Pengalaman Mengurus Sendiri Visa Ke Eropa (Schengen) di Kedubes Belanda Via VFS Global Surabaya

Mengurus visa ke Eropa dalam hal ini visa schengen di kedutaan Belanda secara mandiri tidaklah sulit. Hanya saja sejak 1 Juli 2016 pengajuan visa schengen tidak lagi bisa dilakukan secara langsung di kedutaan tetapi harus melalui agency yang ditunjuk yaitu VFS Global sehingga proses visa yang dulunya hanya sehari, kini menjadi 7-15 hari. Pengajuan visa ini bisa dilakukan paling cepat 90 hari sebelum keberangkatan dan paling lambat 2 minggu sebelum keberangkatan.
VFS Global tidak hanya melayani pembuatan visa schengen, tetapi juga untuk visa Inggris, Australia dan New zealand. VFS murni sebagai perantara calon aplikan dan seksi visa kedutaan yang dituju sehingga disetujui atau tidaknya visa kita tidak ditentukan oleh VFS Global melainkan oleh pihak kedutaan. Di Indonesia, kantor VFS Global hanya bisa dijumpai di 3 kota yaitu Jakarta, Surabaya dan Kuta Bali. 

Yang Perlu Dilakukan Sebelum Mengajukan Visa

1. Tentukan Kedutaan

Sebelum mengajukan visa, tentukanlah kedutaan mana yang akan dituju dengan berdasar pada dua poin ini : negara pertama yang dikunjungi atau  negara paling lama yang akan kita tinggali. Saya sendiri mengajukannya di kedutaan Belanda karena tiket masuk ke Eropa memang melalui Amsterdam, Belanda. Lagipula, kata orang-orang (katanya sih) pihak Belanda dikenal lebih friendly menyetujui visa kita. 

2. Membuat Temu Janji 

Hal berikutnya yang dilakukan adalah membuat temu janji secara online melalui website resmi VFS Global. Awalnya kami memilih VFS Global Bali, selain hitung-hitungan biaya lebih murah dari Makassar juga karena kami sedikit lebih mengenal jalan di sana karena pernah tinggal di Denpasar. VFS Global Bali ini hanya bisa memuat satu temu janji untuk satu orang. Jadi kalau berangkatnya berempat seperti kami, berarti harus membuat empat temu janji. Untuk anak-anak di bawah 17 tahun, tetap diregistrasi sebagai orang dewasa dan saat penyerahan dokumen di kantor VFS Global, akan diwakili oleh salah satu orang tua. Sayangnya, tanggal temu janji yang kami inginkan sudah full. Bahkan hingga akhir Juli 2017. Sementara Kak Idu hanya bisa hingga akhir Juli karena masa cuti yang sudah di penghujung waktu.

Akhirnya kamipun memutuskan mengajukan visa melalui VFS Global Jakarta. Di sini, kita bisa mengajukan satu temu janji untuk lima orang sekaligus. Lebih mudah karena tidak harus keluar masuk website VFS Global. Tapi lagi-lagi tanggal yang kami inginkan juga sudah full booked, bahkan tidak ada slot hingga akhir Juli 2017. Saya dan Kak Idu mulai was-was. Sedikit pusing memikirkan waktu yang pas. Bisa saja sih mengurusnya di bulan Agustus karena keberangkatan kami nanti di bulan Oktober. Tapi itu dia masalahnya. Cuti besar Kak Idu sudah habis per Juli 2017 ini sementara tidak seperti visa Jepang yang bisa diwakili oleh salah satu pemohon saja, visa schengen harus diajukan sendiri oleh masing-masing pemohon karena akan dilakukan pengambilan data biometrik. Untuk anak-anak tidak perlu ikut hadir tapi kami tetap membawa mereka karena sudah janji kepada Ochy untuk mengajaknya naik pesawat sedangkan Yui masih asi ekslusif, jadi kemana-mana memang ikut emaknya. Ternyata membuat temu janji ini gampang-gampang susah ya. Apalagi jika waktunya mepet begini.

Karena tidak mendapat jadwal temu janji di VFS Global Bali dan Jakarta, maka satu-satunya yang bisa kami andalkan adalah VFS Global Surabaya. Alhamdulillah, slotnya masih ada untuk tanggal yang kami inginkan. Di sini, kita bisa membuat temu janji untuk dua orang sekaligus. Jadi karena kami berempat, berarti akan mengantongi dua jadwal temu janji. Kak Idu dan Ochy di jam 10.00 pagi sementara saya dan Yui di jam 10.15 waktu Surabaya.

Tips : Saat membuat temu janji, sebaiknya menggunakan satu nomor telepon yang sama, jika mengajukannya sekeluarga atau beramai-ramai dengan teman. Karena jika tidak, maka akan tampil sendiri-sendiri jadwal temu janjinya meskipun dijadwalkan di jam yang sama. Sehingga menyulitkan jika suatu waktu kita ingin melakukan perubahan seperti mengganti tanggal janji, jam dan sebagainya. Perubahan ini bisa dilakukan paling cepat 24 jam sejak terbitnya jadwal temu janji.

Dokumen Yang Diperlukan Saat Pengajuan Visa Schengen Keluarga

Dokumen yang diperlukan untuk pengajuan visa schengen adalah sebagai berikut :

1. Formulir pengajuan visa yang bisa diunduh di website resmi VFS Global. Pengisian formulir ini bisa diketik bisa juga ditulis manual. Kami sendiri mengisinya dengan tulisan tangan atau manual. Pastikan saja tulisannya rapih dan jelas menggunakan huruf kapital.

2. Paspor dengan masa berlaku lebih dari 6 bulan. Jangan coba-coba mengajukan visa jika paspornya sudah mau expired. Selain paspor asli, juga perlu melampirkan fotokopinya yang memuat data diri kita. Jika punya paspor lama, fotokopi halaman pertama dan visa-visa yang pernah terbit di sana. Selain fotokopinya, fisik asli paspor lama tersebut juga harus disertakan.

3. Keterangan domisili yaitu KTP dan Kartu Keluarga yang harus dalam bahasa Inggris. Saya tidak memakai jasa sworn translator karena saya menerjemahkannya sendiri. Untuk anak-anak, cukup lampirkan fotokopi KTP kedua orang tuanya beserta yang telah diterjemahkan.

4. Akte lahir dan buku nikah yang juga dalam bahasa Inggris. Sama seperti poin nomor 3, akte lahir ini saya terjemahkan sendiri juga. Untuk anak-anak tidak perlu lagi diterjemahkan. Cukup difotokopi saja karena akte lahir terbitan sekarang sudah tercetak dalam dua bahasa. Begitupun dengan buku nikah cukup difotokopi saja karena sudah terbit dalam dua bahasa.

5. Tiket pesawat yang menunjukkan tanggal masuk ke Eropa hingga kepulangan kembali ke tanah air. Jadi kalau berangkatnya dari Kuala Lumpur atau Singapore (karena biasanya tiket promo banyak yang start dari sana) berarti harus mencantumkan juga tiket dari Indonesia ke Kuala Lumpur ataupun ke Singapore. Tiket pesawat ini tidak harus dengan status issued. Status booking pun bisa digunakan. Pastikan saja status bookingnya masih aktif ketika mengajukan permohonan visa. Kami sendiri karena sudah mengantongi tiket Qatar Airways KL-Amsterdam (tiket promo yang dibeli 8 bulan yang lalu) maka untuk Makassar-KL nya kami menggunakan tiket booking-an Garuda Indonesia oleh bantuan teman yang bekerja di Garuda Airlines sehingga tidak rugi-rugi amat kalaupun visanya unapproved (naudzubillah, amit-amit dah. Soalnya tiket Qatar buat berempat saja lumayan banget harganya, meskipun sudah tiket promo).

6. Pas foto ukuran 3.5 cm x 4.5 cm berlatar belakang putih. Sebaiknya membuat fotonya di studio foto yang sudah terbiasa membuat visa. 

7. Travel itinerary yang memuat informasi daerah yang akan kita tuju beserta tempat menginap selama di area Schengen. Itinerary ini tidak harus sesuai dengan perjalanan kita ketika tiba nanti di Eropa. Juga tidak mesti secara gamblang dituliskan akan kemana saja dalam satu negara, jika yang dituju lebih dari satu negara. Itinerary kami bahkan hanya memuat informasi ke negara mana saja (tanpa menuliskan akan mengunjungi apa saja di negara tersebut), menginap dimana dan naik apa saat pindah ke negara lainnya. Karena inti dari itinerary bagi pihak kedutaan adalah memastikan kita tidak menjadi gelandangan setibanya di negara mereka. 

8. Travel insurance dengan coverage minimal 30.000 €. Kami sendiri membeli travel insurance AXA secara online untuk perjalanan 16 hari sekeluarga : 2 dewasa, 1 anak dan 1 bayi dengan paket platinum seharga 57.80 € atau Rp 867.000 (Kurs 1 € = Rp 15.000, Juli 2017)

9. Surat keterangan kerja. Sebenarnya surat keterangan ini hanya untuk menunjukkan ke pihak kedutaan bahwa kita tidak akan menetap di sana sebagai imigran dan akan kembali lagi ke negara asal jika liburannya telah usai. Surat keterangan kerja ini sebagai bukti yang kuat atas keterikatan kita dengan negara asal.

10. Reservasi hotel. Semua reservasi hotel yang saya gunakan adalah yang free cancellation yang saya booking melalui situs bookingdotcom sehingga jikapun visa kami ditolak, kami gak rugi biaya hotel karena reservasi hotel tersebut bisa kami batalkan sewaktu-waktu tanpa dikenakan biaya apapun. Oh iya, pastikan reservasi hotel yang dibuat sesuai jumlah hari selama di Eropa. Jadi kalaupun dalam perjalanan realnya ada malam yang dihabiskan di atas kereta/bus, khusus pengajuan visa ini sebaiknya tetap mencantumkan nama hotel beserta reservasinya untuk menghindari wawancara lanjutan.

11. Bank statement adalah surat referensi bank yang menjelaskan sejak kapan kita menabung di sana dan berapa jumlah saldo tabungan yang tersisa. Kalau menabung di BNI maka dikenakan biaya pembuatan bank statement sebesar Rp 250.000 dan akan terbit dalam tiga hari kerja. Kalau di bank Mandiri dikenakan biaya Rp 100.000 dan langsung terbit hari itu juga. Saya tidak tahu apakah harus membuat bank statement di bank penerbitan buku rekening pertama kalinya karena berdasarkan pengalaman kami, suami membuka nomor rekening di bank mandiri Timika tapi membuat bank statementnya di salah satu cabang bank Mandiri Makassar. Tapi ini karena dibantu teman sih yang bekerja di bank Mandiri Makassar. Makanya jadi orang yang baik-baik, biar temannya banyak. Hehehehe.

Lalu berapa sih saldo tabungan yang harus dimiliki jika ingin ke Eropa? Sungguh ini pertanyaan yang paling sering saya jumpai setiap akan mengurus visa. Apakah memang harus beratus-ratus juta??

Sebenarnya sih ini tergantung kita mengunjungi Eropa bagian apa. Karena Eropa barat dan Eropa timur itu memiliki biaya minimum yang berbeda yaitu 50 €- 70 € untuk Eropa barat dan 30 € – 50 € untuk Eropa Timur. Namun kabarnya, khusus untuk pengajuan visa schengen hanya diperlukan biaya minimal 35 € per hari. Jadi kalau di Eropa selama seminggu, tinggal kalikan saja dengan 7 hari. Kalau 16 hari seperti kami berarti harus menyiapkan minimal 560 € per orang. Angka ini dikalikan dengan jumlah keluarga yang berangkat. Karena kami berempat berarti 560 € x 4 orang = 2.240 €. Tapi ini adalah nominal minimal. Sebaiknya dilebihkan untuk menunjukkan bahwa kita mampu. Dan lagi perlu diperhitungkan juga kondisi ketika kita kembali ke negara asal. Gak mungkin kan pulang-pulang ke Imdonesia kita kelihatan gak punya uang lagi di rekening. Karena itu rasionalkan saja jumlah tabungan tersebut.

12. Dokumen penunjang lainnya. Sebenarnya ini tidak dicantumkan dalam form persyaratan visa. Tetapi kami melampirkan dokumen tambahan seperti fotokopi visa-visa yang pernah kami punya, rekening koran, slip gaji (asli dan terjemahan).

Proses Pengajuan Visa Schengen di VFS Global Surabaya

Kami berangkat ke Surabaya sehari sebelum jadwal temu janji dengan VFS Global lalu kembali lagi ke Makassar di hari yang sama setelah proses pengajuan visa selesai dan kak Idu sendiri akan melanjutkan perjalanan ke Timika setelah mengantar kami ke Makassar karena besoknya sudah harus masuk kantor lagi. Kami menginap di Hotel Papilio Best Western yang reviewnya bisa dibaca di sini.

Kantor VFS Global Surabaya berada di gedung Graha Pena lantai 15, Jl. Ahmad Yani No.88. Letaknya sangat dekat dari hotel kami. Begitu tiba di lantai 15, berbeloklah ke arah kanan setelah keluar dari lift. Kantor VFS Global menempati ruang di pojok kanan. Di sini proses pengajuan visa dimulai yaitu :

1. Pemeriksaan berkas di front office.

Begitu memasuki kantor VFS Global Surabaya, kita akan disambut oleh dua orang security, perempuan dan laki-laki. Selain memeriksa kelengkapan dokumen, tas dan barang bawaan kita juga diperiksa semua. Hp dan segala peralatan elektronik harus dimatikan. Prosesnya sangat cepat dan ramah. Kita bahkan bisa membawa serta semua barang kita ke ruang berikutnya. Agak aneh sih menurutku. Mengingat pengalaman saya mengajukan visa Jepang di Makassar yang begitu ketat, dimana kita hanya boleh membawa masuk berkas pengajuan visa saja sementara barang-barang lainnya di simpan di loker yang telah disediakan.

2. Antre di loket penyerahan berkas sekaligus pembayaran visa

Beberapa teman mengatakan bahwa saat pengajuan visa schengen di VFS Global Jakarta, mereka hanya bisa dipersilahkan masuk jika memang telah sesuai dengan jadwal temu janji mereka. Bahkan kalaupun masih kurang satu menit, tetap tidak dibiarkan masuk. Lain halnya dengan VFS Global Surabaya, kami langsung saja disuruh masuk oleh security di front office, padahal jadwal kami masih 30 menit lagi. Saya bahkan berkali-kali meyakinkan. Masuk sekarang mbak? tanya saya pada mbak security yang memeriksa kelengkapan berkas saya. Ditanya dengan muka bengong begitu, saya malah dibercandain. Mbak securitynya bilang “Tidak. Masuk tahun depan saja.” Lalu kamipun tertawa beramai-ramai.

Di ruangan ini, ada dua barisan antrean. Mengantrenya cukup nyaman karena disediakan kursi dan minuman air mineral. Antrean pertama untuk verifikasi berkas visa sekaligus pembayaran biaya visa. Antrean yang lainnya untuk pengambilan data biometrik.

Pada proses ini cukup memakan waktu karena data kita yang dituliskan di form pengajuan visa akan diketik kembali oleh petugas ke dalam komputernya. Di sini juga berlangsung wawancara singkat seputar pertanyaan dasar seperti dalam rangka apa ke Eropa? mau kemana saja? Berapa lama? Jawab saja seperlunya. Tidak perlu bacrit atau banyak cerita untuk menghindari pertanyaan lanjutan yang timbul akibat jawaban kita.

Selanjutnya membayar biaya visa yaitu 60 € ditambah biaya jasa VFS 25 € per aplikan. Untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun, biaya visanya gratis namun tetap harus membayar biaya jasa VFS sebesar 25 € per orang. Jadi untuk kami yang dua dewasa, satu anak dan satu bayi, kami membayar sebesar 220 €. Bisa dibayar dalam rupiah sesuai dengan kurs yang berlaku hari itu. Membayarnya bisa cash ataupun debit dan kartu kredit. Kami sendiri membayarnya dengan cash setelah susah-susah mencari ATM karena menurut pengalaman teman-teman yang mengajukan visa di VFS Global Jakarta, katanya hanya bisa dibayar dengan cash saja. Di VFS Global Surabaya ternyata memberikan lebih banyak kemudahan.

Untuk kami yang tinggal di luar Surabaya, boleh menggunakan jasa kurir untuk pengiriman paspor. Setiap paspor dikenakan biaya Rp 50.000. Fasilitas SMS tentang status visa kita juga tersedia dengan membayar Rp 25.000 per aplikan. Kami hanya mengambil satu layanan sms saja sehingga total yang kami bayarkan keseluruhannya adalah 220 € + Rp 225.000 = Rp 3.525.000 (dengan kurs 1 € = Rp 15.000, Juli 2017). Oh iya, fasilitas sms ini tidak memberikan informasi visa kita approved atau tidak, tetapi memuat informasi status perjalanan proses visa kita, apakah sudah selesai atau tidak. 

3. Pengambilan Data Biometrik

Proses ini berlangsung singkat. Apalagi saat petugas mengetahui kami kejar-kejaran waktu ke bandara karena pesawat kami akan lepas landas 1, 5 jam lagi. Untuk anak-anak tidak dilakukan pengambilan data biometrik.

Selesai dan mari menunggu kabar pengajuan visa kita 🙂

———————————-

Ketika mendapat sms dari VFS Global Surabaya, proses pengajuan visa kami telah selesai dan paspor siap dikirim kembali, saya sudah tidak bisa tidur. Deg-degan apakah visanya approved atau tidak. Saya semakin deg-degan ketika hingga keesokan harinya, paspor kami belum juga di tangan. Dua hari kemudianpun belum ada. Alamaaakkk… ini saya seperti sudah mau meledak saja. Lalu keesokan harinya, pagi sekitar jam delapan, seorang kurir datang ke rumah membawa tiga buah paspor saja. Saya mulai takut, ini kok paspornya cuma tiga? Paspor milik Kak Idu kemana? tanya saya pada kurir. Takut kalau-kalau bermasalah sehingga masih jalan-jalan entah di mana. Syukurnya si kurir bilang ngasih ke sebelah karena saat menanyakan alamat rumah kami, nyangkutnya di sebelah yang kebetulan namanya sama dengan nama pak suami. Hahahaha. Buru-buru, si kurir mengambil dan menyerahkannya kepada saya. Alhamdulillah paspornya sudah lengkap. Meski demikian, perasaan deg-degan saya semakin menjadi hingga jantung rasa-rasanya mau copot. Saya tidak berani menyobek sampulnya dan mengintip halaman paspor. Saya lalu berwudhu dan sholat dhuha dulu untuk menenangkan hati dan memohon diberikan hasil yang terbaik. Wasyukurillah, stiker visa schengen telah tertempel manis di salah satu halaman paspor Yui. Sengaja saya membuka paspor anak-anak terlebih dahuli. Karena jika mereka approved, insyaAllah kami kedua orang tuanyapun approved. Sungguh, kado ulang tahun yang sangat istimewa. Happy mi’lad myself 🙂

Makassar, 10 Agustus 2017. 

Advertisements

Pengalaman Mengurus Visa Umrah untuk Keluarga

Umrah adalah salah satu perjalanan sakral bagi ummat muslim di dunia, tak terkecuali Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Setiap muslim pasti mendambakan perjalanan ke tanah suci setidaknya sekali dalam hidup, entah untuk berhaji menyempurnakan rukun Islam ataupun untuk umrah dan berziarah.

Syukur alhamdulillah, kami sekeluarga akhirnya diberi kesempatan menginjakkan kaki di tanah haram pada bulan Maret yang lalu setelah tiga kali mengalami kegagalan dengan dua travel sebelumnya. Adalah sebuah rezeki, berkenalan dengan seorang ibu hajjah via online yang merupakan agen sebuah perjalanan umroh dengan paket super hemat. Soalnya dibandingkan dengan kedua travel sebelumnya, harga yang ia tawarkan sangat fantastis. Bahkan sedikit irrasional mengingat tiket pesawat PP Makassar-Jeddah saja minimal 14 juta dengan pesawat Garuda Indonesia. Namun beliau menawarkan nominal yang sama dengan janji full service selama perjalanan sejak keberangkatan hingga tiba kembali di kota asal. Rada takut sih awalnya. Apalagi kita baru kenalan. Itupun via medsos. Kita belum pernah bertatap muka secara langsung. Masih menimbang-nimbang karena umrah backpacker saja masih kalah jauh selisihnya. 

Saya berpikir, mungkin harga yang beliau tawarkan belum termasuk pengurusan visa. Tapi ternyata saya keliru. Harga tersebut sudah all in. Makin ragu dong jadinya. Ini beneran atau modus penipuan sih? Untung saat itu belum terkuak kasus First Travel, sehingga bismillah kami berani saja mengambil paket hemat Abu Tours tersebut.

Berhubung saya menggunakan jasa travel dalam perjalanan kali ini yang sudah mengatur semuanya, maka saya tidak punya pengalaman pribadi bagaimana mengurus visa umrah secara mandiri. Dan memang sepertinya kita tidak bisa mengurusnya sendiri sih. Soalnya temanku saja yang melakukan umrah backpacker, visanya tetap juga dibantu oleh travel agent. Karena Kedutaan Besar Arab Saudi tidak akan menerbitkan visa secara personal tanpa ada travel agent yang mau bertanggungjawab. Jadi kita memang tidak bisa benar-benar mengurusnya sendiri face to face dengan pihak kedutaan layaknya pada pengurusan visa lainnya.

Dokumen Apa Saja Yang Dibutuhkan Untuk Mengurus Visa Umrah Keluarga?

1. Paspor. Masa berlaku lebih dari 6 bulan sejak keberangkatan. Nama di paspor harus memuat tiga suku kata. Jadi kalau di paspornya masih kurang dari tiga, harus menambahkannya di kolom endorsment pada halaman 4 dengan urutan : nama asli_nama ayah_nama kakek. Nama kakek di sini, boleh menggunakan salah satunya, kakek dari pihak ayah atau dari pihak ibu. Yang tidak boleh itu jika memakai nama kakek dari pihak tetangga. Apalagi nama ayah tetangga.

2. Pas foto terbaru ukuran 4 cm x 6 cm dengan background berwarna putih. Sebaiknya mengenakan hijab yang cerah dan pastikan sudah touch up sebelum cekrek.

3. KTP dan Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja dan khusus untuk KTP jangan dipotong mengikuti ukurannya. Biarkan saja tetap dalam satu lembaran utuh kertas A4. Untuk anak-anak, KTPnya memakai KTP kedua orang tua yang difotokopi dalam lembar kertas yang sama. Misalnya fotokopi KTP ayah diatas, lalu dibawahnya fotokopi KTP ibunya, dalam satu kertas.

4. Akte lahir masing-masing anggota keluarga. Difotokopi pada kertas A4. Khusus untuk anak dibawah 17 tahun, selain kopiannya, akte lahir aslinya juga diikutsertakan.

5. Buku nikah yang memuat keterangan kita adalah pasangan yang sah. 

6. Kartu kuning yang memuat informasi vaksin meningitis yang telah kita lakukan.

Udah gitu aja. Berkasnya sesimple itu. Tidak butuh surat keterangan kerja apalagi rekening koran yang ketentuan jumlah saldonya bikin panas dingin.

Urusan selanjutnya, semuanya ditangani oleh pihak travel agent. Untuk yang umrah backpacker, menurut pengakuan temanku rada gampang-gampang susah untuk menentukan travel agent (mofa) yang bisa membantu pengurusan visa umrah. Soalnya gak semua mofa berani menerima risiko menerbitkan visa untuk kalangan yang ingin melakukan umrah secara mandiri. Biasanya harus satu paket dengan Land Arrangement, paket selama di Arab Saudi berupa fasilitas penginapan dan transportasi. Ujung-ujungnya mirip umrah yang di-handle sama travel pada umumnya sih. Bedanya hanya pada waktu yang fleksibel dan itinerary yang tidak mengikat. 

Menurut temanku, tidak ada travel agent yang berani menerima jika hanya untuk proses visa saja tetapi mesti disertakan paket land arrangement dari mereka sehingga si travel agent ini bisa tetap memantau jamaah yang dibantu proses penerbitan visanya. Bukan apa-apa, si travel agent tersebut terancam denda sebesar SAR 50.000 serta pencabutan izin usaha jika ditemukan jamaahnya melakukan penyelewengan terhadap visa yang diterbitkannya. Misalnya si jamaah over stay dari masa berlaku visa, atau malah menjadi TKI/TKW, dan lain-lain.

Lain kali jadi pengen coba umrah backpacker juga. Biar bisa lebih detail memberikan gambarannya. Tapi tunggu sampai anak-anak berusia minimal tujuh tahun kali ya. Biar kerempongannya sedikit berkurang 😁😁. Semoga diberi umur panjang dan dicukupkan rezekinya untuk kembali lagi ke tanah haram, insyaAllah. Amiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Mudahnya Mengurus Sendiri Visa Jepang di Makassar

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman SMA menelepon menanyakan tentang cara pengajuan visa Jepang di Kota Makassar secara mandiri alias tanpa calo atau travel agent. Saya mengingat-ingat kembali prosesnya dan mungkin tidak ada salahnya jika saya menuangkan pengalaman itu ke dalam tulisan di blog ini. 

Jadi waktu itu, saya akan ke Jepang bersama suami beserta dua orang teman perempuan. Awalnya ingin mengajukan permohonan visa pada konsulat jendral Jepang di Denpasar yang letaknya tidak jauh dari rumah tapi berhubung kartu keluarga  dan KTP kami belum terbit, saya akhirnya memutuskan untuk mengajukan visa pada konjen Jepang di Makassar dengan menggunakan fotokopi ktp dan kartu keluarga lama yang berarti status masih single 😅. Begitupun dengan suami, menggunakan kartu identitas lama yang masih berdomisili di Timika, juga dengan status masih single. Syukurnya, Timika masuk ke dalam wilayah yurisdiksi konjen Jepang di Makassar sehingga sangat pas untuk mengajukannya bersama-sama.

Pengajuan visa ini bisa diwakili oleh salah satu orang saja jika bepergian dua orang atau lebih. Alhamdulillah, itu berarti suami gak harus terbang ke Makassar hanya untuk mengurus visa. Sedangkan kedua teman perempuanku memilih jasa travel agent. Mungkin karena ini adalah perjalanan internasional pertama mereka sehingga dirasa lebih aman memakai jasa travel agent untuk mengurus visa. Atau mungkin juga belum percaya sama saya. Takut kalau-kalau visanya gak disetujui. Padahal mengajukan lewat travel agent sekalipun sebenarnya tidak ada jaminan visa akan approved. Karena semuanya tergantung pihak konjen, mau ngasih atau tidak. Tapi yasudahlah, karena mereka tidak keberatan membayar biaya administrasi tambahan buat travel agent diluar biaya visa itu sendiri plus harus menyiapkan saldo min 50 juta rupiah di rekening koran, ya silakan saja. 😊😊

Syarat-syarat pengajuan visa Jepang

Sebelum mengajukan visa jepang (dalam hal ini menggunakan paspor biasa bukan e-passport) maka harus melengkapi dokumen yang diperlukan terlebih dahulu yaitu :

  1. Paspor yang masa berlakunya setidaknya lebih dari 6 bulan
  2. Formulir permohonan visa yang bisa di download di website konjen Jepang 
  3. Pas foto terbaru ukuran 4,5cm x 4,5 cm berlatar putih. Yang berhijab bisa tetap mengenakan hijabnya. Sebaiknya memakai hijab yang kontras dengan latar foto, sehingga kelihatan lebih bright.
  4. KTP (surat keterangan domisili). Fotokopi di kertas A4 tanpa memotongnya. 
  5. Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja. Disertakan jika berangkat bersama keluarga sebagai bukti hubungan dengan si pemohon. Jika pemohon sendiri-sendiri, tidak perlu melampirkannya.
  6. Tiket pesawat. Tidak harus menggunakan tiket yang sudah lunas. Bisa menggunakan tiket booking-an. Pastikan saja, statusnya masih aktif ketika melakukan pengajuan visa.
  7. Itinerary. Buat yang simple saja, gak usah heboh menjelaskan kegiatan per jam hingga berlembar-lembar. Cukup menunjukkan akan pergi ke mana saja setiap hari sejak masuk hingga keluar Jepang. Juga tidak harus menuliskan semua tempat yang akan kita datangi. Pokoknya as simple as in one page.
  8. Rekening koran atau fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Nah inilah bagian terhoror dalam mengurus visa. Berapa sih jumlah tabungan yang harus kita punya? Benarkah harus 50 juta rupiah seperti kata orang-orang? Sebenarnya sih tidak disebutkan berapa jumlah yang pasti oleh pihak kedutaan, hanya saja perhitungkan semua biaya yang bisa men-cover seluruh perjalanan kita selama di Jepang. Amannya, sediakan 1 juta rupiah/hari. Jadi kalau di Jepang selama 1 minggu, berarti kalikan saja selama 7 hari. Terus lebihkan sedikit untuk menunjukkan bahwa ketika kembali ke negara asal, kita masih punya biaya hidup selama beberapa hari ke depan.
  9. Surat keterangan kerja bagi karyawan atau SIUP bagi pengusaha. Intinya, surat keterangan yang menunjukkan kita punya penghasilan. Kalau misalnya pemohon adalah ibu rumah tangga, berarti lampirkan surat keterangan kerja milik suami beserta KK, buku nikah dan buku tabungan atas nama suami. Berhubung saya dan suami mengajukannya pakai status masih single jadi kami memakai surat keterangan kerja dan buku tabungan sendiri-sendiri.

    Pastikan semua dokumen sudah lengkap dan disusun berurutan sebelum dibawa ke loket pendaftaran, sebab kita tidak akan dilayani jika berkasnya kurang ataupun tidak lengkap. Namun apabila sudah diproses dan diperlukan dokumen pendukung lainnya, pemohon visa akan dihubungi lagi.

    Langkah-langkah pengajuan visa Jepang di Makassar

    Setelah semua berkasnya lengkap, datanglah ke konjen Jepang sesuai jam kerjanya yaitu senin-jum’at pada jam 8.00 – 12.00 untuk permohonan visa dan jam 13.00-15.00 untuk pengambilan paspor.

    Untuk daerah Makassar, kantor konjen Jepang berada di gedung Wisma Kalla lantai 7 Jl.Dr. Sam Ratulangi No 8-10. No. Tlp (0411) 871-030.

    Setelah menyerahkan dokumen di loket pendaftaran, kita akan membayar biaya single visa sebesar Rp 320.000 (Maret 2015) lalu diberi surat keterangan pengambilan paspor 4 hari kerja kemudian.

    Ketika waktu pengambilan paspor tiba, datanglah kembali ke konjen Jepang pada pukul 13.00-15.00. Alhamdulillah ketika saya membuka paspor, stiker visa jepang sudah tertempel cantik di salah satu halamannya dengan masa berlaku visa selama 3 bulan.

    Visa Jepang

    Mudah bukan?! Semoga bermanfaat ya 🙂

    Pengalaman Apply VoA China di Shenzen

    Biasanya orang yang berkunjung ke Hong Kong, akan sekaligus memasukkan Shenzen ke dalam itinerary. Negara tetangga yang jaraknya sangat dekat serta transportasinya mudah diakses. Hanya saja, sebagai pemegang paspor hijau (atau sekarang tosca), kita diwajibkan mengantongi visa on arrival terlebih dahulu untuk memasuki negara bagian China tersebut.

    Menuju Shenzen dari Hong Kong

    Cara mengurus voa China di Shenzen yang saya tulis ini berdasarkan jalur masuk melalui Hong Kong dengan kereta KCR dari stasiun Kowloon Tong. Lama perjalanan sekitar 45 menit dengan biaya HKD 31.3 menggunakan octopus card. Kereta ini akan berhenti di ujung perbatasan Hong Kong – Shenzen, Lo Wu – Luo Wu. Memang mirip sih nama stasiunnya tetapi sebenarnya berbeda dalam pengucapannya.

    Begitu tiba di Lo Wu, semua penumpang akan turun. Di border ini, paspor kita akan distempel keluar Hong Kong oleh petugas bermata sipit yang lempeng banget. Pokoknya gak ada basa-basi apalagi nanyain dengan senyum manis, datangnya bersama siapa neng?! Padahal ya mau banget pamer kalau saya datangnya bersama suami sebagai rangkaian bulan madu perdana kami. Hahahaha. Penting gak sih? 😏😏

    Nah setelah paspor di stempel, ikutilah papan petunjuk hingga keluar stasiun Shenzen yaitu Luo Wu (dibaca Luo Hu). Jaraknya lumayan jauuuhhh. Saya tidak yakin sih berapa angka pastinya tapi sepertinya hampir 1 km dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di sini saya jahilin Kak Idu yang newbie backpackeran hemat keluar negeri. Habisnya dia keseringan jalan-jalan luxury sih, (sstt… karena dalam rangka dinas sehingga semuanya dibayarin kantor). Kalau pakai uang pribadi, apa daya hanya bisa backpackeran begini buat melancong 😅.

    Jadi selama jalan kaki keluar stasiun itu, saya sering mendahului Kak Idu lalu bersembunyi di suatu tempat dan mengagetkannya ketika sudah dekat denganku. Beberapa kali berhasil mengerjainya. Sampai suatu ketika kok malah saya yang kejebak sendiri. Jadi saat sedang dalam persembunyian, tiba-tiba petugas wanita memegang tanganku erat dan membawa saya ke salah satu ruang sempit lalu diinterogasi dengan bahasa Cina yang sumpah satupun saya tidak tau artinya. Jadi dia ngoceh aja terus, mimik mukanya sampai tegang begitu karena melontarkan banyak pertanyaan tapi yang dihadapi malah diam seribu bahasa. Hingga akhirnya dia frustasi sendiri dan jadilah kami diam-diaman. Jadi pengen nyanyi lagunya Jamrud : 30 menit kita di sini, tanpa bicara. Dan aku benciiii harus jujur padamu tentang semua ini.

    Tak lama kemudian, datang petugas wanita lainnya. Selain lebih cantik, dia juga lebih menyenangkan karena pembicaraan akhirnya menjadi dua arah. Fasih berbahasa Inggris meski dengan logat Cina yang kental. Rupanya gerak gerik saya tertangkap cctv dan dianggap mencurigakan. Apalagi saya mengenakan hijab. Makanya saya digiring ke ruang interogasi ini. Lalu sayapun menjelaskan semuanya, bahwa saya sedang mengerjai suami yang baru pertama kali ke tempat ini sebagai upaya menciptakan perjalanan mengasyikkan yang tak terlupakan bersamanya.

    Setelah lama berdialog dengannya, saya akhirnya dilepaskan juga. Fiuuhh… alhamdulillah banget. Syukur-syukur gak sampai sejam. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bingungnya Kak Idu mencari-cari saya jika terjebak di ruang sempit itu semalaman. Sumpah jadi kapok sendiri.

    Begitu bertemu Kak Idu di section imigrasi China, langsung saja saya peluk erat sambil menangis. Dianya heran, kok saya sampai nangis begitu. Rupanya dia tidak sadar bahwa istrinya ini baru saja ‘diculik’. Dikiranya, saya masih main-main dengannya dan akan menemukanku di gate imigrasi China. Ketika saya menceritakan ulang kejadiannya, eh dianya bukan berempati malah ngakak habis-habisan.

    Langkah-langkah dan biaya apply voa Shenzen

    Mengajukan voa Shenzen sangatlah mudah. Pertama-tama ikuti petunjuk menuju visa office yang letaknya naik satu lantai dari gate imigrasi yang ditandai dengan tiga loket kecil berjejer. Selanjutnya mengisi formulir dan mengambil nomor antrian. Setelah nomor antrian kita dipanggil, datangi loket pertama untuk menyerahkan paspor dan sekaligus untuk difoto petugas. Fotonya melihat lurus ke depan, tidak miring kanan apalagi sambil monyongkan bibir. Karena ini foto untuk visa bukan foto alay. Berikutnya pindah ke loket dua untuk melakukan pembayaran sebesar RMB 160 (Oktober 2013). Catat, hanya menerima mata uang China. Selainnya, silahkan menukar di money changer terlebih dahulu. Terakhir tinggal menunggu visa ditempel di paspor yang akan diambil di loket ketiga. Prosesnya sangat mudah dan cepat. Tidak lebih dari 10 menit. Dan viola…  selamat berjalan-jalan di Shenzen.