24 Jam di Bratislava, Slovakia

Danau Bled Bratislava (source : google)

Bratislava adalah ibukota Slovakia, negara yang dulunya bersatu dengan Ceko menjadi Cekoslovakia. Namun karena sudah tidak satu visi lagi, pada tahun 1993 mereka memutuskan berpisah menjadi Republik Ceko dan Slovakia. 

Tujuan utama kami sebenarnya ke Vienna, Austria. Tapi kereta kami dari Prague, Republik Ceko melewati Bratislava maka kamipun memutuskan untuk singgah. Hitung-hitung bisa menambah checklist negara yang dikunjungi dan lagi biaya penginapan di sini cenderung lebih murah daripada di Vienna. Lumayanlah bisa lebih hemat semalam. Selain itu saya sangat terpesona dengan Danau Bled dan Devin Castle yang saya lihat di internet saat browsing singkat tentang Bratislava.

Devin Castle (source : google)

Perjalanan ke Bratislava ditempuh selama 4 jam dari Prague dengan kereta. Kereta ini sebenarnya kereta terusan ke Budapest, Hongaria. Jadi yang punya banyak wakyu bisa tuh sekalian ke Budapest dulu. Sedangkan waktu tempuh dari Bratislava ke Vienna hanya 1 jam saja.

Kami tiba di stasiun utama Bratislava pukul 11 pagi dan disambut hujan deras. Kesan pertama saya tentang Bratislava jorok dan oldiest. Stasiunnya berbau pesing dan orang-orangnya kebanyakan lansia. Karena hujannya awet, pukul 1 siang kamipun ke penginapan dengan naik taxy. Awalnya ingin naik transportasi umum : bus atau tram. Tapi haltenya ada di luar stasiun. Dekat saja sih sebenarnya cuma karena hujan dan udara dingiiiinnn banget, kasian juga sama anak-anak. Mana bawa barang banyak pula. Rasanya tidak pas dengan tram atau bus yang berhentinya cuma 1-2 menit menurun naikkan penumpang. Takut kejadian seperti di Belgia yang waktu itu hampir membuat saya dan Kak Idu terpisah di kereta. Hahaha. Pilihan lainnya adalah naik uber. Saat memesan harganya cuma 4 €. Tapi diakhir pemesanan ada keterangan minimum payment sebesar 10 € untuk jarak dekat seperti tujuan kami. Penjemputannya juga di luar stasiun. Gak mungkinlah basah-basahan membawa anak-anak ke sana. Akhirnya pemesanannyapun kami batalkan dan memilih taxy konvensional yang mangkal tepat di depan kami. Taxynya ini gak pakai argo tapi deal-dealan dengan tawar menawar. Saat itu sepakat dengan harga 9 €. Mobilnya bagus, seperti Xpander sport. Lengkap dengan car seat pula untuk balita. Drivernya sudah tua. Mungkin usia 60-an dan tidak bisa berbahasa Inggris. Lalu bagaimana akhirnya kami sepakat di harga 9 € tadi? Gampang! kami tawar menawarnya memakai kertas dan pulpen. Pak sopirnya menuliskan angka 15 € kami coret dan menuliskan angka 5 €. Hahahaha. Kalau emak-emak yang menawar harga ya gini deh, sadis. Sambil geleng-geleng dan ngoceh, pak sopirnya lalu menulis angka 10 €. Kami coret lagi dan menulis angka 7 €. Dia geleng lagi dan mengoceh dengan tidak jelas lalu menulis angka 9 €. Siipp! kami setuju dan kamipun diangkut.

Sepanjang perjalanan menuju hostel, sopir taxynya menjelaskan banyak hal tempat-tempat yang kami lalui. Jadi dia merangkap sebagai tour guide gitu deh. Hanya saja kami tidak mengerti karena dia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Dia sangat tertarik dengan Ochy. Sejurus kemudian dia mengeluarkan Hpnya dan menunjukkan foto gadis kecil yang sangat cantik kira-kira seusia Ochy. Dia bilang itu anaknya atau entahlah. Kami hanya menduga-duga. Hahaha. Overall pak sopirnya baik banget, ramah. Hanya saja ketika kami diturunkan, pandangan saya tentangnya langsung berubah gara-gara dia meminta bayaran 13 € padahal di awal tadi kami sepakat di harga 9 €. Dia menjelaskan bahwa setiap barang yang kami bawa dikenakan cas masing-masing 2 € untuk koper dan ransel kami. Sebagai bonus, stroller dia tidak kenakan biaya. Tapi saya tidak percaya dan menuduh itu hanya akal-akalannya saja untuk menipu turis seperti kami. Tapi karena hujan tak juga reda dan ingin segera menyantap yang hangat-hangat di kamar sambil leyeh-leyeh, yasudahlah kamipun bayar 13 € dengan wajah cemberut. Lalu buru-buru masuk hotel dan meninggalkan pak tua itu tanpa kata. Mengucapkan terimakasihpun saya ogah.

Tiba di hostel masih kurang jam 2 siang. Meski demikian, resepsionisnya sudah membolehkan kami check in. Padahal rata-rata waktu check in penginapan di Eropa itu mulai jam 2. Sambil menunggu kamar kami disiapkan, saya ngobrol santai dengan mbak resepsionis termasuk menanyakan tentang biaya barang bawaan ketika naik taxy di sini. Dan dari pengakuannya, saya sangat merasa bersalah dengan pak tua sopir taxy tadi karena ternyata memang seperti itu peraturannya. Oh Tuhan… pengen rasanya ketemu lagi dengan bapak tadi dan meminta maaf berkali-kali. Saat saya beritahu Kak Idu di kamar, dia sama merasa bersalahnya. Bahkan menekuri mengapa kami mendadak jadi orang yang perhitungan sekali. Padahal uang segitu paling habis buat ngopi saja kalau di Indonesia. Sementara bagi orang lain itu bisa saja untuk menyambung hidup keluarganya. 

***

Langit Bratislava kelam sepanjang hari itu. Basah dengan hujan yang tak kunjung reda. Walhasil kami yang tadinya ingin ke old town hanya bisa meringkuk di bawah selimut. Makan-tidur-makan lagi-tidur lagi. Keindahan Devin Castle, Danau Bled dan Sungai Danube yang membelah Slovakia, Austria dan Jerman ternyata belum bisa saya lihat secara langsung.

Devin Castle dan Sungai Danube (source : google)

Keesokan harinya, pukul 9 pagi kami check out dan menitip bagasi di hostel agar kami bisa keliling kota tanpa geret-geret koper. Cuaca hari ini juga kurang bersahabat. Baru juga tiba di old town, langit sudah gelap lagi. Akhirnya kami gak bisa mengunjungi banyak tempat. Hanya mampir beli jaket di FO, makan di restoran Turkey dan mutar-mutar gak jelas di taman kota. Meski demikian, saya sudah cukup senang. Biarlah gak kesampaian ke Devin Castle dan Sungai Danube, bisa membawa pulang jaket Zara seharga 10 € juga sudah bikin hepi.

Taman kota Bratislava
Yang penting si kicik-kicik hepi bisa lelarian sepuasnya.
First time makan shawarma. Sizenya besar banget ternyata.

Pukul 12 siang kamipun sudah berada di stasiun Bratislava setelah mengambil koper kami di hostel tentunya. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Vienna, Austria. Tiketnya sudah kami beli kemarin di stasiun.

Advertisements

Tempat Wisata Menarik yang Bisa Dikunjungi di Prague (Praha) Bersama Bayi dan Balita

Saat menyusun itinerary liburan ke Eropa, saya tidak pernah ragu memasukkan Prague atau Praha, ibukota Republik Ceko ke dalam jadwal. Saya bahkan mengalokasikan waktu terlama di Prague dalam perjalanan Eurotrip kami (16 hari, 6 negara 9 kota) yaitu sekitar 5 hari khusus untuk menikmati keindahan kotanya yang disebut-sebut sebagai kota tercantik di dunia.
Hari 1. Kami mendarat di Václav Havel airport Prague dari Brussels dengan maskapai Czech Airlines sekitar pukul 10 malam. Saat itu sedang badai sehingga turbulensi terasa beberapa kali selama penerbangan. Dari bandara langsung menuju hotel yang hanya bisa diakses dengan taxy. Kami menginap di Penzion V Mastali, salah satu hotel yang lokasinya dekat bandara. Tapi menurut saya, dekatnya ini kok masih terasa jauh ya. Apalagi kami harus menembus badai malam-malam begini dengan kontur jalan yang berkelok-kelok. Saya dan Kak Idu sampai bertatap-tatapan cemas, apa mungkin kita dibawa ke tempat yang benar karena kok jalannya spooky banget, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dan ketika si driver menurunkan kami, saya semakin shock melihat hotelnya. Bagaimana tidak, kami disambut dua pemuda yang lagi minum-minum di pintu masuk. Saat menuju resepsionis saya bahkan nyaris pingsan karena asap rokok dimana-mana. Rupanya ruang receptionnya menyatu dengan bar. Kak Idu sampai memohon maaf berkali-kali kepadaku. Mungkin merasa bersalah karena hotel ini, ia yang reservasi via online. Tapi siapa sangka, ketika kami dibawa ke kamar yang letaknya di lantai dua, saya takjub luar biasa. Kamarnya baguuuusss banget dan pelayanannya juga sangat ramah. Ochy bahkan diberi cot yang bikin dia girang, padahal kami tidak request sebelumnya. Kamar mandinya apalagi, bikin betah sekali. Alhamdulillah bisa tidur nyenyak sampai pagi nanti.

Hotel kami di dekat bandara Prague

Hari 2. Ketika bangun keesokan harinya, saya semakin jatuh cinta dengan hotel ini karena pemandangannya dari jendela luar biasa indah. Warna-warni pohon maple di sepanjang jalan menjadi terapi emosi pembangkit semangat. Bergeser ke kiri, mata saya menangkap playground yang belakangan menjadi tempat favorit Ochy bermain.

Hari ini kami akan ke pusat kota dan selama hari-hari berikutnya di Prague , kami akan menginap di apartemen yang dipesan melalui Airbnb. Dari sini ke pusat kota kami memakai Uber dengan pertimbangan lebih praktis. Soalnya jika menggunakan transportasi umum, harus berjalan kaki jauh ke halte, setelah itu mesti transfer ke tram lain untuk tiba ke apartemen. Cukup repot jika membawa banyak barang begini. Biaya ubernya juga murah saja kok.

Begitu tiba di apartemen, ternyata host kami masih ada kerjaan di luar sehingga belum bisa bertemu. Akhirnya kami jalan-jalan dulu di sekitar flat. Lokasinya sangat strategis. Supermarket berada tepat di sampingnya, kafe dan restoran tersebar di mana-mana dan yang paling penting, halte bus cuma 10 meter saja dari flat. Tepat di seberang jalan juga ada park dan sepertinya sebuah kampus.

Maria, nama host kami yang masih sangat muda. Orangnya ramah dan super baik. Dia menjelaskan singkat tentang Prague. Transportasi ke tempat-tempat wisata, restoran dan kafe yang layak dikunjungi serta hal-hal apa saja yang menarik untuk dinikmati di kota kecil ini. Bagi saya dan Kak Idu, informasi warga lokal begini jauh lebih valid daripada saran dari mbah google.

Cuaca di Prague cenderung lebih dingin daripada Amsterdam dan Brussels. Curah hujannya juga lebih tinggi dan waktu siangnyapun lebih singkat. Kombinasi cuaca seperti itu sangat menggoda untuk ngulet-ngulet di kasur saja. Apalagi buat si bayi dan toddler, punya ruang luas untuk bermain tentu sangat menyenangkan. Tapi kok ya sayang sekali jika sudah jauh-jauh ke Eropa cuma buat tidur saja. Hehehe. Karena itu kamipun sightseeing di sekitar apartemen. Mampir di restoran kebab dan pizza lalu ke supermarket untuk membeli beras dan lauk. Selebihnya main di park kampus. Kami memang belum ke pusat wisata di old town hari ini karena sudah terlalu sore menunggu Maria datang.

Hari 3. Flat yang kami tinggali fasilitasnya sangat lengkap. Ada mini bar, kitchen set dan wash machine. Sambil menunggu masakan matang, saya memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Sementara Kak Idu memandikan si bayi dan toddler lalu menemani mereka bermain. Gaya traveling kami seperti inilah adanya. Kebiasaan-kebiasaan yang kami lakukan sendiri di rumah tetap dibawa kemanapun. Sederhananya mungkin cuma pindah tempat tidur saja. Hehehe.

Setelah sarapan, kamipun berangkat ke Old Town dengan sekali naik bus dari stasiun Cerninova. Menurut informasi Maria, kami harus menaiki bus no 136. Waktu tempuhnya tidak lama, sekitar 10 menit saja. Setelah itu walking tour dimulai. Awalnya sempat bingung ke arah mana kami akan memulainya. Tapi karena dalam kamus hidup saya dan Kak Idu tidak ada kata nyasar, kamipun melangkah asal arah saja yang menuntun kami akhirnya menemukan tempat-tempat baru. Ya, kami memaknai kesasar dengan menemukan tempat baru. Sebab pada hakikatnya kita memang berada di tempat yang baru. Dan lagi kata kesasar hanya akan membangkitkan emosi negatif sedangkan ‘menemukan tempat baru’ cenderung membawa hawa positif. Benar atau betul? Hehehe.

Selama walking tour ini, kami menikmati kota tua Praha yang sangat antik. Bangunan-bangunannya khas Romawi Kuno dengan menara lancip. Berada di sini membuat saya berpikir seperti tidak di dunia nyata tapi dalam dunia dongeng yang banyak disajikan film-film kartun Disney. Mungkin karena banyaknya jumlah menara di sini, Prague menyandang status sebagai kota seribu menara.

Berikut tempat-tempat yang kami kunjungi selama walking tour secara mandiri :

1. Prague Old Town Square

Tempat ini merupakan alun-alun kota lama yang menjadi pusat wisata kota tua di Prague. Menjadi the must visit when in Prague karena dikelilingi bangunan-bangunan kuno penuh sejarah dengan berbagai aneka warna dan gaya arsitektur mulai dari gothic, rococo hingga baroque style. Tak heran kompleks ini selalu dipadati wisatawan karena memang sangat colourful, indah luar biasa. 

Prague Old Town Square
Prague Old Town Square
Prague Old Town Square

Beberapa bangunan-bangunan indah di dalam kompleks ini antara lain : Old Town Hall, Astronomical Clock, Týn Cruch, House at The Stone Bell, Kinský Palace, Jan Hus Memorial dan St. Nicholas Church. Yang paling menarik bagi saya adalah astronomical clock karena saat jamnya berdentang akan keluar boneka-boneka lucu dan menari. Menariknya lagi karena merupakan jam astronomi tertua di dunia yang dibangun pada tahun 1410 yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini. Berhubung kami tiba di sana pengunjung sudah ramai sekali, sayapun tidak sempat memotretnya karena waspada dengan isi ransel dan kantong jaket. Takut kena copet. Hihihihi.

Selain menikmati keindahan bangunan kota tua tersebut, kita juga bisa menikmati kelezatan kuliner Prague. Salah satunya adalah Trdelnik. Adonan mentahnya digulung pada sebuah batang kayu yang panjang lalu dibakar di atas bara api. Teksturnya mirip croissant tapi tengahnya bolong. Biasanya diberi aneka filling seperti gula, coklat dan eskrim.

Trdelnik isi coklat
Proses pemanggangan Trdelnik

2. Charles Bridge atau Karluv Most

Jembatan yang membelah Sungai Vltava ini adalah salah satu yang tersohor di dunia. Dibangun pada pemerintahan Raja Charles IV (1357). Jembatan ini menghubungkan dua distrik bersejarah di kota Prague yaitu Old Town dan Lesser Town sekaligus menjadi penghubung destinasi wisata terkenal di Prague yaitu Kastil Praha dan old Town Square. Tidak heran jembatan ini selalu ramai dipadati wisatawan, seniman dan pedagang souvenir. Yang paling menonjol dari jembatan ini adalah deretan 30 patung bergaya baroque di kedua sisinya bersama lentara vintage yang unik.

Charles Bridge
Charles Bridge

3. Sungai Vltava

Sungai Vltava merupakan sungai terpanjang di Republik Ceko yang dilintasi oleh 18 jembatan, salah satunya Charles Bridge. Dengan berpesiar menggunakan kapal ataupun gondola, kita bisa menyaksikan pemandangan unik yang ada di kota Prague. Bagi yang tidak suka berlayar di sungai tidak perlu khawatir karena dengan berjalan kakipun kita bisa menikmati keindahan sungai ini. Pastikan saja kakinya cukup kuat ya sis! Hehehe. Disalah satu sisinya, akan kita temukan gerombolan angsa yang berenang bebas. Jadikanlah pengalamanmu lebih seru dengan memberi makan angsa-angsa tersebut.

Di tepi sungai Vltava
Vltava River
Cruise Tour
Angsa-angsa di tepi sungai Vltava

4. Prague Castle atau Pražky Hrad

Jujur saja tulisan ceko ini memang rada susah dibaca. Lidah sudah seperti kelipat-lipat saja rasanya. Jadi waktu walking tour di area old town square, tidak sengaja kami menempuh jalan yang menuju charles bridge. Dari sana kita bisa menyaksikan kemegahan dua kastil yaitu Pražký Hrad atau kastil Prague di sisi kiri dan Vysěhrad di sisi kanan.

Prague Castle di bangun tinggi di atas perbukitan dan merupakan kompleks kastil terluas di dunia versi Guinness Book of World Records (luasnya mencapai 70.000 m2). Kastil ini pernah menjadi pusat pemerintahan raja-raja Bohemian, kaisar Romawi dan Presiden Cekoslovakia. Kastil ini juga menjadi saksi perang dan pemberontakan yang bergejolak di Prague, diantaranya Bohemian Revolt, Battle of Prague, Perang Dunia II dan Velvet Revolution. Setelah Cekoslovakia terbagi menjadi dua yaitu Republik Ceko dan Slovakia, sebagian Prague Castle kini ditempati oleh Presiden Republik Ceko dan sebagian besar lainnya dibuka untuk umum.

Prague Castle

Kompleks kastil buka setiap hari dari pukul 05.00 – 24.00 tanpa biaya apapun alias gratis. Tapi kalau masuk ke interiornya harus membeli tiket seharga 250 ck untuk dewasa (short visit tour) dan 350 ck untuk long visit tour. Sedangkan untuk anak-anak usia lima tahun ke bawah, biayanya gratis.

5. Vysěhrad

Ini adalah kastil lain di Prague yang juga dihubungkan oleh Charles Bridge. Jadi di sisi kanan jembatan Charles ada Pražky Hrad, di sisi kirinya ada Vysěhrad. Keduanya sama-sama kastil. Meskipun tidak setenar kastil di sebelahnya yaitu Kastil prague, namun keindahan kastil Vysěhrad juga tidak kalah menarik. 

Vysěhrad

Kami sendiri hanya memandanginya dari jauh karena kaki sudah terlalu capai melangkah. Bermodal kursi taman di sisi selatan Charles Bridge, tempat kami beristirahat sekaligus menikmati semilir angin di tepian sungai Vltava, kami sangat mengagumi arsitektur bangunan kastil ini.

Hari ke 4. Rencananya kami akan ke Cesky Krumlov, salah satu desa tercantik yang ada di Prague yang dapat ditempuh selama 3 jam dengan bus maupun kereta. Sebagai penikmat desa, saya dan Kak Idu tentu tidak ingin melewatkannya. Tapi apa mau dikata, cuaca hari ini sedang tidak bersahabat bagi turis rempong seperti kami yang membawa bayi usia 5 bulan dan balita usia 2 tahunan. Hujan sepanjang hari benar-benar tidak membuat kami beranjak ke mana-mana. Seharian itu kami hanya di flat. Sangat disayangkan memang. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Allah menjaga kesehatan kami dengan cara seperti ini. Hitung-hitung buat istirahat setelah kemarin gempor-gemporan keliling old town square. Hehehe.

Hari 5. Yang dikunjungi di hari ke lima di Prague adalah Dancing House. Berbeda dengan bangunan-bangunan klasik di old town, Dancing House justru menawarkan arsitektur futuristik, sangat dekonstruktif dengan bentuk tidak biasa. Bangunan ini mencerminkan wanita dan pria (Ginger Rogers dan Fred Astair) yang sedang menari bersama. Bangunan ini memiliki 99 panel beton dengan bentuk dan dimensi berbeda-beda. Unik sekali bukan!

Hari 6. Pagi-pagi sekali kami meninggalkan flat Maria menuju stasiun kereta utama di Prague. Karena membawa banyak barang (seperti biasa setiap akan berpindah kota dan negara, maka kami pasti membawa serta koper besar) maka kami ke stasiun dengan naik uber. Hari ini kami akan ke Slovakia. Jujur saja saya belum puas menikmati kota Prague yang memang super cantik ini. Saya berharap suatu hari nanti bisa kembali ke kota ini lagi. Dear beautiful Prague, call me again someday!

Brussels And All Its Drama.

Brussels
Perjalanan dari Amsterdam ke Brussels bisa ditempuh dengan berbagai moda transportasi seperti kereta, bus dan kereta cepat. Masing-masing tentunya punya plus dan minus. Kalau mau yang paling hemat, pilihannya tentu saja naik bus. Tiket busnya bahkan ada yang cuma 1€ jika berhasil mendapat promonya. Kekurangannya, waktu tempuh yang cukup lama yaitu sekitar 4.5 jam. Meski demikian, perjalanannya terasa menyenangkan karena busnya super keren. Ada tv lcd di masing-masing kursi, ada wifi gratis, tempat tas dan soket colokan listrik. Sangat cocok bagi pejalan yang low budget seperti kami.
Tetapi perjalanan kami ke Brussels ditempuh dengan kereta cepat Thalys. Ada beberapa alasan mengapa kami memilih kereta cepat. Yang pertama karena ingin menambah pengalaman berkereta cepat kami (ini adalah yang kedua setelah naik Shinkansen di Jepang). Alasan lainnya karena waktu tempuh yang relatif lebih singkat yaitu sekitar 1 jam 51 menit saja. Jauh diatas kereta reguler yang memakan waktu 3.5 jam apalagi bus yang menghabiskan waktu lebih lama.

Saya akui harga tiketnya memang mahal. Ini bahkan menjadi tiket kereta termahal kami selama di Eurotrip kali ini. Padahal sudah saya buking jauh-jauh hari. Tapi demi sebuah pengalaman baru bagi keluarga, saya dan Kak Idu menyepakatinya bersama. Apalagi untuk anak kami Ochy yang sangat excited dengan dunia transportasi. Ini akan menjadi pelajaran berharga untuknya.

Kereta Cepat Thalys

***

Kami tiba di Bruxelles Midi Station sudah pukul 10 malam. Stasiunnya sudah sepi. Toko dan loket tiket sudah tutup. Nyaris tak ada petugas yang bisa ditanyai arah tepat menuju hotel kami yang cuma 2 menit dari stasiun. Bukan apa-apa, salah pintu exit bisa membuat kita jalan kaki berjam-jam karena memutar. Dan bisa lebih lama lagi jika sambil menggotong bayi dan anak yang semuanya tertidur pulas ditambah ransel, koper dan stroller serta mata yang tinggal 5 watt karena sudah mengantuk dan kaki lunglai karena sudah kelelahan. Karena itu kami rela mutar-mutar di dalam stasiun menanyai siapa saja yang penampilannya meyakinkan sebagai warga lokal. Berkeliling di dalam stasiun tentunya jauh lebih aman daripada di luar. Sudah hampir pasrah sih sebenarnya jika malam ini terpaksa menginap di stasiun dan reservasi hotel yang sudah kami lakukan terpaksa hangus. Apalagi malam semakin larut. Kami sudah sejaman lebih di sini dan setiap orang yang kami tanyai tidak ada yang tau. Giliran ada yang ngerti alamatnya, bicaranya malah pakai bahasa Perancis. Ya kali, kami ngerti. Adanya cuma ingat aksen sengau-sengaunya saja. Mengandalkan google maps juga ternyata bikin keliru. Ah nyasar-nyasar seperti ini nih yang akan jadi cerita seru nantinya buat saya ketawain bersama Kak Idu. Apalagi kalau pakai ngotot-ngototan sok benar dengan feeling masing-masing tentang arah mana yang akan dituju. Susah dilupain deh pengalaman kayak gini soalnya. Pengalaman yang hanya bisa dirasakan kalau kita jadi solo traveler begini. Kalau bareng travel agent mah gak bakal ada nyasar-nyasar begininya. Hahaha *menghibur diri*

Suami lalu berinisiatif untuk mempercayai arahan Gmaps. Saya dan anak-anak beserta barang bawaan kami menunggu di stasiun. Tak seberapa lama suami kembali dan memberi kode angkat bahu. Fix, kayaknya beneran nginap di stasiun ini. Huhuhu. Hingga pada akhirnya, seseorang yang kami tanyai berhasil menunjukkan arah yang tepat meskipun memakai kombinasi bahasa Belanda, Jerman dan lebih banyak bahasa tubuh. Alhamdulillah… yeayy! Gak jadi dingin-dinginan di stasiun sampai pagi. Hihihi.

Di Brussels ini unik sekali, orang-orangnya berbahasa Perancis, Belanda dan Jerman. Sangat jarang saya mendengar yang berbahasa Inggris. Begitupun dengan tulisan-tulisan di sign board, memuat empat bahasa sekaligus. 

Menurut saya, ada perbedaan yang mencolok antara otang-orang di Eropa dan Asia saat memberi tahu arah jalan begini. Orang Eropa biasanya menjelaskan singkat kemana kita harus melangkah : ke kanan, ke kiri, maju atau putar belakang dengan instruksi tangan yang digerakkan sesuai arah. Kalau orang Asia biasanya menjelaskan panjang lebar. Terus kalau melihat wajah kita belum paham juga, mereka rela mengantar ke arah yang dia maksud bahkan hingga sampai di tujuan.

Nah berdasarkan informasi dari stranger tadi, kamipun menuju arah exit di depan kami. Dan benar saja, jarak hotel dengan stasiun benar-benar cuma 2 menit jalan kaki sesuai dengan petunjuk dari website hotel. Nama hotelnya bahkan kelihatan dari pintu exit ini. Arah yang tadi sudah kami tuju sebenarnya. Duhh… rasanya kok jadi gemes ya saya. Lokasi hotelnya memang sangat top. Dekat dengan stasiun utama dan juga supermarket serta restoran halal. Syukurlah hotelnya ketemu. Kamipun lalu mandi, makan lalu tidur nyenyak. Siapin tenaga buat jalan-jalan cantik besok.

Hotel kami di Brussels
Supermarket dan restoran halal di dekat hotel
Hotel kami di Brussels

***

Proses pencarian hotel semalam rupanya menjadi awal dari drama perjalanan kami di Brussels. Pagi ini setelah anak-anak dan suami sarapan, sayapun menyiapkan semua keperluan yang akan dibawa keliling kota. Taulah ya bawa baby itu barangnya banyak. Syukur-syukur anaknya masih ASI ekslusif sehingga tidak perlu menambah kerepotan membawa botol, dot, sikat dan termos. 

Setelah semuanya siap, giliran si emak yang harus dandan super cepat. Tapi saya tercengang karena satu-satunya baju bersih yang saya punya ternyata sudah kekecilan bagian lengannya. Gak sadar kalau berat badanku sudah tidak se slim dulu. Baju ini sebenarnya asal saya comot sih ketika packing dari rumah sebelum berangkat ke Eropa karena kejar-kejaran dengan jadwal penerbangan. Niatnya nanti setelah sampai di bandara Kuala Lumpur akan beli baju, makanya cuma bawa 4 potong baju saja. Kenyataannya hingga meninggalkan Amsterdampun, kami belum kesampaian ke toko buat belanja. Hufft.

Sempat bingung mau pakai baju apa. Gak mungkin juga saya pakai baju yang sudah dimasukkan ke kantong laundry. Sudah kotor dan berkeringat. Akhirnya atas saran suami, baju tersebut saya gunting lengannya. Padahal ini salah satu baju favoritku. Karena udara musim gugur memang masih dingin banget, jadi kemana-mana kami selalu memakai jaket. Nah jaket inilah yang menjadi outer untuk menyembunyikan baju tanpa lengan asal gunting tersebut. Wkwkwkwk. Sumpah deh beda kreatif dan kere itu tipiiiissss banget. Gak papalah ya yang penting bisa jalan-jalan keliling kota. Nanti kalau ketemu mall, bisa mampir buat beli baju baru.Yippiii.

Brussels

Hari ini kami berencana mengunjungi Grand Place dan atomium. Grand Place sendiri adalah alun-alun kota yang dikelilingi bangunan-bangunan indah dan bersejarah yaitu Townhall, Guildhall dan Brodhuis. Area ini menjadi the must visit when in Brussels karena telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Tempat ini juga disebut dengan Grand market karena terdapat banyak kafe, restoran dan toko-toko souvenir. But you know guys, kami gak kesampaian makan waffle Belgia yang mendunia itu, yang kata orang-orang tokonya ada di area ini, kecil tapi antriannya selalu mengular. Sudah dua kali mutar-mutar tetap saja cuma ketemu toko souvenir dan coklat. Gak ketemu penjual wafle sama sekali. Terakhir malah nyangkut di halaman JW. Marriot buat internetan gratis.

Karena keasyikan online, akhirnya dalam sehari itu kami hanya mengunjungi area Grand Place saja. Tidak jadi ke atomium karena menurut pak suami atomium itu biasa saja. Tidak ada istimewanya. Padahal dia sendiri belum pernah ke sana tapi memberi opini seperti itu. Keasyikan online ya pak? Sampai gak mau beranjak dari sini. Hahaha. Dasar faqir wifi. Pas ketemu jadi gak mau pulang. Hahaha.

Grand Place Brussels
Restoran di Grand Place
Brussels

Tiket kereta keliling Brussels sebenarnya berlaku selama 1 jam. Karena kami sudah lebih berjam-jam akhirnya harus membeli tiket baru untuk pulang ke hotel mengambil koper yang tadi kami titip saat check out. Di stasiun ini ternyata hanya tersedia mesin tiket saja. Tidak ada loket dan petugas yang melayani seperti di stasiun Bruxelle Midi. Pas mau beli tiketnya kita bingung bagaimana mengoperasikannya karena berbahasa Perancis. Pencet-pencet tombol untuk ganti bahasa malah tidak mau. Nah saat lagi pusing begini, saya cegat seorang cleaning service yang baru saja meletakkan peralatannya di pojok dinding dekat mesin tiket lainnya. Alhamdulillah dia bisa berbahasa Inggris. Dari si bapak itulah kami baru tahu kalau tombol ganti bahasanya bukan dipencet tapi diputaaaarrrr. Hahahaha. 

Mesin tiket

Karena sejak awal, Belgia memang negara yang cuma disisipkan dalam itinerary kami, maka tidak banyak waktu yang kami alokasikan di sini. Sore hari kami sudah menuju bandara Brussels untuk terbang ke prague. Ada kejadian unik ketika di stasiun Midi sebelum membeli tiket terusan ke bandara. Berhubung saya belum makan waffle di Belgia, maka sayapun bela-belain cari toko yang ada menu wafflenya di stasiun. Alhamdulillah ketemu. Hanya saja pelayannya gak bisa bahasa Inggris jadinya salah beli deh. Mintanya waffle fresh from the oven, dikasinya yang dihangatkan pakai microwave. Mintanya waffle coklat, yang saya terima malah waffle polos. Oh Tuhan! Tapi yasudahlah, setidaknya saya sudah bisa memberi centang tebal pada wishlist makan waffle di Belgia. Hahaha

Kamipun segera ke konter tiket untuk membeli tiket kereta ke bandara Brussels. Dalam perjalanan ke konter tiba-tiba seorang ibu menepuk pundak saya lalu mengoceh dengan suara sengau yang bahasanya sama sekali tidak kumengerti. Menyadari saya kebingungan, ia menarik saya ikut bersamanya. Agak takut sih awalnya. Tapi karena dia berhijab, saya percaya saja niatnya pasti baik. Dan masyaAllah ibu itu memang benar-benar berniat membantu kami. Entah darimana ia tahu kalau kami akan ke airport. Ia membawa kami ke konter yang tepat. Konter berbeda dengan yang akan kami datangi tadinya. Setelah itu ia cuma senyum, memberi salam dan berlalu. Padahal saya bahkan belum sempat menanyakan nama dan asalnya. 

Setelah mendapatkan tiketnya, kamipun segera ke platform yang tulisannya kurang jelas karena cuma ditulis tangan oleh si petugas. Kami hanya menduga-duga dengan memperhatikan penampilan calon penumpang. Kalau banyak yang membawa koper, bisa dipastikan ini platform yang benar yang akan menuju bandara. Keretanya sudah standby ketika kami tiba di platform. Saya tanya ke petugas apakah ini menuju bandara, dia hanya mengangguk. Kamipun bersiap naik. Kak Idu menaikkan koper terlebih dahulu lalu menyimpannya di tempat yang telah disediakan di kompartemen sebelah. Setelah itu barulah dia akan membantu saya menaikkan stroller yang ditempati Ochy tidur. Soalnya keretanya tidak stroller friendly, ada anak tangga di pintu sehingga saya harus menunggu Kak Idu untuk menaikkannya sebab kemampuan saya terbatas dalam posisi menggendong Yui begini. Tapi belum juga Kak Idu selesai menyimpan koper, pintu kereta tertutup dan tidak bisa dibuka lagi. Sementara saya dan anak-anak masih di luar. Sempat bercanda dengan diri sendiri, serius nih saya ketinggalan kereta? Serius nih suami saya terjebak di dalam? Padahal paspor dibawa semua oleh Kak Idu berikut uang dan kartu debit. Tiket kereta juga dia yang bawa. Saya satu sen pun tidak pegang uang sama sekali, pun tidak ada kartu identitas sama sekali. Kalau terkena razia petugas, bisa-bisa saya dianggap imigran gelap.

Dari dalam kereta Kak Idu tampak panik. Ia menekan tombol pintu berkali-kali, memukul-mukul jendela masinis tetap saja pintu kereta tak bergerak walau sesenti. Beberapa penumpang juga mencoba membantu tapi kereta telah terkunci rapat. Kak Idu juga dengan panik memberi saya kode untuk memberitahu petugas. Lalu dengan tergopoh-gopoh karena menggendong bayi dan mendorong stroller sayapun mengetuk jendela masinis dari luar. Saya sampaikan apa yang terjadi tapi petugasnya cuma bisa bilang, maaf kereta harus segera berangkat. Tidak ada waktu. Silahkan menunggu kereta berikutnya. Setelah itu ia menutup kembali jendelanya dan seolah tidak peduli lagi denganku. Lalu sayapun memohon-mohon dan entah kenapa tau-tau saya sudah menangis saja. Sang petugas lalu menelepon seseorang. Saya tidak tahu siapa yang dia telepon tapi tidak lama setelah itu datanglah petugas lainnya lalu membuka pintu dari luar dengan kode yang saya tidak tau. Kak Idupun diminta cepat-cepat turun. Alhamdulillaah… syukurlah bisa bersama lagi. Saya gak kebayang kejadian berikutnya jika harus terpisah begini.

Eh btw, tadi kan saya cerita kalau pakai baju yang lengannya digunting dadakan. Karena alhamdulillah semuanya berjalan aman-aman saja, saya jadi lupa kalau memakai baju tanpa lengan. Hingga akhirnya dihadapkan pada situasi genting yang bikin muka saya tiba-tiba jadi pucat pasi. Saat itu lagi di Bandara Brussels sedang mengantre di pemeriksaan X-Ray.

Ketentuan internasional pemeriksaan X-Ray ini memang mengharuskan melepas jaket, ikat pinggang, dan syal. Begitu masuk antrian, saya baru sadar bahwa saya sama sekali tidak mengenakan long jhon hari ini sehingga jika jaketku dilepas maka seluruh tanganku akan telanjang. Astagfirullah’aladzim. Bingung dan paniklah ya pastinya. Akhirnya saya dan Kak Idu memberanikan diri bernegosiasi dengan petugas. Menyampaikan kondisiku dan apa masalahnya. Tapi mereka bahkan bergeming. Tidak mau menerima alasan kami. Dan yaaa… jaket harus dilepas. Rasanya sedih, malu, merasa bersalah, berdosa aahh campur aduk deh. Meskipun sebenarnya orang-orang cuek saja dan sibuk dengan urusan masing-masing, tidak memberi attention kepada kami tapi saya malu sama Allah yang maha melihat. Syukurnya lilitan hijabku panjang sehingga sisa kainnya kugunakan untuk menutupi yang bisa ditutupi. Posisi menggendong Yui juga cukup membantu menyembunyikan sikuku yang kuselip diantara perutnya dan ergo baby. Lalu saya buru-buru memasuki body detector dan Kak Idu segera mengambilkan jaket yang telah melalui sinar X.

Oh Brussels… why you welcome us with so many dramas 😂

Discover Amsterdam

Siang itu pesawat Qatar Airways yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Schipol. Perjalanan yang sangat panjang sejak kami meninggalkan kota Makassar kemarin pagi. Saya sesungguhnya masih sangat lelah. Apalagi selama perjalanan itu harus membagi diri mengeloni dua krucils, si toddler yang super manja yang kalau mau tidur harus pegang siku emaknya dan si baby yang maunya nempel terus di PD. Tapi mengingat posisi saya sekarang sudah berada di belahan bumi Eropa, luapan kebahagiaan seketika menenggelamkan semua kelelahan itu. Haru dan tangis bahagia tak bisa dibendung. Bagaimana tidak, ini adalah salah satu perjalanan impian kami.

Meski kami duduk tepat di belakang kursi bussiness class atau kursi pertama kelas ekonomi, tapi kami memilih meninggalkan pesawat belakangan. Salah satu kebiasaan keluarga kecilku dalam urusan penerbangan.

Terbang bersama Qatar Airways adalah pengalaman perdana kami dengan maskapai terbaik pertama di dunia versi Skytrax 2017. Pelayanannya asli bintang lima. Apalagi untuk penumpang yang membawa bayi dan balita seperti kami, diprioritaskan. Ada bassinet pula untuk si baby sehingga tidak harus memangkunya sepanjang perjalanan. Makanannya enak-enak, children mealsnya juga lezat ditambah snack box yang keren. Ochy suka sekali apalagi pas dengan warna favoritnya, merah. Activity booknya juga keren dengan pensil dan layar ajaib yang bikin Ochy betah duduk lama-lama di kursi. Dan yang terpenting nih, ruang di kaki legaaaaa banget. Saya bahkan bisa tidur di kursi sambil selonjoran. Review lengkap tentang pengalaman kami terbang bersama Qatar Airways mungkin akan lebih baik jika dibuatkan tulisannya sendiri. (Semoga saja saya ingat dan punya waktu untuk mereviewnya. Hehehe)

Bassinet

Snack box for children

***

Siang itu, langit Amsterdam cerah. Dengan modal tanya petugas, kami membeli tiket kereta di mesin. Mesin tiket ini sangat mudah ditandai, berwarna kuning dan jumlahnya tersebar di banyak titik. Penggunaannya juga sangat mudah karena selain berbahasa Belanda, juga tersedia pilihan bahasa lain. Sayangnya belum ada pilihan Bahasa Indonesia karena itu kami memilih Bahasa Inggris saja. Sebenarnya bisa juga sih membeli di loket. Tapi antrian saat itu sangat padat sehingga kami lebih memilih membeli lewat mesin, tiket menuju stasiun Sloterdijk (stasiun sebelum Amaterdam Centraal station) karena kami menginap di Hotel Meininger yang tak jauh dari stasiun Sloterdjik tersebut.

Amsterdam Centraal

Amsterdam Centraal adalah petunjuk utama bagi setiap pendatang di Amsterdam, tidak terkecuali kami sebagai turis yang melakukan perjalanan tanpa travel agent. Kemana-mana patokannya pasti ke sini. Centraal Station adalah pusat Amsterdam yang menjadi hub berbagai jalur transportasi seperti tram, kereta api, bus dan subways. Tidak hanya melayani jalur domestik dan wilayah luar Amsterdam tetapi juga untuk tujuan ke luar negeri. Lokasinya hanya satu stasiun dari hotel kami di Sloterdjik.

Ada banyak hal yang bisa kita nikmati gratis di Amsterdam Centraal ini. Salah satunya adalah naik ferry menyusuri kanal-kanal legendaris Belanda. Selain itu, semua atraksi penting dan utama di Amsterdam dapat dicapai dengan mudah dari sini baik dengan naik tram ataupun berjalan kaki. Sebut saja Rijksmuseum, Dam Square, Bloemenmarkt dan Red District.

Kami sendiri di hari pertama Amsterdam, tidak mempunyai rencana kemana-mana. Hanya ingin beristirahat di hotel untuk menyesuaikan diri dengan zona waktu yang berbeda 6 jam dengan kota kami, Makassar. Kalaupun ada tempat yang ingin dikunjungi mungkin hanya di sekitar hotel saja, mencari supermarket dan merasakan atmosfer kota. Setelah makan, sholat dan bersih-bersih (secara sejak dari Kuala Lumpur kami belum mandi), kami tertidur begitu pulas dan bangun pukul 3 subuh karena lapar lagi. Hahaha.

Giethoorn

Hari kedua di Amsterdam kami habiskan di Giethoorn, sebuah desa terapung yang bebas polusi. Disebut juga sebagai Venicenya Holland karena rumah-rumah di sana dipisahkan oleh kanal dan transportasi yang beroperasi hanyalah perahu dan sepeda. Tidak ada kendaraan bermotor seperti mobil.

Jarak dari Amsterdam ke Giethoorn ini terbilang jauh yaitu sekitar 3 jam sekali jalan. Mungkin tidak banyak turis yang ingin ke sana karena dengan jarak tempuh yang sama, mereka sudah bisa sampai di Paris, destinasi favorit dunia. Tapi dasar saya dan suami yang lebih suka dengan alam pedesaan, kamipun bela-belain ke sana dan menutup mata atas pesona menara Eiffel sebagai landmark top dunia , museum Louvre yang kaya sejarah, Arch De Triomphe yang merupakan gerbang kemenangan Napoleon, dan wisata-wisata terkenal lainnya di Paris yang gemerlap.

Saat di kereta selama perjalanan ke Giethoorn, kami sama sekali tidak mendapat pemeriksaan tiket. Padahal tiket ke sana lumayan mahal, sekitar 500 ribuan per orang. Rupanya sistem pemeriksaan tiket di negara maju seperti ini menggunakan sistem random. Tujuannya sangat mulia, untuk melatih kejujuran warganya. Sehingga diperiksa ataupun tidak, mereka sadar diri untuk selalu membeli tiket kereta. Sebab denda yang dikenakan ketika tertangkap tangan tidak mempunyai tiket ini bikin merinding, bisa 100 kali lipat dari harga tiketnya! Untuk turis kere seperti kami tentu saja bikin merinding karena bisa saja kami turun tahta dari backpacker ke begpeker. Hahaha.

Satu hal yang menarik dalam perjalanan ke Giethoorn ini karena kami berkenalan dengan couple asal India yang sudah lama menetap di Singapore. Belakangan, mereka ini ternyata banyak sekali membantu kami. Apalagi saat pulang dari Giethoorn ketika kereta harus dialihkan karena mengalami kerusakan. Kami juga berkenalan dengan solo traveler wanita asal Korea yang dimulai percakapan singkat tentang Ochy yang dia sangka sebagai orang Korea juga. Hahaha. Sisi positif dari jalan sendiri tanpa travel agent yang paling saya rasakan adalah bagian ini, mendapat teman baru.

Zaanse Schans

Hari ketiga di Amsterdam kami mengunjungi Zaanse Schans, sebuah desa yang memberi gambaran akurat tentang kehidupan masa lampau Holland di abad ke 17 dan 18. Di sini kita bisa melihat rumah otentik, pabrik keju dan susu serta kincir angin yang masih aktif digunakan hingga saat ini. Selain itu juga ada museum yang patut dikunjugi seperti museumwinkel (toko kelontong dari masa lalu sebelum supermarket besar bermunculan), bakkerijmuseum (museum toko roti dengan koleksi kerajinan kuno dari pembakaran roti) , museum Zaanse Tijd dengan koleksi jam uniknya serta Zaan museum yang memiliki koleksi khusus peralatan, pakaian dan lukisan dari daerah tersebut. Satu lagi yang tidak ketinggalan adalah boat tour sebagaimana di daerah Belanda lainnya. Namanya juga negeri kanal jadi ya dimana-mana memang ada wisata menyusuri kanalnya. Hehehe.

Dari Zaanse Schans sebenarnya kami ingin sekali ke Volendam, desa nelayan yang terkenal di Amsterdam. Namun apa daya, kami sudah cukup kelelahan sehingga dengan terpaksa harus mencoret Volendam dari itinerary kami. Semoga masih diberi kesempatan ke Belanda suatu hari nanti untuk menuntaskannya. Amiin.