Pengalaman Mengurus Visa Umrah untuk Keluarga

Umrah adalah salah satu perjalanan sakral bagi ummat muslim di dunia, tak terkecuali Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Setiap muslim pasti mendambakan perjalanan ke tanah suci setidaknya sekali dalam hidup, entah untuk berhaji menyempurnakan rukun Islam ataupun untuk umrah dan berziarah.

Syukur alhamdulillah, kami sekeluarga akhirnya diberi kesempatan menginjakkan kaki di tanah haram pada bulan Maret yang lalu setelah tiga kali mengalami kegagalan dengan dua travel sebelumnya. Adalah sebuah rezeki, berkenalan dengan seorang ibu hajjah via online yang merupakan agen sebuah perjalanan umroh dengan paket super hemat. Soalnya dibandingkan dengan kedua travel sebelumnya, harga yang ia tawarkan sangat fantastis. Bahkan sedikit irrasional mengingat tiket pesawat PP Makassar-Jeddah saja minimal 14 juta dengan pesawat Garuda Indonesia. Namun beliau menawarkan nominal yang sama dengan janji full service selama perjalanan sejak keberangkatan hingga tiba kembali di kota asal. Rada takut sih awalnya. Apalagi kita baru kenalan. Itupun via medsos. Kita belum pernah bertatap muka secara langsung. Masih menimbang-nimbang karena umrah backpacker saja masih kalah jauh selisihnya. 

Saya berpikir, mungkin harga yang beliau tawarkan belum termasuk pengurusan visa. Tapi ternyata saya keliru. Harga tersebut sudah all in. Makin ragu dong jadinya. Ini beneran atau modus penipuan sih? Untung saat itu belum terkuak kasus First Travel, sehingga bismillah kami berani saja mengambil paket hemat Abu Tours tersebut.

Berhubung saya menggunakan jasa travel dalam perjalanan kali ini yang sudah mengatur semuanya, maka saya tidak punya pengalaman pribadi bagaimana mengurus visa umrah secara mandiri. Dan memang sepertinya kita tidak bisa mengurusnya sendiri sih. Soalnya temanku saja yang melakukan umrah backpacker, visanya tetap juga dibantu oleh travel agent. Karena Kedutaan Besar Arab Saudi tidak akan menerbitkan visa secara personal tanpa ada travel agent yang mau bertanggungjawab. Jadi kita memang tidak bisa benar-benar mengurusnya sendiri face to face dengan pihak kedutaan layaknya pada pengurusan visa lainnya.

Dokumen Apa Saja Yang Dibutuhkan Untuk Mengurus Visa Umrah Keluarga?

1. Paspor. Masa berlaku lebih dari 6 bulan sejak keberangkatan. Nama di paspor harus memuat tiga suku kata. Jadi kalau di paspornya masih kurang dari tiga, harus menambahkannya di kolom endorsment pada halaman 4 dengan urutan : nama asli_nama ayah_nama kakek. Nama kakek di sini, boleh menggunakan salah satunya, kakek dari pihak ayah atau dari pihak ibu. Yang tidak boleh itu jika memakai nama kakek dari pihak tetangga. Apalagi nama ayah tetangga.

2. Pas foto terbaru ukuran 4 cm x 6 cm dengan background berwarna putih. Sebaiknya mengenakan hijab yang cerah dan pastikan sudah touch up sebelum cekrek.

3. KTP dan Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja dan khusus untuk KTP jangan dipotong mengikuti ukurannya. Biarkan saja tetap dalam satu lembaran utuh kertas A4. Untuk anak-anak, KTPnya memakai KTP kedua orang tua yang difotokopi dalam lembar kertas yang sama. Misalnya fotokopi KTP ayah diatas, lalu dibawahnya fotokopi KTP ibunya, dalam satu kertas.

4. Akte lahir masing-masing anggota keluarga. Difotokopi pada kertas A4. Khusus untuk anak dibawah 17 tahun, selain kopiannya, akte lahir aslinya juga diikutsertakan.

5. Buku nikah yang memuat keterangan kita adalah pasangan yang sah. 

6. Kartu kuning yang memuat informasi vaksin meningitis yang telah kita lakukan.

Udah gitu aja. Berkasnya sesimple itu. Tidak butuh surat keterangan kerja apalagi rekening koran yang ketentuan jumlah saldonya bikin panas dingin.

Urusan selanjutnya, semuanya ditangani oleh pihak travel agent. Untuk yang umrah backpacker, menurut pengakuan temanku rada gampang-gampang susah untuk menentukan travel agent (mofa) yang bisa membantu pengurusan visa umrah. Soalnya gak semua mofa berani menerima risiko menerbitkan visa untuk kalangan yang ingin melakukan umrah secara mandiri. Biasanya harus satu paket dengan Land Arrangement, paket selama di Arab Saudi berupa fasilitas penginapan dan transportasi. Ujung-ujungnya mirip umrah yang di-handle sama travel pada umumnya sih. Bedanya hanya pada waktu yang fleksibel dan itinerary yang tidak mengikat. 

Menurut temanku, tidak ada travel agent yang berani menerima jika hanya untuk proses visa saja tetapi mesti disertakan paket land arrangement dari mereka sehingga si travel agent ini bisa tetap memantau jamaah yang dibantu proses penerbitan visanya. Bukan apa-apa, si travel agent tersebut terancam denda sebesar SAR 50.000 serta pencabutan izin usaha jika ditemukan jamaahnya melakukan penyelewengan terhadap visa yang diterbitkannya. Misalnya si jamaah over stay dari masa berlaku visa, atau malah menjadi TKI/TKW, dan lain-lain.

Lain kali jadi pengen coba umrah backpacker juga. Biar bisa lebih detail memberikan gambarannya. Tapi tunggu sampai anak-anak berusia minimal tujuh tahun kali ya. Biar kerempongannya sedikit berkurang 😁😁. Semoga diberi umur panjang dan dicukupkan rezekinya untuk kembali lagi ke tanah haram, insyaAllah. Amiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Advertisements

Mudahnya Mengurus Sendiri Visa Jepang di Makassar

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman SMA menelepon menanyakan tentang cara pengajuan visa Jepang di Kota Makassar secara mandiri alias tanpa calo atau travel agent. Saya mengingat-ingat kembali prosesnya dan mungkin tidak ada salahnya jika saya menuangkan pengalaman itu ke dalam tulisan di blog ini. 

Jadi waktu itu, saya akan ke Jepang bersama suami beserta dua orang teman perempuan. Awalnya ingin mengajukan permohonan visa pada konsulat jendral Jepang di Denpasar yang letaknya tidak jauh dari rumah tapi berhubung kartu keluarga  dan KTP kami belum terbit, saya akhirnya memutuskan untuk mengajukan visa pada konjen Jepang di Makassar dengan menggunakan fotokopi ktp dan kartu keluarga lama yang berarti status masih single 😅. Begitupun dengan suami, menggunakan kartu identitas lama yang masih berdomisili di Timika, juga dengan status masih single. Syukurnya, Timika masuk ke dalam wilayah yurisdiksi konjen Jepang di Makassar sehingga sangat pas untuk mengajukannya bersama-sama.

Pengajuan visa ini bisa diwakili oleh salah satu orang saja jika bepergian dua orang atau lebih. Alhamdulillah, itu berarti suami gak harus terbang ke Makassar hanya untuk mengurus visa. Sedangkan kedua teman perempuanku memilih jasa travel agent. Mungkin karena ini adalah perjalanan internasional pertama mereka sehingga dirasa lebih aman memakai jasa travel agent untuk mengurus visa. Atau mungkin juga belum percaya sama saya. Takut kalau-kalau visanya gak disetujui. Padahal mengajukan lewat travel agent sekalipun sebenarnya tidak ada jaminan visa akan approved. Karena semuanya tergantung pihak konjen, mau ngasih atau tidak. Tapi yasudahlah, karena mereka tidak keberatan membayar biaya administrasi tambahan buat travel agent diluar biaya visa itu sendiri plus harus menyiapkan saldo min 50 juta rupiah di rekening koran, ya silakan saja. 😊😊

Syarat-syarat pengajuan visa Jepang

Sebelum mengajukan visa jepang (dalam hal ini menggunakan paspor biasa bukan e-passport) maka harus melengkapi dokumen yang diperlukan terlebih dahulu yaitu :

  1. Paspor yang masa berlakunya setidaknya lebih dari 6 bulan
  2. Formulir permohonan visa yang bisa di download di website konjen Jepang 
  3. Pas foto terbaru ukuran 4,5cm x 4,5 cm berlatar putih. Yang berhijab bisa tetap mengenakan hijabnya. Sebaiknya memakai hijab yang kontras dengan latar foto, sehingga kelihatan lebih bright.
  4. KTP (surat keterangan domisili). Fotokopi di kertas A4 tanpa memotongnya. 
  5. Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja. Disertakan jika berangkat bersama keluarga sebagai bukti hubungan dengan si pemohon. Jika pemohon sendiri-sendiri, tidak perlu melampirkannya.
  6. Tiket pesawat. Tidak harus menggunakan tiket yang sudah lunas. Bisa menggunakan tiket booking-an. Pastikan saja, statusnya masih aktif ketika melakukan pengajuan visa.
  7. Itinerary. Buat yang simple saja, gak usah heboh menjelaskan kegiatan per jam hingga berlembar-lembar. Cukup menunjukkan akan pergi ke mana saja setiap hari sejak masuk hingga keluar Jepang. Juga tidak harus menuliskan semua tempat yang akan kita datangi. Pokoknya as simple as in one page.
  8. Rekening koran atau fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Nah inilah bagian terhoror dalam mengurus visa. Berapa sih jumlah tabungan yang harus kita punya? Benarkah harus 50 juta rupiah seperti kata orang-orang? Sebenarnya sih tidak disebutkan berapa jumlah yang pasti oleh pihak kedutaan, hanya saja perhitungkan semua biaya yang bisa men-cover seluruh perjalanan kita selama di Jepang. Amannya, sediakan 1 juta rupiah/hari. Jadi kalau di Jepang selama 1 minggu, berarti kalikan saja selama 7 hari. Terus lebihkan sedikit untuk menunjukkan bahwa ketika kembali ke negara asal, kita masih punya biaya hidup selama beberapa hari ke depan.
  9. Surat keterangan kerja bagi karyawan atau SIUP bagi pengusaha. Intinya, surat keterangan yang menunjukkan kita punya penghasilan. Kalau misalnya pemohon adalah ibu rumah tangga, berarti lampirkan surat keterangan kerja milik suami beserta KK, buku nikah dan buku tabungan atas nama suami. Berhubung saya dan suami mengajukannya pakai status masih single jadi kami memakai surat keterangan kerja dan buku tabungan sendiri-sendiri.

    Pastikan semua dokumen sudah lengkap dan disusun berurutan sebelum dibawa ke loket pendaftaran, sebab kita tidak akan dilayani jika berkasnya kurang ataupun tidak lengkap. Namun apabila sudah diproses dan diperlukan dokumen pendukung lainnya, pemohon visa akan dihubungi lagi.

    Langkah-langkah pengajuan visa Jepang di Makassar

    Setelah semua berkasnya lengkap, datanglah ke konjen Jepang sesuai jam kerjanya yaitu senin-jum’at pada jam 8.00 – 12.00 untuk permohonan visa dan jam 13.00-15.00 untuk pengambilan paspor.

    Untuk daerah Makassar, kantor konjen Jepang berada di gedung Wisma Kalla lantai 7 Jl.Dr. Sam Ratulangi No 8-10. No. Tlp (0411) 871-030.

    Setelah menyerahkan dokumen di loket pendaftaran, kita akan membayar biaya single visa sebesar Rp 320.000 (Maret 2015) lalu diberi surat keterangan pengambilan paspor 4 hari kerja kemudian.

    Ketika waktu pengambilan paspor tiba, datanglah kembali ke konjen Jepang pada pukul 13.00-15.00. Alhamdulillah ketika saya membuka paspor, stiker visa jepang sudah tertempel cantik di salah satu halamannya dengan masa berlaku visa selama 3 bulan.

    Visa Jepang

    Mudah bukan?! Semoga bermanfaat ya 🙂

    Pengalaman Apply VoA China di Shenzen

    Biasanya orang yang berkunjung ke Hong Kong, akan sekaligus memasukkan Shenzen ke dalam itinerary. Negara tetangga yang jaraknya sangat dekat serta transportasinya mudah diakses. Hanya saja, sebagai pemegang paspor hijau (atau sekarang tosca), kita diwajibkan mengantongi visa on arrival terlebih dahulu untuk memasuki negara bagian China tersebut.

    Menuju Shenzen dari Hong Kong

    Cara mengurus voa China di Shenzen yang saya tulis ini berdasarkan jalur masuk melalui Hong Kong dengan kereta KCR dari stasiun Kowloon Tong. Lama perjalanan sekitar 45 menit dengan biaya HKD 31.3 menggunakan octopus card. Kereta ini akan berhenti di ujung perbatasan Hong Kong – Shenzen, Lo Wu – Luo Wu. Memang mirip sih nama stasiunnya tetapi sebenarnya berbeda dalam pengucapannya.

    Begitu tiba di Lo Wu, semua penumpang akan turun. Di border ini, paspor kita akan distempel keluar Hong Kong oleh petugas bermata sipit yang lempeng banget. Pokoknya gak ada basa-basi apalagi nanyain dengan senyum manis, datangnya bersama siapa neng?! Padahal ya mau banget pamer kalau saya datangnya bersama suami sebagai rangkaian bulan madu perdana kami. Hahahaha. Penting gak sih? 😏😏

    Nah setelah paspor di stempel, ikutilah papan petunjuk hingga keluar stasiun Shenzen yaitu Luo Wu (dibaca Luo Hu). Jaraknya lumayan jauuuhhh. Saya tidak yakin sih berapa angka pastinya tapi sepertinya hampir 1 km dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di sini saya jahilin Kak Idu yang newbie backpackeran hemat keluar negeri. Habisnya dia keseringan jalan-jalan luxury sih, (sstt… karena dalam rangka dinas sehingga semuanya dibayarin kantor). Kalau pakai uang pribadi, apa daya hanya bisa backpackeran begini buat melancong 😅.

    Jadi selama jalan kaki keluar stasiun itu, saya sering mendahului Kak Idu lalu bersembunyi di suatu tempat dan mengagetkannya ketika sudah dekat denganku. Beberapa kali berhasil mengerjainya. Sampai suatu ketika kok malah saya yang kejebak sendiri. Jadi saat sedang dalam persembunyian, tiba-tiba petugas wanita memegang tanganku erat dan membawa saya ke salah satu ruang sempit lalu diinterogasi dengan bahasa Cina yang sumpah satupun saya tidak tau artinya. Jadi dia ngoceh aja terus, mimik mukanya sampai tegang begitu karena melontarkan banyak pertanyaan tapi yang dihadapi malah diam seribu bahasa. Hingga akhirnya dia frustasi sendiri dan jadilah kami diam-diaman. Jadi pengen nyanyi lagunya Jamrud : 30 menit kita di sini, tanpa bicara. Dan aku benciiii harus jujur padamu tentang semua ini.

    Tak lama kemudian, datang petugas wanita lainnya. Selain lebih cantik, dia juga lebih menyenangkan karena pembicaraan akhirnya menjadi dua arah. Fasih berbahasa Inggris meski dengan logat Cina yang kental. Rupanya gerak gerik saya tertangkap cctv dan dianggap mencurigakan. Apalagi saya mengenakan hijab. Makanya saya digiring ke ruang interogasi ini. Lalu sayapun menjelaskan semuanya, bahwa saya sedang mengerjai suami yang baru pertama kali ke tempat ini sebagai upaya menciptakan perjalanan mengasyikkan yang tak terlupakan bersamanya.

    Setelah lama berdialog dengannya, saya akhirnya dilepaskan juga. Fiuuhh… alhamdulillah banget. Syukur-syukur gak sampai sejam. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bingungnya Kak Idu mencari-cari saya jika terjebak di ruang sempit itu semalaman. Sumpah jadi kapok sendiri.

    Begitu bertemu Kak Idu di section imigrasi China, langsung saja saya peluk erat sambil menangis. Dianya heran, kok saya sampai nangis begitu. Rupanya dia tidak sadar bahwa istrinya ini baru saja ‘diculik’. Dikiranya, saya masih main-main dengannya dan akan menemukanku di gate imigrasi China. Ketika saya menceritakan ulang kejadiannya, eh dianya bukan berempati malah ngakak habis-habisan.

    Langkah-langkah dan biaya apply voa Shenzen

    Mengajukan voa Shenzen sangatlah mudah. Pertama-tama ikuti petunjuk menuju visa office yang letaknya naik satu lantai dari gate imigrasi yang ditandai dengan tiga loket kecil berjejer. Selanjutnya mengisi formulir dan mengambil nomor antrian. Setelah nomor antrian kita dipanggil, datangi loket pertama untuk menyerahkan paspor dan sekaligus untuk difoto petugas. Fotonya melihat lurus ke depan, tidak miring kanan apalagi sambil monyongkan bibir. Karena ini foto untuk visa bukan foto alay. Berikutnya pindah ke loket dua untuk melakukan pembayaran sebesar RMB 160 (Oktober 2013). Catat, hanya menerima mata uang China. Selainnya, silahkan menukar di money changer terlebih dahulu. Terakhir tinggal menunggu visa ditempel di paspor yang akan diambil di loket ketiga. Prosesnya sangat mudah dan cepat. Tidak lebih dari 10 menit. Dan viola…  selamat berjalan-jalan di Shenzen.