Pengalaman Mengurus Visa Umrah untuk Keluarga

Umrah adalah salah satu perjalanan sakral bagi ummat muslim di dunia, tak terkecuali Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Setiap muslim pasti mendambakan perjalanan ke tanah suci setidaknya sekali dalam hidup, entah untuk berhaji menyempurnakan rukun Islam ataupun untuk umrah dan berziarah.

Syukur alhamdulillah, kami sekeluarga akhirnya diberi kesempatan menginjakkan kaki di tanah haram pada bulan Maret yang lalu setelah tiga kali mengalami kegagalan dengan dua travel sebelumnya. Adalah sebuah rezeki, berkenalan dengan seorang ibu hajjah via online yang merupakan agen sebuah perjalanan umroh dengan paket super hemat. Soalnya dibandingkan dengan kedua travel sebelumnya, harga yang ia tawarkan sangat fantastis. Bahkan sedikit irrasional mengingat tiket pesawat PP Makassar-Jeddah saja minimal 14 juta dengan pesawat Garuda Indonesia. Namun beliau menawarkan nominal yang sama dengan janji full service selama perjalanan sejak keberangkatan hingga tiba kembali di kota asal. Rada takut sih awalnya. Apalagi kita baru kenalan. Itupun via medsos. Kita belum pernah bertatap muka secara langsung. Masih menimbang-nimbang karena umrah backpacker saja masih kalah jauh selisihnya. 

Saya berpikir, mungkin harga yang beliau tawarkan belum termasuk pengurusan visa. Tapi ternyata saya keliru. Harga tersebut sudah all in. Makin ragu dong jadinya. Ini beneran atau modus penipuan sih? Untung saat itu belum terkuak kasus First Travel, sehingga bismillah kami berani saja mengambil paket hemat Abu Tours tersebut.

Berhubung saya menggunakan jasa travel dalam perjalanan kali ini yang sudah mengatur semuanya, maka saya tidak punya pengalaman pribadi bagaimana mengurus visa umrah secara mandiri. Dan memang sepertinya kita tidak bisa mengurusnya sendiri sih. Soalnya temanku saja yang melakukan umrah backpacker, visanya tetap juga dibantu oleh travel agent. Karena Kedutaan Besar Arab Saudi tidak akan menerbitkan visa secara personal tanpa ada travel agent yang mau bertanggungjawab. Jadi kita memang tidak bisa benar-benar mengurusnya sendiri face to face dengan pihak kedutaan layaknya pada pengurusan visa lainnya.

Dokumen Apa Saja Yang Dibutuhkan Untuk Mengurus Visa Umrah Keluarga?

1. Paspor. Masa berlaku lebih dari 6 bulan sejak keberangkatan. Nama di paspor harus memuat tiga suku kata. Jadi kalau di paspornya masih kurang dari tiga, harus menambahkannya di kolom endorsment pada halaman 4 dengan urutan : nama asli_nama ayah_nama kakek. Nama kakek di sini, boleh menggunakan salah satunya, kakek dari pihak ayah atau dari pihak ibu. Yang tidak boleh itu jika memakai nama kakek dari pihak tetangga. Apalagi nama ayah tetangga.

2. Pas foto terbaru ukuran 4 cm x 6 cm dengan background berwarna putih. Sebaiknya mengenakan hijab yang cerah dan pastikan sudah touch up sebelum cekrek.

3. KTP dan Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja dan khusus untuk KTP jangan dipotong mengikuti ukurannya. Biarkan saja tetap dalam satu lembaran utuh kertas A4. Untuk anak-anak, KTPnya memakai KTP kedua orang tua yang difotokopi dalam lembar kertas yang sama. Misalnya fotokopi KTP ayah diatas, lalu dibawahnya fotokopi KTP ibunya, dalam satu kertas.

4. Akte lahir masing-masing anggota keluarga. Difotokopi pada kertas A4. Khusus untuk anak dibawah 17 tahun, selain kopiannya, akte lahir aslinya juga diikutsertakan.

5. Buku nikah yang memuat keterangan kita adalah pasangan yang sah. 

6. Kartu kuning yang memuat informasi vaksin meningitis yang telah kita lakukan.

Udah gitu aja. Berkasnya sesimple itu. Tidak butuh surat keterangan kerja apalagi rekening koran yang ketentuan jumlah saldonya bikin panas dingin.

Urusan selanjutnya, semuanya ditangani oleh pihak travel agent. Untuk yang umrah backpacker, menurut pengakuan temanku rada gampang-gampang susah untuk menentukan travel agent (mofa) yang bisa membantu pengurusan visa umrah. Soalnya gak semua mofa berani menerima risiko menerbitkan visa untuk kalangan yang ingin melakukan umrah secara mandiri. Biasanya harus satu paket dengan Land Arrangement, paket selama di Arab Saudi berupa fasilitas penginapan dan transportasi. Ujung-ujungnya mirip umrah yang di-handle sama travel pada umumnya sih. Bedanya hanya pada waktu yang fleksibel dan itinerary yang tidak mengikat. 

Menurut temanku, tidak ada travel agent yang berani menerima jika hanya untuk proses visa saja tetapi mesti disertakan paket land arrangement dari mereka sehingga si travel agent ini bisa tetap memantau jamaah yang dibantu proses penerbitan visanya. Bukan apa-apa, si travel agent tersebut terancam denda sebesar SAR 50.000 serta pencabutan izin usaha jika ditemukan jamaahnya melakukan penyelewengan terhadap visa yang diterbitkannya. Misalnya si jamaah over stay dari masa berlaku visa, atau malah menjadi TKI/TKW, dan lain-lain.

Lain kali jadi pengen coba umrah backpacker juga. Biar bisa lebih detail memberikan gambarannya. Tapi tunggu sampai anak-anak berusia minimal tujuh tahun kali ya. Biar kerempongannya sedikit berkurang 😁😁. Semoga diberi umur panjang dan dicukupkan rezekinya untuk kembali lagi ke tanah haram, insyaAllah. Amiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Advertisements

Mudahnya Mengurus Sendiri Visa Jepang di Makassar

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman SMA menelepon menanyakan tentang cara pengajuan visa Jepang di Kota Makassar secara mandiri alias tanpa calo atau travel agent. Saya mengingat-ingat kembali prosesnya dan mungkin tidak ada salahnya jika saya menuangkan pengalaman itu ke dalam tulisan di blog ini. 

Jadi waktu itu, saya akan ke Jepang bersama suami beserta dua orang teman perempuan. Awalnya ingin mengajukan permohonan visa pada konsulat jendral Jepang di Denpasar yang letaknya tidak jauh dari rumah tapi berhubung kartu keluarga  dan KTP kami belum terbit, saya akhirnya memutuskan untuk mengajukan visa pada konjen Jepang di Makassar dengan menggunakan fotokopi ktp dan kartu keluarga lama yang berarti status masih single 😅. Begitupun dengan suami, menggunakan kartu identitas lama yang masih berdomisili di Timika, juga dengan status masih single. Syukurnya, Timika masuk ke dalam wilayah yurisdiksi konjen Jepang di Makassar sehingga sangat pas untuk mengajukannya bersama-sama.

Pengajuan visa ini bisa diwakili oleh salah satu orang saja jika bepergian dua orang atau lebih. Alhamdulillah, itu berarti suami gak harus terbang ke Makassar hanya untuk mengurus visa. Sedangkan kedua teman perempuanku memilih jasa travel agent. Mungkin karena ini adalah perjalanan internasional pertama mereka sehingga dirasa lebih aman memakai jasa travel agent untuk mengurus visa. Atau mungkin juga belum percaya sama saya. Takut kalau-kalau visanya gak disetujui. Padahal mengajukan lewat travel agent sekalipun sebenarnya tidak ada jaminan visa akan approved. Karena semuanya tergantung pihak konjen, mau ngasih atau tidak. Tapi yasudahlah, karena mereka tidak keberatan membayar biaya administrasi tambahan buat travel agent diluar biaya visa itu sendiri plus harus menyiapkan saldo min 50 juta rupiah di rekening koran, ya silakan saja. 😊😊

Syarat-syarat pengajuan visa Jepang

Sebelum mengajukan visa jepang (dalam hal ini menggunakan paspor biasa bukan e-passport) maka harus melengkapi dokumen yang diperlukan terlebih dahulu yaitu :

  1. Paspor yang masa berlakunya setidaknya lebih dari 6 bulan
  2. Formulir permohonan visa yang bisa di download di website konjen Jepang 
  3. Pas foto terbaru ukuran 4,5cm x 4,5 cm berlatar putih. Yang berhijab bisa tetap mengenakan hijabnya. Sebaiknya memakai hijab yang kontras dengan latar foto, sehingga kelihatan lebih bright.
  4. KTP (surat keterangan domisili). Fotokopi di kertas A4 tanpa memotongnya. 
  5. Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja. Disertakan jika berangkat bersama keluarga sebagai bukti hubungan dengan si pemohon. Jika pemohon sendiri-sendiri, tidak perlu melampirkannya.
  6. Tiket pesawat. Tidak harus menggunakan tiket yang sudah lunas. Bisa menggunakan tiket booking-an. Pastikan saja, statusnya masih aktif ketika melakukan pengajuan visa.
  7. Itinerary. Buat yang simple saja, gak usah heboh menjelaskan kegiatan per jam hingga berlembar-lembar. Cukup menunjukkan akan pergi ke mana saja setiap hari sejak masuk hingga keluar Jepang. Juga tidak harus menuliskan semua tempat yang akan kita datangi. Pokoknya as simple as in one page.
  8. Rekening koran atau fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Nah inilah bagian terhoror dalam mengurus visa. Berapa sih jumlah tabungan yang harus kita punya? Benarkah harus 50 juta rupiah seperti kata orang-orang? Sebenarnya sih tidak disebutkan berapa jumlah yang pasti oleh pihak kedutaan, hanya saja perhitungkan semua biaya yang bisa men-cover seluruh perjalanan kita selama di Jepang. Amannya, sediakan 1 juta rupiah/hari. Jadi kalau di Jepang selama 1 minggu, berarti kalikan saja selama 7 hari. Terus lebihkan sedikit untuk menunjukkan bahwa ketika kembali ke negara asal, kita masih punya biaya hidup selama beberapa hari ke depan.
  9. Surat keterangan kerja bagi karyawan atau SIUP bagi pengusaha. Intinya, surat keterangan yang menunjukkan kita punya penghasilan. Kalau misalnya pemohon adalah ibu rumah tangga, berarti lampirkan surat keterangan kerja milik suami beserta KK, buku nikah dan buku tabungan atas nama suami. Berhubung saya dan suami mengajukannya pakai status masih single jadi kami memakai surat keterangan kerja dan buku tabungan sendiri-sendiri.

    Pastikan semua dokumen sudah lengkap dan disusun berurutan sebelum dibawa ke loket pendaftaran, sebab kita tidak akan dilayani jika berkasnya kurang ataupun tidak lengkap. Namun apabila sudah diproses dan diperlukan dokumen pendukung lainnya, pemohon visa akan dihubungi lagi.

    Langkah-langkah pengajuan visa Jepang di Makassar

    Setelah semua berkasnya lengkap, datanglah ke konjen Jepang sesuai jam kerjanya yaitu senin-jum’at pada jam 8.00 – 12.00 untuk permohonan visa dan jam 13.00-15.00 untuk pengambilan paspor.

    Untuk daerah Makassar, kantor konjen Jepang berada di gedung Wisma Kalla lantai 7 Jl.Dr. Sam Ratulangi No 8-10. No. Tlp (0411) 871-030.

    Setelah menyerahkan dokumen di loket pendaftaran, kita akan membayar biaya single visa sebesar Rp 320.000 (Maret 2015) lalu diberi surat keterangan pengambilan paspor 4 hari kerja kemudian.

    Ketika waktu pengambilan paspor tiba, datanglah kembali ke konjen Jepang pada pukul 13.00-15.00. Alhamdulillah ketika saya membuka paspor, stiker visa jepang sudah tertempel cantik di salah satu halamannya dengan masa berlaku visa selama 3 bulan.

    Visa Jepang

    Mudah bukan?! Semoga bermanfaat ya 🙂

    Pengalaman Apply VoA China di Shenzen

    Biasanya orang yang berkunjung ke Hong Kong, akan sekaligus memasukkan Shenzen ke dalam itinerary. Negara tetangga yang jaraknya sangat dekat serta transportasinya mudah diakses. Hanya saja, sebagai pemegang paspor hijau (atau sekarang tosca), kita diwajibkan mengantongi visa on arrival terlebih dahulu untuk memasuki negara bagian China tersebut.

    Menuju Shenzen dari Hong Kong

    Cara mengurus voa China di Shenzen yang saya tulis ini berdasarkan jalur masuk melalui Hong Kong dengan kereta KCR dari stasiun Kowloon Tong. Lama perjalanan sekitar 45 menit dengan biaya HKD 31.3 menggunakan octopus card. Kereta ini akan berhenti di ujung perbatasan Hong Kong – Shenzen, Lo Wu – Luo Wu. Memang mirip sih nama stasiunnya tetapi sebenarnya berbeda dalam pengucapannya.

    Begitu tiba di Lo Wu, semua penumpang akan turun. Di border ini, paspor kita akan distempel keluar Hong Kong oleh petugas bermata sipit yang lempeng banget. Pokoknya gak ada basa-basi apalagi nanyain dengan senyum manis, datangnya bersama siapa neng?! Padahal ya mau banget pamer kalau saya datangnya bersama suami sebagai rangkaian bulan madu perdana kami. Hahahaha. Penting gak sih? 😏😏

    Nah setelah paspor di stempel, ikutilah papan petunjuk hingga keluar stasiun Shenzen yaitu Luo Wu (dibaca Luo Hu). Jaraknya lumayan jauuuhhh. Saya tidak yakin sih berapa angka pastinya tapi sepertinya hampir 1 km dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di sini saya jahilin Kak Idu yang newbie backpackeran hemat keluar negeri. Habisnya dia keseringan jalan-jalan luxury sih, (sstt… karena dalam rangka dinas sehingga semuanya dibayarin kantor). Kalau pakai uang pribadi, apa daya hanya bisa backpackeran begini buat melancong 😅.

    Jadi selama jalan kaki keluar stasiun itu, saya sering mendahului Kak Idu lalu bersembunyi di suatu tempat dan mengagetkannya ketika sudah dekat denganku. Beberapa kali berhasil mengerjainya. Sampai suatu ketika kok malah saya yang kejebak sendiri. Jadi saat sedang dalam persembunyian, tiba-tiba petugas wanita memegang tanganku erat dan membawa saya ke salah satu ruang sempit lalu diinterogasi dengan bahasa Cina yang sumpah satupun saya tidak tau artinya. Jadi dia ngoceh aja terus, mimik mukanya sampai tegang begitu karena melontarkan banyak pertanyaan tapi yang dihadapi malah diam seribu bahasa. Hingga akhirnya dia frustasi sendiri dan jadilah kami diam-diaman. Jadi pengen nyanyi lagunya Jamrud : 30 menit kita di sini, tanpa bicara. Dan aku benciiii harus jujur padamu tentang semua ini.

    Tak lama kemudian, datang petugas wanita lainnya. Selain lebih cantik, dia juga lebih menyenangkan karena pembicaraan akhirnya menjadi dua arah. Fasih berbahasa Inggris meski dengan logat Cina yang kental. Rupanya gerak gerik saya tertangkap cctv dan dianggap mencurigakan. Apalagi saya mengenakan hijab. Makanya saya digiring ke ruang interogasi ini. Lalu sayapun menjelaskan semuanya, bahwa saya sedang mengerjai suami yang baru pertama kali ke tempat ini sebagai upaya menciptakan perjalanan mengasyikkan yang tak terlupakan bersamanya.

    Setelah lama berdialog dengannya, saya akhirnya dilepaskan juga. Fiuuhh… alhamdulillah banget. Syukur-syukur gak sampai sejam. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bingungnya Kak Idu mencari-cari saya jika terjebak di ruang sempit itu semalaman. Sumpah jadi kapok sendiri.

    Begitu bertemu Kak Idu di section imigrasi China, langsung saja saya peluk erat sambil menangis. Dianya heran, kok saya sampai nangis begitu. Rupanya dia tidak sadar bahwa istrinya ini baru saja ‘diculik’. Dikiranya, saya masih main-main dengannya dan akan menemukanku di gate imigrasi China. Ketika saya menceritakan ulang kejadiannya, eh dianya bukan berempati malah ngakak habis-habisan.

    Langkah-langkah dan biaya apply voa Shenzen

    Mengajukan voa Shenzen sangatlah mudah. Pertama-tama ikuti petunjuk menuju visa office yang letaknya naik satu lantai dari gate imigrasi yang ditandai dengan tiga loket kecil berjejer. Selanjutnya mengisi formulir dan mengambil nomor antrian. Setelah nomor antrian kita dipanggil, datangi loket pertama untuk menyerahkan paspor dan sekaligus untuk difoto petugas. Fotonya melihat lurus ke depan, tidak miring kanan apalagi sambil monyongkan bibir. Karena ini foto untuk visa bukan foto alay. Berikutnya pindah ke loket dua untuk melakukan pembayaran sebesar RMB 160 (Oktober 2013). Catat, hanya menerima mata uang China. Selainnya, silahkan menukar di money changer terlebih dahulu. Terakhir tinggal menunggu visa ditempel di paspor yang akan diambil di loket ketiga. Prosesnya sangat mudah dan cepat. Tidak lebih dari 10 menit. Dan viola…  selamat berjalan-jalan di Shenzen.

    Sabtu Pagi di Lokasi Syuting Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

    19 Agustus 2017

    Pantai Punaga

    Rencana main ke pantai ini sebenarnya dadakan. Terlintas di antara obrolan santai saya bersama Aisda, salah seorang sahabat yang malam itu kedatangan temannya jauh-jauh dari Pontianak. Kamipun memilih pantai Punaga yang ada di Kabupaten Takalar sebagai tujuan, kampung halaman Aisda. Agar temannya itu bisa sekalian main-main ke rumahnya dan bertemu dengan bapaknya. Hitung-hitung kenalan sama calon mertua. Siapa tau jodoh kan? Eh..! Hihihihi. *lalu tiba-tiba di tabok Aisda* hahaha.

    Saya dijemput di rumah pagi-pagi sekali. Anak-anak bahkan belum ada yang mandi. Karena kami akan ke pantai, ya sudah mandinya sekalian di sana saja. Main air sepuasnya hingga tangan keriput. Sarapanpun seadanya. Biskuit isi coklat sisa perjalanan kemarin yang dimakan ramai-ramai di mobil. Untuk makanan berat, kami membeli nasi kuning di jalan dan akan disantap saat tiba di pantai nanti. Ditemani angin sepoi pagi hari, rasanya pasti nikmat sekali.

    Pagi itu jalan masih lengang di Makassar namun sangat padat memasuki perbatasan Gowa oleh pengendara motor. Jalur kami bahkan diembat juga. Beberapa titik jalan mengalami perbaikan dan kendaraan alat berat parkir di bahu jalan membuat arus lalu lintas sedikit tersendat. Begitu tiba di Takalar, perjalanan kembali lancar.

    Oh iya, Takalar adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan berjarak sekitar 30 km dari kota Makassar dan dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam melalui jalur trans Sulawesi : poros Makassar – Bulukumba.

    Cara menuju pantai Punaga

    Pantai Punaga terletak di Desa Punaga, Kecamatan Mangara Bombang yang jaraknya 25 km dari Kota Takalar. Untuk mencapainya sangatlah mudah. Sekitar 5 km sebelum perbatasan Takalar-Jeneponto, berbeloklah ke arah kanan dan ikuti papan petunjuk menuju pantai Punaga yang terdapat di setiap persimpangan jalan. Lokasinya berada di antara pantai Tope Jawa dan PPLH Puntondo sehingga sangat cocok dijadikan sebagai day trip. Namun karena sejak awal tujuan kami memang hanya akan ke pantai Punaga, kamipun mencoret ke dua tempat tersebut. Sebab dijadwalkan si abang dari Pontianak ini harus tiba kembali di Makassar siang selepas dzuhur.

    Ochy dan Aisda berjalan menyusuri bibir pantai
    Ochy dan Aisda yang bermain kejar ombak

    Pantai Punaga ini masih sangat alami. Pasirnya putih dan lautnya bersih. Beberapa tebing menjorok ke dalam menciptakan pemandangan yang epik sekali. Kata orang lokal sih, saat sedang surut pesona tebingnya tidak kalah dengan Tanah Lot milik Bali. Sayangnya, saat kami berkunjung ke sana, air laut sedang pasang, menenggelamkan sebagian tebing-tebing indah tersebut. Meski demikian, keindahan pantai Punaga sama sekali tidak berkurang. 

    Keindahan pantai Punaga ini juga menarik hati seorang sutradara untuk dijadikan sebagai salah satu lokasi syuting film tenggelamnya kapal van der wijck, film yang disadur dari novel Buya Hamka yang dibintangi oleh Pevita Pearch dan Herjunot Ali sebagai Hayati dan zainuddin. Film yang sempat booming di akhir tahun 2013 yang bercerita tentang perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta Hayati dan Zainuddin hingga berakhir kematian.

    Saat matahari tenggelam, viewnya pasti akan lebih indah

    Hal lain yang menjadi daya tarik pantai Punaga adalah tempatnya yang masih alami. Belum tergerus tangan-tangan nakal investor asing. Terbukti dengan tidak adanya sinyal dan belum adanya fasilitas yang memadai sebagai objek wisata. Hanya ada dua buah balai-balai sederhana dan rumah panggung kosong yang sepertinya telah lama ditinggal pemiliknya. Kami menempati salah satu balai-balai itu untuk beristirahat. 

    Rumah panggung di pantai Punaga

    Akses masuk ke Pantai Punaga sebenarnya ada dua. Terlihat dari sisi kami, pintu masuk yang pertama sepertinya dikelola lebih baik. Ada villa dan jika saya menebak dengan benar juga ada kafenya. Saya kurang yakin apa ada tiket masuk atau tidak dari sana karena kami sendiri masuk melalui jalur gratis yang dikelola oleh keluarga Aisda.

    Sejak tiba di pantai Punaga ini, Ochy terus saja bermain pasir dan air. Dia begitu menikmatinya hingga menolak diinterupsi untuk makan nasi kuning yang kami beli di jalan tadi. Bajunya bahkan telah basah karena mengejar ombak hingga terjatuh bersama Aisda dan temannya. Saya yang melihat dari jauh hanya senyum-senyum saja. Ochy ini memang sangat dekat dengan Aisda. Sejak Ochy masih kecil, Aisdalah satu-satunya sahabatku yang meluangkan banyak waktunya menemaniku. Padahal dia sendiri juga sibuk bekerja dari senin-sabtu. Dia sudah seperti saudara sendiri bagiku. Kami berbagi suka dan duka bersama. Meski agak lucu juga sih jika mengingat kami akrabnya justru setelah tamat kuliah. Padahal dulu sama-sama satu fakuktas, satu jurusan pula. Apa mungkin karena dulu beda resonansi kali ya? Saya aktif berorganisasi sedangkan dia termasuk anak bureng yang murni hanya kampus-rumah-kampus.

    Hal yang paling mencolok dari pantai Punaga ini adalah tebing yang menjorok ke laut dengan pohon raksasa yang berdiri kokoh di atasnya. Saya tidak tahu ini pohon apa, tapi jelas dari batangnya pohon ini usianya sangat tua. Dari sini, pemandangannya sangat eksotik. Tapi kamera saya terlanjur lobet sehingga tidak banyak foto yang bisa dibekukan dengan lensa kamera.

    Tebing di Pantai Punaga

    Overall, saya sendiri sangat menikmati tempat ini. Apalagi sepi pengunjung sehingga lebih terasa sensasi pantainya. Baby Yui juga sepertinya betah di sini. Tapi kami harus cepat-cepat pulang supaya bisa tiba di Makassar siang nanti.

    Berikut beberapa tips bagi kalian yang akan berkunjung ke sini : 

    1. Bawalah tikar lipat. Sebagai alas duduk yang bisa dipakai di balai-balai ataupun ngempar langsung di pasir.
    2. Bawalah tissue kering dan basah. Belum ada fasilitas toilet yang memadai di tempat ini. Bahkan untuk sekedar cuci tangan.
    3. Pastikan kamera full charge agar tidak kehilangan momen foto.

    Well, ini cerita akhir pekan kami. Bagaimana dengan kalian? Happy weekend yaa, happy family 😊😁.

    A Day in Bantimurung National Park

    18 Agustus 2017

    Jum’at ini adalah hari perdana saya mengajak Ochy kembali ke alam setelah hampir tiga bulan tidak pernah bersentuhan agenda rutin ini karena terlalu sibuk sebagai ibu yang baru melahirkan. 

    Bantimurung

    Saya memilih Bantimurung sebagai destinasi karena jaraknya yang cukup dekat dari Kota Makassar. Lagipula, saya sendiri terakhir kali ke tempat ini sekitar lima tahun yang lalu ketika saya masih gadis. Sehingga cukup penasaran dengan kondisi Bantimurung hari ini yang katanya mengalami banyak metamorfosis. Tentunya akan menjadi pengalaman menarik karena ini adalah perjalanan perdana Baby Yui sekaligus menjadi perjalanan perdana saya bersama baby dan todler bepergian ke alam terbuka seperti ini.

    Cara menuju Taman Nasional Bantimurung

    Bantimurung terletak di Kabupaten Maros, sekitar 50 km dari Kota Makassar atau 20 km dari Bandara Sultan Hasanuddin dan dapat di tempuh dengan kendaraan umum dan pribadi baik roda dua maupun roda empat. Lama perjalanan diperkirakan 1-2 jam tergantung kecepatan mengemudi dan arus lalu lintas.

    Sangatlah mudah mencapai Bantimurung ini. Berikut beberapa pilihan transportasi dan kelebihan serta kekurangan masing-masing.

    • Kendaraan umum : naiklah pete-pete (sebutan angkot lokal di Makassar) tujuan terminal Daya seharga Rp 5.000. Lalu lanjutkan perjalanan dengan angkot tujuan Maros/Pangkep seharga Rp 15.000 dan turun di pasar maros. Di pasar inilah banyak angkot tujuan Bantimurung yang ngetem. Biaya angkot dari sini hanya Rp 5.000 saja. Kelebihan naik angkot adalah biayanya yang relatif murah namun harus siap dengan waktu yang lebih lama karena biasanya pete-pete akan berangkat jika sudah terisi penuh penumpang.
    • Roda dua : rutenya sama. Di depan pasar maros (tempat pete-pete ngetem), berbeloklah ke arah kanan dan ikuti jalan itu hingga tiba di gerbang masuk kawasan Taman Nasional Bantimurung yang ditandai dengan pigura kupu-kupu yang besar serta patung monyet raksasa. Kelebihan roda dua ini kita bisa berhenti di mana saja dan kapan saja untuk mengambil foto karena sepanjang jalan ke Bantimurung sangat indah dengan paduan sawah dan bentangan pegununungan karst. Kekurangannya, panas saat terik dan basah kalau hujan. Kalau hal itu tidak menjadi masalah, maka naik roda dua adalah pilihan yang tepat. Apalagi harga sewa motor di Makassar sangat terjangkau yaitu Rp 75.000/24 jam
    • Mobil pribadi : rutenya sama persis karena memang melalui jalan yang sama. Kelebihannya jika berangkat ramai-ramai tentu akan lebih hemat karena bisa sharing biaya rental mobil. Selain itu bisa singgah jika ingin berfoto-foto dengan pemandnagan sepanjang jalan dan pastinya bebas panas dan hujan. Kekurangannya kalau jalan macet ya maaf, gak bisa nyelap-nyelip selincah roda dua.

    Wisata apa yang bisa dinikmati di Kawasan Taman Nasional Bantimurung?

    Di kawasan Taman Nasional Bantimurung ini ada banyak wisata yang bisa dinikmati selain wisata utama air terjun yaitu pegunungan karst, gua-gua prasejarah, danau, waterpark, dan yang terbaru penangkaran kupu-kupu dengan Helena Sky Bridge, jembatan gantung sepanjang 50 meter dengan ketinggian 100 mdpl. Meniti jembatan ini penuh sensasi karena kita akan dikelilingi dengan aneka warna kupu-kupu yang cantik.

    Batu karst Bantimurung
    Helena Sky Bridge Bantimurung. Source : @hajraali05
    Air terjun Bantimurung

    Pagi itu, sekitar pukul 10 kamipun berangkat. Membelah jalan poros Makassar-Maros yang sepi dari pengendara. Alhamdulillah, awal yang baik. Mengingat jalan ini salah satu jalan terpadat menjelang akhir pekan begini.

    Cuaca hari ini sangat bersahabat. Cerah namun tidak terasa terik. Anak-anak juga alhamdulillah sangat bersahabat. Anteng selama perjalanan. Terutama baby Yui yang lebih banyak tidur.

    Patung monyet raksasa menyambut di gerbang masuk wisata. Tidak ada yang berubah. Patung ini masih patung yang sama terakhir kali saya ke Bantimurung. Dari sini, jika berbelok ke kiri maka akan tiba di wisata penangkaran kupu-kupu dengan Helena Sky Bridgenya yang keren itu. Namun jika kita memilih lurus setelah patung monyet tersebut maka aka tiba di sebuah loket masuk berbayar seharga Rp 25.000/orang dewasa dan setengah harga untuk anak usia 4 -13 tahun serta gratis bagi bayi dan anak di bawah 4 tahun. Untuk bule sendiri, harga karcisnya berkali lipat yaitu Rp 225.000/orang (Agustus 2017). Biaya ini adalah tiket masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung untuk menikmati air terjun dan berbagai wahana seperti gua mimpi, kolam renang, waterpark, danau dan lain-lain.

    Kolam renang Bantimurung
    Bantimurung

    Bagi yang ingin berpiknik ria pun sangat bisa karena juga tersedia tikar sewaan maupun saung serta tempat pembakaran ikan.

    Deretan Saung di Bantimurung

    Berada di dalam kawasan ini memang menyenangkan hingga bisa lupa waktu. Loket masuk sendiri tutup pada pukul 5 sore. Tapi tidak usah khawatir jika lupa waktu hingga kemalaman karena di sinipun sudah disediakan berbagai jenis penginapan seperti hotel dan villa dengan room rate mulai dari Rp 300.000

    Hotel Bantimurung
    Musholla Bantimurung
    Air terjun Bantimurung

    Sangat lengkap bukan di Bantimurung ini? Jadi kapan kamu mau jalan-jalan ke sini? 😁😁😁

    Review Hotel Best Western Papilio, Surabaya

    Baru tiba. Kakak Ochy jagain adek di kasur

    Sabtu terakhir di bulan Juli kemarin, kami ke Surabaya dengan personil lengkap. Ini menjadi pengalaman perdana Baby Yui naik pesawat sekaligus pengalaman pertama kami bepergian dengan 1 baby dan 1 toddler. Rempong?? Bangeeettt 😂😅😅. Tapi namanya juga pertama, pasti terasa berat. Kalau sudah sering insyaAllah akan terbiasa dan dengan sendirinya tau hal-hal apa yang mesti dilakukan agar kerempongannya bisa diminimalisir. Pasti akan terasah sendiri kemampuannya. Seperti dulu waktu pertama kali jalan bertiga dengan Ochy yang masih bayi. Awal-awal ya repot karena biasanya hanya jalan berdua dengan suami yang kemana-mana semau dan seenak kita. Tapi lama-lama jadi tau celahnya, harus ngapain saat si Ochy nangis, pup di pesawat, dan segala kerepotan lainnya.

    Papa dan adek di lobby. Gak luas tapi comfortable. Ada banyak bacaan dan welcome drinking buah segar

    Karena ada urusan di Graha Pena Surabaya, saya memilih menginap di Hotel Best Western Papilio yang jaraknya hanya 5 menit berkendara (jika arus lalu lintas lancar, noted!) yang saya booking melalui aplikasi traveloka mobile. Soalnya Hotel Alana yang cuma 166 meter saja di sisi gedung Grapen sudah tidak mempunyai kamar dengan double bed pada tanggal check in yang kami inginkan. Belakangan, saat saya beritahu suami adanya cuma twins makanya saya gak jadi booking, eh ternyata dia ok saja dengan aturan nanti dia tidurnya sama Ochy dan saya dengan Baby Yui. Duhh pak, telat! Sudah dibayar dan gak bisa refund 😅😂.

    Saya memesan kamar Deluxe Queen non smooking room dengan free breakfast dan wifi. Kamarnya luaaaassss ternyata. Ochy bisa lari-lari dengan leluasa.

    View dari jendela kamar

    Secara umum, pelayanannya sangat memuaskan. Kamarnya bersih, makanan di restoran banyak macamnya dan enak-enak semua lagi. Outdoor poolnya juga ok. Selain itu juga ada fasilitas spa dan gym. Puas deh nginap di sana. Cuma kudu hati-hati sih kalau bawa anak kecil soalnya ada brekage charge yang gak main-main. Coret dinding bisa kena bayar 1 juta. Dan you know guys??? Ochy dengan segala keaktifannya berhasil mencoret dinding. Pengen marah tapi buru-buru sadar kalau anak saya jauh lebih berharga dari cas yang harus saya bayar. Meskipun sebenarnya gak ikhlas juga relakan duit sebanyak itu. Makanya saya coba-coba hapus karena coretannya hanya memakai pensil. Tapi apa yang saya lakukan justru menyisakan bekas yang lebih buruk. Dindingnya mengelupas. Wassalam deh! Mungkin memang harus merelakan duit melayang. Sedekahnya masih kurang barangkali. Kak Idu berkali-kali menghibur dengan menganggap kami menginap di president suite sehingga setaralah uang yang harus dibayarkan. Well, mari setting isi kepala dengan bayangan kamar yang berbeda.

    Kamar mandinya juga luas
    Lihat no.24 😂

    Saat check out keesokan harinya, kami dengan jujur menyampaikan perkara coretan dinding itu lengkap dengan hasil foto perbuatan Ochy. Meskipun sebenarnya bisa saja kabur sih. Toh mereka gak akan tau juga kok. Tapi suami saya selalu mendidik kami untuk bersikap jujur dalam hal apapun. Berani bertanggung jawab dan menerima konsekuensi setiap tindakan kita. Pokoknya kami sudah siap-siap membayar harga perbuatan anak kami. Tapi alhamdulillah sama mbak resepsionis malah tidak mengenakan cas sama sekali sebagai apresiasi atas kejujuran kami. Alhamdulillah wa syukurillah. Tuh kan buah kejujuran itu selalu manis bu ibuk 😁😁

    Outdoor pool
    Mau renang tapi takut. Walhasil baju gak diganti-ganti 😅

    Selain makanan di restoran enak, ragamnya juga banyak dari appetizer hingga desserts. Tapi jika mau menu berbeda, di hotel ini juga ada gerai makanan cepat saji A&W.

    Well, selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta.

    Mengurus Paspor Bayi di Kantor Imigrasi Makassar

    Salah satu syarat wajib jika akan bepergian keluar negeri adalah mempunyai paspor. Berhubung di keluarga kami ada penghuni baru yaitu Baby Yui yang sekarang berusia 2 bulan maka kamipun membuatkannya paspor sebagaimana anggota keluarga lainnya yang sudah terlebih dahulu mempunyai dokumen penting tersebut. Lho memangnya mau kemana? Masih bayi kok sudah dibuatkan paspor segala? Belum kemana-mana sih tapi kami percaya bahwa dengan punya paspor saja dulu berarti perjalanan keluar negeri sudah siap 50%. Sisanya ya semoga ada rezeki buat beli tiket pesawat serta biaya hidup selama berada di negeri orang. Amiin.

    Lalu bagaimana cara membuat paspor bayi? Berikut langkah-langkah yang harus ditempuh :

    Persyaratan Dokumen

    Membuat paspor bayi  atau secara keseluruhan anak di bawah usia 18 tahun sebenarnya sama saja sih dengan mengurus paspor untuk orang dewasa. Bedanya hanya pada kelengkapan berkas yang harus ditambah dengan surat jaminan orang tua. Surat jaminan itupun sudah disiapkan oleh pihak imigrasi, kita hanya perlu menandatanganinya saja diatas materai.

    Sebelum masuk prosedur pembuatan paspor, pastikan dulu berkas kita sudah lengkap yaitu :

    1. KTP kedua orang tua
    2. Kartu keluarga
    3. Buku nikah
    4. Akte lahir anak
    5. Paspor kedua orang tua
    6. Surat jaminan orang tua

    Semua berkas tersebut difotocopy satu rangkap pada kertas A4 dan khusus KTP, tidak boleh di potong (tetap dibiarkan dalam satu lembar kertas). Mungkin dimaksudkan agar tidak mudah tercecer kali ya. Selain copy-annya juga harus membawa berkas aslinya ya.

    Prosedur Pembuatan Paspor

    Jika berkasnya telah lengkap maka langkah selanjutnya adalah ke kantor imigrasi terdekat. Untuk daerah Makassar bisa diajukan di kanim Daya maupun kanim Alauddin.

    Secara runut, prosedurnya seperti ini :

    1. Mengambil nomor antrian
    2. Ke loket pemeriksaan berkas. Jika dianggap lengkap maka akan diberi formulir pengajuan paspor
    3. Wawancara
    4. Foto
    5. Selesai. 

    Selanjutnya melakukan pembayaran ke bank dan kembali lagi ke kantor imigrasi empat hari kemudian untuk mengambil paspor.

    Kelihatannya sangat mudah sekali ya. Namun apa yang saya alami rupanya jauh berbeda.

    Jadi awalnya saya datang ke kanim Alauddin karena jaraknya yang lebih dekat dari rumah. Saya tiba di sana sekitar pukul tujuh pagi dan ternyata saya sudah tidak bisa dilayani! What?? Jam segitu sudah tutup layanan? Lha kantor ini bukanya jam berapa memang sih?? Padahal sejak di rumah tadi saya sudah membayangkan bisa lebih leluasa karena datang sebelum jam kerja. Tapi rupanya jam 7 pagi pun saya tidak kebagian nomor antrian. (Nomor antriannya ini masih manual, nama kita ditulis dalam daftar pada lembar kertas double folio). Saya bahkan tidak sempat sama sekali berbincang dengan petugas imigrasi karena massa telah mengerubungi di pintu masuk hingga parkiran. Saya tanyalah salah seorang diantara mereka. Dan saya sangat tercengang karena menurut pengakuannya dia datang mengantri sejak pukul 3 subuh bahkan ada yang harus menginap. Ckckckck. Saya disarankan datang senin subuh saja berhubung hari ini jum’at yang berarti besok dan lusa libur weekend.

    Karena gagal di kanim Alauddin, sayapun ke kanim Daya. Meskipun sebenarnya di pikiranku meragukan niat itu karena bisa saja mendapatkan hasil serupa : tidak dilayani. Mengingat kanim Daya adalah kelas satu yang loadingnya pasti jauh lebih besar daripada kanim Alauddin yang hanya unit layanan pembantu. Tapi hati kecilku terus berbisik : jauh lebih baik berusaha maksimal dulu. Kalaupun nanti hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, setidaknya saya telah melakukan yang terbaik. Karena itu saya tetap melanjutkan ke kanim Daya.

    Tiba di kanim Daya sudah pukul sembilan lewat, hampir jam sepuluh karena terhalang macet di pintu dua Unhas. Seperti yang kuduga, orang-orang yang mengajukan paspor di sini ternyata lebih banyak daripada di kanim Alauddin. Dan lagi-lagi saya tidak kebagian nomor antrian. Nomor antriannya juga masih manual, ditulis di sepotong kertas kecil yang dibagikan berdasarkan posisi duduk di kursi (bukan berdasarkan kedatangan). Parah yaaa! Yang tidak mendapatkan nomor antrian ternyata bukan hanya saya yang baru saja tiba. Bahkan mereka yang sejak subuh buta di sini juga tidak kebagian hanya karena mereka terlanjur memilih duduk di kursi belakang saat kedatangan mereka di awal tadi, sebelum datangnya petugas pembagi nomor antrian. Ya ampuunn kasian juga ya. Masalah nomor antrian ini sepertinya menjadi PR besar bagi kantor imigrasi Makassar. Akan lebih bijak jika mengupayakan penggunaan mesin antrian otomatis seperti di Bank dan rumah sakit.

    Saya tak lantas pulang meskipun sudah tidak mendapat nomor antrian. Setahu saya ada layanan prioritas untuk bayi! Saya lalu menemui petugas pembagi nomor antrian tadi dan menanyakan hal tersebut. Alhamdulillah benaran ada! Sayapun diberi nomor urut 16 dengan catatan menunjukkan bayinya sebagai bukti. Soalnya saya ke sana tanpa Baby Yui yang saya tinggal bersama kakek di mobil. Sayapun kembali ke parkiran dan membawa baby Yui ke loket. Saat itu sedang diproses antrian ke 13 yang berarti dua orang lagi tibalah giliranku. Sayangnya, kursi di depan loket sudah terisi penuh semua dan tidak ada yang peduli untuk mengikhlaskan kursinya bagi ibu yang menggendong bayi. Padahal kebanyakan diduduki anak-anak muda.

    Ketika nomor antrian ke 15 diproses, tiba-tiba seseorang mencolek saya dari belakang. Rupanya seorang ibu-ibu berusia sekitar 50-an bernama Hana. Dia menawarkan diri untuk menggendong bayiku karena tak mampu berdiri lama jika harus memberikan kursinya padaku. Maka sebagai gantinya, beliau rela memangku baby Yui. Dan betapa tercengangnya karena beliau datang jauh-jauh dari Bulukumba dan tiba di kanim Daya pukul 6 pagi tapi mendapat nomor antrian ke 70. Ya Allaaahhh… betapa mulianya Ibu Hana ini. Semoga keberkahan senantiasa tercurah kepadanya.

    Akhirnya tiba juga giliranku. Sebelum memeriksa berkasku, terlebih dahulu menanyakan mana bayinya. Sayapun menunjuk Yui yang dipangku Ibu Hana. Pemeriksaan berkaspun dilanjutkan. Dan keputusan petugas menyatakan berkasku DITOLAK! Jreng… jreng… rasanya kakiku lunglai, lidahku kelu. Tak bisa berucap apa-apa. Membayangkan perjuangan Yui hari ini yang begitu luar biasa sejak selepas subuh. Tiba pagi-pagi di kanim Alauddin tidak bisa dilayani, hingga menantang matahari pukul 9 di atas mobil pick up kakek yang panasnya masyaAllah karena perjalanan ke Daya bertepatan menghadap matahari. Hanya air mata yang menetes begitu saja. Melihat saya menangis, bapak yang melayaniku (kira-kira usia 40-an tahun) menyampaikan bahwa secara urutan dokumen, sebenarnya sudah lengkap tapi KK saya belum distempel sehingga dianggap berkas tidak memenuhi syarat. Mendengar penjelasannya, air mataku makin banyak yang keluar. Padahal saya sudah berusaha keras menahan agar tidak menangis. Tetapi seperti ada dorongan kuat yang terus mendesaknya keluar hingga pipiku kebanjiran air mata. Bukan apa-apa sih, pembuatan KK ini juga penuh drama soalnya karena harus bolak-balik ke Denpasar, Bali.

    Mungkin karena saya nangisnya dari hati, bapak itu luluh. Apalagi saat tahu jika KK ku diterbitkan di Denpasar. Dengan suara sangat rendah, beliau memberi saya formulir pengajuan paspor beserta dokumen-dokumenku dan menyuruh masuk ke ruangan di sebelahnya untuk menemui bosnya. Cenderung berbisik, dia menambahkan bawa bayinya ya, biasanya tidak ada orang yang tega kepada bayi.

    Saya masuk ke ruangan itu bersama bapak dan baby Yui. Kami disambut security yang telah mengetahui kondisi kami dari bapak petugas loket agar membawa saya ke atasannya. Security itulah yang menjelaskan permasalahanku ke pak bos sebelum kami bertatapan muka. Rupanya pak bos yang dimaksud ternyata masih sangat muda. Mungkin seumuran dengan suamiku. Singkat saja tanyanya, suaminya dimana? Kok tidak ikut? Setelah saya sampaikan bahwa dia ada di Timika, Papua,  dia tanya lagi. Kerja apa di sana? Mendengar jawabanku, langsung saja dia acc berkasku dengan catatan, saat pengambilan paspor nanti harus membawa KK yang sudah distempel agar berkasnya bisa ditukar. Selanjutnya saya mengisi formulir pengajuan paspor dan menandatangi surat jaminan orang tua (karena saya mengajukan paspor untuk bayi) dan langsung dibawa ke ruang foto, didahulukan karena anak bayi. Tapi lagi-lagi drama! Proses foto yang seharusnya cuma 5 menit saja molor hingga setengah jam gara-gara Yui tertidur. Pengambilan foto paspor harus memuat seluruh muka, sementara baby Yui tidurnya pulas. Susaaahh banget banguninnya.

    Memasuki menit ke 40, alhamdulillah berhasil membangunkan baby Yui. Jepret! Foto selesai, slip pengambilan paspor terbit. Bayar di bank dan kita datang empat hari lagi dengan paspor sudah di tangan insyaAllah 😘

    Kenyataannya…

    2 minggu kemudian baru bisa kembali ke kanim Daya karena proses KK yang harus bolak balik Bali untuk di stempel. Parahnya, KK kami harus cacat karena dicoret-coret Ochy sebelum selesai di laminating. 😭😭

    Pas pengambilan paspor, eh ditolak lagi. Gara-gara yang datang ambilkan si kakek yang sudah tidak satu KK dengan kami. Dan tidak ada pula surat kuasa yang dibawa. Maka yang harus datang sendiri adalah salah satu orang tua si anak. Ya ampuunn.

    Setelah jum’atan saya pun ke kanim Daya tanpa membawa Ochy maupun Yuiko. Anak-anak saya titip di rumah orang tua. Ke kanim Daya juga naik angkot karena mobil sudah tak punya, dijual untuk beli rumah. Motor ada sih, tapi agak takut karena sudah lamaaaaaa sekali tidak naik motor. Kalau cuma dalam kompleks sih masih berani. Tapi kalau di jalan raya protokol begitu agak ngeri sendiri. Lalu saya pesan taxi online, tapi gak ada juga yang dekat-dekat. Akhirnya naik angkotlah saya ke sana dengan dua kali rute : Antang – Tello lalu Tello – Daya karena saya berangkat dari rumah orang tua. Nah parahnya, karena juga sudah bertahun-tahun gak naik angkot, eh saya malah kebablasan sampai di lampu merah perempatan pasar Daya. Kantor imigrasi sudah jauh terlewat di belakang. Ya Allaaahh. Dramanya ini sudah level berapa sih 😭😭

    Nah nyebrang ke sisi jalan buat naik angkot balik. Alhamdulillah kali ini tidak terlewatkan karena sebelumnya saya beritahu pak sopir untuk menurunkan di kanim Daya. Tiba di sana sudah pukul 1.30 siang. Saya dapat nomor antrian 171 sementara yang baru terproses saat itu nomor 83. Imagine it? How long it will be?? Hiks.. Mana loketnya cuma buka sampai jam 3 sore pula. Jadi kalau sudah waktunya tutup ya tutup. Gak peduli meskipun masih ada yang antri. Yang gak kebagian yaaa ikut hari kerja berikutnya. Terus saya pulang gitu?? Oh no! Pokoknya saya akan pulang jika melihat sendiri loketnya tertutup. Saya akan lebih puas sendiri jika telah melakukannya dengan maksimal. Pun jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, setidaknya saya telah memaksimalkan usaha.

    Nomor antrianku 171 boo

    Nah… Alhamdulillah, ajaibnya banyak nomor antrian yang tidak ada orangnya. Mungkin mereka sudah terlanjur pulang karena mengira nomornya yang gak akan kebagian di loket.

    Daaaann… tadaaaaa… passport adek akhirnya di tangan. Alhamdulillah.

    Jadi kesimpulannya :

    1. Boleh mengurus paspor di kantor imigrasi manapun, meskipun beda domisili. Seperti kami yang alamatnya di  Denpasar bisa membuat paspor di Makassar.
    2. Untuk daerah Makassar sebaiknya pilih Kanim Daya untuk pengurusan paspor
    3. Pastikan berkasnya lengkap sehingga tidak harus bolak-balik
    4. Datang pagi banget dan selamat mengantri berjam-jam 😁😂

    Liburan di Rumah Saat Musim Libur

    Liburan di rumah

    Sejauh ini saya dan keluarga paling menghindari liburan di musim libur. Selain mainstream banget, juga tidak bisa menikmati wisata dengan nyaman karena terlalu banyak pengunjung. Susah dapat spot foto yang keren, berisik dan dipastikan harga penginapan dan tiket wisata juga naik berlipat-lipat. Halah… ternyata ujung-ujungnya tetap alasan harga ya bo! Dasar emak-emak. Wkwkwwk. Habis traveling berdua dan berempat kerasa banget beda budgetnya. Jadi kalo bisa dihindari saat high season, ya kenapa tidak? Kalaupun terpaksa liburan di saat musim libur, ya ayo kita terjebak! Hahaha. Ini maksud tulisannya apa sih? Kok jadi bingung sendiri! 

    Meskipun suami saya seorang karyawan yang jatah cutinya cuma 12 hari setahun tapi kami selalu berusaha untuk liburan di waktu-waktu sepi pengunjung. Sekarang sih masih bisa ngomong seperti itu ya karena anak-anak masih bebas dengan segala jadwal. Entah bagaimana jika esok lusa sudah sekolah, dimana Ochy dan Yuiko tidak bisa lagi traveling semau emaknya karena gak mungkin izin terus demi menghindari liburan di musim libur. Tapi sudahlah, repot amat mikirin hal ginian. Ochy masuk sekolah kan juga masih lamaaaaaa banget. Empat atau lima tahun lagi. Nikmati saja dulu yang sekarang. Mumpung anaknya masih asyik dibawa kesana kemari.

    Liburan di rumah

    Tentang liburan di musim libur, kami malah memilih menghabiskan waktu di rumah saja daripada jalan-jalan seperti orang kebanyakan. Di rumah sendiri ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Diantaranya berenang, balapan sepeda, bercocok tanam, memasak bersama, membersihkan rumah, menyusun puzzle, main di taman, mendaki bukit dekat kompleks dan tentu saja bermain kejar tangkap.

    Liburan di rumah

    Kegiatan sederhana itu ternyata efeknya luar biasa terhadap keluarga, terutama bagi anak-anak. Selain melatih kekompakan suami istri, juga merangsang kemandirian dan daya nalar anak. Dan yang paling penting sih, kebersamaan itu menjadi unsur berharga menumbuhkan rasa kasih sayang antar anggota keluarga.

    Liburan di rumah

    Nah libur lebaran sebentar lagi tiba. Sudah punya rencana liburan kemana? Kalau kami sih seperti judul tulisan ini, liburan di rumah saat musim liburan. Artinya cuma di rumah saja setelah silaturrahim ke rumah orang tua dan mertua serta beberapa kerabat. Eh tapiii… mertua saya kan ada di Enrekang. Jaraknya kurang lebih 400 km dari Makassar. Ini termasuk liburan di musim libur gak sih? Hahaha.

    Anw, selamat hari raya Idul Fitri ya semua. Mohon maaf lahir dan batin ^.^

    Ketenangan Teluk Yoetefa

    Pagi setelah sarapan, kami menunggu teman Papa di lobby yang akan menjemput dan mengajak berkeliling Kota Jayapura. Setelah semalam deal tidak akan ke Skow, daerah perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Meski saya sebenarnya ngebeeett banget ke sana tapi pak suami ogah karena jaraknya cukup jauh (4 jam pp) dan tidak ada hal menarik yang bisa dinikmati di sana, menurutnya. Padahal ya sejak dulu saya punya impian menjajaki batas-batas wilayah Indonesia dengan negara tetangga. Dan saya paham bahwa daerah perbatasan itu memang tidak memiliki wisata yang bisa memanjakan mata namun saya selalu penasaran dengan masyarakat di sana, bagaimana mereka menjalani hidup di garis batas antar negara. Bagi saya justru itulah hal menariknya. Tapi yaaa begitulah, selera ketertarikan setiap orang memang berbeda. Well, abaikan. Anggap saja saya punya alasan untuk bisa kembali ke Jayapura suatu saat nanti. Hihihihi

    Menu sarapan hotel tidak mewah. Tapi cukup mengenyangkan. Nasi goreng kecap dengan toping telur dadar. Teh dan kopi menjadi teman sajiannya. Meski sederhana tapi Ochy sangat suka. Lahap dan habis satu porsi piring. Sangat cukup menjadi energi cadangan untuk agenda jalan-jalan hari ini.

    Mobil kami melaju pelan menjauhi area hotel pukul 8 pagi. Teman papa (Suca) menjemput kami bersama istrinya yang juga hamil sekitar lima bulan sepertiku. Namanya Mia, cantik dan sangat ramah. Kami langsung akrab berasa sudah kenal bertahun-tahun. Pagi ini kami akan diajak ke Teluk Yoetefa di Tanah Hitam, taman wisata dengan hamparan hutan Mangrove yang diapit dua buah tanjung di sisi kanan kirinya. Dari deskripsi Mia, saya bisa membayangkan betapa cantiknya teluk Yoetefa itu.

    Cukup dekat ternyata jaraknya dari kota Jayapura. Kami berkendara hanya sekitar 15 menit saja. Begitu mobil berhenti, saya melongo ke jendela. Dalam hati melongos : Lho, itu teluknya? Apa bagusnya tempat berpasir hitam begini. Hanya tumpukan batu yang sedikit menjorok ke pantai, istimewanya dimana? Hahaha. But hey… be careful of your thought! Tidak baik mengambil kesimpulan di awal.

    Turun dari mobil saya terheran-heran. Kok kita mengarah ke kiri padahal pantainya jelas-jelas di sebelah kanan. Rupanya Teluk Yoetefa ini memang luar biasa. Selain diapit tanjung di sisi kanan kirinya, juga berhadapan dengan garis Pantai Hamadi. Hijau dengan rimbun Mangrove dan tanaman sagu dipadu biru air laut yang tenang dengan view gunung di sekelilingnya. Tuh kan, makanya tetaplah berprasangka baik. Tempatnya memang kece abis pokoknya as Mia described it to me selama di perjalanan tadi.

    Di sana ada beberapa saung berwarna biru terang untuk tempat duduk dan bersantai di atas laut. Ada beberapa perahu motor juga yang bersandar. Satu dua perahu datang dan pergi mengangkut penumpang. Sayapun penasaran, ini orang-orang pada mau kemana ya? Rasa penasaran sayapun terjawab. Seolah memahami apa yang saya pikirkan, Mia membeberkan bahwa di tengah teluk Yoetefa ini ada beberapa pulau cantik yang didiami masyarakat asli Papua. Diantaranya pulau Tobati dan Enggros. Menariknya lagi ada lapangan timbul tenggelam. Heh?? Kayak gimana tuh ya? Kok kedengarannya keren. Jadi bukan hanya sinyal saja yang timbul tenggelam di Jayapura. Ternyata lapangan pun bisa timbul tenggelam. Hahaha. Rupanya lapangan yang dimaksud itu adalah daerah lapang berpasir yang akan nampak jika air sedang surut dan akan tenggelam jika air sedang pasang. Kok jadi kebayang pasir timbulnya Raja Ampat ya. Halah… kayak gue pernah ke Raja Ampat aja 😅😂

    Saya penasaran sekali ingin ke pulau-pulau tersebut. Pasti akan sangat menyenangkan menjelajah dengan perahu. Tapi lagi-lagi saya harus mengurut dada. Kondisi saya yang hamil menjadi alasan pak suami menolak mentah-mentah melintasi laut dengan perahu motor warga lokal. Mia dan suaminyapun menyarankan hal yang sama demi keselamatan bersama. Ya ampuun… Kak Idu ini pengen aku gigit rasanya. Sudahlah batal ke Skow, sekarang gagal pula menikmati eksotisme Teluk Youtefa dari dekat. Okeh… okeeehh… ini menambah daftar panjang alasan untuk kembali lagi ke Jayapura suatu hari nanti. 😁😁

    Senja di Waduk Antang

    Mungkin tidak banyak yang tau hal menarik apa yang bisa kita nikmati di Antang. Sebuah pinggiran Kota Makassar yang sering dimarginalkan karena keberadaan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di daerah Tamangapa. Bau sampah menjadi pencemaran udara yang sudah pasti tidak bisa di hindari apalagi jika TPA tersebut belum menerapkan sistem sanitary landfill. Baunya bahkan menyeruak hingga berkilo-kilo meter jauhnya. Jika angin bertiup kencang, baunya bisa tercium hingga ke rumah orang tua saya.

    Terlepas dari permasalahan sampah di Antang, ternyata ada satu tempat indah untuk menikmati sunrise maupun sunset yaitu di waduk Antang yang terhubung ke Borong dan Toddopuli. Dulu ketika saya masih gadis, jalan-jalan pagi ataupun sore menjadi kebiasaan saya menghabiskan waktu di tempat ini. Kadang sendiri, kadang juga ramai-ramai dengan teman. Naik sepeda, balapan sepatu roda atau sekedar jogging. Pernah juga menelusuri luas waduk dengan berjalan kaki karena merasa penasaran dimana ujungnya dan ada apa di sana. Padahal saat itu waduk Antang masih dipenuhi semak belukar, jalannyapun masih setengah aspal, setengah batu pengerasan dan timbunan tanah merah. Beda dengan sekarang yang sudah lebih terawat dan ramai. Jalannya sudah beton lengkap dengan terali besi di pinggir waduk sebagai pengaman. Belakangan malah dijadikan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan yang sering terjadi di pertigaan Antang-Ujungbori.

    Sore itu tidak sengaja saya lewat di sana bersama bapak dan Ochy. Seperti kembali ke masa lalu, kenangan-kenangan di tempat ini terputar lagi. Saya melihat diriku yang lari berkejaran dengan anak-anak asuh di pinggir waduk. Duduk dan tertawa di aspal yang setengah jadi. Belajar dari alam adalah tema kami hari itu. Tak lama muncul lagi diriku menenteng sepatu roda berwarna pink. Bersama sahabat perempuan yang sangat tomboy, kami balapan hingga ke ujung batas pengunjung waduk yang ditandai pagar setinggi 2 meter berlapis portal besi. Dan dasar kami nakal, kami menerobos masuk dengan memanjat. Sepatu roda kami terlebih dahulu di lempar ke sebelah melalui celah pagar. Sahabatku yang tomboy itupun sudah berhasil menyeberangi pagar setinggi 2 meter itu. Sementara saya bernasib sial. Baru setengah memanjat, security sudah datang. Teriak-teriak sambil membawa tongkat kayu setengah lengan. Karena ketakutan, terpaksa saya mengambil jalan pintas karena tak mungkin mampu menyelesaikan rintangan pagar besi ini. Sayapun melompat ke samping yang tak lain adalah bagian waduk yang penuh air berupa kanal. Parahnya saya tidak bisa berenang, jadilah saya mangap-mangap. Syukurnya kedalaman kanal ini masih terjangkau dengan tinggi badanku sehingga saya tidak tenggelam.

    Mengingat-ingat kejadian itu membuat tawaku pecah sekaligus bertanya-tanya apa kabarnya sahabat tomboyku itu? Puluhan tahun tak pernah berkomunikasi lagi sejak ia memutuskan merantau ke pedalaman Luwuk Banggai.

    Seperti iklan dalam tayangan tv, muncul lagi gambar lain. Begitu cepat berganti. Kali ini saya melihat diriku dari belakang. Jalan berdua menyusuri pinggir waduk yang dipenuhi ilalang dan semak belukar. Tanah becek sisa hujan semalam tak menyurutkan niat kami. Rasa penasaran akan muara waduk ini telah meleburkan rasa takut kami akan hal-hal buruk yang bisa saja kami jumpai di pagi buta selepas subuh begini. Teman sejak berseragam putih abu-abu yang selalu bergairah untuk setiap petualangan baru. Teman yang selanjutnya menjadi sahabat karib lalu menjadi cinta dan sayangnya harus berakhir dengan penuh benci. Saling menyakiti satu sama lain. Hingga kita tak saling bicara lagi.

    Begitulah… tak ada persahabatan dan cinta yang hadir di garis hidup kita tanpa meninggalkan bekas di sana. Seberapapun kita bahagia atau terluka atasnya.

    Film lain yang mampir dalam benak tentang waduk ini adalah sekelompok anak abege yang sedang memasuki fase puncak kenakalan remaja. Terlihat saya dan lima orang teman bermain di pinggir waduk yang sedang dalam pembangunan. Salah satu diantara kami nekat terjun ke galian terdalam yang baru saja dikeruk oleh excavator. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga melakukan hal bodoh itu. Awalnya baik-baik saja. Tertawa dan menyombongkan diri akan kemampuannya. Diapun mengulanginya lagi. Berhasil, iapun menepuk-nepuk dadanya. Sekali lagi diulangi, naas kakinya menghantam batu dan mengalami dislokasi tulang. Reaksi refleks kami tentu saja tertawa alih-alih menolongnya terlebih dahulu. Mungkin jika kejadiannya sekarang, maka reaksi pertama kami adalah memfotonya lalu mengupload ke media sosial dengan berbagai caption dan hashtag.

    Kenangan di tempat ini memang tidak akan ada habisnya. Dan saya mensyukurinya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membuat hari-hariku berwarna. Membuat saya bangga bahwa hidupku tidak berlalu begitu saja.

    Saya meminta bapak untuk berhenti sejenak. Sementara beliau dan Ochy menikmati matahari sore, saya melanjutkan film kenangan di pinggir waduk.

    Bagaimana sunset mu sore ini? Ada cerita apa di baliknya? Bagi cerita yuukk😊😊