Jelang HPL

Ketika hamil terutama masa-masa jelang partus, konpal alias kontraksi palsu sering terjadi. Kondisi ini ditandai dengan peregangan otot rahim yang disertai rasa nyeri khususnya di bagian vagina. Meskipun ini normal dan tidak berbahaya namun tetap saja menimbulkan rasa tidak nyaman.

Pada kehamilan pertama, saya cukup direpotkan dengan kontraksi yang dalam dunia medis dikenal Braxton Hiks ini. Saya kesulitan membedakan kontraksi palsu dan kontraksi persalinan meskipun sebagai alumni kesmas, saya telah khatam tentang keduanya secara teori. Mungkin efek panik, excited sekaligus kesakitan sehingga membuyarkan segala kesadaran dan mengaburkan semua pengetahuan yang saya punya. Akibatnya saya dan suami harus berkali-kali bolak-balik ke rumah sakit. Padahal jarak Denpasar ke Kuta lumayan juga. Apalagi kalau sedang macet, bisa lebih lama lagi di jalan. Kontrol kehamilan saya memang dilakukan di RS Internasional Siloam Bali yang lokasinya di daerah Kuta. Di Denpasar ada banyak sih RSIA maupun rumah sakit umum tapi karena setiap kontrol kesehatan dilakukan di Siloam, ya sudah pas hamil sekalian kontrolnya di sana juga biar sekali jalan gitu. Pas mau lahiran baru deh berasa susahnya kalau jarak jauh begini.

Pada kehamilan kedua ini, persiapan saya lebih matang menghadapi persalinan. Kontraksi palsu yang kerap muncul saya cuekin saja. Cukup menarik napas panjang dari hidung dan dihembuskan lewat mulut alhamdulillah sudah kembali merasa nyaman. Ibu saya yang justru sangat khawatir melihat saya sedikit-sedikit nyengir menahan sakit. Jangan-jangan saya sudah mau melahirkan, katanya. Berkali-kali diajak ke rumah sakit tapi saya selalu pastikan belum saatnya. Ini masih kontraksi palsu. Pokoknya selama rasa sakitnya belum teratur dan masih di sekitar daerah Miss V saja, tidak perlu khawatir. Sebab bisa dipastikan belum saatnya melahirkan. Sementara kontraksi persalinan yang sebenarnya, wuiihhh… gak kebayang rasanya. Pokoknya senyum saja sudah tidak sanggup dilakukan saking sakitnya! Rasa nyerinyapun menyebar hingga ke pinggul. Dan ini berlangsung selama beberapa jam hingga akhirnya bukaan lengkap dan kepala bayi mencuat keluar.

Saat melahirkan Ochy saya gagal dengan jalan pervaginam karena bukaan saya macet sementara badan sudah membiru menahan sakitnya kontraksi. Kata dokter SpOG yang menangani saya sejak hamil hingga mau lahiran ini, seharusnya saya sudah bukaan delapan berdasarkan observasi jeda kontraksi. Tapi nyatanya saya mentok di bukaan dua saja. Parahnya, beberapa jam kemudian bukaannya malah gak ada sama sekali alias kembali nol. Ya Allah… padahal sakitnya sudah tidak tertahankan. Nyawa sudah seperti diujung. Saya sempat minta diinduksi tapi tidak diizinkan karena kondisiku dianggap tidak memungkinkan. Maka sayapun segera dipindahkan dari kamar persalinan ke kamar operasi untuk tindakan sectio caesarea.

Ini adalah operasi pertama saya selama hidup. Dan jujur saja, saya ketakutan. Mendengar kata operasi saja rasanya sangat menyeramkan. Bagaimana jika operasinya gagal? Bagaimana jika pendarahan? Bagaimana jika terjadi begini dan begitu? Aaakk… Selftalk saya mulai menjalar mengisi kepala. Sebelum menelan saya bulat-bulat dan melumatkan segenap keberanian yang saya punya, secercah harapan datang menerangi. Mungkin kiriman do’a dari orang-orang yang menyayangiku. Kekuatannya begitu terasa. Seketika saya mampu berpikir logis bahwa semuanya akan baik-baik saja. Toh saya ditangani tenaga medis profesional, di rumah sakit terbaik, ditemani keluarga dan sahabat terlebih saya punya Allah yang maha kuasa. Cukup meminta keridhaanNya semoga dilancarkan dan diselamatkan. Yaa.. hanya meminta! Dan belas kasihNya insyaAllah tercurah.

Melihat saya berjuang menahan sakit, Kak Idu sekalipun tidak berhenti menyemangati meski saya tahu dia sendiripun sebenarnya berusaha melawan ketakutannya. Matanya merah. Terlihat jelas ia menahan tangis. Ekspresi wajahnya cemas. Namun genggaman tangannya tetap kokoh mentransfer energi positif kepadaku. Yaa.. suamiku itu kadang memang sedikit jabe sih (terbawa perasaan gitu). Hahaha. Biasanya kalau melihat saya menangis, matanyapun ikut basah. Kak Idu itu tipikal suami yang selalu berusaha membahagiakan istri. Dia paling tidak tahan jika ada hal yang membuatku bersedih. Apapun akan dilakukannya agar senyumku kembali tersungging, termasuk bertingkah bodoh menjelek-jelekkan wajahnya dengan berbagai ekspresi konyol : gigi dimonyong-monyongkan, mata dijuling-julingkan, hidung ditekan dan kedua lubangnya diangkat dengan jari, joget-joget ala monyet, lompat-lompat seperti vampire China, garuk-garuk ketek, dan lain-lain semata-mata agar aku kembali goodmood. Jadi kebayang kan gimana perasaanya dia saat ini, menyaksikan saya berjuang habis-habisan untuk sebuah kehidupan sang anak sementara dirinya tidak mampu melakukan banyak hal. Saya tahu dia pasti begitu tersiksa.

Singkat cerita, lahir juga tuh si Ochy dengan berat badan 3.500 gram dan panjang 52 cm. Operasinya alhamdulillah berjalan lancar dan cepat. Kurang dari 30 menit, suara bayi menangis memecah ruang dingin yang sepi itu. 

Sulit saya jelaskan bagaimana rasanya ketika memandang Ochy secara langsung. Segera dia didekapkan ke dadaku untuk IMD dan mulai saat itu, saya resmi bergelar IBU. Momen paling mengharukan bagi seorang wanita. 

Beberapa hari ke depan, insyaAllah saya akan melahirkan anak kedua. Jika sesuai HPL (Hari Perkiraan Lahir) insyaAllah akan jatuh pada tanggal 3 Mei mendatang. Meski bukan kelahiran yang pertama tapi tetap saja excited, was-was, bahagia ah pokoknya campur aduk deh. Baby girl yang selama ini hanya bisa kuajak bicara tanpa melihat wajahnya secara langsung akan segera hadir di hadapanku. Baby girl yang selama ini hanya kurasakan pergerakannya di dalam rahim sebentar lagi berjumpa denganku. Menimangnya, mendekapnya, mengelus wajahnya, menyusuinya dengan penuh cinta. Semoga diberi kemudahan dan kelancaran, serta ibu dan bayi selamat. Amiin yaa Rabb

*menunggu hari 😍😍