Liburan di Rumah Saat Musim Libur

Liburan di rumah

Sejauh ini saya dan keluarga paling menghindari liburan di musim libur. Selain mainstream banget, juga tidak bisa menikmati wisata dengan nyaman karena terlalu banyak pengunjung. Susah dapat spot foto yang keren, berisik dan dipastikan harga penginapan dan tiket wisata juga naik berlipat-lipat. Halah… ternyata ujung-ujungnya tetap alasan harga ya bo! Dasar emak-emak. Wkwkwwk. Habis traveling berdua dan berempat kerasa banget beda budgetnya. Jadi kalo bisa dihindari saat high season, ya kenapa tidak? Kalaupun terpaksa liburan di saat musim libur, ya ayo kita terjebak! Hahaha. Ini maksud tulisannya apa sih? Kok jadi bingung sendiri! 

Meskipun suami saya seorang karyawan yang jatah cutinya cuma 12 hari setahun tapi kami selalu berusaha untuk liburan di waktu-waktu sepi pengunjung. Sekarang sih masih bisa ngomong seperti itu ya karena anak-anak masih bebas dengan segala jadwal. Entah bagaimana jika esok lusa sudah sekolah, dimana Ochy dan Yuiko tidak bisa lagi traveling semau emaknya karena gak mungkin izin terus demi menghindari liburan di musim libur. Tapi sudahlah, repot amat mikirin hal ginian. Ochy masuk sekolah kan juga masih lamaaaaaa banget. Empat atau lima tahun lagi. Nikmati saja dulu yang sekarang. Mumpung anaknya masih asyik dibawa kesana kemari.

Liburan di rumah

Tentang liburan di musim libur, kami malah memilih menghabiskan waktu di rumah saja daripada jalan-jalan seperti orang kebanyakan. Di rumah sendiri ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Diantaranya berenang, balapan sepeda, bercocok tanam, memasak bersama, membersihkan rumah, menyusun puzzle, main di taman, mendaki bukit dekat kompleks dan tentu saja bermain kejar tangkap.

Liburan di rumah

Kegiatan sederhana itu ternyata efeknya luar biasa terhadap keluarga, terutama bagi anak-anak. Selain melatih kekompakan suami istri, juga merangsang kemandirian dan daya nalar anak. Dan yang paling penting sih, kebersamaan itu menjadi unsur berharga menumbuhkan rasa kasih sayang antar anggota keluarga.

Liburan di rumah

Nah libur lebaran sebentar lagi tiba. Sudah punya rencana liburan kemana? Kalau kami sih seperti judul tulisan ini, liburan di rumah saat musim liburan. Artinya cuma di rumah saja setelah silaturrahim ke rumah orang tua dan mertua serta beberapa kerabat. Eh tapiii… mertua saya kan ada di Enrekang. Jaraknya kurang lebih 400 km dari Makassar. Ini termasuk liburan di musim libur gak sih? Hahaha.

Anw, selamat hari raya Idul Fitri ya semua. Mohon maaf lahir dan batin ^.^

Ketenangan Teluk Yoetefa

Pagi setelah sarapan, kami menunggu teman Papa di lobby yang akan menjemput dan mengajak berkeliling Kota Jayapura. Setelah semalam deal tidak akan ke Skow, daerah perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Meski saya sebenarnya ngebeeett banget ke sana tapi pak suami ogah karena jaraknya cukup jauh (4 jam pp) dan tidak ada hal menarik yang bisa dinikmati di sana, menurutnya. Padahal ya sejak dulu saya punya impian menjajaki batas-batas wilayah Indonesia dengan negara tetangga. Dan saya paham bahwa daerah perbatasan itu memang tidak memiliki wisata yang bisa memanjakan mata namun saya selalu penasaran dengan masyarakat di sana, bagaimana mereka menjalani hidup di garis batas antar negara. Bagi saya justru itulah hal menariknya. Tapi yaaa begitulah, selera ketertarikan setiap orang memang berbeda. Well, abaikan. Anggap saja saya punya alasan untuk bisa kembali ke Jayapura suatu saat nanti. Hihihihi

Menu sarapan hotel tidak mewah. Tapi cukup mengenyangkan. Nasi goreng kecap dengan toping telur dadar. Teh dan kopi menjadi teman sajiannya. Meski sederhana tapi Ochy sangat suka. Lahap dan habis satu porsi piring. Sangat cukup menjadi energi cadangan untuk agenda jalan-jalan hari ini.

Mobil kami melaju pelan menjauhi area hotel pukul 8 pagi. Teman papa (Suca) menjemput kami bersama istrinya yang juga hamil sekitar lima bulan sepertiku. Namanya Mia, cantik dan sangat ramah. Kami langsung akrab berasa sudah kenal bertahun-tahun. Pagi ini kami akan diajak ke Teluk Yoetefa di Tanah Hitam, taman wisata dengan hamparan hutan Mangrove yang diapit dua buah tanjung di sisi kanan kirinya. Dari deskripsi Mia, saya bisa membayangkan betapa cantiknya teluk Yoetefa itu.

Cukup dekat ternyata jaraknya dari kota Jayapura. Kami berkendara hanya sekitar 15 menit saja. Begitu mobil berhenti, saya melongo ke jendela. Dalam hati melongos : Lho, itu teluknya? Apa bagusnya tempat berpasir hitam begini. Hanya tumpukan batu yang sedikit menjorok ke pantai, istimewanya dimana? Hahaha. But hey… be careful of your thought! Tidak baik mengambil kesimpulan di awal.

Turun dari mobil saya terheran-heran. Kok kita mengarah ke kiri padahal pantainya jelas-jelas di sebelah kanan. Rupanya Teluk Yoetefa ini memang luar biasa. Selain diapit tanjung di sisi kanan kirinya, juga berhadapan dengan garis Pantai Hamadi. Hijau dengan rimbun Mangrove dan tanaman sagu dipadu biru air laut yang tenang dengan view gunung di sekelilingnya. Tuh kan, makanya tetaplah berprasangka baik. Tempatnya memang kece abis pokoknya as Mia described it to me selama di perjalanan tadi.

Di sana ada beberapa saung berwarna biru terang untuk tempat duduk dan bersantai di atas laut. Ada beberapa perahu motor juga yang bersandar. Satu dua perahu datang dan pergi mengangkut penumpang. Sayapun penasaran, ini orang-orang pada mau kemana ya? Rasa penasaran sayapun terjawab. Seolah memahami apa yang saya pikirkan, Mia membeberkan bahwa di tengah teluk Yoetefa ini ada beberapa pulau cantik yang didiami masyarakat asli Papua. Diantaranya pulau Tobati dan Enggros. Menariknya lagi ada lapangan timbul tenggelam. Heh?? Kayak gimana tuh ya? Kok kedengarannya keren. Jadi bukan hanya sinyal saja yang timbul tenggelam di Jayapura. Ternyata lapangan pun bisa timbul tenggelam. Hahaha. Rupanya lapangan yang dimaksud itu adalah daerah lapang berpasir yang akan nampak jika air sedang surut dan akan tenggelam jika air sedang pasang. Kok jadi kebayang pasir timbulnya Raja Ampat ya. Halah… kayak gue pernah ke Raja Ampat aja 😅😂

Saya penasaran sekali ingin ke pulau-pulau tersebut. Pasti akan sangat menyenangkan menjelajah dengan perahu. Tapi lagi-lagi saya harus mengurut dada. Kondisi saya yang hamil menjadi alasan pak suami menolak mentah-mentah melintasi laut dengan perahu motor warga lokal. Mia dan suaminyapun menyarankan hal yang sama demi keselamatan bersama. Ya ampuun… Kak Idu ini pengen aku gigit rasanya. Sudahlah batal ke Skow, sekarang gagal pula menikmati eksotisme Teluk Youtefa dari dekat. Okeh… okeeehh… ini menambah daftar panjang alasan untuk kembali lagi ke Jayapura suatu hari nanti. 😁😁

Senja di Waduk Antang

Mungkin tidak banyak yang tau hal menarik apa yang bisa kita nikmati di Antang. Sebuah pinggiran Kota Makassar yang sering dimarginalkan karena keberadaan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di daerah Tamangapa. Bau sampah menjadi pencemaran udara yang sudah pasti tidak bisa di hindari apalagi jika TPA tersebut belum menerapkan sistem sanitary landfill. Baunya bahkan menyeruak hingga berkilo-kilo meter jauhnya. Jika angin bertiup kencang, baunya bisa tercium hingga ke rumah orang tua saya.

Terlepas dari permasalahan sampah di Antang, ternyata ada satu tempat indah untuk menikmati sunrise maupun sunset yaitu di waduk Antang yang terhubung ke Borong dan Toddopuli. Dulu ketika saya masih gadis, jalan-jalan pagi ataupun sore menjadi kebiasaan saya menghabiskan waktu di tempat ini. Kadang sendiri, kadang juga ramai-ramai dengan teman. Naik sepeda, balapan sepatu roda atau sekedar jogging. Pernah juga menelusuri luas waduk dengan berjalan kaki karena merasa penasaran dimana ujungnya dan ada apa di sana. Padahal saat itu waduk Antang masih dipenuhi semak belukar, jalannyapun masih setengah aspal, setengah batu pengerasan dan timbunan tanah merah. Beda dengan sekarang yang sudah lebih terawat dan ramai. Jalannya sudah beton lengkap dengan terali besi di pinggir waduk sebagai pengaman. Belakangan malah dijadikan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan yang sering terjadi di pertigaan Antang-Ujungbori.

Sore itu tidak sengaja saya lewat di sana bersama bapak dan Ochy. Seperti kembali ke masa lalu, kenangan-kenangan di tempat ini terputar lagi. Saya melihat diriku yang lari berkejaran dengan anak-anak asuh di pinggir waduk. Duduk dan tertawa di aspal yang setengah jadi. Belajar dari alam adalah tema kami hari itu. Tak lama muncul lagi diriku menenteng sepatu roda berwarna pink. Bersama sahabat perempuan yang sangat tomboy, kami balapan hingga ke ujung batas pengunjung waduk yang ditandai pagar setinggi 2 meter berlapis portal besi. Dan dasar kami nakal, kami menerobos masuk dengan memanjat. Sepatu roda kami terlebih dahulu di lempar ke sebelah melalui celah pagar. Sahabatku yang tomboy itupun sudah berhasil menyeberangi pagar setinggi 2 meter itu. Sementara saya bernasib sial. Baru setengah memanjat, security sudah datang. Teriak-teriak sambil membawa tongkat kayu setengah lengan. Karena ketakutan, terpaksa saya mengambil jalan pintas karena tak mungkin mampu menyelesaikan rintangan pagar besi ini. Sayapun melompat ke samping yang tak lain adalah bagian waduk yang penuh air berupa kanal. Parahnya saya tidak bisa berenang, jadilah saya mangap-mangap. Syukurnya kedalaman kanal ini masih terjangkau dengan tinggi badanku sehingga saya tidak tenggelam.

Mengingat-ingat kejadian itu membuat tawaku pecah sekaligus bertanya-tanya apa kabarnya sahabat tomboyku itu? Puluhan tahun tak pernah berkomunikasi lagi sejak ia memutuskan merantau ke pedalaman Luwuk Banggai.

Seperti iklan dalam tayangan tv, muncul lagi gambar lain. Begitu cepat berganti. Kali ini saya melihat diriku dari belakang. Jalan berdua menyusuri pinggir waduk yang dipenuhi ilalang dan semak belukar. Tanah becek sisa hujan semalam tak menyurutkan niat kami. Rasa penasaran akan muara waduk ini telah meleburkan rasa takut kami akan hal-hal buruk yang bisa saja kami jumpai di pagi buta selepas subuh begini. Teman sejak berseragam putih abu-abu yang selalu bergairah untuk setiap petualangan baru. Teman yang selanjutnya menjadi sahabat karib lalu menjadi cinta dan sayangnya harus berakhir dengan penuh benci. Saling menyakiti satu sama lain. Hingga kita tak saling bicara lagi.

Begitulah… tak ada persahabatan dan cinta yang hadir di garis hidup kita tanpa meninggalkan bekas di sana. Seberapapun kita bahagia atau terluka atasnya.

Film lain yang mampir dalam benak tentang waduk ini adalah sekelompok anak abege yang sedang memasuki fase puncak kenakalan remaja. Terlihat saya dan lima orang teman bermain di pinggir waduk yang sedang dalam pembangunan. Salah satu diantara kami nekat terjun ke galian terdalam yang baru saja dikeruk oleh excavator. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga melakukan hal bodoh itu. Awalnya baik-baik saja. Tertawa dan menyombongkan diri akan kemampuannya. Diapun mengulanginya lagi. Berhasil, iapun menepuk-nepuk dadanya. Sekali lagi diulangi, naas kakinya menghantam batu dan mengalami dislokasi tulang. Reaksi refleks kami tentu saja tertawa alih-alih menolongnya terlebih dahulu. Mungkin jika kejadiannya sekarang, maka reaksi pertama kami adalah memfotonya lalu mengupload ke media sosial dengan berbagai caption dan hashtag.

Kenangan di tempat ini memang tidak akan ada habisnya. Dan saya mensyukurinya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membuat hari-hariku berwarna. Membuat saya bangga bahwa hidupku tidak berlalu begitu saja.

Saya meminta bapak untuk berhenti sejenak. Sementara beliau dan Ochy menikmati matahari sore, saya melanjutkan film kenangan di pinggir waduk.

Bagaimana sunset mu sore ini? Ada cerita apa di baliknya? Bagi cerita yuukk😊😊

Kampili dan Pesona Bendungannya

Bulan Maret telah memasuki batas akhir. Tinggal hitungan jam, April segera menyapa. Ah… Waktu memang sangat ambigu ya. Kadang ia terasa begitu cepat berlalu dan di lain kesempatan terasa begitu lambat. 

Kami menutup bulan ke tiga ini dengan mengajak Ochy ke sebuah desa tak jauh dari Kota Makassar. Terlebih lagi lebih dekat dari rumah kami yang secara administratif telah masuk ke Kabupaten Gowa. Hanya sekitar 30 menit saja berkendara motor dengan kecapatan standar 40km/jam. Desa itu bernama Kampili yang populer dengan bendungannya yang terintegrasi ke Bili-Bili. 

Sore itu, selepas ashar kamipun berangkat. Bertiga, kami naik motor membelah jalan poros Makassar-Gowa. Meski langit sedikit mendung syukurnya hujan tetap menggantung di awan-awan kelabu hingga kami tiba kembali di rumah.

Cara menuju Bendungan Kampili

Tidaklah sulit untuk sampai ke Desa Kampili pun hingga ke bendungannya yang cantik dengan batu-batu cadas yang besar. Berikut saya uraikan secara lengkap bagaimana menuju bendungan Kampili :

1. Jika dari arah Makassar, teruslah melaju hingga ke jembatan kembar Gowa. Tepat di sisi kiri jembatan, ada belokan menurun. Nah… ikutilah jalan beton itu. Lurus saja hingga tiba di sebuah gapura bertuliskan selamat datang di Desa Kampili. Selama dalam perjalanan, kita akan melewati areal persawahan yang luas dan rumah penduduk yang terbagi dalam dusun. Beberapa diantara rumah penduduk itu terhampar gabah yang dijemur di pekarangan ataupun di pinggir jalan. Kegiatan menjemur gabah ini, oleh masyarakat setempat disebut dengan angngalloi.

2. Ketika tiba di persimpangan pasar Taipa Le’leng, ambillah arah ke kiri menuju kampus IPDN Sulsel. Dari sana, terus saja hingga tiba di gapura kampung KB Dusun Je’nemadinging. Jika sudah sampai di gapura ini tetaplah terus mengikuti jalan aspal hingga ujung yang ditandai bangunan bendungan beratap biru. Di sana akan ada dua jalur. Kedua jalur itu menuju spotlight wisata bendungan Kampili. Saya sarankan untuk mengambil jalur yang kedua. Selain jalannya yang beraspal mulus, di jalur ini kendaraan kita insyaAllah juga aman setelah membayar uang masuk sekaligus uang parkir yang dipungut masyarakat setempat sebesar Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 5.000 untuk mobil. Sementara di jalur pertama adalah jalur ilegal yang tanpa pungutan biaya apapun namun dengan risiko kehilangan kendaraan.

Secara umum, kondisi jalan menuju Desa Kampili sudah bagus. Meskipun tidak mulus sempurna karena di beberapa titik tertentu ada yang berlubang, berbatu dan berlumpur namun masih bisa dilalui kendaraan dengan baik.

Persimpangan di dekat Pasar Taipa Le’leng
Kampus IPDN Sulsel. Ikuti saja terus jalan aspal hingga mentok.
Gerbang kampus IPDN Sulsel
Jika telah sampai di gapura kampung kb ini, terus saja hingga mendapat bangunan bendungan beratap biru
Ini adalah ujung Desa Kampili sekaligus tempat dimana bendungan berada. Jalur pertama adalah ilegal dengan jalan berbatu tanpa aspal. Sementara jalur kedua adalah jalur resmi dengan pungutan biaya parkir kendaraan
Gerbang masuk ala kadarnya. Di sini kita harus membayar biaya parkir kendaraan

Mengapa harus ke Desa Kampili?

Kebanyakan orang ke Desa Kampili karena ingin menikmati bendungannya yang tak biasa. Begitupun dengan saya. Tapi nyatanya, selain menyuguhkan keindahan bendungan, Desa Kampili juga menawarkan kehidupan alami pedesaan yang bersahaja dan sarat akan nilai untuk disisipkan sebagai pelajaran kepada anak. Diantaranya :

1. Annanang dan Akkatto

Adalah kegiatan menanam bibit padi baru dan memanen padi lama. Masyarakat Kampili melakukannya secara bergotong royong dan penuh suka cita. Pemandangan yang sangat langka di tengah hiruk pikuk perkotaan. Ochy sendiri sangat menikmati jerami-jerami yang terhempas dari mesin sederhana maupun yang dipukul-pukul masyarakat secara manual ke sebuah bilah kayu agar padi-padinya rontok.

2. Angngalloi atau menjemur gabah

Padi-padi yang telah dirontokkan lalu dijemur di halaman rumah ataupun di pinggir jalan. Setelah itu akan datang mobil pick up berisi mesin penggiling untuk mengolah gabah menjadi beras siap konsumsi.

3. Akkalawaki atau mengembala

Hewan ternak yang digembalakan masyarakat Kampili adalah sapi dan kerbau. Biasanya dilakukan oleh pemuda-pemuda kampung bersarung. Selama dalam perjalanan, kami menikmati pemandangan gerombolan sapi dan kerbau yang digiring pulang oleh si pengembala.

4. Anak lebih mengenal bendungan dan fungsinya. Meskipun sama-sama menampung debit air yang banyak, kita bisa menyisipkan pelajaran tentang perbedaan pantai, laut, sungai, danau dan bendungan itu sendiri agar anak lebih memahami perbedaannya.

5. Kearifan lokal yang jarang atau bahkan tidak kita jumpai di kota-kota besar seperti keramahan penduduk, gotong royong dan kepolosan mereka akan kejujuran.

Berikut beberapa hasil dokumentasi di bendungan Kampili. Sayangnya langit mendung sehingga hasil gambarnya kurang cetar.

Ke spot ini harus melalui jalan menurun cukup tajam dengan batu-batu licin sehingga harus ekstra hati-hati
Batu-batu khas Bendungan Kampili. Saat kemarau, batu-batu ini akan tampak lebih epic.
Sisi atas bendungan tak jauh dari tempat parkir
Pose andalan. Karena cukup berbahaya, saya tidak berani menerbangkan Ochy tanpa dipegang.
Menuju batu-batu cadas bendungan. Curam dan licin.
Nih anak paling senang dah lari-lari di alam terbuka begini.

Saya sangat merekomendasikan kunjungan keluarga ke Desa Kampili. Selain biayanya murah meriah, banyak pelajaran yang bisa kita petik. Saya sendiri hanya mengeluarkan uang Rp 30.000 saja dengan rincian isi bensin Rp 20.000, parkir Rp 2.000 dan sisanya untuk beli snack dan minuman di warung tempat parkir kendaraan.

Ya ampuunn… kebayang gak sih? Tiga puluh ribu perak doang! Uang segitu bahkan tidak ada artinya jika dibawa ke mall. Beli secangkir kopi di starbucks aja gak cukup, man! Tapi di Desa Kampili, kita bisa ‘membeli’ pengalaman luar biasa tentang kehidupan alami perkampungan.

The Transit City of Pare-Pare

Alun-alun kota Pare-Pare

Pare-Pare adalah sebuah kota di Sulawesi Selatan, berjarak kurang lebih 155 km dari Makassar. Dikenal sebagai kota pelabuhan, kota transit, kota cakar alias pakaian bekas cap karung. Belakangan semakin populer karena banyaknya unggahan foto dan video di sosial media terutama instagram tentang kolam renang fenomenal yang menjanjikan keindahan pemandangan laut dan bukit bagi pengunjungnya. Kolam renang ini bisa dijumpai di Hotel Bukit Kenari Jalan Sudirman, hotel yang ternyata milik tante sahabat karibku, Miftah.

Salah satu sudut pelabuhan Pare-Pare. Yang beratap merah itu adalah gazebo untuk beristirahat sambil menikmati pantai dan jajanan kaki lima

Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang kota kelahiran BJ Habibie ini. Meskipun sudah berkali-kali ke sini namun hanya sekedar mampir saja. Tidak pernah sampai menginap. Beberapa moment terbaik yang bisa saya ingat selama di kota ini adalah peristiwa tersesat. Lho… tersesat kok jadi salah satu moment terbaik sih? Hahaha. Sabar… sabar. Pasti akan saya ceritakan alasannya. Jadi kisahnya begini, saya dan seorang teman cewek sedang mumet-mumetnya dengan urusan kerjaan di kantor (saat itu saya belum menikah dan masih jadi karyawan di salah satu kantor BUMN). Saat mumet seperti itu muncullah ide gila kami bepergian jauh ke ujung Sulawesi Selatan, Kota Sorowako dengan menyetir sendiri. Karena takut ditanya macam-macam sama ortu saat minta izin pakai mobil, kamipun berinisiatif untuk rental mobil saja. Dan jadilah petang itu kami meninggalkan Makassar setelah deal dengan pemilik mobil di rental langganan. Saya berhasil menjebak adik saya untuk terlibat dalam misi perjalanan buta ini dengan alasan biar lebih aman kalau ada cowok. Siipp… bertiga, kamipun mulai melaju membelah jalan tol Reformasi hingga tiba di Pare-pare melalui poros Maros, Pangkep dan Barru. 

Kami tiba di Pare-pare hampir tengah malam. Jalan-jalan utama di kota beraspal mulus dengan kontur berbukit. Terlihat serupa. Sepi dan lengang. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang. Beberapa rumah di sekitarnya hanya menyisakan lampu teras saja yang menyala. Kami sempat bingung mengambil rute yang mana. Hingga akhirnya dicobalah setiap persimpangan itu dan ternyata malah kembali ke tempat semula. Tak terasa sudah empat kali kami melalui jalan ini. Frustasipun mulai menggoda. Apalagi tak ada siapa-siapa yang bisa ditanyai. Mengandalkan Google Map juga tak mungkin jika semua gadget habis batrei. Menunggu bus malam yang lewat menuju Toraja atau Sorowako itu sendiri adalah pilihan terakhir. Tapi kok rasa-rasanya tidak ada satupun yang melintas. Apa kami sudah sejauh ini tersesat ke pedalaman Pare-Pare? Temanku yang sejak tadi menyetir dari Makassar mulai kelelahan. Sayapun berinisiatif menggantikannya meskipun sedikit ragu karena kemampuan menyetirku masih payah. Jarak terjauh yang pernah kutempuh hanya seluas lapangan bola di dekat rumah. Itupun jalan datar saja. Adikku apalagi! Tidak bisa diandalkan. Membedakan gas dan rem saja dia tidak tau. Hahahaha.

Dengan keberanian yang dikuat-kuatkan, sayapun mengambil alih kemudi. Mulai menggerakkan roda empat itu dengan hati-hati mencari arah menuju jalan protokol. Setidaknya jika tiba di Jalan Sudirman, mungkin ada satu dua kendaraan yang melintas. Dan alhamdulillah dalam pencarian itu, kami menjumpai sebuah mobil pick up yang melaju kencang. Saya mengikutinya meski tak mampu mengimbangi kecepatannya. Jelas kami tertinggal jauh di belakang dan jalananpun kembali lengang. Syukurnya arah jalannya lurus-lurus saja, tak ada persimpangan. Setelah sekian jam menyetir, saya melihat spbu di pinggir jalan yang sudah beroperasi dini hari begini. Niatnya sih mau isi bensin sekalian numpang parkir tidur. Di sela-sela pengisian bensin itu, bertanyalah saya kepada petugas arah menuju Sorowako. And you know what??? Kami salah jalan! Rute ini menuju Mamasa yang artinya bertolak belakang dengan tujuan kami sehingga harus menyetir kembali ke Pare-pare dan mengambil arah sebaliknya. Gembleeeeengg! *pukul-pukul kepala ke tembok*

Moment tersesat ini sangat berarti bagiku karena akhirnya mampu mendobrak diri keluar dari ketakutan. Menemukan kekuatan lain yang kita miliki yang mungkin lebih dari yang pernah kita bayangkan. Jika tidak ada  kejadian tersesat ini, mungkin selamanya saya tidak akan pernah mampu menyetir mobil dengan baik.

Kejadian lain yang masih melekat di ingatanku tentang Pare-Pare adalah Pasar Senggol, pusat penjualan pakaian bekas. Pasar ini ada di tengah kota dan selalu ramai pengunjung dari berbagai kalangan terutama di malam hari. Saat itu saya masih fresh graduate dan bekerja di sebuah yayasan kesehatan untuk penugasan di wilayah Toraja. Pekerjaan selama tiga bulan di sana selesai dan sayapun harus kembali lagi ke Makassar untuk pelaporan sekaligus evaluasi program. Sebelumnya saya mampir dulu ke Pare-Pare. Bersama seorang teman tugas, kamipun mengunjungi Pasar Senggol karena penasaran seperti apa keramaiannya. Tiba di sana, kami kalap belanja karena harganya murah-murah dan modelnya stylish. Saya sampai memboyong tujuh winter coat ala korea, meskipun tidak tau akan dipakai kemana karena jelas di Indonesia tidak cocok. Saya hanya jatuh cinta dengan modelnya yang unyu-unyu. Teman saya malah nggak tanggung-tanggung. Belanjaannya dua kantong plastik hitam besar!

Hal lain yang langsung mencuat di ingatan begitu mendengar kata Pare-Pare adalah kota singgah. Kami sering mampir di sini setiap pulang kampung ke rumah mertua di Enrekang. Biasanya kami akan ke pelabuhan, duduk santai di gazebo menikmati jajanan kaki lima, sholat di masjid raya, main di alun-alun kota, istirahat di taman, berpose di monumen cinta sejati Ainun-Habibie, hingga menyusuri jejak kenangan suami semasa tinggal di Pare-Pare dengan penuh kedisiplinan bersama paman yang seorang tentara.

Monumen cinta sejati Ainun-Habibie. Semoga cinta kitapun sejati seperti mereka. Amiin
Siang bolong seperti ini saja cakep. Saat matahari terbit ataupun terbenam, saya yakin pemandangannya berkali-kali lipat indahnya.
“Papa… take me travel far”, Ochy said.

Jembatan Merah

Jembatan Merah Riso

Jika kita jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor, kita bisa menjumpai jembatan merah yang konon bisa membuat putus cinta. Karena itu disarankan bagi pasangan kekasih untuk tidak melalui jembatan bercat merah yang membentang di atas Sungai Ciliwung tersebut. Kalaupun kekeuh ingin melangkahkan kaki di sana, sebaiknya tidak bersama pasangan. Begitulah mitos yang beredar. Saya sendiri tidak meyakini hal tersebut. Tidak masuk akal bagiku. Bagaimana mungkin sebuah hubungan dikendalikan kelanggengannya oleh sebuah jembatan? Oleh sebuah benda mati pula. Tapi ya namanya juga mitos ya. Benar tidaknya tergantung kepercayaan sendiri-sendiri. Dan sebagai muslim tentu saja imanku menolaknya. Lagipula faktanya, hubungan asmaraku toh pada akhirnya putus di tengah jalan. Padahal saya melalui jembatan ini tanpa sang kekasih alias seorang diri. Oh… enough! Cukup sampai di sini. Tidak perlu memperpanjang cerita tentang sang kekasih eh sang mantan. Masa lalu bo! Sudah tutup buku. Hahahaha

Nah lain di Bogor lain pula di Enrekang-sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan kelezatan fermentasi susu sapinya yang biasa disebut Dangke. Enrekang juga mempunyai kebun raya bernama Massenrempulu dan jembatan merah namun keberadaan jembatan gantung ini tidak di dalam kawasan Kebun Raya seperti di Bogor tetapi di sebuah perkampungan bernama Riso. Jembatan kayu dengan penyangga besi di kedua sisinya membentang kokoh membelah Sungai Saddang, sungai terpanjang di seantero Sulawesi Selatan. Lokasinya persis di belakang rumah mertua saya dan menjadi spot favorit untuk menikmati kemerahan langit di sore hari karena pemandangan gunung dan sungai bisa disaksikan dari jembatan ini. Sangat panoramik!

Gunung, bukit dan sungai menyatu. Sayang airnya coklat susu 😅😂

Jembatan merah Riso murni difungsikan sebagai jalur penghubung ke desa tetangga yaitu Desa Lekkong tanpa embel-embel kepercayaan yang menyesatkan. Jembatan ini hanya bisa dilalui oleh sepeda motor dan akan terdengar bunyi kletek-kletok yang besar dari kayu yang bergesekan dengan ban jika dua motor berpapasan. Nah Kak Idu agak ngeri tuh dengan bunyi-bunyi itu, takut jika jembatannya sewaktu-waktu roboh. Sementata saya dan Ochy sangat menikmatinya. Saking enjoynya kami bahkan sengaja menghentak-hentakkan kaki cenderung melompat dan berlari agar bunyi kletok kayu terdengar lagi. Semakin melompat, semakin stresslah Kak Idu melihat kami. Hahahaha. Dan entah mengapa memandangi ekspresi wajahnya yang penuh cemas itu, tawa saya dan Ochy justru semakin pecah. Bandel ya kami! Hehehe.

Konflik Freeport Vs Indonesia. Bagaimana Nasib Rakyat Papua?

Beberapa hari belakangan, ramai diberitakan tentang perseteruan  PT. Freeport Indonesia dengan pemerintah. Kasus ini bahkan menjadi tajuk terdepan di berbagai media, mengisi halaman utama setiap media online maupun offline. 

Perseteruan itu kian memanas saat pihak PT. Freeport mengancam akan menggugat Indonesia ke pengadilan arbitrase jika selama masa negosiasi belum juga menemukan kesepakatan tentang perizinan operasional. Bagi perusahaan emas raksasa tersebut, perizinan melalui Kontrak Kerja (KK) ingin tetap dipertahankan sebagaimana telah berjalan selama setengah abad sejak pertama kali mereka beroperasi di Tanah Papua. Sementara pihak pemerintah menginginkan peralihan status menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sesuai dengan PP yang berlaku karena menganggap KK kurang menguntungkan bagi negara, terkhusus bagi rakyat Papua di Mimika. Lain halnya di mata PT. Freeport, jika harus beralih status menjadi IUPK maka akan merugikan pihak mereka karena menganggap tidak memperoleh jaminan secara hukum dan fiskal.

Seperti lazimnya pihak yang berseteru, masing-masing mengklaim kebenaran sendiri. Freeport McMoran Inc menganggap telah berkontribusi banyak untuk Indonesia terlebih bagi kelangsungan hidup masyarakat Papua dengan pemberian dana royalti, beasiswa, lapangan pekerjaan, fasilitas kesehatan, pembangunan infrastruktur dan lain-lain. Sementara pemerintah menganggap itu semua tidak sebanding dengan banyaknya keuntungan yang telah diperoleh perusahaan asal Amerika tersebut melalui hasil eksploitasi kekayaan alam Papua. Profit pengerukan emas, tembaga, perak, bahkan uranium selama berpuluh-puluh tahun tidak sepadan dengan manfaat yang diterima oleh rakyat Indonesia. 

Bandara Mozes Kilangin yang dibangun oleh PT. Freeport
Tempat rekreasi keluarga yang dibangun oleh PT. Freeport. Tempat ini sering digunakan untuk berolahraga seperti lari, jogging, badminton, bersepeda atau sekedar duduk santai berlapis tikar bersama keluarga.
Danau buatan yang dibangun oleh PT. Freeport

Kisruh saling bertahan dengan posisi dan argumennya masing-masing berimbas pada sikap induk usaha PT. Freeport Indonesia yaitu Freeport McMoran Inc yang menyatakan force majure usai pemerintah melarang ekspor konsentrat pada 12 Februari lalu sehingga operasional pertambangan tidak dapat dilakukan sebagaimana mestinya. Akibatnya banyak karyawan PT. Freeport yang harus dirumahkan termasuk warga negara Indonesia itu sendiri. Entah ini salah satu strategi PT. Freeport untuk menekan pemerintah atau memang murni untuk pemangkasan biaya.

Terlepas dari konflik keduanya, saya cenderung memikirkan nasib warga Papua di Mimika mengingat mereka adalah ‘korban’ yang sebenarnya. Manfaat besar apa yang bisa dirasakan dari IUPK tersebut. Apakah memang akan benar-benar membawa kesejahteraan bagi rakyat Papua atau hanya demi kepentingan tertentu? Karena selama ini di bawah Kontrak Karya saja dimana sumbangsih PT.Freeport terlihat nyata dan jelas untuk masyarakat lokal, fakta menunjukkan Papua tetaplah salah satu daerah termiskin di Indonesia. 

Selama saya tinggal di Timika, Mimika kesenjangan hidup begitu terasa. Adalah pemandangan biasa melihat anak-anak Papua yang berjalan tanpa alas kaki, ingus melorot-lorot dan pakaian yang begitu lusuh. Jangan tanya tentang tingkat pengetahuan dan pendidikan mereka. Sebagian besar sangatlah memprihatinkan. Tingkat kesejahteraan apalagi! Rata-rata mereka hanya berprofesi sebagai penjual noken di jalan raya atau menjual pinang, ikan dan umbi-umbian di pasar yang hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-dua hari.

Pasar baru Timika. Salah satu spot terbaik menikmati sunset. Selepas belanja sayur dan ikan, saya dan suami senang menunggu matahari terbenam di tempat ini.
Mama-mama penjual noken di pinggir jalan.
Pasar gorong-gorong Timika. Biasanya sepanjang haluan pasar dipenuhi mama-mama penjual pinang, ikan, udang, singkong, ubi dan sayur. Sayangnya waktu mengambil gambar ini jelang tahun baru sehingga banyak penjual warga asli Papua yang belum datang.

Traveling ke Jayapura : Itinerary dan Budget

Beberapa hari yang lalu kami baru saja mengunjungi Jayapura, Ibukota Provinsi Papua selama 3 hari 2 malam. Kami berangkat dari Kota Timika dengan jarak tempuh kurang lebih 50 menit menggunakan pesawat terbang. Berikut itinerary kami selama di Jayapura :

Hari 1 : Danau Sentani-Bukit MacArthur-Danau Love

Kami tiba di Jayapura sudah pukul 10.00 pagi dan langsung menuju Danau Sentani diguide oleh teman baik kami, Fe. Perkenalan dengan Fe ini sangat unik. Pertama kali tahu tentangnya hanya lewat blog. Saya suka tulisan-tulisannya terutama tentang kisah percintaan yang sepertinya mirip-mirip dengan masa laluku, sebelum saya menikah dan akhirnya hidup bahagia bersama lelaki yang tepat : korban pengkhianatan. Hahahaha. Dan yang berasa jleb banget ketika menemukan satu kalimat dalam tulisannya “Kamu tuh pintar tapi bego dalam urusan asmara. Mau-maunya selalu disakiti oleh pria yang sama berkali-kali” katanya ini diucapkan oleh sahabatnya. Percaya atau tidak, sahabat saya dulunya sampai kesal luar biasa karena seringnya mengulang kalimat itu. Dia sampai menampar wajahku agar tersadar dari kenyataan bahwa kesetiaanku telah dibayar telak dengan pengkhianatan. Pergi tanpa pesan. Belakangan saya tahu telah ada perempuan lain bersamanya. Ah kok malah jadi curhat nih!

Terlepas dari kisah cinta yang serupa, tentu saja cara Fe menyikapi masalah serta pemikirannya yang positif membuat saya suka dengan pribadinya. Lalu sayapun memfollow instagramnya. Albumnya so stunning, traveller sejati kayaknya. Nah ketika saya komen di salah satu fotonya, ternyata suami saya juga komen di sana. Barulah akhirnya kami saling tahu jika Fe ternyata teman suamiku yang pernah sama-sama terlibat dalam kegiatan sosial 1000 Guru Papua. Oalaah.. dunia ini sempit ya pemirsaaahhh! Hahaha.

Kembali ke itinerary, puas menikmati keindahan Danau Sentani kami lalu melanjutkan perjalanan ke bukit MacArthur. Bukit ini menjadi wisata wajib saat ke Jayapura karena tidak hanya menyuguhkan perpaduan keindahan pegunungan Cyclops yang hijau dan Danau Sentani yang tenang tapi juga karena nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. 

Bukit MacArthur adalah saksi bisu Perang Pasifik yang merupakan bagian dari Perang Dunia ke II dimana Jendral Douglas MacArthur yang kala itu memimpin pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour mendapat serangan mendadak dari Jepang yang melemahkan kekuatan tentara AS. Namun dalam rentang 3 tahun berselang, sang Jendral akhirnya berhasil melumpuhkan balatentara Jepang dengan strategi menggempur pusat kekuatan mereka di Tanah Papua. Di Papua pasukan AS memilih posisi bertahan di Ifar Gunung dekat Danau Sentani. Bukit inilah yang kemudian dikenal dengan bukit MacArthur.

Letak bukit MacArthur tidak jauh dari bandara Sentani. Bisa ditempuh selama 15 menit berkendara dengan kontur jalan mendaki dan berkelok. Karena lokasinya berada dalam kawasan Resimen Induk Kodam XVII Trikora maka kita wajib melapor untuk meminta izin masuk dengan menyetor KTP atau tanda pengenal lain di pos penjagaan tentara sebagai jaminan. Selama berkendara dalam kompleks militer tersebut, kita juga diharuskan menurunkan kaca jendela mobil.

Tiba di Bukit MacArthur kita akan menemukan sebuah tugu memorial dan sebuah bangunan kecil yang berisi informasi masa-masa MacArthur datang ke Papua. Dari ketinggian ini, kita bisa menikmati keindahan Sentani sambil duduk di kursi panjang ataupun gazebo yang telah disediakan.

Kami melewatkan siang cukup lama di sini. Duduk santai menatap landscape alam yang begitu luar biasa.

Menjelang sore kami lanjutkan perjalanan ke Danau Love dengan mampir makan terlebih dahulu di restoran Christo. Suasananya nyaman, pemandangannya bagus, makanannya juga enak. Tapi sayang pelayanannya lamaaaaa banget. Saya sampai sempat tertidur saking lamanya menunggu makanan kami diantarkan. Tapi karena waktu yang molor begini, kami jadi punya timing yang pas buat ke Danau Love. Sebab dikabarkan, saat matahari tenggelam adalah moment terbaik menikmati keindahan danau berbentuk gambar hati ini.

Perjalanan ke Danau Love sangat mengesankan. Bukit-bukit yang indah menjulang di kanan kiri jalan. Sebenarnya nama danau ini adalah Danau Emfotte tapi karena berbentuk love, belakangan lebih terkenal dengan sebutan Danau Love. 

Danau Sentani
Bukit MacArthur
Tugu MacArthur. Tugunya ternyata seperti ini
Danau Love
Sisi lain Danau Love
Perjalanan menuju Danau Love
Bukit-bukit indah di Danau Love

Hari 2 : Teluk Youteva-Pantai Hamadi-Pantai Base G-Pemancar TVRI-Puncak Skyline-Jayapura City

Di hari kedua ini sebenarnya lebih dikhususkan untuk silaturrahim dengan rekan kerja suami yang bertugas di Cabang Jayapura. Maka agenda ke Skow, perbatasan Indonesia-Papua New Guine dicoret dari daftar karena perjalanan bolak balik sudah memakan waktu sekurangnya 4 jam. Itinerary kami hari ini dipusatkan keliling Kota Jayapura saja mengunjungi pantai dan puncak.

Kami meninggalkan hotel pukul 9 pagi dan langsung menuju Teluk Youteva yang berseblahan dengan Pantai Hamadi. Saya sangat jatuh cinta dengan teluk yang tenang ini. Perasaan saya terbawa pada sebuah desa nun jauh di belahan barat bumi bernama Hallstatt, tempat yang sangat ingin saya datangi sejak pertama kali melihat gambarnya di kalender kala saya masih kecil.

Agak kontras dengan ketenangan Teluk Youteva, Pantai Hamadi menyuguhkan kekuatan ombak yang riak menabrak tepian. Secara umum pantainya bersih, berpasir coklat dan halus. Tidak padat pengunjung meskipun saat weekend begini sehingga kami merasa sebagai pemilik pantai saking sepinya.

Destinasi berikutnya adalah pantai Base_G. Saya lebih suka di pantai ini karena pasirnya yang putih bersih dengan butiran besar namun tetap terasa lembut. Persis seperti pasir di Pantai Kuta Lombok (bukan Kuta Bali). Selain itu, laut lepas yang menghadang menambah keindahan pantai berlekuk tebing ini. Dan yang pasti, suasananya yang tenang karena tidak banyak pengunjung sehingga kami bisa menikmati setiap sisi pantai layaknya sedang di private beach. Ochy bahkan tidak rela meninggalkan tempat ini saking asyiknya bermain pasir. Berkali-kali diajak pulang, dia meronta. Ombak yang tiba-tiba menghantam wajahnyalah yang berhasil membujuk dia meninggalkan pantai Base_G.

Setelah puas bermain di pantai, kami melanjutkan perjalanan menelusuri keindahan puncak-puncak Jayapura. Menikmati kota Jayapura dari ketinggian. Diantaranya puncak pemancar TVRI, puncak skyline dan puncak Jayapurawood atau Jayapura City. Disebut juga Jayapurawood karena tulisan Jayapura City ini terpahat indah di sebuah bukit layaknya tulisan Hollywood di Amerika. Favorit saya adalah puncak skyline. Dari ketinggian ini kita disuguhkan alam Jayapura yang begitu indah : gunung dan laut dalam satu pandangan mata. Kesegaran es kelapa muda yang langsung diminum dari batoknya semakin membuat betah lama-lama di sini.

Teluk Youteva
Pantai Hamadi
Pantai Base_G
Puncak Pemancar TVRI
Puncak Skyline
Puncak Jayapura City
Puncak Jayapura City

Hari 3 : Pulang ke Makassar

Sejak pagi hingga jelang pukul 12 siang, kami habiskan di kamar hotel saja. Beristirahat siapkan stamina untuj perjalanan udara 3 jam lebih nanti ke Makassar. Jadwal check out hotel pukul 1 siang dan setidaknya harus dilakukan 10 menit sebelumnya jika tidak ingin dikenakan denda 50% dari harga kamar. Waah ngeri juga ya! Karena itu kami segera check out setelah sholat dzuhur dan menunggu mobil jemputan ke bandara Sentani.

Budget. Nah saya tahu ini bagian yang kalian paling tunggu-tunggu. Kami habis berapa sih selama liburan di Jayapura kemarin? Iyya kan? Hayoo… hehehehe. Soalnya banyak yang beranggapan bahwa ke daerah Papua itu pasti serba mahal dan memakan budget yang besar. Padahal sebenarnya budget ini bisa ditekan jika kalian liburan ramai-ramai sehingga bisa sharing biaya terutama untuk transportasi sebab biaya sewa mobil di Jayapura memang cukup mahal yaitu Rp 400.000-Rp 600.000/8 jam.

Well, berikut pengeluaran kami selama liburan di Jayapura kemarin :

Hari pertama :

  • Tiket pesat Timika-Jayapura : Rp 859.958/ 2 orang dewasa + 1 infant
  • Sewa mobil Innova : Rp 400.000/ 8 jam
  • Bensin : Rp 200.000
  • Hotel 2 malam di Cityhub Abepura : Rp 793.163 setelah dapat diskon Rp 300.000 dari kupon traveloka
  • Tiket masuk Danau Love : Sebenarnya ada pungutan biaya Rp 50.000 untuk mobil dan R 20.000 untuk motor. Tapi karena saat kami datang dan pulang, tidak ada penjaga dan kami tidak tahu harus menyimpan uangnya dimana. Jadinya gratis deh.
  • Makan di Restoran Christo : Rp 470.000 / 3 orang
  • Beli snack dan minuman : di skip aja ya.

Hari kedua :

  • Sewa mobil : free karena memakai mobil kantor
  • Bensin : free karena tidak dibolehkan sama teman suami
  • Tiket masuk Pantai Hamadi + parkir : Rp 20.000
  • Tiket masuk Pantai Base_G : free
  • Makan di Resto Rumah Laut : Rp 658.000 /4 orang
  • Tiket masuk puncak TVRI : free
  • Tiket masuk puncak skyline + parkir : Rp 10.000
  • Es kelapa muda : Rp 25.000
  • Tiket masuk puncak Jayapura City + parkir : Rp 10.000
  • Beli snack dan minuman : di skip aja ya karena ini optional kok.

Hari ketiga :

  • Tiket Jayapura – Makassar : Rp 2.680.000/2 dewasa + 1 anak
  • Sewa mobil Innova dari hotel Cityhub Abepura ke Bandara Sentani : Rp 200.000 (sedangkan jika pakai jasa hotel biayanya Rp 350.000)
  • Oleh-oleh : Rp 700.000

Totalnya silakan dihitung sendiri. Kalian bisa men-skip biaya makan dengan menyesuaikan selera. Tempat makan di Jayapura ada banyak sekali dengan menu yang sangat beragam. Tapi katanya sih gak afdhol kalau gak nyobain ikan mujairnya. Ikan mujair ini bisa dinikmati mulai dari harga Rp 95.000/ekor.

Well, semoga informasinya bermanfaat ya. Silakan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan. Selamat berlibur di Jayapura!

Traveling Saat Hamil? Kenapa Tidak!

Jauh sebelum saya menikah dan hamil, traveling telah menjadi kebutuhan pribadi. Nah yang namanya kebutuhan, tentu harus dipenuhi dan pastinya butuh biaya. Maka budget khusus jalan-jalan harus disiapkan layaknya budget untuk keperluan lainnya. Bersyukurnya, saya menikah dengan lelaki yang juga suka jalan-jalan. Pokoknya 11-12 lah dengan saya dalam urusan traveling. Saya tidak bisa membayangkan jika punya suami yang menganggap traveling semata-mata sebagai gaya hidup belaka dan hanya membuang-buang uang! Soalnya ada lho tipe cowok yang begitu. Hahhh.. ada?? Iya, banyak! Duh… kebayang betapa menderitanya hidupku. Allah itu maha adil emang ya. Menyatukan kita dengan yang setipe. Tukang jalan ketemunya sama tukang jalan juga. 

Kami berdua sepakat bahwa alam dan dunia luar adalah sekolah kehidupan terbaik. Karena itu alih-alih mengeluarkan uang untuk mengoleksi barang mewah, kami justru lebih senang ‘membeli’ pengalaman dan collect moment. Contoh nih, untuk urusan gadget kami tidak mengikuti trend yang harus gonta-ganti tiap ada keluaran terbaru. Hp paling diganti setelah usianya uzur. Diganti setidaknya setelah pemakaian 5 tahun. Kecuali jika terjadi emergency case seperti iphone saya yang harus pensiun dini karena hancur ditumbuk-tumbuk Ochy. Beli tas branded gak harus semua merk dan model. Kalau sudah punya satu, cukup. Beli sepatu mahal, boleh. Yang penting nyaman dipakai. Ini juga tidak harus mengoleksi berbagai warna dan jenis sepatu untuk menuh-menuhin lemari saja yang kalau mau pergi jadi bingung sendiri mau pakai yang mana saking banyaknya. Begitulah, kami selalu merasa cukup atas kepemilikan barang namun selalu merasa kurang akan pengalaman. Karenanya, kami lebih banyak menghabiskan uang dalam traveling daripada di etalase mall. Sebab bagi kami, barang-barang itu ada masanya sedangkan kenangan insyaAllah sepanjang waktu, investasi lahir batin.

Karena prinsip inilah maka saat hamilpun bukan sebuah kendala untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Masa-masa hamil justru menjadi moment indah bagi kami mengenalkan calon buah hati pada dunia luar.

Saya sendiri sejak hamilkan Ochy -anak pertama kami-alhamdulillah lancar jaya tanpa merasakan ngidam apalagi morning sickness. Bawaannya santai saja, seperti tidak hamil. Anaknya sudah pintar sejak masih dalam kandungan. Ngerti banget kondisi ibunya yang gak bisa diam a.k.a aktif sekali sehingga agenda traveling tidak ada yang berubah. 

Saat hamilkan Ochy 5 bulan
Kehamilan kedua, usia 3 bulan
Kehamilan kedua, usia 6 bulan

Bedanya traveling saat hamil dirasakan justru pada orang-orang di sekitar saya. Banyak yang mengingatkan untuk duduk manis saja di rumah, istirahat dengan nyaman. Tidak sedikit yang khawatir saya dan calon bayi kenapa-kenapa (kecapaian lalu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan) jika traveling melulu apalagi ke tempat-tempat yang rada ekstrim bagi ibu hamil. Ya, saya anggap itu sebagai bentuk cinta kasih mereka kepada saya dan calon bayi. Saya sangat menghargainya. Tapi gimana ya, kalau sudah jadi kebutuhan berasa ada yang kurang jika tidak dipenuhi.

Saya masih ingat saat itu trimester awal. Karena perut belum terlalu besar, yang liatin sih biasa-biasa saja. Tapi saat trimester akhir, jelang partus gitu, banyak yang terheran-heran cenderung merasa takut kok ada makhluk buncit luar biasa di pantai Padang-Padang yang tersembunyi di bawah karang dan harus melalui banyak anak tangga di celah yang sempit begini? Ada juga yang khawatir nanti saya lahiran premature saat manjat-manjat mendaki jalur air terjun Git-Git di Bedugul. Begitu juga dengan kehamilan kedua ini. Meskipun melalui proses ngidam -gak doyan makan selama trimester awal- yang menyebabkan berat badanku menyusut drastis namun jalan-jalan tetap gak absen.

Hamil anak pertama
Hamil anak kedua. Tetap fit main ke bukit
Hamil anak kedua. Tetap senang main ke pantai

Berdasarkan pengalaman saya, traveling bagi ibu hamil sebenarnya aman-aman saja kok. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Traveling justru menjadi hal yang membangkitkan enndorphin tubuh, membuat hati selalu merasa bahagia. Namun tentu ini tidak bisa dipaksakan berlaku umum sih. Karena kondisi setiap ibu hamil berbeda-beda. Kalaupun ada yang ingin tetap traveling, mungkin bisa mencoba tips ala kami :

  • Ibu hamil mudah lelah. Ini memang betul. Stamina tubuh saat hamil dan tidak memang jauh berbeda. Karena itu selalu bawa bekal. Saya sendiri karena tidak doyan makan maka diganti dengan konsumsi buah. Saya selalu membawa potongan semangka, pepaya, kiwi dan buah naga dalam satu wadah sebagai penambah energi.  Yang tidak kalah penting, istirahatlah kapanpun merasa lelah.
  • Sering buang air kecil. Nah ini perkara paling sulit bagi saya jika sedang traveling apalagi ke alam bebas yang belum ada fasilitas apapun. Karena itu saya selalu buang air kecil dimanapun menemui toilet. Di restoran, masjid, toko, termasuk numpang di rumah warga.
  • Takut keguguran. Banyak yang bilang begitu sih. Katanya bisa menyebabkan kaki bengkak saat jalan jauh dan lama. Fatalnya lagi bisa memicu keguguran karena calon bayi akan kontraksi hebat saat kita bergerak terlalu banyak. Alhamdulillah sih saya tetap lahiran dengan selamat. Semoga kehamilan kedua inipun begitu. Untuk kaki bengkak, saya memang pernah mengalaminya ketika jalan kaki dari rumah di Jl. Drupadi ke lapangan Renon Denpasar plus mengelilingi jalur jogging track Renon selama 50 menit. Namun bengkak ini segera hilang saat kaki direndam dengan air hangat sedikit garam.
  • Memakai pakaian dan alas kaki yang nyaman. Ibu hamil mudah sekali berkeringat dan merasa gerah. Karena itu sebisa mungkin memakai pakaian yang nyaman, tidak terlalu ketat dan dari bahan yang mampu menyerap keringat.
  • Support suami. Ini bagian yang tidak kalah penting. Dukungan dari orang-orang terdekat kita terutama suami memang sangat perlu. Saya bersyukur sekali punya pasangan yang sangat mengerti kondisi saya. Tanpa dimintapun, doi pasti sudah bantu pijit punggung, kaki bahkan rela menggendong jika melihat saya mulai lelah dalam perjalanan.

Itulah beberapa tips ala bumil pecinta traveling. Semoga tulisan ini bermanfaat terutama bagi ibu-ibu yang lagi was-was akan keamanan traveling saat mengandung. Percayalah, the less your fear the more your experience.

Everyday is Holiday in Bali

Sejak kami pindah ke Bali dan menjadi warga Denpasar rasanya kualitas hidup kami meningkat sekian persen untuk kesenangan batin. Ini bukan tanpa alasan. Mengenyam hidup selama 2 tahun lebih di tanah Papua yang kering dan serba terbatas akan segala sesuatu khususnya di Kota Timika membuat kami seperti zombie yang setiap hari dengan rutinitas itu-itu saja. Parahnya, tak ada tempat refreshing yang memadai untuk sekadar melepas penat. Tak ada akses yang menunjang untuk mengeksplore kekayaan alam Timika. Pun tak ada festival budaya yang mempertontonkan keunikan adat istiadat Papua yang begitu tersohor. 

Ya, meski berada di Papua namun Kota Timika tidak seperti daerah lainnya. Sebut saja Jayapura yang alamnya luar biasa dengan akses yang sangat ramah turis. Bahkan hampir setiap tahun mengundang banyak pengunjung domestik dan internasional dalam pagelaran budaya Papua di Festival Danau Sentani. Atau seperti Biak yang dianugerahi keindahan laut, pantai dan air terjun. Atau seperti Raja Ampat yang dikarunia gugusan pegunungan karst yang keindahannya telah diakui dunia. Atau mungkin seperti Nabire yang memiliki sejuta kekayaan biota, flora dan fauna. 

No! Timika is totally different. Benar bahwa di Timika ada gunung. Tapi tidak mudah mengaksesnya (jika tidak terkesan tidak dapat dijangkau). Benar pula bahwa di Timika ada Kuala Kencana, kota di dalam hutan. Namun itu bukan objek wisata. Adalah sebuah fakta bahwa di Timika ada distrik Pomako yang menyuguhkan pemandangan perairan. Tapi menuju kesana setidaknya 2 jam tanpa jaminan keselamatan karena masih sering terjadi bentrok antar suku di beberapa daerah yang kita lalui sebelum akhirnya bisa melihat laut Pomako. Hal yang benar pula bahwa Timika memiliki Tembagapura yang kontur alamnya berbukit-bukit. Namun lagi-lagi tidak bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Tembagapura dengan segala keindahannya adalah restricted area yang hanya bisa dimasuki oleh karyawan PT. Freeport Indonesia. 

Bagi kami warga umum yang numpang tinggal di dataran Timika hanya bisa bolak balik dari ujung timur ke barat, utara dan selatan kota. Ketemunya itu-itu saja. Jika tidak ke Kuala Kencana, mainnya ya di daerah bandara Mozes Kilangin. Jangan bayangkan ada mall dengan segala gemerlap etalase toko. Tidak pula cinema untuk menikmati film layar lebar terbaru. Di Timika hanya ada ruko lantai tiga dan itu sudah dianggap mall di sana.

Maka tinggal di Bali dengan segala kekayaan alam dan budayanya ibarat menemukan sepotong surga yang jatuh di bumi. It feels like everyday is holiday! Kami tidak harus menunggu weekend ataupun hari libur untuk menikmati sunset yang indah di pantai. Juga tak mesti merencanakan waktu khusus untuk melihat ragam budaya Bali yang begitu memesona. Kami benar-benar menikmati setiap sudut daerah Bali dari ujung pesisir hingga di ketinggian gunung. Dari satu pantai ke pantai lainnya. Dari alam pedesaan hingga ingar bingar perkotaan. Bali is truly completed in one package.

Namun di atas itu semua, baik Timika maupun Bali sama-sama memberi banyak pelajaran hidup bagi kami. Di Timika kami bisa belajar tentang sabar dan banyak-banyak bersyukur. Setidaknya kebutuhan dasar seperti air dan listrik bukan barang langka. Sedangkan di Bali, kami belajar banyak tentang hidup sederhana dalam kemewahan.