Delivering The Baby Birth : Welcome To The World, Baby Yui!

View Kota Makassar dari kamar rumah sakit.

Rabu, 3 Mei 2017

Pagi-pagi sekali saya mengecek kembali isi tas yang akan dibawa ke rumah sakit yang sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Saya memastikan kembali tak ada barang yang ketinggalan terutama untuk keperluan bayi. Jika sesuai dengan HPL, hari ini insyaAllah saya akan melahirkan. Tapi dari pagi hingga malam, tanda-tanda melahirkan tak kunjung ada. Saya masih seperti biasa, sehat bugar dan aktif. Belum mengalami kontraksi sama sekali.

Selepas maghrib, saya mendapat kejutan. Kak Idu ternyata datang lebih awal dari yang dijadwalkan. Bahagia, tentu saja! Apalagi jika sebelumnya dapat berita bahwa ia tidak bisa pulang menemani saya melahirkan anak kedua sebab jadwal cutinya nanti jelang lebaran idul fitri bulan depan. Jujur saya stress berat menerima berita itu. Membayangkan saat-saat pertaruhan nyawa tanpa didampingi suami tercinta tentunya menyakitkan sekali.

Pukul dua dini hari saya mengalami kontraksi hebat. Sakitnya minta ampun! Tapi saya bisa pastikan ini hanyalah kontraksi palsu sebab jeda rasa sakitnya belum teratur. 

Kamis, 4 Mei 2017

Sedang sarapan pagi bersama. Menunya nasi kuning yang saya pesan melalui ojek online. Nafsu makan saya tidak berubah. Tetap lahap dan selalu merasa lapar terus. Baru makan setengah porsi, kontraksi datang tiba-tiba. Rasa sakitnya lebih kuat dari semalam. Saking sakitnya, saya harus menjatuhkan badan ke lantai. Meringkuk salah, telentang pun rasanya tak enak. Ingin kembali duduk, juga terasa sakit. Tak ada posisi yang nyaman. Tak berapa lama, kontraksinya berhenti. Dan dasar saya yang masih kelaparan, nasi kuning yang tadi sempat ditinggal, saya makan lagi hingga piringnya bersih. Hahahaha. Setelah itu kamipun siap-siap ke rumah sakit.

Di kamar rawat inap sebelum Ochy pulang bersama kakek dan nenek.
It’s how mom and son talk each other from heart to heart. Memberi pengertian mengapa Ochy tidak bisa ikut menginap

Di RS Siloam Makassar kami mendapat kamar di lantai tujuh dengan view laut yang super keren terutama saat matahari terbenam. Ochy tidak kami izinkan menginap di rumah sakit. Karena itu ia ikut kakek-nenek pulang pada pukul 9 malam. Ini adalah yang kedua kali saya tidur berpisah dengan si anak lanang sejak saya tinggalkan ke Jepang 2 tahun lalu. Rasanya bikin nyesek! 

View Kota Makassar dari jendela kamar

Jum’at 5 Mei 2017

Pukul 6 pagi saya sudah mandi dengan sabun khusus yang telah disiapkan perawat. Baunya tidak enak dan membuat kulit terasa kering. Setelah memastikan ke dokter saya boleh memakai body lotion, segera saya usap ke seluruh badan. Selang infus telah terpasang sejak kemarin. Tapi baru hari ini disambungkan dengan cairan. 

Pukul 8.30 saya dibawa ke ruang operasi dengan kursi roda. Jauh berbeda dengan kondisi saya saat melahirkan anak pertama yang harus digiring ke kamar operasi di atas ranjang karena emergency. Persalinan kali ini tetap akan dilakukan secara sectio caesarea meskipun sebenarnya jika saya rasa, bisa saja dilakukan dengan persalinan normal jika mengacu pada berat badan bayi yang lebih ringan dari anak pertama dan jarak kelahirannya sudah masuk 2 tahun lebih. Tapi psikis saya yang tidak siap. Sangat trauma dengan kelahiran anak pertama. Berjuang untuk normal tapi tetap berakhir di ruang operasi karena bukaan macet. Trauma dengan sakitnya kontraksi persalinan yang rasanya nyawa sudah di ujung maut tapi bukaan tidak kunjung bertambah.

Di ruang operasi. Menunggu hingga persiapan selesai
Di ruang operasi. Menuju eksekusi persalinan sc

Pukul 9 tepat, operasi dimulai dan tangis bayi pecah 10 menit kemudian. Maka lahirlah anak kedua kami. Seorang bayi perempuan cantik, sehat dan lucu dengan berat badan 3.080 gram dan tinggi 47 cm yang kami beri nama Yuiko Hanami Salsabila.

Baby Yui ditimbang dan diukur tinggi badan serta lingkar kepalanya
Baby Yui diambil cap kakinya oleh perawat
Disinari dulu sebelum dipindahkan ke ranjang bayi
Sudah siap di bawa ke kamar

Kondisi saya post operasi baik. Kak Idu mengucapkan selamat, menciumiku berkali-kali dan bercerita dengan penuh semangat tentang Baby Yui yang lucu saat diadzankan dan dimandikan. Diperlihatkannya foto dan videonya. Saya tidak begitu memperhatikan karena entah mengapa saya merasakan nyeri luar biasa. Sakitnya seperti luka robek yang tersiram cuka. Periihhhh banget. Padahal saat operasi sesar yang pertama saya bahkan tidak merasakan sakit apapun setelah operasi selesai. Melihat saya menangis menahan sakit, Kak Idu menggenggam tanganku kuat-kuat. Mencium keningku dan mengusap air mataku yang seperti tak mau berhenti mengalir. Sedetikpun ia tidak beranjak dariku. Bahkan ia rela menahan desakan air kemih yang sudah membuatnya sakit perut demi menemaniku. Ia hanya meninggalkanku saat sholat jum’at.

Sabtu, 6 Mei 2017

Dokter SpOG yang menangani saya visite. Saya sampaikan keluhan nyeri yang saya rasakan kemarin setelah operasi. Dokter Lenny bilang kenapa saya ngomongnya baru hari ini. Sambil bercanda beliau sampaikan ” waahh itu kan ada obatnya. Sudah saya sampaikan waktu operasi kemarin, kalau dirasa ada nyeri beritahu perawat ya. Nanti dikasih obat. Kalau gak ada nyeri yaa gak perlu dikasih. Waduhh.. bahaya ini. Nanti kamu kira operasi di siloam makassar kok sakit, sementara di Bali tidak?” Spontan tawa seisi ruangan pun pecah.

Karena saya belum leluasa bergerak, hanya mampu miring kanan dan kiri saja maka seluruhnya saya sangat bergantung pada suami. Meskipun perawat rumah sakit juga bisa diandalkan tapi Kak Idu lebih senang melakukannya sendiri untuk saya. Sangat bersyukur punya suami super siaga. Sangat telaten dalam merawat. Menyuapi makan, bantu ganti baju, bantu buka pasang gurita, jagain anak sekaligus menghibur istri dengan berbagai lelucon. Ia bahkan tidak mengizinkan ibuku repot mengurusiku. I feel so blessed having him in my life! Alhamdulillah, so thank you Allah.

Salah satu menu makan siang. Jenis makanannya bisa di request mau yang asian food, oriental food ataupun western food.

Hal lain yang banyak disyukuri adalah dikarunia teman-teman yang sangat baik. Meskipun saya tidak membalas satupun chat atau telepon mereka yang menanyakan saya di kamar berapa, rupanya mereka tetap saja bersikukuh datang menjenguk dengan bertanya di bagian informasi rumah sakit. Bahkan ada yang harus terpaksa tidak ketemu karena jam besuk telah habis. Padahal maksud saya tidak membalas chat dan telepon mereka agar tidak perlu repot-repot datang.

Ahad, 7 Mei 2017

Kondisi saya semakin membaik. Sudah bisa jalan sendiri ke kamar mandi. Sudah bisa duduk, tidur dan bangun sendiri meski semuanya masih dilakukan dengan sangat terbatas. Sebenarnya saya dijadwalkan pulang besok. Tapi karena saya merasa sudah lebih baik, sayapun minta pulang hari ini. Lagian, senyaman-nyamannya di rumah sakit kok yaa rasanya tetap lebih enak di rumah sendiri.

Tiba di rumah, tamupun tak kunjung putus hingga malam. Keluarga, tetangga, teman semuanya datang dengan penuh suka cita. Bahkan yang terlanjur tiba di rumah sakit dan tidak menemukan kami karena sudah check out rela mengemudi ke rumah demi mengucapkan selamat dan berjumpa dengan baby Yui. Alhamdulillah wa syukurillah. Sungguh salah satu bentuk rezeki adalah dikelilingi orang-orang yang baik. 

Anw, thank you world for welcoming baby Yui 😘😘