Kota Mati Marina City

Di Batam, ada salah satu kawasan yang dulunya dikenal sebagai kota paling glamour. Tempat paling ‘hidup’ khususnya saat malam. Kawasan itu adalah Marina City. Lokasinya yang sangat dekat dengan Singapura menjadikan kawasan ini bebas dalam hal jual beli tak terkecuali dalam bentuk perjudian. Setiap malam, kawasan ini akan sesak dengan turis asing bertaruh harta. Menjadi markas perjudian dan pusat hedonisme terbesar di Indonesia, Marina City mencapai puncak kejayaan. Tak ada satupun penduduknya yang tak sejahtera.

Kini, gemerlap lampu dan dentuman musik tak pernah lagi didengar di Marina City sejak dilumpuhkan oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan kebijakannya yang melarang semua bentuk perjudian. Thanks pak SBY, anyway.

Satu persatu penduduknya meninggalkan Marina City karena merasa tak bisa lagi menggantungkan hidupnya di sini. Hingga akhirnya Marina Citypun menjadi kota mati. Rumah-rumah megah tampak memprihatinkan. Bangunan-bangunan menjadi tua dan lapuk. Begitupun dengan pelabuhannya. Kapal-kapal tertambat dimakan korosi. Pemiliknya entah sudah di mana.

Saat kami berkunjung ke sini, beberapa area terbuka telah dipenuhi semak belukar. Bangunan-bangunan tak terawat namun bekas-bekas kejayaannya di masa lampau masih nampak. Suasananya sunyi mencekam apalagi beberapa bangunan sudah lepas jendela dan pintunya menyuguhkan ruangan kosong yang gelap. Saat pandangan mata ke sini, saya bergidik membayangkan betapa horornya kawasan ini di malam hari. Tapi saat terang seperti ini, bangunan-bangunan yang ditingalkan itu justru mempunyai pesona vintage yang instagramble.

Kami terus berjalan menyusuri kawasan ini. Membelah lorong-lorong sepi tak berpenghuni. Langkah-langkah kecil Ochy dan Yui beradu di atas aspal. Sengaja kami mengajak anak-anak ke sini agar mereka bisa belajar sejarah dan mengambil hikmah di baliknya. Bahwa kesuksesan apapun, jika dibangun dari jalan yang tak diridhoi Allah SWT, hanya masalah waktu akan menemukan keruntuhannya.

Di penghujung jalan nampak sebuah bangunan yang meriah sendiri. Catnyapun tak terkelupas sebagaimana bangunan lainnya. Belasan lampion tergantung indah di kanopi. Saat mendekat, kulihat pintu kacanya terbuka menampakkan ruangan seperti sebuah restoran. Penasaran, sayapun ke sana. Oh ternyata ini adalah sebuah hotel jaringan OYO. Saya dan suami bertanya-tanya, hotel di kota mati begini? Hmm.. Siapa yang jadi tamunya ya?Karena siang semakin terik, anak-anak mulai tidak nyaman. Gerah dan lapar sepertinya. Kamipun break untuk snack time dan mengademkan diri di mobil. Camilan ludes, lapar merekapun tertangguhkan. Tapi ya kok malah menunjukkan tanda-tanda cranky. Well, mereka mungkin mengantuk. Sudah saatnya pulang dan say goodbye to Marina City. Ups.. Tapi munda sama papa pose dulu dong. Hihihihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s