Vienna : Novel, kampus dan bangunan artistik

Sebelumnya saya tidak pernah tau ada kota bernama Vienna di dunia ini. Padahal Vienna atau Wina adalah kota besar, makmur dan sangat berpengaruh di Eropa tengah. Kotanya super cantik, seindah namanya. Awal mula perkenalan saya dengan ibukota Austria ini justru dari sebuah novel inspiratif karya Hanum Salsabila Rais, 99 Cahaya di Langit Eropa yang saya baca di tahun 2014 saat sedang menghamilkan anak pertama. Saking jatuh cintanya dengan kisah perjalanan tokoh utama di buku tersebut, saya dan suami sepakat menyamatkan nama belakang si tokoh kepada calon anak kami.

Karena itu ketika mendapat kesempatan jalan-jalan ke Eropa, maka tujuan utama kami bukanlah ke Paris ataupun Italia yang merupakan destinasi mainstream turis dunia. Kami sebenarnya ingin ke Austria untuk menuntaskan sebuah pengharapan. Sebuah doa yang sering kami ulang-ulangi yang tersirat pada makna nama anak kami, Muhammad Hideyoshi Almahendra. Maka siang itu, saat kereta terus menjauh meninggalkan Bratislava menuju Vienna, napasku naik turun tidak karuan. Dadaku sesak dipenuhi perasaan haru luar biasa.

Pegunungan Alpen yang berselimut salju menjadi pemandangan alami sepanjang perjalanan. Satu-dua desa khas Eropa kami lalui. Ladang pertanian dan perindustrian silih berganti nampak di jendela. Hingga memasuki stasiun utama Viena dengan segala modernitasnya. Bagi saya yang selama beberapa hari ini berpindah-pindah stasiun dari satu negara ke negara lainnya, Wien Hauptbahnhof adalah stasiun kereta terkeren yang saya jumpai. Bersih, ramai orang tapi tetap tenang, modern, desainnya futuristik, lift dan eskalator selalu berdampingan sehingga tidak perlu mutar sana sini dari dan ke platform dan yang pasti wifi gratis di mana-mana. Satu hal yang mungkin tidak ramah bagi kami di Vienna adalah apa-apa harganya mahal. Harga tiket kereta mahal, harga hotel mahal, makanan mahal, souvenirnya mahal bahkan untuk sebuah magnet kulkas berukuran mini diberandol dengan harga 9 €. Padahal saya biasanya beli cuma 3 – 5 € saja di negara-negara yang kami lalui sebelumnya. Itupun ukurannya bukan yang mini begitu.

Ochy kayaknya demam foto dengan lidah dijulurin begini deh 😅

Dari Wien Hauptbahnhof kami langsung menuju hotel. Kami menginap di hotel Meininger yang dekat dengan stasiun Wien Hbf ini. Bisa ditempuh dengan dua cara yaitu jalan kaki atau naik metro. Jika memutuskan jalan kaki, Rutenya : keluar stasiun, berjalanlah ke arah perempatan yang ada light trafficnya. Tunggu sampai lampu penyebrangan bagi pejalan kaki menyala. Jalan terus lalu berbelok ke arah kiri.  Jika arahmu benar, maka akan sampai di sebuah kompleks plaza atau pertokoan dan melalui taman dengan deretan kursi panjang. Beberapa hotel juga ada di daerah ini. Luruuusss saja sampai menemukan logo ‘M’ berwarna merah. Sedangkan jika naik metro : Ambillah jalur metro u1 menuju stasiun Keplerplatz. Turunlah di stasiun pertama dan jalan kaki sekitar 100 meter, ketemu deh hotelnya.

Hotel kami adalah quite zone. Sepertinya orang-orang di Vienna memang menyukai ketenangan. Di stasiun, kereta, tram, restoran bahkan hotel sekalipun semuanya quite zone. Saya jadi harus punya kekuatan ekstra untuk menjaga si kicik-kicik agar tidak berisik. Dijaga betul agar Ochy tidak teriak-teriak dan Yui tidak nangis. Ketika membuka kamar, saya jadi wow sendiri karena kamarnya luaaass dan diberi lima tempat tidur pula. Hehehe. 

Setelah mandi dan makan, kamipun bersiap keliling kota Vienna dengan one day ticket yang sudah kami beli tadi di stasiun. Tapi mungkin karena keenakan, apalagi dengan kamar yang comfy begini ditambah mood anak-anak yang lagi pengen leyeh-leyeh, kami malah mager alias malas gerak. Akhirnya gak jadi ke Schonbrunn Palace, Stephanplatz, Nationalbibliothek dan beberapa spot wisata utama di sana karena hari keburu sore. Kami hanya menyempatkan ke Wien University. Kampus di mana Rangga Almahendra, tokoh utama 99 Cahaya di Langit Eropa menuntut ilmu. Ketika tiba di WU, saya terkagum-kagum melihat arsitektur bangunannya yang tidak biasa. Elegan, artistik dan sangat berkelas. Saya bahkan tidak percaya ini sebuah kampus jika tidak membaca deretan huruf yang menempel di bangunan depan.

Ochy di Wien University.

( Source : architectuur.fotograaf.eu )

Tiket one day ticket tadi sebenarnya bisa dipakai untuk berkeliling kota Vienna mengunjungi berbagai ragam wisata yang ada di sana. Tapi berhubung traveling bawa bayi dan toddler itu tidak semudah traveling dengan orang dewasa ya kami harus tunggui sampai mood dan kondisi mereka siap diajak jalan. Yang awalnya kami rencananya berangkat pukul 2 siang, jadinya molor sampai pukul 5 sore. Karena itu sepulang dari kampus, kami memutuskan stay di hotel saja karena hari sudah gelap. Suhu saat itu cuma satu digit pula. Terlalu berisiko mengajak anak-anak jalan malam. Merasa rugi sih membeli one day ticket tadi. Tau gini kan lebih hemat beli tiket ketengan saja. But that’s life. We never know what will happen, even one minute ahead.

Advertisements