Family Camping di Pantai Bahagia Nongsa

Pengalaman camping saya tidak banyak. Mungkin hanya belasan kali sejak kecil hingga kini beranak dua. Meski demikian, setiap camping yang pernah saya lakukan, semuanya sangat berkesan. Entah camping saat ada kegiatan pramuka di sekolah atau camping suka-suka bersama adikku dan teman-temannya di komunitas pendaki. Camping terakhirku sekitar 7 tahun yang lalu, sebulan sebelum saya menikah.

Ketika camping, ada banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan. Dan tentu saja sejuta kebahagiaan. Hal-hal baik itulah yang ingin saya tularkan dalam keluarga kecilku. Saya selalu mendambakan family camp setidaknya sekali dalam setahun. Mengajarkan anak-anak tentang survival dan kemandirian hidup dengan secara nyata. Tapi pak suami kurang berminat tiap kali saya mengajak camping. Berbagai faktor risiko dari A sampai Z dikemukakan. Wassalam! Impian tidur di alam terbuka pun sekadar jadi angan-angan.

Namun entah bagaimana caranya, di suatu sore yang biasa-biasa saja. Tidak hujan, tidak berpetir apalagi guntur. Panas sebagaimana hari-hari sebelumnya. Tiba-tiba pak suami mengajak camping. Saya menatap curiga, seolah berpikir ini hanyalah sebuah prank yang lagi hits di kalangan pasutri vlogger.

“Se-ri-us! Saya pikir, sepertinya memang sudah saatnya kita camping.” Begitu katanya ketika saya mengangkat alis kiri tinggi-tinggi, menelisik ala detektif emak-emak. Saya tidak peduli dia dapat wangsit darimana. Yang jelas, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini sebelum doi berubah pikiran.

Dengan gerakan cepat, saya meraih handphone dan mengirim pesan whatsapp ke teman yang memang sudah biasa family camp dan kegiatan adventure lainnya. Sebagai pemula, kami butuh advice, tips dan trik seputar berkemah bersama anak.

Pucuk dicinta ulam tiba. Teman tersebut ternyata akan camping dalam waktu dekat dan akhirnya tercetuslah ide untuk camping bareng. Biar makin asyik, kami juga mengajak satu keluarga lagi yang juga sama-sama praktisi homeschooling. Agar camping ini berkesan bagi anak-anak, kamipun merancang beberapa kegiatan sederhana selama berkemah nanti, diantaranya berkisah/story telling, games mencari harta karun, membuat api unggun dan tentu tak ketinggalan sesi parentalk untuk kami orang tuanya.

Hari itupun tiba. Akhir pekan yang sangat dinanti-nanti. Tidak hanya oleh anak-anak, tetapi saya terutama. Kami akan berkemah di Pantai Bahagia Nongsa. Waktu tempuhnya dari rumah cukup lama, setidaknya butuh satu jam berkendara dengan kecepatan standar. Dalam perjalanan, beberapa kali kami diguyur hujan deras. Sempat khawatir bagaimanalah nanti nasib camping kami. Meski demikian, kami tak lantas mundur hanya karena hujan. Apalagi hujan di Batam saat ini adalah buatan. Di sini hujan lebat, di tempat lain bisa jadi cerah, terang benderang.

Begitu tiba di Pantai Bahagia Nongsa, alhamdulillah cuaca cerah. Anak-anak berenang, bermain pasir, lari-lari bahkan guling-guling. Setelah itu mandi bersih dan ganti baju lalu mendirikan tenda bersama dan bersiap untuk sholat maghrib. Anak-anak juga terlibat aktif membuat api unggun. Mereka mencari kayu dan ranting di sekitar meski sebenarnya kami membawa kayu khusus untuk membuat api anggung tersebut.

Ayam ungkep yang telah dibumbui sudah disiapkan dari rumah. Cukup dipanggang sebentar untuk sajian makan malam kami. Begitupun dengan nasi, sayur dan sambel. Semuanya sudah disiapkan. Sesi makan malam ini terasa sangat hangat dalam kebersamaan. Di bawah taburan bintang dan kilau pemandangan kota singapura di seberang, kami bersantap begitu nikmat.

Bermain pasir
Berenang
Membuat kolam pasir
Mencari kelomang

Diskusi seru pun mengalir begitu saja. Mulai dari financial planning, parenting, proses homeschooling yang kami jalani masing-masing hingga isu-isu terkini tentang pendidikan. Diskusi ini tentu ditemani dengan camilan dan jagung bakar yang dipanggang oleh para bapak. Sedangkan anak-anak berhamburan lagi di bibir pantai. Jadwal berkisah yang kami rencanakan batal oleh keasyikan mereka menggali pasir dan membuat kolam. Di tengah kolam tersebut mereka alasi dengan tikar lalu tidur memandang langit, mengobrol seru ala anak-anak di tepi pantai yang makin surut. Mereka juga mencari kelomang dengan modal lampu emergency. Ketika ketemu, Ochy ketakutan luar biasa hingga seluruh tubuhnya gemetar. Hahaha.

Sebelum tidur, anak-anak membersihkan diri lalu ganti baju. Mereka tidur dengan pulas sekali padahal suhu di dalam tenda cukup panas. Mungkin saking lelahnya bermain seharian. Lain halnya denganku yang justru kesulitan tidur padahal sangat mengantuk. Panas banget soalnya di dalam tenda. Sayapun mengeluarkan alas tidur dan baring di atas selimut. Alamak! badan terasa remuk di atas pasir padat yang keras. Serba salah. Memakai alas tidur kepanasan, tidak dipakai, badan justru remuk redam. Sayapun duduk di teras tenda. Cuaca di luar ternyata lebih dingin. Deburan ombak yang datang silih berganti membawa ketenangan jiwa. Saya membuat secangkir coklat panas. Duduk menatap mercusuar dan kilauan lampu kota Singapura di sisi kiri dan Malaysia di sisi kanan.

Satu jam kemudian saya tak lagi mampu menahan rasa kantuk. Sayapun masuk ke dalam tenda dan tau-tau terbangun menjelang subuh karena hujan cukup deras. Pak suami juga terbangun karena merasa sangat kedinginan. Padahal dia sudah memakai jaket dan selimut.

Ini adalah family camping perdana kami. Dengan segala ceritanya, saya jatuh cinta untuk camping lagi di lain waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s