Vienna : Novel, kampus dan bangunan artistik

Sebelumnya saya tidak pernah tau ada kota bernama Vienna di dunia ini. Padahal Vienna atau Wina adalah kota besar, makmur dan sangat berpengaruh di Eropa tengah. Kotanya super cantik, seindah namanya. Awal mula perkenalan saya dengan ibukota Austria ini justru dari sebuah novel inspiratif karya Hanum Salsabila Rais, 99 Cahaya di Langit Eropa yang saya baca di tahun 2014 saat sedang menghamilkan anak pertama. Saking jatuh cintanya dengan kisah perjalanan tokoh utama di buku tersebut, saya dan suami sepakat menyamatkan nama belakang si tokoh kepada calon anak kami.

Karena itu ketika mendapat kesempatan jalan-jalan ke Eropa, maka tujuan utama kami bukanlah ke Paris ataupun Italia yang merupakan destinasi mainstream turis dunia. Kami sebenarnya ingin ke Austria untuk menuntaskan sebuah pengharapan. Sebuah doa yang sering kami ulang-ulangi yang tersirat pada makna nama anak kami, Muhammad Hideyoshi Almahendra. Maka siang itu, saat kereta terus menjauh meninggalkan Bratislava menuju Vienna, napasku naik turun tidak karuan. Dadaku sesak dipenuhi perasaan haru luar biasa.

Pegunungan Alpen yang berselimut salju menjadi pemandangan alami sepanjang perjalanan. Satu-dua desa khas Eropa kami lalui. Ladang pertanian dan perindustrian silih berganti nampak di jendela. Hingga memasuki stasiun utama Viena dengan segala modernitasnya. Bagi saya yang selama beberapa hari ini berpindah-pindah stasiun dari satu negara ke negara lainnya, Wien Hauptbahnhof adalah stasiun kereta terkeren yang saya jumpai. Bersih, ramai orang tapi tetap tenang, modern, desainnya futuristik, lift dan eskalator selalu berdampingan sehingga tidak perlu mutar sana sini dari dan ke platform dan yang pasti wifi gratis di mana-mana. Satu hal yang mungkin tidak ramah bagi kami di Vienna adalah apa-apa harganya mahal. Harga tiket kereta mahal, harga hotel mahal, makanan mahal, souvenirnya mahal bahkan untuk sebuah magnet kulkas berukuran mini diberandol dengan harga 9 €. Padahal saya biasanya beli cuma 3 – 5 € saja di negara-negara yang kami lalui sebelumnya. Itupun ukurannya bukan yang mini begitu.

Ochy kayaknya demam foto dengan lidah dijulurin begini deh 😅

Dari Wien Hauptbahnhof kami langsung menuju hotel. Kami menginap di hotel Meininger yang dekat dengan stasiun Wien Hbf ini. Bisa ditempuh dengan dua cara yaitu jalan kaki atau naik metro. Jika memutuskan jalan kaki, Rutenya : keluar stasiun, berjalanlah ke arah perempatan yang ada light trafficnya. Tunggu sampai lampu penyebrangan bagi pejalan kaki menyala. Jalan terus lalu berbelok ke arah kiri.  Jika arahmu benar, maka akan sampai di sebuah kompleks plaza atau pertokoan dan melalui taman dengan deretan kursi panjang. Beberapa hotel juga ada di daerah ini. Luruuusss saja sampai menemukan logo ‘M’ berwarna merah. Sedangkan jika naik metro : Ambillah jalur metro u1 menuju stasiun Keplerplatz. Turunlah di stasiun pertama dan jalan kaki sekitar 100 meter, ketemu deh hotelnya.

Hotel kami adalah quite zone. Sepertinya orang-orang di Vienna memang menyukai ketenangan. Di stasiun, kereta, tram, restoran bahkan hotel sekalipun semuanya quite zone. Saya jadi harus punya kekuatan ekstra untuk menjaga si kicik-kicik agar tidak berisik. Dijaga betul agar Ochy tidak teriak-teriak dan Yui tidak nangis. Ketika membuka kamar, saya jadi wow sendiri karena kamarnya luaaass dan diberi lima tempat tidur pula. Hehehe. 

Setelah mandi dan makan, kamipun bersiap keliling kota Vienna dengan one day ticket yang sudah kami beli tadi di stasiun. Tapi mungkin karena keenakan, apalagi dengan kamar yang comfy begini ditambah mood anak-anak yang lagi pengen leyeh-leyeh, kami malah mager alias malas gerak. Akhirnya gak jadi ke Schonbrunn Palace, Stephanplatz, Nationalbibliothek dan beberapa spot wisata utama di sana karena hari keburu sore. Kami hanya menyempatkan ke Wien University. Kampus di mana Rangga Almahendra, tokoh utama 99 Cahaya di Langit Eropa menuntut ilmu. Ketika tiba di WU, saya terkagum-kagum melihat arsitektur bangunannya yang tidak biasa. Elegan, artistik dan sangat berkelas. Saya bahkan tidak percaya ini sebuah kampus jika tidak membaca deretan huruf yang menempel di bangunan depan.

Ochy di Wien University.

( Source : architectuur.fotograaf.eu )

Tiket one day ticket tadi sebenarnya bisa dipakai untuk berkeliling kota Vienna mengunjungi berbagai ragam wisata yang ada di sana. Tapi berhubung traveling bawa bayi dan toddler itu tidak semudah traveling dengan orang dewasa ya kami harus tunggui sampai mood dan kondisi mereka siap diajak jalan. Yang awalnya kami rencananya berangkat pukul 2 siang, jadinya molor sampai pukul 5 sore. Karena itu sepulang dari kampus, kami memutuskan stay di hotel saja karena hari sudah gelap. Suhu saat itu cuma satu digit pula. Terlalu berisiko mengajak anak-anak jalan malam. Merasa rugi sih membeli one day ticket tadi. Tau gini kan lebih hemat beli tiket ketengan saja. But that’s life. We never know what will happen, even one minute ahead.

Advertisements

24 Jam di Bratislava, Slovakia

Danau Bled Bratislava (source : google)

Bratislava adalah ibukota Slovakia, negara yang dulunya bersatu dengan Ceko menjadi Cekoslovakia. Namun karena sudah tidak satu visi lagi, pada tahun 1993 mereka memutuskan berpisah menjadi Republik Ceko dan Slovakia. 

Tujuan utama kami sebenarnya ke Vienna, Austria. Tapi kereta kami dari Prague, Republik Ceko melewati Bratislava maka kamipun memutuskan untuk singgah. Hitung-hitung bisa menambah checklist negara yang dikunjungi dan lagi biaya penginapan di sini cenderung lebih murah daripada di Vienna. Lumayanlah bisa lebih hemat semalam. Selain itu saya sangat terpesona dengan Danau Bled dan Devin Castle yang saya lihat di internet saat browsing singkat tentang Bratislava.

Devin Castle (source : google)

Perjalanan ke Bratislava ditempuh selama 4 jam dari Prague dengan kereta. Kereta ini sebenarnya kereta terusan ke Budapest, Hongaria. Jadi yang punya banyak wakyu bisa tuh sekalian ke Budapest dulu. Sedangkan waktu tempuh dari Bratislava ke Vienna hanya 1 jam saja.

Kami tiba di stasiun utama Bratislava pukul 11 pagi dan disambut hujan deras. Kesan pertama saya tentang Bratislava jorok dan oldiest. Stasiunnya berbau pesing dan orang-orangnya kebanyakan lansia. Karena hujannya awet, pukul 1 siang kamipun ke penginapan dengan naik taxy. Awalnya ingin naik transportasi umum : bus atau tram. Tapi haltenya ada di luar stasiun. Dekat saja sih sebenarnya cuma karena hujan dan udara dingiiiinnn banget, kasian juga sama anak-anak. Mana bawa barang banyak pula. Rasanya tidak pas dengan tram atau bus yang berhentinya cuma 1-2 menit menurun naikkan penumpang. Takut kejadian seperti di Belgia yang waktu itu hampir membuat saya dan Kak Idu terpisah di kereta. Hahaha. Pilihan lainnya adalah naik uber. Saat memesan harganya cuma 4 €. Tapi diakhir pemesanan ada keterangan minimum payment sebesar 10 € untuk jarak dekat seperti tujuan kami. Penjemputannya juga di luar stasiun. Gak mungkinlah basah-basahan membawa anak-anak ke sana. Akhirnya pemesanannyapun kami batalkan dan memilih taxy konvensional yang mangkal tepat di depan kami. Taxynya ini gak pakai argo tapi deal-dealan dengan tawar menawar. Saat itu sepakat dengan harga 9 €. Mobilnya bagus, seperti Xpander sport. Lengkap dengan car seat pula untuk balita. Drivernya sudah tua. Mungkin usia 60-an dan tidak bisa berbahasa Inggris. Lalu bagaimana akhirnya kami sepakat di harga 9 € tadi? Gampang! kami tawar menawarnya memakai kertas dan pulpen. Pak sopirnya menuliskan angka 15 € kami coret dan menuliskan angka 5 €. Hahahaha. Kalau emak-emak yang menawar harga ya gini deh, sadis. Sambil geleng-geleng dan ngoceh, pak sopirnya lalu menulis angka 10 €. Kami coret lagi dan menulis angka 7 €. Dia geleng lagi dan mengoceh dengan tidak jelas lalu menulis angka 9 €. Siipp! kami setuju dan kamipun diangkut.

Sepanjang perjalanan menuju hostel, sopir taxynya menjelaskan banyak hal tempat-tempat yang kami lalui. Jadi dia merangkap sebagai tour guide gitu deh. Hanya saja kami tidak mengerti karena dia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Dia sangat tertarik dengan Ochy. Sejurus kemudian dia mengeluarkan Hpnya dan menunjukkan foto gadis kecil yang sangat cantik kira-kira seusia Ochy. Dia bilang itu anaknya atau entahlah. Kami hanya menduga-duga. Hahaha. Overall pak sopirnya baik banget, ramah. Hanya saja ketika kami diturunkan, pandangan saya tentangnya langsung berubah gara-gara dia meminta bayaran 13 € padahal di awal tadi kami sepakat di harga 9 €. Dia menjelaskan bahwa setiap barang yang kami bawa dikenakan cas masing-masing 2 € untuk koper dan ransel kami. Sebagai bonus, stroller dia tidak kenakan biaya. Tapi saya tidak percaya dan menuduh itu hanya akal-akalannya saja untuk menipu turis seperti kami. Tapi karena hujan tak juga reda dan ingin segera menyantap yang hangat-hangat di kamar sambil leyeh-leyeh, yasudahlah kamipun bayar 13 € dengan wajah cemberut. Lalu buru-buru masuk hotel dan meninggalkan pak tua itu tanpa kata. Mengucapkan terimakasihpun saya ogah.

Tiba di hostel masih kurang jam 2 siang. Meski demikian, resepsionisnya sudah membolehkan kami check in. Padahal rata-rata waktu check in penginapan di Eropa itu mulai jam 2. Sambil menunggu kamar kami disiapkan, saya ngobrol santai dengan mbak resepsionis termasuk menanyakan tentang biaya barang bawaan ketika naik taxy di sini. Dan dari pengakuannya, saya sangat merasa bersalah dengan pak tua sopir taxy tadi karena ternyata memang seperti itu peraturannya. Oh Tuhan… pengen rasanya ketemu lagi dengan bapak tadi dan meminta maaf berkali-kali. Saat saya beritahu Kak Idu di kamar, dia sama merasa bersalahnya. Bahkan menekuri mengapa kami mendadak jadi orang yang perhitungan sekali. Padahal uang segitu paling habis buat ngopi saja kalau di Indonesia. Sementara bagi orang lain itu bisa saja untuk menyambung hidup keluarganya. 

***

Langit Bratislava kelam sepanjang hari itu. Basah dengan hujan yang tak kunjung reda. Walhasil kami yang tadinya ingin ke old town hanya bisa meringkuk di bawah selimut. Makan-tidur-makan lagi-tidur lagi. Keindahan Devin Castle, Danau Bled dan Sungai Danube yang membelah Slovakia, Austria dan Jerman ternyata belum bisa saya lihat secara langsung.

Devin Castle dan Sungai Danube (source : google)

Keesokan harinya, pukul 9 pagi kami check out dan menitip bagasi di hostel agar kami bisa keliling kota tanpa geret-geret koper. Cuaca hari ini juga kurang bersahabat. Baru juga tiba di old town, langit sudah gelap lagi. Akhirnya kami gak bisa mengunjungi banyak tempat. Hanya mampir beli jaket di FO, makan di restoran Turkey dan mutar-mutar gak jelas di taman kota. Meski demikian, saya sudah cukup senang. Biarlah gak kesampaian ke Devin Castle dan Sungai Danube, bisa membawa pulang jaket Zara seharga 10 € juga sudah bikin hepi.

Taman kota Bratislava
Yang penting si kicik-kicik hepi bisa lelarian sepuasnya.
First time makan shawarma. Sizenya besar banget ternyata.

Pukul 12 siang kamipun sudah berada di stasiun Bratislava setelah mengambil koper kami di hostel tentunya. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Vienna, Austria. Tiketnya sudah kami beli kemarin di stasiun.

Tempat Wisata Menarik yang Bisa Dikunjungi di Prague (Praha) Bersama Bayi dan Balita

Saat menyusun itinerary liburan ke Eropa, saya tidak pernah ragu memasukkan Prague atau Praha, ibukota Republik Ceko ke dalam jadwal. Saya bahkan mengalokasikan waktu terlama di Prague dalam perjalanan Eurotrip kami (16 hari, 6 negara 9 kota) yaitu sekitar 5 hari khusus untuk menikmati keindahan kotanya yang disebut-sebut sebagai kota tercantik di dunia.
Hari 1. Kami mendarat di Václav Havel airport Prague dari Brussels dengan maskapai Czech Airlines sekitar pukul 10 malam. Saat itu sedang badai sehingga turbulensi terasa beberapa kali selama penerbangan. Dari bandara langsung menuju hotel yang hanya bisa diakses dengan taxy. Kami menginap di Penzion V Mastali, salah satu hotel yang lokasinya dekat bandara. Tapi menurut saya, dekatnya ini kok masih terasa jauh ya. Apalagi kami harus menembus badai malam-malam begini dengan kontur jalan yang berkelok-kelok. Saya dan Kak Idu sampai bertatap-tatapan cemas, apa mungkin kita dibawa ke tempat yang benar karena kok jalannya spooky banget, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dan ketika si driver menurunkan kami, saya semakin shock melihat hotelnya. Bagaimana tidak, kami disambut dua pemuda yang lagi minum-minum di pintu masuk. Saat menuju resepsionis saya bahkan nyaris pingsan karena asap rokok dimana-mana. Rupanya ruang receptionnya menyatu dengan bar. Kak Idu sampai memohon maaf berkali-kali kepadaku. Mungkin merasa bersalah karena hotel ini, ia yang reservasi via online. Tapi siapa sangka, ketika kami dibawa ke kamar yang letaknya di lantai dua, saya takjub luar biasa. Kamarnya baguuuusss banget dan pelayanannya juga sangat ramah. Ochy bahkan diberi cot yang bikin dia girang, padahal kami tidak request sebelumnya. Kamar mandinya apalagi, bikin betah sekali. Alhamdulillah bisa tidur nyenyak sampai pagi nanti.

Hotel kami di dekat bandara Prague

Hari 2. Ketika bangun keesokan harinya, saya semakin jatuh cinta dengan hotel ini karena pemandangannya dari jendela luar biasa indah. Warna-warni pohon maple di sepanjang jalan menjadi terapi emosi pembangkit semangat. Bergeser ke kiri, mata saya menangkap playground yang belakangan menjadi tempat favorit Ochy bermain.

Hari ini kami akan ke pusat kota dan selama hari-hari berikutnya di Prague , kami akan menginap di apartemen yang dipesan melalui Airbnb. Dari sini ke pusat kota kami memakai Uber dengan pertimbangan lebih praktis. Soalnya jika menggunakan transportasi umum, harus berjalan kaki jauh ke halte, setelah itu mesti transfer ke tram lain untuk tiba ke apartemen. Cukup repot jika membawa banyak barang begini. Biaya ubernya juga murah saja kok.

Begitu tiba di apartemen, ternyata host kami masih ada kerjaan di luar sehingga belum bisa bertemu. Akhirnya kami jalan-jalan dulu di sekitar flat. Lokasinya sangat strategis. Supermarket berada tepat di sampingnya, kafe dan restoran tersebar di mana-mana dan yang paling penting, halte bus cuma 10 meter saja dari flat. Tepat di seberang jalan juga ada park dan sepertinya sebuah kampus.

Maria, nama host kami yang masih sangat muda. Orangnya ramah dan super baik. Dia menjelaskan singkat tentang Prague. Transportasi ke tempat-tempat wisata, restoran dan kafe yang layak dikunjungi serta hal-hal apa saja yang menarik untuk dinikmati di kota kecil ini. Bagi saya dan Kak Idu, informasi warga lokal begini jauh lebih valid daripada saran dari mbah google.

Cuaca di Prague cenderung lebih dingin daripada Amsterdam dan Brussels. Curah hujannya juga lebih tinggi dan waktu siangnyapun lebih singkat. Kombinasi cuaca seperti itu sangat menggoda untuk ngulet-ngulet di kasur saja. Apalagi buat si bayi dan toddler, punya ruang luas untuk bermain tentu sangat menyenangkan. Tapi kok ya sayang sekali jika sudah jauh-jauh ke Eropa cuma buat tidur saja. Hehehe. Karena itu kamipun sightseeing di sekitar apartemen. Mampir di restoran kebab dan pizza lalu ke supermarket untuk membeli beras dan lauk. Selebihnya main di park kampus. Kami memang belum ke pusat wisata di old town hari ini karena sudah terlalu sore menunggu Maria datang.

Hari 3. Flat yang kami tinggali fasilitasnya sangat lengkap. Ada mini bar, kitchen set dan wash machine. Sambil menunggu masakan matang, saya memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Sementara Kak Idu memandikan si bayi dan toddler lalu menemani mereka bermain. Gaya traveling kami seperti inilah adanya. Kebiasaan-kebiasaan yang kami lakukan sendiri di rumah tetap dibawa kemanapun. Sederhananya mungkin cuma pindah tempat tidur saja. Hehehe.

Setelah sarapan, kamipun berangkat ke Old Town dengan sekali naik bus dari stasiun Cerninova. Menurut informasi Maria, kami harus menaiki bus no 136. Waktu tempuhnya tidak lama, sekitar 10 menit saja. Setelah itu walking tour dimulai. Awalnya sempat bingung ke arah mana kami akan memulainya. Tapi karena dalam kamus hidup saya dan Kak Idu tidak ada kata nyasar, kamipun melangkah asal arah saja yang menuntun kami akhirnya menemukan tempat-tempat baru. Ya, kami memaknai kesasar dengan menemukan tempat baru. Sebab pada hakikatnya kita memang berada di tempat yang baru. Dan lagi kata kesasar hanya akan membangkitkan emosi negatif sedangkan ‘menemukan tempat baru’ cenderung membawa hawa positif. Benar atau betul? Hehehe.

Selama walking tour ini, kami menikmati kota tua Praha yang sangat antik. Bangunan-bangunannya khas Romawi Kuno dengan menara lancip. Berada di sini membuat saya berpikir seperti tidak di dunia nyata tapi dalam dunia dongeng yang banyak disajikan film-film kartun Disney. Mungkin karena banyaknya jumlah menara di sini, Prague menyandang status sebagai kota seribu menara.

Berikut tempat-tempat yang kami kunjungi selama walking tour secara mandiri :

1. Prague Old Town Square

Tempat ini merupakan alun-alun kota lama yang menjadi pusat wisata kota tua di Prague. Menjadi the must visit when in Prague karena dikelilingi bangunan-bangunan kuno penuh sejarah dengan berbagai aneka warna dan gaya arsitektur mulai dari gothic, rococo hingga baroque style. Tak heran kompleks ini selalu dipadati wisatawan karena memang sangat colourful, indah luar biasa. 

Prague Old Town Square
Prague Old Town Square
Prague Old Town Square

Beberapa bangunan-bangunan indah di dalam kompleks ini antara lain : Old Town Hall, Astronomical Clock, Týn Cruch, House at The Stone Bell, Kinský Palace, Jan Hus Memorial dan St. Nicholas Church. Yang paling menarik bagi saya adalah astronomical clock karena saat jamnya berdentang akan keluar boneka-boneka lucu dan menari. Menariknya lagi karena merupakan jam astronomi tertua di dunia yang dibangun pada tahun 1410 yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini. Berhubung kami tiba di sana pengunjung sudah ramai sekali, sayapun tidak sempat memotretnya karena waspada dengan isi ransel dan kantong jaket. Takut kena copet. Hihihihi.

Selain menikmati keindahan bangunan kota tua tersebut, kita juga bisa menikmati kelezatan kuliner Prague. Salah satunya adalah Trdelnik. Adonan mentahnya digulung pada sebuah batang kayu yang panjang lalu dibakar di atas bara api. Teksturnya mirip croissant tapi tengahnya bolong. Biasanya diberi aneka filling seperti gula, coklat dan eskrim.

Trdelnik isi coklat
Proses pemanggangan Trdelnik

2. Charles Bridge atau Karluv Most

Jembatan yang membelah Sungai Vltava ini adalah salah satu yang tersohor di dunia. Dibangun pada pemerintahan Raja Charles IV (1357). Jembatan ini menghubungkan dua distrik bersejarah di kota Prague yaitu Old Town dan Lesser Town sekaligus menjadi penghubung destinasi wisata terkenal di Prague yaitu Kastil Praha dan old Town Square. Tidak heran jembatan ini selalu ramai dipadati wisatawan, seniman dan pedagang souvenir. Yang paling menonjol dari jembatan ini adalah deretan 30 patung bergaya baroque di kedua sisinya bersama lentara vintage yang unik.

Charles Bridge
Charles Bridge

3. Sungai Vltava

Sungai Vltava merupakan sungai terpanjang di Republik Ceko yang dilintasi oleh 18 jembatan, salah satunya Charles Bridge. Dengan berpesiar menggunakan kapal ataupun gondola, kita bisa menyaksikan pemandangan unik yang ada di kota Prague. Bagi yang tidak suka berlayar di sungai tidak perlu khawatir karena dengan berjalan kakipun kita bisa menikmati keindahan sungai ini. Pastikan saja kakinya cukup kuat ya sis! Hehehe. Disalah satu sisinya, akan kita temukan gerombolan angsa yang berenang bebas. Jadikanlah pengalamanmu lebih seru dengan memberi makan angsa-angsa tersebut.

Di tepi sungai Vltava
Vltava River
Cruise Tour
Angsa-angsa di tepi sungai Vltava

4. Prague Castle atau Pražky Hrad

Jujur saja tulisan ceko ini memang rada susah dibaca. Lidah sudah seperti kelipat-lipat saja rasanya. Jadi waktu walking tour di area old town square, tidak sengaja kami menempuh jalan yang menuju charles bridge. Dari sana kita bisa menyaksikan kemegahan dua kastil yaitu Pražký Hrad atau kastil Prague di sisi kiri dan Vysěhrad di sisi kanan.

Prague Castle di bangun tinggi di atas perbukitan dan merupakan kompleks kastil terluas di dunia versi Guinness Book of World Records (luasnya mencapai 70.000 m2). Kastil ini pernah menjadi pusat pemerintahan raja-raja Bohemian, kaisar Romawi dan Presiden Cekoslovakia. Kastil ini juga menjadi saksi perang dan pemberontakan yang bergejolak di Prague, diantaranya Bohemian Revolt, Battle of Prague, Perang Dunia II dan Velvet Revolution. Setelah Cekoslovakia terbagi menjadi dua yaitu Republik Ceko dan Slovakia, sebagian Prague Castle kini ditempati oleh Presiden Republik Ceko dan sebagian besar lainnya dibuka untuk umum.

Prague Castle

Kompleks kastil buka setiap hari dari pukul 05.00 – 24.00 tanpa biaya apapun alias gratis. Tapi kalau masuk ke interiornya harus membeli tiket seharga 250 ck untuk dewasa (short visit tour) dan 350 ck untuk long visit tour. Sedangkan untuk anak-anak usia lima tahun ke bawah, biayanya gratis.

5. Vysěhrad

Ini adalah kastil lain di Prague yang juga dihubungkan oleh Charles Bridge. Jadi di sisi kanan jembatan Charles ada Pražky Hrad, di sisi kirinya ada Vysěhrad. Keduanya sama-sama kastil. Meskipun tidak setenar kastil di sebelahnya yaitu Kastil prague, namun keindahan kastil Vysěhrad juga tidak kalah menarik. 

Vysěhrad

Kami sendiri hanya memandanginya dari jauh karena kaki sudah terlalu capai melangkah. Bermodal kursi taman di sisi selatan Charles Bridge, tempat kami beristirahat sekaligus menikmati semilir angin di tepian sungai Vltava, kami sangat mengagumi arsitektur bangunan kastil ini.

Hari ke 4. Rencananya kami akan ke Cesky Krumlov, salah satu desa tercantik yang ada di Prague yang dapat ditempuh selama 3 jam dengan bus maupun kereta. Sebagai penikmat desa, saya dan Kak Idu tentu tidak ingin melewatkannya. Tapi apa mau dikata, cuaca hari ini sedang tidak bersahabat bagi turis rempong seperti kami yang membawa bayi usia 5 bulan dan balita usia 2 tahunan. Hujan sepanjang hari benar-benar tidak membuat kami beranjak ke mana-mana. Seharian itu kami hanya di flat. Sangat disayangkan memang. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Allah menjaga kesehatan kami dengan cara seperti ini. Hitung-hitung buat istirahat setelah kemarin gempor-gemporan keliling old town square. Hehehe.

Hari 5. Yang dikunjungi di hari ke lima di Prague adalah Dancing House. Berbeda dengan bangunan-bangunan klasik di old town, Dancing House justru menawarkan arsitektur futuristik, sangat dekonstruktif dengan bentuk tidak biasa. Bangunan ini mencerminkan wanita dan pria (Ginger Rogers dan Fred Astair) yang sedang menari bersama. Bangunan ini memiliki 99 panel beton dengan bentuk dan dimensi berbeda-beda. Unik sekali bukan!

Hari 6. Pagi-pagi sekali kami meninggalkan flat Maria menuju stasiun kereta utama di Prague. Karena membawa banyak barang (seperti biasa setiap akan berpindah kota dan negara, maka kami pasti membawa serta koper besar) maka kami ke stasiun dengan naik uber. Hari ini kami akan ke Slovakia. Jujur saja saya belum puas menikmati kota Prague yang memang super cantik ini. Saya berharap suatu hari nanti bisa kembali ke kota ini lagi. Dear beautiful Prague, call me again someday!

Brussels And All Its Drama.

Brussels
Perjalanan dari Amsterdam ke Brussels bisa ditempuh dengan berbagai moda transportasi seperti kereta, bus dan kereta cepat. Masing-masing tentunya punya plus dan minus. Kalau mau yang paling hemat, pilihannya tentu saja naik bus. Tiket busnya bahkan ada yang cuma 1€ jika berhasil mendapat promonya. Kekurangannya, waktu tempuh yang cukup lama yaitu sekitar 4.5 jam. Meski demikian, perjalanannya terasa menyenangkan karena busnya super keren. Ada tv lcd di masing-masing kursi, ada wifi gratis, tempat tas dan soket colokan listrik. Sangat cocok bagi pejalan yang low budget seperti kami.
Tetapi perjalanan kami ke Brussels ditempuh dengan kereta cepat Thalys. Ada beberapa alasan mengapa kami memilih kereta cepat. Yang pertama karena ingin menambah pengalaman berkereta cepat kami (ini adalah yang kedua setelah naik Shinkansen di Jepang). Alasan lainnya karena waktu tempuh yang relatif lebih singkat yaitu sekitar 1 jam 51 menit saja. Jauh diatas kereta reguler yang memakan waktu 3.5 jam apalagi bus yang menghabiskan waktu lebih lama.

Saya akui harga tiketnya memang mahal. Ini bahkan menjadi tiket kereta termahal kami selama di Eurotrip kali ini. Padahal sudah saya buking jauh-jauh hari. Tapi demi sebuah pengalaman baru bagi keluarga, saya dan Kak Idu menyepakatinya bersama. Apalagi untuk anak kami Ochy yang sangat excited dengan dunia transportasi. Ini akan menjadi pelajaran berharga untuknya.

Kereta Cepat Thalys

***

Kami tiba di Bruxelles Midi Station sudah pukul 10 malam. Stasiunnya sudah sepi. Toko dan loket tiket sudah tutup. Nyaris tak ada petugas yang bisa ditanyai arah tepat menuju hotel kami yang cuma 2 menit dari stasiun. Bukan apa-apa, salah pintu exit bisa membuat kita jalan kaki berjam-jam karena memutar. Dan bisa lebih lama lagi jika sambil menggotong bayi dan anak yang semuanya tertidur pulas ditambah ransel, koper dan stroller serta mata yang tinggal 5 watt karena sudah mengantuk dan kaki lunglai karena sudah kelelahan. Karena itu kami rela mutar-mutar di dalam stasiun menanyai siapa saja yang penampilannya meyakinkan sebagai warga lokal. Berkeliling di dalam stasiun tentunya jauh lebih aman daripada di luar. Sudah hampir pasrah sih sebenarnya jika malam ini terpaksa menginap di stasiun dan reservasi hotel yang sudah kami lakukan terpaksa hangus. Apalagi malam semakin larut. Kami sudah sejaman lebih di sini dan setiap orang yang kami tanyai tidak ada yang tau. Giliran ada yang ngerti alamatnya, bicaranya malah pakai bahasa Perancis. Ya kali, kami ngerti. Adanya cuma ingat aksen sengau-sengaunya saja. Mengandalkan google maps juga ternyata bikin keliru. Ah nyasar-nyasar seperti ini nih yang akan jadi cerita seru nantinya buat saya ketawain bersama Kak Idu. Apalagi kalau pakai ngotot-ngototan sok benar dengan feeling masing-masing tentang arah mana yang akan dituju. Susah dilupain deh pengalaman kayak gini soalnya. Pengalaman yang hanya bisa dirasakan kalau kita jadi solo traveler begini. Kalau bareng travel agent mah gak bakal ada nyasar-nyasar begininya. Hahaha *menghibur diri*

Suami lalu berinisiatif untuk mempercayai arahan Gmaps. Saya dan anak-anak beserta barang bawaan kami menunggu di stasiun. Tak seberapa lama suami kembali dan memberi kode angkat bahu. Fix, kayaknya beneran nginap di stasiun ini. Huhuhu. Hingga pada akhirnya, seseorang yang kami tanyai berhasil menunjukkan arah yang tepat meskipun memakai kombinasi bahasa Belanda, Jerman dan lebih banyak bahasa tubuh. Alhamdulillah… yeayy! Gak jadi dingin-dinginan di stasiun sampai pagi. Hihihi.

Di Brussels ini unik sekali, orang-orangnya berbahasa Perancis, Belanda dan Jerman. Sangat jarang saya mendengar yang berbahasa Inggris. Begitupun dengan tulisan-tulisan di sign board, memuat empat bahasa sekaligus. 

Menurut saya, ada perbedaan yang mencolok antara otang-orang di Eropa dan Asia saat memberi tahu arah jalan begini. Orang Eropa biasanya menjelaskan singkat kemana kita harus melangkah : ke kanan, ke kiri, maju atau putar belakang dengan instruksi tangan yang digerakkan sesuai arah. Kalau orang Asia biasanya menjelaskan panjang lebar. Terus kalau melihat wajah kita belum paham juga, mereka rela mengantar ke arah yang dia maksud bahkan hingga sampai di tujuan.

Nah berdasarkan informasi dari stranger tadi, kamipun menuju arah exit di depan kami. Dan benar saja, jarak hotel dengan stasiun benar-benar cuma 2 menit jalan kaki sesuai dengan petunjuk dari website hotel. Nama hotelnya bahkan kelihatan dari pintu exit ini. Arah yang tadi sudah kami tuju sebenarnya. Duhh… rasanya kok jadi gemes ya saya. Lokasi hotelnya memang sangat top. Dekat dengan stasiun utama dan juga supermarket serta restoran halal. Syukurlah hotelnya ketemu. Kamipun lalu mandi, makan lalu tidur nyenyak. Siapin tenaga buat jalan-jalan cantik besok.

Hotel kami di Brussels
Supermarket dan restoran halal di dekat hotel
Hotel kami di Brussels

***

Proses pencarian hotel semalam rupanya menjadi awal dari drama perjalanan kami di Brussels. Pagi ini setelah anak-anak dan suami sarapan, sayapun menyiapkan semua keperluan yang akan dibawa keliling kota. Taulah ya bawa baby itu barangnya banyak. Syukur-syukur anaknya masih ASI ekslusif sehingga tidak perlu menambah kerepotan membawa botol, dot, sikat dan termos. 

Setelah semuanya siap, giliran si emak yang harus dandan super cepat. Tapi saya tercengang karena satu-satunya baju bersih yang saya punya ternyata sudah kekecilan bagian lengannya. Gak sadar kalau berat badanku sudah tidak se slim dulu. Baju ini sebenarnya asal saya comot sih ketika packing dari rumah sebelum berangkat ke Eropa karena kejar-kejaran dengan jadwal penerbangan. Niatnya nanti setelah sampai di bandara Kuala Lumpur akan beli baju, makanya cuma bawa 4 potong baju saja. Kenyataannya hingga meninggalkan Amsterdampun, kami belum kesampaian ke toko buat belanja. Hufft.

Sempat bingung mau pakai baju apa. Gak mungkin juga saya pakai baju yang sudah dimasukkan ke kantong laundry. Sudah kotor dan berkeringat. Akhirnya atas saran suami, baju tersebut saya gunting lengannya. Padahal ini salah satu baju favoritku. Karena udara musim gugur memang masih dingin banget, jadi kemana-mana kami selalu memakai jaket. Nah jaket inilah yang menjadi outer untuk menyembunyikan baju tanpa lengan asal gunting tersebut. Wkwkwkwk. Sumpah deh beda kreatif dan kere itu tipiiiissss banget. Gak papalah ya yang penting bisa jalan-jalan keliling kota. Nanti kalau ketemu mall, bisa mampir buat beli baju baru.Yippiii.

Brussels

Hari ini kami berencana mengunjungi Grand Place dan atomium. Grand Place sendiri adalah alun-alun kota yang dikelilingi bangunan-bangunan indah dan bersejarah yaitu Townhall, Guildhall dan Brodhuis. Area ini menjadi the must visit when in Brussels karena telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Tempat ini juga disebut dengan Grand market karena terdapat banyak kafe, restoran dan toko-toko souvenir. But you know guys, kami gak kesampaian makan waffle Belgia yang mendunia itu, yang kata orang-orang tokonya ada di area ini, kecil tapi antriannya selalu mengular. Sudah dua kali mutar-mutar tetap saja cuma ketemu toko souvenir dan coklat. Gak ketemu penjual wafle sama sekali. Terakhir malah nyangkut di halaman JW. Marriot buat internetan gratis.

Karena keasyikan online, akhirnya dalam sehari itu kami hanya mengunjungi area Grand Place saja. Tidak jadi ke atomium karena menurut pak suami atomium itu biasa saja. Tidak ada istimewanya. Padahal dia sendiri belum pernah ke sana tapi memberi opini seperti itu. Keasyikan online ya pak? Sampai gak mau beranjak dari sini. Hahaha. Dasar faqir wifi. Pas ketemu jadi gak mau pulang. Hahaha.

Grand Place Brussels
Restoran di Grand Place
Brussels

Tiket kereta keliling Brussels sebenarnya berlaku selama 1 jam. Karena kami sudah lebih berjam-jam akhirnya harus membeli tiket baru untuk pulang ke hotel mengambil koper yang tadi kami titip saat check out. Di stasiun ini ternyata hanya tersedia mesin tiket saja. Tidak ada loket dan petugas yang melayani seperti di stasiun Bruxelle Midi. Pas mau beli tiketnya kita bingung bagaimana mengoperasikannya karena berbahasa Perancis. Pencet-pencet tombol untuk ganti bahasa malah tidak mau. Nah saat lagi pusing begini, saya cegat seorang cleaning service yang baru saja meletakkan peralatannya di pojok dinding dekat mesin tiket lainnya. Alhamdulillah dia bisa berbahasa Inggris. Dari si bapak itulah kami baru tahu kalau tombol ganti bahasanya bukan dipencet tapi diputaaaarrrr. Hahahaha. 

Mesin tiket

Karena sejak awal, Belgia memang negara yang cuma disisipkan dalam itinerary kami, maka tidak banyak waktu yang kami alokasikan di sini. Sore hari kami sudah menuju bandara Brussels untuk terbang ke prague. Ada kejadian unik ketika di stasiun Midi sebelum membeli tiket terusan ke bandara. Berhubung saya belum makan waffle di Belgia, maka sayapun bela-belain cari toko yang ada menu wafflenya di stasiun. Alhamdulillah ketemu. Hanya saja pelayannya gak bisa bahasa Inggris jadinya salah beli deh. Mintanya waffle fresh from the oven, dikasinya yang dihangatkan pakai microwave. Mintanya waffle coklat, yang saya terima malah waffle polos. Oh Tuhan! Tapi yasudahlah, setidaknya saya sudah bisa memberi centang tebal pada wishlist makan waffle di Belgia. Hahaha

Kamipun segera ke konter tiket untuk membeli tiket kereta ke bandara Brussels. Dalam perjalanan ke konter tiba-tiba seorang ibu menepuk pundak saya lalu mengoceh dengan suara sengau yang bahasanya sama sekali tidak kumengerti. Menyadari saya kebingungan, ia menarik saya ikut bersamanya. Agak takut sih awalnya. Tapi karena dia berhijab, saya percaya saja niatnya pasti baik. Dan masyaAllah ibu itu memang benar-benar berniat membantu kami. Entah darimana ia tahu kalau kami akan ke airport. Ia membawa kami ke konter yang tepat. Konter berbeda dengan yang akan kami datangi tadinya. Setelah itu ia cuma senyum, memberi salam dan berlalu. Padahal saya bahkan belum sempat menanyakan nama dan asalnya. 

Setelah mendapatkan tiketnya, kamipun segera ke platform yang tulisannya kurang jelas karena cuma ditulis tangan oleh si petugas. Kami hanya menduga-duga dengan memperhatikan penampilan calon penumpang. Kalau banyak yang membawa koper, bisa dipastikan ini platform yang benar yang akan menuju bandara. Keretanya sudah standby ketika kami tiba di platform. Saya tanya ke petugas apakah ini menuju bandara, dia hanya mengangguk. Kamipun bersiap naik. Kak Idu menaikkan koper terlebih dahulu lalu menyimpannya di tempat yang telah disediakan di kompartemen sebelah. Setelah itu barulah dia akan membantu saya menaikkan stroller yang ditempati Ochy tidur. Soalnya keretanya tidak stroller friendly, ada anak tangga di pintu sehingga saya harus menunggu Kak Idu untuk menaikkannya sebab kemampuan saya terbatas dalam posisi menggendong Yui begini. Tapi belum juga Kak Idu selesai menyimpan koper, pintu kereta tertutup dan tidak bisa dibuka lagi. Sementara saya dan anak-anak masih di luar. Sempat bercanda dengan diri sendiri, serius nih saya ketinggalan kereta? Serius nih suami saya terjebak di dalam? Padahal paspor dibawa semua oleh Kak Idu berikut uang dan kartu debit. Tiket kereta juga dia yang bawa. Saya satu sen pun tidak pegang uang sama sekali, pun tidak ada kartu identitas sama sekali. Kalau terkena razia petugas, bisa-bisa saya dianggap imigran gelap.

Dari dalam kereta Kak Idu tampak panik. Ia menekan tombol pintu berkali-kali, memukul-mukul jendela masinis tetap saja pintu kereta tak bergerak walau sesenti. Beberapa penumpang juga mencoba membantu tapi kereta telah terkunci rapat. Kak Idu juga dengan panik memberi saya kode untuk memberitahu petugas. Lalu dengan tergopoh-gopoh karena menggendong bayi dan mendorong stroller sayapun mengetuk jendela masinis dari luar. Saya sampaikan apa yang terjadi tapi petugasnya cuma bisa bilang, maaf kereta harus segera berangkat. Tidak ada waktu. Silahkan menunggu kereta berikutnya. Setelah itu ia menutup kembali jendelanya dan seolah tidak peduli lagi denganku. Lalu sayapun memohon-mohon dan entah kenapa tau-tau saya sudah menangis saja. Sang petugas lalu menelepon seseorang. Saya tidak tahu siapa yang dia telepon tapi tidak lama setelah itu datanglah petugas lainnya lalu membuka pintu dari luar dengan kode yang saya tidak tau. Kak Idupun diminta cepat-cepat turun. Alhamdulillaah… syukurlah bisa bersama lagi. Saya gak kebayang kejadian berikutnya jika harus terpisah begini.

Eh btw, tadi kan saya cerita kalau pakai baju yang lengannya digunting dadakan. Karena alhamdulillah semuanya berjalan aman-aman saja, saya jadi lupa kalau memakai baju tanpa lengan. Hingga akhirnya dihadapkan pada situasi genting yang bikin muka saya tiba-tiba jadi pucat pasi. Saat itu lagi di Bandara Brussels sedang mengantre di pemeriksaan X-Ray.

Ketentuan internasional pemeriksaan X-Ray ini memang mengharuskan melepas jaket, ikat pinggang, dan syal. Begitu masuk antrian, saya baru sadar bahwa saya sama sekali tidak mengenakan long jhon hari ini sehingga jika jaketku dilepas maka seluruh tanganku akan telanjang. Astagfirullah’aladzim. Bingung dan paniklah ya pastinya. Akhirnya saya dan Kak Idu memberanikan diri bernegosiasi dengan petugas. Menyampaikan kondisiku dan apa masalahnya. Tapi mereka bahkan bergeming. Tidak mau menerima alasan kami. Dan yaaa… jaket harus dilepas. Rasanya sedih, malu, merasa bersalah, berdosa aahh campur aduk deh. Meskipun sebenarnya orang-orang cuek saja dan sibuk dengan urusan masing-masing, tidak memberi attention kepada kami tapi saya malu sama Allah yang maha melihat. Syukurnya lilitan hijabku panjang sehingga sisa kainnya kugunakan untuk menutupi yang bisa ditutupi. Posisi menggendong Yui juga cukup membantu menyembunyikan sikuku yang kuselip diantara perutnya dan ergo baby. Lalu saya buru-buru memasuki body detector dan Kak Idu segera mengambilkan jaket yang telah melalui sinar X.

Oh Brussels… why you welcome us with so many dramas 😂

Discover Amsterdam

Siang itu pesawat Qatar Airways yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Schipol. Perjalanan yang sangat panjang sejak kami meninggalkan kota Makassar kemarin pagi. Saya sesungguhnya masih sangat lelah. Apalagi selama perjalanan itu harus membagi diri mengeloni dua krucils, si toddler yang super manja yang kalau mau tidur harus pegang siku emaknya dan si baby yang maunya nempel terus di PD. Tapi mengingat posisi saya sekarang sudah berada di belahan bumi Eropa, luapan kebahagiaan seketika menenggelamkan semua kelelahan itu. Haru dan tangis bahagia tak bisa dibendung. Bagaimana tidak, ini adalah salah satu perjalanan impian kami.

Meski kami duduk tepat di belakang kursi bussiness class atau kursi pertama kelas ekonomi, tapi kami memilih meninggalkan pesawat belakangan. Salah satu kebiasaan keluarga kecilku dalam urusan penerbangan.

Terbang bersama Qatar Airways adalah pengalaman perdana kami dengan maskapai terbaik pertama di dunia versi Skytrax 2017. Pelayanannya asli bintang lima. Apalagi untuk penumpang yang membawa bayi dan balita seperti kami, diprioritaskan. Ada bassinet pula untuk si baby sehingga tidak harus memangkunya sepanjang perjalanan. Makanannya enak-enak, children mealsnya juga lezat ditambah snack box yang keren. Ochy suka sekali apalagi pas dengan warna favoritnya, merah. Activity booknya juga keren dengan pensil dan layar ajaib yang bikin Ochy betah duduk lama-lama di kursi. Dan yang terpenting nih, ruang di kaki legaaaaa banget. Saya bahkan bisa tidur di kursi sambil selonjoran. Review lengkap tentang pengalaman kami terbang bersama Qatar Airways mungkin akan lebih baik jika dibuatkan tulisannya sendiri. (Semoga saja saya ingat dan punya waktu untuk mereviewnya. Hehehe)

Bassinet

Snack box for children

***

Siang itu, langit Amsterdam cerah. Dengan modal tanya petugas, kami membeli tiket kereta di mesin. Mesin tiket ini sangat mudah ditandai, berwarna kuning dan jumlahnya tersebar di banyak titik. Penggunaannya juga sangat mudah karena selain berbahasa Belanda, juga tersedia pilihan bahasa lain. Sayangnya belum ada pilihan Bahasa Indonesia karena itu kami memilih Bahasa Inggris saja. Sebenarnya bisa juga sih membeli di loket. Tapi antrian saat itu sangat padat sehingga kami lebih memilih membeli lewat mesin, tiket menuju stasiun Sloterdijk (stasiun sebelum Amaterdam Centraal station) karena kami menginap di Hotel Meininger yang tak jauh dari stasiun Sloterdjik tersebut.

Amsterdam Centraal

Amsterdam Centraal adalah petunjuk utama bagi setiap pendatang di Amsterdam, tidak terkecuali kami sebagai turis yang melakukan perjalanan tanpa travel agent. Kemana-mana patokannya pasti ke sini. Centraal Station adalah pusat Amsterdam yang menjadi hub berbagai jalur transportasi seperti tram, kereta api, bus dan subways. Tidak hanya melayani jalur domestik dan wilayah luar Amsterdam tetapi juga untuk tujuan ke luar negeri. Lokasinya hanya satu stasiun dari hotel kami di Sloterdjik.

Ada banyak hal yang bisa kita nikmati gratis di Amsterdam Centraal ini. Salah satunya adalah naik ferry menyusuri kanal-kanal legendaris Belanda. Selain itu, semua atraksi penting dan utama di Amsterdam dapat dicapai dengan mudah dari sini baik dengan naik tram ataupun berjalan kaki. Sebut saja Rijksmuseum, Dam Square, Bloemenmarkt dan Red District.

Kami sendiri di hari pertama Amsterdam, tidak mempunyai rencana kemana-mana. Hanya ingin beristirahat di hotel untuk menyesuaikan diri dengan zona waktu yang berbeda 6 jam dengan kota kami, Makassar. Kalaupun ada tempat yang ingin dikunjungi mungkin hanya di sekitar hotel saja, mencari supermarket dan merasakan atmosfer kota. Setelah makan, sholat dan bersih-bersih (secara sejak dari Kuala Lumpur kami belum mandi), kami tertidur begitu pulas dan bangun pukul 3 subuh karena lapar lagi. Hahaha.

Giethoorn

Hari kedua di Amsterdam kami habiskan di Giethoorn, sebuah desa terapung yang bebas polusi. Disebut juga sebagai Venicenya Holland karena rumah-rumah di sana dipisahkan oleh kanal dan transportasi yang beroperasi hanyalah perahu dan sepeda. Tidak ada kendaraan bermotor seperti mobil.

Jarak dari Amsterdam ke Giethoorn ini terbilang jauh yaitu sekitar 3 jam sekali jalan. Mungkin tidak banyak turis yang ingin ke sana karena dengan jarak tempuh yang sama, mereka sudah bisa sampai di Paris, destinasi favorit dunia. Tapi dasar saya dan suami yang lebih suka dengan alam pedesaan, kamipun bela-belain ke sana dan menutup mata atas pesona menara Eiffel sebagai landmark top dunia , museum Louvre yang kaya sejarah, Arch De Triomphe yang merupakan gerbang kemenangan Napoleon, dan wisata-wisata terkenal lainnya di Paris yang gemerlap.

Saat di kereta selama perjalanan ke Giethoorn, kami sama sekali tidak mendapat pemeriksaan tiket. Padahal tiket ke sana lumayan mahal, sekitar 500 ribuan per orang. Rupanya sistem pemeriksaan tiket di negara maju seperti ini menggunakan sistem random. Tujuannya sangat mulia, untuk melatih kejujuran warganya. Sehingga diperiksa ataupun tidak, mereka sadar diri untuk selalu membeli tiket kereta. Sebab denda yang dikenakan ketika tertangkap tangan tidak mempunyai tiket ini bikin merinding, bisa 100 kali lipat dari harga tiketnya! Untuk turis kere seperti kami tentu saja bikin merinding karena bisa saja kami turun tahta dari backpacker ke begpeker. Hahaha.

Satu hal yang menarik dalam perjalanan ke Giethoorn ini karena kami berkenalan dengan couple asal India yang sudah lama menetap di Singapore. Belakangan, mereka ini ternyata banyak sekali membantu kami. Apalagi saat pulang dari Giethoorn ketika kereta harus dialihkan karena mengalami kerusakan. Kami juga berkenalan dengan solo traveler wanita asal Korea yang dimulai percakapan singkat tentang Ochy yang dia sangka sebagai orang Korea juga. Hahaha. Sisi positif dari jalan sendiri tanpa travel agent yang paling saya rasakan adalah bagian ini, mendapat teman baru.

Zaanse Schans

Hari ketiga di Amsterdam kami mengunjungi Zaanse Schans, sebuah desa yang memberi gambaran akurat tentang kehidupan masa lampau Holland di abad ke 17 dan 18. Di sini kita bisa melihat rumah otentik, pabrik keju dan susu serta kincir angin yang masih aktif digunakan hingga saat ini. Selain itu juga ada museum yang patut dikunjugi seperti museumwinkel (toko kelontong dari masa lalu sebelum supermarket besar bermunculan), bakkerijmuseum (museum toko roti dengan koleksi kerajinan kuno dari pembakaran roti) , museum Zaanse Tijd dengan koleksi jam uniknya serta Zaan museum yang memiliki koleksi khusus peralatan, pakaian dan lukisan dari daerah tersebut. Satu lagi yang tidak ketinggalan adalah boat tour sebagaimana di daerah Belanda lainnya. Namanya juga negeri kanal jadi ya dimana-mana memang ada wisata menyusuri kanalnya. Hehehe.

Dari Zaanse Schans sebenarnya kami ingin sekali ke Volendam, desa nelayan yang terkenal di Amsterdam. Namun apa daya, kami sudah cukup kelelahan sehingga dengan terpaksa harus mencoret Volendam dari itinerary kami. Semoga masih diberi kesempatan ke Belanda suatu hari nanti untuk menuntaskannya. Amiin.

Perjalanan ke Giethoorn : Berawal dari Khalayan

Giethoorn, 17 Oktober 2017

Perjalanan ke Giethoorn ini bisa dibilang magical trip. Lho kok? Hehehe… jadi ceritanya begini. Bulan Maret yang lalu ketika dalam perjalanan pulang ke Makassar dari Jeddah, saya membaca majalah yang disediakan di pesawat. Ini adalah kebiasaan saya dan suami untuk membunuh waktu. Di salah satu artikel majalah tersebut membahas Desa Giethoorn di Belanda yang katanya bak di negeri dongeng. Tulisan tentang keindahan Giethoorn ternyata  tak terbantahkan saat suami memperlihatkan gambar-gambarnya di halaman berikutnya.
“Sayang lihat deh, pasti mama suka ini.” Kata Kak Idu sambil menunjukkan saya gambar rumah beratap jerami dengan kanal di sekelilingnya. Pohon dan bunga merekah beragam warna dengan langit biru cerah yang terang. Ah indah sekali. Sepertinya foto-foto itu diambil saat musim semi.

Pikiran saya melayang jauh. Membawaku ke dalam majalah itu dan saya seolah hidup di sana, menikmati keindahan dan ketenangan Giethoorn. Suara Ochy yang minta susu segera menyadarkan saya kembali. Wajah bengong saya tertangkap basah Kak Idu dan ia menertawai saya habis-habisan. Sambil terkekeh, Kak Idu menggoda saya “Hmm.. Jangan-jangan mama berkhayal lagi ini main di Giethoorn.” Dia sudah hafal betul kebiasaanku yang satu ini soalnya. Saya yang tidak punya pembelaan cuma bisa mencubit bahunya sambil tertawa malu-malu.

Giethoorn

Namun siapa sangka, tujuh bulan kemudian kami benar-benar berada di Giethoorn. Menikmati setiap jengkal kanalnya. Memandangi rumah-rumah warga yang unik, rumah tradisional Belanda dengan atap jerami di atas pulau gambut. Meresapi aroma sejuk udaranya, di bawah pohon-pohon maple yang berguguran. Apa yang bisa saya katakan? Jangan pernah remehkan khayalanmu! 

Sejarah Giethoorn

Konon desa ini pertama kali dihuni pada tahun 1230 oleh sekelompok pelarian dari wilayah Mediterania. Pada saat mereka tiba di sana, desa ini dipenuhi tanduk kambing yang berserakan dalam jumlah sangat banyak sebagai sisa banjir besar St Elisabeth yang melanda daerah tersebut pada tahun 1170. Lalu mereka pun menamai desa ini dengan Geytenhorn yang berarti tanduk kambing (Geyten = kambing dan Hoorn = tanduk) . Tapi dengan perubahan dialeg selama bertahun-tahun, desa inipun lebih dikenal dengan sebutan Giethoorn.

Giethoorn

Bagaimana cara menuju Giethoorn?

Giethoorn berada di kotamadya Steenwijkerlaan provinsi Overijssel, berjarak sekitar 2.5 jam dari kota Amsterdam menggunakan transportasi umum : kereta dan bus. Begitu tiba di stasiun steenwijk kita melanjutkan perjalanan dengan bus no.70 agar bisa sampai ke desa Giethoorn. Jangan sampai ketinggalan bus ya karena bus berikutnya akan tiba 1 jam lagi. 

Giethoorn bisa dijadikan sebagai one day trip jika memang tidak ada niat menginap di sana. Kalaupun ingin merasakan suasana Giethoorn seutuhnya, mungkin ada baiknya jika meluangkan satu dua malam di sini. Meskipun tidak ada hotel, karena memang dilarang untuk menjaga citra desanya, namun ada banyak guest house yang menawarkan konsep bed and breakfast. Pasti menyenangkan sekali ya menginap di desa tenang seperti Giethoorn ini. 

Apa yang bisa dinikmati di Giethoorn?

Giethoorn adalah desa kecil yang tenang dan bebas polusi karena tidak ada kendaraan bermotor yang lalu lalang. Meski luas wilayahnya tidak seberapa, tapi ada banyak hal yang bisa kita lakukan di Giethoorn. Diantaranya :

1. Boat Tour yaitu menjelajahi Giethoorn dengan kanal-kanalnya yang khas. Boat tour ini bisa kita pilih memakai perahu besar seharga 7.5 € per orang dewasa dan stroller dikenakan cas 1 €. Ini sudah termasuk tour guide yang menjelaskan sejarah Giethoorn dan hal-hal menarik apa saja yang ada di Giethoorn. Tour guide ini adalah si driver sendiri. Di atas perahu ini juga tersedia meja dan kursi. Dinding kapal merupakan kombinasi kayu dan kaca yang bisa di buka layaknya jendela. Karena ini transportasi umum maka kita akan berbaur dengan turis lainnya. Sedangkan jika ingin lebih privat boleh menyewa satu perahu kecil (semacam long boat tanpa atap) yang bisa memuat hingga 7 orang peumpang. Hanya saja pastikan bahwa kamu bisa mengendarainya sendiri karena tidak ada drivernya.

Perahu besar dan perahu kecil
Perahu kecil

Kami sendiri mencoba boat tour di Giethoorn. Tapi sayang sekali, kami harus mengakhirinya pun masih di awal-awal perjalanan karena Yui menangis kencang sekali. Mungkin dia kedinginan karena rombongan turis asal Cina yang satu perahu dengan kami membuka jendela yang sekaligus dinding perahu karena ingin foto selfie dan merekam dengan video sehingga hawa dingin musim gugur yang begitu menusuk menyerbu ke dalam. Ketika kami menyampaikan niat ke driver untuk turun dari perahu, dia berkali-kali meyakinkan : “Apakah kalian serius? Kita bahkan baru saja memulainya. Sayang sekali karena kalian sudah bayar mahal-mahal. Anak kecil yang menangis itu biasa. Santai saja” Tapi kami tetap bersikukuh turun karena tidak enak dengan penumpang lainnya yang bisa saja terganggu dengan tangisan Yui. 

Perahu besar yang kami tumpangi

Driver dan stroller adek di bagian depan

Begitu perahu menepi, si driver tersenyum pasrah lalu kami meminta maaf kepada penumpang lainnya dan segera turun mencari kursi atau apapun yang bisa di duduki untuk menyusui Yui dengan nyaman. Tapi kami tidak menemukan kursi ataupun taman terdekat. Syukurlah ada salah satu restoran tak jauh di depan kami. Di sana kami menghangatkan badan dengan coklat panas dan kentang goreng yang rasanya enak sekali.

2. Bersepeda adalah hal lain yang bisa dicoba untuk menjelajahi jalanan Giethoorn yang kecil. Kelebihannya karena bisa menjangkau hingga ke rumah-rumah warga bahkan bisa parkir di halamannya. Selain itu kita juga bisa berhenti sesuka hati di spot manapun yang kita inginkan. Tapi harga sepeda di sini cukup mahal yaitu 15 € untuk satu jam.

Sepeda yang disewakan
Breastfeeding everywhere

3. Walking Tour. Kalau kamu suka berjalan kaki, maka Giethoorn adalah tempat yang wajib kamu kunjungi karena setiap jengkal tanahnya begitu indah. Kita bisa dengan bebas melalui jembatan-jembatan kayunya yang bersejarah karena usianya telah ratusan tahun, menapaki padang rumputnya yang hijau atau bermain bersama hewan ternak warga di pekarangan rumahnya.

Giethoorn
Giethoorn
Jembatan kayu

Selain kanal dan rumah tradisional, kita juga bisa menikmati wisata museum, mencicipi aneka makanan khas Belanda di cafe dan restoran atau membeli cinderamata di toko souvenir.

Pengalaman Mengurus Sendiri Visa Ke Eropa (Schengen) di Kedubes Belanda Via VFS Global Surabaya

Mengurus visa ke Eropa dalam hal ini visa schengen di kedutaan Belanda secara mandiri tidaklah sulit. Hanya saja sejak 1 Juli 2016 pengajuan visa schengen tidak lagi bisa dilakukan secara langsung di kedutaan tetapi harus melalui agency yang ditunjuk yaitu VFS Global sehingga proses visa yang dulunya hanya sehari, kini menjadi 7-15 hari. Pengajuan visa ini bisa dilakukan paling cepat 90 hari sebelum keberangkatan dan paling lambat 2 minggu sebelum keberangkatan.
VFS Global tidak hanya melayani pembuatan visa schengen, tetapi juga untuk visa Inggris, Australia dan New zealand. VFS murni sebagai perantara calon aplikan dan seksi visa kedutaan yang dituju sehingga disetujui atau tidaknya visa kita tidak ditentukan oleh VFS Global melainkan oleh pihak kedutaan. Di Indonesia, kantor VFS Global hanya bisa dijumpai di 3 kota yaitu Jakarta, Surabaya dan Kuta Bali. 

Yang Perlu Dilakukan Sebelum Mengajukan Visa

1. Tentukan Kedutaan

Sebelum mengajukan visa, tentukanlah kedutaan mana yang akan dituju dengan berdasar pada dua poin ini : negara pertama yang dikunjungi atau  negara paling lama yang akan kita tinggali. Saya sendiri mengajukannya di kedutaan Belanda karena tiket masuk ke Eropa memang melalui Amsterdam, Belanda. Lagipula, kata orang-orang (katanya sih) pihak Belanda dikenal lebih friendly menyetujui visa kita. 

2. Membuat Temu Janji 

Hal berikutnya yang dilakukan adalah membuat temu janji secara online melalui website resmi VFS Global. Awalnya kami memilih VFS Global Bali, selain hitung-hitungan biaya lebih murah dari Makassar juga karena kami sedikit lebih mengenal jalan di sana karena pernah tinggal di Denpasar. VFS Global Bali ini hanya bisa memuat satu temu janji untuk satu orang. Jadi kalau berangkatnya berempat seperti kami, berarti harus membuat empat temu janji. Untuk anak-anak di bawah 17 tahun, tetap diregistrasi sebagai orang dewasa dan saat penyerahan dokumen di kantor VFS Global, akan diwakili oleh salah satu orang tua. Sayangnya, tanggal temu janji yang kami inginkan sudah full. Bahkan hingga akhir Juli 2017. Sementara Kak Idu hanya bisa hingga akhir Juli karena masa cuti yang sudah di penghujung waktu.

Akhirnya kamipun memutuskan mengajukan visa melalui VFS Global Jakarta. Di sini, kita bisa mengajukan satu temu janji untuk lima orang sekaligus. Lebih mudah karena tidak harus keluar masuk website VFS Global. Tapi lagi-lagi tanggal yang kami inginkan juga sudah full booked, bahkan tidak ada slot hingga akhir Juli 2017. Saya dan Kak Idu mulai was-was. Sedikit pusing memikirkan waktu yang pas. Bisa saja sih mengurusnya di bulan Agustus karena keberangkatan kami nanti di bulan Oktober. Tapi itu dia masalahnya. Cuti besar Kak Idu sudah habis per Juli 2017 ini sementara tidak seperti visa Jepang yang bisa diwakili oleh salah satu pemohon saja, visa schengen harus diajukan sendiri oleh masing-masing pemohon karena akan dilakukan pengambilan data biometrik. Untuk anak-anak tidak perlu ikut hadir tapi kami tetap membawa mereka karena sudah janji kepada Ochy untuk mengajaknya naik pesawat sedangkan Yui masih asi ekslusif, jadi kemana-mana memang ikut emaknya. Ternyata membuat temu janji ini gampang-gampang susah ya. Apalagi jika waktunya mepet begini.

Karena tidak mendapat jadwal temu janji di VFS Global Bali dan Jakarta, maka satu-satunya yang bisa kami andalkan adalah VFS Global Surabaya. Alhamdulillah, slotnya masih ada untuk tanggal yang kami inginkan. Di sini, kita bisa membuat temu janji untuk dua orang sekaligus. Jadi karena kami berempat, berarti akan mengantongi dua jadwal temu janji. Kak Idu dan Ochy di jam 10.00 pagi sementara saya dan Yui di jam 10.15 waktu Surabaya.

Tips : Saat membuat temu janji, sebaiknya menggunakan satu nomor telepon yang sama, jika mengajukannya sekeluarga atau beramai-ramai dengan teman. Karena jika tidak, maka akan tampil sendiri-sendiri jadwal temu janjinya meskipun dijadwalkan di jam yang sama. Sehingga menyulitkan jika suatu waktu kita ingin melakukan perubahan seperti mengganti tanggal janji, jam dan sebagainya. Perubahan ini bisa dilakukan paling cepat 24 jam sejak terbitnya jadwal temu janji.

Dokumen Yang Diperlukan Saat Pengajuan Visa Schengen Keluarga

Dokumen yang diperlukan untuk pengajuan visa schengen adalah sebagai berikut :

1. Formulir pengajuan visa yang bisa diunduh di website resmi VFS Global. Pengisian formulir ini bisa diketik bisa juga ditulis manual. Kami sendiri mengisinya dengan tulisan tangan atau manual. Pastikan saja tulisannya rapih dan jelas menggunakan huruf kapital.

2. Paspor dengan masa berlaku lebih dari 6 bulan. Jangan coba-coba mengajukan visa jika paspornya sudah mau expired. Selain paspor asli, juga perlu melampirkan fotokopinya yang memuat data diri kita. Jika punya paspor lama, fotokopi halaman pertama dan visa-visa yang pernah terbit di sana. Selain fotokopinya, fisik asli paspor lama tersebut juga harus disertakan.

3. Keterangan domisili yaitu KTP dan Kartu Keluarga yang harus dalam bahasa Inggris. Saya tidak memakai jasa sworn translator karena saya menerjemahkannya sendiri. Untuk anak-anak, cukup lampirkan fotokopi KTP kedua orang tuanya beserta yang telah diterjemahkan.

4. Akte lahir dan buku nikah yang juga dalam bahasa Inggris. Sama seperti poin nomor 3, akte lahir ini saya terjemahkan sendiri juga. Untuk anak-anak tidak perlu lagi diterjemahkan. Cukup difotokopi saja karena akte lahir terbitan sekarang sudah tercetak dalam dua bahasa. Begitupun dengan buku nikah cukup difotokopi saja karena sudah terbit dalam dua bahasa.

5. Tiket pesawat yang menunjukkan tanggal masuk ke Eropa hingga kepulangan kembali ke tanah air. Jadi kalau berangkatnya dari Kuala Lumpur atau Singapore (karena biasanya tiket promo banyak yang start dari sana) berarti harus mencantumkan juga tiket dari Indonesia ke Kuala Lumpur ataupun ke Singapore. Tiket pesawat ini tidak harus dengan status issued. Status booking pun bisa digunakan. Pastikan saja status bookingnya masih aktif ketika mengajukan permohonan visa. Kami sendiri karena sudah mengantongi tiket Qatar Airways KL-Amsterdam (tiket promo yang dibeli 8 bulan yang lalu) maka untuk Makassar-KL nya kami menggunakan tiket booking-an Garuda Indonesia oleh bantuan teman yang bekerja di Garuda Airlines sehingga tidak rugi-rugi amat kalaupun visanya unapproved (naudzubillah, amit-amit dah. Soalnya tiket Qatar buat berempat saja lumayan banget harganya, meskipun sudah tiket promo).

6. Pas foto ukuran 3.5 cm x 4.5 cm berlatar belakang putih. Sebaiknya membuat fotonya di studio foto yang sudah terbiasa membuat visa. 

7. Travel itinerary yang memuat informasi daerah yang akan kita tuju beserta tempat menginap selama di area Schengen. Itinerary ini tidak harus sesuai dengan perjalanan kita ketika tiba nanti di Eropa. Juga tidak mesti secara gamblang dituliskan akan kemana saja dalam satu negara, jika yang dituju lebih dari satu negara. Itinerary kami bahkan hanya memuat informasi ke negara mana saja (tanpa menuliskan akan mengunjungi apa saja di negara tersebut), menginap dimana dan naik apa saat pindah ke negara lainnya. Karena inti dari itinerary bagi pihak kedutaan adalah memastikan kita tidak menjadi gelandangan setibanya di negara mereka. 

8. Travel insurance dengan coverage minimal 30.000 €. Kami sendiri membeli travel insurance AXA secara online untuk perjalanan 16 hari sekeluarga : 2 dewasa, 1 anak dan 1 bayi dengan paket platinum seharga 57.80 € atau Rp 867.000 (Kurs 1 € = Rp 15.000, Juli 2017)

9. Surat keterangan kerja. Sebenarnya surat keterangan ini hanya untuk menunjukkan ke pihak kedutaan bahwa kita tidak akan menetap di sana sebagai imigran dan akan kembali lagi ke negara asal jika liburannya telah usai. Surat keterangan kerja ini sebagai bukti yang kuat atas keterikatan kita dengan negara asal.

10. Reservasi hotel. Semua reservasi hotel yang saya gunakan adalah yang free cancellation yang saya booking melalui situs bookingdotcom sehingga jikapun visa kami ditolak, kami gak rugi biaya hotel karena reservasi hotel tersebut bisa kami batalkan sewaktu-waktu tanpa dikenakan biaya apapun. Oh iya, pastikan reservasi hotel yang dibuat sesuai jumlah hari selama di Eropa. Jadi kalaupun dalam perjalanan realnya ada malam yang dihabiskan di atas kereta/bus, khusus pengajuan visa ini sebaiknya tetap mencantumkan nama hotel beserta reservasinya untuk menghindari wawancara lanjutan.

11. Bank statement adalah surat referensi bank yang menjelaskan sejak kapan kita menabung di sana dan berapa jumlah saldo tabungan yang tersisa. Kalau menabung di BNI maka dikenakan biaya pembuatan bank statement sebesar Rp 250.000 dan akan terbit dalam tiga hari kerja. Kalau di bank Mandiri dikenakan biaya Rp 100.000 dan langsung terbit hari itu juga. Saya tidak tahu apakah harus membuat bank statement di bank penerbitan buku rekening pertama kalinya karena berdasarkan pengalaman kami, suami membuka nomor rekening di bank mandiri Timika tapi membuat bank statementnya di salah satu cabang bank Mandiri Makassar. Tapi ini karena dibantu teman sih yang bekerja di bank Mandiri Makassar. Makanya jadi orang yang baik-baik, biar temannya banyak. Hehehehe.

Lalu berapa sih saldo tabungan yang harus dimiliki jika ingin ke Eropa? Sungguh ini pertanyaan yang paling sering saya jumpai setiap akan mengurus visa. Apakah memang harus beratus-ratus juta??

Sebenarnya sih ini tergantung kita mengunjungi Eropa bagian apa. Karena Eropa barat dan Eropa timur itu memiliki biaya minimum yang berbeda yaitu 50 €- 70 € untuk Eropa barat dan 30 € – 50 € untuk Eropa Timur. Namun kabarnya, khusus untuk pengajuan visa schengen hanya diperlukan biaya minimal 35 € per hari. Jadi kalau di Eropa selama seminggu, tinggal kalikan saja dengan 7 hari. Kalau 16 hari seperti kami berarti harus menyiapkan minimal 560 € per orang. Angka ini dikalikan dengan jumlah keluarga yang berangkat. Karena kami berempat berarti 560 € x 4 orang = 2.240 €. Tapi ini adalah nominal minimal. Sebaiknya dilebihkan untuk menunjukkan bahwa kita mampu. Dan lagi perlu diperhitungkan juga kondisi ketika kita kembali ke negara asal. Gak mungkin kan pulang-pulang ke Imdonesia kita kelihatan gak punya uang lagi di rekening. Karena itu rasionalkan saja jumlah tabungan tersebut.

12. Dokumen penunjang lainnya. Sebenarnya ini tidak dicantumkan dalam form persyaratan visa. Tetapi kami melampirkan dokumen tambahan seperti fotokopi visa-visa yang pernah kami punya, rekening koran, slip gaji (asli dan terjemahan).

Proses Pengajuan Visa Schengen di VFS Global Surabaya

Kami berangkat ke Surabaya sehari sebelum jadwal temu janji dengan VFS Global lalu kembali lagi ke Makassar di hari yang sama setelah proses pengajuan visa selesai dan kak Idu sendiri akan melanjutkan perjalanan ke Timika setelah mengantar kami ke Makassar karena besoknya sudah harus masuk kantor lagi. Kami menginap di Hotel Papilio Best Western yang reviewnya bisa dibaca di sini.

Kantor VFS Global Surabaya berada di gedung Graha Pena lantai 15, Jl. Ahmad Yani No.88. Letaknya sangat dekat dari hotel kami. Begitu tiba di lantai 15, berbeloklah ke arah kanan setelah keluar dari lift. Kantor VFS Global menempati ruang di pojok kanan. Di sini proses pengajuan visa dimulai yaitu :

1. Pemeriksaan berkas di front office.

Begitu memasuki kantor VFS Global Surabaya, kita akan disambut oleh dua orang security, perempuan dan laki-laki. Selain memeriksa kelengkapan dokumen, tas dan barang bawaan kita juga diperiksa semua. Hp dan segala peralatan elektronik harus dimatikan. Prosesnya sangat cepat dan ramah. Kita bahkan bisa membawa serta semua barang kita ke ruang berikutnya. Agak aneh sih menurutku. Mengingat pengalaman saya mengajukan visa Jepang di Makassar yang begitu ketat, dimana kita hanya boleh membawa masuk berkas pengajuan visa saja sementara barang-barang lainnya di simpan di loker yang telah disediakan.

2. Antre di loket penyerahan berkas sekaligus pembayaran visa

Beberapa teman mengatakan bahwa saat pengajuan visa schengen di VFS Global Jakarta, mereka hanya bisa dipersilahkan masuk jika memang telah sesuai dengan jadwal temu janji mereka. Bahkan kalaupun masih kurang satu menit, tetap tidak dibiarkan masuk. Lain halnya dengan VFS Global Surabaya, kami langsung saja disuruh masuk oleh security di front office, padahal jadwal kami masih 30 menit lagi. Saya bahkan berkali-kali meyakinkan. Masuk sekarang mbak? tanya saya pada mbak security yang memeriksa kelengkapan berkas saya. Ditanya dengan muka bengong begitu, saya malah dibercandain. Mbak securitynya bilang “Tidak. Masuk tahun depan saja.” Lalu kamipun tertawa beramai-ramai.

Di ruangan ini, ada dua barisan antrean. Mengantrenya cukup nyaman karena disediakan kursi dan minuman air mineral. Antrean pertama untuk verifikasi berkas visa sekaligus pembayaran biaya visa. Antrean yang lainnya untuk pengambilan data biometrik.

Pada proses ini cukup memakan waktu karena data kita yang dituliskan di form pengajuan visa akan diketik kembali oleh petugas ke dalam komputernya. Di sini juga berlangsung wawancara singkat seputar pertanyaan dasar seperti dalam rangka apa ke Eropa? mau kemana saja? Berapa lama? Jawab saja seperlunya. Tidak perlu bacrit atau banyak cerita untuk menghindari pertanyaan lanjutan yang timbul akibat jawaban kita.

Selanjutnya membayar biaya visa yaitu 60 € ditambah biaya jasa VFS 25 € per aplikan. Untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun, biaya visanya gratis namun tetap harus membayar biaya jasa VFS sebesar 25 € per orang. Jadi untuk kami yang dua dewasa, satu anak dan satu bayi, kami membayar sebesar 220 €. Bisa dibayar dalam rupiah sesuai dengan kurs yang berlaku hari itu. Membayarnya bisa cash ataupun debit dan kartu kredit. Kami sendiri membayarnya dengan cash setelah susah-susah mencari ATM karena menurut pengalaman teman-teman yang mengajukan visa di VFS Global Jakarta, katanya hanya bisa dibayar dengan cash saja. Di VFS Global Surabaya ternyata memberikan lebih banyak kemudahan.

Untuk kami yang tinggal di luar Surabaya, boleh menggunakan jasa kurir untuk pengiriman paspor. Setiap paspor dikenakan biaya Rp 50.000. Fasilitas SMS tentang status visa kita juga tersedia dengan membayar Rp 25.000 per aplikan. Kami hanya mengambil satu layanan sms saja sehingga total yang kami bayarkan keseluruhannya adalah 220 € + Rp 225.000 = Rp 3.525.000 (dengan kurs 1 € = Rp 15.000, Juli 2017). Oh iya, fasilitas sms ini tidak memberikan informasi visa kita approved atau tidak, tetapi memuat informasi status perjalanan proses visa kita, apakah sudah selesai atau tidak. 

3. Pengambilan Data Biometrik

Proses ini berlangsung singkat. Apalagi saat petugas mengetahui kami kejar-kejaran waktu ke bandara karena pesawat kami akan lepas landas 1, 5 jam lagi. Untuk anak-anak tidak dilakukan pengambilan data biometrik.

Selesai dan mari menunggu kabar pengajuan visa kita 🙂

———————————-

Ketika mendapat sms dari VFS Global Surabaya, proses pengajuan visa kami telah selesai dan paspor siap dikirim kembali, saya sudah tidak bisa tidur. Deg-degan apakah visanya approved atau tidak. Saya semakin deg-degan ketika hingga keesokan harinya, paspor kami belum juga di tangan. Dua hari kemudianpun belum ada. Alamaaakkk… ini saya seperti sudah mau meledak saja. Lalu keesokan harinya, pagi sekitar jam delapan, seorang kurir datang ke rumah membawa tiga buah paspor saja. Saya mulai takut, ini kok paspornya cuma tiga? Paspor milik Kak Idu kemana? tanya saya pada kurir. Takut kalau-kalau bermasalah sehingga masih jalan-jalan entah di mana. Syukurnya si kurir bilang ngasih ke sebelah karena saat menanyakan alamat rumah kami, nyangkutnya di sebelah yang kebetulan namanya sama dengan nama pak suami. Hahahaha. Buru-buru, si kurir mengambil dan menyerahkannya kepada saya. Alhamdulillah paspornya sudah lengkap. Meski demikian, perasaan deg-degan saya semakin menjadi hingga jantung rasa-rasanya mau copot. Saya tidak berani menyobek sampulnya dan mengintip halaman paspor. Saya lalu berwudhu dan sholat dhuha dulu untuk menenangkan hati dan memohon diberikan hasil yang terbaik. Wasyukurillah, stiker visa schengen telah tertempel manis di salah satu halaman paspor Yui. Sengaja saya membuka paspor anak-anak terlebih dahuli. Karena jika mereka approved, insyaAllah kami kedua orang tuanyapun approved. Sungguh, kado ulang tahun yang sangat istimewa. Happy mi’lad myself 🙂

Makassar, 10 Agustus 2017. 

Tips dan Trik Liburan Hemat ke Eropa

Eurotrip

Eropa disebut-sebut sebagai destinasi impian banyak orang, terumata bagi orang Asia seperti kami yang di negaranya hanya berlaku 2 musim saja, yaitu hujan dan kemarau. Merasakan musim gugur dan musim dingin tentunya dinanti-nanti karena tidak bisa merasakan sensasinya di negeri sendiri. Apalagi Eropa menyuguhkan keindahan bangunan bersejarah yang sudah beratus bahkan ada yang usianya telah ribuan tahun. Menjadi daya tarik tersendiri mengapa banyak orang ingin berkunjung ke Eropa. Belum lagi modernitas yang segala-galanya serba canggih, bisa kita nikmati di benua biru tersebut.
Alhamdulillah wa syukurillah, impian saya dan keluarga ke Eropa baru saja kami realisasikan dua hari yang lalu menyambangi beberapa negara di eropa barat, tengah dan timur.

Sebenarnya belum percaya seutuhnya bahwa kami baru saja menyelesaikan the top travel wish list kami mengingat Eropa bukanlah destinasi murah bagi orang berpenghasilan rupiah seperti kami. Apalagi ini berangkatnya sekeluarga pula, but it happened! so real and memorable. 😘😘

Ya, Eropa mungkin bukan destinasi yang murah tapi bukan berarti tidak bisa direncanakan dengan low budget seperti perjalanan kami. Lalu bagaimana ceritanya hingga akhirnya kami bisa menginjakkan kaki di benua eropa? Kunci utamanya adalah menabung, setidaknya untuk membeli tiket pesawat dulu. Berikutnya banyak-banyakin sedekah dan berdo’a serta menahan diri untuk tidak ke mall. InsyaAllah dimampukan.

Berikut tips dan trik yang kami praktekkan. Check them out!

1. Tiket Pesawat

Belilah tiket pesawat jauh-jauh hari sebelumnya. Tiket promo bisa didapatkan 6 bulan sampai 1 tahun sebelum keberangkatan. Saya sendiri membeli tiket promo 8 bulan sebelum keberangkatan yang saat itu mengandung Yui usia 7 bulan-an. Sebenarnya tiga bulan kemudianpun maaih hitungan promo dengan harha yang sama, tapi kalau memilih yang 3 bulan berarti Yui masih usia satu bulan dong jika ia lahir di bulan Mei seperti perkiraan. Gak mungkinlah saya membawa dia pergi jauh begitu. Masih sangat rentan. Yang paling masuk akal adalah ketika dia berusia 5 bulan ke atas. Maka kamipun memilih bulan Oktober saja yang bertepatan dengan musim gugur. Perjalanan di musim gugur adalah salah satu yang sudah lama saya impikan. 

Oh iya, tentang membeli tiket untuk si jabang bayi, pastikan terlebih dahulu jenis kelaminnya melalui USG karena nama penumpang sama sekali tidak bisa diubah begitu tiket sudah issued. Sedangkan keterangan tanggal lahir dan lainnya masih bisa dimodifikasi. Seperti tanggal lahir Yui yang saya masukkan asal saja saat pembelian tiket tersebut. Soalnya gak tau Yui lahirnya kapan. Memasukkan HPL sekalipun tidak ada jaminan si anak bakal lahir sesuai perkiraan kan. Nah keuntungan lain membeli tiket jauh-jauh hari selain mendapat harga lebih murah adalah kita juga punya waktu untuk menabung biaya hidup yang akan dipakai selama di Eropa.

Maskapai penerbangan dari timur tengah biasanya paling sering melakukan promo seperti Emirates, Qatar Airways, Etihad, Turkish Airlines dan lain-lain karena menurut kabar yang beredar, mereka mendapat subsidi dari negara asal. Harga promonya bahkan bisa gila-gilaan seperti kami yang mendapat tiket Qatar Airways PP ke Amsterdam hanya 4,5 juta saja (yang dalam harga normal mencapai 8-12 juta) dengan keberangkatan dari Kuala Lumpur. Promo berangkat dari Jakarta juga ada sih tapi harganya 6 juta PP. Dihitung-hitung masih lebih murah berangkat dari Kuala Lumpur karena tiket Air Asia dari Makassar ke Kuala Lumpur hanya 500 ribuan saja. 

Rajin-rajinlah mengecek skyscanner.com atau kayak.com untuk pencarian tiket promo. Kedua aplikasi itu menampilkan harga tiap hari mulai dari yang termurah hingga yang termahal. Asyiknya pula karena kita bisa memilih filter untuk menampilkan hasil pencarian berdasarkan jam keberangkatan atau kedatangan yang kita inginkan atau justru filter harga paling murah dalam satu bulan dan bisa menyimpan hasil pencarian tersebut dan mendapat notifikasi ketika harga tersebut menjadi lebih rendah dari hasil pencarian kita sebelumnya. Serunya lagi di kayak, kita bisa memilih penerbangan multi city, sehingga bisa lebih hemat waktu dan biaya. Jadi misalnya masuk ke Eropa lewat Amsterdam, lalu pulangnya lewat Barcelona dan kota-kota lainnya. 

Harga termurah biasanya didapat dengan keberangkatan dari Kuala Lumpur atau Singapore. Jika tinggal di daerah Indonesia Tengah dan Timur, keberangkatan dari Kuala Lumpur adalah yang terbaik meski tidak menutup kemungkinan juga bahwa tiket pesawat ke Singapore lebih murah daripada ke Kuala Lumpur. Intinya, rajin-rajin mengecek dan membandingkan. Saya rasa kalau urusan membanding-bandingkan harga, emak-emak pasti ahlinya 😅

2. Itinerary

Itinerary atau jadwal perjalanan sangat mempengaruhi biaya yang kita butuhkan. Karena itu sejak awal sebaiknya sudah menentukan akan kemana saja selama di Eropa. Tinggal di satu negara saja tentu akan jauh lebih hemat daripada mengunjungi banyak negara sekaligus. Tapi rasanya sayang sekali jika sudah di Eropa dan tidak ke negara tetangga. Padahal kita  punya jatah 29 negara yang bebas dikunjungi ketika sudah memegang visa schengen.

Itinerary ke Eropa ini bisa saja berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya karena setiap orang memiliki deatinasi impian masing-masing. Ada orang yang berjuang habis-habisan demi kesampaian ke Paris sedangkan kami sendiri lebih tertarik ke Austria. Menyusun itinerary di awal ini juga sangat penting mengingat banyaknya negara di Eropa yang terbenatang dari barat ke timur yang kadang membuat nafsu kita ingin mengunjunginya semua namun tidak sadar akan keterbatasan waktu dan biaya yang kita punya.

Adapun itinerary kami selama perjalanan 16 hari di Eropa mengunjungi Belanda dan Belgia di Eropa barat, Republik Ceko dan Slovakia di Eropa timur serta Austria dan Jerman di Eropa tengah adalah sebagai berikut : Amsterdam – Giethoorn – Brussels – Prague – Bratislava – Vienna – Obertraun – Hallstatt – Munich – Amsterdam.

3. Akomodasi

Salah satu pengeluaran terbesar dalam setiap perjalanan adalah penginapan. Meski ini sebenarnya bisa disiasati dengan menginap gratis melalui akun couchsurfing. Tapi saya kurang sreg menginap di tempat orang yang baru saya kenal apalagi bawa pasukan lengkap begini 😅. Karena itu saya memilih hotel dan apartemen yang menyediakan fasilitas dapur dan mesin cuci sehingga bisa menghemat pengeluaran untuk makan dan laundry. Selain poin tersebut, yang paling penting dalam pemesanan akomodasi adalah lokasinya yang dekat dengan stasiun sehingga memudahkan kemana-mana. 

Aplikasi andalan saya saat memesan hotel adalah booking.com dan agoda sedangkan untuk apartemen saya memesannya melalui airbnb. Pastikan pula sudah mengecek harganya langsung di website hotel tersebut karena kadang harga termurah justru didapat dari sana.

Seperti halnya tiket pesawat, pemesanan penginapan ini harus jauh-jauh hari sebelumnya jika menginginkan harga lebih murah. Biasanya tiga bulan sebelum keberangkatan, kita sudah bisa memesannya. Mau diskon saat melakukan pemesanan di booking.com? masukkan saja kode ini : booking.com/s/suarni51 untuk mendapatkan potongan harga sebesar US $ 15. Lumayaaaan kan? Kurang baik apa coba saya ini? Hihihi.

Berikut akomidasi kami selama di Eropa yaitu :

  1. Hotel Meininger Amsterdam yang hanya sepelemparan batu dari stasiun Sloterdijk.
  2. Hotel Euro Capital Brussels yang cuma 2 menit jalan kaki dari stasiun Bruxelles-Midi
  3. Penzion V Maštali, Praha. Karena kami tiba malam dari Brussels, kami memilih penginapan yang dekat dari bandara. Tapi sayangnya, menuju ke hotel ini hanya bisa dengan taxi saja. Harganya 10 €. Meski sebenarnya bisa dibayar dengan mata uang Koruna yang kenanya lebih murah, tapi kami belum sempat menukar uang sehingga membayarnya dalam mata uang Euro. Asyiknya di hotel ini, ada playground untuk anak-anak.
  4. Apartemen Golden Spring yang hanya 10 meter dari stasiun bus Černínova Praha. 
  5. Patio Hostel. Ini sebenarnya sebuah kesalahan. Ketika memesan ini sebenarnya untuk keperluan saat pengajuan visa dulu. Tapi saya lupa membatalkannya hingga hari kedatangan di Bratislava. Tempatnya agak jauh berjalan kaki dari stasiun utama, apalagi saat itu sedang hujan deras dan kami membawa satu koper besar, ransel, stroller dan anak-anak. Rasanya tidak cocok naik metro yang berhentinya hanya satu menit saja menurun-naikkan penumpang sehingga kami memutuskan naik uber saja seharga 4 € di aplikasi. Tapi ternyata kalau naik uber, hitungannya masuk jarak dekat sehingga dikenakan biaya minimum yang totalnya 12 €. Gak papalah daripada dingin-dinginan di stasiun. Mana stasiunnya sudah tua dan bau pesing dimana-mana. (sumpah, ini stasiun paling gak banget yang saya temukan di Eropa. Padahal stasiun utama). Pas sudah pesan uber, ternyata disuruh jalan kaki keluar stasiun agak jauh karena tempat parkir uber letaknya agak ke depan. Kamipun membatalkannya saja dan memilih naik taxi konvensional yang mangkal tepat di depan kami. Deal-dealan jatuhnya 15 €. Mahaaaal banget siikkk 😭😭 dan pas kita turun malah disuruh bayar 19 € karena peraturan taxi di Bratislava mengenakan cas 2 € setiap barang yang dibawa. Untung strollernya gak dikenakan cas. Cuma koper dan ransel saja. Dan syukurnya pula harga kamar yang saya pesan cuma 41 € saja (sekitar 600 ribuan). Masih jauh di bawah standar kami yang mematok biaya penginapan tidak lebih dari 100 € per malamnya.
  6. Meininger Wien yang hanya 8 menit dari staiun utama Wien Hauptbahnhof dan cuma 2 menit dari stasiun metro. Pokoknya hotel Meininger ini favorit banget deh. Baik yang di Amsterdam maupun yang di Wien/Vienna ini. 
  7. B&B Seehotel Am Hallstättersee. Sebenarnya pengen menginap di Hallstatt, tapi harga penginapan di sana bikin sakit kepala. Puyeng dengan harga permalamnya. Padahak kami berencana menghabiskan tiga hari  di sini. Akhirnya diputuskanlah menginap di desa seberang, Obertraun. Di sini masih jauh lebih murah. Tapi semurah-murahnya, tetap saja bikin dompet menangis 😂. Tapi sepadanlah dengan view dan suasananya. Menginap di sini benar-benar berasa seperti luxury traveler. Gak papalah ya sekali-sekali, ini juga untuk mengajarkan anak-anak bahwa terkadang kita perlu menikmati hidup. Soalnya selama ini kita ngetrip biasanya ala backpacker gitu 😂
  8. Euro Youth Hotel Munich. Dibilang hotel, kayaknya gak pas. Tapi dibilang hostel juga gak cocok. Whateverlah ya asal bisa tidur dengan nyenyak. Hehehe. Lokasinya top banget karena sangat dekat dengan stasiun utama Munchen dan juga sangat dekat ke daerah oldtown (ditempuh hanya dengan berjalan kaki saja).
  9. Bastion Hotel Schipol. Karena kami tiba malam dari Munchen dan besok siang sudah harus meninggakan Eropa, terbang kembali ke tanah air, kamipun memilih menginap di daerah bandara Schipol Amsterdam. Enaknya nginap di sini karena ada free shuttle bus dari dan ke bandara sehingga menghemat biaya taxi yang mencapai 15 €.

4. Transportasi

Karena kami travel like a local jadi kemana-mana memakai transportasi umum : kereta, bus dan metro. Kalaupun ada yang harus naik taxi itu karena memang menuju ke tempat tersebut hanya bisa dijangkau dengan taxi seperti saat kami menuju hotel di dekat bandara Praha dan saat terjebak hujan deras di Bratislava.

Sebelum ke Eropa saya sudah memperkirakan besaran biaya tranaportasi yang saya akses melalui aplikasi rome2rio dan website seat61. Melalui aplikasi ini, akan nampak berapa biaya kereta, tram, bus ataupun pesawat antar daerah di Eropa. Itulah mengapa saya katakan sebelumnya bahwa penyusunan itinerary itu penting di awal sehingga memudahkan kita menentukan besaran biaya transportasi. Biaya ini bahkan bisa lebih murah jika dibooking jauh-jauh hari sebelumnya. Tiga bulan sebelum keberangkatan, bisanya sudah bisa dibuking. Jika berangkat tanpa bayi, akan lebih hemat lagi menggunakan megabus dan flixbus. Saking murahnya, jangan heran jika menemukan harga 1 € saja dari Amsterdam ke Paris. Tidak usah khawatir kelamaan di bus untuk jarak jauh antar negara karena bus-bus di Eropa itu keren : ada monitor lcdnya, free wifi, soket colokan, gantungan jaket, tempat koper, tempat tas. Pokoknya busnya mewaaahhh. Sayangnya bagi yang membawa bayi dan toddler harus menyiapkan car seat sendiri untuk alasan keselamatan.

5. Biaya Makan

Biaya ini mungkin bisa saya tekan karena saya rajin masak 😁. Jadi cukup membeli beras dan ikan kaleng di supermarket lokal saja kalau perbekalan saya dari Indonesia sudah habis. Jatuh-jatuhnya sangat hemaaaatttt dibandingkan biaya makan di luar yang bisa menghabiskan 7€ -15 € per orang sekali makan. Kalau masak sendiri, 10 € itu cukup buat berempat dan bisa dimakan seharian sampai malam. Selain lebih hemat, kehalalannya juga lebih terjamin. 

Kami makan diluar kalau memang terpaksa seperti ketika kami di Giethoorn, baby Yui nangis kencang sekali dan saya tidak menemukan kursi terdekat untuk menyusuinya. Belum udara dingin yang begitu menusuk. Tangisan Yui terdengar lebih kencang karena di Giethoorn sangat tenang, sehingga kami menjadi pusat perhatian orang. Syukurnya beberapa meter di depan kami ada restoran. Di sana saya bisa menyusui Yui dengan nyaman ditemani kentang goreng dan hot chocolate. Rasanya enaaaak sekali dan harganya juga tidak bikin bokek.

Ok deh kayaknya tulisannya sudah panjang banget ini. Tulisan eurotrip berikutnya, doakan semoga bisa segera diselesaikan ya. Sebagai gambaran eurotrip kami, foto-foto berikut ini mungkin bisa mewakili :

Gimana mak emak, sudah siap menyusun rencana liburan ke Eropa? Semoga informasinya bermanfaat ya. 😘😘😘

Pengalaman Mengurus Visa Umrah untuk Keluarga

Umrah adalah salah satu perjalanan sakral bagi ummat muslim di dunia, tak terkecuali Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Setiap muslim pasti mendambakan perjalanan ke tanah suci setidaknya sekali dalam hidup, entah untuk berhaji menyempurnakan rukun Islam ataupun untuk umrah dan berziarah.

Syukur alhamdulillah, kami sekeluarga akhirnya diberi kesempatan menginjakkan kaki di tanah haram pada bulan Maret yang lalu setelah tiga kali mengalami kegagalan dengan dua travel sebelumnya. Adalah sebuah rezeki, berkenalan dengan seorang ibu hajjah via online yang merupakan agen sebuah perjalanan umroh dengan paket super hemat. Soalnya dibandingkan dengan kedua travel sebelumnya, harga yang ia tawarkan sangat fantastis. Bahkan sedikit irrasional mengingat tiket pesawat PP Makassar-Jeddah saja minimal 14 juta dengan pesawat Garuda Indonesia. Namun beliau menawarkan nominal yang sama dengan janji full service selama perjalanan sejak keberangkatan hingga tiba kembali di kota asal. Rada takut sih awalnya. Apalagi kita baru kenalan. Itupun via medsos. Kita belum pernah bertatap muka secara langsung. Masih menimbang-nimbang karena umrah backpacker saja masih kalah jauh selisihnya. 

Saya berpikir, mungkin harga yang beliau tawarkan belum termasuk pengurusan visa. Tapi ternyata saya keliru. Harga tersebut sudah all in. Makin ragu dong jadinya. Ini beneran atau modus penipuan sih? Untung saat itu belum terkuak kasus First Travel, sehingga bismillah kami berani saja mengambil paket hemat Abu Tours tersebut.

Berhubung saya menggunakan jasa travel dalam perjalanan kali ini yang sudah mengatur semuanya, maka saya tidak punya pengalaman pribadi bagaimana mengurus visa umrah secara mandiri. Dan memang sepertinya kita tidak bisa mengurusnya sendiri sih. Soalnya temanku saja yang melakukan umrah backpacker, visanya tetap juga dibantu oleh travel agent. Karena Kedutaan Besar Arab Saudi tidak akan menerbitkan visa secara personal tanpa ada travel agent yang mau bertanggungjawab. Jadi kita memang tidak bisa benar-benar mengurusnya sendiri face to face dengan pihak kedutaan layaknya pada pengurusan visa lainnya.

Dokumen Apa Saja Yang Dibutuhkan Untuk Mengurus Visa Umrah Keluarga?

1. Paspor. Masa berlaku lebih dari 6 bulan sejak keberangkatan. Nama di paspor harus memuat tiga suku kata. Jadi kalau di paspornya masih kurang dari tiga, harus menambahkannya di kolom endorsment pada halaman 4 dengan urutan : nama asli_nama ayah_nama kakek. Nama kakek di sini, boleh menggunakan salah satunya, kakek dari pihak ayah atau dari pihak ibu. Yang tidak boleh itu jika memakai nama kakek dari pihak tetangga. Apalagi nama ayah tetangga.

2. Pas foto terbaru ukuran 4 cm x 6 cm dengan background berwarna putih. Sebaiknya mengenakan hijab yang cerah dan pastikan sudah touch up sebelum cekrek.

3. KTP dan Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja dan khusus untuk KTP jangan dipotong mengikuti ukurannya. Biarkan saja tetap dalam satu lembaran utuh kertas A4. Untuk anak-anak, KTPnya memakai KTP kedua orang tua yang difotokopi dalam lembar kertas yang sama. Misalnya fotokopi KTP ayah diatas, lalu dibawahnya fotokopi KTP ibunya, dalam satu kertas.

4. Akte lahir masing-masing anggota keluarga. Difotokopi pada kertas A4. Khusus untuk anak dibawah 17 tahun, selain kopiannya, akte lahir aslinya juga diikutsertakan.

5. Buku nikah yang memuat keterangan kita adalah pasangan yang sah. 

6. Kartu kuning yang memuat informasi vaksin meningitis yang telah kita lakukan.

Udah gitu aja. Berkasnya sesimple itu. Tidak butuh surat keterangan kerja apalagi rekening koran yang ketentuan jumlah saldonya bikin panas dingin.

Urusan selanjutnya, semuanya ditangani oleh pihak travel agent. Untuk yang umrah backpacker, menurut pengakuan temanku rada gampang-gampang susah untuk menentukan travel agent (mofa) yang bisa membantu pengurusan visa umrah. Soalnya gak semua mofa berani menerima risiko menerbitkan visa untuk kalangan yang ingin melakukan umrah secara mandiri. Biasanya harus satu paket dengan Land Arrangement, paket selama di Arab Saudi berupa fasilitas penginapan dan transportasi. Ujung-ujungnya mirip umrah yang di-handle sama travel pada umumnya sih. Bedanya hanya pada waktu yang fleksibel dan itinerary yang tidak mengikat. 

Menurut temanku, tidak ada travel agent yang berani menerima jika hanya untuk proses visa saja tetapi mesti disertakan paket land arrangement dari mereka sehingga si travel agent ini bisa tetap memantau jamaah yang dibantu proses penerbitan visanya. Bukan apa-apa, si travel agent tersebut terancam denda sebesar SAR 50.000 serta pencabutan izin usaha jika ditemukan jamaahnya melakukan penyelewengan terhadap visa yang diterbitkannya. Misalnya si jamaah over stay dari masa berlaku visa, atau malah menjadi TKI/TKW, dan lain-lain.

Lain kali jadi pengen coba umrah backpacker juga. Biar bisa lebih detail memberikan gambarannya. Tapi tunggu sampai anak-anak berusia minimal tujuh tahun kali ya. Biar kerempongannya sedikit berkurang 😁😁. Semoga diberi umur panjang dan dicukupkan rezekinya untuk kembali lagi ke tanah haram, insyaAllah. Amiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Mudahnya Mengurus Sendiri Visa Jepang di Makassar

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman SMA menelepon menanyakan tentang cara pengajuan visa Jepang di Kota Makassar secara mandiri alias tanpa calo atau travel agent. Saya mengingat-ingat kembali prosesnya dan mungkin tidak ada salahnya jika saya menuangkan pengalaman itu ke dalam tulisan di blog ini. 

Jadi waktu itu, saya akan ke Jepang bersama suami beserta dua orang teman perempuan. Awalnya ingin mengajukan permohonan visa pada konsulat jendral Jepang di Denpasar yang letaknya tidak jauh dari rumah tapi berhubung kartu keluarga  dan KTP kami belum terbit, saya akhirnya memutuskan untuk mengajukan visa pada konjen Jepang di Makassar dengan menggunakan fotokopi ktp dan kartu keluarga lama yang berarti status masih single 😅. Begitupun dengan suami, menggunakan kartu identitas lama yang masih berdomisili di Timika, juga dengan status masih single. Syukurnya, Timika masuk ke dalam wilayah yurisdiksi konjen Jepang di Makassar sehingga sangat pas untuk mengajukannya bersama-sama.

Pengajuan visa ini bisa diwakili oleh salah satu orang saja jika bepergian dua orang atau lebih. Alhamdulillah, itu berarti suami gak harus terbang ke Makassar hanya untuk mengurus visa. Sedangkan kedua teman perempuanku memilih jasa travel agent. Mungkin karena ini adalah perjalanan internasional pertama mereka sehingga dirasa lebih aman memakai jasa travel agent untuk mengurus visa. Atau mungkin juga belum percaya sama saya. Takut kalau-kalau visanya gak disetujui. Padahal mengajukan lewat travel agent sekalipun sebenarnya tidak ada jaminan visa akan approved. Karena semuanya tergantung pihak konjen, mau ngasih atau tidak. Tapi yasudahlah, karena mereka tidak keberatan membayar biaya administrasi tambahan buat travel agent diluar biaya visa itu sendiri plus harus menyiapkan saldo min 50 juta rupiah di rekening koran, ya silakan saja. 😊😊

Syarat-syarat pengajuan visa Jepang

Sebelum mengajukan visa jepang (dalam hal ini menggunakan paspor biasa bukan e-passport) maka harus melengkapi dokumen yang diperlukan terlebih dahulu yaitu :

  1. Paspor yang masa berlakunya setidaknya lebih dari 6 bulan
  2. Formulir permohonan visa yang bisa di download di website konjen Jepang 
  3. Pas foto terbaru ukuran 4,5cm x 4,5 cm berlatar putih. Yang berhijab bisa tetap mengenakan hijabnya. Sebaiknya memakai hijab yang kontras dengan latar foto, sehingga kelihatan lebih bright.
  4. KTP (surat keterangan domisili). Fotokopi di kertas A4 tanpa memotongnya. 
  5. Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja. Disertakan jika berangkat bersama keluarga sebagai bukti hubungan dengan si pemohon. Jika pemohon sendiri-sendiri, tidak perlu melampirkannya.
  6. Tiket pesawat. Tidak harus menggunakan tiket yang sudah lunas. Bisa menggunakan tiket booking-an. Pastikan saja, statusnya masih aktif ketika melakukan pengajuan visa.
  7. Itinerary. Buat yang simple saja, gak usah heboh menjelaskan kegiatan per jam hingga berlembar-lembar. Cukup menunjukkan akan pergi ke mana saja setiap hari sejak masuk hingga keluar Jepang. Juga tidak harus menuliskan semua tempat yang akan kita datangi. Pokoknya as simple as in one page.
  8. Rekening koran atau fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Nah inilah bagian terhoror dalam mengurus visa. Berapa sih jumlah tabungan yang harus kita punya? Benarkah harus 50 juta rupiah seperti kata orang-orang? Sebenarnya sih tidak disebutkan berapa jumlah yang pasti oleh pihak kedutaan, hanya saja perhitungkan semua biaya yang bisa men-cover seluruh perjalanan kita selama di Jepang. Amannya, sediakan 1 juta rupiah/hari. Jadi kalau di Jepang selama 1 minggu, berarti kalikan saja selama 7 hari. Terus lebihkan sedikit untuk menunjukkan bahwa ketika kembali ke negara asal, kita masih punya biaya hidup selama beberapa hari ke depan.
  9. Surat keterangan kerja bagi karyawan atau SIUP bagi pengusaha. Intinya, surat keterangan yang menunjukkan kita punya penghasilan. Kalau misalnya pemohon adalah ibu rumah tangga, berarti lampirkan surat keterangan kerja milik suami beserta KK, buku nikah dan buku tabungan atas nama suami. Berhubung saya dan suami mengajukannya pakai status masih single jadi kami memakai surat keterangan kerja dan buku tabungan sendiri-sendiri.

    Pastikan semua dokumen sudah lengkap dan disusun berurutan sebelum dibawa ke loket pendaftaran, sebab kita tidak akan dilayani jika berkasnya kurang ataupun tidak lengkap. Namun apabila sudah diproses dan diperlukan dokumen pendukung lainnya, pemohon visa akan dihubungi lagi.

    Langkah-langkah pengajuan visa Jepang di Makassar

    Setelah semua berkasnya lengkap, datanglah ke konjen Jepang sesuai jam kerjanya yaitu senin-jum’at pada jam 8.00 – 12.00 untuk permohonan visa dan jam 13.00-15.00 untuk pengambilan paspor.

    Untuk daerah Makassar, kantor konjen Jepang berada di gedung Wisma Kalla lantai 7 Jl.Dr. Sam Ratulangi No 8-10. No. Tlp (0411) 871-030.

    Setelah menyerahkan dokumen di loket pendaftaran, kita akan membayar biaya single visa sebesar Rp 320.000 (Maret 2015) lalu diberi surat keterangan pengambilan paspor 4 hari kerja kemudian.

    Ketika waktu pengambilan paspor tiba, datanglah kembali ke konjen Jepang pada pukul 13.00-15.00. Alhamdulillah ketika saya membuka paspor, stiker visa jepang sudah tertempel cantik di salah satu halamannya dengan masa berlaku visa selama 3 bulan.

    Visa Jepang

    Mudah bukan?! Semoga bermanfaat ya 🙂