No Nanny No Cry??

Source : Google

Jujur saja sebelum saya menikah lalu dianugerahi anak-anak yang lucu, menggemaskan dan semoga shalih-shalihah nantinya (amiin) saya tidak pernah membayangkan akan luar biasa begini perjalanannya. Dulu saya berpikir bahwa mengasuh anak itu mudah, tidak perlu disekolahipun bisa karena ini menyangkut kemampuan dasar perempuan yang sudah fitrahnya hamil dan melahirkan. Pastinya akan sangat menyenangkan. Apalagi basically saya memang sudah cinta dengan dunia anak-anak. Saya mendedikasikan waktu-waktu luang saat kuliah dulu dengan komunitas-komunitas yang berkonsentrasi pada masalah anak. Beberapa kali juga terlibat dalam proyek dan kegiatan yang bekerjasama dengan UNICEF khususnya yang berkaitan dengan kesehatan karena disiplin ilmu saya di bidang Kesehatan Masyarakat. Bahkan pernah secara mandiri berinisiatif mendirikan kelompok anak asuh dari anak-anak segala usia di sekitar rumah. Pun ajaibnya, saya kecil yang dulunya jika ditanya hendak menjadi apa (profesi) saat dewasa nanti, saya selalu menjawab dengan lantang : mau jadi dokter anak atau guru TK. Sayangnya saya tidak pernah berhasil masuk dalam sekolah kedokteran tapi alhamdulillah punya pengalaman seru sebagai guru TK.

Saya baru sadar setelah memiliki anak sendiri, semua tidak seindah dengan pengalaman yang saya punya dan teori-teori yang saya terima dari seminar parenting. Mengasuh dan mendidik anak sendiri rupanya tantangannya luar biasa. Apalagi jika mengasuhnya seorang diri dalam artian yang sesungguhnya (di rumah hanya tinggal bersama anak-anak tanpa siapapun termasuk suami dan orang tua atau kerabat apalagi nanny). Ternyata beraaaatttt shaaayy! 😂😂

Dulunya terasa mudah karena mungkin waktu saya tidak dihabiskan 24 jam bersama anak-anak. Palingan 3-4 jam saja. Kalaupun ada yang harus 24 jam, setidaknya hanya berlangsung maksimal 3 hari, tidak lebih. Dan lagi anak-anak tersebut juga tidak ada yang bayi. Paling kecil usia 4 tahunan. Sudah pintar makan sendiri, pintar pipis sendiri dan sudah pintar berbicara untuk menyatakan apa yang mereka inginkan. Pun saya tidak sendiri menghadapinya. Tapi beramai-ramai dengan teman komunitas.

Lain halnya dengan kondisi saya saat ini yang diamanahi 1 toddler super aktif dan 1 bayi super nenen. 

Anak pertama saya laki-laki. Di bulan September ini sudah berusia 2.8 tahun dan sedang aktif-aktifnya. Rasa penasarannya sangat tinggi sehingga sering melakukan hal-hal yang membuatku kewalahan dalam mengawasi. Kalau sudah begini sering tanpa sadar terlontar kalimat-kalimat larangan yang secara teori saya tau itu tidak baik bagi perkembangan anak namun pada praktiknya saya tetap tidak bisa menghindari. Dalam sehari pasti ada saja hal yang memaksa saya pada akhirnya berkata “jangan”, “tidak boleh”, “no” dan sejenisnya. Dan ini membuat saya kadang merasa sedih setelahnya. Karena saya tau persis, itu sangat buruk bagi tumbuh kembang anak. Apalagi jika sudah terlanjur memarahi Ochy yang seringkali karena refleks jika Ochy melakukan hal-hal yang sangat membahayakan keselamatan adiknya seperti ditutupin bantal (yang dalam dunia Ochy ternyata itu adalah main ci luk ba), dicium sampai digigitin karena katanya gemes atau lompat-lompat di sekitar adiknya lalu menjatuhkan diri ke segala arah, yang fatalnya sering menuju si adik. Kalau sudah begitu, tangan saya bertindak lebih cepat dari mulut. Praktis, Ochy ditarik yang sayangnya dengan kasar. Lalu setelah itu saya akan sangat menyesalinya. Karena saya tau persis, perbuatan itu tidak hanya menyakiti fisik si anak, tapi juga menyakiti perasaannya. Lalu mengapa saya masih juga terpancing melakukannya? Sungguh perasaanku terluka atas perbuatanku itu. Susah menjelaskannya. Tapi saya percaya, emak-emak pasti tau gimana rasanya. Sakit say! 

Anak kedua saya perempuan. Saat ini berusia 4 bulan dan sangat kuat menyedot ASI. Ya, saya berkomitmen dengan diri sendiri agar Baby Yui mendapatkan haknya : ASI hingga usia 2 tahun sejak hari pertama ia lahir ke dunia. Yui termasuk baby yang lebih suka nenen secara langsung sehingga botol-botol ASIP saya banyak yang menganggur. Ada baiknya juga sih karena saya tidak harus repot-repot mencuci dot dan botol susu. Tidak mesti was-was dengan higienitas pompa asi juga tidak perlu khawatir kualitas asinya masih bagus atau tidak. Apalagi jika harus bepergian. Tidak perlu membawa alat perang seperti tentara. Kalau Yui lapar atau haus tinggal buka baju dan sodorin langsung ke pabriknya. Aman. 

Tapi Yui tipe baby yang kuat nenen. Apalagi di masa-masa GS kemarin. Bisa nenen 5 jam! Serius??? Iya. Sampai semua posisi sudah dilakukan agar tidak encok. Ya duduk, baring miring kanan-kiri, duduk lagi sampai si emak tertidur dan tidak sadar lagi apakah si baby masih menyedot atau tidak. Masa GS itu berat karena si baby tidak mau berhenti menyusu. Meski sudah kenyang, gumoh tetap saja ia tidak mau lepas ngenyot. Asal buka mataaaaa aja, akan nangis jedeerrr jika tidak nempel ke gentong asinya. Jujur saya hampir menyerah untuk ASI ekslusif apalagi di masa GS yang berlangsung selama 2 bulan itu. Tapi karena sudah diniatkan, alhamdulillah terlewati juga.

Nah mengasuh anak ternyata menguji iman dan kewarasan lho. Bayangkan saja, sejak subuh buta sudah harus masak sambil beres-beres rumah yang berlangsung berjam-jam, eh dalam semenit rumah yang rapih sudah seperti kapal pecah lagi oleh si Ochy yang baru bangun tidur. Belum juga merapikan kembali, si baby ikut bangun minta nenen. Well, tinggalkan sementara pekerjaan rumah. Baby yang kelaparan adalah prioritas. Sedang posisi uwenak menyusui Yui, tiba-tiba si toddler teriak dari kamar mandi minta dicebokin karena pup. Diminta tunggu sebentar, ogah kompromi. Adanya teriakan lebih kencang. Kalau dibiarkan terus, bisa mengganggu si baby yang sebenarnya sudah siap-siap tidur kembali. Tapi kalau melepaskan pabrik asi si baby sebelum ia melepaskannya sendiri, bukannya tertidur si baby malah nangis jeder. Pusiiiinggg cyint! Bingung mau dahulukan yang mana. Ngarepnya sih kalau dahulukan Ochy, Baby Yui plissss tidurlah. Kan sudah agak lama nenennya. Atau kalau prioritaskan Yui, pengennya sih Ochy tenang-tenang saja dulu di kamar mandi sampai akhirnya saya datang yang berarti si baby sudah tidur. Kenyataannya?? Saya seperti setrika rusak yang bolak-balik kamar tidur dan kamar mandi. Kok bolak-balik? Karena keduanya berkonspirasi untuk menyajikan konser pagi : sama-sama nangis kencang!

Pernah juga dihadapkan pada kondisi tangan kanan menyuapi si toddler yang masih ingin bermanja, meski sebenarnya dia sudah bisa makan sendiri. Tapi ya namanya juga anak-anak. They are according to their mood. Lalu tangan kiri memegang sapu dan si baby di gendong di dada dengan bantuan geos. Badut sudah kalah gaya deh pokoknya dari saya. Dan menjadi kurang waras jika si toddler makannya sambil lari ke sana ke mari, keluar masuk rumah sambil membawa pasir atau rumput di lantai yang baru beberapa menit yang lalu saya gosok.

Juga sering sekali dihadapkan pada kondisi anak-anak tidurnya tidak bersamaan. Jadi harus dikeloni satu-satu. Si baby tidur, si toddler minta ditemani main. Giliran si toddler mengantuk, eh si baby sudah terbangun. Terus ini emaknya kapan istirahatnya?? 😂😂 padahal pengennya sih ya anak-anak tidur bersamaan, biar si emak juga bisa ikut tidur.

Hal lain yang sangat menganggu karena sifat ke-rapih-an saya yang tidak mau kompromi. Lihat ruangan berantakan saja, pikiran saya ikut kusut seberantakan ruangan itu. Menambah kadar perasaan stress. Dan tau sendiri kalau sudah stress = asi seret. Semakin sereeeettt karena belum makan apa-apa sejak buka mata.

Kalau sudah lelah begini, saya kadang menyerah, melambaikan bendera putih tinggi-tinggi lalu melarikan diri ke rumah orang tua 😂😂.

Lho… memangnya kenapa gak pakai jasa Nanny?? Jujur saja, untuk pengasuhan anak-anak saya tidak pernah mau menyerahkannya kepada siapapun termasuk orang tua dan keluarga saya sendiri. Bukannya tidak percaya, tapi saya selalu memikirkan hal ini : saya sendiri, ibu yang melahirkannya, bisa saja memarahi dan memukulnya. Bagaimana dengan orang lain?? Soalnya saya tau persis tingkat super duper keaktifan si Ochy yang sangat menguji iman 😂 . Ah… sudahlah. Semua ibu pasti pernah memarahi anaknya, tapi tidak akan terima jika orang lain yang memarahinya, meskipun itu suaminya sendiri. Iyya gak bu ibuuk?? Hehehe. Lagian kalau mau dititipkan ke orang tua. Duh ya Allah… mereka itu sudah seharusnya menikmati masa tua tanpa urusan beginian lagi. Sudah cukup lelahnya saat mengasuh kita dulu di waktu kecil.

Beda halnya dengan urusan rumah tangga seperti cuci piring, cuci baju, setrika, melipat, menyapu, pel, memasak, siram tanaman dan lain-lain, saya mau saja ada yang mengambil alih tugas ini. Misalnya oleh asisten rumah tangga (selanjutnya disingkat ART) yang bertugas menjaga kebersihan dan kerapihan rumah. Tapi entah mengapa kok tidak ada yang bertahan lama 😂😂😅

ART pertama, ibu-ibu usia 40 tahun. Kerjanya 30%, ceritanya 70%. Asli bacrit alias banyak cerita. Sampai-sampai bagikan gosip tetangga-tetangga yang seharusnya tidak perlu saya tau. Hal menyebalkan lainnya sering minta pinjam uang dengan berbagai alasan. Pertama buat bayar spp anak, oke saya kasih. Kedua buat beli baju anak bungsu, oke juga saya kasih. Ketiga untuk dikirimkan ke orang tua di Jawa. Saya mulai curiga, ini kok saya kayak dimanfaatin ya. Meski begitu saya tetap kasih. Yang keempat, saya sudah bilang NO duluan sebelum dia menyatakan alasannya. Bukan apa-apa, yang sebelum-sebelumnya dipinjamkan saja belum lunas semua! Bahkan tidak bisa gajian lagi karena harus membayar sisa utang. Akhirnya saya minta dia berhenti bekerja setalah 3 bulan bersama-sama.

ART kedua, gadis usia 18 tahun. Kerjanya kebanyakan main HP alih-alih menyelesaikan pekerjaan rumah. Bikin capek hati karena ujung-ujungnya saya yang tetap turun tangan. Fatalnya, dia menginap di pos security saat saya tinggal ke Timika. Padahal saya sudah minta dia pulang ke rumahnya dulu karena selama beberapa bulan ke depan saya tidak akan di Makassar. Kejadian itu membuat saya dan Kak Idu maluuuu banget. Apalagi saya tau kejadian itu dari petugas kebersihan yang akrab menyapu halaman rumah kami. Cerita yang sama juga kami dengar dari security blok sebelah. Parahnya, ke semua security dia mengaku sebagai keponakan saya 😂. Syukurnya security di blok rumah kami sekarang sudah diganti. Jadi saya pura-pura saja tidak tahu menahu soal itu.

ART ketiga, janda usia 19 tahun. Orangnya rajin sekali. Belum saya suruh kerja saja, sudah dikerjakan duluan. Saya suka dengannya dan berharap bisa tinggal lama-lama dengan saya. Apalagi status pendidikannya terakhir tercatat sebagai mahasiswa. Tapi baru juga 3 hari bekerja, 3 orang lelaki datang ke rumah menjemputnya. Mengaku sebagai keluarganya. Rupanya dia ini sudah setahun dicari-cari. Jadilah sejak hari itu juga dia meninggalkan rumah kami. Meski baru 3 hari bekerja, saya tetap membayarkan setengah bulan gajinya sebagai hadiah untuk anaknya.

ART keempat, gadis usia 17 tahun. Dia datang hanya beberapa hari sejak kepergian Tina, ART sebelumnya yang dijemput oleh keluarganya. Dia ini bersiiihhh dan cepat kerjanya. Saya suka cara kerjanya, apalagi dia polooosss banget. Jadi suatu malam sekitar jam 2 dini hari, saya ke dapur hendak buatkan Ochy susu. Ketika melintas di kamarnya, saya melongo karena pintunya dibiarkan terbuka. Dan betapa terkejutnya karena dia tidur di lantai tanpa alas apapun! Keesokan paginya saya tanya, kenapa tidur di bawah? Dengan polosnya dia jawab tidak terbiasa tidur di atas spring bed 😅😂. Sayangnya, hanya bertahan 2 hari saja. Katanya tidak betah karena sepi dan kurang kerjaan. Ya ampuun..

Ini kok kayaknya curcol banget ya 😂😂 Ah… biarin ajalah. Setidaknya dengan berbagi cerita seperti ini sedikit mengurangi tingkat ketegangan syaraf di kepalaku 😆😆

Source : Google

So no nanny no cry?? Kalau aku sih yes! Tapi nangis bombay kalau gak ada housemaid. Soalnya gak kuat membayangkan pekerjaan rumah yang tak ada habis-habisnya. 😆😆

Advertisements

Jelang HPL

Ketika hamil terutama masa-masa jelang partus, konpal alias kontraksi palsu sering terjadi. Kondisi ini ditandai dengan peregangan otot rahim yang disertai rasa nyeri khususnya di bagian vagina. Meskipun ini normal dan tidak berbahaya namun tetap saja menimbulkan rasa tidak nyaman.

Pada kehamilan pertama, saya cukup direpotkan dengan kontraksi yang dalam dunia medis dikenal Braxton Hiks ini. Saya kesulitan membedakan kontraksi palsu dan kontraksi persalinan meskipun sebagai alumni kesmas, saya telah khatam tentang keduanya secara teori. Mungkin efek panik, excited sekaligus kesakitan sehingga membuyarkan segala kesadaran dan mengaburkan semua pengetahuan yang saya punya. Akibatnya saya dan suami harus berkali-kali bolak-balik ke rumah sakit. Padahal jarak Denpasar ke Kuta lumayan juga. Apalagi kalau sedang macet, bisa lebih lama lagi di jalan. Kontrol kehamilan saya memang dilakukan di RS Internasional Siloam Bali yang lokasinya di daerah Kuta. Di Denpasar ada banyak sih RSIA maupun rumah sakit umum tapi karena setiap kontrol kesehatan dilakukan di Siloam, ya sudah pas hamil sekalian kontrolnya di sana juga biar sekali jalan gitu. Pas mau lahiran baru deh berasa susahnya kalau jarak jauh begini.

Pada kehamilan kedua ini, persiapan saya lebih matang menghadapi persalinan. Kontraksi palsu yang kerap muncul saya cuekin saja. Cukup menarik napas panjang dari hidung dan dihembuskan lewat mulut alhamdulillah sudah kembali merasa nyaman. Ibu saya yang justru sangat khawatir melihat saya sedikit-sedikit nyengir menahan sakit. Jangan-jangan saya sudah mau melahirkan, katanya. Berkali-kali diajak ke rumah sakit tapi saya selalu pastikan belum saatnya. Ini masih kontraksi palsu. Pokoknya selama rasa sakitnya belum teratur dan masih di sekitar daerah Miss V saja, tidak perlu khawatir. Sebab bisa dipastikan belum saatnya melahirkan. Sementara kontraksi persalinan yang sebenarnya, wuiihhh… gak kebayang rasanya. Pokoknya senyum saja sudah tidak sanggup dilakukan saking sakitnya! Rasa nyerinyapun menyebar hingga ke pinggul. Dan ini berlangsung selama beberapa jam hingga akhirnya bukaan lengkap dan kepala bayi mencuat keluar.

Saat melahirkan Ochy saya gagal dengan jalan pervaginam karena bukaan saya macet sementara badan sudah membiru menahan sakitnya kontraksi. Kata dokter SpOG yang menangani saya sejak hamil hingga mau lahiran ini, seharusnya saya sudah bukaan delapan berdasarkan observasi jeda kontraksi. Tapi nyatanya saya mentok di bukaan dua saja. Parahnya, beberapa jam kemudian bukaannya malah gak ada sama sekali alias kembali nol. Ya Allah… padahal sakitnya sudah tidak tertahankan. Nyawa sudah seperti diujung. Saya sempat minta diinduksi tapi tidak diizinkan karena kondisiku dianggap tidak memungkinkan. Maka sayapun segera dipindahkan dari kamar persalinan ke kamar operasi untuk tindakan sectio caesarea.

Ini adalah operasi pertama saya selama hidup. Dan jujur saja, saya ketakutan. Mendengar kata operasi saja rasanya sangat menyeramkan. Bagaimana jika operasinya gagal? Bagaimana jika pendarahan? Bagaimana jika terjadi begini dan begitu? Aaakk… Selftalk saya mulai menjalar mengisi kepala. Sebelum menelan saya bulat-bulat dan melumatkan segenap keberanian yang saya punya, secercah harapan datang menerangi. Mungkin kiriman do’a dari orang-orang yang menyayangiku. Kekuatannya begitu terasa. Seketika saya mampu berpikir logis bahwa semuanya akan baik-baik saja. Toh saya ditangani tenaga medis profesional, di rumah sakit terbaik, ditemani keluarga dan sahabat terlebih saya punya Allah yang maha kuasa. Cukup meminta keridhaanNya semoga dilancarkan dan diselamatkan. Yaa.. hanya meminta! Dan belas kasihNya insyaAllah tercurah.

Melihat saya berjuang menahan sakit, Kak Idu sekalipun tidak berhenti menyemangati meski saya tahu dia sendiripun sebenarnya berusaha melawan ketakutannya. Matanya merah. Terlihat jelas ia menahan tangis. Ekspresi wajahnya cemas. Namun genggaman tangannya tetap kokoh mentransfer energi positif kepadaku. Yaa.. suamiku itu kadang memang sedikit jabe sih (terbawa perasaan gitu). Hahaha. Biasanya kalau melihat saya menangis, matanyapun ikut basah. Kak Idu itu tipikal suami yang selalu berusaha membahagiakan istri. Dia paling tidak tahan jika ada hal yang membuatku bersedih. Apapun akan dilakukannya agar senyumku kembali tersungging, termasuk bertingkah bodoh menjelek-jelekkan wajahnya dengan berbagai ekspresi konyol : gigi dimonyong-monyongkan, mata dijuling-julingkan, hidung ditekan dan kedua lubangnya diangkat dengan jari, joget-joget ala monyet, lompat-lompat seperti vampire China, garuk-garuk ketek, dan lain-lain semata-mata agar aku kembali goodmood. Jadi kebayang kan gimana perasaanya dia saat ini, menyaksikan saya berjuang habis-habisan untuk sebuah kehidupan sang anak sementara dirinya tidak mampu melakukan banyak hal. Saya tahu dia pasti begitu tersiksa.

Singkat cerita, lahir juga tuh si Ochy dengan berat badan 3.500 gram dan panjang 52 cm. Operasinya alhamdulillah berjalan lancar dan cepat. Kurang dari 30 menit, suara bayi menangis memecah ruang dingin yang sepi itu. 

Sulit saya jelaskan bagaimana rasanya ketika memandang Ochy secara langsung. Segera dia didekapkan ke dadaku untuk IMD dan mulai saat itu, saya resmi bergelar IBU. Momen paling mengharukan bagi seorang wanita. 

Beberapa hari ke depan, insyaAllah saya akan melahirkan anak kedua. Jika sesuai HPL (Hari Perkiraan Lahir) insyaAllah akan jatuh pada tanggal 3 Mei mendatang. Meski bukan kelahiran yang pertama tapi tetap saja excited, was-was, bahagia ah pokoknya campur aduk deh. Baby girl yang selama ini hanya bisa kuajak bicara tanpa melihat wajahnya secara langsung akan segera hadir di hadapanku. Baby girl yang selama ini hanya kurasakan pergerakannya di dalam rahim sebentar lagi berjumpa denganku. Menimangnya, mendekapnya, mengelus wajahnya, menyusuinya dengan penuh cinta. Semoga diberi kemudahan dan kelancaran, serta ibu dan bayi selamat. Amiin yaa Rabb

*menunggu hari 😍😍