Pengalaman Mengurus Visa Umrah untuk Keluarga

Umrah adalah salah satu perjalanan sakral bagi ummat muslim di dunia, tak terkecuali Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Setiap muslim pasti mendambakan perjalanan ke tanah suci setidaknya sekali dalam hidup, entah untuk berhaji menyempurnakan rukun Islam ataupun untuk umrah dan berziarah.

Syukur alhamdulillah, kami sekeluarga akhirnya diberi kesempatan menginjakkan kaki di tanah haram pada bulan Maret yang lalu setelah tiga kali mengalami kegagalan dengan dua travel sebelumnya. Adalah sebuah rezeki, berkenalan dengan seorang ibu hajjah via online yang merupakan agen sebuah perjalanan umroh dengan paket super hemat. Soalnya dibandingkan dengan kedua travel sebelumnya, harga yang ia tawarkan sangat fantastis. Bahkan sedikit irrasional mengingat tiket pesawat PP Makassar-Jeddah saja minimal 14 juta dengan pesawat Garuda Indonesia. Namun beliau menawarkan nominal yang sama dengan janji full service selama perjalanan sejak keberangkatan hingga tiba kembali di kota asal. Rada takut sih awalnya. Apalagi kita baru kenalan. Itupun via medsos. Kita belum pernah bertatap muka secara langsung. Masih menimbang-nimbang karena umrah backpacker saja masih kalah jauh selisihnya. 

Saya berpikir, mungkin harga yang beliau tawarkan belum termasuk pengurusan visa. Tapi ternyata saya keliru. Harga tersebut sudah all in. Makin ragu dong jadinya. Ini beneran atau modus penipuan sih? Untung saat itu belum terkuak kasus First Travel, sehingga bismillah kami berani saja mengambil paket hemat Abu Tours tersebut.

Berhubung saya menggunakan jasa travel dalam perjalanan kali ini yang sudah mengatur semuanya, maka saya tidak punya pengalaman pribadi bagaimana mengurus visa umrah secara mandiri. Dan memang sepertinya kita tidak bisa mengurusnya sendiri sih. Soalnya temanku saja yang melakukan umrah backpacker, visanya tetap juga dibantu oleh travel agent. Karena Kedutaan Besar Arab Saudi tidak akan menerbitkan visa secara personal tanpa ada travel agent yang mau bertanggungjawab. Jadi kita memang tidak bisa benar-benar mengurusnya sendiri face to face dengan pihak kedutaan layaknya pada pengurusan visa lainnya.

Dokumen Apa Saja Yang Dibutuhkan Untuk Mengurus Visa Umrah Keluarga?

1. Paspor. Masa berlaku lebih dari 6 bulan sejak keberangkatan. Nama di paspor harus memuat tiga suku kata. Jadi kalau di paspornya masih kurang dari tiga, harus menambahkannya di kolom endorsment pada halaman 4 dengan urutan : nama asli_nama ayah_nama kakek. Nama kakek di sini, boleh menggunakan salah satunya, kakek dari pihak ayah atau dari pihak ibu. Yang tidak boleh itu jika memakai nama kakek dari pihak tetangga. Apalagi nama ayah tetangga.

2. Pas foto terbaru ukuran 4 cm x 6 cm dengan background berwarna putih. Sebaiknya mengenakan hijab yang cerah dan pastikan sudah touch up sebelum cekrek.

3. KTP dan Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja dan khusus untuk KTP jangan dipotong mengikuti ukurannya. Biarkan saja tetap dalam satu lembaran utuh kertas A4. Untuk anak-anak, KTPnya memakai KTP kedua orang tua yang difotokopi dalam lembar kertas yang sama. Misalnya fotokopi KTP ayah diatas, lalu dibawahnya fotokopi KTP ibunya, dalam satu kertas.

4. Akte lahir masing-masing anggota keluarga. Difotokopi pada kertas A4. Khusus untuk anak dibawah 17 tahun, selain kopiannya, akte lahir aslinya juga diikutsertakan.

5. Buku nikah yang memuat keterangan kita adalah pasangan yang sah. 

6. Kartu kuning yang memuat informasi vaksin meningitis yang telah kita lakukan.

Udah gitu aja. Berkasnya sesimple itu. Tidak butuh surat keterangan kerja apalagi rekening koran yang ketentuan jumlah saldonya bikin panas dingin.

Urusan selanjutnya, semuanya ditangani oleh pihak travel agent. Untuk yang umrah backpacker, menurut pengakuan temanku rada gampang-gampang susah untuk menentukan travel agent (mofa) yang bisa membantu pengurusan visa umrah. Soalnya gak semua mofa berani menerima risiko menerbitkan visa untuk kalangan yang ingin melakukan umrah secara mandiri. Biasanya harus satu paket dengan Land Arrangement, paket selama di Arab Saudi berupa fasilitas penginapan dan transportasi. Ujung-ujungnya mirip umrah yang di-handle sama travel pada umumnya sih. Bedanya hanya pada waktu yang fleksibel dan itinerary yang tidak mengikat. 

Menurut temanku, tidak ada travel agent yang berani menerima jika hanya untuk proses visa saja tetapi mesti disertakan paket land arrangement dari mereka sehingga si travel agent ini bisa tetap memantau jamaah yang dibantu proses penerbitan visanya. Bukan apa-apa, si travel agent tersebut terancam denda sebesar SAR 50.000 serta pencabutan izin usaha jika ditemukan jamaahnya melakukan penyelewengan terhadap visa yang diterbitkannya. Misalnya si jamaah over stay dari masa berlaku visa, atau malah menjadi TKI/TKW, dan lain-lain.

Lain kali jadi pengen coba umrah backpacker juga. Biar bisa lebih detail memberikan gambarannya. Tapi tunggu sampai anak-anak berusia minimal tujuh tahun kali ya. Biar kerempongannya sedikit berkurang 😁😁. Semoga diberi umur panjang dan dicukupkan rezekinya untuk kembali lagi ke tanah haram, insyaAllah. Amiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Advertisements

Mudahnya Mengurus Sendiri Visa Jepang di Makassar

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman SMA menelepon menanyakan tentang cara pengajuan visa Jepang di Kota Makassar secara mandiri alias tanpa calo atau travel agent. Saya mengingat-ingat kembali prosesnya dan mungkin tidak ada salahnya jika saya menuangkan pengalaman itu ke dalam tulisan di blog ini. 

Jadi waktu itu, saya akan ke Jepang bersama suami beserta dua orang teman perempuan. Awalnya ingin mengajukan permohonan visa pada konsulat jendral Jepang di Denpasar yang letaknya tidak jauh dari rumah tapi berhubung kartu keluarga  dan KTP kami belum terbit, saya akhirnya memutuskan untuk mengajukan visa pada konjen Jepang di Makassar dengan menggunakan fotokopi ktp dan kartu keluarga lama yang berarti status masih single 😅. Begitupun dengan suami, menggunakan kartu identitas lama yang masih berdomisili di Timika, juga dengan status masih single. Syukurnya, Timika masuk ke dalam wilayah yurisdiksi konjen Jepang di Makassar sehingga sangat pas untuk mengajukannya bersama-sama.

Pengajuan visa ini bisa diwakili oleh salah satu orang saja jika bepergian dua orang atau lebih. Alhamdulillah, itu berarti suami gak harus terbang ke Makassar hanya untuk mengurus visa. Sedangkan kedua teman perempuanku memilih jasa travel agent. Mungkin karena ini adalah perjalanan internasional pertama mereka sehingga dirasa lebih aman memakai jasa travel agent untuk mengurus visa. Atau mungkin juga belum percaya sama saya. Takut kalau-kalau visanya gak disetujui. Padahal mengajukan lewat travel agent sekalipun sebenarnya tidak ada jaminan visa akan approved. Karena semuanya tergantung pihak konjen, mau ngasih atau tidak. Tapi yasudahlah, karena mereka tidak keberatan membayar biaya administrasi tambahan buat travel agent diluar biaya visa itu sendiri plus harus menyiapkan saldo min 50 juta rupiah di rekening koran, ya silakan saja. 😊😊

Syarat-syarat pengajuan visa Jepang

Sebelum mengajukan visa jepang (dalam hal ini menggunakan paspor biasa bukan e-passport) maka harus melengkapi dokumen yang diperlukan terlebih dahulu yaitu :

  1. Paspor yang masa berlakunya setidaknya lebih dari 6 bulan
  2. Formulir permohonan visa yang bisa di download di website konjen Jepang 
  3. Pas foto terbaru ukuran 4,5cm x 4,5 cm berlatar putih. Yang berhijab bisa tetap mengenakan hijabnya. Sebaiknya memakai hijab yang kontras dengan latar foto, sehingga kelihatan lebih bright.
  4. KTP (surat keterangan domisili). Fotokopi di kertas A4 tanpa memotongnya. 
  5. Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja. Disertakan jika berangkat bersama keluarga sebagai bukti hubungan dengan si pemohon. Jika pemohon sendiri-sendiri, tidak perlu melampirkannya.
  6. Tiket pesawat. Tidak harus menggunakan tiket yang sudah lunas. Bisa menggunakan tiket booking-an. Pastikan saja, statusnya masih aktif ketika melakukan pengajuan visa.
  7. Itinerary. Buat yang simple saja, gak usah heboh menjelaskan kegiatan per jam hingga berlembar-lembar. Cukup menunjukkan akan pergi ke mana saja setiap hari sejak masuk hingga keluar Jepang. Juga tidak harus menuliskan semua tempat yang akan kita datangi. Pokoknya as simple as in one page.
  8. Rekening koran atau fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Nah inilah bagian terhoror dalam mengurus visa. Berapa sih jumlah tabungan yang harus kita punya? Benarkah harus 50 juta rupiah seperti kata orang-orang? Sebenarnya sih tidak disebutkan berapa jumlah yang pasti oleh pihak kedutaan, hanya saja perhitungkan semua biaya yang bisa men-cover seluruh perjalanan kita selama di Jepang. Amannya, sediakan 1 juta rupiah/hari. Jadi kalau di Jepang selama 1 minggu, berarti kalikan saja selama 7 hari. Terus lebihkan sedikit untuk menunjukkan bahwa ketika kembali ke negara asal, kita masih punya biaya hidup selama beberapa hari ke depan.
  9. Surat keterangan kerja bagi karyawan atau SIUP bagi pengusaha. Intinya, surat keterangan yang menunjukkan kita punya penghasilan. Kalau misalnya pemohon adalah ibu rumah tangga, berarti lampirkan surat keterangan kerja milik suami beserta KK, buku nikah dan buku tabungan atas nama suami. Berhubung saya dan suami mengajukannya pakai status masih single jadi kami memakai surat keterangan kerja dan buku tabungan sendiri-sendiri.

    Pastikan semua dokumen sudah lengkap dan disusun berurutan sebelum dibawa ke loket pendaftaran, sebab kita tidak akan dilayani jika berkasnya kurang ataupun tidak lengkap. Namun apabila sudah diproses dan diperlukan dokumen pendukung lainnya, pemohon visa akan dihubungi lagi.

    Langkah-langkah pengajuan visa Jepang di Makassar

    Setelah semua berkasnya lengkap, datanglah ke konjen Jepang sesuai jam kerjanya yaitu senin-jum’at pada jam 8.00 – 12.00 untuk permohonan visa dan jam 13.00-15.00 untuk pengambilan paspor.

    Untuk daerah Makassar, kantor konjen Jepang berada di gedung Wisma Kalla lantai 7 Jl.Dr. Sam Ratulangi No 8-10. No. Tlp (0411) 871-030.

    Setelah menyerahkan dokumen di loket pendaftaran, kita akan membayar biaya single visa sebesar Rp 320.000 (Maret 2015) lalu diberi surat keterangan pengambilan paspor 4 hari kerja kemudian.

    Ketika waktu pengambilan paspor tiba, datanglah kembali ke konjen Jepang pada pukul 13.00-15.00. Alhamdulillah ketika saya membuka paspor, stiker visa jepang sudah tertempel cantik di salah satu halamannya dengan masa berlaku visa selama 3 bulan.

    Visa Jepang

    Mudah bukan?! Semoga bermanfaat ya 🙂

    Pengalaman Apply VoA China di Shenzen

    Biasanya orang yang berkunjung ke Hong Kong, akan sekaligus memasukkan Shenzen ke dalam itinerary. Negara tetangga yang jaraknya sangat dekat serta transportasinya mudah diakses. Hanya saja, sebagai pemegang paspor hijau (atau sekarang tosca), kita diwajibkan mengantongi visa on arrival terlebih dahulu untuk memasuki negara bagian China tersebut.

    Menuju Shenzen dari Hong Kong

    Cara mengurus voa China di Shenzen yang saya tulis ini berdasarkan jalur masuk melalui Hong Kong dengan kereta KCR dari stasiun Kowloon Tong. Lama perjalanan sekitar 45 menit dengan biaya HKD 31.3 menggunakan octopus card. Kereta ini akan berhenti di ujung perbatasan Hong Kong – Shenzen, Lo Wu – Luo Wu. Memang mirip sih nama stasiunnya tetapi sebenarnya berbeda dalam pengucapannya.

    Begitu tiba di Lo Wu, semua penumpang akan turun. Di border ini, paspor kita akan distempel keluar Hong Kong oleh petugas bermata sipit yang lempeng banget. Pokoknya gak ada basa-basi apalagi nanyain dengan senyum manis, datangnya bersama siapa neng?! Padahal ya mau banget pamer kalau saya datangnya bersama suami sebagai rangkaian bulan madu perdana kami. Hahahaha. Penting gak sih? 😏😏

    Nah setelah paspor di stempel, ikutilah papan petunjuk hingga keluar stasiun Shenzen yaitu Luo Wu (dibaca Luo Hu). Jaraknya lumayan jauuuhhh. Saya tidak yakin sih berapa angka pastinya tapi sepertinya hampir 1 km dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di sini saya jahilin Kak Idu yang newbie backpackeran hemat keluar negeri. Habisnya dia keseringan jalan-jalan luxury sih, (sstt… karena dalam rangka dinas sehingga semuanya dibayarin kantor). Kalau pakai uang pribadi, apa daya hanya bisa backpackeran begini buat melancong 😅.

    Jadi selama jalan kaki keluar stasiun itu, saya sering mendahului Kak Idu lalu bersembunyi di suatu tempat dan mengagetkannya ketika sudah dekat denganku. Beberapa kali berhasil mengerjainya. Sampai suatu ketika kok malah saya yang kejebak sendiri. Jadi saat sedang dalam persembunyian, tiba-tiba petugas wanita memegang tanganku erat dan membawa saya ke salah satu ruang sempit lalu diinterogasi dengan bahasa Cina yang sumpah satupun saya tidak tau artinya. Jadi dia ngoceh aja terus, mimik mukanya sampai tegang begitu karena melontarkan banyak pertanyaan tapi yang dihadapi malah diam seribu bahasa. Hingga akhirnya dia frustasi sendiri dan jadilah kami diam-diaman. Jadi pengen nyanyi lagunya Jamrud : 30 menit kita di sini, tanpa bicara. Dan aku benciiii harus jujur padamu tentang semua ini.

    Tak lama kemudian, datang petugas wanita lainnya. Selain lebih cantik, dia juga lebih menyenangkan karena pembicaraan akhirnya menjadi dua arah. Fasih berbahasa Inggris meski dengan logat Cina yang kental. Rupanya gerak gerik saya tertangkap cctv dan dianggap mencurigakan. Apalagi saya mengenakan hijab. Makanya saya digiring ke ruang interogasi ini. Lalu sayapun menjelaskan semuanya, bahwa saya sedang mengerjai suami yang baru pertama kali ke tempat ini sebagai upaya menciptakan perjalanan mengasyikkan yang tak terlupakan bersamanya.

    Setelah lama berdialog dengannya, saya akhirnya dilepaskan juga. Fiuuhh… alhamdulillah banget. Syukur-syukur gak sampai sejam. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bingungnya Kak Idu mencari-cari saya jika terjebak di ruang sempit itu semalaman. Sumpah jadi kapok sendiri.

    Begitu bertemu Kak Idu di section imigrasi China, langsung saja saya peluk erat sambil menangis. Dianya heran, kok saya sampai nangis begitu. Rupanya dia tidak sadar bahwa istrinya ini baru saja ‘diculik’. Dikiranya, saya masih main-main dengannya dan akan menemukanku di gate imigrasi China. Ketika saya menceritakan ulang kejadiannya, eh dianya bukan berempati malah ngakak habis-habisan.

    Langkah-langkah dan biaya apply voa Shenzen

    Mengajukan voa Shenzen sangatlah mudah. Pertama-tama ikuti petunjuk menuju visa office yang letaknya naik satu lantai dari gate imigrasi yang ditandai dengan tiga loket kecil berjejer. Selanjutnya mengisi formulir dan mengambil nomor antrian. Setelah nomor antrian kita dipanggil, datangi loket pertama untuk menyerahkan paspor dan sekaligus untuk difoto petugas. Fotonya melihat lurus ke depan, tidak miring kanan apalagi sambil monyongkan bibir. Karena ini foto untuk visa bukan foto alay. Berikutnya pindah ke loket dua untuk melakukan pembayaran sebesar RMB 160 (Oktober 2013). Catat, hanya menerima mata uang China. Selainnya, silahkan menukar di money changer terlebih dahulu. Terakhir tinggal menunggu visa ditempel di paspor yang akan diambil di loket ketiga. Prosesnya sangat mudah dan cepat. Tidak lebih dari 10 menit. Dan viola…  selamat berjalan-jalan di Shenzen.

    OURS (Part 1 : Yes, I Do)

    Jodoh itu misteri

    Kalimat ini pastinya sudah sangat familiar di telinga kita. Saya rasa siapapun pernah membaca, mendengar ataupun mengalaminya sendiri. Sungguh tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa mengetahui kelak akan berjodoh dengan siapa, kapan datangnya dan seperti apa rupanya. Ini adalah rahasia Allah semata. Tak bisa diduga, dikira-kira apalagi dipaksakan harus dengan si X, Y ataupun Z seberapa cepat atau lamapun kita menjalin hubungan dengannya.

    Persis seperti kisah saya dan Kak Idu yang awalnya hanya berkenalan di sebuah lembaga pendidikan bahasa asing di Makassar. Jika saya tidak salah ingat (dan semoga memang tidak), saat itu Maret 2011 saya dan Kak Idu terdaftar sebagai siswa persiapan tes TOEFL untuk tiga bulan kedepan yang jam belajarnya dimulai pukul 7 malam.

    Selama 3 bulan itu, tak pernah sekalipun kami berinteraksi lebih dari teman kelas. Bertemu di kelas, berpisahnya juga di kelas. Punya nomor telepon masing-masing aja nggak. Kalaupun hangout selepas kelas usai, itu juga ramai-ramai dengan teman yang lain. Syukurnya peserta di kelas kami sangat kompak. Tim pengajar dan management yang menangani bahkan menobatkan kelas kami adalah yang terkompak dan tergokil yang pernah ada sejak mereka bekerja di sana. Padahal kami sangat heterogen dari segi usia dan profesi. Ada yang karyawan BUMN, karyawan bank swasta, guru SMK, kontraktor, pengusaha, dan fresh graduate. Karena sangat kompak jadi sangat mudah untuk menyatukan suara buat hangout di akhir pekan. Nongky di cafe, nobar di cinema atau traveling ke tempat wisata. Cuma Kak Idu aja tuh yang biasanya menghilang karena dia sibuk pacaran melulu. Tapi baiknya, dialah yang paling sering mentraktir kita kalau makan-makan. Hahahaha.

    Jadi pernah ada kejadian lucu. Di depan tempat kursus tuh ada penjual kebab, burger, toko roti dan bakso gerobak yang mangkal di parkiran. Kak Idu tuh paling senaaaangggg sekali mentraktir teman-teman makan bakso karena dia memang pecinta bakso gerobak pendek (bakso daeng atau di Makassar disebutnya nyuknyang. Soalnya yang jualan bukan orang Jawa seperti mas-mas tukang bakso umumnya, tapi orang lokal). Mungkin tidak berlebihan jika saya menyebut Kak Idu nyuknyangholic karena hampir tiap malam dia pasti nyangkut di sana beramai-ramai dengan teman yang lain termasuk sahabatku sendiri, Miftah. Jadi kebetulan saat itu saya gabungnya telat karena mendiskusikan sesuatu dengan Sir Wawan, pengajar kami. Begitu melihat saya datang, Kak Idu langsung nawarin saya bakso. Terus saya refleks menolak. Soalnya saya memang tidak terbiasa dan tidak suka dibayarin sama cowok sih dan lagi selama saya belajar di sana memang belum pernah sekalipun mencicipi jualan bakso itu. Nggak doyan karena kelihatan kurang bersih, menurut saya. Karena itu saya biasanya hanya membeli kebab di toko sebelah kalau gak roti. Waduhh ternyata dia tersinggung dan menyindir gak usah sok bersih dan bla bla bla… (Dalam hati nih cowok mulut ember juga ya 😅😅)

    Sejak saat itulah genderang perang pecah diantara kami. Hampir selalu kami bersilangan pendapat dalam hal apapun. Iya, dalam hal apapun. Bukan hanya tentang pelajaran tapi juga hal remeh temeh lainnya. Sialnya teman-teman yang lain malah menciumnya sebagai tanda-tanda cinta. Jadilah kami dijodoh-jodohkan. Padahal saat itu, baik saya maupun Kak Idu sama-sama menjalin hubungan dekat dengan seseorang.

    Meskipun sering bersilang pendapat, tapi kami bukan anak kecil yang harus musuhan. Semuanya baik-baik saja dan disikapi dengan dewasa. Kami tetap berkawan baik sebagaimana teman yang lainnya. Gak ada yang berubah meski sebelumnya tegang-tegangan syaraf mempertahankan pendapat masing-masing. Kalau diskusinya sudah selesai, ya sudah. Kembali lagi seolah tidak terjadi pertentangan apa-apa.

    ***

    Bagi saya, pribadi Kak Idu ini sangat unik. Jadi suatu ketika saya baru selesai sholat magrib di musholla samping kelas sementara Kak Idu baru akan memulainya karena baru saja tiba. Ketika saya memasang sepatu diluar, sholat magrib berjamaah sedang dilaksanakan di dalam. Berhubung, bacaan sang imam sangat merdu dan tartil, saya menyesal kenapa tidak sholat magrib bareng mereka saja ya, padahal tadi saya sholatnya cuma sendiri. Habis gak kepikiran sih bakalan ada jamaah yang datang setelahku karena saya sendiri tibanya sudah telat. Beberapa menit lagi, kelas akan dimulai. Dan betapa kagetnya saat sepatu sudah terikat sempurna di kaki, lalu membangkitkan badan hendak menuju kelas saya melihat pemilik suara merdu itu adalah Kak Idu! Rada aneh sih awalnya. Soalnya gak nyangka cowok modis seperti dia, bagus juga bacaan alqur’annya. Padahal dia itu gokil sekali. Gak ada tanda-tanda sholehnya. Malah cenderung tipikal playboy gitu deh kelihatannya. 😅😅

    Terus kok bisa akhirnya berjodoh???

    Itulah mengapa pembuka tulisan ini dimulai dengan kalimat jodoh itu misteri. Karena memang gak disangka-sangka. Jadi setelah kelas TOEFL berakhir, kami kembali ke dunia masing-masing. Bertemu kembali setelah 2 tahun lamanya yaitu bulan Maret 2013 di acara reuni kecil-kecilan sesama ex Melbourne Class. Cerita ngalor ngidul dari yang konyol sampai cerita kesuksesan masing-masing. Ada yang akhirnya berhasil mendapat beasiswa ke luar negeri, ada yang berhasil masuk kerja di perusahaan impiannya, ada juga yang berhasil dalam bidang enterpreneur seperti saya dan sahabatku Miftah yang sukses mendirikan lembaga kursus Bahasa Inggris khusus mahasiswa : umum dan kesehatan. 

    Di sela-sela cerita itu, ada saja teman yang masih mengingat tentang dijodoh-jodohkannya kami dulu. Arisan saya naik lagi deh. Jadi bahan ejek-ejekan teman. Tapi dari sanalah akhirnya terkuak sebuah kebenaran bahwa saya dan Kak Idu kini sendiri alias jomblo. Lalu Kak Idu langsung nembak aja, “Ya sudah kita sama-sama saja sekarang kalau gitu”. Diucapkannya malah sambil tertawa mengejek, bikin sakit hati sih ekspresinya. Terus saya menanggapinya dengan jutek padahal sebenarnya mau banget. Lalu saya bilang dengan dingin : “Datang ke rumah jika serius.” Kemudian buang muka lalu senyum malu-malu. Hahaha. Nah jadilah sejak saat itu, saya dan Kak Idu akhirnya saling bertukar nomor telepon untuk pertama kalinya. Hahahahaha.

    Besoknya, dia beneran datang setelah saya beri alamat rumah. Padahal saya tidak harap sih karena sudah nge-judge di awal Kak Idu itu bukan tipe laki-laki yang serius. Udah gitu, pas ketemu malah langsung ngomong serius ke orang tua. Memohon restu untuk mengenali lebih jauh anak perempuan semata wayangnya. Saat itu cuma ada mamak karena bapak masih di luar kota. Mamak ditodong begitu, ya cuma bisa bilang tergantung anaknya, mau apa tidak. Lha, saya dengar kata seperti itu jadi salah tingkah dong. Apalagi ini langsung berhadapan begini. Pengen sih memang tapi kan malu bilangnya. Jadinya cukup menunduk dan mengangguk malu-malu. Hahahaha. Habis gak tau mau basa-basi gimana.

    Kak Idu bilang, disempat-sempatkan datang ke rumah hari ini karena besok sudah harus balik lagi ke Timika. Ternyata selama gak ada kontak 2 tahun itu, Kak Idu sudah tidak bekerja lagi di bank seperti dulu waktu masih belajar TOEFL. Dia sudah pindah ke salah satu perusahaan BUMN dan ditugaskan di Timika.

    Terus habis itu apa? Ya gak ada apa-apa. Dianya sibuk kerja di Timika, saya juga sibuk kerja di Makassar. Meski sudah mengantongi nomor telepon masing-masing, kita jarang banget contact-an. Kalaupun ada kesempatan luang, kita gunakan lebih banyak bercerita tentang diri dan keluarga masing-masing sebagai upaya taaruf lebih jauh.

    ***

    Dua bulan kemudian, keluarga Kak Idu datang melamar secara personal. Saat itu diwakili oleh kakak laki-laki tertua yang datang bersama istri dan anak-anaknya. Ajaibnya orang tuaku menerima lamaran itu. Padahal bapakku sendiri belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Kak Idu. Tau gimana bentuk mukanya saja tidak. Pokoknya bapakku iya saja. Saat ditanya kok mau aja pak? Jawabannya bikin ngeces cuy! Bapak bilang : hanya laki-laki baik-baik yang berani memulai hubungan cinta dengan jalan halal. Makanya saya terima karena saya tau dia laki-laki yang baik. MasyaAllah bapaaakk 😍😍

    Selanjutnya dilangsungkanlah acara mappetttuada, yaitu prosesi lamaran secara formal yang saat itu dilakukan di bulan puasa. Acara itu semacam pertemuan resmi kedua belah keluarga besar untuk menentukan hari pernikahan dan besarnya mahar yang akan diberikan kepada calon mempelai wanita. Prosesnya alhamdulillah sangat singkat dan berjalan lancar meskipun Kak Idu sendiri tidak bisa menghadirinya karena dia masih di Timika.

    Nah lucunya, karena bapak belum pernah ketemu dengan calon menantunya, bapak tidak mengenali Kak Idu yang datang silaturrahim ke rumah menjelang lebaran Idul Fitri yang juga sekaligus menjelang hari pernikahan kami. Saat itu bapak lagi nge-cat rumah, kakak adikku merapikan gorden sementara saya dan mamak membuat buras. Berhubung yang mengenali Kak Idu hanya saya dan mamak karena kedua saudarakupun tidak ada yang tau bagaimana rupa dan bentuknya Kak Idu, terjadilah dialog canggung berikut ini :

    “Assalamu’alaikum.”

    “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Cari siapa nak? 

    “Eh, ada Ainun, Pak”

    “Dari siapa? Temannya ya. Tunggu sebentar ya.” Memanggil-manggil namaku.

    “Hmm.. eh.. Bapak, ini saya, Idu, eng… calon suaminya Ainun.” Cengengesan lalu mencium tangan bapak.

    Lalu tawa keduanyapun pecah. Melebur dalam hangatnya pelukan calon mertua dan menantu.

    Beberapa hari setelah lebaran, tepatnya pada 9 September 2013 akad nikah dan resepsipun digelar. Berlangsung singkat dalam sehari. Tidak seperti adat Bugis-Makassar pada umumnya yang akan menghabiskan waktu sedikitnya tiga hari. Saya dan Kak Idu basically santai bawaannya, tidak terkecuali dalam urusan pesta pernikahan. Pagi hari mapacci, siang akad nikah lalu sore hingga malam menggelar resepsi. Selesai. Gitu aja. Sangat minimalis. Tidak perlu mengikuti ritual macam-macam. Lalu resmilah kami menjadi pasangan suami istri. Alhamdulillah sah. 🙂

    ****

    Kisah pacaran setelah menikahpun dimulai. Rasanya nano-nano banget. Ada lucu-lucunya karena masih malu-malu, ada rasa canggungnya karena dulunya sering bertengkar, ada rasa romantisnya sebagai pengantin baru, ada cerita konyol di dapur mertua hingga carita malam pertama yang bla bla bla… Hahahaa. Nah bagaimanakah kisahnya?? Nantikan di postingan berikutnya yaaa.

    ________________________________________

    9 September 2017.

    Ditulis sebagai kado ulang tahun pernikahan kita yang keempat. Jika saat membacanya ingatanmu kembali ke masa-masa itu lalu senyummu merekah atau mungkin ngakak, saya sudah sangat bahagia. Iya, sesederhana itu. Juga kutulis kisah ini andaikata besok lusa saya telah tutup usia namun belum sempat mengisahkan perjalanan cinta kita ke anak-anak , semoga tulisan ini bisa mewakili.

    Empat tahun sudah kita menjalani mahligai rumah tangga ini. Semoga selalu sakinah mawaddah wa rahmah bersamamu hingga ke JannahNya. Amiin.

    No Nanny No Cry??

    Source : Google

    Jujur saja sebelum saya menikah lalu dianugerahi anak-anak yang lucu, menggemaskan dan semoga shalih-shalihah nantinya (amiin) saya tidak pernah membayangkan akan luar biasa begini perjalanannya. Dulu saya berpikir bahwa mengasuh anak itu mudah, tidak perlu disekolahipun bisa karena ini menyangkut kemampuan dasar perempuan yang sudah fitrahnya hamil dan melahirkan. Pastinya akan sangat menyenangkan. Apalagi basically saya memang sudah cinta dengan dunia anak-anak. Saya mendedikasikan waktu-waktu luang saat kuliah dulu dengan komunitas-komunitas yang berkonsentrasi pada masalah anak. Beberapa kali juga terlibat dalam proyek dan kegiatan yang bekerjasama dengan UNICEF khususnya yang berkaitan dengan kesehatan karena disiplin ilmu saya di bidang Kesehatan Masyarakat. Bahkan pernah secara mandiri berinisiatif mendirikan kelompok anak asuh dari anak-anak segala usia di sekitar rumah. Pun ajaibnya, saya kecil yang dulunya jika ditanya hendak menjadi apa (profesi) saat dewasa nanti, saya selalu menjawab dengan lantang : mau jadi dokter anak atau guru TK. Sayangnya saya tidak pernah berhasil masuk dalam sekolah kedokteran tapi alhamdulillah punya pengalaman seru sebagai guru TK.

    Saya baru sadar setelah memiliki anak sendiri, semua tidak seindah dengan pengalaman yang saya punya dan teori-teori yang saya terima dari seminar parenting. Mengasuh dan mendidik anak sendiri rupanya tantangannya luar biasa. Apalagi jika mengasuhnya seorang diri dalam artian yang sesungguhnya (di rumah hanya tinggal bersama anak-anak tanpa siapapun termasuk suami dan orang tua atau kerabat apalagi nanny). Ternyata beraaaatttt shaaayy! 😂😂

    Dulunya terasa mudah karena mungkin waktu saya tidak dihabiskan 24 jam bersama anak-anak. Palingan 3-4 jam saja. Kalaupun ada yang harus 24 jam, setidaknya hanya berlangsung maksimal 3 hari, tidak lebih. Dan lagi anak-anak tersebut juga tidak ada yang bayi. Paling kecil usia 4 tahunan. Sudah pintar makan sendiri, pintar pipis sendiri dan sudah pintar berbicara untuk menyatakan apa yang mereka inginkan. Pun saya tidak sendiri menghadapinya. Tapi beramai-ramai dengan teman komunitas.

    Lain halnya dengan kondisi saya saat ini yang diamanahi 1 toddler super aktif dan 1 bayi super nenen. 

    Anak pertama saya laki-laki. Di bulan September ini sudah berusia 2.8 tahun dan sedang aktif-aktifnya. Rasa penasarannya sangat tinggi sehingga sering melakukan hal-hal yang membuatku kewalahan dalam mengawasi. Kalau sudah begini sering tanpa sadar terlontar kalimat-kalimat larangan yang secara teori saya tau itu tidak baik bagi perkembangan anak namun pada praktiknya saya tetap tidak bisa menghindari. Dalam sehari pasti ada saja hal yang memaksa saya pada akhirnya berkata “jangan”, “tidak boleh”, “no” dan sejenisnya. Dan ini membuat saya kadang merasa sedih setelahnya. Karena saya tau persis, itu sangat buruk bagi tumbuh kembang anak. Apalagi jika sudah terlanjur memarahi Ochy yang seringkali karena refleks jika Ochy melakukan hal-hal yang sangat membahayakan keselamatan adiknya seperti ditutupin bantal (yang dalam dunia Ochy ternyata itu adalah main ci luk ba), dicium sampai digigitin karena katanya gemes atau lompat-lompat di sekitar adiknya lalu menjatuhkan diri ke segala arah, yang fatalnya sering menuju si adik. Kalau sudah begitu, tangan saya bertindak lebih cepat dari mulut. Praktis, Ochy ditarik yang sayangnya dengan kasar. Lalu setelah itu saya akan sangat menyesalinya. Karena saya tau persis, perbuatan itu tidak hanya menyakiti fisik si anak, tapi juga menyakiti perasaannya. Lalu mengapa saya masih juga terpancing melakukannya? Sungguh perasaanku terluka atas perbuatanku itu. Susah menjelaskannya. Tapi saya percaya, emak-emak pasti tau gimana rasanya. Sakit say! 

    Anak kedua saya perempuan. Saat ini berusia 4 bulan dan sangat kuat menyedot ASI. Ya, saya berkomitmen dengan diri sendiri agar Baby Yui mendapatkan haknya : ASI hingga usia 2 tahun sejak hari pertama ia lahir ke dunia. Yui termasuk baby yang lebih suka nenen secara langsung sehingga botol-botol ASIP saya banyak yang menganggur. Ada baiknya juga sih karena saya tidak harus repot-repot mencuci dot dan botol susu. Tidak mesti was-was dengan higienitas pompa asi juga tidak perlu khawatir kualitas asinya masih bagus atau tidak. Apalagi jika harus bepergian. Tidak perlu membawa alat perang seperti tentara. Kalau Yui lapar atau haus tinggal buka baju dan sodorin langsung ke pabriknya. Aman. 

    Tapi Yui tipe baby yang kuat nenen. Apalagi di masa-masa GS kemarin. Bisa nenen 5 jam! Serius??? Iya. Sampai semua posisi sudah dilakukan agar tidak encok. Ya duduk, baring miring kanan-kiri, duduk lagi sampai si emak tertidur dan tidak sadar lagi apakah si baby masih menyedot atau tidak. Masa GS itu berat karena si baby tidak mau berhenti menyusu. Meski sudah kenyang, gumoh tetap saja ia tidak mau lepas ngenyot. Asal buka mataaaaa aja, akan nangis jedeerrr jika tidak nempel ke gentong asinya. Jujur saya hampir menyerah untuk ASI ekslusif apalagi di masa GS yang berlangsung selama 2 bulan itu. Tapi karena sudah diniatkan, alhamdulillah terlewati juga.

    Nah mengasuh anak ternyata menguji iman dan kewarasan lho. Bayangkan saja, sejak subuh buta sudah harus masak sambil beres-beres rumah yang berlangsung berjam-jam, eh dalam semenit rumah yang rapih sudah seperti kapal pecah lagi oleh si Ochy yang baru bangun tidur. Belum juga merapikan kembali, si baby ikut bangun minta nenen. Well, tinggalkan sementara pekerjaan rumah. Baby yang kelaparan adalah prioritas. Sedang posisi uwenak menyusui Yui, tiba-tiba si toddler teriak dari kamar mandi minta dicebokin karena pup. Diminta tunggu sebentar, ogah kompromi. Adanya teriakan lebih kencang. Kalau dibiarkan terus, bisa mengganggu si baby yang sebenarnya sudah siap-siap tidur kembali. Tapi kalau melepaskan pabrik asi si baby sebelum ia melepaskannya sendiri, bukannya tertidur si baby malah nangis jeder. Pusiiiinggg cyint! Bingung mau dahulukan yang mana. Ngarepnya sih kalau dahulukan Ochy, Baby Yui plissss tidurlah. Kan sudah agak lama nenennya. Atau kalau prioritaskan Yui, pengennya sih Ochy tenang-tenang saja dulu di kamar mandi sampai akhirnya saya datang yang berarti si baby sudah tidur. Kenyataannya?? Saya seperti setrika rusak yang bolak-balik kamar tidur dan kamar mandi. Kok bolak-balik? Karena keduanya berkonspirasi untuk menyajikan konser pagi : sama-sama nangis kencang!

    Pernah juga dihadapkan pada kondisi tangan kanan menyuapi si toddler yang masih ingin bermanja, meski sebenarnya dia sudah bisa makan sendiri. Tapi ya namanya juga anak-anak. They are according to their mood. Lalu tangan kiri memegang sapu dan si baby di gendong di dada dengan bantuan geos. Badut sudah kalah gaya deh pokoknya dari saya. Dan menjadi kurang waras jika si toddler makannya sambil lari ke sana ke mari, keluar masuk rumah sambil membawa pasir atau rumput di lantai yang baru beberapa menit yang lalu saya gosok.

    Juga sering sekali dihadapkan pada kondisi anak-anak tidurnya tidak bersamaan. Jadi harus dikeloni satu-satu. Si baby tidur, si toddler minta ditemani main. Giliran si toddler mengantuk, eh si baby sudah terbangun. Terus ini emaknya kapan istirahatnya?? 😂😂 padahal pengennya sih ya anak-anak tidur bersamaan, biar si emak juga bisa ikut tidur.

    Hal lain yang sangat menganggu karena sifat ke-rapih-an saya yang tidak mau kompromi. Lihat ruangan berantakan saja, pikiran saya ikut kusut seberantakan ruangan itu. Menambah kadar perasaan stress. Dan tau sendiri kalau sudah stress = asi seret. Semakin sereeeettt karena belum makan apa-apa sejak buka mata.

    Kalau sudah lelah begini, saya kadang menyerah, melambaikan bendera putih tinggi-tinggi lalu melarikan diri ke rumah orang tua 😂😂.

    Lho… memangnya kenapa gak pakai jasa Nanny?? Jujur saja, untuk pengasuhan anak-anak saya tidak pernah mau menyerahkannya kepada siapapun termasuk orang tua dan keluarga saya sendiri. Bukannya tidak percaya, tapi saya selalu memikirkan hal ini : saya sendiri, ibu yang melahirkannya, bisa saja memarahi dan memukulnya. Bagaimana dengan orang lain?? Soalnya saya tau persis tingkat super duper keaktifan si Ochy yang sangat menguji iman 😂 . Ah… sudahlah. Semua ibu pasti pernah memarahi anaknya, tapi tidak akan terima jika orang lain yang memarahinya, meskipun itu suaminya sendiri. Iyya gak bu ibuuk?? Hehehe. Lagian kalau mau dititipkan ke orang tua. Duh ya Allah… mereka itu sudah seharusnya menikmati masa tua tanpa urusan beginian lagi. Sudah cukup lelahnya saat mengasuh kita dulu di waktu kecil.

    Beda halnya dengan urusan rumah tangga seperti cuci piring, cuci baju, setrika, melipat, menyapu, pel, memasak, siram tanaman dan lain-lain, saya mau saja ada yang mengambil alih tugas ini. Misalnya oleh asisten rumah tangga (selanjutnya disingkat ART) yang bertugas menjaga kebersihan dan kerapihan rumah. Tapi entah mengapa kok tidak ada yang bertahan lama 😂😂😅

    ART pertama, ibu-ibu usia 40 tahun. Kerjanya 30%, ceritanya 70%. Asli bacrit alias banyak cerita. Sampai-sampai bagikan gosip tetangga-tetangga yang seharusnya tidak perlu saya tau. Hal menyebalkan lainnya sering minta pinjam uang dengan berbagai alasan. Pertama buat bayar spp anak, oke saya kasih. Kedua buat beli baju anak bungsu, oke juga saya kasih. Ketiga untuk dikirimkan ke orang tua di Jawa. Saya mulai curiga, ini kok saya kayak dimanfaatin ya. Meski begitu saya tetap kasih. Yang keempat, saya sudah bilang NO duluan sebelum dia menyatakan alasannya. Bukan apa-apa, yang sebelum-sebelumnya dipinjamkan saja belum lunas semua! Bahkan tidak bisa gajian lagi karena harus membayar sisa utang. Akhirnya saya minta dia berhenti bekerja setalah 3 bulan bersama-sama.

    ART kedua, gadis usia 18 tahun. Kerjanya kebanyakan main HP alih-alih menyelesaikan pekerjaan rumah. Bikin capek hati karena ujung-ujungnya saya yang tetap turun tangan. Fatalnya, dia menginap di pos security saat saya tinggal ke Timika. Padahal saya sudah minta dia pulang ke rumahnya dulu karena selama beberapa bulan ke depan saya tidak akan di Makassar. Kejadian itu membuat saya dan Kak Idu maluuuu banget. Apalagi saya tau kejadian itu dari petugas kebersihan yang akrab menyapu halaman rumah kami. Cerita yang sama juga kami dengar dari security blok sebelah. Parahnya, ke semua security dia mengaku sebagai keponakan saya 😂. Syukurnya security di blok rumah kami sekarang sudah diganti. Jadi saya pura-pura saja tidak tahu menahu soal itu.

    ART ketiga, janda usia 19 tahun. Orangnya rajin sekali. Belum saya suruh kerja saja, sudah dikerjakan duluan. Saya suka dengannya dan berharap bisa tinggal lama-lama dengan saya. Apalagi status pendidikannya terakhir tercatat sebagai mahasiswa. Tapi baru juga 3 hari bekerja, 3 orang lelaki datang ke rumah menjemputnya. Mengaku sebagai keluarganya. Rupanya dia ini sudah setahun dicari-cari. Jadilah sejak hari itu juga dia meninggalkan rumah kami. Meski baru 3 hari bekerja, saya tetap membayarkan setengah bulan gajinya sebagai hadiah untuk anaknya.

    ART keempat, gadis usia 17 tahun. Dia datang hanya beberapa hari sejak kepergian Tina, ART sebelumnya yang dijemput oleh keluarganya. Dia ini bersiiihhh dan cepat kerjanya. Saya suka cara kerjanya, apalagi dia polooosss banget. Jadi suatu malam sekitar jam 2 dini hari, saya ke dapur hendak buatkan Ochy susu. Ketika melintas di kamarnya, saya melongo karena pintunya dibiarkan terbuka. Dan betapa terkejutnya karena dia tidur di lantai tanpa alas apapun! Keesokan paginya saya tanya, kenapa tidur di bawah? Dengan polosnya dia jawab tidak terbiasa tidur di atas spring bed 😅😂. Sayangnya, hanya bertahan 2 hari saja. Katanya tidak betah karena sepi dan kurang kerjaan. Ya ampuun..

    Ini kok kayaknya curcol banget ya 😂😂 Ah… biarin ajalah. Setidaknya dengan berbagi cerita seperti ini sedikit mengurangi tingkat ketegangan syaraf di kepalaku 😆😆

    Source : Google

    So no nanny no cry?? Kalau aku sih yes! Tapi nangis bombay kalau gak ada housemaid. Soalnya gak kuat membayangkan pekerjaan rumah yang tak ada habis-habisnya. 😆😆

    Sabtu Pagi di Lokasi Syuting Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

    19 Agustus 2017

    Pantai Punaga

    Rencana main ke pantai ini sebenarnya dadakan. Terlintas di antara obrolan santai saya bersama Aisda, salah seorang sahabat yang malam itu kedatangan temannya jauh-jauh dari Pontianak. Kamipun memilih pantai Punaga yang ada di Kabupaten Takalar sebagai tujuan, kampung halaman Aisda. Agar temannya itu bisa sekalian main-main ke rumahnya dan bertemu dengan bapaknya. Hitung-hitung kenalan sama calon mertua. Siapa tau jodoh kan? Eh..! Hihihihi. *lalu tiba-tiba di tabok Aisda* hahaha.

    Saya dijemput di rumah pagi-pagi sekali. Anak-anak bahkan belum ada yang mandi. Karena kami akan ke pantai, ya sudah mandinya sekalian di sana saja. Main air sepuasnya hingga tangan keriput. Sarapanpun seadanya. Biskuit isi coklat sisa perjalanan kemarin yang dimakan ramai-ramai di mobil. Untuk makanan berat, kami membeli nasi kuning di jalan dan akan disantap saat tiba di pantai nanti. Ditemani angin sepoi pagi hari, rasanya pasti nikmat sekali.

    Pagi itu jalan masih lengang di Makassar namun sangat padat memasuki perbatasan Gowa oleh pengendara motor. Jalur kami bahkan diembat juga. Beberapa titik jalan mengalami perbaikan dan kendaraan alat berat parkir di bahu jalan membuat arus lalu lintas sedikit tersendat. Begitu tiba di Takalar, perjalanan kembali lancar.

    Oh iya, Takalar adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan berjarak sekitar 30 km dari kota Makassar dan dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam melalui jalur trans Sulawesi : poros Makassar – Bulukumba.

    Cara menuju pantai Punaga

    Pantai Punaga terletak di Desa Punaga, Kecamatan Mangara Bombang yang jaraknya 25 km dari Kota Takalar. Untuk mencapainya sangatlah mudah. Sekitar 5 km sebelum perbatasan Takalar-Jeneponto, berbeloklah ke arah kanan dan ikuti papan petunjuk menuju pantai Punaga yang terdapat di setiap persimpangan jalan. Lokasinya berada di antara pantai Tope Jawa dan PPLH Puntondo sehingga sangat cocok dijadikan sebagai day trip. Namun karena sejak awal tujuan kami memang hanya akan ke pantai Punaga, kamipun mencoret ke dua tempat tersebut. Sebab dijadwalkan si abang dari Pontianak ini harus tiba kembali di Makassar siang selepas dzuhur.

    Ochy dan Aisda berjalan menyusuri bibir pantai
    Ochy dan Aisda yang bermain kejar ombak

    Pantai Punaga ini masih sangat alami. Pasirnya putih dan lautnya bersih. Beberapa tebing menjorok ke dalam menciptakan pemandangan yang epik sekali. Kata orang lokal sih, saat sedang surut pesona tebingnya tidak kalah dengan Tanah Lot milik Bali. Sayangnya, saat kami berkunjung ke sana, air laut sedang pasang, menenggelamkan sebagian tebing-tebing indah tersebut. Meski demikian, keindahan pantai Punaga sama sekali tidak berkurang. 

    Keindahan pantai Punaga ini juga menarik hati seorang sutradara untuk dijadikan sebagai salah satu lokasi syuting film tenggelamnya kapal van der wijck, film yang disadur dari novel Buya Hamka yang dibintangi oleh Pevita Pearch dan Herjunot Ali sebagai Hayati dan zainuddin. Film yang sempat booming di akhir tahun 2013 yang bercerita tentang perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta Hayati dan Zainuddin hingga berakhir kematian.

    Saat matahari tenggelam, viewnya pasti akan lebih indah

    Hal lain yang menjadi daya tarik pantai Punaga adalah tempatnya yang masih alami. Belum tergerus tangan-tangan nakal investor asing. Terbukti dengan tidak adanya sinyal dan belum adanya fasilitas yang memadai sebagai objek wisata. Hanya ada dua buah balai-balai sederhana dan rumah panggung kosong yang sepertinya telah lama ditinggal pemiliknya. Kami menempati salah satu balai-balai itu untuk beristirahat. 

    Rumah panggung di pantai Punaga

    Akses masuk ke Pantai Punaga sebenarnya ada dua. Terlihat dari sisi kami, pintu masuk yang pertama sepertinya dikelola lebih baik. Ada villa dan jika saya menebak dengan benar juga ada kafenya. Saya kurang yakin apa ada tiket masuk atau tidak dari sana karena kami sendiri masuk melalui jalur gratis yang dikelola oleh keluarga Aisda.

    Sejak tiba di pantai Punaga ini, Ochy terus saja bermain pasir dan air. Dia begitu menikmatinya hingga menolak diinterupsi untuk makan nasi kuning yang kami beli di jalan tadi. Bajunya bahkan telah basah karena mengejar ombak hingga terjatuh bersama Aisda dan temannya. Saya yang melihat dari jauh hanya senyum-senyum saja. Ochy ini memang sangat dekat dengan Aisda. Sejak Ochy masih kecil, Aisdalah satu-satunya sahabatku yang meluangkan banyak waktunya menemaniku. Padahal dia sendiri juga sibuk bekerja dari senin-sabtu. Dia sudah seperti saudara sendiri bagiku. Kami berbagi suka dan duka bersama. Meski agak lucu juga sih jika mengingat kami akrabnya justru setelah tamat kuliah. Padahal dulu sama-sama satu fakuktas, satu jurusan pula. Apa mungkin karena dulu beda resonansi kali ya? Saya aktif berorganisasi sedangkan dia termasuk anak bureng yang murni hanya kampus-rumah-kampus.

    Hal yang paling mencolok dari pantai Punaga ini adalah tebing yang menjorok ke laut dengan pohon raksasa yang berdiri kokoh di atasnya. Saya tidak tahu ini pohon apa, tapi jelas dari batangnya pohon ini usianya sangat tua. Dari sini, pemandangannya sangat eksotik. Tapi kamera saya terlanjur lobet sehingga tidak banyak foto yang bisa dibekukan dengan lensa kamera.

    Tebing di Pantai Punaga

    Overall, saya sendiri sangat menikmati tempat ini. Apalagi sepi pengunjung sehingga lebih terasa sensasi pantainya. Baby Yui juga sepertinya betah di sini. Tapi kami harus cepat-cepat pulang supaya bisa tiba di Makassar siang nanti.

    Berikut beberapa tips bagi kalian yang akan berkunjung ke sini : 

    1. Bawalah tikar lipat. Sebagai alas duduk yang bisa dipakai di balai-balai ataupun ngempar langsung di pasir.
    2. Bawalah tissue kering dan basah. Belum ada fasilitas toilet yang memadai di tempat ini. Bahkan untuk sekedar cuci tangan.
    3. Pastikan kamera full charge agar tidak kehilangan momen foto.

    Well, ini cerita akhir pekan kami. Bagaimana dengan kalian? Happy weekend yaa, happy family 😊😁.

    A Day in Bantimurung National Park

    18 Agustus 2017

    Jum’at ini adalah hari perdana saya mengajak Ochy kembali ke alam setelah hampir tiga bulan tidak pernah bersentuhan agenda rutin ini karena terlalu sibuk sebagai ibu yang baru melahirkan. 

    Bantimurung

    Saya memilih Bantimurung sebagai destinasi karena jaraknya yang cukup dekat dari Kota Makassar. Lagipula, saya sendiri terakhir kali ke tempat ini sekitar lima tahun yang lalu ketika saya masih gadis. Sehingga cukup penasaran dengan kondisi Bantimurung hari ini yang katanya mengalami banyak metamorfosis. Tentunya akan menjadi pengalaman menarik karena ini adalah perjalanan perdana Baby Yui sekaligus menjadi perjalanan perdana saya bersama baby dan todler bepergian ke alam terbuka seperti ini.

    Cara menuju Taman Nasional Bantimurung

    Bantimurung terletak di Kabupaten Maros, sekitar 50 km dari Kota Makassar atau 20 km dari Bandara Sultan Hasanuddin dan dapat di tempuh dengan kendaraan umum dan pribadi baik roda dua maupun roda empat. Lama perjalanan diperkirakan 1-2 jam tergantung kecepatan mengemudi dan arus lalu lintas.

    Sangatlah mudah mencapai Bantimurung ini. Berikut beberapa pilihan transportasi dan kelebihan serta kekurangan masing-masing.

    • Kendaraan umum : naiklah pete-pete (sebutan angkot lokal di Makassar) tujuan terminal Daya seharga Rp 5.000. Lalu lanjutkan perjalanan dengan angkot tujuan Maros/Pangkep seharga Rp 15.000 dan turun di pasar maros. Di pasar inilah banyak angkot tujuan Bantimurung yang ngetem. Biaya angkot dari sini hanya Rp 5.000 saja. Kelebihan naik angkot adalah biayanya yang relatif murah namun harus siap dengan waktu yang lebih lama karena biasanya pete-pete akan berangkat jika sudah terisi penuh penumpang.
    • Roda dua : rutenya sama. Di depan pasar maros (tempat pete-pete ngetem), berbeloklah ke arah kanan dan ikuti jalan itu hingga tiba di gerbang masuk kawasan Taman Nasional Bantimurung yang ditandai dengan pigura kupu-kupu yang besar serta patung monyet raksasa. Kelebihan roda dua ini kita bisa berhenti di mana saja dan kapan saja untuk mengambil foto karena sepanjang jalan ke Bantimurung sangat indah dengan paduan sawah dan bentangan pegununungan karst. Kekurangannya, panas saat terik dan basah kalau hujan. Kalau hal itu tidak menjadi masalah, maka naik roda dua adalah pilihan yang tepat. Apalagi harga sewa motor di Makassar sangat terjangkau yaitu Rp 75.000/24 jam
    • Mobil pribadi : rutenya sama persis karena memang melalui jalan yang sama. Kelebihannya jika berangkat ramai-ramai tentu akan lebih hemat karena bisa sharing biaya rental mobil. Selain itu bisa singgah jika ingin berfoto-foto dengan pemandnagan sepanjang jalan dan pastinya bebas panas dan hujan. Kekurangannya kalau jalan macet ya maaf, gak bisa nyelap-nyelip selincah roda dua.

    Wisata apa yang bisa dinikmati di Kawasan Taman Nasional Bantimurung?

    Di kawasan Taman Nasional Bantimurung ini ada banyak wisata yang bisa dinikmati selain wisata utama air terjun yaitu pegunungan karst, gua-gua prasejarah, danau, waterpark, dan yang terbaru penangkaran kupu-kupu dengan Helena Sky Bridge, jembatan gantung sepanjang 50 meter dengan ketinggian 100 mdpl. Meniti jembatan ini penuh sensasi karena kita akan dikelilingi dengan aneka warna kupu-kupu yang cantik.

    Batu karst Bantimurung
    Helena Sky Bridge Bantimurung. Source : @hajraali05
    Air terjun Bantimurung

    Pagi itu, sekitar pukul 10 kamipun berangkat. Membelah jalan poros Makassar-Maros yang sepi dari pengendara. Alhamdulillah, awal yang baik. Mengingat jalan ini salah satu jalan terpadat menjelang akhir pekan begini.

    Cuaca hari ini sangat bersahabat. Cerah namun tidak terasa terik. Anak-anak juga alhamdulillah sangat bersahabat. Anteng selama perjalanan. Terutama baby Yui yang lebih banyak tidur.

    Patung monyet raksasa menyambut di gerbang masuk wisata. Tidak ada yang berubah. Patung ini masih patung yang sama terakhir kali saya ke Bantimurung. Dari sini, jika berbelok ke kiri maka akan tiba di wisata penangkaran kupu-kupu dengan Helena Sky Bridgenya yang keren itu. Namun jika kita memilih lurus setelah patung monyet tersebut maka aka tiba di sebuah loket masuk berbayar seharga Rp 25.000/orang dewasa dan setengah harga untuk anak usia 4 -13 tahun serta gratis bagi bayi dan anak di bawah 4 tahun. Untuk bule sendiri, harga karcisnya berkali lipat yaitu Rp 225.000/orang (Agustus 2017). Biaya ini adalah tiket masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung untuk menikmati air terjun dan berbagai wahana seperti gua mimpi, kolam renang, waterpark, danau dan lain-lain.

    Kolam renang Bantimurung
    Bantimurung

    Bagi yang ingin berpiknik ria pun sangat bisa karena juga tersedia tikar sewaan maupun saung serta tempat pembakaran ikan.

    Deretan Saung di Bantimurung

    Berada di dalam kawasan ini memang menyenangkan hingga bisa lupa waktu. Loket masuk sendiri tutup pada pukul 5 sore. Tapi tidak usah khawatir jika lupa waktu hingga kemalaman karena di sinipun sudah disediakan berbagai jenis penginapan seperti hotel dan villa dengan room rate mulai dari Rp 300.000

    Hotel Bantimurung
    Musholla Bantimurung
    Air terjun Bantimurung

    Sangat lengkap bukan di Bantimurung ini? Jadi kapan kamu mau jalan-jalan ke sini? 😁😁😁

    Review Hotel Best Western Papilio, Surabaya

    Baru tiba. Kakak Ochy jagain adek di kasur

    Sabtu terakhir di bulan Juli kemarin, kami ke Surabaya dengan personil lengkap. Ini menjadi pengalaman perdana Baby Yui naik pesawat sekaligus pengalaman pertama kami bepergian dengan 1 baby dan 1 toddler. Rempong?? Bangeeettt 😂😅😅. Tapi namanya juga pertama, pasti terasa berat. Kalau sudah sering insyaAllah akan terbiasa dan dengan sendirinya tau hal-hal apa yang mesti dilakukan agar kerempongannya bisa diminimalisir. Pasti akan terasah sendiri kemampuannya. Seperti dulu waktu pertama kali jalan bertiga dengan Ochy yang masih bayi. Awal-awal ya repot karena biasanya hanya jalan berdua dengan suami yang kemana-mana semau dan seenak kita. Tapi lama-lama jadi tau celahnya, harus ngapain saat si Ochy nangis, pup di pesawat, dan segala kerepotan lainnya.

    Papa dan adek di lobby. Gak luas tapi comfortable. Ada banyak bacaan dan welcome drinking buah segar

    Karena ada urusan di Graha Pena Surabaya, saya memilih menginap di Hotel Best Western Papilio yang jaraknya hanya 5 menit berkendara (jika arus lalu lintas lancar, noted!) yang saya booking melalui aplikasi traveloka mobile. Soalnya Hotel Alana yang cuma 166 meter saja di sisi gedung Grapen sudah tidak mempunyai kamar dengan double bed pada tanggal check in yang kami inginkan. Belakangan, saat saya beritahu suami adanya cuma twins makanya saya gak jadi booking, eh ternyata dia ok saja dengan aturan nanti dia tidurnya sama Ochy dan saya dengan Baby Yui. Duhh pak, telat! Sudah dibayar dan gak bisa refund 😅😂.

    Saya memesan kamar Deluxe Queen non smooking room dengan free breakfast dan wifi. Kamarnya luaaaassss ternyata. Ochy bisa lari-lari dengan leluasa.

    View dari jendela kamar

    Secara umum, pelayanannya sangat memuaskan. Kamarnya bersih, makanan di restoran banyak macamnya dan enak-enak semua lagi. Outdoor poolnya juga ok. Selain itu juga ada fasilitas spa dan gym. Puas deh nginap di sana. Cuma kudu hati-hati sih kalau bawa anak kecil soalnya ada brekage charge yang gak main-main. Coret dinding bisa kena bayar 1 juta. Dan you know guys??? Ochy dengan segala keaktifannya berhasil mencoret dinding. Pengen marah tapi buru-buru sadar kalau anak saya jauh lebih berharga dari cas yang harus saya bayar. Meskipun sebenarnya gak ikhlas juga relakan duit sebanyak itu. Makanya saya coba-coba hapus karena coretannya hanya memakai pensil. Tapi apa yang saya lakukan justru menyisakan bekas yang lebih buruk. Dindingnya mengelupas. Wassalam deh! Mungkin memang harus merelakan duit melayang. Sedekahnya masih kurang barangkali. Kak Idu berkali-kali menghibur dengan menganggap kami menginap di president suite sehingga setaralah uang yang harus dibayarkan. Well, mari setting isi kepala dengan bayangan kamar yang berbeda.

    Kamar mandinya juga luas
    Lihat no.24 😂

    Saat check out keesokan harinya, kami dengan jujur menyampaikan perkara coretan dinding itu lengkap dengan hasil foto perbuatan Ochy. Meskipun sebenarnya bisa saja kabur sih. Toh mereka gak akan tau juga kok. Tapi suami saya selalu mendidik kami untuk bersikap jujur dalam hal apapun. Berani bertanggung jawab dan menerima konsekuensi setiap tindakan kita. Pokoknya kami sudah siap-siap membayar harga perbuatan anak kami. Tapi alhamdulillah sama mbak resepsionis malah tidak mengenakan cas sama sekali sebagai apresiasi atas kejujuran kami. Alhamdulillah wa syukurillah. Tuh kan buah kejujuran itu selalu manis bu ibuk 😁😁

    Outdoor pool
    Mau renang tapi takut. Walhasil baju gak diganti-ganti 😅

    Selain makanan di restoran enak, ragamnya juga banyak dari appetizer hingga desserts. Tapi jika mau menu berbeda, di hotel ini juga ada gerai makanan cepat saji A&W.

    Well, selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta.

    Mengurus Paspor Bayi di Kantor Imigrasi Makassar

    Salah satu syarat wajib jika akan bepergian keluar negeri adalah mempunyai paspor. Berhubung di keluarga kami ada penghuni baru yaitu Baby Yui yang sekarang berusia 2 bulan maka kamipun membuatkannya paspor sebagaimana anggota keluarga lainnya yang sudah terlebih dahulu mempunyai dokumen penting tersebut. Lho memangnya mau kemana? Masih bayi kok sudah dibuatkan paspor segala? Belum kemana-mana sih tapi kami percaya bahwa dengan punya paspor saja dulu berarti perjalanan keluar negeri sudah siap 50%. Sisanya ya semoga ada rezeki buat beli tiket pesawat serta biaya hidup selama berada di negeri orang. Amiin.

    Lalu bagaimana cara membuat paspor bayi? Berikut langkah-langkah yang harus ditempuh :

    Persyaratan Dokumen

    Membuat paspor bayi  atau secara keseluruhan anak di bawah usia 18 tahun sebenarnya sama saja sih dengan mengurus paspor untuk orang dewasa. Bedanya hanya pada kelengkapan berkas yang harus ditambah dengan surat jaminan orang tua. Surat jaminan itupun sudah disiapkan oleh pihak imigrasi, kita hanya perlu menandatanganinya saja diatas materai.

    Sebelum masuk prosedur pembuatan paspor, pastikan dulu berkas kita sudah lengkap yaitu :

    1. KTP kedua orang tua
    2. Kartu keluarga
    3. Buku nikah
    4. Akte lahir anak
    5. Paspor kedua orang tua
    6. Surat jaminan orang tua

    Semua berkas tersebut difotocopy satu rangkap pada kertas A4 dan khusus KTP, tidak boleh di potong (tetap dibiarkan dalam satu lembar kertas). Mungkin dimaksudkan agar tidak mudah tercecer kali ya. Selain copy-annya juga harus membawa berkas aslinya ya.

    Prosedur Pembuatan Paspor

    Jika berkasnya telah lengkap maka langkah selanjutnya adalah ke kantor imigrasi terdekat. Untuk daerah Makassar bisa diajukan di kanim Daya maupun kanim Alauddin.

    Secara runut, prosedurnya seperti ini :

    1. Mengambil nomor antrian
    2. Ke loket pemeriksaan berkas. Jika dianggap lengkap maka akan diberi formulir pengajuan paspor
    3. Wawancara
    4. Foto
    5. Selesai. 

    Selanjutnya melakukan pembayaran ke bank dan kembali lagi ke kantor imigrasi empat hari kemudian untuk mengambil paspor.

    Kelihatannya sangat mudah sekali ya. Namun apa yang saya alami rupanya jauh berbeda.

    Jadi awalnya saya datang ke kanim Alauddin karena jaraknya yang lebih dekat dari rumah. Saya tiba di sana sekitar pukul tujuh pagi dan ternyata saya sudah tidak bisa dilayani! What?? Jam segitu sudah tutup layanan? Lha kantor ini bukanya jam berapa memang sih?? Padahal sejak di rumah tadi saya sudah membayangkan bisa lebih leluasa karena datang sebelum jam kerja. Tapi rupanya jam 7 pagi pun saya tidak kebagian nomor antrian. (Nomor antriannya ini masih manual, nama kita ditulis dalam daftar pada lembar kertas double folio). Saya bahkan tidak sempat sama sekali berbincang dengan petugas imigrasi karena massa telah mengerubungi di pintu masuk hingga parkiran. Saya tanyalah salah seorang diantara mereka. Dan saya sangat tercengang karena menurut pengakuannya dia datang mengantri sejak pukul 3 subuh bahkan ada yang harus menginap. Ckckckck. Saya disarankan datang senin subuh saja berhubung hari ini jum’at yang berarti besok dan lusa libur weekend.

    Karena gagal di kanim Alauddin, sayapun ke kanim Daya. Meskipun sebenarnya di pikiranku meragukan niat itu karena bisa saja mendapatkan hasil serupa : tidak dilayani. Mengingat kanim Daya adalah kelas satu yang loadingnya pasti jauh lebih besar daripada kanim Alauddin yang hanya unit layanan pembantu. Tapi hati kecilku terus berbisik : jauh lebih baik berusaha maksimal dulu. Kalaupun nanti hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, setidaknya saya telah melakukan yang terbaik. Karena itu saya tetap melanjutkan ke kanim Daya.

    Tiba di kanim Daya sudah pukul sembilan lewat, hampir jam sepuluh karena terhalang macet di pintu dua Unhas. Seperti yang kuduga, orang-orang yang mengajukan paspor di sini ternyata lebih banyak daripada di kanim Alauddin. Dan lagi-lagi saya tidak kebagian nomor antrian. Nomor antriannya juga masih manual, ditulis di sepotong kertas kecil yang dibagikan berdasarkan posisi duduk di kursi (bukan berdasarkan kedatangan). Parah yaaa! Yang tidak mendapatkan nomor antrian ternyata bukan hanya saya yang baru saja tiba. Bahkan mereka yang sejak subuh buta di sini juga tidak kebagian hanya karena mereka terlanjur memilih duduk di kursi belakang saat kedatangan mereka di awal tadi, sebelum datangnya petugas pembagi nomor antrian. Ya ampuunn kasian juga ya. Masalah nomor antrian ini sepertinya menjadi PR besar bagi kantor imigrasi Makassar. Akan lebih bijak jika mengupayakan penggunaan mesin antrian otomatis seperti di Bank dan rumah sakit.

    Saya tak lantas pulang meskipun sudah tidak mendapat nomor antrian. Setahu saya ada layanan prioritas untuk bayi! Saya lalu menemui petugas pembagi nomor antrian tadi dan menanyakan hal tersebut. Alhamdulillah benaran ada! Sayapun diberi nomor urut 16 dengan catatan menunjukkan bayinya sebagai bukti. Soalnya saya ke sana tanpa Baby Yui yang saya tinggal bersama kakek di mobil. Sayapun kembali ke parkiran dan membawa baby Yui ke loket. Saat itu sedang diproses antrian ke 13 yang berarti dua orang lagi tibalah giliranku. Sayangnya, kursi di depan loket sudah terisi penuh semua dan tidak ada yang peduli untuk mengikhlaskan kursinya bagi ibu yang menggendong bayi. Padahal kebanyakan diduduki anak-anak muda.

    Ketika nomor antrian ke 15 diproses, tiba-tiba seseorang mencolek saya dari belakang. Rupanya seorang ibu-ibu berusia sekitar 50-an bernama Hana. Dia menawarkan diri untuk menggendong bayiku karena tak mampu berdiri lama jika harus memberikan kursinya padaku. Maka sebagai gantinya, beliau rela memangku baby Yui. Dan betapa tercengangnya karena beliau datang jauh-jauh dari Bulukumba dan tiba di kanim Daya pukul 6 pagi tapi mendapat nomor antrian ke 70. Ya Allaaahhh… betapa mulianya Ibu Hana ini. Semoga keberkahan senantiasa tercurah kepadanya.

    Akhirnya tiba juga giliranku. Sebelum memeriksa berkasku, terlebih dahulu menanyakan mana bayinya. Sayapun menunjuk Yui yang dipangku Ibu Hana. Pemeriksaan berkaspun dilanjutkan. Dan keputusan petugas menyatakan berkasku DITOLAK! Jreng… jreng… rasanya kakiku lunglai, lidahku kelu. Tak bisa berucap apa-apa. Membayangkan perjuangan Yui hari ini yang begitu luar biasa sejak selepas subuh. Tiba pagi-pagi di kanim Alauddin tidak bisa dilayani, hingga menantang matahari pukul 9 di atas mobil pick up kakek yang panasnya masyaAllah karena perjalanan ke Daya bertepatan menghadap matahari. Hanya air mata yang menetes begitu saja. Melihat saya menangis, bapak yang melayaniku (kira-kira usia 40-an tahun) menyampaikan bahwa secara urutan dokumen, sebenarnya sudah lengkap tapi KK saya belum distempel sehingga dianggap berkas tidak memenuhi syarat. Mendengar penjelasannya, air mataku makin banyak yang keluar. Padahal saya sudah berusaha keras menahan agar tidak menangis. Tetapi seperti ada dorongan kuat yang terus mendesaknya keluar hingga pipiku kebanjiran air mata. Bukan apa-apa sih, pembuatan KK ini juga penuh drama soalnya karena harus bolak-balik ke Denpasar, Bali.

    Mungkin karena saya nangisnya dari hati, bapak itu luluh. Apalagi saat tahu jika KK ku diterbitkan di Denpasar. Dengan suara sangat rendah, beliau memberi saya formulir pengajuan paspor beserta dokumen-dokumenku dan menyuruh masuk ke ruangan di sebelahnya untuk menemui bosnya. Cenderung berbisik, dia menambahkan bawa bayinya ya, biasanya tidak ada orang yang tega kepada bayi.

    Saya masuk ke ruangan itu bersama bapak dan baby Yui. Kami disambut security yang telah mengetahui kondisi kami dari bapak petugas loket agar membawa saya ke atasannya. Security itulah yang menjelaskan permasalahanku ke pak bos sebelum kami bertatapan muka. Rupanya pak bos yang dimaksud ternyata masih sangat muda. Mungkin seumuran dengan suamiku. Singkat saja tanyanya, suaminya dimana? Kok tidak ikut? Setelah saya sampaikan bahwa dia ada di Timika, Papua,  dia tanya lagi. Kerja apa di sana? Mendengar jawabanku, langsung saja dia acc berkasku dengan catatan, saat pengambilan paspor nanti harus membawa KK yang sudah distempel agar berkasnya bisa ditukar. Selanjutnya saya mengisi formulir pengajuan paspor dan menandatangi surat jaminan orang tua (karena saya mengajukan paspor untuk bayi) dan langsung dibawa ke ruang foto, didahulukan karena anak bayi. Tapi lagi-lagi drama! Proses foto yang seharusnya cuma 5 menit saja molor hingga setengah jam gara-gara Yui tertidur. Pengambilan foto paspor harus memuat seluruh muka, sementara baby Yui tidurnya pulas. Susaaahh banget banguninnya.

    Memasuki menit ke 40, alhamdulillah berhasil membangunkan baby Yui. Jepret! Foto selesai, slip pengambilan paspor terbit. Bayar di bank dan kita datang empat hari lagi dengan paspor sudah di tangan insyaAllah 😘

    Kenyataannya…

    2 minggu kemudian baru bisa kembali ke kanim Daya karena proses KK yang harus bolak balik Bali untuk di stempel. Parahnya, KK kami harus cacat karena dicoret-coret Ochy sebelum selesai di laminating. 😭😭

    Pas pengambilan paspor, eh ditolak lagi. Gara-gara yang datang ambilkan si kakek yang sudah tidak satu KK dengan kami. Dan tidak ada pula surat kuasa yang dibawa. Maka yang harus datang sendiri adalah salah satu orang tua si anak. Ya ampuunn.

    Setelah jum’atan saya pun ke kanim Daya tanpa membawa Ochy maupun Yuiko. Anak-anak saya titip di rumah orang tua. Ke kanim Daya juga naik angkot karena mobil sudah tak punya, dijual untuk beli rumah. Motor ada sih, tapi agak takut karena sudah lamaaaaaa sekali tidak naik motor. Kalau cuma dalam kompleks sih masih berani. Tapi kalau di jalan raya protokol begitu agak ngeri sendiri. Lalu saya pesan taxi online, tapi gak ada juga yang dekat-dekat. Akhirnya naik angkotlah saya ke sana dengan dua kali rute : Antang – Tello lalu Tello – Daya karena saya berangkat dari rumah orang tua. Nah parahnya, karena juga sudah bertahun-tahun gak naik angkot, eh saya malah kebablasan sampai di lampu merah perempatan pasar Daya. Kantor imigrasi sudah jauh terlewat di belakang. Ya Allaaahh. Dramanya ini sudah level berapa sih 😭😭

    Nah nyebrang ke sisi jalan buat naik angkot balik. Alhamdulillah kali ini tidak terlewatkan karena sebelumnya saya beritahu pak sopir untuk menurunkan di kanim Daya. Tiba di sana sudah pukul 1.30 siang. Saya dapat nomor antrian 171 sementara yang baru terproses saat itu nomor 83. Imagine it? How long it will be?? Hiks.. Mana loketnya cuma buka sampai jam 3 sore pula. Jadi kalau sudah waktunya tutup ya tutup. Gak peduli meskipun masih ada yang antri. Yang gak kebagian yaaa ikut hari kerja berikutnya. Terus saya pulang gitu?? Oh no! Pokoknya saya akan pulang jika melihat sendiri loketnya tertutup. Saya akan lebih puas sendiri jika telah melakukannya dengan maksimal. Pun jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, setidaknya saya telah memaksimalkan usaha.

    Nomor antrianku 171 boo

    Nah… Alhamdulillah, ajaibnya banyak nomor antrian yang tidak ada orangnya. Mungkin mereka sudah terlanjur pulang karena mengira nomornya yang gak akan kebagian di loket.

    Daaaann… tadaaaaa… passport adek akhirnya di tangan. Alhamdulillah.

    Jadi kesimpulannya :

    1. Boleh mengurus paspor di kantor imigrasi manapun, meskipun beda domisili. Seperti kami yang alamatnya di  Denpasar bisa membuat paspor di Makassar.
    2. Untuk daerah Makassar sebaiknya pilih Kanim Daya untuk pengurusan paspor
    3. Pastikan berkasnya lengkap sehingga tidak harus bolak-balik
    4. Datang pagi banget dan selamat mengantri berjam-jam 😁😂

    Liburan di Rumah Saat Musim Libur

    Liburan di rumah

    Sejauh ini saya dan keluarga paling menghindari liburan di musim libur. Selain mainstream banget, juga tidak bisa menikmati wisata dengan nyaman karena terlalu banyak pengunjung. Susah dapat spot foto yang keren, berisik dan dipastikan harga penginapan dan tiket wisata juga naik berlipat-lipat. Halah… ternyata ujung-ujungnya tetap alasan harga ya bo! Dasar emak-emak. Wkwkwwk. Habis traveling berdua dan berempat kerasa banget beda budgetnya. Jadi kalo bisa dihindari saat high season, ya kenapa tidak? Kalaupun terpaksa liburan di saat musim libur, ya ayo kita terjebak! Hahaha. Ini maksud tulisannya apa sih? Kok jadi bingung sendiri! 

    Meskipun suami saya seorang karyawan yang jatah cutinya cuma 12 hari setahun tapi kami selalu berusaha untuk liburan di waktu-waktu sepi pengunjung. Sekarang sih masih bisa ngomong seperti itu ya karena anak-anak masih bebas dengan segala jadwal. Entah bagaimana jika esok lusa sudah sekolah, dimana Ochy dan Yuiko tidak bisa lagi traveling semau emaknya karena gak mungkin izin terus demi menghindari liburan di musim libur. Tapi sudahlah, repot amat mikirin hal ginian. Ochy masuk sekolah kan juga masih lamaaaaaa banget. Empat atau lima tahun lagi. Nikmati saja dulu yang sekarang. Mumpung anaknya masih asyik dibawa kesana kemari.

    Liburan di rumah

    Tentang liburan di musim libur, kami malah memilih menghabiskan waktu di rumah saja daripada jalan-jalan seperti orang kebanyakan. Di rumah sendiri ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Diantaranya berenang, balapan sepeda, bercocok tanam, memasak bersama, membersihkan rumah, menyusun puzzle, main di taman, mendaki bukit dekat kompleks dan tentu saja bermain kejar tangkap.

    Liburan di rumah

    Kegiatan sederhana itu ternyata efeknya luar biasa terhadap keluarga, terutama bagi anak-anak. Selain melatih kekompakan suami istri, juga merangsang kemandirian dan daya nalar anak. Dan yang paling penting sih, kebersamaan itu menjadi unsur berharga menumbuhkan rasa kasih sayang antar anggota keluarga.

    Liburan di rumah

    Nah libur lebaran sebentar lagi tiba. Sudah punya rencana liburan kemana? Kalau kami sih seperti judul tulisan ini, liburan di rumah saat musim liburan. Artinya cuma di rumah saja setelah silaturrahim ke rumah orang tua dan mertua serta beberapa kerabat. Eh tapiii… mertua saya kan ada di Enrekang. Jaraknya kurang lebih 400 km dari Makassar. Ini termasuk liburan di musim libur gak sih? Hahaha.

    Anw, selamat hari raya Idul Fitri ya semua. Mohon maaf lahir dan batin ^.^