sih ketika packing dari rumah sebelum berangkat ke Eropa karena kejar-kejaran dengan jadwal penerbangan. Niatnya nanti setelah sampai di bandara Kuala Lumpur akan beli baju, makanya cuma bawa 4 potong baju saja. Kenyataannya hingga meninggalkan Amsterdampun, kami belum kesampaian ke toko buat belanja. Hufft.

Sempat bingung mau pakai baju apa. Gak mungkin juga saya pakai baju yang sudah dimasukkan ke kantong laundry. Sudah kotor dan berkeringat. Akhirnya atas saran suami, baju tersebut saya gunting lengannya. Padahal ini salah satu baju favoritku. Karena udara musim gugur memang masih dingin banget, jadi kemana-mana kami selalu memakai jaket. Nah jaket inilah yang menjadi outer untuk menyembunyikan baju tanpa lengan asal gunting tersebut. Wkwkwkwk. Sumpah deh beda kreatif dan kere itu tipiiiissss banget. Gak papalah ya yang penting bisa jalan-jalan keliling kota. Nanti kalau ketemu mall, bisa mampir buat beli baju baru.Yippiii.

Brussels

Hari ini kami berencana mengunjungi Grand Place dan atomium. Grand Place sendiri adalah alun-alun kota yang dikelilingi bangunan-bangunan indah dan bersejarah yaitu Townhall, Guildhall dan Brodhuis. Area ini menjadi the must visit when in Brussels karena telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Tempat ini juga disebut dengan Grand market karena terdapat banyak kafe, restoran dan toko-toko souvenir. But you know guys, kami gak kesampaian makan waffle Belgia yang mendunia itu, yang kata orang-orang tokonya ada di area ini, kecil tapi antriannya selalu mengular. Sudah dua kali mutar-mutar tetap saja cuma ketemu toko souvenir dan coklat. Gak ketemu penjual wafle sama sekali. Terakhir malah nyangkut di halaman JW. Marriot buat internetan gratis.

Karena keasyikan online, akhirnya dalam sehari itu kami hanya mengunjungi area Grand Place saja. Tidak jadi ke atomium karena menurut pak suami atomium itu biasa saja. Tidak ada istimewanya. Padahal dia sendiri belum pernah ke sana tapi memberi opini seperti itu. Keasyikan online ya pak? Sampai gak mau beranjak dari sini. Hahaha. Dasar faqir wifi. Pas ketemu jadi gak mau pulang. Hahaha.

Grand Place Brussels
Restoran di Grand Place
Brussels

Tiket kereta keliling Brussels sebenarnya berlaku selama 1 jam. Karena kami sudah lebih berjam-jam akhirnya harus membeli tiket baru untuk pulang ke hotel mengambil koper yang tadi kami titip saat check out. Di stasiun ini ternyata hanya tersedia mesin tiket saja. Tidak ada loket dan petugas yang melayani seperti di stasiun Bruxelle Midi. Pas mau beli tiketnya kita bingung bagaimana mengoperasikannya karena berbahasa Perancis. Pencet-pencet tombol untuk ganti bahasa malah tidak mau. Nah saat lagi pusing begini, saya cegat seorang cleaning service yang baru saja meletakkan peralatannya di pojok dinding dekat mesin tiket lainnya. Alhamdulillah dia bisa berbahasa Inggris. Dari si bapak itulah kami baru tahu kalau tombol ganti bahasanya bukan dipencet tapi diputaaaarrrr. Hahahaha. 

Mesin tiket

Karena sejak awal, Belgia memang negara yang cuma disisipkan dalam itinerary kami, maka tidak banyak waktu yang kami alokasikan di sini. Sore hari kami sudah menuju bandara Brussels untuk terbang ke prague. Ada kejadian unik ketika di stasiun Midi sebelum membeli tiket terusan ke bandara. Berhubung saya belum makan waffle di Belgia, maka sayapun bela-belain cari toko yang ada menu wafflenya di stasiun. Alhamdulillah ketemu. Hanya saja pelayannya gak bisa bahasa Inggris jadinya salah beli deh. Mintanya waffle fresh from the oven, dikasinya yang dihangatkan pakai microwave. Mintanya waffle coklat, yang saya terima malah waffle polos. Oh Tuhan! Tapi yasudahlah, setidaknya saya sudah bisa memberi centang tebal pada wishlist makan waffle di Belgia. Hahaha

Kamipun segera ke konter tiket untuk membeli tiket kereta ke bandara Brussels. Dalam perjalanan ke konter tiba-tiba seorang ibu menepuk pundak saya lalu mengoceh dengan suara sengau yang bahasanya sama sekali tidak kumengerti. Menyadari saya kebingungan, ia menarik saya ikut bersamanya. Agak takut sih awalnya. Tapi karena dia berhijab, saya percaya saja niatnya pasti baik. Dan masyaAllah ibu itu memang benar-benar berniat membantu kami. Entah darimana ia tahu kalau kami akan ke airport. Ia membawa kami ke konter yang tepat. Konter berbeda dengan yang akan kami datangi tadinya. Setelah itu ia cuma senyum, memberi salam dan berlalu. Padahal saya bahkan belum sempat menanyakan nama dan asalnya. 

Setelah mendapatkan tiketnya, kamipun segera ke platform yang tulisannya kurang jelas karena cuma ditulis tangan oleh si petugas. Kami hanya menduga-duga dengan memperhatikan penampilan calon penumpang. Kalau banyak yang membawa koper, bisa dipastikan ini platform yang benar yang akan menuju bandara. Keretanya sudah standby ketika kami tiba di platform. Saya tanya ke petugas apakah ini menuju bandara, dia hanya mengangguk. Kamipun bersiap naik. Kak Idu menaikkan koper terlebih dahulu lalu menyimpannya di tempat yang telah disediakan di kompartemen sebelah. Setelah itu barulah dia akan membantu saya menaikkan stroller yang ditempati Ochy tidur. Soalnya keretanya tidak stroller friendly, ada anak tangga di pintu sehingga saya harus menunggu Kak Idu untuk menaikkannya sebab kemampuan saya terbatas dalam posisi menggendong Yui begini. Tapi belum juga Kak Idu selesai menyimpan koper, pintu kereta tertutup dan tidak bisa dibuka lagi. Sementara saya dan anak-anak masih di luar. Sempat bercanda dengan diri sendiri, serius nih saya ketinggalan kereta? Serius nih suami saya terjebak di dalam? Padahal paspor dibawa semua oleh Kak Idu berikut uang dan kartu debit. Tiket kereta juga dia yang bawa. Saya satu sen pun tidak pegang uang sama sekali, pun tidak ada kartu identitas sama sekali. Kalau terkena razia petugas, bisa-bisa saya dianggap imigran gelap.

Dari dalam kereta Kak Idu tampak panik. Ia menekan tombol pintu berkali-kali, memukul-mukul jendela masinis tetap saja pintu kereta tak bergerak walau sesenti. Beberapa penumpang juga mencoba membantu tapi kereta telah terkunci rapat. Kak Idu juga dengan panik memberi saya kode untuk memberitahu petugas. Lalu dengan tergopoh-gopoh karena menggendong bayi dan mendorong stroller sayapun mengetuk jendela masinis dari luar. Saya sampaikan apa yang terjadi tapi petugasnya cuma bisa bilang, maaf kereta harus segera berangkat. Tidak ada waktu. Silahkan menunggu kereta berikutnya. Setelah itu ia menutup kembali jendelanya dan seolah tidak peduli lagi denganku. Lalu sayapun memohon-mohon dan entah kenapa tau-tau saya sudah menangis saja. Sang petugas lalu menelepon seseorang. Saya tidak tahu siapa yang dia telepon tapi tidak lama setelah itu datanglah petugas lainnya lalu membuka pintu dari luar dengan kode yang saya tidak tau. Kak Idupun diminta cepat-cepat turun. Alhamdulillaah… syukurlah bisa bersama lagi. Saya gak kebayang kejadian berikutnya jika harus terpisah begini.

Eh btw, tadi kan saya cerita kalau pakai baju yang lengannya digunting dadakan. Karena alhamdulillah semuanya berjalan aman-aman saja, saya jadi lupa kalau memakai baju tanpa lengan. Hingga akhirnya dihadapkan pada situasi genting yang bikin muka saya tiba-tiba jadi pucat pasi. Saat itu lagi di Bandara Brussels sedang mengantre di pemeriksaan X-Ray.

Ketentuan internasional pemeriksaan X-Ray ini memang mengharuskan melepas jaket, ikat pinggang, dan syal. Begitu masuk antrian, saya baru sadar bahwa saya sama sekali tidak mengenakan long jhon hari ini sehingga jika jaketku dilepas maka seluruh tanganku akan telanjang. Astagfirullah’aladzim. Bingung dan paniklah ya pastinya. Akhirnya saya dan Kak Idu memberanikan diri bernegosiasi dengan petugas. Menyampaikan kondisiku dan apa masalahnya. Tapi mereka bahkan bergeming. Tidak mau menerima alasan kami. Dan yaaa… jaket harus dilepas. Rasanya sedih, malu, merasa bersalah, berdosa aahh campur aduk deh. Meskipun sebenarnya orang-orang cuek saja dan sibuk dengan urusan masing-masing, tidak memberi attention kepada kami tapi saya malu sama Allah yang maha melihat. Syukurnya lilitan hijabku panjang sehingga sisa kainnya kugunakan untuk menutupi yang bisa ditutupi. Posisi menggendong Yui juga cukup membantu menyembunyikan sikuku yang kuselip diantara perutnya dan ergo baby. Lalu saya buru-buru memasuki body detector dan Kak Idu segera mengambilkan jaket yang telah melalui sinar X.

Oh Brussels… why you welcome us with so many dramas 😂