24 Jam di Bratislava, Slovakia

Danau Bled Bratislava (source : google)

Bratislava adalah ibukota Slovakia, negara yang dulunya bersatu dengan Ceko menjadi Cekoslovakia. Namun karena sudah tidak satu visi lagi, pada tahun 1993 mereka memutuskan berpisah menjadi Republik Ceko dan Slovakia. 

Tujuan utama kami sebenarnya ke Vienna, Austria. Tapi kereta kami dari Prague, Republik Ceko melewati Bratislava maka kamipun memutuskan untuk singgah. Hitung-hitung bisa menambah checklist negara yang dikunjungi dan lagi biaya penginapan di sini cenderung lebih murah daripada di Vienna. Lumayanlah bisa lebih hemat semalam. Selain itu saya sangat terpesona dengan Danau Bled dan Devin Castle yang saya lihat di internet saat browsing singkat tentang Bratislava.

Devin Castle (source : google)

Perjalanan ke Bratislava ditempuh selama 4 jam dari Prague dengan kereta. Kereta ini sebenarnya kereta terusan ke Budapest, Hongaria. Jadi yang punya banyak wakyu bisa tuh sekalian ke Budapest dulu. Sedangkan waktu tempuh dari Bratislava ke Vienna hanya 1 jam saja.

Kami tiba di stasiun utama Bratislava pukul 11 pagi dan disambut hujan deras. Kesan pertama saya tentang Bratislava jorok dan oldiest. Stasiunnya berbau pesing dan orang-orangnya kebanyakan lansia. Karena hujannya awet, pukul 1 siang kamipun ke penginapan dengan naik taxy. Awalnya ingin naik transportasi umum : bus atau tram. Tapi haltenya ada di luar stasiun. Dekat saja sih sebenarnya cuma karena hujan dan udara dingiiiinnn banget, kasian juga sama anak-anak. Mana bawa barang banyak pula. Rasanya tidak pas dengan tram atau bus yang berhentinya cuma 1-2 menit menurun naikkan penumpang. Takut kejadian seperti di Belgia yang waktu itu hampir membuat saya dan Kak Idu terpisah di kereta. Hahaha. Pilihan lainnya adalah naik uber. Saat memesan harganya cuma 4 €. Tapi diakhir pemesanan ada keterangan minimum payment sebesar 10 € untuk jarak dekat seperti tujuan kami. Penjemputannya juga di luar stasiun. Gak mungkinlah basah-basahan membawa anak-anak ke sana. Akhirnya pemesanannyapun kami batalkan dan memilih taxy konvensional yang mangkal tepat di depan kami. Taxynya ini gak pakai argo tapi deal-dealan dengan tawar menawar. Saat itu sepakat dengan harga 9 €. Mobilnya bagus, seperti Xpander sport. Lengkap dengan car seat pula untuk balita. Drivernya sudah tua. Mungkin usia 60-an dan tidak bisa berbahasa Inggris. Lalu bagaimana akhirnya kami sepakat di harga 9 € tadi? Gampang! kami tawar menawarnya memakai kertas dan pulpen. Pak sopirnya menuliskan angka 15 € kami coret dan menuliskan angka 5 €. Hahahaha. Kalau emak-emak yang menawar harga ya gini deh, sadis. Sambil geleng-geleng dan ngoceh, pak sopirnya lalu menulis angka 10 €. Kami coret lagi dan menulis angka 7 €. Dia geleng lagi dan mengoceh dengan tidak jelas lalu menulis angka 9 €. Siipp! kami setuju dan kamipun diangkut.

Sepanjang perjalanan menuju hostel, sopir taxynya menjelaskan banyak hal tempat-tempat yang kami lalui. Jadi dia merangkap sebagai tour guide gitu deh. Hanya saja kami tidak mengerti karena dia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Dia sangat tertarik dengan Ochy. Sejurus kemudian dia mengeluarkan Hpnya dan menunjukkan foto gadis kecil yang sangat cantik kira-kira seusia Ochy. Dia bilang itu anaknya atau entahlah. Kami hanya menduga-duga. Hahaha. Overall pak sopirnya baik banget, ramah. Hanya saja ketika kami diturunkan, pandangan saya tentangnya langsung berubah gara-gara dia meminta bayaran 13 € padahal di awal tadi kami sepakat di harga 9 €. Dia menjelaskan bahwa setiap barang yang kami bawa dikenakan cas masing-masing 2 € untuk koper dan ransel kami. Sebagai bonus, stroller dia tidak kenakan biaya. Tapi saya tidak percaya dan menuduh itu hanya akal-akalannya saja untuk menipu turis seperti kami. Tapi karena hujan tak juga reda dan ingin segera menyantap yang hangat-hangat di kamar sambil leyeh-leyeh, yasudahlah kamipun bayar 13 € dengan wajah cemberut. Lalu buru-buru masuk hotel dan meninggalkan pak tua itu tanpa kata. Mengucapkan terimakasihpun saya ogah.

Tiba di hostel masih kurang jam 2 siang. Meski demikian, resepsionisnya sudah membolehkan kami check in. Padahal rata-rata waktu check in penginapan di Eropa itu mulai jam 2. Sambil menunggu kamar kami disiapkan, saya ngobrol santai dengan mbak resepsionis termasuk menanyakan tentang biaya barang bawaan ketika naik taxy di sini. Dan dari pengakuannya, saya sangat merasa bersalah dengan pak tua sopir taxy tadi karena ternyata memang seperti itu peraturannya. Oh Tuhan… pengen rasanya ketemu lagi dengan bapak tadi dan meminta maaf berkali-kali. Saat saya beritahu Kak Idu di kamar, dia sama merasa bersalahnya. Bahkan menekuri mengapa kami mendadak jadi orang yang perhitungan sekali. Padahal uang segitu paling habis buat ngopi saja kalau di Indonesia. Sementara bagi orang lain itu bisa saja untuk menyambung hidup keluarganya. 

***

Langit Bratislava kelam sepanjang hari itu. Basah dengan hujan yang tak kunjung reda. Walhasil kami yang tadinya ingin ke old town hanya bisa meringkuk di bawah selimut. Makan-tidur-makan lagi-tidur lagi. Keindahan Devin Castle, Danau Bled dan Sungai Danube yang membelah Slovakia, Austria dan Jerman ternyata belum bisa saya lihat secara langsung.

Devin Castle dan Sungai Danube (source : google)

Keesokan harinya, pukul 9 pagi kami check out dan menitip bagasi di hostel agar kami bisa keliling kota tanpa geret-geret koper. Cuaca hari ini juga kurang bersahabat. Baru juga tiba di old town, langit sudah gelap lagi. Akhirnya kami gak bisa mengunjungi banyak tempat. Hanya mampir beli jaket di FO, makan di restoran Turkey dan mutar-mutar gak jelas di taman kota. Meski demikian, saya sudah cukup senang. Biarlah gak kesampaian ke Devin Castle dan Sungai Danube, bisa membawa pulang jaket Zara seharga 10 € juga sudah bikin hepi.

Taman kota Bratislava
Yang penting si kicik-kicik hepi bisa lelarian sepuasnya.
First time makan shawarma. Sizenya besar banget ternyata.

Pukul 12 siang kamipun sudah berada di stasiun Bratislava setelah mengambil koper kami di hostel tentunya. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Vienna, Austria. Tiketnya sudah kami beli kemarin di stasiun.

Advertisements

Discover Amsterdam

Siang itu pesawat Qatar Airways yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Schipol. Perjalanan yang sangat panjang sejak kami meninggalkan kota Makassar kemarin pagi. Saya sesungguhnya masih sangat lelah. Apalagi selama perjalanan itu harus membagi diri mengeloni dua krucils, si toddler yang super manja yang kalau mau tidur harus pegang siku emaknya dan si baby yang maunya nempel terus di PD. Tapi mengingat posisi saya sekarang sudah berada di belahan bumi Eropa, luapan kebahagiaan seketika menenggelamkan semua kelelahan itu. Haru dan tangis bahagia tak bisa dibendung. Bagaimana tidak, ini adalah salah satu perjalanan impian kami.

Meski kami duduk tepat di belakang kursi bussiness class atau kursi pertama kelas ekonomi, tapi kami memilih meninggalkan pesawat belakangan. Salah satu kebiasaan keluarga kecilku dalam urusan penerbangan.

Terbang bersama Qatar Airways adalah pengalaman perdana kami dengan maskapai terbaik pertama di dunia versi Skytrax 2017. Pelayanannya asli bintang lima. Apalagi untuk penumpang yang membawa bayi dan balita seperti kami, diprioritaskan. Ada bassinet pula untuk si baby sehingga tidak harus memangkunya sepanjang perjalanan. Makanannya enak-enak, children mealsnya juga lezat ditambah snack box yang keren. Ochy suka sekali apalagi pas dengan warna favoritnya, merah. Activity booknya juga keren dengan pensil dan layar ajaib yang bikin Ochy betah duduk lama-lama di kursi. Dan yang terpenting nih, ruang di kaki legaaaaa banget. Saya bahkan bisa tidur di kursi sambil selonjoran. Review lengkap tentang pengalaman kami terbang bersama Qatar Airways mungkin akan lebih baik jika dibuatkan tulisannya sendiri. (Semoga saja saya ingat dan punya waktu untuk mereviewnya. Hehehe)

Bassinet

Snack box for children

***

Siang itu, langit Amsterdam cerah. Dengan modal tanya petugas, kami membeli tiket kereta di mesin. Mesin tiket ini sangat mudah ditandai, berwarna kuning dan jumlahnya tersebar di banyak titik. Penggunaannya juga sangat mudah karena selain berbahasa Belanda, juga tersedia pilihan bahasa lain. Sayangnya belum ada pilihan Bahasa Indonesia karena itu kami memilih Bahasa Inggris saja. Sebenarnya bisa juga sih membeli di loket. Tapi antrian saat itu sangat padat sehingga kami lebih memilih membeli lewat mesin, tiket menuju stasiun Sloterdijk (stasiun sebelum Amaterdam Centraal station) karena kami menginap di Hotel Meininger yang tak jauh dari stasiun Sloterdjik tersebut.

Amsterdam Centraal

Amsterdam Centraal adalah petunjuk utama bagi setiap pendatang di Amsterdam, tidak terkecuali kami sebagai turis yang melakukan perjalanan tanpa travel agent. Kemana-mana patokannya pasti ke sini. Centraal Station adalah pusat Amsterdam yang menjadi hub berbagai jalur transportasi seperti tram, kereta api, bus dan subways. Tidak hanya melayani jalur domestik dan wilayah luar Amsterdam tetapi juga untuk tujuan ke luar negeri. Lokasinya hanya satu stasiun dari hotel kami di Sloterdjik.

Ada banyak hal yang bisa kita nikmati gratis di Amsterdam Centraal ini. Salah satunya adalah naik ferry menyusuri kanal-kanal legendaris Belanda. Selain itu, semua atraksi penting dan utama di Amsterdam dapat dicapai dengan mudah dari sini baik dengan naik tram ataupun berjalan kaki. Sebut saja Rijksmuseum, Dam Square, Bloemenmarkt dan Red District.

Kami sendiri di hari pertama Amsterdam, tidak mempunyai rencana kemana-mana. Hanya ingin beristirahat di hotel untuk menyesuaikan diri dengan zona waktu yang berbeda 6 jam dengan kota kami, Makassar. Kalaupun ada tempat yang ingin dikunjungi mungkin hanya di sekitar hotel saja, mencari supermarket dan merasakan atmosfer kota. Setelah makan, sholat dan bersih-bersih (secara sejak dari Kuala Lumpur kami belum mandi), kami tertidur begitu pulas dan bangun pukul 3 subuh karena lapar lagi. Hahaha.

Giethoorn

Hari kedua di Amsterdam kami habiskan di Giethoorn, sebuah desa terapung yang bebas polusi. Disebut juga sebagai Venicenya Holland karena rumah-rumah di sana dipisahkan oleh kanal dan transportasi yang beroperasi hanyalah perahu dan sepeda. Tidak ada kendaraan bermotor seperti mobil.

Jarak dari Amsterdam ke Giethoorn ini terbilang jauh yaitu sekitar 3 jam sekali jalan. Mungkin tidak banyak turis yang ingin ke sana karena dengan jarak tempuh yang sama, mereka sudah bisa sampai di Paris, destinasi favorit dunia. Tapi dasar saya dan suami yang lebih suka dengan alam pedesaan, kamipun bela-belain ke sana dan menutup mata atas pesona menara Eiffel sebagai landmark top dunia , museum Louvre yang kaya sejarah, Arch De Triomphe yang merupakan gerbang kemenangan Napoleon, dan wisata-wisata terkenal lainnya di Paris yang gemerlap.

Saat di kereta selama perjalanan ke Giethoorn, kami sama sekali tidak mendapat pemeriksaan tiket. Padahal tiket ke sana lumayan mahal, sekitar 500 ribuan per orang. Rupanya sistem pemeriksaan tiket di negara maju seperti ini menggunakan sistem random. Tujuannya sangat mulia, untuk melatih kejujuran warganya. Sehingga diperiksa ataupun tidak, mereka sadar diri untuk selalu membeli tiket kereta. Sebab denda yang dikenakan ketika tertangkap tangan tidak mempunyai tiket ini bikin merinding, bisa 100 kali lipat dari harga tiketnya! Untuk turis kere seperti kami tentu saja bikin merinding karena bisa saja kami turun tahta dari backpacker ke begpeker. Hahaha.

Satu hal yang menarik dalam perjalanan ke Giethoorn ini karena kami berkenalan dengan couple asal India yang sudah lama menetap di Singapore. Belakangan, mereka ini ternyata banyak sekali membantu kami. Apalagi saat pulang dari Giethoorn ketika kereta harus dialihkan karena mengalami kerusakan. Kami juga berkenalan dengan solo traveler wanita asal Korea yang dimulai percakapan singkat tentang Ochy yang dia sangka sebagai orang Korea juga. Hahaha. Sisi positif dari jalan sendiri tanpa travel agent yang paling saya rasakan adalah bagian ini, mendapat teman baru.

Zaanse Schans

Hari ketiga di Amsterdam kami mengunjungi Zaanse Schans, sebuah desa yang memberi gambaran akurat tentang kehidupan masa lampau Holland di abad ke 17 dan 18. Di sini kita bisa melihat rumah otentik, pabrik keju dan susu serta kincir angin yang masih aktif digunakan hingga saat ini. Selain itu juga ada museum yang patut dikunjugi seperti museumwinkel (toko kelontong dari masa lalu sebelum supermarket besar bermunculan), bakkerijmuseum (museum toko roti dengan koleksi kerajinan kuno dari pembakaran roti) , museum Zaanse Tijd dengan koleksi jam uniknya serta Zaan museum yang memiliki koleksi khusus peralatan, pakaian dan lukisan dari daerah tersebut. Satu lagi yang tidak ketinggalan adalah boat tour sebagaimana di daerah Belanda lainnya. Namanya juga negeri kanal jadi ya dimana-mana memang ada wisata menyusuri kanalnya. Hehehe.

Dari Zaanse Schans sebenarnya kami ingin sekali ke Volendam, desa nelayan yang terkenal di Amsterdam. Namun apa daya, kami sudah cukup kelelahan sehingga dengan terpaksa harus mencoret Volendam dari itinerary kami. Semoga masih diberi kesempatan ke Belanda suatu hari nanti untuk menuntaskannya. Amiin.

Perjalanan ke Giethoorn : Berawal dari Khalayan

Giethoorn, 17 Oktober 2017

Perjalanan ke Giethoorn ini bisa dibilang magical trip. Lho kok? Hehehe… jadi ceritanya begini. Bulan Maret yang lalu ketika dalam perjalanan pulang ke Makassar dari Jeddah, saya membaca majalah yang disediakan di pesawat. Ini adalah kebiasaan saya dan suami untuk membunuh waktu. Di salah satu artikel majalah tersebut membahas Desa Giethoorn di Belanda yang katanya bak di negeri dongeng. Tulisan tentang keindahan Giethoorn ternyata  tak terbantahkan saat suami memperlihatkan gambar-gambarnya di halaman berikutnya.
“Sayang lihat deh, pasti mama suka ini.” Kata Kak Idu sambil menunjukkan saya gambar rumah beratap jerami dengan kanal di sekelilingnya. Pohon dan bunga merekah beragam warna dengan langit biru cerah yang terang. Ah indah sekali. Sepertinya foto-foto itu diambil saat musim semi.

Pikiran saya melayang jauh. Membawaku ke dalam majalah itu dan saya seolah hidup di sana, menikmati keindahan dan ketenangan Giethoorn. Suara Ochy yang minta susu segera menyadarkan saya kembali. Wajah bengong saya tertangkap basah Kak Idu dan ia menertawai saya habis-habisan. Sambil terkekeh, Kak Idu menggoda saya “Hmm.. Jangan-jangan mama berkhayal lagi ini main di Giethoorn.” Dia sudah hafal betul kebiasaanku yang satu ini soalnya. Saya yang tidak punya pembelaan cuma bisa mencubit bahunya sambil tertawa malu-malu.

Giethoorn

Namun siapa sangka, tujuh bulan kemudian kami benar-benar berada di Giethoorn. Menikmati setiap jengkal kanalnya. Memandangi rumah-rumah warga yang unik, rumah tradisional Belanda dengan atap jerami di atas pulau gambut. Meresapi aroma sejuk udaranya, di bawah pohon-pohon maple yang berguguran. Apa yang bisa saya katakan? Jangan pernah remehkan khayalanmu! 

Sejarah Giethoorn

Konon desa ini pertama kali dihuni pada tahun 1230 oleh sekelompok pelarian dari wilayah Mediterania. Pada saat mereka tiba di sana, desa ini dipenuhi tanduk kambing yang berserakan dalam jumlah sangat banyak sebagai sisa banjir besar St Elisabeth yang melanda daerah tersebut pada tahun 1170. Lalu mereka pun menamai desa ini dengan Geytenhorn yang berarti tanduk kambing (Geyten = kambing dan Hoorn = tanduk) . Tapi dengan perubahan dialeg selama bertahun-tahun, desa inipun lebih dikenal dengan sebutan Giethoorn.

Giethoorn

Bagaimana cara menuju Giethoorn?

Giethoorn berada di kotamadya Steenwijkerlaan provinsi Overijssel, berjarak sekitar 2.5 jam dari kota Amsterdam menggunakan transportasi umum : kereta dan bus. Begitu tiba di stasiun steenwijk kita melanjutkan perjalanan dengan bus no.70 agar bisa sampai ke desa Giethoorn. Jangan sampai ketinggalan bus ya karena bus berikutnya akan tiba 1 jam lagi. 

Giethoorn bisa dijadikan sebagai one day trip jika memang tidak ada niat menginap di sana. Kalaupun ingin merasakan suasana Giethoorn seutuhnya, mungkin ada baiknya jika meluangkan satu dua malam di sini. Meskipun tidak ada hotel, karena memang dilarang untuk menjaga citra desanya, namun ada banyak guest house yang menawarkan konsep bed and breakfast. Pasti menyenangkan sekali ya menginap di desa tenang seperti Giethoorn ini. 

Apa yang bisa dinikmati di Giethoorn?

Giethoorn adalah desa kecil yang tenang dan bebas polusi karena tidak ada kendaraan bermotor yang lalu lalang. Meski luas wilayahnya tidak seberapa, tapi ada banyak hal yang bisa kita lakukan di Giethoorn. Diantaranya :

1. Boat Tour yaitu menjelajahi Giethoorn dengan kanal-kanalnya yang khas. Boat tour ini bisa kita pilih memakai perahu besar seharga 7.5 € per orang dewasa dan stroller dikenakan cas 1 €. Ini sudah termasuk tour guide yang menjelaskan sejarah Giethoorn dan hal-hal menarik apa saja yang ada di Giethoorn. Tour guide ini adalah si driver sendiri. Di atas perahu ini juga tersedia meja dan kursi. Dinding kapal merupakan kombinasi kayu dan kaca yang bisa di buka layaknya jendela. Karena ini transportasi umum maka kita akan berbaur dengan turis lainnya. Sedangkan jika ingin lebih privat boleh menyewa satu perahu kecil (semacam long boat tanpa atap) yang bisa memuat hingga 7 orang peumpang. Hanya saja pastikan bahwa kamu bisa mengendarainya sendiri karena tidak ada drivernya.

Perahu besar dan perahu kecil
Perahu kecil

Kami sendiri mencoba boat tour di Giethoorn. Tapi sayang sekali, kami harus mengakhirinya pun masih di awal-awal perjalanan karena Yui menangis kencang sekali. Mungkin dia kedinginan karena rombongan turis asal Cina yang satu perahu dengan kami membuka jendela yang sekaligus dinding perahu karena ingin foto selfie dan merekam dengan video sehingga hawa dingin musim gugur yang begitu menusuk menyerbu ke dalam. Ketika kami menyampaikan niat ke driver untuk turun dari perahu, dia berkali-kali meyakinkan : “Apakah kalian serius? Kita bahkan baru saja memulainya. Sayang sekali karena kalian sudah bayar mahal-mahal. Anak kecil yang menangis itu biasa. Santai saja” Tapi kami tetap bersikukuh turun karena tidak enak dengan penumpang lainnya yang bisa saja terganggu dengan tangisan Yui. 

Perahu besar yang kami tumpangi

Driver dan stroller adek di bagian depan

Begitu perahu menepi, si driver tersenyum pasrah lalu kami meminta maaf kepada penumpang lainnya dan segera turun mencari kursi atau apapun yang bisa di duduki untuk menyusui Yui dengan nyaman. Tapi kami tidak menemukan kursi ataupun taman terdekat. Syukurlah ada salah satu restoran tak jauh di depan kami. Di sana kami menghangatkan badan dengan coklat panas dan kentang goreng yang rasanya enak sekali.

2. Bersepeda adalah hal lain yang bisa dicoba untuk menjelajahi jalanan Giethoorn yang kecil. Kelebihannya karena bisa menjangkau hingga ke rumah-rumah warga bahkan bisa parkir di halamannya. Selain itu kita juga bisa berhenti sesuka hati di spot manapun yang kita inginkan. Tapi harga sepeda di sini cukup mahal yaitu 15 € untuk satu jam.

Sepeda yang disewakan
Breastfeeding everywhere

3. Walking Tour. Kalau kamu suka berjalan kaki, maka Giethoorn adalah tempat yang wajib kamu kunjungi karena setiap jengkal tanahnya begitu indah. Kita bisa dengan bebas melalui jembatan-jembatan kayunya yang bersejarah karena usianya telah ratusan tahun, menapaki padang rumputnya yang hijau atau bermain bersama hewan ternak warga di pekarangan rumahnya.

Giethoorn
Giethoorn
Jembatan kayu

Selain kanal dan rumah tradisional, kita juga bisa menikmati wisata museum, mencicipi aneka makanan khas Belanda di cafe dan restoran atau membeli cinderamata di toko souvenir.

Sabtu Pagi di Lokasi Syuting Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

19 Agustus 2017

Pantai Punaga

Rencana main ke pantai ini sebenarnya dadakan. Terlintas di antara obrolan santai saya bersama Aisda, salah seorang sahabat yang malam itu kedatangan temannya jauh-jauh dari Pontianak. Kamipun memilih pantai Punaga yang ada di Kabupaten Takalar sebagai tujuan, kampung halaman Aisda. Agar temannya itu bisa sekalian main-main ke rumahnya dan bertemu dengan bapaknya. Hitung-hitung kenalan sama calon mertua. Siapa tau jodoh kan? Eh..! Hihihihi. *lalu tiba-tiba di tabok Aisda* hahaha.

Saya dijemput di rumah pagi-pagi sekali. Anak-anak bahkan belum ada yang mandi. Karena kami akan ke pantai, ya sudah mandinya sekalian di sana saja. Main air sepuasnya hingga tangan keriput. Sarapanpun seadanya. Biskuit isi coklat sisa perjalanan kemarin yang dimakan ramai-ramai di mobil. Untuk makanan berat, kami membeli nasi kuning di jalan dan akan disantap saat tiba di pantai nanti. Ditemani angin sepoi pagi hari, rasanya pasti nikmat sekali.

Pagi itu jalan masih lengang di Makassar namun sangat padat memasuki perbatasan Gowa oleh pengendara motor. Jalur kami bahkan diembat juga. Beberapa titik jalan mengalami perbaikan dan kendaraan alat berat parkir di bahu jalan membuat arus lalu lintas sedikit tersendat. Begitu tiba di Takalar, perjalanan kembali lancar.

Oh iya, Takalar adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan berjarak sekitar 30 km dari kota Makassar dan dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam melalui jalur trans Sulawesi : poros Makassar – Bulukumba.

Cara menuju pantai Punaga

Pantai Punaga terletak di Desa Punaga, Kecamatan Mangara Bombang yang jaraknya 25 km dari Kota Takalar. Untuk mencapainya sangatlah mudah. Sekitar 5 km sebelum perbatasan Takalar-Jeneponto, berbeloklah ke arah kanan dan ikuti papan petunjuk menuju pantai Punaga yang terdapat di setiap persimpangan jalan. Lokasinya berada di antara pantai Tope Jawa dan PPLH Puntondo sehingga sangat cocok dijadikan sebagai day trip. Namun karena sejak awal tujuan kami memang hanya akan ke pantai Punaga, kamipun mencoret ke dua tempat tersebut. Sebab dijadwalkan si abang dari Pontianak ini harus tiba kembali di Makassar siang selepas dzuhur.

Ochy dan Aisda berjalan menyusuri bibir pantai
Ochy dan Aisda yang bermain kejar ombak

Pantai Punaga ini masih sangat alami. Pasirnya putih dan lautnya bersih. Beberapa tebing menjorok ke dalam menciptakan pemandangan yang epik sekali. Kata orang lokal sih, saat sedang surut pesona tebingnya tidak kalah dengan Tanah Lot milik Bali. Sayangnya, saat kami berkunjung ke sana, air laut sedang pasang, menenggelamkan sebagian tebing-tebing indah tersebut. Meski demikian, keindahan pantai Punaga sama sekali tidak berkurang. 

Keindahan pantai Punaga ini juga menarik hati seorang sutradara untuk dijadikan sebagai salah satu lokasi syuting film tenggelamnya kapal van der wijck, film yang disadur dari novel Buya Hamka yang dibintangi oleh Pevita Pearch dan Herjunot Ali sebagai Hayati dan zainuddin. Film yang sempat booming di akhir tahun 2013 yang bercerita tentang perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta Hayati dan Zainuddin hingga berakhir kematian.

Saat matahari tenggelam, viewnya pasti akan lebih indah

Hal lain yang menjadi daya tarik pantai Punaga adalah tempatnya yang masih alami. Belum tergerus tangan-tangan nakal investor asing. Terbukti dengan tidak adanya sinyal dan belum adanya fasilitas yang memadai sebagai objek wisata. Hanya ada dua buah balai-balai sederhana dan rumah panggung kosong yang sepertinya telah lama ditinggal pemiliknya. Kami menempati salah satu balai-balai itu untuk beristirahat. 

Rumah panggung di pantai Punaga

Akses masuk ke Pantai Punaga sebenarnya ada dua. Terlihat dari sisi kami, pintu masuk yang pertama sepertinya dikelola lebih baik. Ada villa dan jika saya menebak dengan benar juga ada kafenya. Saya kurang yakin apa ada tiket masuk atau tidak dari sana karena kami sendiri masuk melalui jalur gratis yang dikelola oleh keluarga Aisda.

Sejak tiba di pantai Punaga ini, Ochy terus saja bermain pasir dan air. Dia begitu menikmatinya hingga menolak diinterupsi untuk makan nasi kuning yang kami beli di jalan tadi. Bajunya bahkan telah basah karena mengejar ombak hingga terjatuh bersama Aisda dan temannya. Saya yang melihat dari jauh hanya senyum-senyum saja. Ochy ini memang sangat dekat dengan Aisda. Sejak Ochy masih kecil, Aisdalah satu-satunya sahabatku yang meluangkan banyak waktunya menemaniku. Padahal dia sendiri juga sibuk bekerja dari senin-sabtu. Dia sudah seperti saudara sendiri bagiku. Kami berbagi suka dan duka bersama. Meski agak lucu juga sih jika mengingat kami akrabnya justru setelah tamat kuliah. Padahal dulu sama-sama satu fakuktas, satu jurusan pula. Apa mungkin karena dulu beda resonansi kali ya? Saya aktif berorganisasi sedangkan dia termasuk anak bureng yang murni hanya kampus-rumah-kampus.

Hal yang paling mencolok dari pantai Punaga ini adalah tebing yang menjorok ke laut dengan pohon raksasa yang berdiri kokoh di atasnya. Saya tidak tahu ini pohon apa, tapi jelas dari batangnya pohon ini usianya sangat tua. Dari sini, pemandangannya sangat eksotik. Tapi kamera saya terlanjur lobet sehingga tidak banyak foto yang bisa dibekukan dengan lensa kamera.

Tebing di Pantai Punaga

Overall, saya sendiri sangat menikmati tempat ini. Apalagi sepi pengunjung sehingga lebih terasa sensasi pantainya. Baby Yui juga sepertinya betah di sini. Tapi kami harus cepat-cepat pulang supaya bisa tiba di Makassar siang nanti.

Berikut beberapa tips bagi kalian yang akan berkunjung ke sini : 

  1. Bawalah tikar lipat. Sebagai alas duduk yang bisa dipakai di balai-balai ataupun ngempar langsung di pasir.
  2. Bawalah tissue kering dan basah. Belum ada fasilitas toilet yang memadai di tempat ini. Bahkan untuk sekedar cuci tangan.
  3. Pastikan kamera full charge agar tidak kehilangan momen foto.

Well, ini cerita akhir pekan kami. Bagaimana dengan kalian? Happy weekend yaa, happy family 😊😁.

A Day in Bantimurung National Park

18 Agustus 2017

Jum’at ini adalah hari perdana saya mengajak Ochy kembali ke alam setelah hampir tiga bulan tidak pernah bersentuhan agenda rutin ini karena terlalu sibuk sebagai ibu yang baru melahirkan. 

Bantimurung

Saya memilih Bantimurung sebagai destinasi karena jaraknya yang cukup dekat dari Kota Makassar. Lagipula, saya sendiri terakhir kali ke tempat ini sekitar lima tahun yang lalu ketika saya masih gadis. Sehingga cukup penasaran dengan kondisi Bantimurung hari ini yang katanya mengalami banyak metamorfosis. Tentunya akan menjadi pengalaman menarik karena ini adalah perjalanan perdana Baby Yui sekaligus menjadi perjalanan perdana saya bersama baby dan todler bepergian ke alam terbuka seperti ini.

Cara menuju Taman Nasional Bantimurung

Bantimurung terletak di Kabupaten Maros, sekitar 50 km dari Kota Makassar atau 20 km dari Bandara Sultan Hasanuddin dan dapat di tempuh dengan kendaraan umum dan pribadi baik roda dua maupun roda empat. Lama perjalanan diperkirakan 1-2 jam tergantung kecepatan mengemudi dan arus lalu lintas.

Sangatlah mudah mencapai Bantimurung ini. Berikut beberapa pilihan transportasi dan kelebihan serta kekurangan masing-masing.

  • Kendaraan umum : naiklah pete-pete (sebutan angkot lokal di Makassar) tujuan terminal Daya seharga Rp 5.000. Lalu lanjutkan perjalanan dengan angkot tujuan Maros/Pangkep seharga Rp 15.000 dan turun di pasar maros. Di pasar inilah banyak angkot tujuan Bantimurung yang ngetem. Biaya angkot dari sini hanya Rp 5.000 saja. Kelebihan naik angkot adalah biayanya yang relatif murah namun harus siap dengan waktu yang lebih lama karena biasanya pete-pete akan berangkat jika sudah terisi penuh penumpang.
  • Roda dua : rutenya sama. Di depan pasar maros (tempat pete-pete ngetem), berbeloklah ke arah kanan dan ikuti jalan itu hingga tiba di gerbang masuk kawasan Taman Nasional Bantimurung yang ditandai dengan pigura kupu-kupu yang besar serta patung monyet raksasa. Kelebihan roda dua ini kita bisa berhenti di mana saja dan kapan saja untuk mengambil foto karena sepanjang jalan ke Bantimurung sangat indah dengan paduan sawah dan bentangan pegununungan karst. Kekurangannya, panas saat terik dan basah kalau hujan. Kalau hal itu tidak menjadi masalah, maka naik roda dua adalah pilihan yang tepat. Apalagi harga sewa motor di Makassar sangat terjangkau yaitu Rp 75.000/24 jam
  • Mobil pribadi : rutenya sama persis karena memang melalui jalan yang sama. Kelebihannya jika berangkat ramai-ramai tentu akan lebih hemat karena bisa sharing biaya rental mobil. Selain itu bisa singgah jika ingin berfoto-foto dengan pemandnagan sepanjang jalan dan pastinya bebas panas dan hujan. Kekurangannya kalau jalan macet ya maaf, gak bisa nyelap-nyelip selincah roda dua.

Wisata apa yang bisa dinikmati di Kawasan Taman Nasional Bantimurung?

Di kawasan Taman Nasional Bantimurung ini ada banyak wisata yang bisa dinikmati selain wisata utama air terjun yaitu pegunungan karst, gua-gua prasejarah, danau, waterpark, dan yang terbaru penangkaran kupu-kupu dengan Helena Sky Bridge, jembatan gantung sepanjang 50 meter dengan ketinggian 100 mdpl. Meniti jembatan ini penuh sensasi karena kita akan dikelilingi dengan aneka warna kupu-kupu yang cantik.

Batu karst Bantimurung
Helena Sky Bridge Bantimurung. Source : @hajraali05
Air terjun Bantimurung

Pagi itu, sekitar pukul 10 kamipun berangkat. Membelah jalan poros Makassar-Maros yang sepi dari pengendara. Alhamdulillah, awal yang baik. Mengingat jalan ini salah satu jalan terpadat menjelang akhir pekan begini.

Cuaca hari ini sangat bersahabat. Cerah namun tidak terasa terik. Anak-anak juga alhamdulillah sangat bersahabat. Anteng selama perjalanan. Terutama baby Yui yang lebih banyak tidur.

Patung monyet raksasa menyambut di gerbang masuk wisata. Tidak ada yang berubah. Patung ini masih patung yang sama terakhir kali saya ke Bantimurung. Dari sini, jika berbelok ke kiri maka akan tiba di wisata penangkaran kupu-kupu dengan Helena Sky Bridgenya yang keren itu. Namun jika kita memilih lurus setelah patung monyet tersebut maka aka tiba di sebuah loket masuk berbayar seharga Rp 25.000/orang dewasa dan setengah harga untuk anak usia 4 -13 tahun serta gratis bagi bayi dan anak di bawah 4 tahun. Untuk bule sendiri, harga karcisnya berkali lipat yaitu Rp 225.000/orang (Agustus 2017). Biaya ini adalah tiket masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung untuk menikmati air terjun dan berbagai wahana seperti gua mimpi, kolam renang, waterpark, danau dan lain-lain.

Kolam renang Bantimurung
Bantimurung

Bagi yang ingin berpiknik ria pun sangat bisa karena juga tersedia tikar sewaan maupun saung serta tempat pembakaran ikan.

Deretan Saung di Bantimurung

Berada di dalam kawasan ini memang menyenangkan hingga bisa lupa waktu. Loket masuk sendiri tutup pada pukul 5 sore. Tapi tidak usah khawatir jika lupa waktu hingga kemalaman karena di sinipun sudah disediakan berbagai jenis penginapan seperti hotel dan villa dengan room rate mulai dari Rp 300.000

Hotel Bantimurung
Musholla Bantimurung
Air terjun Bantimurung

Sangat lengkap bukan di Bantimurung ini? Jadi kapan kamu mau jalan-jalan ke sini? 😁😁😁

Mengurus Paspor Bayi di Kantor Imigrasi Makassar

Salah satu syarat wajib jika akan bepergian keluar negeri adalah mempunyai paspor. Berhubung di keluarga kami ada penghuni baru yaitu Baby Yui yang sekarang berusia 2 bulan maka kamipun membuatkannya paspor sebagaimana anggota keluarga lainnya yang sudah terlebih dahulu mempunyai dokumen penting tersebut. Lho memangnya mau kemana? Masih bayi kok sudah dibuatkan paspor segala? Belum kemana-mana sih tapi kami percaya bahwa dengan punya paspor saja dulu berarti perjalanan keluar negeri sudah siap 50%. Sisanya ya semoga ada rezeki buat beli tiket pesawat serta biaya hidup selama berada di negeri orang. Amiin.

Lalu bagaimana cara membuat paspor bayi? Berikut langkah-langkah yang harus ditempuh :

Persyaratan Dokumen

Membuat paspor bayi  atau secara keseluruhan anak di bawah usia 18 tahun sebenarnya sama saja sih dengan mengurus paspor untuk orang dewasa. Bedanya hanya pada kelengkapan berkas yang harus ditambah dengan surat jaminan orang tua. Surat jaminan itupun sudah disiapkan oleh pihak imigrasi, kita hanya perlu menandatanganinya saja diatas materai.

Sebelum masuk prosedur pembuatan paspor, pastikan dulu berkas kita sudah lengkap yaitu :

  1. KTP kedua orang tua
  2. Kartu keluarga
  3. Buku nikah
  4. Akte lahir anak
  5. Paspor kedua orang tua
  6. Surat jaminan orang tua

Semua berkas tersebut difotocopy satu rangkap pada kertas A4 dan khusus KTP, tidak boleh di potong (tetap dibiarkan dalam satu lembar kertas). Mungkin dimaksudkan agar tidak mudah tercecer kali ya. Selain copy-annya juga harus membawa berkas aslinya ya.

Prosedur Pembuatan Paspor

Jika berkasnya telah lengkap maka langkah selanjutnya adalah ke kantor imigrasi terdekat. Untuk daerah Makassar bisa diajukan di kanim Daya maupun kanim Alauddin.

Secara runut, prosedurnya seperti ini :

  1. Mengambil nomor antrian
  2. Ke loket pemeriksaan berkas. Jika dianggap lengkap maka akan diberi formulir pengajuan paspor
  3. Wawancara
  4. Foto
  5. Selesai. 

Selanjutnya melakukan pembayaran ke bank dan kembali lagi ke kantor imigrasi empat hari kemudian untuk mengambil paspor.

Kelihatannya sangat mudah sekali ya. Namun apa yang saya alami rupanya jauh berbeda.

Jadi awalnya saya datang ke kanim Alauddin karena jaraknya yang lebih dekat dari rumah. Saya tiba di sana sekitar pukul tujuh pagi dan ternyata saya sudah tidak bisa dilayani! What?? Jam segitu sudah tutup layanan? Lha kantor ini bukanya jam berapa memang sih?? Padahal sejak di rumah tadi saya sudah membayangkan bisa lebih leluasa karena datang sebelum jam kerja. Tapi rupanya jam 7 pagi pun saya tidak kebagian nomor antrian. (Nomor antriannya ini masih manual, nama kita ditulis dalam daftar pada lembar kertas double folio). Saya bahkan tidak sempat sama sekali berbincang dengan petugas imigrasi karena massa telah mengerubungi di pintu masuk hingga parkiran. Saya tanyalah salah seorang diantara mereka. Dan saya sangat tercengang karena menurut pengakuannya dia datang mengantri sejak pukul 3 subuh bahkan ada yang harus menginap. Ckckckck. Saya disarankan datang senin subuh saja berhubung hari ini jum’at yang berarti besok dan lusa libur weekend.

Karena gagal di kanim Alauddin, sayapun ke kanim Daya. Meskipun sebenarnya di pikiranku meragukan niat itu karena bisa saja mendapatkan hasil serupa : tidak dilayani. Mengingat kanim Daya adalah kelas satu yang loadingnya pasti jauh lebih besar daripada kanim Alauddin yang hanya unit layanan pembantu. Tapi hati kecilku terus berbisik : jauh lebih baik berusaha maksimal dulu. Kalaupun nanti hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, setidaknya saya telah melakukan yang terbaik. Karena itu saya tetap melanjutkan ke kanim Daya.

Tiba di kanim Daya sudah pukul sembilan lewat, hampir jam sepuluh karena terhalang macet di pintu dua Unhas. Seperti yang kuduga, orang-orang yang mengajukan paspor di sini ternyata lebih banyak daripada di kanim Alauddin. Dan lagi-lagi saya tidak kebagian nomor antrian. Nomor antriannya juga masih manual, ditulis di sepotong kertas kecil yang dibagikan berdasarkan posisi duduk di kursi (bukan berdasarkan kedatangan). Parah yaaa! Yang tidak mendapatkan nomor antrian ternyata bukan hanya saya yang baru saja tiba. Bahkan mereka yang sejak subuh buta di sini juga tidak kebagian hanya karena mereka terlanjur memilih duduk di kursi belakang saat kedatangan mereka di awal tadi, sebelum datangnya petugas pembagi nomor antrian. Ya ampuunn kasian juga ya. Masalah nomor antrian ini sepertinya menjadi PR besar bagi kantor imigrasi Makassar. Akan lebih bijak jika mengupayakan penggunaan mesin antrian otomatis seperti di Bank dan rumah sakit.

Saya tak lantas pulang meskipun sudah tidak mendapat nomor antrian. Setahu saya ada layanan prioritas untuk bayi! Saya lalu menemui petugas pembagi nomor antrian tadi dan menanyakan hal tersebut. Alhamdulillah benaran ada! Sayapun diberi nomor urut 16 dengan catatan menunjukkan bayinya sebagai bukti. Soalnya saya ke sana tanpa Baby Yui yang saya tinggal bersama kakek di mobil. Sayapun kembali ke parkiran dan membawa baby Yui ke loket. Saat itu sedang diproses antrian ke 13 yang berarti dua orang lagi tibalah giliranku. Sayangnya, kursi di depan loket sudah terisi penuh semua dan tidak ada yang peduli untuk mengikhlaskan kursinya bagi ibu yang menggendong bayi. Padahal kebanyakan diduduki anak-anak muda.

Ketika nomor antrian ke 15 diproses, tiba-tiba seseorang mencolek saya dari belakang. Rupanya seorang ibu-ibu berusia sekitar 50-an bernama Hana. Dia menawarkan diri untuk menggendong bayiku karena tak mampu berdiri lama jika harus memberikan kursinya padaku. Maka sebagai gantinya, beliau rela memangku baby Yui. Dan betapa tercengangnya karena beliau datang jauh-jauh dari Bulukumba dan tiba di kanim Daya pukul 6 pagi tapi mendapat nomor antrian ke 70. Ya Allaaahhh… betapa mulianya Ibu Hana ini. Semoga keberkahan senantiasa tercurah kepadanya.

Akhirnya tiba juga giliranku. Sebelum memeriksa berkasku, terlebih dahulu menanyakan mana bayinya. Sayapun menunjuk Yui yang dipangku Ibu Hana. Pemeriksaan berkaspun dilanjutkan. Dan keputusan petugas menyatakan berkasku DITOLAK! Jreng… jreng… rasanya kakiku lunglai, lidahku kelu. Tak bisa berucap apa-apa. Membayangkan perjuangan Yui hari ini yang begitu luar biasa sejak selepas subuh. Tiba pagi-pagi di kanim Alauddin tidak bisa dilayani, hingga menantang matahari pukul 9 di atas mobil pick up kakek yang panasnya masyaAllah karena perjalanan ke Daya bertepatan menghadap matahari. Hanya air mata yang menetes begitu saja. Melihat saya menangis, bapak yang melayaniku (kira-kira usia 40-an tahun) menyampaikan bahwa secara urutan dokumen, sebenarnya sudah lengkap tapi KK saya belum distempel sehingga dianggap berkas tidak memenuhi syarat. Mendengar penjelasannya, air mataku makin banyak yang keluar. Padahal saya sudah berusaha keras menahan agar tidak menangis. Tetapi seperti ada dorongan kuat yang terus mendesaknya keluar hingga pipiku kebanjiran air mata. Bukan apa-apa sih, pembuatan KK ini juga penuh drama soalnya karena harus bolak-balik ke Denpasar, Bali.

Mungkin karena saya nangisnya dari hati, bapak itu luluh. Apalagi saat tahu jika KK ku diterbitkan di Denpasar. Dengan suara sangat rendah, beliau memberi saya formulir pengajuan paspor beserta dokumen-dokumenku dan menyuruh masuk ke ruangan di sebelahnya untuk menemui bosnya. Cenderung berbisik, dia menambahkan bawa bayinya ya, biasanya tidak ada orang yang tega kepada bayi.

Saya masuk ke ruangan itu bersama bapak dan baby Yui. Kami disambut security yang telah mengetahui kondisi kami dari bapak petugas loket agar membawa saya ke atasannya. Security itulah yang menjelaskan permasalahanku ke pak bos sebelum kami bertatapan muka. Rupanya pak bos yang dimaksud ternyata masih sangat muda. Mungkin seumuran dengan suamiku. Singkat saja tanyanya, suaminya dimana? Kok tidak ikut? Setelah saya sampaikan bahwa dia ada di Timika, Papua,  dia tanya lagi. Kerja apa di sana? Mendengar jawabanku, langsung saja dia acc berkasku dengan catatan, saat pengambilan paspor nanti harus membawa KK yang sudah distempel agar berkasnya bisa ditukar. Selanjutnya saya mengisi formulir pengajuan paspor dan menandatangi surat jaminan orang tua (karena saya mengajukan paspor untuk bayi) dan langsung dibawa ke ruang foto, didahulukan karena anak bayi. Tapi lagi-lagi drama! Proses foto yang seharusnya cuma 5 menit saja molor hingga setengah jam gara-gara Yui tertidur. Pengambilan foto paspor harus memuat seluruh muka, sementara baby Yui tidurnya pulas. Susaaahh banget banguninnya.

Memasuki menit ke 40, alhamdulillah berhasil membangunkan baby Yui. Jepret! Foto selesai, slip pengambilan paspor terbit. Bayar di bank dan kita datang empat hari lagi dengan paspor sudah di tangan insyaAllah 😘

Kenyataannya…

2 minggu kemudian baru bisa kembali ke kanim Daya karena proses KK yang harus bolak balik Bali untuk di stempel. Parahnya, KK kami harus cacat karena dicoret-coret Ochy sebelum selesai di laminating. 😭😭

Pas pengambilan paspor, eh ditolak lagi. Gara-gara yang datang ambilkan si kakek yang sudah tidak satu KK dengan kami. Dan tidak ada pula surat kuasa yang dibawa. Maka yang harus datang sendiri adalah salah satu orang tua si anak. Ya ampuunn.

Setelah jum’atan saya pun ke kanim Daya tanpa membawa Ochy maupun Yuiko. Anak-anak saya titip di rumah orang tua. Ke kanim Daya juga naik angkot karena mobil sudah tak punya, dijual untuk beli rumah. Motor ada sih, tapi agak takut karena sudah lamaaaaaa sekali tidak naik motor. Kalau cuma dalam kompleks sih masih berani. Tapi kalau di jalan raya protokol begitu agak ngeri sendiri. Lalu saya pesan taxi online, tapi gak ada juga yang dekat-dekat. Akhirnya naik angkotlah saya ke sana dengan dua kali rute : Antang – Tello lalu Tello – Daya karena saya berangkat dari rumah orang tua. Nah parahnya, karena juga sudah bertahun-tahun gak naik angkot, eh saya malah kebablasan sampai di lampu merah perempatan pasar Daya. Kantor imigrasi sudah jauh terlewat di belakang. Ya Allaaahh. Dramanya ini sudah level berapa sih 😭😭

Nah nyebrang ke sisi jalan buat naik angkot balik. Alhamdulillah kali ini tidak terlewatkan karena sebelumnya saya beritahu pak sopir untuk menurunkan di kanim Daya. Tiba di sana sudah pukul 1.30 siang. Saya dapat nomor antrian 171 sementara yang baru terproses saat itu nomor 83. Imagine it? How long it will be?? Hiks.. Mana loketnya cuma buka sampai jam 3 sore pula. Jadi kalau sudah waktunya tutup ya tutup. Gak peduli meskipun masih ada yang antri. Yang gak kebagian yaaa ikut hari kerja berikutnya. Terus saya pulang gitu?? Oh no! Pokoknya saya akan pulang jika melihat sendiri loketnya tertutup. Saya akan lebih puas sendiri jika telah melakukannya dengan maksimal. Pun jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, setidaknya saya telah memaksimalkan usaha.

Nomor antrianku 171 boo

Nah… Alhamdulillah, ajaibnya banyak nomor antrian yang tidak ada orangnya. Mungkin mereka sudah terlanjur pulang karena mengira nomornya yang gak akan kebagian di loket.

Daaaann… tadaaaaa… passport adek akhirnya di tangan. Alhamdulillah.

Jadi kesimpulannya :

  1. Boleh mengurus paspor di kantor imigrasi manapun, meskipun beda domisili. Seperti kami yang alamatnya di  Denpasar bisa membuat paspor di Makassar.
  2. Untuk daerah Makassar sebaiknya pilih Kanim Daya untuk pengurusan paspor
  3. Pastikan berkasnya lengkap sehingga tidak harus bolak-balik
  4. Datang pagi banget dan selamat mengantri berjam-jam 😁😂

Liburan di Rumah Saat Musim Libur

Liburan di rumah

Sejauh ini saya dan keluarga paling menghindari liburan di musim libur. Selain mainstream banget, juga tidak bisa menikmati wisata dengan nyaman karena terlalu banyak pengunjung. Susah dapat spot foto yang keren, berisik dan dipastikan harga penginapan dan tiket wisata juga naik berlipat-lipat. Halah… ternyata ujung-ujungnya tetap alasan harga ya bo! Dasar emak-emak. Wkwkwwk. Habis traveling berdua dan berempat kerasa banget beda budgetnya. Jadi kalo bisa dihindari saat high season, ya kenapa tidak? Kalaupun terpaksa liburan di saat musim libur, ya ayo kita terjebak! Hahaha. Ini maksud tulisannya apa sih? Kok jadi bingung sendiri! 

Meskipun suami saya seorang karyawan yang jatah cutinya cuma 12 hari setahun tapi kami selalu berusaha untuk liburan di waktu-waktu sepi pengunjung. Sekarang sih masih bisa ngomong seperti itu ya karena anak-anak masih bebas dengan segala jadwal. Entah bagaimana jika esok lusa sudah sekolah, dimana Ochy dan Yuiko tidak bisa lagi traveling semau emaknya karena gak mungkin izin terus demi menghindari liburan di musim libur. Tapi sudahlah, repot amat mikirin hal ginian. Ochy masuk sekolah kan juga masih lamaaaaaa banget. Empat atau lima tahun lagi. Nikmati saja dulu yang sekarang. Mumpung anaknya masih asyik dibawa kesana kemari.

Liburan di rumah

Tentang liburan di musim libur, kami malah memilih menghabiskan waktu di rumah saja daripada jalan-jalan seperti orang kebanyakan. Di rumah sendiri ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Diantaranya berenang, balapan sepeda, bercocok tanam, memasak bersama, membersihkan rumah, menyusun puzzle, main di taman, mendaki bukit dekat kompleks dan tentu saja bermain kejar tangkap.

Liburan di rumah

Kegiatan sederhana itu ternyata efeknya luar biasa terhadap keluarga, terutama bagi anak-anak. Selain melatih kekompakan suami istri, juga merangsang kemandirian dan daya nalar anak. Dan yang paling penting sih, kebersamaan itu menjadi unsur berharga menumbuhkan rasa kasih sayang antar anggota keluarga.

Liburan di rumah

Nah libur lebaran sebentar lagi tiba. Sudah punya rencana liburan kemana? Kalau kami sih seperti judul tulisan ini, liburan di rumah saat musim liburan. Artinya cuma di rumah saja setelah silaturrahim ke rumah orang tua dan mertua serta beberapa kerabat. Eh tapiii… mertua saya kan ada di Enrekang. Jaraknya kurang lebih 400 km dari Makassar. Ini termasuk liburan di musim libur gak sih? Hahaha.

Anw, selamat hari raya Idul Fitri ya semua. Mohon maaf lahir dan batin ^.^

Ketenangan Teluk Yoetefa

Pagi setelah sarapan, kami menunggu teman Papa di lobby yang akan menjemput dan mengajak berkeliling Kota Jayapura. Setelah semalam deal tidak akan ke Skow, daerah perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Meski saya sebenarnya ngebeeett banget ke sana tapi pak suami ogah karena jaraknya cukup jauh (4 jam pp) dan tidak ada hal menarik yang bisa dinikmati di sana, menurutnya. Padahal ya sejak dulu saya punya impian menjajaki batas-batas wilayah Indonesia dengan negara tetangga. Dan saya paham bahwa daerah perbatasan itu memang tidak memiliki wisata yang bisa memanjakan mata namun saya selalu penasaran dengan masyarakat di sana, bagaimana mereka menjalani hidup di garis batas antar negara. Bagi saya justru itulah hal menariknya. Tapi yaaa begitulah, selera ketertarikan setiap orang memang berbeda. Well, abaikan. Anggap saja saya punya alasan untuk bisa kembali ke Jayapura suatu saat nanti. Hihihihi

Menu sarapan hotel tidak mewah. Tapi cukup mengenyangkan. Nasi goreng kecap dengan toping telur dadar. Teh dan kopi menjadi teman sajiannya. Meski sederhana tapi Ochy sangat suka. Lahap dan habis satu porsi piring. Sangat cukup menjadi energi cadangan untuk agenda jalan-jalan hari ini.

Mobil kami melaju pelan menjauhi area hotel pukul 8 pagi. Teman papa (Suca) menjemput kami bersama istrinya yang juga hamil sekitar lima bulan sepertiku. Namanya Mia, cantik dan sangat ramah. Kami langsung akrab berasa sudah kenal bertahun-tahun. Pagi ini kami akan diajak ke Teluk Yoetefa di Tanah Hitam, taman wisata dengan hamparan hutan Mangrove yang diapit dua buah tanjung di sisi kanan kirinya. Dari deskripsi Mia, saya bisa membayangkan betapa cantiknya teluk Yoetefa itu.

Cukup dekat ternyata jaraknya dari kota Jayapura. Kami berkendara hanya sekitar 15 menit saja. Begitu mobil berhenti, saya melongo ke jendela. Dalam hati melongos : Lho, itu teluknya? Apa bagusnya tempat berpasir hitam begini. Hanya tumpukan batu yang sedikit menjorok ke pantai, istimewanya dimana? Hahaha. But hey… be careful of your thought! Tidak baik mengambil kesimpulan di awal.

Turun dari mobil saya terheran-heran. Kok kita mengarah ke kiri padahal pantainya jelas-jelas di sebelah kanan. Rupanya Teluk Yoetefa ini memang luar biasa. Selain diapit tanjung di sisi kanan kirinya, juga berhadapan dengan garis Pantai Hamadi. Hijau dengan rimbun Mangrove dan tanaman sagu dipadu biru air laut yang tenang dengan view gunung di sekelilingnya. Tuh kan, makanya tetaplah berprasangka baik. Tempatnya memang kece abis pokoknya as Mia described it to me selama di perjalanan tadi.

Di sana ada beberapa saung berwarna biru terang untuk tempat duduk dan bersantai di atas laut. Ada beberapa perahu motor juga yang bersandar. Satu dua perahu datang dan pergi mengangkut penumpang. Sayapun penasaran, ini orang-orang pada mau kemana ya? Rasa penasaran sayapun terjawab. Seolah memahami apa yang saya pikirkan, Mia membeberkan bahwa di tengah teluk Yoetefa ini ada beberapa pulau cantik yang didiami masyarakat asli Papua. Diantaranya pulau Tobati dan Enggros. Menariknya lagi ada lapangan timbul tenggelam. Heh?? Kayak gimana tuh ya? Kok kedengarannya keren. Jadi bukan hanya sinyal saja yang timbul tenggelam di Jayapura. Ternyata lapangan pun bisa timbul tenggelam. Hahaha. Rupanya lapangan yang dimaksud itu adalah daerah lapang berpasir yang akan nampak jika air sedang surut dan akan tenggelam jika air sedang pasang. Kok jadi kebayang pasir timbulnya Raja Ampat ya. Halah… kayak gue pernah ke Raja Ampat aja 😅😂

Saya penasaran sekali ingin ke pulau-pulau tersebut. Pasti akan sangat menyenangkan menjelajah dengan perahu. Tapi lagi-lagi saya harus mengurut dada. Kondisi saya yang hamil menjadi alasan pak suami menolak mentah-mentah melintasi laut dengan perahu motor warga lokal. Mia dan suaminyapun menyarankan hal yang sama demi keselamatan bersama. Ya ampuun… Kak Idu ini pengen aku gigit rasanya. Sudahlah batal ke Skow, sekarang gagal pula menikmati eksotisme Teluk Youtefa dari dekat. Okeh… okeeehh… ini menambah daftar panjang alasan untuk kembali lagi ke Jayapura suatu hari nanti. 😁😁

Senja di Waduk Antang

Mungkin tidak banyak yang tau hal menarik apa yang bisa kita nikmati di Antang. Sebuah pinggiran Kota Makassar yang sering dimarginalkan karena keberadaan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di daerah Tamangapa. Bau sampah menjadi pencemaran udara yang sudah pasti tidak bisa di hindari apalagi jika TPA tersebut belum menerapkan sistem sanitary landfill. Baunya bahkan menyeruak hingga berkilo-kilo meter jauhnya. Jika angin bertiup kencang, baunya bisa tercium hingga ke rumah orang tua saya.

Terlepas dari permasalahan sampah di Antang, ternyata ada satu tempat indah untuk menikmati sunrise maupun sunset yaitu di waduk Antang yang terhubung ke Borong dan Toddopuli. Dulu ketika saya masih gadis, jalan-jalan pagi ataupun sore menjadi kebiasaan saya menghabiskan waktu di tempat ini. Kadang sendiri, kadang juga ramai-ramai dengan teman. Naik sepeda, balapan sepatu roda atau sekedar jogging. Pernah juga menelusuri luas waduk dengan berjalan kaki karena merasa penasaran dimana ujungnya dan ada apa di sana. Padahal saat itu waduk Antang masih dipenuhi semak belukar, jalannyapun masih setengah aspal, setengah batu pengerasan dan timbunan tanah merah. Beda dengan sekarang yang sudah lebih terawat dan ramai. Jalannya sudah beton lengkap dengan terali besi di pinggir waduk sebagai pengaman. Belakangan malah dijadikan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan yang sering terjadi di pertigaan Antang-Ujungbori.

Sore itu tidak sengaja saya lewat di sana bersama bapak dan Ochy. Seperti kembali ke masa lalu, kenangan-kenangan di tempat ini terputar lagi. Saya melihat diriku yang lari berkejaran dengan anak-anak asuh di pinggir waduk. Duduk dan tertawa di aspal yang setengah jadi. Belajar dari alam adalah tema kami hari itu. Tak lama muncul lagi diriku menenteng sepatu roda berwarna pink. Bersama sahabat perempuan yang sangat tomboy, kami balapan hingga ke ujung batas pengunjung waduk yang ditandai pagar setinggi 2 meter berlapis portal besi. Dan dasar kami nakal, kami menerobos masuk dengan memanjat. Sepatu roda kami terlebih dahulu di lempar ke sebelah melalui celah pagar. Sahabatku yang tomboy itupun sudah berhasil menyeberangi pagar setinggi 2 meter itu. Sementara saya bernasib sial. Baru setengah memanjat, security sudah datang. Teriak-teriak sambil membawa tongkat kayu setengah lengan. Karena ketakutan, terpaksa saya mengambil jalan pintas karena tak mungkin mampu menyelesaikan rintangan pagar besi ini. Sayapun melompat ke samping yang tak lain adalah bagian waduk yang penuh air berupa kanal. Parahnya saya tidak bisa berenang, jadilah saya mangap-mangap. Syukurnya kedalaman kanal ini masih terjangkau dengan tinggi badanku sehingga saya tidak tenggelam.

Mengingat-ingat kejadian itu membuat tawaku pecah sekaligus bertanya-tanya apa kabarnya sahabat tomboyku itu? Puluhan tahun tak pernah berkomunikasi lagi sejak ia memutuskan merantau ke pedalaman Luwuk Banggai.

Seperti iklan dalam tayangan tv, muncul lagi gambar lain. Begitu cepat berganti. Kali ini saya melihat diriku dari belakang. Jalan berdua menyusuri pinggir waduk yang dipenuhi ilalang dan semak belukar. Tanah becek sisa hujan semalam tak menyurutkan niat kami. Rasa penasaran akan muara waduk ini telah meleburkan rasa takut kami akan hal-hal buruk yang bisa saja kami jumpai di pagi buta selepas subuh begini. Teman sejak berseragam putih abu-abu yang selalu bergairah untuk setiap petualangan baru. Teman yang selanjutnya menjadi sahabat karib lalu menjadi cinta dan sayangnya harus berakhir dengan penuh benci. Saling menyakiti satu sama lain. Hingga kita tak saling bicara lagi.

Begitulah… tak ada persahabatan dan cinta yang hadir di garis hidup kita tanpa meninggalkan bekas di sana. Seberapapun kita bahagia atau terluka atasnya.

Film lain yang mampir dalam benak tentang waduk ini adalah sekelompok anak abege yang sedang memasuki fase puncak kenakalan remaja. Terlihat saya dan lima orang teman bermain di pinggir waduk yang sedang dalam pembangunan. Salah satu diantara kami nekat terjun ke galian terdalam yang baru saja dikeruk oleh excavator. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga melakukan hal bodoh itu. Awalnya baik-baik saja. Tertawa dan menyombongkan diri akan kemampuannya. Diapun mengulanginya lagi. Berhasil, iapun menepuk-nepuk dadanya. Sekali lagi diulangi, naas kakinya menghantam batu dan mengalami dislokasi tulang. Reaksi refleks kami tentu saja tertawa alih-alih menolongnya terlebih dahulu. Mungkin jika kejadiannya sekarang, maka reaksi pertama kami adalah memfotonya lalu mengupload ke media sosial dengan berbagai caption dan hashtag.

Kenangan di tempat ini memang tidak akan ada habisnya. Dan saya mensyukurinya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membuat hari-hariku berwarna. Membuat saya bangga bahwa hidupku tidak berlalu begitu saja.

Saya meminta bapak untuk berhenti sejenak. Sementara beliau dan Ochy menikmati matahari sore, saya melanjutkan film kenangan di pinggir waduk.

Bagaimana sunset mu sore ini? Ada cerita apa di baliknya? Bagi cerita yuukk😊😊

Kampili dan Pesona Bendungannya

Bulan Maret telah memasuki batas akhir. Tinggal hitungan jam, April segera menyapa. Ah… Waktu memang sangat ambigu ya. Kadang ia terasa begitu cepat berlalu dan di lain kesempatan terasa begitu lambat. 

Kami menutup bulan ke tiga ini dengan mengajak Ochy ke sebuah desa tak jauh dari Kota Makassar. Terlebih lagi lebih dekat dari rumah kami yang secara administratif telah masuk ke Kabupaten Gowa. Hanya sekitar 30 menit saja berkendara motor dengan kecapatan standar 40km/jam. Desa itu bernama Kampili yang populer dengan bendungannya yang terintegrasi ke Bili-Bili. 

Sore itu, selepas ashar kamipun berangkat. Bertiga, kami naik motor membelah jalan poros Makassar-Gowa. Meski langit sedikit mendung syukurnya hujan tetap menggantung di awan-awan kelabu hingga kami tiba kembali di rumah.

Cara menuju Bendungan Kampili

Tidaklah sulit untuk sampai ke Desa Kampili pun hingga ke bendungannya yang cantik dengan batu-batu cadas yang besar. Berikut saya uraikan secara lengkap bagaimana menuju bendungan Kampili :

1. Jika dari arah Makassar, teruslah melaju hingga ke jembatan kembar Gowa. Tepat di sisi kiri jembatan, ada belokan menurun. Nah… ikutilah jalan beton itu. Lurus saja hingga tiba di sebuah gapura bertuliskan selamat datang di Desa Kampili. Selama dalam perjalanan, kita akan melewati areal persawahan yang luas dan rumah penduduk yang terbagi dalam dusun. Beberapa diantara rumah penduduk itu terhampar gabah yang dijemur di pekarangan ataupun di pinggir jalan. Kegiatan menjemur gabah ini, oleh masyarakat setempat disebut dengan angngalloi.

2. Ketika tiba di persimpangan pasar Taipa Le’leng, ambillah arah ke kiri menuju kampus IPDN Sulsel. Dari sana, terus saja hingga tiba di gapura kampung KB Dusun Je’nemadinging. Jika sudah sampai di gapura ini tetaplah terus mengikuti jalan aspal hingga ujung yang ditandai bangunan bendungan beratap biru. Di sana akan ada dua jalur. Kedua jalur itu menuju spotlight wisata bendungan Kampili. Saya sarankan untuk mengambil jalur yang kedua. Selain jalannya yang beraspal mulus, di jalur ini kendaraan kita insyaAllah juga aman setelah membayar uang masuk sekaligus uang parkir yang dipungut masyarakat setempat sebesar Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 5.000 untuk mobil. Sementara di jalur pertama adalah jalur ilegal yang tanpa pungutan biaya apapun namun dengan risiko kehilangan kendaraan.

Secara umum, kondisi jalan menuju Desa Kampili sudah bagus. Meskipun tidak mulus sempurna karena di beberapa titik tertentu ada yang berlubang, berbatu dan berlumpur namun masih bisa dilalui kendaraan dengan baik.

Persimpangan di dekat Pasar Taipa Le’leng
Kampus IPDN Sulsel. Ikuti saja terus jalan aspal hingga mentok.
Gerbang kampus IPDN Sulsel
Jika telah sampai di gapura kampung kb ini, terus saja hingga mendapat bangunan bendungan beratap biru
Ini adalah ujung Desa Kampili sekaligus tempat dimana bendungan berada. Jalur pertama adalah ilegal dengan jalan berbatu tanpa aspal. Sementara jalur kedua adalah jalur resmi dengan pungutan biaya parkir kendaraan
Gerbang masuk ala kadarnya. Di sini kita harus membayar biaya parkir kendaraan

Mengapa harus ke Desa Kampili?

Kebanyakan orang ke Desa Kampili karena ingin menikmati bendungannya yang tak biasa. Begitupun dengan saya. Tapi nyatanya, selain menyuguhkan keindahan bendungan, Desa Kampili juga menawarkan kehidupan alami pedesaan yang bersahaja dan sarat akan nilai untuk disisipkan sebagai pelajaran kepada anak. Diantaranya :

1. Annanang dan Akkatto

Adalah kegiatan menanam bibit padi baru dan memanen padi lama. Masyarakat Kampili melakukannya secara bergotong royong dan penuh suka cita. Pemandangan yang sangat langka di tengah hiruk pikuk perkotaan. Ochy sendiri sangat menikmati jerami-jerami yang terhempas dari mesin sederhana maupun yang dipukul-pukul masyarakat secara manual ke sebuah bilah kayu agar padi-padinya rontok.

2. Angngalloi atau menjemur gabah

Padi-padi yang telah dirontokkan lalu dijemur di halaman rumah ataupun di pinggir jalan. Setelah itu akan datang mobil pick up berisi mesin penggiling untuk mengolah gabah menjadi beras siap konsumsi.

3. Akkalawaki atau mengembala

Hewan ternak yang digembalakan masyarakat Kampili adalah sapi dan kerbau. Biasanya dilakukan oleh pemuda-pemuda kampung bersarung. Selama dalam perjalanan, kami menikmati pemandangan gerombolan sapi dan kerbau yang digiring pulang oleh si pengembala.

4. Anak lebih mengenal bendungan dan fungsinya. Meskipun sama-sama menampung debit air yang banyak, kita bisa menyisipkan pelajaran tentang perbedaan pantai, laut, sungai, danau dan bendungan itu sendiri agar anak lebih memahami perbedaannya.

5. Kearifan lokal yang jarang atau bahkan tidak kita jumpai di kota-kota besar seperti keramahan penduduk, gotong royong dan kepolosan mereka akan kejujuran.

Berikut beberapa hasil dokumentasi di bendungan Kampili. Sayangnya langit mendung sehingga hasil gambarnya kurang cetar.

Ke spot ini harus melalui jalan menurun cukup tajam dengan batu-batu licin sehingga harus ekstra hati-hati
Batu-batu khas Bendungan Kampili. Saat kemarau, batu-batu ini akan tampak lebih epic.
Sisi atas bendungan tak jauh dari tempat parkir
Pose andalan. Karena cukup berbahaya, saya tidak berani menerbangkan Ochy tanpa dipegang.
Menuju batu-batu cadas bendungan. Curam dan licin.
Nih anak paling senang dah lari-lari di alam terbuka begini.

Saya sangat merekomendasikan kunjungan keluarga ke Desa Kampili. Selain biayanya murah meriah, banyak pelajaran yang bisa kita petik. Saya sendiri hanya mengeluarkan uang Rp 30.000 saja dengan rincian isi bensin Rp 20.000, parkir Rp 2.000 dan sisanya untuk beli snack dan minuman di warung tempat parkir kendaraan.

Ya ampuunn… kebayang gak sih? Tiga puluh ribu perak doang! Uang segitu bahkan tidak ada artinya jika dibawa ke mall. Beli secangkir kopi di starbucks aja gak cukup, man! Tapi di Desa Kampili, kita bisa ‘membeli’ pengalaman luar biasa tentang kehidupan alami perkampungan.