5 Barang Wajib Saat Traveling Bersama Anak

Dulu kalau traveling, saya dan Kak Idu sangat percaya diri hanya membawa daypack saja meskipun untuk perjalanan jauh dan lama. Bagi kami ransel dipunggung terasa lebih ringkas dan nyaman dibawa pindah kemana-mana. Barang yang dibawapun gak banyak-banyak amat. Hanya beberapa potong baju buat di mix and match. Dan ajaibnya tetap sukses membuat tampilan ok untuk ootd-an.

Sejak punya anak, kalau mau traveling tuh ngurusin barang bawaan setidaknya seminggu sebelum berangkat. Jauh-jauh hari sudah harus prepare terutama bawaan buat si kecil Ochy yang gak ketulungan banyaknya. Berasa pengen angkut lemari aja deh pokoknya. Hahaha.

Berikut 5 barang yang wajib di bawa ketika traveling bersama anak berdasarkan pengalaman kami :

1. Trunki

Ochy and his trunki bus

Trunki ini koper khusus anak yang didesain sedemikian rupa sebagai tempat penyimpanan barang layaknya koper pada umumnya sekaligus bisa menjadi mainan anak. Meskipun ukurannnya kecil, tapi mampu menampung beban hingga 50 kg. Jadi kalau lagi pegal berdiri, saya kadang ikutan duduk di atas trunki jika tidak menemukan kursi. Hahaha.

Trunki Ochy sudah keliling kemana-mana baik perjalanan domestik maupun internasional dan terbukti memang sangat membantu kami terutama saat di ruang tunggu bandara atau ditempat-tempat menunggu lainnya. Soalnya bisa di ride on sehingga anak tidak merasa bosan. Anak bisa kayuh sendiri ataupun diajak main keliling tanpa ia capek berjalan kaki. Ukurannya yang cabin size membuat kita bisa membawanya ke atas pesawat dan karena dianggap sebagai koper khusus anak, barang bawaan seperti cairan diatas 100 ml bisa lolos dengan mudah untuk perjalanan internasional. Saya pernah membawa termos berisi air panas 350 ml dan air minum 500 ml di botol dan tetap bisa masuk cabin tanpa membuang isinya di gate pemeriksaan X-Ray. Asyiikkk!

Ride it on. Yyiiihhhaaa….!!

Selain itu, trunki juga membantu kemandirian si anak untuk terlibat menyiapkan sendiri barang-barangnya. Memilih barang apa saja yang ia inginkan sekaligus bertanggung jawab atas barang-barang tersebut. Memang sih bakalan masih berantakan susunannya di dalam trunki dan pada akhirnya kita tetap harus turun tangan untuk merapikan isi koper tersebut. But at least, he knows what he has to bring on.

Sekarang ini banyak sekali produksi trunki yang palsu alias abal-abal. Saran saya sih sebaiknya beli yang original karena insyaAllah kualitasnya terjamin. Mending mahal tapi sekali beli daripada murah tapi cepat rusak kan? Trust me, it saves your money more!

2. Baby carrier

Awal-awal Ochy masih bayi, baby carrier ini sangat penting dibawa ketika traveling bersama. Sangat mempermudah mobilitas kita apalagi jika sering berpindah-pindah tempat ataupun alat transportasi.

Baby carrier sangat beragam jenisnya. Dari yang standar dengan posisi depan belakang hingga yang lebih modern dengan enam posisi duduk yang nyaman buat anak seperti i-angle ataupun ergobaby hipseat. Harganyapun variatif sesuai model dan merk. Baby carrier pertama Ochy adalah yang biasa yang banyak dijual di toko-toko perlengkapan bayi. Dulunya sempat melirik ergobaby 4 position karena saat itu jenis hipseat belum diproduksi. Harganya sekitar 2,5 juta untuk produk original. Tapi karena kado aqiqah Ochy banyak yang ngasih baby carrier meskipun semuanya standar saja, sayapun mengurungkan niat membeli ergobaby tersebut. Pemborosan soalnya. Dan nyatanya, baby carrier standar ini juga cukup kuat. Terbukti ketika saya mengajak Ochy berkeliling Malaysia : menjelajahi Kuala Lumpur, Melaka, Johor Bahru dan Penang. Juga ketika mengeksplore Singapore.

Baby Carrier

Belakangan, dengan pertimbangan berat badan Ochy yang semakin bertambah, kamipun memutuskan membeli baby carrier jenis hipseat yang ada insert khusus infantnya sehingga bisa juga dipakai oleh calon adik Ochy yang sebentar lagi lahir, insyaAllah. Sementara baby carrier sebelumnya kita sumbangkan. Ini prinsip sederhana yang kami jaga dalam keluarga kecil kami. Boleh punya barang sejenis yang baru selama yang lama kita sedekahkan. Tentunya dalam kondisi bagus yang masih layak pakai ya!

Nah pengalaman pertama Ochy dengan si hipseat ini ketika kami melakukan perjalanan umrah ke tanah suci dan terbukti sangat membantu terutama dalam proses tawaf dan sai.

3. Stroller

Ka : di Masjid Nabawi Madinah dengan stroller Yoya. Ki : di Beachwalk Kuta dengan stroller baby elle.

Sekarang ini stroller menjadi barang wajib yang sepertinya harus dimiliki oleh ibu dengan bayi. Jangankan untuk ibu tipe traveller. Ibu-ibu yang doyan ngemall aja punya. Alasannya praktis untuk mempermudah mobilitas kita. Si baby bisa tiduran, duduk, main, makan sampai urusan buang air di atas stroller.

Stroller perdana Ochy merk baby elle dan sangat membantu kami selama tinggal di Denpasar terutama bagi saya yang kebanyakan ditinggal kerja suami dan kemana-mana hanya berdua saja dengan Ochy. Misalnya ketika belanja bulanan di supermarket atau ketika ngajakin jalan-jalan di lapangan renon pun ketika ke rumah sakit untuk imunisasi atau kontrol kesehatan bahkan ketika saya me time di salon untuk relaksasi. Karena yes! Menjadi ibu rumah tangga itu terkadang tingkat stressnya lebih tinggi. Bayangin aja, dari buka mata yang dipikirin tuh cucian piring, baju, ngepel lantai, bikin sarapan, bersiin rumah, mandiin anak, layani suami dan segudang pekerjaan lain yang seperti gak ada habis-habisnya. Gitu aja terus sampai malam. Maka relaksasi itu sangatlah penting! Apalagi bagi ibu menyusui karena sangat mempengaruhi kuantitas dan kualitas ASInya. Jadi sambil di massage, kita bisa tetap mengawasi si baby.

Stroller juga sangat membantu kami ketika melakukan perjalanan udara. Ukurannya yang cabin size memudahkan kita membawanya ke atas pesawat sehingga tidak perlu susah payah gendong anak dari terminal keberangkatan hingga boarding. Begitupun ketika travelling, pastinya memudahkan kita mengeksplore suatu tempat.

Stroller baby elle milik Ochy 90% materialnya dari besi. Sehingga cukup berat dibawa ketika dalam posisi dilipat. Karena itu saat mengajak Ochy traveling ke luar negeri, sekalipun saya tidak pernah membawa stroller ini. Belakangan hadir stroller merek yoyo yang memang didesain khusus travelling. Sumpah ngebet banget dengan fitur-fitur super praktisnya! Tapi setelah mengecek harganya, saya mundur teratur. Hahahhaha. Almost 10 juta bo! Hiks. Pengen sewa aja sih tapi gak nemu toko di Makassar yang menyewakan jenis stroller ini. Adanya merek yoya, buatan china yang sumpah miriiiipppp banget! Jika melihat sepintas, sangat sulit menemukan perbedaan keduanya. Nah si yoya ini diberandol dengan harga dibawah 2 juta saja lho. Wow! Namun demikian, saya tetap gak beli. Cukup menyewa di rental toys saja seharga 100 ribu untuk sebulan. Hahahahaha. Pilihan lainnya ada cocolatte pockit, harga di bawah 2 juta juga dan sangat ramping ketika dilipat. Tapi sayangnya meskipun ramping tapi tetap saja lebih berat dari yoya. 

4. Travel Cooker

Travel cooker

Saat traveling apalagi dengan budget pas-pasan maka membawa travel cooker adalah pilihan tepat. Sebab pastinya bisa hemat uang untuk makan. Selain hemat biaya, juga hemat waktu sih karena gak harus muter-muter cari restoran atau tempat makan. Dengan travel cooker kita bisa makan sepuasnya di kamar hotel pun kehalalannya sudah pasti terjamin karena bahan baku dan proses memasaknya kita sendiri yang siapkan. 

So far kami percaya dengan travel cooker maspion mec-3500. Satu set sudah lengkap dengan kompor listrik, panci, mangkok, sendok dan garpu. Ukurannya yang mini dengan desain minimalis tapi fungsi komplit yang maksimal cocok banget dijadikan teman jalan. Bisa dipakai masak nasi, sayur sup, tumisan, goreng nugget, ceplok telur, dll. Masaknyapun bisa sambil melakukan aktivitas lain seperti mandi, buang air, setrika baju, dll.

5. Setrika lipat portable

Sumber gambar : google. Gak sempat fotoin punya sendiri karena dibawa suami ke Timika

Tampil rapi dan kece saat traveling tentunya harus dong ya. Karena penampilan kita sedikit banyak membawa pengaruh atas penilaian orang lain terhadap diri kita. Saya dan Kak Idu sih sebenarnya bukan semata-mata karena alasan itu. Tapi karena kami memang merasa nyaman saja saat pakaian terlihat rapi. Apalagi saya berhijab. Menjaga penampilan terutama ketika traveling di negara-negara minoritas muslim menjadi misi saya pribadi. Kesan bahwa muslimah itu bersih, rapi dan tetap fashionable ingin saya bagikan kepada mereka. Seperti ketika di Hong Kong. Saya berkenalan dengan warga lokal yang cukup terkesima dengan hijab saya. Katanya, selama ini yang sering ia lihat di tv adalah model muslim yang fundamental, lusuh dan sering jadi pengemis di tempat-tempat umum jika bukan teroris dengan bom-bom molotov. Saat berkenalan dengan saya, dia mengaku pandangannya sedikit berubah. Yaa… meskipun saya tidak tau seberapa banyak perubahan itu. Tapi saya bersyukur, telah menjadi jembatan baginya mengenalkan muslim.

Begitupun ketika saya di Jepang. Saat itu saya dalam perjalanan menuju Kyoto. Saya berkenalan dengan warga lokal di kereta gara-gara menolong dia memungut barang-barangnya yang jatuh berserakan ketika kereta tiba-tiba berhenti. Berawal dari obrolan ringan asal usul hingga akhirnya merembet ke percakapan tentang keyakinan karena baginya cara berpakaian saya aneh. Sayapun bersyukur dengan momen itu karena setidaknya saya bisa mengenalkan bagaimana perempuan diatur cara berpakaiannya di dalam Islam.

Setrika lipat portable ini wajib banget dibawa ketika traveling. Selain tetap bisa menjaga penampilan kita rapi juga menghemat biaya laundry cyiint. Soalnya biaya setrika baju di luar negeri itu muahaaall, bagi kami sih! Bayangin aja, satu lembar baju bisa 50 ribu-an. Nah kalau 10 baju?? Apalagi membawa anak kecil pula yang dalam sehari bisa ganti 3-4 kali baju. Berasa kan mahalnya!

Nah itulah barang-barang yang wajib dibawa ketika traveling terutama saat membawa anak kecil. Semoga bermanfaat ya 😁😁

Advertisements

Kampili dan Pesona Bendungannya

Bulan Maret telah memasuki batas akhir. Tinggal hitungan jam, April segera menyapa. Ah… Waktu memang sangat ambigu ya. Kadang ia terasa begitu cepat berlalu dan di lain kesempatan terasa begitu lambat. 

Kami menutup bulan ke tiga ini dengan mengajak Ochy ke sebuah desa tak jauh dari Kota Makassar. Terlebih lagi lebih dekat dari rumah kami yang secara administratif telah masuk ke Kabupaten Gowa. Hanya sekitar 30 menit saja berkendara motor dengan kecapatan standar 40km/jam. Desa itu bernama Kampili yang populer dengan bendungannya yang terintegrasi ke Bili-Bili. 

Sore itu, selepas ashar kamipun berangkat. Bertiga, kami naik motor membelah jalan poros Makassar-Gowa. Meski langit sedikit mendung syukurnya hujan tetap menggantung di awan-awan kelabu hingga kami tiba kembali di rumah.

Cara menuju Bendungan Kampili

Tidaklah sulit untuk sampai ke Desa Kampili pun hingga ke bendungannya yang cantik dengan batu-batu cadas yang besar. Berikut saya uraikan secara lengkap bagaimana menuju bendungan Kampili :

1. Jika dari arah Makassar, teruslah melaju hingga ke jembatan kembar Gowa. Tepat di sisi kiri jembatan, ada belokan menurun. Nah… ikutilah jalan beton itu. Lurus saja hingga tiba di sebuah gapura bertuliskan selamat datang di Desa Kampili. Selama dalam perjalanan, kita akan melewati areal persawahan yang luas dan rumah penduduk yang terbagi dalam dusun. Beberapa diantara rumah penduduk itu terhampar gabah yang dijemur di pekarangan ataupun di pinggir jalan. Kegiatan menjemur gabah ini, oleh masyarakat setempat disebut dengan angngalloi.

2. Ketika tiba di persimpangan pasar Taipa Le’leng, ambillah arah ke kiri menuju kampus IPDN Sulsel. Dari sana, terus saja hingga tiba di gapura kampung KB Dusun Je’nemadinging. Jika sudah sampai di gapura ini tetaplah terus mengikuti jalan aspal hingga ujung yang ditandai bangunan bendungan beratap biru. Di sana akan ada dua jalur. Kedua jalur itu menuju spotlight wisata bendungan Kampili. Saya sarankan untuk mengambil jalur yang kedua. Selain jalannya yang beraspal mulus, di jalur ini kendaraan kita insyaAllah juga aman setelah membayar uang masuk sekaligus uang parkir yang dipungut masyarakat setempat sebesar Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 5.000 untuk mobil. Sementara di jalur pertama adalah jalur ilegal yang tanpa pungutan biaya apapun namun dengan risiko kehilangan kendaraan.

Secara umum, kondisi jalan menuju Desa Kampili sudah bagus. Meskipun tidak mulus sempurna karena di beberapa titik tertentu ada yang berlubang, berbatu dan berlumpur namun masih bisa dilalui kendaraan dengan baik.

Persimpangan di dekat Pasar Taipa Le’leng
Kampus IPDN Sulsel. Ikuti saja terus jalan aspal hingga mentok.
Gerbang kampus IPDN Sulsel
Jika telah sampai di gapura kampung kb ini, terus saja hingga mendapat bangunan bendungan beratap biru
Ini adalah ujung Desa Kampili sekaligus tempat dimana bendungan berada. Jalur pertama adalah ilegal dengan jalan berbatu tanpa aspal. Sementara jalur kedua adalah jalur resmi dengan pungutan biaya parkir kendaraan
Gerbang masuk ala kadarnya. Di sini kita harus membayar biaya parkir kendaraan

Mengapa harus ke Desa Kampili?

Kebanyakan orang ke Desa Kampili karena ingin menikmati bendungannya yang tak biasa. Begitupun dengan saya. Tapi nyatanya, selain menyuguhkan keindahan bendungan, Desa Kampili juga menawarkan kehidupan alami pedesaan yang bersahaja dan sarat akan nilai untuk disisipkan sebagai pelajaran kepada anak. Diantaranya :

1. Annanang dan Akkatto

Adalah kegiatan menanam bibit padi baru dan memanen padi lama. Masyarakat Kampili melakukannya secara bergotong royong dan penuh suka cita. Pemandangan yang sangat langka di tengah hiruk pikuk perkotaan. Ochy sendiri sangat menikmati jerami-jerami yang terhempas dari mesin sederhana maupun yang dipukul-pukul masyarakat secara manual ke sebuah bilah kayu agar padi-padinya rontok.

2. Angngalloi atau menjemur gabah

Padi-padi yang telah dirontokkan lalu dijemur di halaman rumah ataupun di pinggir jalan. Setelah itu akan datang mobil pick up berisi mesin penggiling untuk mengolah gabah menjadi beras siap konsumsi.

3. Akkalawaki atau mengembala

Hewan ternak yang digembalakan masyarakat Kampili adalah sapi dan kerbau. Biasanya dilakukan oleh pemuda-pemuda kampung bersarung. Selama dalam perjalanan, kami menikmati pemandangan gerombolan sapi dan kerbau yang digiring pulang oleh si pengembala.

4. Anak lebih mengenal bendungan dan fungsinya. Meskipun sama-sama menampung debit air yang banyak, kita bisa menyisipkan pelajaran tentang perbedaan pantai, laut, sungai, danau dan bendungan itu sendiri agar anak lebih memahami perbedaannya.

5. Kearifan lokal yang jarang atau bahkan tidak kita jumpai di kota-kota besar seperti keramahan penduduk, gotong royong dan kepolosan mereka akan kejujuran.

Berikut beberapa hasil dokumentasi di bendungan Kampili. Sayangnya langit mendung sehingga hasil gambarnya kurang cetar.

Ke spot ini harus melalui jalan menurun cukup tajam dengan batu-batu licin sehingga harus ekstra hati-hati
Batu-batu khas Bendungan Kampili. Saat kemarau, batu-batu ini akan tampak lebih epic.
Sisi atas bendungan tak jauh dari tempat parkir
Pose andalan. Karena cukup berbahaya, saya tidak berani menerbangkan Ochy tanpa dipegang.
Menuju batu-batu cadas bendungan. Curam dan licin.
Nih anak paling senang dah lari-lari di alam terbuka begini.

Saya sangat merekomendasikan kunjungan keluarga ke Desa Kampili. Selain biayanya murah meriah, banyak pelajaran yang bisa kita petik. Saya sendiri hanya mengeluarkan uang Rp 30.000 saja dengan rincian isi bensin Rp 20.000, parkir Rp 2.000 dan sisanya untuk beli snack dan minuman di warung tempat parkir kendaraan.

Ya ampuunn… kebayang gak sih? Tiga puluh ribu perak doang! Uang segitu bahkan tidak ada artinya jika dibawa ke mall. Beli secangkir kopi di starbucks aja gak cukup, man! Tapi di Desa Kampili, kita bisa ‘membeli’ pengalaman luar biasa tentang kehidupan alami perkampungan.