Ketenangan Teluk Yoetefa

Pagi setelah sarapan, kami menunggu teman Papa di lobby yang akan menjemput dan mengajak berkeliling Kota Jayapura. Setelah semalam deal tidak akan ke Skow, daerah perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Meski saya sebenarnya ngebeeett banget ke sana tapi pak suami ogah karena jaraknya cukup jauh (4 jam pp) dan tidak ada hal menarik yang bisa dinikmati di sana, menurutnya. Padahal ya sejak dulu saya punya impian menjajaki batas-batas wilayah Indonesia dengan negara tetangga. Dan saya paham bahwa daerah perbatasan itu memang tidak memiliki wisata yang bisa memanjakan mata namun saya selalu penasaran dengan masyarakat di sana, bagaimana mereka menjalani hidup di garis batas antar negara. Bagi saya justru itulah hal menariknya. Tapi yaaa begitulah, selera ketertarikan setiap orang memang berbeda. Well, abaikan. Anggap saja saya punya alasan untuk bisa kembali ke Jayapura suatu saat nanti. Hihihihi

Menu sarapan hotel tidak mewah. Tapi cukup mengenyangkan. Nasi goreng kecap dengan toping telur dadar. Teh dan kopi menjadi teman sajiannya. Meski sederhana tapi Ochy sangat suka. Lahap dan habis satu porsi piring. Sangat cukup menjadi energi cadangan untuk agenda jalan-jalan hari ini.

Mobil kami melaju pelan menjauhi area hotel pukul 8 pagi. Teman papa (Suca) menjemput kami bersama istrinya yang juga hamil sekitar lima bulan sepertiku. Namanya Mia, cantik dan sangat ramah. Kami langsung akrab berasa sudah kenal bertahun-tahun. Pagi ini kami akan diajak ke Teluk Yoetefa di Tanah Hitam, taman wisata dengan hamparan hutan Mangrove yang diapit dua buah tanjung di sisi kanan kirinya. Dari deskripsi Mia, saya bisa membayangkan betapa cantiknya teluk Yoetefa itu.

Cukup dekat ternyata jaraknya dari kota Jayapura. Kami berkendara hanya sekitar 15 menit saja. Begitu mobil berhenti, saya melongo ke jendela. Dalam hati melongos : Lho, itu teluknya? Apa bagusnya tempat berpasir hitam begini. Hanya tumpukan batu yang sedikit menjorok ke pantai, istimewanya dimana? Hahaha. But hey… be careful of your thought! Tidak baik mengambil kesimpulan di awal.

Turun dari mobil saya terheran-heran. Kok kita mengarah ke kiri padahal pantainya jelas-jelas di sebelah kanan. Rupanya Teluk Yoetefa ini memang luar biasa. Selain diapit tanjung di sisi kanan kirinya, juga berhadapan dengan garis Pantai Hamadi. Hijau dengan rimbun Mangrove dan tanaman sagu dipadu biru air laut yang tenang dengan view gunung di sekelilingnya. Tuh kan, makanya tetaplah berprasangka baik. Tempatnya memang kece abis pokoknya as Mia described it to me selama di perjalanan tadi.

Di sana ada beberapa saung berwarna biru terang untuk tempat duduk dan bersantai di atas laut. Ada beberapa perahu motor juga yang bersandar. Satu dua perahu datang dan pergi mengangkut penumpang. Sayapun penasaran, ini orang-orang pada mau kemana ya? Rasa penasaran sayapun terjawab. Seolah memahami apa yang saya pikirkan, Mia membeberkan bahwa di tengah teluk Yoetefa ini ada beberapa pulau cantik yang didiami masyarakat asli Papua. Diantaranya pulau Tobati dan Enggros. Menariknya lagi ada lapangan timbul tenggelam. Heh?? Kayak gimana tuh ya? Kok kedengarannya keren. Jadi bukan hanya sinyal saja yang timbul tenggelam di Jayapura. Ternyata lapangan pun bisa timbul tenggelam. Hahaha. Rupanya lapangan yang dimaksud itu adalah daerah lapang berpasir yang akan nampak jika air sedang surut dan akan tenggelam jika air sedang pasang. Kok jadi kebayang pasir timbulnya Raja Ampat ya. Halah… kayak gue pernah ke Raja Ampat aja 😅😂

Saya penasaran sekali ingin ke pulau-pulau tersebut. Pasti akan sangat menyenangkan menjelajah dengan perahu. Tapi lagi-lagi saya harus mengurut dada. Kondisi saya yang hamil menjadi alasan pak suami menolak mentah-mentah melintasi laut dengan perahu motor warga lokal. Mia dan suaminyapun menyarankan hal yang sama demi keselamatan bersama. Ya ampuun… Kak Idu ini pengen aku gigit rasanya. Sudahlah batal ke Skow, sekarang gagal pula menikmati eksotisme Teluk Youtefa dari dekat. Okeh… okeeehh… ini menambah daftar panjang alasan untuk kembali lagi ke Jayapura suatu hari nanti. 😁😁

Senja di Waduk Antang

Mungkin tidak banyak yang tau hal menarik apa yang bisa kita nikmati di Antang. Sebuah pinggiran Kota Makassar yang sering dimarginalkan karena keberadaan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di daerah Tamangapa. Bau sampah menjadi pencemaran udara yang sudah pasti tidak bisa di hindari apalagi jika TPA tersebut belum menerapkan sistem sanitary landfill. Baunya bahkan menyeruak hingga berkilo-kilo meter jauhnya. Jika angin bertiup kencang, baunya bisa tercium hingga ke rumah orang tua saya.

Terlepas dari permasalahan sampah di Antang, ternyata ada satu tempat indah untuk menikmati sunrise maupun sunset yaitu di waduk Antang yang terhubung ke Borong dan Toddopuli. Dulu ketika saya masih gadis, jalan-jalan pagi ataupun sore menjadi kebiasaan saya menghabiskan waktu di tempat ini. Kadang sendiri, kadang juga ramai-ramai dengan teman. Naik sepeda, balapan sepatu roda atau sekedar jogging. Pernah juga menelusuri luas waduk dengan berjalan kaki karena merasa penasaran dimana ujungnya dan ada apa di sana. Padahal saat itu waduk Antang masih dipenuhi semak belukar, jalannyapun masih setengah aspal, setengah batu pengerasan dan timbunan tanah merah. Beda dengan sekarang yang sudah lebih terawat dan ramai. Jalannya sudah beton lengkap dengan terali besi di pinggir waduk sebagai pengaman. Belakangan malah dijadikan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan yang sering terjadi di pertigaan Antang-Ujungbori.

Sore itu tidak sengaja saya lewat di sana bersama bapak dan Ochy. Seperti kembali ke masa lalu, kenangan-kenangan di tempat ini terputar lagi. Saya melihat diriku yang lari berkejaran dengan anak-anak asuh di pinggir waduk. Duduk dan tertawa di aspal yang setengah jadi. Belajar dari alam adalah tema kami hari itu. Tak lama muncul lagi diriku menenteng sepatu roda berwarna pink. Bersama sahabat perempuan yang sangat tomboy, kami balapan hingga ke ujung batas pengunjung waduk yang ditandai pagar setinggi 2 meter berlapis portal besi. Dan dasar kami nakal, kami menerobos masuk dengan memanjat. Sepatu roda kami terlebih dahulu di lempar ke sebelah melalui celah pagar. Sahabatku yang tomboy itupun sudah berhasil menyeberangi pagar setinggi 2 meter itu. Sementara saya bernasib sial. Baru setengah memanjat, security sudah datang. Teriak-teriak sambil membawa tongkat kayu setengah lengan. Karena ketakutan, terpaksa saya mengambil jalan pintas karena tak mungkin mampu menyelesaikan rintangan pagar besi ini. Sayapun melompat ke samping yang tak lain adalah bagian waduk yang penuh air berupa kanal. Parahnya saya tidak bisa berenang, jadilah saya mangap-mangap. Syukurnya kedalaman kanal ini masih terjangkau dengan tinggi badanku sehingga saya tidak tenggelam.

Mengingat-ingat kejadian itu membuat tawaku pecah sekaligus bertanya-tanya apa kabarnya sahabat tomboyku itu? Puluhan tahun tak pernah berkomunikasi lagi sejak ia memutuskan merantau ke pedalaman Luwuk Banggai.

Seperti iklan dalam tayangan tv, muncul lagi gambar lain. Begitu cepat berganti. Kali ini saya melihat diriku dari belakang. Jalan berdua menyusuri pinggir waduk yang dipenuhi ilalang dan semak belukar. Tanah becek sisa hujan semalam tak menyurutkan niat kami. Rasa penasaran akan muara waduk ini telah meleburkan rasa takut kami akan hal-hal buruk yang bisa saja kami jumpai di pagi buta selepas subuh begini. Teman sejak berseragam putih abu-abu yang selalu bergairah untuk setiap petualangan baru. Teman yang selanjutnya menjadi sahabat karib lalu menjadi cinta dan sayangnya harus berakhir dengan penuh benci. Saling menyakiti satu sama lain. Hingga kita tak saling bicara lagi.

Begitulah… tak ada persahabatan dan cinta yang hadir di garis hidup kita tanpa meninggalkan bekas di sana. Seberapapun kita bahagia atau terluka atasnya.

Film lain yang mampir dalam benak tentang waduk ini adalah sekelompok anak abege yang sedang memasuki fase puncak kenakalan remaja. Terlihat saya dan lima orang teman bermain di pinggir waduk yang sedang dalam pembangunan. Salah satu diantara kami nekat terjun ke galian terdalam yang baru saja dikeruk oleh excavator. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga melakukan hal bodoh itu. Awalnya baik-baik saja. Tertawa dan menyombongkan diri akan kemampuannya. Diapun mengulanginya lagi. Berhasil, iapun menepuk-nepuk dadanya. Sekali lagi diulangi, naas kakinya menghantam batu dan mengalami dislokasi tulang. Reaksi refleks kami tentu saja tertawa alih-alih menolongnya terlebih dahulu. Mungkin jika kejadiannya sekarang, maka reaksi pertama kami adalah memfotonya lalu mengupload ke media sosial dengan berbagai caption dan hashtag.

Kenangan di tempat ini memang tidak akan ada habisnya. Dan saya mensyukurinya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membuat hari-hariku berwarna. Membuat saya bangga bahwa hidupku tidak berlalu begitu saja.

Saya meminta bapak untuk berhenti sejenak. Sementara beliau dan Ochy menikmati matahari sore, saya melanjutkan film kenangan di pinggir waduk.

Bagaimana sunset mu sore ini? Ada cerita apa di baliknya? Bagi cerita yuukk😊😊

5 Barang Wajib Saat Traveling Bersama Anak

Dulu kalau traveling, saya dan Kak Idu sangat percaya diri hanya membawa daypack saja meskipun untuk perjalanan jauh dan lama. Bagi kami ransel dipunggung terasa lebih ringkas dan nyaman dibawa pindah kemana-mana. Barang yang dibawapun gak banyak-banyak amat. Hanya beberapa potong baju buat di mix and match. Dan ajaibnya tetap sukses membuat tampilan ok untuk ootd-an.

Sejak punya anak, kalau mau traveling tuh ngurusin barang bawaan setidaknya seminggu sebelum berangkat. Jauh-jauh hari sudah harus prepare terutama bawaan buat si kecil Ochy yang gak ketulungan banyaknya. Berasa pengen angkut lemari aja deh pokoknya. Hahaha.

Berikut 5 barang yang wajib di bawa ketika traveling bersama anak berdasarkan pengalaman kami :

1. Trunki

Ochy and his trunki bus

Trunki ini koper khusus anak yang didesain sedemikian rupa sebagai tempat penyimpanan barang layaknya koper pada umumnya sekaligus bisa menjadi mainan anak. Meskipun ukurannnya kecil, tapi mampu menampung beban hingga 50 kg. Jadi kalau lagi pegal berdiri, saya kadang ikutan duduk di atas trunki jika tidak menemukan kursi. Hahaha.

Trunki Ochy sudah keliling kemana-mana baik perjalanan domestik maupun internasional dan terbukti memang sangat membantu kami terutama saat di ruang tunggu bandara atau ditempat-tempat menunggu lainnya. Soalnya bisa di ride on sehingga anak tidak merasa bosan. Anak bisa kayuh sendiri ataupun diajak main keliling tanpa ia capek berjalan kaki. Ukurannya yang cabin size membuat kita bisa membawanya ke atas pesawat dan karena dianggap sebagai koper khusus anak, barang bawaan seperti cairan diatas 100 ml bisa lolos dengan mudah untuk perjalanan internasional. Saya pernah membawa termos berisi air panas 350 ml dan air minum 500 ml di botol dan tetap bisa masuk cabin tanpa membuang isinya di gate pemeriksaan X-Ray. Asyiikkk!

Ride it on. Yyiiihhhaaa….!!

Selain itu, trunki juga membantu kemandirian si anak untuk terlibat menyiapkan sendiri barang-barangnya. Memilih barang apa saja yang ia inginkan sekaligus bertanggung jawab atas barang-barang tersebut. Memang sih bakalan masih berantakan susunannya di dalam trunki dan pada akhirnya kita tetap harus turun tangan untuk merapikan isi koper tersebut. But at least, he knows what he has to bring on.

Sekarang ini banyak sekali produksi trunki yang palsu alias abal-abal. Saran saya sih sebaiknya beli yang original karena insyaAllah kualitasnya terjamin. Mending mahal tapi sekali beli daripada murah tapi cepat rusak kan? Trust me, it saves your money more!

2. Baby carrier

Awal-awal Ochy masih bayi, baby carrier ini sangat penting dibawa ketika traveling bersama. Sangat mempermudah mobilitas kita apalagi jika sering berpindah-pindah tempat ataupun alat transportasi.

Baby carrier sangat beragam jenisnya. Dari yang standar dengan posisi depan belakang hingga yang lebih modern dengan enam posisi duduk yang nyaman buat anak seperti i-angle ataupun ergobaby hipseat. Harganyapun variatif sesuai model dan merk. Baby carrier pertama Ochy adalah yang biasa yang banyak dijual di toko-toko perlengkapan bayi. Dulunya sempat melirik ergobaby 4 position karena saat itu jenis hipseat belum diproduksi. Harganya sekitar 2,5 juta untuk produk original. Tapi karena kado aqiqah Ochy banyak yang ngasih baby carrier meskipun semuanya standar saja, sayapun mengurungkan niat membeli ergobaby tersebut. Pemborosan soalnya. Dan nyatanya, baby carrier standar ini juga cukup kuat. Terbukti ketika saya mengajak Ochy berkeliling Malaysia : menjelajahi Kuala Lumpur, Melaka, Johor Bahru dan Penang. Juga ketika mengeksplore Singapore.

Baby Carrier

Belakangan, dengan pertimbangan berat badan Ochy yang semakin bertambah, kamipun memutuskan membeli baby carrier jenis hipseat yang ada insert khusus infantnya sehingga bisa juga dipakai oleh calon adik Ochy yang sebentar lagi lahir, insyaAllah. Sementara baby carrier sebelumnya kita sumbangkan. Ini prinsip sederhana yang kami jaga dalam keluarga kecil kami. Boleh punya barang sejenis yang baru selama yang lama kita sedekahkan. Tentunya dalam kondisi bagus yang masih layak pakai ya!

Nah pengalaman pertama Ochy dengan si hipseat ini ketika kami melakukan perjalanan umrah ke tanah suci dan terbukti sangat membantu terutama dalam proses tawaf dan sai.

3. Stroller

Ka : di Masjid Nabawi Madinah dengan stroller Yoya. Ki : di Beachwalk Kuta dengan stroller baby elle.

Sekarang ini stroller menjadi barang wajib yang sepertinya harus dimiliki oleh ibu dengan bayi. Jangankan untuk ibu tipe traveller. Ibu-ibu yang doyan ngemall aja punya. Alasannya praktis untuk mempermudah mobilitas kita. Si baby bisa tiduran, duduk, main, makan sampai urusan buang air di atas stroller.

Stroller perdana Ochy merk baby elle dan sangat membantu kami selama tinggal di Denpasar terutama bagi saya yang kebanyakan ditinggal kerja suami dan kemana-mana hanya berdua saja dengan Ochy. Misalnya ketika belanja bulanan di supermarket atau ketika ngajakin jalan-jalan di lapangan renon pun ketika ke rumah sakit untuk imunisasi atau kontrol kesehatan bahkan ketika saya me time di salon untuk relaksasi. Karena yes! Menjadi ibu rumah tangga itu terkadang tingkat stressnya lebih tinggi. Bayangin aja, dari buka mata yang dipikirin tuh cucian piring, baju, ngepel lantai, bikin sarapan, bersiin rumah, mandiin anak, layani suami dan segudang pekerjaan lain yang seperti gak ada habis-habisnya. Gitu aja terus sampai malam. Maka relaksasi itu sangatlah penting! Apalagi bagi ibu menyusui karena sangat mempengaruhi kuantitas dan kualitas ASInya. Jadi sambil di massage, kita bisa tetap mengawasi si baby.

Stroller juga sangat membantu kami ketika melakukan perjalanan udara. Ukurannya yang cabin size memudahkan kita membawanya ke atas pesawat sehingga tidak perlu susah payah gendong anak dari terminal keberangkatan hingga boarding. Begitupun ketika travelling, pastinya memudahkan kita mengeksplore suatu tempat.

Stroller baby elle milik Ochy 90% materialnya dari besi. Sehingga cukup berat dibawa ketika dalam posisi dilipat. Karena itu saat mengajak Ochy traveling ke luar negeri, sekalipun saya tidak pernah membawa stroller ini. Belakangan hadir stroller merek yoyo yang memang didesain khusus travelling. Sumpah ngebet banget dengan fitur-fitur super praktisnya! Tapi setelah mengecek harganya, saya mundur teratur. Hahahhaha. Almost 10 juta bo! Hiks. Pengen sewa aja sih tapi gak nemu toko di Makassar yang menyewakan jenis stroller ini. Adanya merek yoya, buatan china yang sumpah miriiiipppp banget! Jika melihat sepintas, sangat sulit menemukan perbedaan keduanya. Nah si yoya ini diberandol dengan harga dibawah 2 juta saja lho. Wow! Namun demikian, saya tetap gak beli. Cukup menyewa di rental toys saja seharga 100 ribu untuk sebulan. Hahahahaha. Pilihan lainnya ada cocolatte pockit, harga di bawah 2 juta juga dan sangat ramping ketika dilipat. Tapi sayangnya meskipun ramping tapi tetap saja lebih berat dari yoya. 

4. Travel Cooker

Travel cooker

Saat traveling apalagi dengan budget pas-pasan maka membawa travel cooker adalah pilihan tepat. Sebab pastinya bisa hemat uang untuk makan. Selain hemat biaya, juga hemat waktu sih karena gak harus muter-muter cari restoran atau tempat makan. Dengan travel cooker kita bisa makan sepuasnya di kamar hotel pun kehalalannya sudah pasti terjamin karena bahan baku dan proses memasaknya kita sendiri yang siapkan. 

So far kami percaya dengan travel cooker maspion mec-3500. Satu set sudah lengkap dengan kompor listrik, panci, mangkok, sendok dan garpu. Ukurannya yang mini dengan desain minimalis tapi fungsi komplit yang maksimal cocok banget dijadikan teman jalan. Bisa dipakai masak nasi, sayur sup, tumisan, goreng nugget, ceplok telur, dll. Masaknyapun bisa sambil melakukan aktivitas lain seperti mandi, buang air, setrika baju, dll.

5. Setrika lipat portable

Sumber gambar : google. Gak sempat fotoin punya sendiri karena dibawa suami ke Timika

Tampil rapi dan kece saat traveling tentunya harus dong ya. Karena penampilan kita sedikit banyak membawa pengaruh atas penilaian orang lain terhadap diri kita. Saya dan Kak Idu sih sebenarnya bukan semata-mata karena alasan itu. Tapi karena kami memang merasa nyaman saja saat pakaian terlihat rapi. Apalagi saya berhijab. Menjaga penampilan terutama ketika traveling di negara-negara minoritas muslim menjadi misi saya pribadi. Kesan bahwa muslimah itu bersih, rapi dan tetap fashionable ingin saya bagikan kepada mereka. Seperti ketika di Hong Kong. Saya berkenalan dengan warga lokal yang cukup terkesima dengan hijab saya. Katanya, selama ini yang sering ia lihat di tv adalah model muslim yang fundamental, lusuh dan sering jadi pengemis di tempat-tempat umum jika bukan teroris dengan bom-bom molotov. Saat berkenalan dengan saya, dia mengaku pandangannya sedikit berubah. Yaa… meskipun saya tidak tau seberapa banyak perubahan itu. Tapi saya bersyukur, telah menjadi jembatan baginya mengenalkan muslim.

Begitupun ketika saya di Jepang. Saat itu saya dalam perjalanan menuju Kyoto. Saya berkenalan dengan warga lokal di kereta gara-gara menolong dia memungut barang-barangnya yang jatuh berserakan ketika kereta tiba-tiba berhenti. Berawal dari obrolan ringan asal usul hingga akhirnya merembet ke percakapan tentang keyakinan karena baginya cara berpakaian saya aneh. Sayapun bersyukur dengan momen itu karena setidaknya saya bisa mengenalkan bagaimana perempuan diatur cara berpakaiannya di dalam Islam.

Setrika lipat portable ini wajib banget dibawa ketika traveling. Selain tetap bisa menjaga penampilan kita rapi juga menghemat biaya laundry cyiint. Soalnya biaya setrika baju di luar negeri itu muahaaall, bagi kami sih! Bayangin aja, satu lembar baju bisa 50 ribu-an. Nah kalau 10 baju?? Apalagi membawa anak kecil pula yang dalam sehari bisa ganti 3-4 kali baju. Berasa kan mahalnya!

Nah itulah barang-barang yang wajib dibawa ketika traveling terutama saat membawa anak kecil. Semoga bermanfaat ya 😁😁

Kampili dan Pesona Bendungannya

Bulan Maret telah memasuki batas akhir. Tinggal hitungan jam, April segera menyapa. Ah… Waktu memang sangat ambigu ya. Kadang ia terasa begitu cepat berlalu dan di lain kesempatan terasa begitu lambat. 

Kami menutup bulan ke tiga ini dengan mengajak Ochy ke sebuah desa tak jauh dari Kota Makassar. Terlebih lagi lebih dekat dari rumah kami yang secara administratif telah masuk ke Kabupaten Gowa. Hanya sekitar 30 menit saja berkendara motor dengan kecapatan standar 40km/jam. Desa itu bernama Kampili yang populer dengan bendungannya yang terintegrasi ke Bili-Bili. 

Sore itu, selepas ashar kamipun berangkat. Bertiga, kami naik motor membelah jalan poros Makassar-Gowa. Meski langit sedikit mendung syukurnya hujan tetap menggantung di awan-awan kelabu hingga kami tiba kembali di rumah.

Cara menuju Bendungan Kampili

Tidaklah sulit untuk sampai ke Desa Kampili pun hingga ke bendungannya yang cantik dengan batu-batu cadas yang besar. Berikut saya uraikan secara lengkap bagaimana menuju bendungan Kampili :

1. Jika dari arah Makassar, teruslah melaju hingga ke jembatan kembar Gowa. Tepat di sisi kiri jembatan, ada belokan menurun. Nah… ikutilah jalan beton itu. Lurus saja hingga tiba di sebuah gapura bertuliskan selamat datang di Desa Kampili. Selama dalam perjalanan, kita akan melewati areal persawahan yang luas dan rumah penduduk yang terbagi dalam dusun. Beberapa diantara rumah penduduk itu terhampar gabah yang dijemur di pekarangan ataupun di pinggir jalan. Kegiatan menjemur gabah ini, oleh masyarakat setempat disebut dengan angngalloi.

2. Ketika tiba di persimpangan pasar Taipa Le’leng, ambillah arah ke kiri menuju kampus IPDN Sulsel. Dari sana, terus saja hingga tiba di gapura kampung KB Dusun Je’nemadinging. Jika sudah sampai di gapura ini tetaplah terus mengikuti jalan aspal hingga ujung yang ditandai bangunan bendungan beratap biru. Di sana akan ada dua jalur. Kedua jalur itu menuju spotlight wisata bendungan Kampili. Saya sarankan untuk mengambil jalur yang kedua. Selain jalannya yang beraspal mulus, di jalur ini kendaraan kita insyaAllah juga aman setelah membayar uang masuk sekaligus uang parkir yang dipungut masyarakat setempat sebesar Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 5.000 untuk mobil. Sementara di jalur pertama adalah jalur ilegal yang tanpa pungutan biaya apapun namun dengan risiko kehilangan kendaraan.

Secara umum, kondisi jalan menuju Desa Kampili sudah bagus. Meskipun tidak mulus sempurna karena di beberapa titik tertentu ada yang berlubang, berbatu dan berlumpur namun masih bisa dilalui kendaraan dengan baik.

Persimpangan di dekat Pasar Taipa Le’leng
Kampus IPDN Sulsel. Ikuti saja terus jalan aspal hingga mentok.
Gerbang kampus IPDN Sulsel
Jika telah sampai di gapura kampung kb ini, terus saja hingga mendapat bangunan bendungan beratap biru
Ini adalah ujung Desa Kampili sekaligus tempat dimana bendungan berada. Jalur pertama adalah ilegal dengan jalan berbatu tanpa aspal. Sementara jalur kedua adalah jalur resmi dengan pungutan biaya parkir kendaraan
Gerbang masuk ala kadarnya. Di sini kita harus membayar biaya parkir kendaraan

Mengapa harus ke Desa Kampili?

Kebanyakan orang ke Desa Kampili karena ingin menikmati bendungannya yang tak biasa. Begitupun dengan saya. Tapi nyatanya, selain menyuguhkan keindahan bendungan, Desa Kampili juga menawarkan kehidupan alami pedesaan yang bersahaja dan sarat akan nilai untuk disisipkan sebagai pelajaran kepada anak. Diantaranya :

1. Annanang dan Akkatto

Adalah kegiatan menanam bibit padi baru dan memanen padi lama. Masyarakat Kampili melakukannya secara bergotong royong dan penuh suka cita. Pemandangan yang sangat langka di tengah hiruk pikuk perkotaan. Ochy sendiri sangat menikmati jerami-jerami yang terhempas dari mesin sederhana maupun yang dipukul-pukul masyarakat secara manual ke sebuah bilah kayu agar padi-padinya rontok.

2. Angngalloi atau menjemur gabah

Padi-padi yang telah dirontokkan lalu dijemur di halaman rumah ataupun di pinggir jalan. Setelah itu akan datang mobil pick up berisi mesin penggiling untuk mengolah gabah menjadi beras siap konsumsi.

3. Akkalawaki atau mengembala

Hewan ternak yang digembalakan masyarakat Kampili adalah sapi dan kerbau. Biasanya dilakukan oleh pemuda-pemuda kampung bersarung. Selama dalam perjalanan, kami menikmati pemandangan gerombolan sapi dan kerbau yang digiring pulang oleh si pengembala.

4. Anak lebih mengenal bendungan dan fungsinya. Meskipun sama-sama menampung debit air yang banyak, kita bisa menyisipkan pelajaran tentang perbedaan pantai, laut, sungai, danau dan bendungan itu sendiri agar anak lebih memahami perbedaannya.

5. Kearifan lokal yang jarang atau bahkan tidak kita jumpai di kota-kota besar seperti keramahan penduduk, gotong royong dan kepolosan mereka akan kejujuran.

Berikut beberapa hasil dokumentasi di bendungan Kampili. Sayangnya langit mendung sehingga hasil gambarnya kurang cetar.

Ke spot ini harus melalui jalan menurun cukup tajam dengan batu-batu licin sehingga harus ekstra hati-hati
Batu-batu khas Bendungan Kampili. Saat kemarau, batu-batu ini akan tampak lebih epic.
Sisi atas bendungan tak jauh dari tempat parkir
Pose andalan. Karena cukup berbahaya, saya tidak berani menerbangkan Ochy tanpa dipegang.
Menuju batu-batu cadas bendungan. Curam dan licin.
Nih anak paling senang dah lari-lari di alam terbuka begini.

Saya sangat merekomendasikan kunjungan keluarga ke Desa Kampili. Selain biayanya murah meriah, banyak pelajaran yang bisa kita petik. Saya sendiri hanya mengeluarkan uang Rp 30.000 saja dengan rincian isi bensin Rp 20.000, parkir Rp 2.000 dan sisanya untuk beli snack dan minuman di warung tempat parkir kendaraan.

Ya ampuunn… kebayang gak sih? Tiga puluh ribu perak doang! Uang segitu bahkan tidak ada artinya jika dibawa ke mall. Beli secangkir kopi di starbucks aja gak cukup, man! Tapi di Desa Kampili, kita bisa ‘membeli’ pengalaman luar biasa tentang kehidupan alami perkampungan.

Umroh Saat Hamil 7 Bulan dan Membawa Anak 2 Tahun (Part 5 : Ibadah Umrah dan Makkah City Tour)

Sumber gambar : google

Makkah atau Mecca lebih terkenal dengan sebutan Mekah bagi orang Indonesia. Di sana terdapat masjidil haram dengan kakbah sebagai pusat qiblat bagi seluruh ummat Islam di dunia. Tempat yang menjanjikan ratusan ribu kali lipat ganjaran pahala atas kebaikan-kebaikan yang kita niatkan ataupun yang sedang kita lakukan.
Selama empat hari di Mekah, kami lebih banyak menghabiskan waktu di masjidil haram. Sejak tiba di hari pertama kami langsung menunaikan ibadah umrah. Keesokan harinya boleh melaksanakan ibadah umrah lagi untuk yang kedua baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga yang sakit parah dan tak ada harapan baginya untuk sembuh ataupun bagi keluarga yang telah meninggal. 

Masjidil Haram dengan kakbah sebagai pusat qiblat ummat Islam di dunia.
Masjidil Haram tampak luar dan dalam.

Bapak dan suami melaksanakan umrah untuk kedua kalinya dengan niat yang berbeda. Jika suami meniatkan umrah untuk dirinya sendiri, bapak meniatkannya untuk almarhumah ibunya. Saya sendiri tidak melakukan umrah lagi sebab ustad pembimbing berkali-kali mengingatkan agar di pikir baik-baik dulu sebelum menjatuhkan niat umrah sebab tawaf dan sai kali ini akan dilaksanakan sehabis dzuhur dimana matahari sedang panas-panasnya. Sedangkan jika kita tidak mampu menyelesaikan rukun umrah hingga tahallul nantinya, akan dikenakan denda atau dam berupa penyembelihan hewan ternak onta ataupun kambing. Karena itu saat bapak dan suami beserta jamaah lainnya yang ikut umrah kedua, saya dan Ochy beristirahat di hotel saja sambil menunggu waktu ashar tiba.

Sebelum memulai umrah yang kedua, terlebih dahulu kami diajak berkeliling kota Mekah mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti bukit tsur, jabal rahmah, padang arafah, muzdalifah dan mina serta jabal nur dimana terdapat gua hira di dalamnya.

1. Bukit Tsur

Bukit di belakang kami itu adalah Bukit Tsur.

Bukit Tsur terkait erat dengan hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Di bukit ini terdapat sebuah gua, tingginya sekitar 1.25 meter dengan luas 3.5 meter persegi yang disebut Gua Tsur. Nah di gua inilah Rasulullah SAW bersama sahabatnya Abu Bakar Asshiddiq r.a bersembunyi selama tiga hari tiga malam dari kejaran kaum kafir Quraisy yang hendak membunuh beliau. Abu Bakar sendiri sempat cemas sebab hanya sejengkal saja jarak mereka dengan pasukan Quraisy. Namun berkat pertolongan Allah SWT, merekapun selamat. Adalah sarang laba-laba yang tebal di mulut gua beserta burung merpati yang sedang bertelur yang mengecoh pasukan Quraisy tersebut. Mereka menyangka tidak mungkin ada manusia yang bisa memasuki gua ini tanpa merusak jaring laba-laba itu.

2. Jabal Rahmah

Jabal rahmah dengan monumen Adam-Hawa di puncaknya

Jabal rahmah adalah bukit batu dengan ketinggian sekitar 70 meter yang terletak di tepi padang Arafah. Tempat ini disebut-sebut sebagai saksi abadi kisah pertemuan Nabi Adam A.S dengan istrinya Siti Hawa yang telah terpisah sekian lama sejak mereka dikeluarkan dari surga oleh Allah SWT karena tergoda rayuan iblis untuk mendekati pohon terlarang.

Bapak berhasil naik hingga ke monumen Adam-Hawa di puncak Jabal Rahmah.
View dari puncak Jabal Rahmah. Sumber foto : dokumentasi bapak

Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke bumi dan ditempatkan secara terpisah hingga suatu hari Allah berkenan mempertemukan mereka kembali di jabal rahmah. Sebagai pengingat momen pertemuan itu, pemerintah Arab Saudi membangun sebuah monumen dengan lebar 1.8 meter dan tinggi 8 meter di tempat yang dipercayai menjadi pertemuan kedua manusia pertama tersebut. Meskipun tidak ada keutamaan mengunjungi tempat ini, nyatanya tak pernah sepi dari peziarah terutama jamaah asal Indonesia.

3. Padang Arafah

Padang arafah yang sepi karena bukan musim haji

Arafah adalah tanah datar yang dikelilingi bukit batu dan menjadi tempat pertemuan manusia terluas di muka bumi setiap tanggal 9 Dzulhijjah dalam penanggalan hijryah. Pada hari itu jutaan ummat Islam dari berbagai pelosok dunia melakukan inti ibadah haji yaitu wukuf atau berdiam diri sejak tergelincirnya matahari hingga terbenamnya matahari. Dalam ibadah haji, wukuf hukumnya wajib dan tidak sah haji seseorang sebelum melaksanakan wukuf. Wukuf ini menjadi gambaran tentang padang mahsyar di mana kelak manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya akan dikumpulkan bersama untuk dihisab perbuatannya selama hidup di dunia dulu.

4. Muzdalifah dan Mina

Muzdalifah adalah daerah terbuka antara Arafah dan Mina. Menjadi tempat yang penting dalam rangkaian pelaksanaan ibadah haji dimana jamaah diwajibkan untuk mabit atau singgah sejenak sejak tenggelamnya matahari hingga lewat tengah malam sambil mengumpulkan kerikil atau batu-batu kecil yang akan digunakan melempar atau melontar jumrah keesokan harinya di Mina.

Tenda-tenda tempat mabit di Muzdalifah. Sepi karena hanya dibuka khusus di musim haji
Apartemen tempat mabit di Muzdalifah khusus bagi anggota kerajaan Arab Saudi dan tamu kenegaraan dilihat dari bus
Masjid Al-Masy’aril haram di Muzdalifah

Di Kota Mina para jamaah haji melemparkan batu-batu kecil atau kerikil ke tiga tiang. Kegiatan ini disebut melontar jumrah sebagai simbol perlawanan manusia terhadap setan dan iblis sebagaimana diteladankan Siti Hajar saat Nabi Ibrahim membawa Nabi Ismail untuk disembelih atas perintah Allah SWT. Setan dan iblis tiada henti membujuk dan merayu Siti Hajar agar menghentikan langkah suaminya. Menurut setan, seorang ibu tidak akan sampai hati anaknya dikorbankan apalagi anak yang kehadirannya sudah sangat lama dinantikan. Perkiraan setan ternyaya meleset. Bukannya menuruti bisikan setan, Siti Hajar malah melemparinya batu berkali-kali.

Bangunan lantai empat di belakang itu adalah tempat melempar jumrah.

5. Jabal Nur

Jabal Nur dengan gua hira di puncaknya

Jabal Nur terletak sekitar 6 km di sebelah utara masjidil haram dengan tinggi puncak kurang lebih 200 meter. Di puncak jabal nur terdapat sebuah lubang kecil dibelakang dua batu raksasa. Lubang kecil itulah yang disebut dengan gua hira, tempat pertama kali Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yaitu QS. Al-Alaq ayat 1-5 melalui perantaraan Malaikat Jibril.

Panjang  gua hira sekitar 3 meter dan lebar 1.5 meter serta tinggi sekitar 2 meter. Dengan luas dimensi seperti itu, gua ini hanya cukup digunakan untuk sholat dua orang. Untuk mendaki puncak jabal nur setidaknya diperlukan waktu 1 jam. 

Jamaah yang hendak mendaki jabal nur untuk berziarah ke gua hira.

Kami sendiri hanya menyaksikan jabal nur dan gua hira dari bus karena harus segera kembali ke hotel agar tidak ketinggalan sholat dzuhur secara berjamaah di masjidil haram. Lalu melanjutkan ibadah umrah kedua bagi jamaah yang turun mengambil miqot di masjid ji’ranah tadi.

Hari ketiga di Mekah kami diajak ke daerah Hudaibiyah untuk melihat padang pasir dan mengunjungi peternakan onta serta masjid hudaibiyah yang terkenal dalam sejarah Islam sebagai tempat disepakatinya perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah dan Quraisy Mekah. Dulunya di sana juga terdapat pohon yang disebut baiturridwan dimana para sahabat melakukan baiat atau sumpah setia kepada Rasulullah SAW. Namun di zaman khalifah Umar Bin Khattab pohon itu ditebang karena sering disalahgunakan oleh kaum muslimin yang lemah imannya untuk mengambil berkat. 

Padang pasir di Hudaibiyah. Sayangnya tidak terawat. Beberapa sampah plastik saya jumpai dimana-mana.
Peternakan onta di Hudaibiyah. Di sini kita bisa menikmati susu onta segar yang baru di perah. Juga dijual kencing onta yang konon mampu mengobati penyakit kronis seperti DM, kolesterol, dll.

Masjid hudaibiyah yang penuh sejarah itu, sekarang hanya puing-puingnya saja dan terkesan diabaikan sejak dibangun masjid yang baru di sampingnya. Nah bagi jamaah yang ingin melakukan ibadah umrah yang ketiga kalinya dipersilakan mengambil miqat di masjid hudaibiyah yang baru ini. Saya dan suami tidak melakukan umrah lagi dengan pertimbangan menyiapkan energi untuk malam nanti karena kami akan melakukan tawaf wada atau tawaf perpisahan dengan baitullah. Lain dengan bapak, ia tetap semangat untuk melakukan ibadah umrah yang ketiga dengan niat untuk almarhum ayahnya (kakekku).

Puing-puing Masjid Hudaibiyah di zaman Rasulullah SAW.
Masjid Hudaibiyah yang baru, di bangun persis di samping masjid Hudaibiyah original sebagai tempat untuk mengambil miqat.

Hari ke empat di Mekah, kami harus meninggalkan masjidil haram menuju bandara King Abdul Azis di Jeddah untuk kembali ke tanah air.

Sedih sekali rasanya akan meninggalkan Mekah. Semoga diberi kesempatan untuk kembali lagi. Amiin yaa Rabb.

Umroh Saat Hamil 7 Bulan dan Membawa Anak 2 Tahun (Part 4 : Madinah-Mekah)

Hari ini adalah hari terakhir kami di Madinah dan dijadwalkan tiba di Kota Mekah sebelum maghrib untuk selanjutnya melaksanakan ibadah umrah selepas isya nanti. Tiga hari di Madinah rasanya singkat sekali. Belum puas hati ini berdialog dengan Tuhan di masjid Nabawi dalam sujud-sujud yang panjang.

Kami meninggalkan hotel di Madinah pukul 10 pagi dan singgah di Masjid Bir Ali untuk mengambil miqot atau menjatuhkan niat umrah. Karena itu bagi jamaah sudah diharuskan memakai pakaian ihram sejak meninggalkan hotel. 

Di depan masjid Bir Ali
Suami, Ochy dan bapak tampak dari belakang saat masuk ke area Masjid Bir Ali. Ochy belum kami pakaikan pakaian ihramnya. Rencananya nanti ketika telah tiba di Mekah saja.
Setelah sholat sunnat dan sholat ihram, semua jamaah segera ke bus untuk berniat umrah bersama-sama

Pakaian ihram bagi laki-laki adalah kain putih polos tanpa jahitan sedangkan untuk wanita bebas selama memenuhi syarat menutup aurat yaitu menutup seluruh anggota tubuh kecuali tangan dan muka. Oleh sebab itu, bagi wanita bercadar diharuskan membuka cadarnya. Meskipun pakaian ihram wanita bebas namun disunnahkan memakai yang sederhana saja. Sederhana dalam hal ini termasuk pemilihan warna yang tidak mencolok seperti putih, hitam, hijau, maroon, coklat dan abu-abu. Bagi jamaah dari Indonesia biasanya mainstream dengan warna putih untuk pakaian ihram. Di rombongan saya sendiri hanya saya yang tampak berbeda dengan pakaian berwarna hitam dan kerudung panjang coklat. Agak keki juga sih lain sendiri diantara ratusan jamaah Indonesia ini. Sampai-sampai saya memastikan kepada ustadz mutawwif tentang pakaian saya dan beliau membenarkan bahwa pakaian ihram bagi wanita memang tidak harus putih. Belakangan, karena merasa asing dan berujung tidak PD saya akhirnya mengganti baju dan kerudung serba putih di rest area sebelum masuk kota Mekah. Gak istiqomah ya saya! Huhuhuhu.

Sepanjang perjalanan Madinah ke Mekah akan melalui banyak gunung batu dan lahan-lahan kering yang tandus. Dominasi warna coklat gunung, lahan berpasir, onta serta beberapa bangunan kotak menjadi pemandangan di sisi kanan kiri. Beberapa ada yang hijau oleh pohon-pohon karno dan pohon pinus tapi tidak banyak.

Gunung batu sepanjang jalan Madinah-Mekah
Beberapa daerah yang hijau oleh pohon. Selebihnya tandus dan berpasir.

Tepat pukul 5 sore kami akhirnya masuk hotel di Mekah dan langsung diarahkan ke lantai restoran untuk makan sembari menunggu pembagian kunci kamar. Sama seperti di Madinah, satu kamar akan berisi 4 orang jamaah. Dan lagi-lagi masalah serupa terjadi. Keributan antara jamaah dan tour leader karena pembagian teman kamar yang tidak sesuai dengan yang diharapkan jamaah.

Di restoran hotel. Menunggu pembagian kamar hotel dari tour leader.

Sebenarnya kejadian ini sudah dialami ketika di Madinah. Banyak jamaah yang terpisah-pisah dari kerabat mereka termasuk kami yang awalnya harus terpisah kamar antara saya, suami, anak dan bapak. Alasan tour leader membagi kamar ia kelompokkan berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tanpa memperhatikan usia dan kekerabatan jamaah. Kebayang gak sih Ochy tidurnya dengan orang lain? Saya dengan orang lain begitupun dengan suami dan bapak. Kalau kami sih ya gak papa karena sudah dewasa tapi Ochy itu lho? Emang bisa dia tidur jauh dari ortunya? Masih 2 tahun lho! Mana dia tipe anak ketek mama pula itu. Kalau tidur malam maunya cuma sama saya. Hahahaha. Puyeeeng pala princess deh. Jadilah hingga pukul 2 pagi kami belum juga beranjak menuju kamar yang telah dibagikan tour leader itu. Ogah dong biarkan anak tidur terpisah. Nah ustadz mutawwifnya heran melihat kami yang sudah hampir subuh tapi belum dapat kamar juga. Ditanyalah apa masalahnya. Dan beliau geleng-geleng kepala mendengarkan kisah kami lalu memberikan kami satu kunci kamar khusus untuk ditempati kami bertiga saja dengan jendela kamar yang menghadap ke Masjid Nabawi pula. Alhamdulillah.

Kamar kami di Madinah

Nah kejadian di Madinah tempo hari ternyata terulang lagi di Mekah gara-garanya si tour leader merombak kembali pembagian kamar yang sudah diatur baik di Madinah dengan alasan mengelompokkan jamaah sesuai dengan teman satu busnya. Cari pekerjaan baru sih sebenarnya si tour leader ini soalnya waktu di Madinah kan sudah pada komplain tuh hingga akhirnya para jamaah yang saling tukar kamar sendiri agar bisa bersama dengan teman, kerabat ataupun keluarga mereka. Seharusnya sih pas tiba di Mekah ini, teman sekamar yang sudah diatur jamaah waktu di Madinah kemarin, itu dilanjutkan saja biar tidak kacau balau begini. Biar tidak ada lagi jamaah yang marah-marah hingga tour leadernya dibuat menangis. Nah inilah yang saya maksud pada tulisan sebelumnya bahwa si tour leader masih kurang pengalaman menghandle jamaah. Syukurnya sih kasus kami selalu happy ending. Alhamdulillah selalu diberi kemudahan oleh Allah termasuk urusan kamar ini. Ketika di Madinah dapat kamar dengan 3 ranjang, di Mekah ini kamarnya dengan 4 ranjang. Awalnya pengen ajak bapak sekalian di sini, tapi teringat dengan tante sahabatku yang dititipkan ke kami. Tantenya ini sudah lumayan lansia, mungkin sekitar 60-70 tahunan gitu. Kamipun memberi tawaran buat sekamar bersama meskipun agak ragu mengingat Ochy yang tidak bisa diam. Suka melompat-lompat di kasur, guling-gulingan, bongkar seprei dan selimut atau main kuda-kudaan dari bantal yang disusunnya. Takutnya beliau malah tidak bisa tidur nyenyak dan terganggu dengan Ochy. Tapi ternyata si tante malah memilih sekamar dengan kami dan meninggalkan dua temannya yang lain di kamar sebelumnya.

Kamar kami di Mekah

Ba’da isya semua jamaah telah berkumpul di lobby. Dengan bimbingan ustadz mutawwif, berbondong-bondonglah kami menuju masjidil haram untuk melakukan tawaf, sai hingga yang terakhir yaitu tahallul atau bercukur. Sebelum berangkat, kami dibentuk dalam formasi yang kokoh dimana jamaah laki-laki membentuk pagar manusia di barisan depan, samping dan belakang sementara semua jamaah perempuan ditempatkan di tengah-tengah untuk mencegah jamaah lain yang hendak menerobos saat tawaf nanti sehingga kami tidak terpisah-pisah. Ochy juga ikut memakai pakaian ihram untuk tawaf bersama, digendong oleh suami dengan ergobaby dan menempati barisan samping kanan. Dengan kalimat-kalimat talbiyah berkumandang, kamipun melangkah mantap.

Papa dan Ochy dengan pakaian ihram, sesaat sebelum turun ke lobby hotel

Gelombang manusia dari pelbagai penjuru dunia berputar searah mengelilingi kakbah sebanyak tujuh kali saat tawaf. Hari ini adalah hari jum’at, dimana jamaah biasanya mencapai puncak kepadatan. Beberapa kali rombongan kami harus berhenti sejenak karena padatnya jamaah malam itu. Meskipun di kiri kanan dan depan belakang saya terlihat begitu berdesakan tapi entah mengapa saya tetap saja merasa lapang terutama di daerah perut. Saya tidak mengalami himpitan, kaki terinjak ataupun disenggol seperti keluhan jamaah lainnya. Saya seperti bisa bergerak dengan leluasa. Sulit untuk saya jelaskan tetapi ini saya alami hingga putaran terakhir selesai. Ochypun alhamdulillah tenang saja selama tawaf. Tidak menangis dan tidak rewel sama sekali. Ia bahkan dengan semangat berteriak “maju… majuuu” ketika jamaah harus berhenti sejenak karena lautan manusia yang padat merayap. Sayangnya kami tidak memiliki dokumentasi apa-apa karena memang memfokuskan untuk menjalankan ibadah umroh. Tak ingin menginterupsi kekhusyu’an ibadah dengan jeprat jepret kamera. 

Kepadatan jamaah saat tawaf di kakbah. Sumber gambar : instagram.

Setelah tawaf selesai, kamipun sholat sunnat, berdo’a dan segera menuju bukit shafa untuk melakukan sai. Sai ini juga tujuh putaran dari bukit shafa ke bukit marwah namun suasananya tidak sepadat jamaah saat tawaf di kakbah. Semuanyapun berjalan lancar alhamdulillah. Hanya di putaran terakhir, langkah saya mulai melemah, pinggang terasa sakit karena menahan beban di perut dan paha bergetar hebat. Namun saya tidak pernah kehilangan semangat untuk menyelesaikannya. Kisah Siti Hajarlah yang terus menguatkan saya. Bagaimana dulunya ia bolak balik dengan kondisi medan yang jauh lebih berat. Panas, berbatu, dalam keadaan haus pula dan hanya berdua dengan sang bayi di gendongan tangannya. Sementara saya sudah difasilitasi sedemikian baik. Lantai berubin, mengilap dan nyaman. Pendingin udara memenuhi atap dan dinding. Air zam-zam tersedia di kanan kiri. Melakukannyapun tidak seorang diri tapi bersama jutaan orang, terlebih ada suami saya disampingku. Maka saya tidak punya alasan untuk berhenti! Meski langkah kaki semakin pelan dan tertinggal jauh dengan jamaah lainnya, ini tetap harus diselesaikan. 

Sai dimulai di sini. Foto diambil sehari setelah umrah karena saat umrah saya tidak membawa kamera apapun.

Ochy dan suamipun mulai merasakan ujiannya. Diputaran terakhir ini, Ochy menangis. Mungkin kesakitan karena pakaian ihramnya bersinggungan dengan baby carrier membuat pahanya terasa tidak nyaman. Kamipun melepas bagian atas gendongan dan menyisakan hipseatnya saja untuk diduduki Ochy yang berarti tangan suami harus menjadi pengganti bagian atas gendongan yang dilepas itu. Berjalan dan sesekali berlari kecil di tempat-tempat tertentu (biasanya ditandai dengan lampu hijau) sambil memeluk Ochy.

Ka : Sai diputaran terakhir, Ochy digendong sambil dipeluk. Hingga akhirnya ia tertidur. Ki : selepas tahallul yang menandakan rukun umrah telah sempurna dijalankan. Foto didokumentasikan oleh jamaah lain karena kami tidak membawa hp sama sekali. Lalu ia mengirimkannya ke kami via wa. Alhamdulillah mbak yang fotoin selain cantik, juga baik hati 😚😚
Lampu hijau di belakang itu berarti kita harus berjalan cepat atau lari-lari kecil sepanjang area tersebut

Saat tiba di bukit marwah putaran terakhir, banyak jamaah telah melakukan tahallul atau bercukur dan kami berdua tidak dapat menahan tangis. Mata basah begitu saja tanpa bisa dibendung. Setelah suami memotong beberapa helai rambutku, spontan kami berpelukan dengan Ochy yang sudah tertidur di gendongan suami, masih dengan tangis yang pecah. Sungguh, ini semua tidak akan berhasil kami lalui jika tanpa kemurahan hati Allah kepada kami.

Umroh Saat Hamil 7 Bulan dan Membawa Anak 2 Tahun (Part 3 : Madinah City Tour)

City tour hari pertama di Kota Madinah dijadwalkan akan mengunjungi pemakaman Baqi’, Masjid Ijabah, gunung uhud, Masjid Quba dan perkebunan kurma. Beberapa diantaranya dikunjungi secara langsung selebihnya hanya dinikmati dari atas bus. Karena kita tetap mengejar pahala sholat berjamaah di Masjid Nabawi, maka sebelum dzuhur kami akan diantar kembali lagi ke hotel. Itulah sebabnya pagi-pagi sekali selepas dhuha dan sarapan, bus yang akan membawa kami keliling Madinah sudah harus berangkat.

Total bus yang diberangkatkan sebanyak 10 bus pagi itu. Dan saya sekeluarga menempati bus E, grup bus yang sama sejak keberangkatan kami dari Jeddah ke Madinah beberapa hari yang lalu dengan tour guide bernama Pak Halim, pemuda asal Madura tapi telah menetap di Arab saudi sejak tahun 2008. 

Secara umum Pak Halim sangat menguasai profesinya sebagai tour guide. Cerdas, berwawasan luas, lugas, informatif dan memiliki sense of humor yang bagus sehingga perjalanan kami benar-benar terasa enjoy. Cara penyampaiannya begitu menyentuh membuat kami seolah-olah ikut merasakan kejadian waktu itu. Seperti saat melintasi gunung uhud. Perasaan kita dibuat berkecamuk berbagai rasa. Sedih dan kecewa di waktu yang bersamaan. Begitupun di tempat-tempat bersejarah lainnya. Kisah yang diceritakan membuat saya pribadi larut di dalamnya. Berikut tempat-tempat yang kami kunjungi beserta kisah yang terkandung dibalik peristiwa tersebut :

1. Pemakaman Baqi’

Sumber gambar : http://www.republica.co.id

Biasa juga disebut Jannatul Baqi’. Merupakan pemakaman utama di Kota Madinah dan termahsyur dalam sejarah Islam karena sekurang-kurangnya 10 ribu orang sahabat dan keluarga Nabi Muhammad SAW dimakamkan di sini. Diantaranya istri-istri Rasulullah seperti Aisyah, Hafsah dan Saudah serta anak-anak dan cucu beliau yaitu Fatimah Azzahrah, Ruqayyah, Zainab, Ummi Kultsum, Ibrahim dan Hasan bin Ali.

Kompleks pemakaman ini tidak jauh dari Masjid Nabawi dengan luas kurang lebih 138 ribu meter persegi yang terdiri dari tanah yang lembut dan tidak berbatu-batu. Pagar tembok dan jeruji besi yang tinggi mengelilinginya. Pemakaman Baqi’ terbuka bagi peziarah dari selepas subuh hingga pukul 09.00 pagi waktu setempat serta setelah ashar hingga menjelang magrib. Saat itu kami tidak turun ke lokasi, hanya melihatnya dari atas bus saja sembari tour guide menceritakan kisah dan sejarah tentang pemakaman ini.

2. Masjid Al-Ijabah

Masjid Ijabah di pagi hari

Masjid Al-Ijabah berjarak 385 meter di utara Baqi’ dan berada di jalan raya As-Sittin atau King Faisol Road. Menurut sejarah, dulu di masjid ini Rasulullah SAW memohon tiga permintaan kepada Allah SWT. Dua diantaranya dikabulkan sementara permohonan ketiga tidak. Permohonan itu adalah agar ummatnya termasuk yang di Madinah tidak dibinasakan dengan paceklik atau musim kemarau yang panjang. Permintaan ini langsung dikabulkan oleh Allah SWT. Permohonan selanjutnya adalah agar ummatnya termasuk yang di Madinah tidak ditenggelamkan sebagaimana ummat Nabi Nuh. Inipun dikabulkan oleh Allah SWT. Lalu permohonan beliau yang terakhir agar tidak terjadi permusuhan diantara ummatnya. Inilah permohonan yang tidak dikabulkan oleh Allah SWT. Masjid ini menjadi saksi bisu betapa besarnya rasa cinta Rasulullah SAW kepada kita ummatnya.

3. Gunung Uhud

Gunung Uhud yang membentang sepanjang 7 km di kota Madinah

Biasanya disebut juga dengan Jabal Uhud, sebuah tempat dengan nilai sejarah yang penting bagi ummat Islam. Gunung Uhud merupakan gunung tertinggi dan terbesar di Madinah dengan ketinggian 350 meter dan terbentuk dari batu granit warna merah kecoklatan yang membentang dari tenggara ke barat laut dengan panjang 7 km dan lebar 3 km. Di lembah gunung inilah pernah terjadi perang besar antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy yang disebut dengan perang uhud.

Perang uhud mengisahkan kekalahan ummat Islam dimana memakan banyak syuhada diantaranya 70 orang pemanah yang turun dari bukit Uhud karena terlena dengan harta rampasan atas kemenangan sementara mereka. Padahal Rasulullah SAW telah meminta agar mereka tetap berada di atas bukit. Saat itulah tentara Quraisy yang tersisa menghabisi para pemanah dan juga syuhada lainnya termasuk paman Rasulullah SAW yaitu Hamzah bin Abdul Muttalib. Saking dengkinya kepada Rasulullah atas kekalahan kaum Quraisy pada perang badr sebelumnya, khusus paman beliau yaitu Hamzah bin Abdul Muttalib dibunuh dengan tombak lalu dikeluarkan organ hatinya dan dimakan mentah.

4. Masjid Quba

Suasana Masjid Quba dari luar. Selalu penuh dengan jamaah karena keutamaan sholat yang dijanjikan di masjid ini.

Masjid Quba adalah masjid pertama kali yang dibangun dalam peradaban sejarah Islam. Masjid ini dibangun oleh Rasulullah SAW bersama-sama dengan sahabat dan kaum muslimin lainnya. Terdapat keutamaan di masjid ini yaitu mendapatkan pahala umrah sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadist “barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian mendatangi masjid Quba lalu ia sholat di dalamnya maka baginya pahala seperti pahala umrah” (HR. Tirmidzi No.298 dan Ibnu Majah No.1401)

Lorong-lorong di Masjid Quba

Untuk masuk ke dalam Masjid Quba ini juga perlu keikhlasan dan kesabaran ekstra karena banyaknya jamaah sehingga berdesak-desakan. Jika telah mendapat tempat untuk sholat, segeralah sholat di sana. Saat kita sholatpun, jamaah lainnya masih ada yang melangkah di depan kita jadi pastikan dapat tempat yang cukup memungkinkan agar terhindar dari injakan jamaah saat sujud. Saya sendiri bersyukur mendapat tempat sholat di ujung dinding yang berdekatan dengan pilar masjid sehingga cukup terhalangi dari jamaah yang lalu lalang.

Suasana di dalam Masjid Quba yang padat jamaah di area perempuan.
Ochy juga sempat ikut sholat. Ruang sholat untuk laki-laki lebih leluasa sehingga Ochy dapat sholat dengan baik.

Di sekitar Masjid Quba banyak gerobak penjual yang menawarkan kurma, coklat, pashmina, sorban, parfum, dan lain-lain. Harganya memang sangat murah jika dibandingkan di tempat lain tapi keasliannya diragukan.

Salah satu gerobak penjual coklat di halaman Masjid Quba. Katanya sih coklat Turki asli. Tapi karena sudah diwanti-wanti sama tour guide tentang banyaknya barang palsu yang beredar di sini saya urungkan niat untuk membelinya.

5. Perkebunan Kurma

Jujur saja sebelum tiba di sini, saya membayangkan sebuah kebun kurma yang berhektar-hektar luasnya. Menyaksikan pohon kurma secara langsung. Rupanya ini adalah sebuah pusat perbelanjaan. Saya yang tidak terlalu doyan belanja cukup kecewa awalnya tapi mengamati jamaah yang kalap terutama jamaah dari Indonesia menjadi pemandangan yang asyik tersendiri. Lucu juga melihat ibu-ibu yang kantong belanjaannya sampai diseret-seret saking berat dan banyaknya. Atau dialog antara penjual dan pembeli yang tawar menawar. Penjual di sini dipastikan fasih semua berbahasa Indonesia. Mungkin saking seringnya mereka meladeni jamaah dari Indonesia.

Kurma yang dijual di sini katanya dipetik langsung dari pohonnya
Tokonya dipenuhi jamaah Indonesia
Yak! Dipilih-dipilih. Ayoo bu yang santai sajalah belanjanya. Hahaha

Sebagai buah tangan, saya membeli coklat dan kurma seperlunya saja. Sebelum deal membeli, kita diberi kesempatan untuk mencoba tester agar tau persis rasa yang hendak kita beli. Testernya ini mau dimakan sekilo pun (jika mampu tentunya) selama masih berada dalam toko, hukumnya halal dan boleh-boleh saja.

Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya, kami tiba kembali di hotel sebelum dzuhur. Makan siang lalu ke Masjid Nabawi untuk sholat berjamaah. Setelahnya acara bebas lagi sesuai dengan kemaun jamaah sendiri-sendiri. Overall, kami sih suka dengan itinerary travel agent yang seperti ini. Memberi waktu yang luang sehingga kami yang notabenenya senang mengeksplore bisa jalan-jalan sendiri ke tempat yang kami inginkan.

Umroh Saat Hamil 7 Bulan dan Membawa Anak 2 Tahun ( Part 2 : Madinah)

Di depan Masjid Nabawi

Pertama kali menginjakkan kaki di Kota Madinah, hati bergetar untuk alasan yang tidak jelas. Saya sungguh tidak mengerti mengapa demikian tapi merasakan getarannya begitu kuat hingga air mata meluncur begitu saja. Saat menceritakannya kepada suami di kamar hotel, ternyata diapun mengalami hal serupa. Mungkin kisah Rasulullah yang diceritakan oleh tour guide selama di perjalanan tadi yang membuat kami begitu terharu. Membayangkan kehidupan Rasulullah SAW di masa lalu yang yatim piatu sejak kecil, berdakwah dengan tantangan taruhan nyawa demi kami ummatnya agar tidak terjerat dalam kejahiliyahan. Atau mungkin juga karena kecintaan kami kepada kota ini, tempat yang kami harapkan bisa datangi sejak baligh. Entahlah… saya cuma bisa mengungkapkan betapa getaran di hati meluluhkan segenap ego diri, menghadirkan kecintaan mendalam kepada sosok Rasulullah SAW.

Suasana Kota Madinah. Banyak gunung batu yang mengelilingi

Rasa syukur tak henti-hentinya kami panjatkan. Begitu banyak kemudahan yang diberikan Allah SWT sejak meninggalkan tanah air hingga akhirnya tiba di tanah haram Madinah. Hal yang paling saya khawatirkan adalah Ochy. Bagaimana jika dia rewel selama di perjalanan? Nah… kalau dia pup di pesawat? Atau di bus? Soalnya dia hanya berhenti ngunyah saat tidur saja. Dan jika menyesuaikan kebiasaannya, dalam sehari dia bisa buang air besar dua kali. Duuhh… gak kebayang repotnya. Tapi alhamdulillah Ochy sangat mengerti. Selama di pesawat maupun di bus anteng-anteng saja. Ia bahkan menunaikan ‘setor hajatnya’ justru setelah kami tiba di kamar hotel. Kemudahan-kemudahan itu semua tentu tidak lepas dari kemurahan hati Allah dan berkat do’a dari orang-orang yang mencintai kami.

Hotel kami di Madinah : Alwarisy Safar. Sangat dekat dengan pintu masjid Nabawi No.15

Keberadaan kami di Madinah tidak disia-siakan. Jarak Masjid Nabawi yang cuma sepelemparan batu dari hotel memudahkan kami untuk melaksanakan sholat di sana. Subuh itu juga untuk kali pertama kami menunaikan dua rakaat sholat fardhu di masjid yang menjanjikan seribu kali lipat pahala. I’tiqaf di masjid hingga sholat dhuha lalu kembali ke hotel untuk sarapan.

Masjid Nabawi saat payung-payung raksasanya menguncup di subuh hari.

Suasana di restoran hotel sudah padat jamaah. Meja makan yang tersedia sudah terisi penuh. Riuh suara piring, sendok dan manusia beradu. Kamipun memutuskan untuk makan di kamar saja. Lalu istirahat karena hari ini agenda bebas yang dijadwalkan oleh pihak travel. Jujur saja saya masih jetleg. Perjalanan udara 11 jam dari Makassar ke Jeddah dilanjut perjalanan darat 6 jam dari Jeddah ke Madinah membuat saya masih oleng, sempoyongan. Jika berdiri, lantai yang saya pijak serasa bergerak. Karena itu mengisi agenda hari ini dengan istirahat maksimal adalah pilihan tetbaik. 

Perbedaan waktu yang cukup jauh antara Makassar dan Madinah ternyata sangat berefek bagi kami. Tidur kami bablas hingga menjelang sore yang berarti di Makassar telah masuk waktu malam. Waktu di Makassar lima jam lebih cepat daripada Madinah. Sayang sekali, kami ketinggalan sholat berjamaah dzuhur. Parahnya lagi, waktu sholat akan segera berakhir karena sebentar lagi adzan ashar berkumandang. Rasanya sedih sekali. Jauh-jauh ke sini untuk niat ibadah eh malah keenakan tidur! Nyesal itu emang bikin nyesek ya.

Tak ingin terulang lagi, sebelum magrib kami sudah ke masjid. Stroller yang kami bawa sangat membantu untuk ‘mengunci’ Ochy di tempatnya ketika kami sedang sholat. Ochy tipikal anak yang super aktif soalnya. Jika dibiarkan dia bisa lari kemana-mana. Sementara jumlah jamaah di masjid Nabawi tidak terkira banyaknya. Nah untuk meminimalisir risiko kehilangan anak, Ochy sholat bersama saya di pelataran masjid karena stroller tidak bisa dibawa masuk ke dalam masjid. 

Kepadatan jamaah di pelataran Masjid Nabawi shaf perempuan

Hari-hari berikutnya kami naikkan level keberanian kami untuk Ochy. Ke masjid Nabawi tanpa stroller lagi, ikut sholat bersama suami di shaf laki-laki. Sebagai gantinya, kami bekali Ochy dengan permen chacha yang jika di gerakkan akan berbunyi dengan harapan bisa menghibur Ochy sehingga ia tenang-tenang saja di tempatnya. Karena sudah tidak membawa stroller, sayapun bisa masuk ke dalam masjid. Saya begitu terpana dengan desain interior masjid Nabawi yang indah. Terutama pada kubahnya yang bisa membuka dan menutup. Di dalam masjid Nabawi inipula tersebar deretan tabung-tabung berisi air zam-zam, dingin ataupun biasa yang bisa kita ambil sepuasnya. 

Pilar-pilar khas Masjid Nabawi
Ruang terbuka di atas adalah kubah yang bisa membuka dan menutup. Pada gambar ini kubahnya sedang membuka sehingga cahaya matahari dan sejuknya angin memenuhi masjid
Salah satu tempat pengambilan air zam-zam di dalam masjid.

Berdasarkan cerita suami, dia jadinya sholat kurang khusyuk karena selalu was-was saat Ochy meninggalkan shaf. Di rakaat pertama bahkan ia batalkan karena mengejar Ochy yang sudah sekian meter darinya. Syukurnya rakaat-rakaat berikutnya berlangsung aman hingga salam terakhir.

Pada kesempatan lainnya, Ochy tiba-tiba hanya ingin ikut sholat dengan saya saja. Saya agak risau sih mengingat kondisi saya yang sedang hamil besar. Takutnya tidak bisa mengimbangi gerakan Ochy yang begitu lincah lari kesana kemari diantara jutaan jamaah. Tapi kami tetap memberanikan diri tanpa stroller dan membiarkan Ochy berbaur. Meski ada rasa takut membayangi, tapi saya kuat-kuatkan bahwa penjagaan Allah adalah yang terbaik. Saya tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Dan benar saja! Selama sholat berjamaah berlangsung, Ochy tetap di tempatnya mengikuti gerakan sholat hingga selesai.

Anak ini sebentar saja tidak diperhatikan, sudah jauh lari ke tempat lain. Paling gak bisa diam pokoknya.

Keesokan harinya, kami diagendakan ke Raudah. Sebuah tempat yang sangat mustajab untuk memohon kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadist bahkan diriwayatkan bahwa Raudah adalah taman-taman surga. 

Raudah terletak di dalam Masjid Nabawi dan terbuka 24 jam untuk laki-laki tapi hanya di jam-jam tertentu untuk perempuan yaitu pukul 8 -11 pagi saja dan setelah isya. Raudah adalah tempat antara rumah Rasulullah SAW (makam Rasulullah) dengan  mimbar beliau yang ditandai dengan karpet hijau diantara karpet merah Masjid Nabawi. Kita dianjurkan memperbanyak istigfar dan sholawat ke atas Nabi sebelum memasuki Raudah. Oh iya, sebelum masuk ke masjid Nabawi tas kita akan diperiksa oleh petugas. Tidak diperbolehkan membawa kamera selain kamera HP saja. Nah karena di tas saya ada kamera mirrorless, saya mengeluarkannya terlebih dahulu dan oleh pembimbing jamaah yang menemani kami di sampirkan ke lehernya dengan posisi kamera di punggung. Jilbabnya yang besar membuat kamera tersembunyi. Meskipun kamera saya akhirnya lolos, tetapi saya tidak menggunakannya sama sekali selama di dalam masjid. Karena itu saya tidak mempunyai dokumentasi apa-apa tentang raudah karena juga tidak membawa HP saat itu.

Jika telah berada di karpet ini, berarti kita telah di Raudah. Sumber gambar : instagram.

Tidaklah mudah untuk memasuki Raudah. Butuh perjuangan, kesabaran dan keihklasan ekstra karena harus berdesak-desakan sebab jumlah jamaah yang tidak sebanding dengan luas Raudah itu sendiri. Jamaah akan dikelompokkan berdasarkan bahasanya. Indonesia mendapat antrian terakhir bersama dengan bangsa-bangsa lainnya yang berbahasa melayu. Saya sendiri harus antri hampir 2 jam sebelum akhirnya dipersilakan masuk oleh petugas.

Pengelompokan jamaah berdasarkan bahasanya. Petugas bercadar itu sangat fasih berbahasa melayu. Sumber gambar : instagram

Sebelumnya pembimbing jamaah dari travel berkali-kali memberitahu saya agar berhati-hati dan sebaiknya tidak perlu terlalu ke dalam karena perut saya yang sangat buncit. Jika telah menunaikan sholat sunnat 2 rakaat, saya dianjurkan untuk segera ke pintu keluar sebab dikhawatirkan akan tersenggol dengan jamaah lainnya yang bisa berakibat fatal pada kandungan saya yang sudah 7 bulan 1 minggu. Tapi Allah maha pemurah. Saya seperti diberi fasilitas khusus. Tangan saya tiba-tiba ditarik oleh seorang petugas bercadar, membawa saya ke dalam dengan penjagaan yang bebas hambatan jamaah. Diberi kesempatan sholat sunnat, sholat taubat, sholat hajat dan sholat dhuha di shaf paling depan, hanya beberapa meter dari makam Rasulullah. Meskipun tidak bisa melihat langsung makam Rasulullah karena ada tabir khusus diarea perempuan yang menghalanginya, namun rasanya tetap seperti begitu dekat dengan beliau. Air mata tak henti-hentinya mengucur.

Suasana di dalam Raudah yang padat jamaah. Di sebelah tabir putih itu adalah makam Rasulullah SAW. Sumber gambar : instagram

Suami tak kalah menarik kisahnya di Raudah bersama Ochy. Setelah antri bersama jamaah lainnya, tiba-tiba dia diusir keluar antrian oleh petugas karena membawa anak kecil. Sang petugas marah karena menurutnya Raudah tidak children friendly. Bagaimana jika anak terjepit jamaah? Bagaimana jika sesak oleh himpitan jamaah? Ke Raudah boleh saja tetapi jangan membawa anak kecil apalagi masih berumur 2 tahun begini! Ia bahkan disuruh kembali ke Indonesia saja karena membahayakan keselamatan anak. Tapi alasan sederhana yang dilontarkan suami justru membuat petugas terenyuh dan menggerakkan hatinya untuk memberi fasilitas khusus yang bebas antrian, sholat dengan nyaman tanpa desakan jamaah, berdiri begitu dekat dari makam Rasulullah SAW. Alasan sederhana yang diucapkan oleh suami adalah karena dia dan Ochy sangat mencintai Rasulullah makanya membawa serta anak ke Raudah.

Suami dan Ochy di Raudah. Karpet yang berwarna hijau abau-abu itulah yang menandai area Raudah sedangkan karpet merah di sebelahnya tidak termasuk area Raudah. Sumber foto : dokumentasi suami.
Makam Rasulullah SAW yang bisa dilihat dari Raudah area jamaah laki-laki. Dari area perempuan tidak bisa terlihat langsung karena ada tabir yang menghalanginya. Sumber foto : dokumentasi suami

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Percayalah, pergi bersama anak itu membawa berkah. Kemudahan-kemudahan insyaAllah terbuka lebar.

Umroh Saat Hamil 7 Bulan dan Membawa Anak 2 Tahun (Part 1)

Ketika saya memasukkan keyword umroh saat hamil di pencarian google atau kata kunci umroh with baby, jujur tidak banyak artikel yang membantu. Mungkin karena tidak sesuai dengan kondisi saya sebab informasinya rata-rata umroh saat hamil di bawah 7 bulan, mentoknya 6 bulan. Adapun tentang usia kandungan yang sudah masuk ke semester tiga, artikel-artikel yang ada tidak menganjurkan untuk melakukan ibadah umroh mengingat dibutuhkan kekuatan fisik untuk melakukan rukun-rukun umroh terutama saat tawaf dan sai yang harus berkeliling selama tujuh putaran pun susah dapat izin terbang perjalanan jarak jauh. Galaulah hati ini. Bagaimana jika saya batal berangkat (lagi)?

Saya tidak lantas berhenti berusaha. Pencarian informasi terus saya lakukan termasuk tanya-tanya ke teman, kerabat maupun sesama blogger di medsos. Do’apun tak putus-putus dipanjatkan. Hasrat ke Baitullah sudah sedemikian besar membuat saya mencoba segala kemungkinan yang ada.

Hal pertama yang perlu saya lakukan adalah mengecek kondisi kesehatan saya dan calon baby terlebih dahulu sekaligus meminta surat layak terbang dari dokter kandungan yang menangani saya selama kehamilan kedua ini di RS. Siloam Makassar. Setelah di periksa oleh dokter, kondisi saya dinyatakan baik dan sehat tapi ada sedikit masalah dengan calon baby karena posisinya sedang sungsang. Menurutnya, melakukan penerbangan jauh apalagi untuk ibadah umroh cukup berisiko. Namun diakhir kalimatnya beliau meneguhkan pendirianku untuk tetap berangkat karena ini adalah ibadah. Setiap tujuan kebaikan insyaAllah akan diberi kekuatan oleh Tuhan, begitu nasihat beliau sambil membekali saya beberapa vitamin dan penambah darah.

Bagi ibu hamil, memang tidak sebebas yang lainnya untuk melakukan perjalanan udara. Berdasarkan peraturan internasional, penerbangan bagi ibu hamil setidaknya dengan usia kandungan 12 week – 32 week atau dari 3 bulan – 8 bulan. Saat itu usia kehamilanku masih 30 week sehingga memenuhi syarat penerbangan. Surat izin terbang pun diterbitkan. Alhamdulillah one step closer!

Hal lain yang paling diwanti-wanti sebagai syarat melakukan perjalanan umroh adalah kartu kuning yang dikeluarkan oleh Depkes sebagai bukti telah menjalani vaksin meningitis. Kartu ini bisa didapatkan di kantor kesehatan bandara maupun pelabuhan. Satu ampul vaksin ditebus dengan harga Rp 350.000/orang. Bagi ibu hamil TIDAK BOLEH melakukan suntik meningitis karena membahayakan kesehatan ibu dan janin. Syukurnya saya telah jauh-jauh hari mendapatkan vaksin meningitis yaitu sebelum saya hamil, sehingga kartu kuning sebagai syarat perjalanan umroh telah saya kantongi. Oh iya, vaksin ini masa berlakunya hingga 2 tahun. Jadi kalau sudah ada niat untuk umroh, sebaiknya segera vaksin khususnya bagi muslimah sebelum keburu hamil nanti. Hehehe.

Surat izin terbang dan kartu kuning sudah digenggam, selanjutnya persiapan untuk berangkat. Karena saya membawa anak 2 tahun yang super aktif, maka kondisi kesehatan anak juga diperiksa terlebih dahulu. Alhamdulillah Ochy dinyatakan sehat dan juga layak terbang.

Tentang umroh membawa anak ini sebenarnya keluarga besar menyarankan agar Ochy dititip saja karena kondisi saya yang sedang hamil besar yang tentu sangat mudah kelelahan. Apalagi Ochy termasuk tipikal anak super aktif yang menguras banyak energi untuk menjaganya. Tapi keputusan saya dan suami sudah bulat untuk tetap membawa Ochy kemanapun kami pergi. Saya tidak ingin disiksa rasa rindu yang ujung-ujungnya membuat ibadahku tidak berjalan lancar karena kepikiran terus dengan anak di rumah.

Bismillah… kamipun mantap melangkah. Kami percaya, perjalanan bersama anak insyaAllah selalu membawa berkah.

Labbaik allahumma labbaik. Labbaika laa syarika laka labbaik. Innalhamda. Wanni’mata. Laka walmulk laa syarika laak. 

Ya Allah… kami datang memenuhi panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Kami memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kekuasaan adalah milikMu. Tiada sekutu bagiMu.

Tulisan ini saya buat sebagai referensi bahwa ibu hamil dengan usia kandungan 7 bulan boleh melakukan perjalanan umroh selama memenuhi syarat-syarat yang telah ditetepkan. Semoga bermanfaat ya!

Umrah Backpacker Atau Umrah Reguler?

Tanggal 7-15 Maret 2017 yang lalu akhirnya kami berangkat juga menuju tanah suci. Destinasi yang telah lama kami nanti-nantikan sebagaimana ummat muslim lainnya. Ini adalah perjalanan perdana kami menggunakan jasa travel agent dengan harapan tidak terlalu direpotkan urusan itinerary dan booking-bookingan seperti perjalanan kami sebelum-sebelumnya sehingga bisa lebih fokus beribadah selama di tanah haram : Madinah Almunawarrah dan Mekah Al mukaramah. 

Sebenarnya kami sempat melirik umrah backpacker tapi setelah dikalkulasi biayanya ternyata ikut paket tour travel agent ini justru lebih murah dan mudah. Sebagai gambaran, umrah backpacker setidaknya 15-17 juta dengan catatan harus beli tiket sendiri dan biasanya tiket termurah dimulai dari Kuala Lumpur yang berarti harus beli tiket lagi dari kota asal ke Kuala Lumpur. Belum jika harus menginap dan biaya hidup selama transit di KL. Ada juga sih yang start dari Jakarta tapi tetap saja bagi yang tinggal diluar Jakarta harus membeli tiket pesawat lagi. Kita juga masih harus direpotkan dengan koper dan barang bawaan. Rasanya cukup repot bagi kami yang membawa anak 2 tahun dan saya sendiri dalam keadaan hamil 7 bulan 1 minggu. Sedangkan paket dari travel Abu Tours hanya 14 juta saja untuk 2 seat (Bapak dan suami) sedangkan 2 seat lainnya (saya dan Ochy) kebagian paket 16 juta tanpa harus dipusingkan tetek bengek urusan perjalanan. Pokoknya tinggal bawa diri saja. Pembayarannyapun dipermudah. Cukup DP 5,5 juta/orang dan sisanya bisa dicicil tiap bulan atau terserah kapan pas ada uang yang penting harus lunas sebelum keberangkatan. Alhamdulillah akhirnya ketemu agen travel yang pas banget buat kami. Mungkin jawaban atas kekecawaan kami pada travel-travel umrah sebelumnya tempat kami mendaftar dulu.

Harga paketnya sedikit tidak masuk akal sih untuk kelas travel agent karena biasanya dari travel lain mematok harga minimal 20 juta/orang karena itu saya sudah menyiapkan mental tau diri karena saya sangat meyakini konsep “ada mutu ada harga”. Makanya saya tidak muluk-muluk melambungkan ekspektasi terlalu tinggi menerima pelayanan wah. Meskipun dalam kenyataannya alhamdulillah land arrangement Abu Tours sangat memuaskan selama di tanah suci. Hotel, bus, makan, city tour dan tour guidenya Ok punya. Hanya tour leadernya saja yang sepertinya masih kurang pengalaman. Nah dengan memakai jasa travel agent, otomatis saya juga harus siap dengan planning mereka termasuk harus antri lama di beberapa tempat seperti imigrasi, toilet, tempat wudhu, dll mengingat jumlah jamaahnya yang berangkat mencapai 431 orang saat itu.

Di bandara Sultan Hasanuddin sebelum berangkat memakai seragam dari Abu Tours. Ka-Ki : suami, Ochy, saya, tante sahabatku yang dititipkan ke kami karena dia batal berangkat dan bapak di ujung kiri.

Tentunya, umrah backpacker menawarkan pengalaman berbeda dari umrah reguler. Jadi mau backpackeran ataupun ikut travel agent kembali lagi ke pribadi masing-masing. Kalau saya sih tetap memilih yang budgetnya lebih murah. Dasar emak-emak! Harga tetap pertimbangan nomor wahid. Hahaha.

Kami terbang dengan maskapai Garuda Indonesia dari Makassar langsung menuju Jeddah yang ditempuh selama 11 jam. Jujur saja, saya sedikit kecewa saat menaiki burung besi 2 lantai itu dengan kapasitas lebih dari 400 jamaah. Pasalnya pramugara maupun pramugarinya sudah sepuh-sepuh pun rada jutek selama menemani kami di perjalanan. Belum lagi pesawatnya tidak dilengkapi dengan monitor lcd padahal ini termasuk long haul. Kebayang kan betapa betenya tanpa entertainment melalui waktu belasan jam di pesawat. Syukurnya Ochy sangat bersahabat selama perjalanan panjang itu. Tidak rewel sama sekali. Justru sangat menikmatinya. Dia lebih banyak tidur dan hanya sesekali melintasi lorong-lorong kabin. Kehadirannya di pesawat malahan menjadi penghibur bagi penumpang lainnya. Tak sedikit yang mencubit pipinya dan yang mencium keningnya karena tidak berhenti berceloteh jika sedang tidak tidur. Kata mereka, Ochy sangat menggemaskan.

Suasana di dalam pesawat. Gak ada LCD padahal ini penerbangan long haul. Heran juga, Makassar-Timika saja yang kurang dari 3 jam malah dilengkapi dengan LCD.
Makanan di GA seperti biasa. Kalo siang begini menunya nasi ikan atau nasi daging. Saya selalu pilih yang nasi daging. Tuh saking sukanya sampai habis bersih. Hehehe. Nasi di sebelahnya punya Ochy sebagai perbandingan yang utuh dan yang sudah ludes.
Kalau bosan duduk, Ochy keliling lorong cabin pesawat

Begitu tiba di Jeddah, kami langsung dijemput dengan bus yang akan membawa kami ke kota Madinah. Bus ini sudah dilengkapi dengan tour guide yang menjelaskan banyak hal tentang Jeddah dan Madinah yang ditempuh selama 6 jam. Selama perjalanan perut kami tidak keroncongan karena urusan makan sangat mereka perhatikan. Menunya pun Indonesia banget.

Bandara King Abdul Aziz Jeddah khusus jamaah umroh dan haji.

Di Madinah hotel kami terbilang dekat dari masjid Nabawi. Cukup berjalan kaki menuju pintu masjid no.15. Satu kamar diisi berempat dan alhamdulillah kami dapat kamar yang hanya diisi bertiga oleh saya, suami dan anak saja. Kami menghabiskan waktu 3 hari di kota kelahiran Nabi dengan satu hari waktu bebas dan hari lainnya mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti masjid quba, pemakaman baqi’, masjid ijabah, perkebunan kurma, masjid Bir Ali untuk mengambil miqot umrah dan tentu saja masjid nabawi dan raudah yang merupakan tempat mustajabnya do’a dan dilipatgandakannya pahala kebaikan.

Kamar kami di hotel Alwarisy Safir Madinah. Dekat banget dengan pintu no.15 masjid Nabawi. Kamar ini khusus untuk bertiga saja.
Suasana malam di sekitar hotel. Kanan-kiri adalah toko aneka jualan
Payung-payung raksasa khas Masjid Nabawi
Inside Masjid Nabawi.

Di Mekahpun demikian. Jarak hotel ke masjidil haram sangat dekat bahkan bisa sholat di hotel mengikuti imam masjid. Meskipun pahala yang dijanjikan sama banyaknya, tapi kami tetap mengutamakan sholat di masjid terlebih di depan kakbah. Selain agenda utama yaitu ibadah umrah, selama 4 hari di Mekah kami juga diberikan satu hari acara bebas diluar agenda city tour mengunjungi bukit tsur, jabal rahmah, jabal nur, padang arafah, mina, muzdalifah serta peternakan onta dan berbagai tempat bersejarah lainnya.

Hotel kami di Mekah, tepat berada di jalan masuk menuju masjidil haram
Di hotel disediakan 2 tempat sholat yaitu di pelataran dan di mushollah di lantai atas yang kedua-duanya boleh mengikuti sholat berjamaah bersama imam masjidil haram
Suasana jamaah di dalam masjidil haram

Di Jeddah kami diajak ke pusat perbelanjaan di corniche, mencicipi makanan khas Arab maupun Indonesia. Bakso Mang Oedin adalah salah satu yang banyak direkomendasikan orang. Kamipun mampir di sana. Untuk 3 mangkok bakso + 5 biji bakwan + es cendol dan es buah saya tebus dengan 61 riyal dengan kurs saat itu Rp 3.770 untuk 1 riyal. Tempat lain yang dikunjungi di Jeddah adalah pemakaman Siti Hawa, nenek moyang kita, perempuan pertama yang diciptakan Allah SWT. Selain itu, kita juga diajak sholat berjamaah di masjid terapung laut merah sebelum menuju bandara King Abdul Aziz untuk kembali ke tanah air.

Suasana di corniche. Kami tidak terlalu doyan belanja sih apalagi untuk oleh-oleh sudah kami beli saat di Madinah dan Mekah. Makanya di corniche ini kami lebih memilih wisata kuliner saja. Bakso Mang Oedin adalah salah satunya.
Bakso Mang Oedin satu mangkok berisi 4 biji bakso. Bagi suami rasanya enak sampai habis hingga kuah terakhir. Tapi bagi saya kurang cocok di lidah, hanya mampu menghabiskan 2 biji saja itupun dipaksa. Tapi bakwannya justru saya habiskan 3 potong. Enaakk. Hahaha
Mesjid terapung laut merah dari jauh
Mesjid terapung laut merah dari pintu masuk utama
Pelataran masjid terapung area akhwat (perempuan)
Inside masjid terapung laut merah

Nah teman-teman yang punya pengalaman umrah backpacker silakan komen untuk berbagi pengalaman sehingga memperkaya informasi pembaca sebelum mengambil keputusan untuk mengikuti umrah ala backpacker ataupun umrah reguler dengan travel agent. 😀