10 Pengalaman Naik Kereta di Negara Orang. No.4 Bikin Keki, No.9 Bikin Mewek

Ketika melakukan sebuah perjalanan lintas kota atau bahkan lintas negara, transportasi adalah hal paling penting yang tidak bisa disepelekan. Salah memilih transportasi akan sangat berefek pada perjalanan kita. Lalu transportasi apakah yang terbaik? Hmm.. Kalau menurut saya sih, setiap jenis transportasi pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebut saja pesawat, kereta ataupun bus. Semuanya memiliki plus dan minus. Tinggal kita menyesuaikan dengan kebutuhan dan tentu saja budget!

Ngomong-ngomong tentang kereta api, kali ini saya mau berbagi pengalaman tentang perjalanan kami yang lalu-lalu di mana kereta menjadi transportasi utama.

1. Malaysia

Sebagaimana solo traveler lainnya, rute di awal-awal perjalanan internasional kami adalah negara tetangga. Dengan alasan dekat, budaya cenderung sama karena serumpun, mudahnya akses transportasi, life cost-nya pun terjangkau. Maka Malaysia menempati urutan pertama daftar negara yang akan dikunjungi dalam travel list kami.

Ketika jalan-jalan di Malaysia, selain dengan bis, kami juga banyak menggunakan kereta baik di pusat kota Kuala Lumpur maupun ke beberapa negara bagian di semenanjung Malaysia seperti Malaka, Johor Bahru dan Penang. Transportasi berbasis rel di Negeri Jiran cukup banyak jenisnya. Kalau gak salah ada lima yaitu KL Monorail, Light Rapid Transit (LRT), Kereta Tanah Melayu (KTM) Komuter, KLIA Express dan Mass Rapid Transit (MRT). Awal-awal saya bingung juga dengan sistem per-kereta api-an di Malaysia. Merasa sangat kesulitan. Namun pelan-pelan akhirnya saya bisa juga memahaminya dengan mudah. Intinya, kelima jenis transportasi berbasis rel tersebut saling terintegrasi satu sama lain dalam sebuah sistem yang disebut Klang Valley Integrated Rail System.

Pertama kali mencoba kereta api di Malaysia ketika tahun 2006, saat saya masih berstatus mahasiswi. Dan yaa bisa dibilang waktu itu saya norak luar biasa. Hahaha. Pokoknya foto sana sini dengan berbagai pose. Maklumlah, di negara sendiri belum pernah naik kereta api. Karena kereta adanya di Pulau Jawa dan Sumatera saja sementara saya tinggalnya di Pulau Sulawesi. Hiks. Pada kunjungan berikutnya yaitu saat saya telah berstatus istri. Saya sudah agak kalem. Hitung-hitung jaga image di depan suami yang baru melewati sebulan masa pernikahan. Selanjutnya ketika status saya naik menjadi ibu, bertualang bersama bocah umur satu tahun.

Bandar Tasik Selatan (BTS)

Pengalaman kami naik kereta di Malaysia, khususnya saya pribadi begitu berkesan karena melalui tiga masa status kehidupan yaitu saat single – sebagai istri – sebagai ibu. Semuanya dengan pengalaman yang sangat baik. Stasiun dan keretanya bersih. Meski ada beberapa kereta yang tua tapi sangat terawat. Suasana di kereta juga tenang dan tertib. Tenang di sini maksudnya bukan tanpa suara sama sekali sih memang. Beberapa kali saya masih mendengar sedikit obrolan, hanya saja cenderung berbisik-bisik. Hal lain yang tidak luput dari perhatianku adalah integritas penumpang yang patut diacungi jempol. Mereka tidak makan dan minum di atas kereta, priority seat pun diberikan kepada yang berhak.

2. Singapura

Negara tetangga lainnya yang pernah kami kunjungi adalah Singapura. Jaraknya yang sangat dekat, memungkinkan kita melakukan perjalanan meski hanya sekadar day trip dari Batam. Berangkat pagi lalu kembali lagi malam hari. Punya waktu lebih banyak tentu akan lebih baik lagi untuk menikmati beragam keseruan yang ada di Negeri Singa ini.

Transportasi umum di Singapura adalah bis dan kereta api. Kereta di sini disebut dengan MRT atau Mass Rapid Transit, sebuah sistem angkutan cepat yang menjadi tulang punggung sistem kereta api di Singapura. Pertama kali naik MRT ketika saya masih mahasiswi semester 4. Lalu kembali lagi berkunjung ke Singapura di tahun 2016 saat saya telah berstatus ibu dengan satu anak usia setahun. Lalu saat ini kami berdomisili di Batam di mana waktu tempuh untuk menyebrang dengan ferry ke Singapura kurang dari sejam memberi peluang untuk sering-sering berkunjung ke sana.

Sama halnya dengan Malaysia, pengalaman naik kereta api di Singapura juga sangat berkesan. Stasiun dan keretanya bersih. Penumpang pun tertib, meski sebagian dari mereka adalah warga Indonesia. Saya jadi heran, kenapa ya kesadaran warga kita bisa tertib gitu kalau di negara orang? Kenapa sih tidak melakukan hal yang sama di negara sendiri?. Satu hal yang sangat mencolok dari MRT di Singapura adalah selalu ramai dan sibuk meski bukan di saat rush hours. Nah, agar urusan transportasi umum selama di Singapore lancar jaya, saya biasanya membeli kartu sakti bernama Ez Link. Tinggal tap and go!

3. Hong Kong

Kereta api di Hong Kong lebih dikenal dengan sebutan MTR atau Mass Transit Railways. Wait, gak usah protes dulu kalau saya salah ketik ya sebab di Hong Kong memang disebut MTR sementara dunia secara global lebih familiar dengan sebutan MRT.

MTR adalah transportasi utama di Hong Kong dengan banyak jaringan metro yang menjangkau pusat kota dan seluruh Pulau Hong Kong bahkan hingga ke negara seberang, ShenZhen. Sedangkan khusus untuk bagian utara Pulau Hong Kong, secara ekslusif dilayani oleh Tramways yang menghubungkan Central (distrik bisnis utama Hong Kong) dengan Victoria Peak.

Tarif MTR di Hong Kong mengacu pada pembagian zona dan tipe penumpang : dewasa, pelajar dan khusus. Para pelajar di Hong Kong usia 12 – 25 tahun mendapat tarif pelajar di semua jalur kecuali kereta bandara Airport Express. Sedangkan yang masuk ke dalam kategori khusus adalah anak-anak berusia di bawah 12 tahun dan lansia di atas 65 tahun yang tarifnya setengah tarif dewasa. Tarif ke semua stasiun dalam satu zona sama dan naik seiring bertambahnya jarak terutama jika menyebrang pelabuhan.

Selama berada di Hong Kong, kemana-mana kami naik MTR menggunakan octopus card, kartu sakti sejenis e-money. Kesan pertama saya naik MTR ‘melongo’ melihat orang-orang begitu cepat berjalan di stasiun namun tetap tertib. Jalannya bahkan seakan-akan dalam satu irama super cepat : tap tap tap. Di beberapa tempat bahkan tertulis besar-besar sign board “No Waiting”. Semua orang bergerak cepat dan sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Saya melongo bukan hanya karena pergerakan orang yang serba cepat. Tapi juga karena outfit yang mereka gunakan. Cowok-cowok oriental berjas rapi dan rambut klimis menenteng tas kulit bermerek, anak-anak sekolah dengan seragam yang keren dan cewek-cewek stylish dengan office look yang menawan. Kebanting banget dengan pakaian dan gaya kami yang apa adanya. Hahaha.

Saya dan suami benar-benar linglung di hari pertama. Jetlag dengan lingkungan yang berbeda drastis. Kami sering ditabrak tidak sengaja oleh orang yang berjalan di stasiun karena kami sering berhenti sesuka hati untuk bertanya. Warga lokal yang kami tanyai pun 90℅ tidak bisa berbahasa Inggris. Saat naik MTR kami juga banyak nyasar-nyasarnya. Namun alhamdulillah sudah bisa beradaptasi di hari berikutnya hingga hari terakhir kami di Hong Kong. Jalur MTR-nya memang banyak, tapi setelah dipelajari ternyata mudah dipahami. Setidaknya ada lima jalur utama dari total 11 jalur yang sering diakses oleh traveller yaitu Airport Express Line, Tsuen Wan Line, Island Line, Tung Chung Line, Disneyland Resort Line. Kalau tidak mau repot-repot menghapalkan namanya, kelimanya juga bisa di bedakan berdasarkan warna yaitu jalur toska, jalut merah, jalur biru, jalur oranye, dan jalur pink.

4. Shenzhen

Daerah China lainnya yang sempat kami kunjungi adalah Shenzhen. Berjarak sekitar satu jam perjalanan kereta dari Hong Kong. Untuk memasuki negara ini, diperlukan visa on arrival. Panduan pengurusan VoA Shenzhen bisa di baca di sini ya.

Hal yang tidak terlupakan dari pengalaman naik kereta di Shenzhen adalah menjadi pusat perhatian penumpang karena saya berhijab. Saat itu tahun 2013 dan pertama kalinya memasuki negara yang dijuluki windows of the world tersebut. Tatapan-tatapan aneh tak luput dari pandangan. Bahkan salah seorang penumpang terang-terangan bertanya, meski dengan bahasa Inggris yang terbata-bata : apa yang kamu kenakan di kepala? Bukankah itu seharusnya dipakai saat winter? Sekarang kan sedang musim panas. Entah dia mengerti atau tidak, sayapun menjelaskan sebisanya karena kemampuan bahasa Inggriskupun juga tidak sebagus native speaker. Namun kulihat dia manggut-manggut lalu tersenyum.

5. Jepang

Negara yang dijuluki The Land of the The Rising Sun adalah salah satu negara impianku sejak masih kecil. Hal ini dikarenakan sedikit banyak oleh pengaruh dari bacaan dan tontonan anak 90’an yang seringkali disuguhi manga atau film anak secara marathon dari pagi hingga malam. Sebut saja Doraemon, Ninja Hattori, Dragon Ball, Sailormoon, Card Captor Sakura, Samurai X, Inuyasha, Detektif Conan, Death Note, Jiraiyya, Jiban, Kesatria Baja Hitam, Gungdam, Yonkuro, Ranma 1/2, Pokemon, dan masiiihhh banyak lagi.

Saya jatuh cinta dengan Jepang bukan hanya dari manga dan film kartunnya. Tapi secara keseluruhan dari sisi budaya, makanan dan bahasanya. Sampai-sampai saya pernah kursus Bahasa Jepang hanya untuk bisa menulis hiragana dan katakana serta berbicara dalam Bahasa Jepang. Ehm… Saking cintanya terhadap Jepang, anak-anak kami namanya pun berbau Jepang. Hihihihi.

Bersyukur di awal musim semi tahun 2015, kami berkesempatan mengunjungi negeri sakura ini. Merasakan langsung betapa dinginnya spring untuk kita yang terbiasa tinggal di negara tropis. Melihat langsung keindahan bunga sakura aneka warna yang sedang bermekaran, merasakan sensasi kemajuan teknologi yang canggih namun tetap mempertahankan budaya dan kearifan lokalnya, misalnya dalam hal transportasi seperti kereta api.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan naik shinkansen yaitu kereta peluru yang kecepatannya mencapai 300 km/jam. Kebayang kan? Perjalanan yang biasa ditempuh selama 1 jam dengan kereta reguler bisa dilalui hanya 10 menit saja dengan shinkansen. Itu adalah pengalaman yang luar biasa. Unforgettable!

6. Belanda

Belum pernah saya naik kereta dengan stasiun berbau sangat pesing selain di Amsterdam, Belanda. Kalau cuma satu atau dua stasiun saja, mungkin saya masih maklum. Tapi hampir rata-rata stasiun yang kami datangi di sana ternyata baunya sama. Baik stasiun utama maupun stasiun kecil. Apalagi kalau stasiun tua. Duh… Sumpah, saat menulis bagian ini aromanya kok melayang-layang di kepala sih, bikin mual.

Selain stasiunnya yang bau, toilet di Belanda juga tidak ada yang gratis. Sekali masuk mesti bayar 1 euro. Please deh, masa’ untuk sekali pipis saja harus merelakan Rp 16.000. Hiks. Dan terkait dengan kereta apinya, pengalaman kami alhamdulillah nyaman walaupun beberapa kali sempat naik kereta yang usianya sudah puluhan tahun. Suasana di dalam kereta tertib, namun tidak setenang di Singapore. Orang-orang asyik bercerita di atas kereta layaknya kita orang Indonesia.

Untuk naik kereta api di Belanda sebenarnya tidak ada pemeriksaan tiket. Hal ini bertujuan untuk melatih kejujuran warganya. Meski demikian, jangan coba-coba nakal ya dengan sengaja tidak membeli tiket di mesin. Sebab jika terkena random checking, dendanya bisa berlipat-lipat dari harga tiket tersebut.

7. Belgia

Seumur-umur, saya menangis dan memohon-mohon kepada masinis ketika naik kereta di Brussels, Belgia. Hal itu karena pak suami terjebak di dalam kereta yang sudah siap berangkat sementara saya tertinggal di luar bersama satu anak balita dan bayi umur 5 bulan tanpa pegangan uang dan dokumen sama sekali. Cerita selengkapnya silahkan baca di sini.

Kereta di Belgia tidak semua stroller friendly sehingga kadang menyulitkan orang-orang yang membawa anak seperti kami. Suasana di dalam kereta tenang. Petunjuk seperti kamar mandi, restoran, dan gerbong dibuat dalam empat bahasa yaitu Perancis, Belanda, Jerman dan Bahasa Inggris.

8. Austria

Jika ditanya dimana pengalaman berkereta api terbaik versi kami, maka dengan lantang akan saya jawab di Austria! Stasiun dan keretanya bersih, sangat terawat. Toiletnya gratis dan wifi di mana-mana yang bisa dikases secara cuma-cuma termasuk di dalam kereta. Tidak cukup sampai di situ, kita juga dimanjakan dengan soket colokan listrik di atas kereta. Jadi anti mati gaya dalam perjalanan berjam-jam. Suasana di kereta juga sangat tenang, bahkan suara berbisik pun tidak terdeteksi.

Kenyamanan ini tidak hanya di rasakan di kota-kota besar seperti Wina/Wien/Vienna. Tapi hingga ke pedesaannya sekalipun seperti Hallstatt, Obertraun dan Salzburg. Justru saya yang agak keki kalau Ochy tiba-tiba berteriak atau baby Yui yang tiba-tiba menangis. Meski orang-orang tidak mempermasalahkan, tapi saya dan suami justru merasa tidak enak sendiri. Huhuhu.

9. Inggris

Kalau di Belgia hampir terpisah dengan suami di atas kereta, di Inggris kami benar-benar harus terpisah di kereta dan jam berbeda. Hal itu kejadian di Manchester. Jadi ceritanya, berbekal pengalaman kurang menyenangkan di Belgia tahun lalu, kamipun sepakat jika selama di Inggris ini yang masuk duluan ke dalam kereta adalah saya dan anak-anak. Oh iya, kereta api di Inggris disebut dengan underground atau The Tube yang merupakan sistem angkutan cepat tertua di dunia.

Ketika saya dan anak-anak telah berada di dalam underground, pintu sudah tertutup rapat dan dalam sekejap keretapun melaju meninggalkan suami dengan koper segede gaban. Kami saling pandang tanpa suara melalui jendela kaca. Semakin menjauh hingga tak nampak lagi. Saya berada di dalam underground tanpa tiket, paspor dan uang sama sekali. Hanya menenteng satu balita dan menggendong seorang bayi. Orang sekitar nampak prihatin, tapi saya berusaha untuk mengalihkan perhatian. Takut air mataku keluar sendiri karena merasa dikasihani.

Stasiun demi stasiun terlewati. Pikiranku sibuk menduga-duga, di stasiun mana saya harus turun untuk menunggu suami yang tertinggal. Tanganku menggenggam kuat lengan mungil Ochy sementara tangan yang lainnya kupakai untuk berpegangan karena kami tidak kebagian kursi di kereta yang sangat full. Yui disanggah gendongan yang menempel di badanku.

Saya mencoba tegar dengan merapalkan do’a di dalam hati : semoga tidak terkena random check petugas. Semoga Ochy tenang selama perjalanan. Semoga Yui tidak menangis minta nenen. Semoga bisa bertemu kembali dengan suami.

10. Skotlandia

Di Edinburgh, saya menyaksikan secara nyata bagaimana manusia dan hewan hidup berdampingan dengan damai, tidak terkecuali dalam hal transportasi umum seperti kereta api.

Jika lazimnya suatu negara tidak mengizinkan membawa hewan peliharaan di atas kereta, lain halnya dengan Skotlandia. Di kereta, mudah sekali dijumpai penumpang yang bepergian bersama anjingnya, kucing dan hewan peliharaan lainnya. Unik sih, tapi entah mengapa saya merasa tidak nyaman. Apalagi saat duduk berdekatan dengan anjing cihua-hua yang suka sekali mengendus-endus koperku. Pernah juga sampingan dengan anjing jenis Siberian Husky yang memandangnya saja sudah bikin ketakutan meskipun mulutnya di tutup dengan alat pelindung. Saya selalu kebayang kalau tiba-tiba anjing itu mengamuk. Habislah kami satu gerbong dikoyak-koyak daging dan tulangnya. Hiii.. Ngeri, naudzubillah.

Nah, inilah 10 pengalaman naik kereta kami di negara orang. Kira-kira yang paling seru menurut kalian di negara mana? 😁

***

Tulisan ini adalah kolaborasi saya bersama Asri Lestari yang selanjutnya dapat dengan mudah diakses di hashtag #emakpejalan

Mbak Asri adalah sosok emak yang luar biasa dan energik. Pejalan tangguh! Saya bahkan tidak mengenal kata menyerah darinya. Pertama kali mengenalnya saya begitu kagum. Apalagi tulisan-tulisannya sangat inspiratif. Tema kolaborasi kami pekan ini adalah kereta.

4 comments

  1. Waaahhh nampak seru sekali. Tp yang di Inggris itu kebayang galau banget ya. Trs akhirnya gmn tuh? Ada kisah lengkapnya? hehehe

    Austria kayanya seru juga dikunjungi. Selain Switzerland yang sudah lama masuk dalam wishlist. Tp entah kapan bisa berkunjung kesana hehehe

    Like

    • Alhamdulillah meski tegang, terutama saat petugas berkeliling dan akhirnya penumpang sebelahku yg kena random check.

      Di stasiun tempat saya turun, saya harap2 cemas. Tiap kereta yang berhenti, kuharap ada suami di sana yang turun lalu buru2 meluk. Tapiii… Berharap ternyata menyakitkan. Hahaha

      In the end, syukurlah suami datangnya 20 menit kemudian kalu gak salah.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s