Family Time di Pantai Nongsa

Siang itu, kami menyusuri jalan menuju Nongsa. Jalan beraspal mulus dengan pepohonan rindang di kedua sisinya. Kota yang sangat asri. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Batam, saya telah jatuh cinta dengan kehijauan kotanya.

Kontur jalan secara keseluruhan di wilayah Batam adalah berundak. Naik turun bukit. Begitupun jalan ke daerah Nongsa. Beberapa bagian malah tampak seperti gelombang raksasa. Meliuk naik turun. Meski demikian, tetap nyaman dilalui karena keseluruhannya beraspal mulus.

Sesekali pak suami membuka open roof mobil agar cahaya matahari dan udara bebas masuk ke dalam dari atap kendaraan. Segar dan menenangkan. Rasanya seperti terbang ke masa lalu saat saya berkunjung ke Kota Bandung yang saat itu masih asri. Kalau sekarang sih sudah panas karena banyak pohon yang berganti cafe dan tempat hang out kekinian.

Kembali ke perjalanan menuju pantai Nongsa. Saya menjadi navigator dengan bantuan gmaps sementara pak suami konsentrasi menyetir. Ochy dan Yui duduk di belakang tak henti mengoceh layaknya soundtrack perjalanan kami. Bercerita, tertawa, bernyanyi, berteriak bahkan menangis adalah persembahan mereka. Kadang bikin geli sih. Tak jarang juga bikin tegang karena menahan amarah yang sudah diubun-ubun. Tapi bagaimanapun, tingkah mereka tetaplah penghibur bagi kami.

Setelah berkendara kurang lebih 45 menit, kamipun akhirnya tiba juga. Di pintu masuk akan ditagih retribusi Rp 10.000 untuk satu mobil. Setelah sampai ke dalam, akan ditagih lagi biaya parkir Rp 10.000.

Anak-anak bertelanjang kaki menuju pantai. Setiap pijakan di pasir sangat mereka nikmati. Di pasir kering, mereka menimbun kaki dan tangan. Di pasir basah mereka membuat bangunan dari cetakan gelas plastik. Sedangkan suami telah beralas tikar di naungan pohon kelapa menyantap ayam penyet pedas dan nasi hangat. MasyaAllah bahagia sekali melihat mereka. Sayapun tak luput mengabadikan momen itu ke dalam lensa kamera.

Pantai Nongsa sedang surut ketika kami datang. Mungkin karena sudah mau sore. Meski anak-anak batal berenang tapi mereka tetap menikmati dan belajar banyak hal di pantai surut itu. Salah satunya tentang ocean unit. Keseruan lainnya saat kami mengumpulkan berbagai kerang dan bermain sensori kaki dari jalan berpasir – berumput – berair dan berbatu. Anak-anak bisa merasakan langsung perbedaannya, tanpa kenyang teori. Mereka bahkan berguling-guling di pasir karena sangat penasaran bagaimana rasanya tidur di atas pasir. Mereka juga mengajak berjalan di atas hamparan kerang yang ditinggal air surut. Di sana ada motor boat yang menarik perhatian mereka.

Sebelum mereka minta naik ke motor boat, saya mengajak anak-anak untuk makan dulu. Merekapun makan dengan lahap sekali apalagi ada menu mie goreng favoritnya. Setelah makanan ludes, mereka berdua balapan ke pasir basah membangun istana. Saya dan suami bercengkrama di atas tikar. Menikmati waktu berdua sambil mendiskusikan rencana-rencana kami ke depan.

Alhamdulillah family time di pantai berjalan lancar. Perut kenyang, hati senang, otak anakpun pun insyaAllah jadi terang tentang pantai. Mengenal daerah pesisir langsung dari sumbernya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s