Mengurus Paspor Bayi di Kantor Imigrasi Makassar

Salah satu syarat wajib jika akan bepergian keluar negeri adalah mempunyai paspor. Berhubung di keluarga kami ada penghuni baru yaitu Baby Yui yang sekarang berusia 2 bulan maka kamipun membuatkannya paspor sebagaimana anggota keluarga lainnya yang sudah terlebih dahulu mempunyai dokumen penting tersebut. Lho memangnya mau kemana? Masih bayi kok sudah dibuatkan paspor segala? Belum kemana-mana sih tapi kami percaya bahwa dengan punya paspor saja dulu berarti perjalanan keluar negeri sudah siap 50%. Sisanya ya semoga ada rezeki buat beli tiket pesawat serta biaya hidup selama berada di negeri orang. Amiin.

Lalu bagaimana cara membuat paspor bayi? Berikut langkah-langkah yang harus ditempuh :

Persyaratan Dokumen

Membuat paspor bayi  atau secara keseluruhan anak di bawah usia 18 tahun sebenarnya sama saja sih dengan mengurus paspor untuk orang dewasa. Bedanya hanya pada kelengkapan berkas yang harus ditambah dengan surat jaminan orang tua. Surat jaminan itupun sudah disiapkan oleh pihak imigrasi, kita hanya perlu menandatanganinya saja diatas materai.

Sebelum masuk prosedur pembuatan paspor, pastikan dulu berkas kita sudah lengkap yaitu :

  1. KTP kedua orang tua
  2. Kartu keluarga
  3. Buku nikah
  4. Akte lahir anak
  5. Paspor kedua orang tua
  6. Surat jaminan orang tua

Semua berkas tersebut difotocopy satu rangkap pada kertas A4 dan khusus KTP, tidak boleh di potong (tetap dibiarkan dalam satu lembar kertas). Mungkin dimaksudkan agar tidak mudah tercecer kali ya. Selain copy-annya juga harus membawa berkas aslinya ya.

Prosedur Pembuatan Paspor

Jika berkasnya telah lengkap maka langkah selanjutnya adalah ke kantor imigrasi terdekat. Untuk daerah Makassar bisa diajukan di kanim Daya maupun kanim Alauddin.

Secara runut, prosedurnya seperti ini :

  1. Mengambil nomor antrian
  2. Ke loket pemeriksaan berkas. Jika dianggap lengkap maka akan diberi formulir pengajuan paspor
  3. Wawancara
  4. Foto
  5. Selesai. 

Selanjutnya melakukan pembayaran ke bank dan kembali lagi ke kantor imigrasi empat hari kemudian untuk mengambil paspor.

Kelihatannya sangat mudah sekali ya. Namun apa yang saya alami rupanya jauh berbeda.

Jadi awalnya saya datang ke kanim Alauddin karena jaraknya yang lebih dekat dari rumah. Saya tiba di sana sekitar pukul tujuh pagi dan ternyata saya sudah tidak bisa dilayani! What?? Jam segitu sudah tutup layanan? Lha kantor ini bukanya jam berapa memang sih?? Padahal sejak di rumah tadi saya sudah membayangkan bisa lebih leluasa karena datang sebelum jam kerja. Tapi rupanya jam 7 pagi pun saya tidak kebagian nomor antrian. (Nomor antriannya ini masih manual, nama kita ditulis dalam daftar pada lembar kertas double folio). Saya bahkan tidak sempat sama sekali berbincang dengan petugas imigrasi karena massa telah mengerubungi di pintu masuk hingga parkiran. Saya tanyalah salah seorang diantara mereka. Dan saya sangat tercengang karena menurut pengakuannya dia datang mengantri sejak pukul 3 subuh bahkan ada yang harus menginap. Ckckckck. Saya disarankan datang senin subuh saja berhubung hari ini jum’at yang berarti besok dan lusa libur weekend.

Karena gagal di kanim Alauddin, sayapun ke kanim Daya. Meskipun sebenarnya di pikiranku meragukan niat itu karena bisa saja mendapatkan hasil serupa : tidak dilayani. Mengingat kanim Daya adalah kelas satu yang loadingnya pasti jauh lebih besar daripada kanim Alauddin yang hanya unit layanan pembantu. Tapi hati kecilku terus berbisik : jauh lebih baik berusaha maksimal dulu. Kalaupun nanti hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, setidaknya saya telah melakukan yang terbaik. Karena itu saya tetap melanjutkan ke kanim Daya.

Tiba di kanim Daya sudah pukul sembilan lewat, hampir jam sepuluh karena terhalang macet di pintu dua Unhas. Seperti yang kuduga, orang-orang yang mengajukan paspor di sini ternyata lebih banyak daripada di kanim Alauddin. Dan lagi-lagi saya tidak kebagian nomor antrian. Nomor antriannya juga masih manual, ditulis di sepotong kertas kecil yang dibagikan berdasarkan posisi duduk di kursi (bukan berdasarkan kedatangan). Parah yaaa! Yang tidak mendapatkan nomor antrian ternyata bukan hanya saya yang baru saja tiba. Bahkan mereka yang sejak subuh buta di sini juga tidak kebagian hanya karena mereka terlanjur memilih duduk di kursi belakang saat kedatangan mereka di awal tadi, sebelum datangnya petugas pembagi nomor antrian. Ya ampuunn kasian juga ya. Masalah nomor antrian ini sepertinya menjadi PR besar bagi kantor imigrasi Makassar. Akan lebih bijak jika mengupayakan penggunaan mesin antrian otomatis seperti di Bank dan rumah sakit.

Saya tak lantas pulang meskipun sudah tidak mendapat nomor antrian. Setahu saya ada layanan prioritas untuk bayi! Saya lalu menemui petugas pembagi nomor antrian tadi dan menanyakan hal tersebut. Alhamdulillah benaran ada! Sayapun diberi nomor urut 16 dengan catatan menunjukkan bayinya sebagai bukti. Soalnya saya ke sana tanpa Baby Yui yang saya tinggal bersama kakek di mobil. Sayapun kembali ke parkiran dan membawa baby Yui ke loket. Saat itu sedang diproses antrian ke 13 yang berarti dua orang lagi tibalah giliranku. Sayangnya, kursi di depan loket sudah terisi penuh semua dan tidak ada yang peduli untuk mengikhlaskan kursinya bagi ibu yang menggendong bayi. Padahal kebanyakan diduduki anak-anak muda.

Ketika nomor antrian ke 15 diproses, tiba-tiba seseorang mencolek saya dari belakang. Rupanya seorang ibu-ibu berusia sekitar 50-an bernama Hana. Dia menawarkan diri untuk menggendong bayiku karena tak mampu berdiri lama jika harus memberikan kursinya padaku. Maka sebagai gantinya, beliau rela memangku baby Yui. Dan betapa tercengangnya karena beliau datang jauh-jauh dari Bulukumba dan tiba di kanim Daya pukul 6 pagi tapi mendapat nomor antrian ke 70. Ya Allaaahhh… betapa mulianya Ibu Hana ini. Semoga keberkahan senantiasa tercurah kepadanya.

Akhirnya tiba juga giliranku. Sebelum memeriksa berkasku, terlebih dahulu menanyakan mana bayinya. Sayapun menunjuk Yui yang dipangku Ibu Hana. Pemeriksaan berkaspun dilanjutkan. Dan keputusan petugas menyatakan berkasku DITOLAK! Jreng… jreng… rasanya kakiku lunglai, lidahku kelu. Tak bisa berucap apa-apa. Membayangkan perjuangan Yui hari ini yang begitu luar biasa sejak selepas subuh. Tiba pagi-pagi di kanim Alauddin tidak bisa dilayani, hingga menantang matahari pukul 9 di atas mobil pick up kakek yang panasnya masyaAllah karena perjalanan ke Daya bertepatan menghadap matahari. Hanya air mata yang menetes begitu saja. Melihat saya menangis, bapak yang melayaniku (kira-kira usia 40-an tahun) menyampaikan bahwa secara urutan dokumen, sebenarnya sudah lengkap tapi KK saya belum distempel sehingga dianggap berkas tidak memenuhi syarat. Mendengar penjelasannya, air mataku makin banyak yang keluar. Padahal saya sudah berusaha keras menahan agar tidak menangis. Tetapi seperti ada dorongan kuat yang terus mendesaknya keluar hingga pipiku kebanjiran air mata. Bukan apa-apa sih, pembuatan KK ini juga penuh drama soalnya karena harus bolak-balik ke Denpasar, Bali.

Mungkin karena saya nangisnya dari hati, bapak itu luluh. Apalagi saat tahu jika KK ku diterbitkan di Denpasar. Dengan suara sangat rendah, beliau memberi saya formulir pengajuan paspor beserta dokumen-dokumenku dan menyuruh masuk ke ruangan di sebelahnya untuk menemui bosnya. Cenderung berbisik, dia menambahkan bawa bayinya ya, biasanya tidak ada orang yang tega kepada bayi.

Saya masuk ke ruangan itu bersama bapak dan baby Yui. Kami disambut security yang telah mengetahui kondisi kami dari bapak petugas loket agar membawa saya ke atasannya. Security itulah yang menjelaskan permasalahanku ke pak bos sebelum kami bertatapan muka. Rupanya pak bos yang dimaksud ternyata masih sangat muda. Mungkin seumuran dengan suamiku. Singkat saja tanyanya, suaminya dimana? Kok tidak ikut? Setelah saya sampaikan bahwa dia ada di Timika, Papua,  dia tanya lagi. Kerja apa di sana? Mendengar jawabanku, langsung saja dia acc berkasku dengan catatan, saat pengambilan paspor nanti harus membawa KK yang sudah distempel agar berkasnya bisa ditukar. Selanjutnya saya mengisi formulir pengajuan paspor dan menandatangi surat jaminan orang tua (karena saya mengajukan paspor untuk bayi) dan langsung dibawa ke ruang foto, didahulukan karena anak bayi. Tapi lagi-lagi drama! Proses foto yang seharusnya cuma 5 menit saja molor hingga setengah jam gara-gara Yui tertidur. Pengambilan foto paspor harus memuat seluruh muka, sementara baby Yui tidurnya pulas. Susaaahh banget banguninnya.

Memasuki menit ke 40, alhamdulillah berhasil membangunkan baby Yui. Jepret! Foto selesai, slip pengambilan paspor terbit. Bayar di bank dan kita datang empat hari lagi dengan paspor sudah di tangan insyaAllah 😘

Kenyataannya…

2 minggu kemudian baru bisa kembali ke kanim Daya karena proses KK yang harus bolak balik Bali untuk di stempel. Parahnya, KK kami harus cacat karena dicoret-coret Ochy sebelum selesai di laminating. 😭😭

Pas pengambilan paspor, eh ditolak lagi. Gara-gara yang datang ambilkan si kakek yang sudah tidak satu KK dengan kami. Dan tidak ada pula surat kuasa yang dibawa. Maka yang harus datang sendiri adalah salah satu orang tua si anak. Ya ampuunn.

Setelah jum’atan saya pun ke kanim Daya tanpa membawa Ochy maupun Yuiko. Anak-anak saya titip di rumah orang tua. Ke kanim Daya juga naik angkot karena mobil sudah tak punya, dijual untuk beli rumah. Motor ada sih, tapi agak takut karena sudah lamaaaaaa sekali tidak naik motor. Kalau cuma dalam kompleks sih masih berani. Tapi kalau di jalan raya protokol begitu agak ngeri sendiri. Lalu saya pesan taxi online, tapi gak ada juga yang dekat-dekat. Akhirnya naik angkotlah saya ke sana dengan dua kali rute : Antang – Tello lalu Tello – Daya karena saya berangkat dari rumah orang tua. Nah parahnya, karena juga sudah bertahun-tahun gak naik angkot, eh saya malah kebablasan sampai di lampu merah perempatan pasar Daya. Kantor imigrasi sudah jauh terlewat di belakang. Ya Allaaahh. Dramanya ini sudah level berapa sih 😭😭

Nah nyebrang ke sisi jalan buat naik angkot balik. Alhamdulillah kali ini tidak terlewatkan karena sebelumnya saya beritahu pak sopir untuk menurunkan di kanim Daya. Tiba di sana sudah pukul 1.30 siang. Saya dapat nomor antrian 171 sementara yang baru terproses saat itu nomor 83. Imagine it? How long it will be?? Hiks.. Mana loketnya cuma buka sampai jam 3 sore pula. Jadi kalau sudah waktunya tutup ya tutup. Gak peduli meskipun masih ada yang antri. Yang gak kebagian yaaa ikut hari kerja berikutnya. Terus saya pulang gitu?? Oh no! Pokoknya saya akan pulang jika melihat sendiri loketnya tertutup. Saya akan lebih puas sendiri jika telah melakukannya dengan maksimal. Pun jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, setidaknya saya telah memaksimalkan usaha.

Nomor antrianku 171 boo

Nah… Alhamdulillah, ajaibnya banyak nomor antrian yang tidak ada orangnya. Mungkin mereka sudah terlanjur pulang karena mengira nomornya yang gak akan kebagian di loket.

Daaaann… tadaaaaa… passport adek akhirnya di tangan. Alhamdulillah.

Jadi kesimpulannya :

  1. Boleh mengurus paspor di kantor imigrasi manapun, meskipun beda domisili. Seperti kami yang alamatnya di  Denpasar bisa membuat paspor di Makassar.
  2. Untuk daerah Makassar sebaiknya pilih Kanim Daya untuk pengurusan paspor
  3. Pastikan berkasnya lengkap sehingga tidak harus bolak-balik
  4. Datang pagi banget dan selamat mengantri berjam-jam 😁😂

Liburan di Rumah Saat Musim Libur

Liburan di rumah

Sejauh ini saya dan keluarga paling menghindari liburan di musim libur. Selain mainstream banget, juga tidak bisa menikmati wisata dengan nyaman karena terlalu banyak pengunjung. Susah dapat spot foto yang keren, berisik dan dipastikan harga penginapan dan tiket wisata juga naik berlipat-lipat. Halah… ternyata ujung-ujungnya tetap alasan harga ya bo! Dasar emak-emak. Wkwkwwk. Habis traveling berdua dan berempat kerasa banget beda budgetnya. Jadi kalo bisa dihindari saat high season, ya kenapa tidak? Kalaupun terpaksa liburan di saat musim libur, ya ayo kita terjebak! Hahaha. Ini maksud tulisannya apa sih? Kok jadi bingung sendiri! 

Meskipun suami saya seorang karyawan yang jatah cutinya cuma 12 hari setahun tapi kami selalu berusaha untuk liburan di waktu-waktu sepi pengunjung. Sekarang sih masih bisa ngomong seperti itu ya karena anak-anak masih bebas dengan segala jadwal. Entah bagaimana jika esok lusa sudah sekolah, dimana Ochy dan Yuiko tidak bisa lagi traveling semau emaknya karena gak mungkin izin terus demi menghindari liburan di musim libur. Tapi sudahlah, repot amat mikirin hal ginian. Ochy masuk sekolah kan juga masih lamaaaaaa banget. Empat atau lima tahun lagi. Nikmati saja dulu yang sekarang. Mumpung anaknya masih asyik dibawa kesana kemari.

Liburan di rumah

Tentang liburan di musim libur, kami malah memilih menghabiskan waktu di rumah saja daripada jalan-jalan seperti orang kebanyakan. Di rumah sendiri ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Diantaranya berenang, balapan sepeda, bercocok tanam, memasak bersama, membersihkan rumah, menyusun puzzle, main di taman, mendaki bukit dekat kompleks dan tentu saja bermain kejar tangkap.

Liburan di rumah

Kegiatan sederhana itu ternyata efeknya luar biasa terhadap keluarga, terutama bagi anak-anak. Selain melatih kekompakan suami istri, juga merangsang kemandirian dan daya nalar anak. Dan yang paling penting sih, kebersamaan itu menjadi unsur berharga menumbuhkan rasa kasih sayang antar anggota keluarga.

Liburan di rumah

Nah libur lebaran sebentar lagi tiba. Sudah punya rencana liburan kemana? Kalau kami sih seperti judul tulisan ini, liburan di rumah saat musim liburan. Artinya cuma di rumah saja setelah silaturrahim ke rumah orang tua dan mertua serta beberapa kerabat. Eh tapiii… mertua saya kan ada di Enrekang. Jaraknya kurang lebih 400 km dari Makassar. Ini termasuk liburan di musim libur gak sih? Hahaha.

Anw, selamat hari raya Idul Fitri ya semua. Mohon maaf lahir dan batin ^.^

Ketenangan Teluk Yoetefa

Pagi setelah sarapan, kami menunggu teman Papa di lobby yang akan menjemput dan mengajak berkeliling Kota Jayapura. Setelah semalam deal tidak akan ke Skow, daerah perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Meski saya sebenarnya ngebeeett banget ke sana tapi pak suami ogah karena jaraknya cukup jauh (4 jam pp) dan tidak ada hal menarik yang bisa dinikmati di sana, menurutnya. Padahal ya sejak dulu saya punya impian menjajaki batas-batas wilayah Indonesia dengan negara tetangga. Dan saya paham bahwa daerah perbatasan itu memang tidak memiliki wisata yang bisa memanjakan mata namun saya selalu penasaran dengan masyarakat di sana, bagaimana mereka menjalani hidup di garis batas antar negara. Bagi saya justru itulah hal menariknya. Tapi yaaa begitulah, selera ketertarikan setiap orang memang berbeda. Well, abaikan. Anggap saja saya punya alasan untuk bisa kembali ke Jayapura suatu saat nanti. Hihihihi

Menu sarapan hotel tidak mewah. Tapi cukup mengenyangkan. Nasi goreng kecap dengan toping telur dadar. Teh dan kopi menjadi teman sajiannya. Meski sederhana tapi Ochy sangat suka. Lahap dan habis satu porsi piring. Sangat cukup menjadi energi cadangan untuk agenda jalan-jalan hari ini.

Mobil kami melaju pelan menjauhi area hotel pukul 8 pagi. Teman papa (Suca) menjemput kami bersama istrinya yang juga hamil sekitar lima bulan sepertiku. Namanya Mia, cantik dan sangat ramah. Kami langsung akrab berasa sudah kenal bertahun-tahun. Pagi ini kami akan diajak ke Teluk Yoetefa di Tanah Hitam, taman wisata dengan hamparan hutan Mangrove yang diapit dua buah tanjung di sisi kanan kirinya. Dari deskripsi Mia, saya bisa membayangkan betapa cantiknya teluk Yoetefa itu.

Cukup dekat ternyata jaraknya dari kota Jayapura. Kami berkendara hanya sekitar 15 menit saja. Begitu mobil berhenti, saya melongo ke jendela. Dalam hati melongos : Lho, itu teluknya? Apa bagusnya tempat berpasir hitam begini. Hanya tumpukan batu yang sedikit menjorok ke pantai, istimewanya dimana? Hahaha. But hey… be careful of your thought! Tidak baik mengambil kesimpulan di awal.

Turun dari mobil saya terheran-heran. Kok kita mengarah ke kiri padahal pantainya jelas-jelas di sebelah kanan. Rupanya Teluk Yoetefa ini memang luar biasa. Selain diapit tanjung di sisi kanan kirinya, juga berhadapan dengan garis Pantai Hamadi. Hijau dengan rimbun Mangrove dan tanaman sagu dipadu biru air laut yang tenang dengan view gunung di sekelilingnya. Tuh kan, makanya tetaplah berprasangka baik. Tempatnya memang kece abis pokoknya as Mia described it to me selama di perjalanan tadi.

Di sana ada beberapa saung berwarna biru terang untuk tempat duduk dan bersantai di atas laut. Ada beberapa perahu motor juga yang bersandar. Satu dua perahu datang dan pergi mengangkut penumpang. Sayapun penasaran, ini orang-orang pada mau kemana ya? Rasa penasaran sayapun terjawab. Seolah memahami apa yang saya pikirkan, Mia membeberkan bahwa di tengah teluk Yoetefa ini ada beberapa pulau cantik yang didiami masyarakat asli Papua. Diantaranya pulau Tobati dan Enggros. Menariknya lagi ada lapangan timbul tenggelam. Heh?? Kayak gimana tuh ya? Kok kedengarannya keren. Jadi bukan hanya sinyal saja yang timbul tenggelam di Jayapura. Ternyata lapangan pun bisa timbul tenggelam. Hahaha. Rupanya lapangan yang dimaksud itu adalah daerah lapang berpasir yang akan nampak jika air sedang surut dan akan tenggelam jika air sedang pasang. Kok jadi kebayang pasir timbulnya Raja Ampat ya. Halah… kayak gue pernah ke Raja Ampat aja 😅😂

Saya penasaran sekali ingin ke pulau-pulau tersebut. Pasti akan sangat menyenangkan menjelajah dengan perahu. Tapi lagi-lagi saya harus mengurut dada. Kondisi saya yang hamil menjadi alasan pak suami menolak mentah-mentah melintasi laut dengan perahu motor warga lokal. Mia dan suaminyapun menyarankan hal yang sama demi keselamatan bersama. Ya ampuun… Kak Idu ini pengen aku gigit rasanya. Sudahlah batal ke Skow, sekarang gagal pula menikmati eksotisme Teluk Youtefa dari dekat. Okeh… okeeehh… ini menambah daftar panjang alasan untuk kembali lagi ke Jayapura suatu hari nanti. 😁😁

Senja di Waduk Antang

Mungkin tidak banyak yang tau hal menarik apa yang bisa kita nikmati di Antang. Sebuah pinggiran Kota Makassar yang sering dimarginalkan karena keberadaan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di daerah Tamangapa. Bau sampah menjadi pencemaran udara yang sudah pasti tidak bisa di hindari apalagi jika TPA tersebut belum menerapkan sistem sanitary landfill. Baunya bahkan menyeruak hingga berkilo-kilo meter jauhnya. Jika angin bertiup kencang, baunya bisa tercium hingga ke rumah orang tua saya.

Terlepas dari permasalahan sampah di Antang, ternyata ada satu tempat indah untuk menikmati sunrise maupun sunset yaitu di waduk Antang yang terhubung ke Borong dan Toddopuli. Dulu ketika saya masih gadis, jalan-jalan pagi ataupun sore menjadi kebiasaan saya menghabiskan waktu di tempat ini. Kadang sendiri, kadang juga ramai-ramai dengan teman. Naik sepeda, balapan sepatu roda atau sekedar jogging. Pernah juga menelusuri luas waduk dengan berjalan kaki karena merasa penasaran dimana ujungnya dan ada apa di sana. Padahal saat itu waduk Antang masih dipenuhi semak belukar, jalannyapun masih setengah aspal, setengah batu pengerasan dan timbunan tanah merah. Beda dengan sekarang yang sudah lebih terawat dan ramai. Jalannya sudah beton lengkap dengan terali besi di pinggir waduk sebagai pengaman. Belakangan malah dijadikan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan yang sering terjadi di pertigaan Antang-Ujungbori.

Sore itu tidak sengaja saya lewat di sana bersama bapak dan Ochy. Seperti kembali ke masa lalu, kenangan-kenangan di tempat ini terputar lagi. Saya melihat diriku yang lari berkejaran dengan anak-anak asuh di pinggir waduk. Duduk dan tertawa di aspal yang setengah jadi. Belajar dari alam adalah tema kami hari itu. Tak lama muncul lagi diriku menenteng sepatu roda berwarna pink. Bersama sahabat perempuan yang sangat tomboy, kami balapan hingga ke ujung batas pengunjung waduk yang ditandai pagar setinggi 2 meter berlapis portal besi. Dan dasar kami nakal, kami menerobos masuk dengan memanjat. Sepatu roda kami terlebih dahulu di lempar ke sebelah melalui celah pagar. Sahabatku yang tomboy itupun sudah berhasil menyeberangi pagar setinggi 2 meter itu. Sementara saya bernasib sial. Baru setengah memanjat, security sudah datang. Teriak-teriak sambil membawa tongkat kayu setengah lengan. Karena ketakutan, terpaksa saya mengambil jalan pintas karena tak mungkin mampu menyelesaikan rintangan pagar besi ini. Sayapun melompat ke samping yang tak lain adalah bagian waduk yang penuh air berupa kanal. Parahnya saya tidak bisa berenang, jadilah saya mangap-mangap. Syukurnya kedalaman kanal ini masih terjangkau dengan tinggi badanku sehingga saya tidak tenggelam.

Mengingat-ingat kejadian itu membuat tawaku pecah sekaligus bertanya-tanya apa kabarnya sahabat tomboyku itu? Puluhan tahun tak pernah berkomunikasi lagi sejak ia memutuskan merantau ke pedalaman Luwuk Banggai.

Seperti iklan dalam tayangan tv, muncul lagi gambar lain. Begitu cepat berganti. Kali ini saya melihat diriku dari belakang. Jalan berdua menyusuri pinggir waduk yang dipenuhi ilalang dan semak belukar. Tanah becek sisa hujan semalam tak menyurutkan niat kami. Rasa penasaran akan muara waduk ini telah meleburkan rasa takut kami akan hal-hal buruk yang bisa saja kami jumpai di pagi buta selepas subuh begini. Teman sejak berseragam putih abu-abu yang selalu bergairah untuk setiap petualangan baru. Teman yang selanjutnya menjadi sahabat karib lalu menjadi cinta dan sayangnya harus berakhir dengan penuh benci. Saling menyakiti satu sama lain. Hingga kita tak saling bicara lagi.

Begitulah… tak ada persahabatan dan cinta yang hadir di garis hidup kita tanpa meninggalkan bekas di sana. Seberapapun kita bahagia atau terluka atasnya.

Film lain yang mampir dalam benak tentang waduk ini adalah sekelompok anak abege yang sedang memasuki fase puncak kenakalan remaja. Terlihat saya dan lima orang teman bermain di pinggir waduk yang sedang dalam pembangunan. Salah satu diantara kami nekat terjun ke galian terdalam yang baru saja dikeruk oleh excavator. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga melakukan hal bodoh itu. Awalnya baik-baik saja. Tertawa dan menyombongkan diri akan kemampuannya. Diapun mengulanginya lagi. Berhasil, iapun menepuk-nepuk dadanya. Sekali lagi diulangi, naas kakinya menghantam batu dan mengalami dislokasi tulang. Reaksi refleks kami tentu saja tertawa alih-alih menolongnya terlebih dahulu. Mungkin jika kejadiannya sekarang, maka reaksi pertama kami adalah memfotonya lalu mengupload ke media sosial dengan berbagai caption dan hashtag.

Kenangan di tempat ini memang tidak akan ada habisnya. Dan saya mensyukurinya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membuat hari-hariku berwarna. Membuat saya bangga bahwa hidupku tidak berlalu begitu saja.

Saya meminta bapak untuk berhenti sejenak. Sementara beliau dan Ochy menikmati matahari sore, saya melanjutkan film kenangan di pinggir waduk.

Bagaimana sunset mu sore ini? Ada cerita apa di baliknya? Bagi cerita yuukk😊😊

Kampili dan Pesona Bendungannya

Bulan Maret telah memasuki batas akhir. Tinggal hitungan jam, April segera menyapa. Ah… Waktu memang sangat ambigu ya. Kadang ia terasa begitu cepat berlalu dan di lain kesempatan terasa begitu lambat. 

Kami menutup bulan ke tiga ini dengan mengajak Ochy ke sebuah desa tak jauh dari Kota Makassar. Terlebih lagi lebih dekat dari rumah kami yang secara administratif telah masuk ke Kabupaten Gowa. Hanya sekitar 30 menit saja berkendara motor dengan kecapatan standar 40km/jam. Desa itu bernama Kampili yang populer dengan bendungannya yang terintegrasi ke Bili-Bili. 

Sore itu, selepas ashar kamipun berangkat. Bertiga, kami naik motor membelah jalan poros Makassar-Gowa. Meski langit sedikit mendung syukurnya hujan tetap menggantung di awan-awan kelabu hingga kami tiba kembali di rumah.

Cara menuju Bendungan Kampili

Tidaklah sulit untuk sampai ke Desa Kampili pun hingga ke bendungannya yang cantik dengan batu-batu cadas yang besar. Berikut saya uraikan secara lengkap bagaimana menuju bendungan Kampili :

1. Jika dari arah Makassar, teruslah melaju hingga ke jembatan kembar Gowa. Tepat di sisi kiri jembatan, ada belokan menurun. Nah… ikutilah jalan beton itu. Lurus saja hingga tiba di sebuah gapura bertuliskan selamat datang di Desa Kampili. Selama dalam perjalanan, kita akan melewati areal persawahan yang luas dan rumah penduduk yang terbagi dalam dusun. Beberapa diantara rumah penduduk itu terhampar gabah yang dijemur di pekarangan ataupun di pinggir jalan. Kegiatan menjemur gabah ini, oleh masyarakat setempat disebut dengan angngalloi.

2. Ketika tiba di persimpangan pasar Taipa Le’leng, ambillah arah ke kiri menuju kampus IPDN Sulsel. Dari sana, terus saja hingga tiba di gapura kampung KB Dusun Je’nemadinging. Jika sudah sampai di gapura ini tetaplah terus mengikuti jalan aspal hingga ujung yang ditandai bangunan bendungan beratap biru. Di sana akan ada dua jalur. Kedua jalur itu menuju spotlight wisata bendungan Kampili. Saya sarankan untuk mengambil jalur yang kedua. Selain jalannya yang beraspal mulus, di jalur ini kendaraan kita insyaAllah juga aman setelah membayar uang masuk sekaligus uang parkir yang dipungut masyarakat setempat sebesar Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 5.000 untuk mobil. Sementara di jalur pertama adalah jalur ilegal yang tanpa pungutan biaya apapun namun dengan risiko kehilangan kendaraan.

Secara umum, kondisi jalan menuju Desa Kampili sudah bagus. Meskipun tidak mulus sempurna karena di beberapa titik tertentu ada yang berlubang, berbatu dan berlumpur namun masih bisa dilalui kendaraan dengan baik.

Persimpangan di dekat Pasar Taipa Le’leng
Kampus IPDN Sulsel. Ikuti saja terus jalan aspal hingga mentok.
Gerbang kampus IPDN Sulsel
Jika telah sampai di gapura kampung kb ini, terus saja hingga mendapat bangunan bendungan beratap biru
Ini adalah ujung Desa Kampili sekaligus tempat dimana bendungan berada. Jalur pertama adalah ilegal dengan jalan berbatu tanpa aspal. Sementara jalur kedua adalah jalur resmi dengan pungutan biaya parkir kendaraan
Gerbang masuk ala kadarnya. Di sini kita harus membayar biaya parkir kendaraan

Mengapa harus ke Desa Kampili?

Kebanyakan orang ke Desa Kampili karena ingin menikmati bendungannya yang tak biasa. Begitupun dengan saya. Tapi nyatanya, selain menyuguhkan keindahan bendungan, Desa Kampili juga menawarkan kehidupan alami pedesaan yang bersahaja dan sarat akan nilai untuk disisipkan sebagai pelajaran kepada anak. Diantaranya :

1. Annanang dan Akkatto

Adalah kegiatan menanam bibit padi baru dan memanen padi lama. Masyarakat Kampili melakukannya secara bergotong royong dan penuh suka cita. Pemandangan yang sangat langka di tengah hiruk pikuk perkotaan. Ochy sendiri sangat menikmati jerami-jerami yang terhempas dari mesin sederhana maupun yang dipukul-pukul masyarakat secara manual ke sebuah bilah kayu agar padi-padinya rontok.

2. Angngalloi atau menjemur gabah

Padi-padi yang telah dirontokkan lalu dijemur di halaman rumah ataupun di pinggir jalan. Setelah itu akan datang mobil pick up berisi mesin penggiling untuk mengolah gabah menjadi beras siap konsumsi.

3. Akkalawaki atau mengembala

Hewan ternak yang digembalakan masyarakat Kampili adalah sapi dan kerbau. Biasanya dilakukan oleh pemuda-pemuda kampung bersarung. Selama dalam perjalanan, kami menikmati pemandangan gerombolan sapi dan kerbau yang digiring pulang oleh si pengembala.

4. Anak lebih mengenal bendungan dan fungsinya. Meskipun sama-sama menampung debit air yang banyak, kita bisa menyisipkan pelajaran tentang perbedaan pantai, laut, sungai, danau dan bendungan itu sendiri agar anak lebih memahami perbedaannya.

5. Kearifan lokal yang jarang atau bahkan tidak kita jumpai di kota-kota besar seperti keramahan penduduk, gotong royong dan kepolosan mereka akan kejujuran.

Berikut beberapa hasil dokumentasi di bendungan Kampili. Sayangnya langit mendung sehingga hasil gambarnya kurang cetar.

Ke spot ini harus melalui jalan menurun cukup tajam dengan batu-batu licin sehingga harus ekstra hati-hati
Batu-batu khas Bendungan Kampili. Saat kemarau, batu-batu ini akan tampak lebih epic.
Sisi atas bendungan tak jauh dari tempat parkir
Pose andalan. Karena cukup berbahaya, saya tidak berani menerbangkan Ochy tanpa dipegang.
Menuju batu-batu cadas bendungan. Curam dan licin.
Nih anak paling senang dah lari-lari di alam terbuka begini.

Saya sangat merekomendasikan kunjungan keluarga ke Desa Kampili. Selain biayanya murah meriah, banyak pelajaran yang bisa kita petik. Saya sendiri hanya mengeluarkan uang Rp 30.000 saja dengan rincian isi bensin Rp 20.000, parkir Rp 2.000 dan sisanya untuk beli snack dan minuman di warung tempat parkir kendaraan.

Ya ampuunn… kebayang gak sih? Tiga puluh ribu perak doang! Uang segitu bahkan tidak ada artinya jika dibawa ke mall. Beli secangkir kopi di starbucks aja gak cukup, man! Tapi di Desa Kampili, kita bisa ‘membeli’ pengalaman luar biasa tentang kehidupan alami perkampungan.

Umroh Saat Hamil 7 Bulan dan Membawa Anak 2 Tahun (Part 5 : Ibadah Umrah dan Makkah City Tour)

Sumber gambar : google

Makkah atau Mecca lebih terkenal dengan sebutan Mekah bagi orang Indonesia. Di sana terdapat masjidil haram dengan kakbah sebagai pusat qiblat bagi seluruh ummat Islam di dunia. Tempat yang menjanjikan ratusan ribu kali lipat ganjaran pahala atas kebaikan-kebaikan yang kita niatkan ataupun yang sedang kita lakukan.
Selama empat hari di Mekah, kami lebih banyak menghabiskan waktu di masjidil haram. Sejak tiba di hari pertama kami langsung menunaikan ibadah umrah. Keesokan harinya boleh melaksanakan ibadah umrah lagi untuk yang kedua baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga yang sakit parah dan tak ada harapan baginya untuk sembuh ataupun bagi keluarga yang telah meninggal. 

Masjidil Haram dengan kakbah sebagai pusat qiblat ummat Islam di dunia.
Masjidil Haram tampak luar dan dalam.

Bapak dan suami melaksanakan umrah untuk kedua kalinya dengan niat yang berbeda. Jika suami meniatkan umrah untuk dirinya sendiri, bapak meniatkannya untuk almarhumah ibunya. Saya sendiri tidak melakukan umrah lagi sebab ustad pembimbing berkali-kali mengingatkan agar di pikir baik-baik dulu sebelum menjatuhkan niat umrah sebab tawaf dan sai kali ini akan dilaksanakan sehabis dzuhur dimana matahari sedang panas-panasnya. Sedangkan jika kita tidak mampu menyelesaikan rukun umrah hingga tahallul nantinya, akan dikenakan denda atau dam berupa penyembelihan hewan ternak onta ataupun kambing. Karena itu saat bapak dan suami beserta jamaah lainnya yang ikut umrah kedua, saya dan Ochy beristirahat di hotel saja sambil menunggu waktu ashar tiba.

Sebelum memulai umrah yang kedua, terlebih dahulu kami diajak berkeliling kota Mekah mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti bukit tsur, jabal rahmah, padang arafah, muzdalifah dan mina serta jabal nur dimana terdapat gua hira di dalamnya.

1. Bukit Tsur

Bukit di belakang kami itu adalah Bukit Tsur.

Bukit Tsur terkait erat dengan hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Di bukit ini terdapat sebuah gua, tingginya sekitar 1.25 meter dengan luas 3.5 meter persegi yang disebut Gua Tsur. Nah di gua inilah Rasulullah SAW bersama sahabatnya Abu Bakar Asshiddiq r.a bersembunyi selama tiga hari tiga malam dari kejaran kaum kafir Quraisy yang hendak membunuh beliau. Abu Bakar sendiri sempat cemas sebab hanya sejengkal saja jarak mereka dengan pasukan Quraisy. Namun berkat pertolongan Allah SWT, merekapun selamat. Adalah sarang laba-laba yang tebal di mulut gua beserta burung merpati yang sedang bertelur yang mengecoh pasukan Quraisy tersebut. Mereka menyangka tidak mungkin ada manusia yang bisa memasuki gua ini tanpa merusak jaring laba-laba itu.

2. Jabal Rahmah

Jabal rahmah dengan monumen Adam-Hawa di puncaknya

Jabal rahmah adalah bukit batu dengan ketinggian sekitar 70 meter yang terletak di tepi padang Arafah. Tempat ini disebut-sebut sebagai saksi abadi kisah pertemuan Nabi Adam A.S dengan istrinya Siti Hawa yang telah terpisah sekian lama sejak mereka dikeluarkan dari surga oleh Allah SWT karena tergoda rayuan iblis untuk mendekati pohon terlarang.

Bapak berhasil naik hingga ke monumen Adam-Hawa di puncak Jabal Rahmah.
View dari puncak Jabal Rahmah. Sumber foto : dokumentasi bapak

Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke bumi dan ditempatkan secara terpisah hingga suatu hari Allah berkenan mempertemukan mereka kembali di jabal rahmah. Sebagai pengingat momen pertemuan itu, pemerintah Arab Saudi membangun sebuah monumen dengan lebar 1.8 meter dan tinggi 8 meter di tempat yang dipercayai menjadi pertemuan kedua manusia pertama tersebut. Meskipun tidak ada keutamaan mengunjungi tempat ini, nyatanya tak pernah sepi dari peziarah terutama jamaah asal Indonesia.

3. Padang Arafah

Padang arafah yang sepi karena bukan musim haji

Arafah adalah tanah datar yang dikelilingi bukit batu dan menjadi tempat pertemuan manusia terluas di muka bumi setiap tanggal 9 Dzulhijjah dalam penanggalan hijryah. Pada hari itu jutaan ummat Islam dari berbagai pelosok dunia melakukan inti ibadah haji yaitu wukuf atau berdiam diri sejak tergelincirnya matahari hingga terbenamnya matahari. Dalam ibadah haji, wukuf hukumnya wajib dan tidak sah haji seseorang sebelum melaksanakan wukuf. Wukuf ini menjadi gambaran tentang padang mahsyar di mana kelak manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya akan dikumpulkan bersama untuk dihisab perbuatannya selama hidup di dunia dulu.

4. Muzdalifah dan Mina

Muzdalifah adalah daerah terbuka antara Arafah dan Mina. Menjadi tempat yang penting dalam rangkaian pelaksanaan ibadah haji dimana jamaah diwajibkan untuk mabit atau singgah sejenak sejak tenggelamnya matahari hingga lewat tengah malam sambil mengumpulkan kerikil atau batu-batu kecil yang akan digunakan melempar atau melontar jumrah keesokan harinya di Mina.

Tenda-tenda tempat mabit di Muzdalifah. Sepi karena hanya dibuka khusus di musim haji
Apartemen tempat mabit di Muzdalifah khusus bagi anggota kerajaan Arab Saudi dan tamu kenegaraan dilihat dari bus
Masjid Al-Masy’aril haram di Muzdalifah

Di Kota Mina para jamaah haji melemparkan batu-batu kecil atau kerikil ke tiga tiang. Kegiatan ini disebut melontar jumrah sebagai simbol perlawanan manusia terhadap setan dan iblis sebagaimana diteladankan Siti Hajar saat Nabi Ibrahim membawa Nabi Ismail untuk disembelih atas perintah Allah SWT. Setan dan iblis tiada henti membujuk dan merayu Siti Hajar agar menghentikan langkah suaminya. Menurut setan, seorang ibu tidak akan sampai hati anaknya dikorbankan apalagi anak yang kehadirannya sudah sangat lama dinantikan. Perkiraan setan ternyaya meleset. Bukannya menuruti bisikan setan, Siti Hajar malah melemparinya batu berkali-kali.

Bangunan lantai empat di belakang itu adalah tempat melempar jumrah.

5. Jabal Nur

Jabal Nur dengan gua hira di puncaknya

Jabal Nur terletak sekitar 6 km di sebelah utara masjidil haram dengan tinggi puncak kurang lebih 200 meter. Di puncak jabal nur terdapat sebuah lubang kecil dibelakang dua batu raksasa. Lubang kecil itulah yang disebut dengan gua hira, tempat pertama kali Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yaitu QS. Al-Alaq ayat 1-5 melalui perantaraan Malaikat Jibril.

Panjang  gua hira sekitar 3 meter dan lebar 1.5 meter serta tinggi sekitar 2 meter. Dengan luas dimensi seperti itu, gua ini hanya cukup digunakan untuk sholat dua orang. Untuk mendaki puncak jabal nur setidaknya diperlukan waktu 1 jam. 

Jamaah yang hendak mendaki jabal nur untuk berziarah ke gua hira.

Kami sendiri hanya menyaksikan jabal nur dan gua hira dari bus karena harus segera kembali ke hotel agar tidak ketinggalan sholat dzuhur secara berjamaah di masjidil haram. Lalu melanjutkan ibadah umrah kedua bagi jamaah yang turun mengambil miqot di masjid ji’ranah tadi.

Hari ketiga di Mekah kami diajak ke daerah Hudaibiyah untuk melihat padang pasir dan mengunjungi peternakan onta serta masjid hudaibiyah yang terkenal dalam sejarah Islam sebagai tempat disepakatinya perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah dan Quraisy Mekah. Dulunya di sana juga terdapat pohon yang disebut baiturridwan dimana para sahabat melakukan baiat atau sumpah setia kepada Rasulullah SAW. Namun di zaman khalifah Umar Bin Khattab pohon itu ditebang karena sering disalahgunakan oleh kaum muslimin yang lemah imannya untuk mengambil berkat. 

Padang pasir di Hudaibiyah. Sayangnya tidak terawat. Beberapa sampah plastik saya jumpai dimana-mana.
Peternakan onta di Hudaibiyah. Di sini kita bisa menikmati susu onta segar yang baru di perah. Juga dijual kencing onta yang konon mampu mengobati penyakit kronis seperti DM, kolesterol, dll.

Masjid hudaibiyah yang penuh sejarah itu, sekarang hanya puing-puingnya saja dan terkesan diabaikan sejak dibangun masjid yang baru di sampingnya. Nah bagi jamaah yang ingin melakukan ibadah umrah yang ketiga kalinya dipersilakan mengambil miqat di masjid hudaibiyah yang baru ini. Saya dan suami tidak melakukan umrah lagi dengan pertimbangan menyiapkan energi untuk malam nanti karena kami akan melakukan tawaf wada atau tawaf perpisahan dengan baitullah. Lain dengan bapak, ia tetap semangat untuk melakukan ibadah umrah yang ketiga dengan niat untuk almarhum ayahnya (kakekku).

Puing-puing Masjid Hudaibiyah di zaman Rasulullah SAW.
Masjid Hudaibiyah yang baru, di bangun persis di samping masjid Hudaibiyah original sebagai tempat untuk mengambil miqat.

Hari ke empat di Mekah, kami harus meninggalkan masjidil haram menuju bandara King Abdul Azis di Jeddah untuk kembali ke tanah air.

Sedih sekali rasanya akan meninggalkan Mekah. Semoga diberi kesempatan untuk kembali lagi. Amiin yaa Rabb.

Umroh Saat Hamil 7 Bulan dan Membawa Anak 2 Tahun (Part 4 : Madinah-Mekah)

Hari ini adalah hari terakhir kami di Madinah dan dijadwalkan tiba di Kota Mekah sebelum maghrib untuk selanjutnya melaksanakan ibadah umrah selepas isya nanti. Tiga hari di Madinah rasanya singkat sekali. Belum puas hati ini berdialog dengan Tuhan di masjid Nabawi dalam sujud-sujud yang panjang.

Kami meninggalkan hotel di Madinah pukul 10 pagi dan singgah di Masjid Bir Ali untuk mengambil miqot atau menjatuhkan niat umrah. Karena itu bagi jamaah sudah diharuskan memakai pakaian ihram sejak meninggalkan hotel. 

Di depan masjid Bir Ali
Suami, Ochy dan bapak tampak dari belakang saat masuk ke area Masjid Bir Ali. Ochy belum kami pakaikan pakaian ihramnya. Rencananya nanti ketika telah tiba di Mekah saja.
Setelah sholat sunnat dan sholat ihram, semua jamaah segera ke bus untuk berniat umrah bersama-sama

Pakaian ihram bagi laki-laki adalah kain putih polos tanpa jahitan sedangkan untuk wanita bebas selama memenuhi syarat menutup aurat yaitu menutup seluruh anggota tubuh kecuali tangan dan muka. Oleh sebab itu, bagi wanita bercadar diharuskan membuka cadarnya. Meskipun pakaian ihram wanita bebas namun disunnahkan memakai yang sederhana saja. Sederhana dalam hal ini termasuk pemilihan warna yang tidak mencolok seperti putih, hitam, hijau, maroon, coklat dan abu-abu. Bagi jamaah dari Indonesia biasanya mainstream dengan warna putih untuk pakaian ihram. Di rombongan saya sendiri hanya saya yang tampak berbeda dengan pakaian berwarna hitam dan kerudung panjang coklat. Agak keki juga sih lain sendiri diantara ratusan jamaah Indonesia ini. Sampai-sampai saya memastikan kepada ustadz mutawwif tentang pakaian saya dan beliau membenarkan bahwa pakaian ihram bagi wanita memang tidak harus putih. Belakangan, karena merasa asing dan berujung tidak PD saya akhirnya mengganti baju dan kerudung serba putih di rest area sebelum masuk kota Mekah. Gak istiqomah ya saya! Huhuhuhu.

Sepanjang perjalanan Madinah ke Mekah akan melalui banyak gunung batu dan lahan-lahan kering yang tandus. Dominasi warna coklat gunung, lahan berpasir, onta serta beberapa bangunan kotak menjadi pemandangan di sisi kanan kiri. Beberapa ada yang hijau oleh pohon-pohon karno dan pohon pinus tapi tidak banyak.

Gunung batu sepanjang jalan Madinah-Mekah
Beberapa daerah yang hijau oleh pohon. Selebihnya tandus dan berpasir.

Tepat pukul 5 sore kami akhirnya masuk hotel di Mekah dan langsung diarahkan ke lantai restoran untuk makan sembari menunggu pembagian kunci kamar. Sama seperti di Madinah, satu kamar akan berisi 4 orang jamaah. Dan lagi-lagi masalah serupa terjadi. Keributan antara jamaah dan tour leader karena pembagian teman kamar yang tidak sesuai dengan yang diharapkan jamaah.

Di restoran hotel. Menunggu pembagian kamar hotel dari tour leader.

Sebenarnya kejadian ini sudah dialami ketika di Madinah. Banyak jamaah yang terpisah-pisah dari kerabat mereka termasuk kami yang awalnya harus terpisah kamar antara saya, suami, anak dan bapak. Alasan tour leader membagi kamar ia kelompokkan berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tanpa memperhatikan usia dan kekerabatan jamaah. Kebayang gak sih Ochy tidurnya dengan orang lain? Saya dengan orang lain begitupun dengan suami dan bapak. Kalau kami sih ya gak papa karena sudah dewasa tapi Ochy itu lho? Emang bisa dia tidur jauh dari ortunya? Masih 2 tahun lho! Mana dia tipe anak ketek mama pula itu. Kalau tidur malam maunya cuma sama saya. Hahahaha. Puyeeeng pala princess deh. Jadilah hingga pukul 2 pagi kami belum juga beranjak menuju kamar yang telah dibagikan tour leader itu. Ogah dong biarkan anak tidur terpisah. Nah ustadz mutawwifnya heran melihat kami yang sudah hampir subuh tapi belum dapat kamar juga. Ditanyalah apa masalahnya. Dan beliau geleng-geleng kepala mendengarkan kisah kami lalu memberikan kami satu kunci kamar khusus untuk ditempati kami bertiga saja dengan jendela kamar yang menghadap ke Masjid Nabawi pula. Alhamdulillah.

Kamar kami di Madinah

Nah kejadian di Madinah tempo hari ternyata terulang lagi di Mekah gara-garanya si tour leader merombak kembali pembagian kamar yang sudah diatur baik di Madinah dengan alasan mengelompokkan jamaah sesuai dengan teman satu busnya. Cari pekerjaan baru sih sebenarnya si tour leader ini soalnya waktu di Madinah kan sudah pada komplain tuh hingga akhirnya para jamaah yang saling tukar kamar sendiri agar bisa bersama dengan teman, kerabat ataupun keluarga mereka. Seharusnya sih pas tiba di Mekah ini, teman sekamar yang sudah diatur jamaah waktu di Madinah kemarin, itu dilanjutkan saja biar tidak kacau balau begini. Biar tidak ada lagi jamaah yang marah-marah hingga tour leadernya dibuat menangis. Nah inilah yang saya maksud pada tulisan sebelumnya bahwa si tour leader masih kurang pengalaman menghandle jamaah. Syukurnya sih kasus kami selalu happy ending. Alhamdulillah selalu diberi kemudahan oleh Allah termasuk urusan kamar ini. Ketika di Madinah dapat kamar dengan 3 ranjang, di Mekah ini kamarnya dengan 4 ranjang. Awalnya pengen ajak bapak sekalian di sini, tapi teringat dengan tante sahabatku yang dititipkan ke kami. Tantenya ini sudah lumayan lansia, mungkin sekitar 60-70 tahunan gitu. Kamipun memberi tawaran buat sekamar bersama meskipun agak ragu mengingat Ochy yang tidak bisa diam. Suka melompat-lompat di kasur, guling-gulingan, bongkar seprei dan selimut atau main kuda-kudaan dari bantal yang disusunnya. Takutnya beliau malah tidak bisa tidur nyenyak dan terganggu dengan Ochy. Tapi ternyata si tante malah memilih sekamar dengan kami dan meninggalkan dua temannya yang lain di kamar sebelumnya.

Kamar kami di Mekah

Ba’da isya semua jamaah telah berkumpul di lobby. Dengan bimbingan ustadz mutawwif, berbondong-bondonglah kami menuju masjidil haram untuk melakukan tawaf, sai hingga yang terakhir yaitu tahallul atau bercukur. Sebelum berangkat, kami dibentuk dalam formasi yang kokoh dimana jamaah laki-laki membentuk pagar manusia di barisan depan, samping dan belakang sementara semua jamaah perempuan ditempatkan di tengah-tengah untuk mencegah jamaah lain yang hendak menerobos saat tawaf nanti sehingga kami tidak terpisah-pisah. Ochy juga ikut memakai pakaian ihram untuk tawaf bersama, digendong oleh suami dengan ergobaby dan menempati barisan samping kanan. Dengan kalimat-kalimat talbiyah berkumandang, kamipun melangkah mantap.

Papa dan Ochy dengan pakaian ihram, sesaat sebelum turun ke lobby hotel

Gelombang manusia dari pelbagai penjuru dunia berputar searah mengelilingi kakbah sebanyak tujuh kali saat tawaf. Hari ini adalah hari jum’at, dimana jamaah biasanya mencapai puncak kepadatan. Beberapa kali rombongan kami harus berhenti sejenak karena padatnya jamaah malam itu. Meskipun di kiri kanan dan depan belakang saya terlihat begitu berdesakan tapi entah mengapa saya tetap saja merasa lapang terutama di daerah perut. Saya tidak mengalami himpitan, kaki terinjak ataupun disenggol seperti keluhan jamaah lainnya. Saya seperti bisa bergerak dengan leluasa. Sulit untuk saya jelaskan tetapi ini saya alami hingga putaran terakhir selesai. Ochypun alhamdulillah tenang saja selama tawaf. Tidak menangis dan tidak rewel sama sekali. Ia bahkan dengan semangat berteriak “maju… majuuu” ketika jamaah harus berhenti sejenak karena lautan manusia yang padat merayap. Sayangnya kami tidak memiliki dokumentasi apa-apa karena memang memfokuskan untuk menjalankan ibadah umroh. Tak ingin menginterupsi kekhusyu’an ibadah dengan jeprat jepret kamera. 

Kepadatan jamaah saat tawaf di kakbah. Sumber gambar : instagram.

Setelah tawaf selesai, kamipun sholat sunnat, berdo’a dan segera menuju bukit shafa untuk melakukan sai. Sai ini juga tujuh putaran dari bukit shafa ke bukit marwah namun suasananya tidak sepadat jamaah saat tawaf di kakbah. Semuanyapun berjalan lancar alhamdulillah. Hanya di putaran terakhir, langkah saya mulai melemah, pinggang terasa sakit karena menahan beban di perut dan paha bergetar hebat. Namun saya tidak pernah kehilangan semangat untuk menyelesaikannya. Kisah Siti Hajarlah yang terus menguatkan saya. Bagaimana dulunya ia bolak balik dengan kondisi medan yang jauh lebih berat. Panas, berbatu, dalam keadaan haus pula dan hanya berdua dengan sang bayi di gendongan tangannya. Sementara saya sudah difasilitasi sedemikian baik. Lantai berubin, mengilap dan nyaman. Pendingin udara memenuhi atap dan dinding. Air zam-zam tersedia di kanan kiri. Melakukannyapun tidak seorang diri tapi bersama jutaan orang, terlebih ada suami saya disampingku. Maka saya tidak punya alasan untuk berhenti! Meski langkah kaki semakin pelan dan tertinggal jauh dengan jamaah lainnya, ini tetap harus diselesaikan. 

Sai dimulai di sini. Foto diambil sehari setelah umrah karena saat umrah saya tidak membawa kamera apapun.

Ochy dan suamipun mulai merasakan ujiannya. Diputaran terakhir ini, Ochy menangis. Mungkin kesakitan karena pakaian ihramnya bersinggungan dengan baby carrier membuat pahanya terasa tidak nyaman. Kamipun melepas bagian atas gendongan dan menyisakan hipseatnya saja untuk diduduki Ochy yang berarti tangan suami harus menjadi pengganti bagian atas gendongan yang dilepas itu. Berjalan dan sesekali berlari kecil di tempat-tempat tertentu (biasanya ditandai dengan lampu hijau) sambil memeluk Ochy.

Ka : Sai diputaran terakhir, Ochy digendong sambil dipeluk. Hingga akhirnya ia tertidur. Ki : selepas tahallul yang menandakan rukun umrah telah sempurna dijalankan. Foto didokumentasikan oleh jamaah lain karena kami tidak membawa hp sama sekali. Lalu ia mengirimkannya ke kami via wa. Alhamdulillah mbak yang fotoin selain cantik, juga baik hati 😚😚
Lampu hijau di belakang itu berarti kita harus berjalan cepat atau lari-lari kecil sepanjang area tersebut

Saat tiba di bukit marwah putaran terakhir, banyak jamaah telah melakukan tahallul atau bercukur dan kami berdua tidak dapat menahan tangis. Mata basah begitu saja tanpa bisa dibendung. Setelah suami memotong beberapa helai rambutku, spontan kami berpelukan dengan Ochy yang sudah tertidur di gendongan suami, masih dengan tangis yang pecah. Sungguh, ini semua tidak akan berhasil kami lalui jika tanpa kemurahan hati Allah kepada kami.

Umroh Saat Hamil 7 Bulan dan Membawa Anak 2 Tahun (Part 1)

Ketika saya memasukkan keyword umroh saat hamil di pencarian google atau kata kunci umroh with baby, jujur tidak banyak artikel yang membantu. Mungkin karena tidak sesuai dengan kondisi saya sebab informasinya rata-rata umroh saat hamil di bawah 7 bulan, mentoknya 6 bulan. Adapun tentang usia kandungan yang sudah masuk ke semester tiga, artikel-artikel yang ada tidak menganjurkan untuk melakukan ibadah umroh mengingat dibutuhkan kekuatan fisik untuk melakukan rukun-rukun umroh terutama saat tawaf dan sai yang harus berkeliling selama tujuh putaran pun susah dapat izin terbang perjalanan jarak jauh. Galaulah hati ini. Bagaimana jika saya batal berangkat (lagi)?

Saya tidak lantas berhenti berusaha. Pencarian informasi terus saya lakukan termasuk tanya-tanya ke teman, kerabat maupun sesama blogger di medsos. Do’apun tak putus-putus dipanjatkan. Hasrat ke Baitullah sudah sedemikian besar membuat saya mencoba segala kemungkinan yang ada.

Hal pertama yang perlu saya lakukan adalah mengecek kondisi kesehatan saya dan calon baby terlebih dahulu sekaligus meminta surat layak terbang dari dokter kandungan yang menangani saya selama kehamilan kedua ini di RS. Siloam Makassar. Setelah di periksa oleh dokter, kondisi saya dinyatakan baik dan sehat tapi ada sedikit masalah dengan calon baby karena posisinya sedang sungsang. Menurutnya, melakukan penerbangan jauh apalagi untuk ibadah umroh cukup berisiko. Namun diakhir kalimatnya beliau meneguhkan pendirianku untuk tetap berangkat karena ini adalah ibadah. Setiap tujuan kebaikan insyaAllah akan diberi kekuatan oleh Tuhan, begitu nasihat beliau sambil membekali saya beberapa vitamin dan penambah darah.

Bagi ibu hamil, memang tidak sebebas yang lainnya untuk melakukan perjalanan udara. Berdasarkan peraturan internasional, penerbangan bagi ibu hamil setidaknya dengan usia kandungan 12 week – 32 week atau dari 3 bulan – 8 bulan. Saat itu usia kehamilanku masih 30 week sehingga memenuhi syarat penerbangan. Surat izin terbang pun diterbitkan. Alhamdulillah one step closer!

Hal lain yang paling diwanti-wanti sebagai syarat melakukan perjalanan umroh adalah kartu kuning yang dikeluarkan oleh Depkes sebagai bukti telah menjalani vaksin meningitis. Kartu ini bisa didapatkan di kantor kesehatan bandara maupun pelabuhan. Satu ampul vaksin ditebus dengan harga Rp 350.000/orang. Bagi ibu hamil TIDAK BOLEH melakukan suntik meningitis karena membahayakan kesehatan ibu dan janin. Syukurnya saya telah jauh-jauh hari mendapatkan vaksin meningitis yaitu sebelum saya hamil, sehingga kartu kuning sebagai syarat perjalanan umroh telah saya kantongi. Oh iya, vaksin ini masa berlakunya hingga 2 tahun. Jadi kalau sudah ada niat untuk umroh, sebaiknya segera vaksin khususnya bagi muslimah sebelum keburu hamil nanti. Hehehe.

Surat izin terbang dan kartu kuning sudah digenggam, selanjutnya persiapan untuk berangkat. Karena saya membawa anak 2 tahun yang super aktif, maka kondisi kesehatan anak juga diperiksa terlebih dahulu. Alhamdulillah Ochy dinyatakan sehat dan juga layak terbang.

Tentang umroh membawa anak ini sebenarnya keluarga besar menyarankan agar Ochy dititip saja karena kondisi saya yang sedang hamil besar yang tentu sangat mudah kelelahan. Apalagi Ochy termasuk tipikal anak super aktif yang menguras banyak energi untuk menjaganya. Tapi keputusan saya dan suami sudah bulat untuk tetap membawa Ochy kemanapun kami pergi. Saya tidak ingin disiksa rasa rindu yang ujung-ujungnya membuat ibadahku tidak berjalan lancar karena kepikiran terus dengan anak di rumah.

Bismillah… kamipun mantap melangkah. Kami percaya, perjalanan bersama anak insyaAllah selalu membawa berkah.

Labbaik allahumma labbaik. Labbaika laa syarika laka labbaik. Innalhamda. Wanni’mata. Laka walmulk laa syarika laak. 

Ya Allah… kami datang memenuhi panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Kami memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kekuasaan adalah milikMu. Tiada sekutu bagiMu.

Tulisan ini saya buat sebagai referensi bahwa ibu hamil dengan usia kandungan 7 bulan boleh melakukan perjalanan umroh selama memenuhi syarat-syarat yang telah ditetepkan. Semoga bermanfaat ya!

The Transit City of Pare-Pare

Alun-alun kota Pare-Pare

Pare-Pare adalah sebuah kota di Sulawesi Selatan, berjarak kurang lebih 155 km dari Makassar. Dikenal sebagai kota pelabuhan, kota transit, kota cakar alias pakaian bekas cap karung. Belakangan semakin populer karena banyaknya unggahan foto dan video di sosial media terutama instagram tentang kolam renang fenomenal yang menjanjikan keindahan pemandangan laut dan bukit bagi pengunjungnya. Kolam renang ini bisa dijumpai di Hotel Bukit Kenari Jalan Sudirman, hotel yang ternyata milik tante sahabat karibku, Miftah.

Salah satu sudut pelabuhan Pare-Pare. Yang beratap merah itu adalah gazebo untuk beristirahat sambil menikmati pantai dan jajanan kaki lima

Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang kota kelahiran BJ Habibie ini. Meskipun sudah berkali-kali ke sini namun hanya sekedar mampir saja. Tidak pernah sampai menginap. Beberapa moment terbaik yang bisa saya ingat selama di kota ini adalah peristiwa tersesat. Lho… tersesat kok jadi salah satu moment terbaik sih? Hahaha. Sabar… sabar. Pasti akan saya ceritakan alasannya. Jadi kisahnya begini, saya dan seorang teman cewek sedang mumet-mumetnya dengan urusan kerjaan di kantor (saat itu saya belum menikah dan masih jadi karyawan di salah satu kantor BUMN). Saat mumet seperti itu muncullah ide gila kami bepergian jauh ke ujung Sulawesi Selatan, Kota Sorowako dengan menyetir sendiri. Karena takut ditanya macam-macam sama ortu saat minta izin pakai mobil, kamipun berinisiatif untuk rental mobil saja. Dan jadilah petang itu kami meninggalkan Makassar setelah deal dengan pemilik mobil di rental langganan. Saya berhasil menjebak adik saya untuk terlibat dalam misi perjalanan buta ini dengan alasan biar lebih aman kalau ada cowok. Siipp… bertiga, kamipun mulai melaju membelah jalan tol Reformasi hingga tiba di Pare-pare melalui poros Maros, Pangkep dan Barru. 

Kami tiba di Pare-pare hampir tengah malam. Jalan-jalan utama di kota beraspal mulus dengan kontur berbukit. Terlihat serupa. Sepi dan lengang. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang. Beberapa rumah di sekitarnya hanya menyisakan lampu teras saja yang menyala. Kami sempat bingung mengambil rute yang mana. Hingga akhirnya dicobalah setiap persimpangan itu dan ternyata malah kembali ke tempat semula. Tak terasa sudah empat kali kami melalui jalan ini. Frustasipun mulai menggoda. Apalagi tak ada siapa-siapa yang bisa ditanyai. Mengandalkan Google Map juga tak mungkin jika semua gadget habis batrei. Menunggu bus malam yang lewat menuju Toraja atau Sorowako itu sendiri adalah pilihan terakhir. Tapi kok rasa-rasanya tidak ada satupun yang melintas. Apa kami sudah sejauh ini tersesat ke pedalaman Pare-Pare? Temanku yang sejak tadi menyetir dari Makassar mulai kelelahan. Sayapun berinisiatif menggantikannya meskipun sedikit ragu karena kemampuan menyetirku masih payah. Jarak terjauh yang pernah kutempuh hanya seluas lapangan bola di dekat rumah. Itupun jalan datar saja. Adikku apalagi! Tidak bisa diandalkan. Membedakan gas dan rem saja dia tidak tau. Hahahaha.

Dengan keberanian yang dikuat-kuatkan, sayapun mengambil alih kemudi. Mulai menggerakkan roda empat itu dengan hati-hati mencari arah menuju jalan protokol. Setidaknya jika tiba di Jalan Sudirman, mungkin ada satu dua kendaraan yang melintas. Dan alhamdulillah dalam pencarian itu, kami menjumpai sebuah mobil pick up yang melaju kencang. Saya mengikutinya meski tak mampu mengimbangi kecepatannya. Jelas kami tertinggal jauh di belakang dan jalananpun kembali lengang. Syukurnya arah jalannya lurus-lurus saja, tak ada persimpangan. Setelah sekian jam menyetir, saya melihat spbu di pinggir jalan yang sudah beroperasi dini hari begini. Niatnya sih mau isi bensin sekalian numpang parkir tidur. Di sela-sela pengisian bensin itu, bertanyalah saya kepada petugas arah menuju Sorowako. And you know what??? Kami salah jalan! Rute ini menuju Mamasa yang artinya bertolak belakang dengan tujuan kami sehingga harus menyetir kembali ke Pare-pare dan mengambil arah sebaliknya. Gembleeeeengg! *pukul-pukul kepala ke tembok*

Moment tersesat ini sangat berarti bagiku karena akhirnya mampu mendobrak diri keluar dari ketakutan. Menemukan kekuatan lain yang kita miliki yang mungkin lebih dari yang pernah kita bayangkan. Jika tidak ada  kejadian tersesat ini, mungkin selamanya saya tidak akan pernah mampu menyetir mobil dengan baik.

Kejadian lain yang masih melekat di ingatanku tentang Pare-Pare adalah Pasar Senggol, pusat penjualan pakaian bekas. Pasar ini ada di tengah kota dan selalu ramai pengunjung dari berbagai kalangan terutama di malam hari. Saat itu saya masih fresh graduate dan bekerja di sebuah yayasan kesehatan untuk penugasan di wilayah Toraja. Pekerjaan selama tiga bulan di sana selesai dan sayapun harus kembali lagi ke Makassar untuk pelaporan sekaligus evaluasi program. Sebelumnya saya mampir dulu ke Pare-Pare. Bersama seorang teman tugas, kamipun mengunjungi Pasar Senggol karena penasaran seperti apa keramaiannya. Tiba di sana, kami kalap belanja karena harganya murah-murah dan modelnya stylish. Saya sampai memboyong tujuh winter coat ala korea, meskipun tidak tau akan dipakai kemana karena jelas di Indonesia tidak cocok. Saya hanya jatuh cinta dengan modelnya yang unyu-unyu. Teman saya malah nggak tanggung-tanggung. Belanjaannya dua kantong plastik hitam besar!

Hal lain yang langsung mencuat di ingatan begitu mendengar kata Pare-Pare adalah kota singgah. Kami sering mampir di sini setiap pulang kampung ke rumah mertua di Enrekang. Biasanya kami akan ke pelabuhan, duduk santai di gazebo menikmati jajanan kaki lima, sholat di masjid raya, main di alun-alun kota, istirahat di taman, berpose di monumen cinta sejati Ainun-Habibie, hingga menyusuri jejak kenangan suami semasa tinggal di Pare-Pare dengan penuh kedisiplinan bersama paman yang seorang tentara.

Monumen cinta sejati Ainun-Habibie. Semoga cinta kitapun sejati seperti mereka. Amiin
Siang bolong seperti ini saja cakep. Saat matahari terbit ataupun terbenam, saya yakin pemandangannya berkali-kali lipat indahnya.
“Papa… take me travel far”, Ochy said.