Ujian Ramadhan : Menjanjikan Perasaan

Jikalau ada yang lebih rapuh dari usia, mungkin itu adalah perasaan. Ia berubah sekehendaknya, begitu mudah. Tidak stabil dan amat tak menentu. Kita bisa senang, marah, sedih dan takut dalam sekali duduk, bahkan mungkin dalam satu putaran detik.

Saya yakin kita semua pasti pernah mengalaminya. Tentang perasaan yang amat sulit dikendalikan. Kita tidak bisa menjanjikan rasa yang terus bahagia. Jangankan kita, Tuhan saja menjanjikan surga. Tapi tidak dengan perasaan. Setiap kejadian akan sangat mempengaruhi rasa yang menembus ke dalam dada.

Ramadhan kali ini mungkin adalah ramadhan terberat bagiku. Ujian datang silih berganti. Saat sedang tertawa bahagia membersamai anak-anak bermain, tiba-tiba mendapat berita kurang menyenangkan. Abi, ayah mertua sedang kritis. Telah berhari-hari di rumah sakit dan kondisinya semakin memprihatinkan. Semua anak-anaknya pulang menjenguk di Enrekang, merawat sebisanya. Takut Abi tak punya banyak waktu bersama. Perihnya, kami yang jauh di Timika belum bisa menyanggupinya karena kondisi suami pun tidak sehat. Sudah lima hari ini dia tidak ke kantor dan selama itupula dia tidak bisa menjalankan ibadah puasa. Karena tak kunjung membaik, suami harus opname di rumah sakit sebagai pasien thypoid.

RS. Kasih Herlina, Timika

Rasa takut dan sedih berkecamuk. Belum juga reda, saya kembali diguncang dengan kabar mamaku yang juga drop di Makassar. Sebenarnya mamak menderita diabetes sudah lama. Berkali-kali bertaruh nyawa saat gula darahnya terlampau tinggi atau justru terlalu rendah. Berkali-kali pula saya melewati rasa cemas yang mencekam ketika menemukan mamak drop begitu. Takut kalau-kalau mamak tidak sadarkan diri selamanya.

Mendapat kabar mamak drop lagi, dipikiran saya hanya satu. Segera mengambil alat pengukur gula darah, sebagaimana yang biasa saya lakukan dulu. Jika gula darahnya rendah, beliau harus segera mengkonsumsi makanan atau minuman manis. Sangat manis. Paling praktis adalah meminum teh kemasan. Sebaliknya, jika gula darahnya tinggi maka harus segera disuntikkan insulin agar gula darahnya kembali terkontrol. Terlambat sedikit saja bisa berakibat fatal.

Saya bertanya-tanya adakah yang menggantikan tugas itu ketika mamak sedang melawan diabetesnya? Atau jangan-jangan mamak harus menghadapinya seorang diri karena di rumah tak ada siapapun lalu ditemukan terbaring lemah tanpa daya setelah berjam-jam lamanya? Allahu Akbar. Saya sangat ngeri membayangkannya.

Saya sadari dengan penuh keyakinan. Mengimaninya sepenuh hati bahwa qadha dan qadar Allah pasti berlaku. Usia akan sampai pada batasnya, tanpa mengenal tua ataupun muda. Jika telah tiba waktunya, tak ada yang dapat menghalangi malaikat Izrail. Saya tidak pernah tahu, orang tua atau kita yang masih muda kah yang akan dipanggilnya terlebih dahulu. Namun membayangkannya itu terjadi pada orang-orang yang sangat kita cintai, entah mengapa hatiku getir.

Dalam satu dudukan, saya telah diguncang sedemikian hebatnya. Tulang-tulangku seperti lunglai. Tak punya tenaga untuk sekadar menopang tubuh. Dadaku sesak oleh tangis yang tertahan. Bingung harus bagaimana. Abi kritis, mamak drop dan suami sedang terbaring di rumah sakit. Laa haula wa la quwwata illa billah.

Begitulah perasaan. Teramat sulit dikendalikan. Setiap kejadian akan sangat mempengaruhinya. Tak perlu memaksa diri untuk selalu tersenyum. Sebab mulut diciptakan untuk merapalkan doa dan mata untuk menangis. Kita hanya perlu ‘membayar’ semua itu di lain kesempatan. Sebab kita berhutang kebahagiaan atas setiap air mata yang dipakai bersedih.

2 comments

  1. Semua ada waktunya dan yang sedih, yang berat, yang melelahkan akan lewat dan tergantikan dengan yang rasa yang berbeda. This too shall pass…
    Syafahumullah dan Syafahallah buat yang sedang terbaring sakit ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s