Galau Hilang di Kyouchii

Sabtu malam. Gerimis. Dan rindu

Baru 10 hari. Belum juga genap sebulan. Tapi rontok sudah segala upayaku menguatkan diri. Membunuh dengan rela setiap rindu yang hadir ternyata menyakitkan. Sangat menyakitkan. Sungguh!

Sejak awal sudah kuduga. Sebelum ijab qabul 3 tahun yang lalu. Bahwa ini tidak akan mudah. Karena mencintaimu adalah patah hati yang disengaja. Namun apa daya. Segenap perasaanku goyah dalam kehangatan pribadimu. Mungkin saya jatuh cinta. Ah, bukan. Bukan jatuh lagi, tapi terjun bebas!

Hahaha… lebay deh! Sebelum kepanjangan, mending di cut off saja.

Saya jadi penasaran. Mengapa saat kita galau, seketika mampu menulis hal dengan bahasa yang puitis. Merangkai kata indah entah dengan kalimat metafor ataupun personifikasi. 

Nah supaya galaunya gak keterusan, saya coba mencari udara segar sambil bermalam mingguan. Sebenarnya bukan gaya saya sih menghabiskan sabtu malam di luar rumah. Karena bisa dipastikan terjebak macet dan beberapa tempat akan penuh orang. Males ngantrinya. Wasting time. Tapi entah mengapa kaki tetap saja melangkah. Setelah dapat izin dari suami, sayapun meninggalkan rumah. Sengaja memakai grab taxy biar gak pegel nyetir hadapi kemacetan Kota Makassar. Lagian tarifnya lebih murah dibanding saya isi bensin. Hahaha. Thanx grab, anyway!

Well, malam ini saya pergi ke Kyouchii. Cafe baru bernuansa Jepang yang ada di poros Sungai Saddang. Tepatnya di samping Living Plaza, Ex Maricayya. Baru juga turun dari mobil, antrian sudah panjang di tangga depan. Ramai sekali dengan pasangan muda, rombongan keluarga, ABG sampai anak-anak. Sama seperti mereka, sayapun masuk waiting list. Menunggu meja kosong yang tersedia.

Antrian waiting list. Gambar diambil sesaat saya tiba, masih sore.

15 menit, belum juga tiba giliranku. 30 menit berlalu pun belum dipanggil-panggil. Mulai bete sih. Untung bawa buku jadi cukup membantu mengalihkan kebosanan menunggu. Sempat cerita singkat juga sama pelayan yang mengurus daftar tunggu. Dari dia saya dapat informasi bahwa owner Kyouchii adalah pemilik yang sama dengan Panbaker’s dan Numerica 29. Wow! Fyi, semua cafe itu adalah yang terhits di Makassar. Selalu ramai dengan pengunjung.

Karena masih terasa lama, sayapun memutuskan bertemu seorang sahabat di tempat berbeda, tak jauh dari sini. Saat malam tiba, kamipun memutuskan mampir di Kyouchii sebelum berpisah. Syukurnya sudah daftar sejak sore tadi. Sehingga begitu ada meja yang kosong, kamipun langsung dipersilakan masuk. Ucapan koor “irasshaimasen” dari seluruh karyawan kompak saat pintu terbuka. Kesan pertama saya, desain interiornya cantik. Instagramable banget. Setiap spot sepertinya ok buat difotoin. Warna pastel dengan ornamen unik minimalis khas Jepang benar-benar membuat betah duduk lama-lama di dalamnya. Apalagi saya memang Japanholic sih. Jadi rasanya kawin banget dengan tempat ini. Belum lagi dessertnya! Meskipun rasanya standar cenderung seperti es poteng dan es serut tapi bentuk dan servingnya bikin jatuh hati. Harganya juga gak mahal-mahal amat, sekitar Rp 27.000-Rp 55.000 saja. Ukurannyapun besar. Satu porsi bisa banget buat berdua.

Foto diambil sesaat setelah meja dibersihkan dan waitress siap-siap memanggil nama antrian berikutnya
Pesanan kami. Lupa namanya apa. Yang jelas ada matchanya gitu. Hahaha.

Sepengamatan saya, cafe ini terkesan ramai karena memang tempatnya yang lumayan kecil dan sempit. Sehingga tidak banyak meja dan kursi yang tersedia layaknya pendahulunya di Panbaker’s apalagi di Numerica 29. Cafe satu lantai ini setidaknya hanya mampu menampung 20 orang sekaligus di waktu yang sama. Nah saat ramai begini, biasanya agak susah dapat foto yang bagus. Adanya kepala orang, kepala lagi.

Suasana di dalam Kyouchii. Ramai ya.

Satu hal yang membuat saya dongkol luar biasa karena tidak dibenarkan mengambil gambar dengan kamera non HP. Kejadian ini saya alami ketika menjepret salah satu sudut dengan kamera mirrorless. Seorang pelayan datang menegur saya dengan ramah agar tidak mengambil gambar selain menggunakan kamera HP saja. What?! Gak salah?! Bukankah hasil mirrorless jauh lebih bagus dibanding kamera HP saja? Lagian saat kita para pengunjung memposting hasil gambar kita di media sosial bukankah di saat yang bersamaan kita membantunya beriklan gratis? Aneh bin ajaib sih menurut saya. Ketika banyak cafe senang-senang saja difotoin lalu mengupload foto-foto terbaik mereka versi kita, Kyouchii malah menolak.

But well, forget it! Sekadar tips saja jika memang benar-benar mau menikmati cafe ini, sebaiknya datanglah saat weekdays terutama di jam-jam anti mainstream seperti brunch time. Mintalah kursi di dekat jendela agar pencahayaannya mendukung untuk dapatkan gambar yang ok. Satu lagi, pake hp yang bagus ya mengingat DILARANG motret pake kamera.

Oke. So far galaunya sudah terobati. Perasaan sudah normal kembali. Apalagi setelah insiden larang foto tadi. Rindunya hilang sama sekali. Tak mampu berkata puitis lagi. Lupa dengan hubungan LDR bersama suami.

Jadi mengapa saat kita galau kita begitu melankolis?

Advertisements

Analogy Pastry & Bistro

Jujur saja, saya tipe orang yang tidak terlalu suka nge-mall tapi sangat doyan nongky apalagi di cafe dengan desain yang unik. Bagi saya mall itu terlalu crowded, gak asyik buat duduk lama apalagi untuk menulis atau bekerja meskipun di dalam mall itu sendiri berderet sekian banyak cafe. Karena itu saya lebih senang ‘membunuh waktu’ di cafe yang bangunannya independen.

Bersama sahabat yang juga partner bisnis

Cafe bagi saya bukan hanya sekadar tempat makan-minum dan hangout bareng teman tapi sudah menjadi bagian dari pekerjaan mengais rupiah. Entah meeting bersama partner bisnis ataupun menjadi tempat hibernasi terutama saat suntuk dan ingin mencari inspirasi baru. Rehat sejenak dari rutinitas yang kadang membosankan. Saya bisa duduk berjam-jam bahkan menamatkan sebuah buku bacaan.

Nah salah satu cafe favorit saya adalah Analogy Pastry & Bistro. Awalnya ke sini karena disebut-sebut jika cafe franchise asal Australia ini adalah milik salah seorang dokter gigi alumni Unhas. Rupanya hoax belaka karena ownernya murni seorang pengusaha dari Surabaya. Cafe yang launching sejak 26 Juli 2016 di Makassar ini juga memiliki cabang di Jakarta dan Balikpapan.

Pintu masuk cafe. Pelayan sudah menyapa begitu kita dibukakan pintu

Sesuai dengan namanya, cafe berlantai dua ini memiliki konsep pastry and bistro. Menyediakan aneka jajanan kue yang terpajang dalam lemari pendingin show case dan sebuah bistro. Desain interiornya ala Eropa dengan dominasi dinding berwarna putih yang dipadu nuansa klasik batu bata berwarna merah. Tampak sangat elegan!

Analogy pastry & bistro tampak depan
Inside cafe dengan lemari show case berisi aneka pastry
Interior lantai dua

Menurut saya, spot terbaik dari cafe yang buka setiap hari ini ada di bagian teras samping lantai satu. Partisi kotak kaca besar dengan cahaya yang temaram memberi kesan hangat. Tak banyak meja dan kursi pengunjung disana sehingga suasananya terasa lebih privat. Saat malam tiba, candle light di meja semakin melengkapi efek tenang sudut itu.

Teras depan dilihat dari dalam.
Teras depan dari luar

Tak perlu khawatir jika waktu sholat tiba karena telah disediakan ruang musholla dekat parkiran. Meskipun sangat minimalis, tapi cukup buat berjamaah hingga empat orang.

Informasi Penting :

  • Lokasi : Jl. Karunrung No.6 Makassar 
  • Jam operasional : 09.00-23.00 (weekdays) dan 09.00-00.00 (weekend)
  • Range harga : Rp 20.000 – Rp 250.000

Liberica, The Container Cafe

Sejak setahun terakhir, banyak cafe baru yang bermunculan di Makassar. Saling berlomba membuat dekorasi ruang yang unik dan menarik serta senyaman mungkin. Ya, cafe tidak lagi menjadi tempat makan-minum saja. Lebih dari itu, cafe kini menjadi tempat nongkrong sebagai bagian dari gaya hidup.

Salah satu cafe bergaya unik di jantung kota Makassar adalah Liberica. Eksteriornya dari kontainer raksasa yang disusun bertingkat. Dengan dominasi warna hitam pekat dan jendela kaca besar, penampilan cafe ini sangat mewah.

Saat saya tiba di Liberica, hari baru saja beranjak dari sore namun malam belum menjemput. Masih ada sinar matahari yang menggantung di kaki langit, sedikit kemerahan dengan jingga menyala. Karena masih nanggung jam makan malam, saya dan teman hanya memesan makanan ringan saja berupa banana macaron, nutella macaron, choco pie tart, choco ice blend dan lemon tea ice untuk dinikmati berdua. Bagi saya, semua choco yang kami pesan sangat manis tapi lemon tea icenya juara! Segar dan manisnya pas (mungkin karena saya pesan less sugar di awal tadi).

Area outdoor Liberica
Aneka kue yang bisa dipesan

Secara keseluruhan, tempatnya sangat cozy baik area indoor maupun outdoor. Perpaduan interior dan eksteriornya modern minimalis dengan sentuhan berkelas. Setiap sudut cafe malah sangat instagramable. Bagi pecinta fotografi, tempat ini sangat recommended.

Salah satu sudut indoor Liberica
Non smoking area
Kami duduk di kursi ini, di depan main bar dan kasir

Menurut pelayan yang saya tanya, cafe ini adalah pemilik yang sama dengan toko Harapan Baru, sebuah pusat perbelanjaan pakaian di Makassar yang seingat saya sudah eksis sejak saya masih ingusan dan buta huruf. Cabang Harapan Baru sendiri sangat banyak dan tersebar di beberapa titik sentral niaga Makassar.

Anyway saran saya jika kamu pecinta ketenangan, sebaiknya hindari kunjungan ke sini saat weekend apalagi jam 5 sore ke atas. Karena bisa dipastikan akan penuh pengunjung. Namun sebaliknya, jika kamu penikmat keramaian, malam hari selepas pukul 7 adalah waktu yang paling pas.

Cafe ini bisa dijumpai di Jl. Bontolempangan No. 34, tepat di samping toko Harapan Baru. Buka setiap hari dari jam 10 pagi hingga pukul 1 dini hari. Menu yang disediakan juga beragam, Asian food maupun Western food.

Pungopang

Korea tak henti-hentinya menghadirkan sensasi untuk masyarakat Indonesia dan Makassar adalah salah satu kota besar yang merasakan dampak ke-korea-an itu. Setelah sukses dengan K-drama dan K-Pop yang keren, kini banyak bermunculan kuliner asal negeri ginseng tersebut. 

Salah satu cafe ala Korea yang lagi happening adalah Pungopang. Berlokasi di Jl. Pengayoman No.11D, tidak jauh dari Mall Panakkukang. Pungopang yang berarti ikan yang mencari harta karun ini buka setiap hari dari jam 10.30-21.30 malam dengan harga mulai dari Rp 30.000-Rp 85.000

Lantai 1 Pungopang di dekat meja kasir

Ucapan “Annyeong haseo” adalah kalimat pertama yang kita dengar dari waitress ketika masuk ke cafe ini. Bagi saya, interior cafenya secara umum biasa saja sih. Di lantai satu hanya ada main bar dan meja kasir beserta beberapa meja dan kursi pelanggan. Naik ke lantai dua, suasananya sedikit berbeda dengan adanya kapal bajak laut di sudut ruang. 

Lantai 2 Pungopang

Meskipun tampilannya biasa saja, namun cafe ini selalu ramai terutama saat weekend. Mungkin daya tariknya ada pada menu dessert korea dan ice cream yang bentuknya lucu-lucu. Memang sangat menggoda! Pelayanannya juga bagus, cepat dan sangat ramah. Servis lainnya yang menambah nilai plus Pungopang karena kita bisa memakai kostum korea yang disediakan untuk berfoto secara cuma-cuma. Nah untuk yang suka narsis tentu paling senang nih dengan bagian ini. *tunjuk diri sendiri* hehehe.

Salah satu menu ice cream : parfait dan bingsoo rasa taro
Fondue : Biskuit, jelly, popcorn, brownies dan cake dicocol ke saos coklat hangat. Rasanya mantap!
Tuh kan! Narsisnya kumat. Hahaha

Lima (5) Tempat Nongkrong Asyik Di Timika

Timika bisa dibilang kota yang masih berbenah dan dalam tahap pengembangan. Belum banyak ditemukan gedung-gedung tinggi ataupun bangunan mewah sekelas megamall. Namun Timika mempunyai cafe atau tempat nongkrong yang nyaman untuk bersantai bersama keluarga, pasangan ataupun teman-teman. Menurut saya pribadi, lima diantaranya yang layak dikunjungi adalah sebagai berikut :

1. Kuala Oriental

Sebenarnya Kuala Oriental lebih tepat disebut restoran ketimbang cafe. Tempat ini selalu menjadi referensi utama jika mencari tempat nongkrong yang asyik di Timika. Bangunannya modern dengan desain oriental yang kuat. 

Meskipun bernuansa Chinese namun makanan dan minuman yang dijual di sini aman bagi ummat muslim alias halal. Menu utamanya adalah seafood dengan harga mulai dari Rp 75.000-Rp 100.000. 

Tapi tidak perlu khawatir. Buat kamu yang tidak suka seafood, kamu tetap bisa menikmati suasana hangat khas oriental di sini karena juga tersedia makanan ringan seperti snack dan soft drink dengan harga mulai dari Rp 20.000.

Restoran ini ada 3 cabang yaitu di Kota Timika tepatnya di Jl. Budi Utomo No.88A dan juga di Kuala Kencana area Shopping Centre serta di Kuala Seafood, depan Pondok Amor.

Kuala Oriental tampak depan

Inside Kuala Oriental

Ornamen Kuala Oriental yang sangat khas

2. Mel’s Cafe

Berlokasi di Jl. Hasanuddin Ruko Pelangi No 7-8 Timika. Mengusung tema modern nan humanis. Menu yang ditawarkan sangat beragam. Mulai dari makanan karbo berat hingga camilan pengganjal, dari minuman buah segar hingga berbagai jenis kopi. Menu favorit kami adalah sop buntut. Sumpah enak banget!

Tempatnya sangat nyaman, interior ruangannya cantik, harga bersahabat dan yang pasti punya jaringan internet yang super kencang. Saat weekend apalagi di malam minggu, biasanya akan penuh pengunjung.

Inside Mel’s Cafe
Daftar menu Mel’s Cafe

3. Waanal Coffee

Letaknya di SP 3, menyatu dengan bengkel Waanal. Cafe ini ada di lantai dua dengan desain vintage yang modern.

Selain tempatnya yang nyaman, pelayanannyapun santai. Sangat cocok untuk menghabiskan waktu luang bersama orang-orang tercinta.

Cafe ini menyediakan makanan ala Argentina dengan kisaran harga mulai dari Rp 25.000. Tiap kali ke sini, kami biasanya memesan roti bakar dan cappucino atau hot chocolate.

Waanal Cafe Timika yang nyaman, suasananya hangat dan santai.

4. So Yummy Bakery

Pertama kali hadir di Timika dengan nama So Yummy Bakery and Cafe pada 8 April 2009 yang berlokasi di gedung Diana SPM lantai 3 (sekarang di lantai 1 mall Diana) Jl. Budi Utomo No.8 dengan menu utamanya adalah bakery (kue dan roti) yang benar-benar freshly baked from the oven karena mereka memproduksi semua secara mandiri. 

2 tahun berselang tepatnya pada 26 Oktober 2011, So Yummy  Resto hadir melengkapi pendahulunya dengan menu tambahan berupa makanan cepat saji yang bisa dijumpai di Jl. Yos Sudarso Timika. Harga roti yang ditawarkan mulai dari Rp 9.000 dan minuman Rp 15.000. Cukup terjangkau bukan?!

So Yummy Bakery Lantai 1 mall Diana
Inside So Yummy
Etalase kue di So Yummy
Antrian di kasir
So Yummy cabang Jl. Yos Sudarso Timika. Selalu ramai pengunjung apalagi di malam hari.

5. Chicken Day Cafe

Bangunanya menyatu dengan supermarket Awalin di Jl. Cendrawasih SP2. Terletak di lantai 2 yang terintegrasi dengan restoran cepat saji Chicken Day.
Menu utamanya adalah kopi yang bisa dipesan dalam berbagai varian rasa dan topping.

Tempatnya bersih, nyaman dengan fasilitas wifi. Tersedia juga area bebas rokok dengan full AC dan smoking area dengan pemandangan gunung dan sunset yang indah di sore hari. Bagi kamu yang suka keramaian, tempat ini sangat cocok karena full music dan bisa karaoke dengan gratis.

Main Bar
Non Smoking Area. Waktu ke sini, area cafe totally reserved karena akan diadakan acara ultah sehingga meja-mejanya disingkirkan dulu.
Smooking Area. Kalau pas lagi sore, spot ini cukup Ok menikmati sunset.
Kita bisa menikmati pemandangan barisan pegunungan di area terbuka Chicken Day Cafe. Sayangnya banyak kabel listrik yang mengganggu.
Bangunannya menyatu dengan restoran Chicken Day yang khusus menyediakan makanan cepat saji.

Jadi, kalau lagi ke Timika dan masih bingung cari tempat hangout yang cozy, kamu bisa memilih salah satu rekomendasi di atas.