Pantai Vio Vio, Destinasi Pertama Di Masa New Normal

Akhirnya mulai menulis lagi setelah vakum beberapa bulan. Adakah yang merindukan update-an dari blog ini? Huhuhu… Izinkan saya ngayal dulu ya. Ngayal kalau banyak pembaca yang sebenarnya menunggu-nunggu tulisan terbaru di sini tapi pada malu komen. Hihihi. Terseralah Munda. Asal kamu bahagia.

Pemandangan Pantai Vio Vio yang Surut

Baiklah, saya akan berbagi cerita tentang perjalanan kami ke pantai di masa new normal life. Perjalanan pertama setelah bertahan 4 bulan di rumah saja karena pandemi virus corona. Bertahan di sini bukan berarti tidak pernah kemana-mana sih. Saat bosan kami juga jalan-jalan, hanya saja cukup di atas mobil dengan membuka kaca jendela. Tidak turun, apalagi berkunjung ke tempat wisata. Keluar rumah untuk sekedar merasakan suasana berbeda, menghirup udara berbeda. Di suatu kesempatan yang lain, kami pernah ke restoran cepat saji melalui layanan drive thru saat hari raya Idul Fitri. membeli beberapa paket ayam krispi lalu makan di pinggir jalan, di atas mobil. Sedangkan untuk keperluan rumah tangga, semuanya dilakukan secara online termasuk untuk membeli sayur dan lauk konsumsi sehari-hari.

Namun sejak WFH tak lagi diberlakukan, pak suami pun kembali ke kantor seperti biasa. Tentu dengan protokol covid-19 yang baik. Berangkat tak lagi cukup hanya dengan membawa bekal makanan, tapi kini harus ditambah dengan masker dan handsanitizer juga. Saat pulang pun langsung mandi begitu tiba di rumah sebelum kontak dengan istri dan anak-anaknya.

Semakin ke sini keadaan semakin tidak kondusif. Orang-orang tidak lagi peduli dengan himbauan protokol covid-19. Beberapa minggu terakhir kehidupan di Batam bahkan terlihat sudah normal. Toko dan restoran sudah buka, orang-orang kembali beraktivitas seperti biasa. Ke pasar, ke mall, kongkow-kongkow di kafe seolah tidak ada apa-apa. Begitupun dengan tempat wisata, sudah banyak yang buka.

Awal-awal kami melewatkannya. Tapi lama-lama jadi resah juga. Kami pun mulai ‘melonggarkan’ diri untuk menjaga kewarasan. Saya tak lagi berbelanja online untuk kebutuhan di dapur. Meski begitu, saya juga belum berani ke pasar tradisional seperti dulu. Untuk lauk dan sayur, saya beli di warung pinggir jalan. Itupun dilakukan setelah mengamati warung tersebut sudah sepi pembeli. Begitu juga dengan pusat perbelanjaan atau mall. Ke sana jika benar-benar ada keperluan yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Hingga akhirnya weekend ketiga di bulan Juni, kami putuskan untuk jalan-jalan “sungguhan”. Mengunjungi salah satu pantai cantik yang ada di pulau seberang.

Kami memilih pantai vio-vio sebagai destinasi. Jaraknya cukup jauh dari rumah karena berada di Pulau Galang. Setidaknya, kami harus menempuh jarak kurang lebih 62 km melintasi jalan trans Barelang. Alasan memilihnya sederhana, karena kami belum pernah ke sana dan dengar-dengar pemandangan pantainya menakjubkan. Selain itu, pantai ini juga sepi karena jaraknya yang jauh banget dari kota.

Pemandangan Pantai Vio Vio yang Surut

Menuju Pantai Vio Vio

Kami berangkat pagi dari rumah dan tiba di pantai sudah hampir pukul sepuluh karena banyak interupsi di jalan. Petunjuk jalan ke pantai vio-vio sangat jelas. Cukup mengikuti trans Barelang hingga ke jembatan lima. Selanjutnya belok kanan ke papan yang bertuliskan pantai vio-vio. Sepanjang jalan, beberapa kali kami harus melambat karena ramainya rombongan orang bersepeda terutama di jembatan barelang. Ramaiiiii banget dan tidak nampak physical distancing sama sekali. Foto bareng, duduk bareng, istirahat bareng. Mungkin ada sekitar 20-25 orang.

Meski tidak sulit menemukan pantai vio vio tapi medan jalannya cukup menantang terutama 500 meter sebelum lokasi. Jalannya masih berupa tanah padat yang jika hujan akan becek dan licin. Sebagian lagi sudah disemen. Jalan tanah tersebut cenderung menanjak dengan jurang di sisi kanan kirinya. Pak suami sedikit ragu karena tanjakannya cukup tajam dan menikung. Khawatir mobil tidak kuat naik. Maklum, mobil sudah berumur. Tapi saya koar-koar penuh semangat. Masa iya sudah sejauh ini, pantainya bahkan sudah di depan mata dan kita menyerah karena tantangan menanjak ini?

Saya mengajak anak-anak berdoa sembari bersorak untuk menyemangati suami (meski jauh di lubuk hati, sayapun sebenarnya takut. Hahaha). Alhamdulillah tantangan berhasil ditaklukkan. Kami akhirnya bisa parkir di lapangan yang luas nan sepi karena pengunjungnya hanya kami dan satu keluarga lainnya yang sudah lebih dulu datang.

Setelah jalan menanjak, nampaklah pantai Vio Vio

HTM dan Fasilitas di Pantai Vio Vio

Untuk biaya masuk dikenakan masing-masing Rp 10.000/orang dewasa ditambah biaya parkir Rp 5.000/kendaraan roda empat. Sedangkan untuk anak-anak, tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis.

Fasilitas yang tersedia cukup lengkap. Ada gazebo untuk pengunjung, baik yang berbayar ataupun yang gratis. Keduanya tentu berbeda. Yang gratis terlihat seadanya dan jumlahnya pun hanya beberapa buah sedangkan yang berbayar terbuat dari kayu kokoh dengan cat yang natural, dilengkapi dengan sumber listrik dan jala tipis penghalau panas. Berderet-deret di sepanjang garis pantai dengan sbiaya sewa Rp 200.000. Kalau gak punya budget gak perlu khawatir. Karena yang gratis sekalipun idak mengurangi kenyamanan kita bersantai di pantai. Jika tidak kebagian gazebo pun, kita bisa leluasa menggelar tikar di atas pasir putih.

Fasilitas lainnya ada kedai yang menjual berbagai macam jenis makanan dan minuman tapi selama masa pandemi, kedaitersebut tidak beroperasi. Jadi sebaiknya saat akan berkunjung ke pantai vio-vio, bawalah bekal makanan dan minuman yang cukup. Toilet yang bersih dan musholla juga disediakan pihak pengelola untuk menunjang kenyamanan para pengunjung. Spot foto kekinian tentu tidak ketinggalan demi memenuhi kebutuhan media sosial kaum milenial. Ada ayunan pantai yang hits, jembatan mangrove dengan payung warna warni dan alas duduk berbentuk hati yang diletakkan di ketinggian. Saat mengambil foto di sana, mata kita akan menangkap pemandangan laut yang indah dari atas.

Sayang, saat kami berkunjung pantainya sedang surut sehingga pemandangannya kurang maksimal. Tapi tetap disyukuri. Setidaknya bisa menghirup udara yang berbeda. Lagipula anak-anak sangat bahagia bisa lari-larian, bermain pasir dan bermain air.

Gazebo di belakang adalah gazebo berbayar

4 comments

    • Terimakasih lho mba Asri 😘

      Iya, medannya sereemm banget. Aku malah belum sampai ke Elyora. Sudah berminggu-minggu plan ke sana selalu batal karena gak berhasil berangkat setelah subuh.

      Masih ngeri datang di jam2 normal 🀭

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s