Senja di Waduk Antang

Mungkin tidak banyak yang tau hal menarik apa yang bisa kita nikmati di Antang. Sebuah pinggiran Kota Makassar yang sering dimarginalkan karena keberadaan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di daerah Tamangapa. Bau sampah menjadi pencemaran udara yang sudah pasti tidak bisa di hindari apalagi jika TPA tersebut belum menerapkan sistem sanitary landfill. Baunya bahkan menyeruak hingga berkilo-kilo meter jauhnya. Jika angin bertiup kencang, baunya bisa tercium hingga ke rumah orang tua saya.

Terlepas dari permasalahan sampah di Antang, ternyata ada satu tempat indah untuk menikmati sunrise maupun sunset yaitu di waduk Antang yang terhubung ke Borong dan Toddopuli. Dulu ketika saya masih gadis, jalan-jalan pagi ataupun sore menjadi kebiasaan saya menghabiskan waktu di tempat ini. Kadang sendiri, kadang juga ramai-ramai dengan teman. Naik sepeda, balapan sepatu roda atau sekedar jogging. Pernah juga menelusuri luas waduk dengan berjalan kaki karena merasa penasaran dimana ujungnya dan ada apa di sana. Padahal saat itu waduk Antang masih dipenuhi semak belukar, jalannyapun masih setengah aspal, setengah batu pengerasan dan timbunan tanah merah. Beda dengan sekarang yang sudah lebih terawat dan ramai. Jalannya sudah beton lengkap dengan terali besi di pinggir waduk sebagai pengaman. Belakangan malah dijadikan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan yang sering terjadi di pertigaan Antang-Ujungbori.

Sore itu tidak sengaja saya lewat di sana bersama bapak dan Ochy. Seperti kembali ke masa lalu, kenangan-kenangan di tempat ini terputar lagi. Saya melihat diriku yang lari berkejaran dengan anak-anak asuh di pinggir waduk. Duduk dan tertawa di aspal yang setengah jadi. Belajar dari alam adalah tema kami hari itu. Tak lama muncul lagi diriku menenteng sepatu roda berwarna pink. Bersama sahabat perempuan yang sangat tomboy, kami balapan hingga ke ujung batas pengunjung waduk yang ditandai pagar setinggi 2 meter berlapis portal besi. Dan dasar kami nakal, kami menerobos masuk dengan memanjat. Sepatu roda kami terlebih dahulu di lempar ke sebelah melalui celah pagar. Sahabatku yang tomboy itupun sudah berhasil menyeberangi pagar setinggi 2 meter itu. Sementara saya bernasib sial. Baru setengah memanjat, security sudah datang. Teriak-teriak sambil membawa tongkat kayu setengah lengan. Karena ketakutan, terpaksa saya mengambil jalan pintas karena tak mungkin mampu menyelesaikan rintangan pagar besi ini. Sayapun melompat ke samping yang tak lain adalah bagian waduk yang penuh air berupa kanal. Parahnya saya tidak bisa berenang, jadilah saya mangap-mangap. Syukurnya kedalaman kanal ini masih terjangkau dengan tinggi badanku sehingga saya tidak tenggelam.

Mengingat-ingat kejadian itu membuat tawaku pecah sekaligus bertanya-tanya apa kabarnya sahabat tomboyku itu? Puluhan tahun tak pernah berkomunikasi lagi sejak ia memutuskan merantau ke pedalaman Luwuk Banggai.

Seperti iklan dalam tayangan tv, muncul lagi gambar lain. Begitu cepat berganti. Kali ini saya melihat diriku dari belakang. Jalan berdua menyusuri pinggir waduk yang dipenuhi ilalang dan semak belukar. Tanah becek sisa hujan semalam tak menyurutkan niat kami. Rasa penasaran akan muara waduk ini telah meleburkan rasa takut kami akan hal-hal buruk yang bisa saja kami jumpai di pagi buta selepas subuh begini. Teman sejak berseragam putih abu-abu yang selalu bergairah untuk setiap petualangan baru. Teman yang selanjutnya menjadi sahabat karib lalu menjadi cinta dan sayangnya harus berakhir dengan penuh benci. Saling menyakiti satu sama lain. Hingga kita tak saling bicara lagi.

Begitulah… tak ada persahabatan dan cinta yang hadir di garis hidup kita tanpa meninggalkan bekas di sana. Seberapapun kita bahagia atau terluka atasnya.

Film lain yang mampir dalam benak tentang waduk ini adalah sekelompok anak abege yang sedang memasuki fase puncak kenakalan remaja. Terlihat saya dan lima orang teman bermain di pinggir waduk yang sedang dalam pembangunan. Salah satu diantara kami nekat terjun ke galian terdalam yang baru saja dikeruk oleh excavator. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga melakukan hal bodoh itu. Awalnya baik-baik saja. Tertawa dan menyombongkan diri akan kemampuannya. Diapun mengulanginya lagi. Berhasil, iapun menepuk-nepuk dadanya. Sekali lagi diulangi, naas kakinya menghantam batu dan mengalami dislokasi tulang. Reaksi refleks kami tentu saja tertawa alih-alih menolongnya terlebih dahulu. Mungkin jika kejadiannya sekarang, maka reaksi pertama kami adalah memfotonya lalu mengupload ke media sosial dengan berbagai caption dan hashtag.

Kenangan di tempat ini memang tidak akan ada habisnya. Dan saya mensyukurinya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membuat hari-hariku berwarna. Membuat saya bangga bahwa hidupku tidak berlalu begitu saja.

Saya meminta bapak untuk berhenti sejenak. Sementara beliau dan Ochy menikmati matahari sore, saya melanjutkan film kenangan di pinggir waduk.

Bagaimana sunset mu sore ini? Ada cerita apa di baliknya? Bagi cerita yuukk😊😊