Umroh Saat Hamil 7 Bulan dan Membawa Anak 2 Tahun (Part 4 : Madinah-Mekah)

Hari ini adalah hari terakhir kami di Madinah dan dijadwalkan tiba di Kota Mekah sebelum maghrib untuk selanjutnya melaksanakan ibadah umrah selepas isya nanti. Tiga hari di Madinah rasanya singkat sekali. Belum puas hati ini berdialog dengan Tuhan di masjid Nabawi dalam sujud-sujud yang panjang.

Kami meninggalkan hotel di Madinah pukul 10 pagi dan singgah di Masjid Bir Ali untuk mengambil miqot atau menjatuhkan niat umrah. Karena itu bagi jamaah sudah diharuskan memakai pakaian ihram sejak meninggalkan hotel. 

Di depan masjid Bir Ali
Suami, Ochy dan bapak tampak dari belakang saat masuk ke area Masjid Bir Ali. Ochy belum kami pakaikan pakaian ihramnya. Rencananya nanti ketika telah tiba di Mekah saja.
Setelah sholat sunnat dan sholat ihram, semua jamaah segera ke bus untuk berniat umrah bersama-sama

Pakaian ihram bagi laki-laki adalah kain putih polos tanpa jahitan sedangkan untuk wanita bebas selama memenuhi syarat menutup aurat yaitu menutup seluruh anggota tubuh kecuali tangan dan muka. Oleh sebab itu, bagi wanita bercadar diharuskan membuka cadarnya. Meskipun pakaian ihram wanita bebas namun disunnahkan memakai yang sederhana saja. Sederhana dalam hal ini termasuk pemilihan warna yang tidak mencolok seperti putih, hitam, hijau, maroon, coklat dan abu-abu. Bagi jamaah dari Indonesia biasanya mainstream dengan warna putih untuk pakaian ihram. Di rombongan saya sendiri hanya saya yang tampak berbeda dengan pakaian berwarna hitam dan kerudung panjang coklat. Agak keki juga sih lain sendiri diantara ratusan jamaah Indonesia ini. Sampai-sampai saya memastikan kepada ustadz mutawwif tentang pakaian saya dan beliau membenarkan bahwa pakaian ihram bagi wanita memang tidak harus putih. Belakangan, karena merasa asing dan berujung tidak PD saya akhirnya mengganti baju dan kerudung serba putih di rest area sebelum masuk kota Mekah. Gak istiqomah ya saya! Huhuhuhu.

Sepanjang perjalanan Madinah ke Mekah akan melalui banyak gunung batu dan lahan-lahan kering yang tandus. Dominasi warna coklat gunung, lahan berpasir, onta serta beberapa bangunan kotak menjadi pemandangan di sisi kanan kiri. Beberapa ada yang hijau oleh pohon-pohon karno dan pohon pinus tapi tidak banyak.

Gunung batu sepanjang jalan Madinah-Mekah
Beberapa daerah yang hijau oleh pohon. Selebihnya tandus dan berpasir.

Tepat pukul 5 sore kami akhirnya masuk hotel di Mekah dan langsung diarahkan ke lantai restoran untuk makan sembari menunggu pembagian kunci kamar. Sama seperti di Madinah, satu kamar akan berisi 4 orang jamaah. Dan lagi-lagi masalah serupa terjadi. Keributan antara jamaah dan tour leader karena pembagian teman kamar yang tidak sesuai dengan yang diharapkan jamaah.

Di restoran hotel. Menunggu pembagian kamar hotel dari tour leader.

Sebenarnya kejadian ini sudah dialami ketika di Madinah. Banyak jamaah yang terpisah-pisah dari kerabat mereka termasuk kami yang awalnya harus terpisah kamar antara saya, suami, anak dan bapak. Alasan tour leader membagi kamar ia kelompokkan berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tanpa memperhatikan usia dan kekerabatan jamaah. Kebayang gak sih Ochy tidurnya dengan orang lain? Saya dengan orang lain begitupun dengan suami dan bapak. Kalau kami sih ya gak papa karena sudah dewasa tapi Ochy itu lho? Emang bisa dia tidur jauh dari ortunya? Masih 2 tahun lho! Mana dia tipe anak ketek mama pula itu. Kalau tidur malam maunya cuma sama saya. Hahahaha. Puyeeeng pala princess deh. Jadilah hingga pukul 2 pagi kami belum juga beranjak menuju kamar yang telah dibagikan tour leader itu. Ogah dong biarkan anak tidur terpisah. Nah ustadz mutawwifnya heran melihat kami yang sudah hampir subuh tapi belum dapat kamar juga. Ditanyalah apa masalahnya. Dan beliau geleng-geleng kepala mendengarkan kisah kami lalu memberikan kami satu kunci kamar khusus untuk ditempati kami bertiga saja dengan jendela kamar yang menghadap ke Masjid Nabawi pula. Alhamdulillah.

Kamar kami di Madinah

Nah kejadian di Madinah tempo hari ternyata terulang lagi di Mekah gara-garanya si tour leader merombak kembali pembagian kamar yang sudah diatur baik di Madinah dengan alasan mengelompokkan jamaah sesuai dengan teman satu busnya. Cari pekerjaan baru sih sebenarnya si tour leader ini soalnya waktu di Madinah kan sudah pada komplain tuh hingga akhirnya para jamaah yang saling tukar kamar sendiri agar bisa bersama dengan teman, kerabat ataupun keluarga mereka. Seharusnya sih pas tiba di Mekah ini, teman sekamar yang sudah diatur jamaah waktu di Madinah kemarin, itu dilanjutkan saja biar tidak kacau balau begini. Biar tidak ada lagi jamaah yang marah-marah hingga tour leadernya dibuat menangis. Nah inilah yang saya maksud pada tulisan sebelumnya bahwa si tour leader masih kurang pengalaman menghandle jamaah. Syukurnya sih kasus kami selalu happy ending. Alhamdulillah selalu diberi kemudahan oleh Allah termasuk urusan kamar ini. Ketika di Madinah dapat kamar dengan 3 ranjang, di Mekah ini kamarnya dengan 4 ranjang. Awalnya pengen ajak bapak sekalian di sini, tapi teringat dengan tante sahabatku yang dititipkan ke kami. Tantenya ini sudah lumayan lansia, mungkin sekitar 60-70 tahunan gitu. Kamipun memberi tawaran buat sekamar bersama meskipun agak ragu mengingat Ochy yang tidak bisa diam. Suka melompat-lompat di kasur, guling-gulingan, bongkar seprei dan selimut atau main kuda-kudaan dari bantal yang disusunnya. Takutnya beliau malah tidak bisa tidur nyenyak dan terganggu dengan Ochy. Tapi ternyata si tante malah memilih sekamar dengan kami dan meninggalkan dua temannya yang lain di kamar sebelumnya.

Kamar kami di Mekah

Ba’da isya semua jamaah telah berkumpul di lobby. Dengan bimbingan ustadz mutawwif, berbondong-bondonglah kami menuju masjidil haram untuk melakukan tawaf, sai hingga yang terakhir yaitu tahallul atau bercukur. Sebelum berangkat, kami dibentuk dalam formasi yang kokoh dimana jamaah laki-laki membentuk pagar manusia di barisan depan, samping dan belakang sementara semua jamaah perempuan ditempatkan di tengah-tengah untuk mencegah jamaah lain yang hendak menerobos saat tawaf nanti sehingga kami tidak terpisah-pisah. Ochy juga ikut memakai pakaian ihram untuk tawaf bersama, digendong oleh suami dengan ergobaby dan menempati barisan samping kanan. Dengan kalimat-kalimat talbiyah berkumandang, kamipun melangkah mantap.

Papa dan Ochy dengan pakaian ihram, sesaat sebelum turun ke lobby hotel

Gelombang manusia dari pelbagai penjuru dunia berputar searah mengelilingi kakbah sebanyak tujuh kali saat tawaf. Hari ini adalah hari jum’at, dimana jamaah biasanya mencapai puncak kepadatan. Beberapa kali rombongan kami harus berhenti sejenak karena padatnya jamaah malam itu. Meskipun di kiri kanan dan depan belakang saya terlihat begitu berdesakan tapi entah mengapa saya tetap saja merasa lapang terutama di daerah perut. Saya tidak mengalami himpitan, kaki terinjak ataupun disenggol seperti keluhan jamaah lainnya. Saya seperti bisa bergerak dengan leluasa. Sulit untuk saya jelaskan tetapi ini saya alami hingga putaran terakhir selesai. Ochypun alhamdulillah tenang saja selama tawaf. Tidak menangis dan tidak rewel sama sekali. Ia bahkan dengan semangat berteriak “maju… majuuu” ketika jamaah harus berhenti sejenak karena lautan manusia yang padat merayap. Sayangnya kami tidak memiliki dokumentasi apa-apa karena memang memfokuskan untuk menjalankan ibadah umroh. Tak ingin menginterupsi kekhusyu’an ibadah dengan jeprat jepret kamera. 

Kepadatan jamaah saat tawaf di kakbah. Sumber gambar : instagram.

Setelah tawaf selesai, kamipun sholat sunnat, berdo’a dan segera menuju bukit shafa untuk melakukan sai. Sai ini juga tujuh putaran dari bukit shafa ke bukit marwah namun suasananya tidak sepadat jamaah saat tawaf di kakbah. Semuanyapun berjalan lancar alhamdulillah. Hanya di putaran terakhir, langkah saya mulai melemah, pinggang terasa sakit karena menahan beban di perut dan paha bergetar hebat. Namun saya tidak pernah kehilangan semangat untuk menyelesaikannya. Kisah Siti Hajarlah yang terus menguatkan saya. Bagaimana dulunya ia bolak balik dengan kondisi medan yang jauh lebih berat. Panas, berbatu, dalam keadaan haus pula dan hanya berdua dengan sang bayi di gendongan tangannya. Sementara saya sudah difasilitasi sedemikian baik. Lantai berubin, mengilap dan nyaman. Pendingin udara memenuhi atap dan dinding. Air zam-zam tersedia di kanan kiri. Melakukannyapun tidak seorang diri tapi bersama jutaan orang, terlebih ada suami saya disampingku. Maka saya tidak punya alasan untuk berhenti! Meski langkah kaki semakin pelan dan tertinggal jauh dengan jamaah lainnya, ini tetap harus diselesaikan. 

Sai dimulai di sini. Foto diambil sehari setelah umrah karena saat umrah saya tidak membawa kamera apapun.

Ochy dan suamipun mulai merasakan ujiannya. Diputaran terakhir ini, Ochy menangis. Mungkin kesakitan karena pakaian ihramnya bersinggungan dengan baby carrier membuat pahanya terasa tidak nyaman. Kamipun melepas bagian atas gendongan dan menyisakan hipseatnya saja untuk diduduki Ochy yang berarti tangan suami harus menjadi pengganti bagian atas gendongan yang dilepas itu. Berjalan dan sesekali berlari kecil di tempat-tempat tertentu (biasanya ditandai dengan lampu hijau) sambil memeluk Ochy.

Ka : Sai diputaran terakhir, Ochy digendong sambil dipeluk. Hingga akhirnya ia tertidur. Ki : selepas tahallul yang menandakan rukun umrah telah sempurna dijalankan. Foto didokumentasikan oleh jamaah lain karena kami tidak membawa hp sama sekali. Lalu ia mengirimkannya ke kami via wa. Alhamdulillah mbak yang fotoin selain cantik, juga baik hati 😚😚
Lampu hijau di belakang itu berarti kita harus berjalan cepat atau lari-lari kecil sepanjang area tersebut

Saat tiba di bukit marwah putaran terakhir, banyak jamaah telah melakukan tahallul atau bercukur dan kami berdua tidak dapat menahan tangis. Mata basah begitu saja tanpa bisa dibendung. Setelah suami memotong beberapa helai rambutku, spontan kami berpelukan dengan Ochy yang sudah tertidur di gendongan suami, masih dengan tangis yang pecah. Sungguh, ini semua tidak akan berhasil kami lalui jika tanpa kemurahan hati Allah kepada kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s