Mudahnya Mengurus Sendiri Visa Jepang di Makassar

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman SMA menelepon menanyakan tentang cara pengajuan visa Jepang di Kota Makassar secara mandiri alias tanpa calo atau travel agent. Saya mengingat-ingat kembali prosesnya dan mungkin tidak ada salahnya jika saya menuangkan pengalaman itu ke dalam tulisan di blog ini. 

Jadi waktu itu, saya akan ke Jepang bersama suami beserta dua orang teman perempuan. Awalnya ingin mengajukan permohonan visa pada konsulat jendral Jepang di Denpasar yang letaknya tidak jauh dari rumah tapi berhubung kartu keluarga  dan KTP kami belum terbit, saya akhirnya memutuskan untuk mengajukan visa pada konjen Jepang di Makassar dengan menggunakan fotokopi ktp dan kartu keluarga lama yang berarti status masih single 😅. Begitupun dengan suami, menggunakan kartu identitas lama yang masih berdomisili di Timika, juga dengan status masih single. Syukurnya, Timika masuk ke dalam wilayah yurisdiksi konjen Jepang di Makassar sehingga sangat pas untuk mengajukannya bersama-sama.

Pengajuan visa ini bisa diwakili oleh salah satu orang saja jika bepergian dua orang atau lebih. Alhamdulillah, itu berarti suami gak harus terbang ke Makassar hanya untuk mengurus visa. Sedangkan kedua teman perempuanku memilih jasa travel agent. Mungkin karena ini adalah perjalanan internasional pertama mereka sehingga dirasa lebih aman memakai jasa travel agent untuk mengurus visa. Atau mungkin juga belum percaya sama saya. Takut kalau-kalau visanya gak disetujui. Padahal mengajukan lewat travel agent sekalipun sebenarnya tidak ada jaminan visa akan approved. Karena semuanya tergantung pihak konjen, mau ngasih atau tidak. Tapi yasudahlah, karena mereka tidak keberatan membayar biaya administrasi tambahan buat travel agent diluar biaya visa itu sendiri plus harus menyiapkan saldo min 50 juta rupiah di rekening koran, ya silakan saja. 😊😊

Syarat-syarat pengajuan visa Jepang

Sebelum mengajukan visa jepang (dalam hal ini menggunakan paspor biasa bukan e-passport) maka harus melengkapi dokumen yang diperlukan terlebih dahulu yaitu :

  1. Paspor yang masa berlakunya setidaknya lebih dari 6 bulan
  2. Formulir permohonan visa yang bisa di download di website konjen Jepang 
  3. Pas foto terbaru ukuran 4,5cm x 4,5 cm berlatar putih. Yang berhijab bisa tetap mengenakan hijabnya. Sebaiknya memakai hijab yang kontras dengan latar foto, sehingga kelihatan lebih bright.
  4. KTP (surat keterangan domisili). Fotokopi di kertas A4 tanpa memotongnya. 
  5. Kartu Keluarga. Cukup fotokopinya saja. Disertakan jika berangkat bersama keluarga sebagai bukti hubungan dengan si pemohon. Jika pemohon sendiri-sendiri, tidak perlu melampirkannya.
  6. Tiket pesawat. Tidak harus menggunakan tiket yang sudah lunas. Bisa menggunakan tiket booking-an. Pastikan saja, statusnya masih aktif ketika melakukan pengajuan visa.
  7. Itinerary. Buat yang simple saja, gak usah heboh menjelaskan kegiatan per jam hingga berlembar-lembar. Cukup menunjukkan akan pergi ke mana saja setiap hari sejak masuk hingga keluar Jepang. Juga tidak harus menuliskan semua tempat yang akan kita datangi. Pokoknya as simple as in one page.
  8. Rekening koran atau fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir. Nah inilah bagian terhoror dalam mengurus visa. Berapa sih jumlah tabungan yang harus kita punya? Benarkah harus 50 juta rupiah seperti kata orang-orang? Sebenarnya sih tidak disebutkan berapa jumlah yang pasti oleh pihak kedutaan, hanya saja perhitungkan semua biaya yang bisa men-cover seluruh perjalanan kita selama di Jepang. Amannya, sediakan 1 juta rupiah/hari. Jadi kalau di Jepang selama 1 minggu, berarti kalikan saja selama 7 hari. Terus lebihkan sedikit untuk menunjukkan bahwa ketika kembali ke negara asal, kita masih punya biaya hidup selama beberapa hari ke depan.
  9. Surat keterangan kerja bagi karyawan atau SIUP bagi pengusaha. Intinya, surat keterangan yang menunjukkan kita punya penghasilan. Kalau misalnya pemohon adalah ibu rumah tangga, berarti lampirkan surat keterangan kerja milik suami beserta KK, buku nikah dan buku tabungan atas nama suami. Berhubung saya dan suami mengajukannya pakai status masih single jadi kami memakai surat keterangan kerja dan buku tabungan sendiri-sendiri.

    Pastikan semua dokumen sudah lengkap dan disusun berurutan sebelum dibawa ke loket pendaftaran, sebab kita tidak akan dilayani jika berkasnya kurang ataupun tidak lengkap. Namun apabila sudah diproses dan diperlukan dokumen pendukung lainnya, pemohon visa akan dihubungi lagi.

    Langkah-langkah pengajuan visa Jepang di Makassar

    Setelah semua berkasnya lengkap, datanglah ke konjen Jepang sesuai jam kerjanya yaitu senin-jum’at pada jam 8.00 – 12.00 untuk permohonan visa dan jam 13.00-15.00 untuk pengambilan paspor.

    Untuk daerah Makassar, kantor konjen Jepang berada di gedung Wisma Kalla lantai 7 Jl.Dr. Sam Ratulangi No 8-10. No. Tlp (0411) 871-030.

    Setelah menyerahkan dokumen di loket pendaftaran, kita akan membayar biaya single visa sebesar Rp 320.000 (Maret 2015) lalu diberi surat keterangan pengambilan paspor 4 hari kerja kemudian.

    Ketika waktu pengambilan paspor tiba, datanglah kembali ke konjen Jepang pada pukul 13.00-15.00. Alhamdulillah ketika saya membuka paspor, stiker visa jepang sudah tertempel cantik di salah satu halamannya dengan masa berlaku visa selama 3 bulan.

    Visa Jepang

    Mudah bukan?! Semoga bermanfaat ya 🙂

    Advertisements

    Suatu Malam di Kiyoumizudera

    Kyoto. 9 menit lepas pukul 7 malam.

    Masih gerimis. Dingin masih mencekam. Langit malam terlihat pekat tanpa bintang. Namun Kyoto bermandikan sakura. Kuil-kuil bercahaya dan dari ketinggian Kiyoumizudera, tampak kota Kyoto yang gemerlap di bawah sana. Benderang dalam kesunyian. Jika ada alunan biola ataupun piano, tempat ini sungguh akan sempurna menciptakan suasana yang romantis. Lalu disanalah kita. Berdua di bawah kuil merah, merangkul mimpi-mimpi baru.

    Angin membuatku meringkuk. Melipat kedua tangan di depan dada. Membenamkan jemari di sudut ketiak. Rasanya tak mampu lagi beranjak. Pun hanya sesenti dari tempatku saat ini. Hanya mampu memandang kagum pada Kuil Kiyoumizudera yang berdiri gagah menantang cuaca. Tiang-tiangnya kokoh menyangga pelataran. Saya tak bisa lagi selangkah lebih dekat. Dingin memenjarakanku di sini. Bersamamu.

    Kedua pipiku merona. Ah… Bukan karena sedang tersipu. Tapi udara yang begitu ekstrim membuat pembuluh darah menggumpal di titik-titik tertentu. Terasa perih. Ngilu menggigit tulang. Tubuhku gemetaran. Bibir begitu kering, mulut berasap-asap dan tenggorokan terasa sakit. Saya tidak muluk-muluk semua kesakitan itu sirna oleh kehadiranmu. Tapi denganmu di sisiku, ada rasa hangat yang membuatku nyaman. Meluruhkan sebagian kelu tubuhku yang teraniaya suhu dingin.

    “Jika suhu dingin yang menyiksa ini ibarat badai dalam kehidupan kita kelak. Percayalah, saya akan tetap sekokoh Kiyoumizudera menjagamu. Mempertahankanmu” Janjimu saat itu yang membuatku tak berpijak di bumi. Sebagian jiwaku terbang mengangkasa. Lupa bahwa dingin baru saja memenjarakan kita di bangku panjang ini. Di bawah pohon sakura raksasa yang menghadap kota Kyoto yang penuh cahaya lampu.

    Kyoto dan Sepatu Dadakan

    Arashiyama, spring 2015

    Jika saya ditanya kota mana yang ingin selalu saya kunjungi berulang kali, salah satu jawabanku adalah Kyoto. Saya bahkan telah jatuh cinta padanya jauh sebelum saya menginjakkan kaki di sana. Sebuah kota kecil yang menjadi pusat kebudayaan Jepang yang terletak di Pulau Honshu. Kuil kuno, tempat bersejarah, rumah tradisional, Geisha serta kehidupan masa lalu yang tetap dipertahankan adalah daya tarik yang dimiliki Kyoto diantara metropolitan Osaka-Kobe.

    Hari pertama kami menuju Kyoto sudah agak siang. Ini semata-mata untuk menghabiskan jatah Kansai Thru Pass kami yang sayang jika tidak digunakan secara maksimal sementara wisata di Osaka rasanya sudah kami datangi semua sedangkan jika ingin ke Nara ataupun Kobe sangat tidak memungkinkan. Karena itulah diputuskan ke Kyoto saja menggunakan kereta reguler Hankyu Kyoto Line dari Osaka yang ditempuh selama satu jam dan akan tetap kembali lagi ke Osaka malam harinya karena penginapan kami masih terjadwal di sana. Besok akan kembali lagi ke Kyoto dengan transportasi berbeda yaitu kereta peluru Shinkansen Nozomi sesuai itinerary awal kami. Agak ribet sih, tapi karena gak mau rugi ya ayo bolak-balik. Mumpung kaki masih kuat jalan. Yang bikin jadi semangat juga karena tentunya akan punya pengalaman berbeda ke Kyoto sebab jalur transportasi yang dilalui pun berbeda.

    Tujuan kami hari ini adalah ke Arashiyama untuk menikmati keindahan Bamboo groove, kuil Tenryuuji dan jembatan Togetsukyo yang menjadi destinasi wajib ketika liburan ke Kyoto.

    Perjalanan ke Arashiyama sangat menyenangkan meski dibumbui drama : nyasar dan sepatu dadakan. Ceritanya, kami yang seharusnya turun di stasiun terakhir malah turun satu stasiun sebelumnya hanya karena nama stasiun itu Arashiyama, nama yang sama dengan daerah wisata yang ingin kami kunjungi. Setelah berjalan cukup jauh, bukannya tiba di bamboo grove tapi malah memasuki kompleks perumahan warga. Suasananya persis seperti settingan rumah di film ataupun komik Doraemon. Bedanya, pohon sakura yang bermekaran di sepanjang jalan membuat pemandangan di kompleks perumahan ini jauh lebih epic. Sejujurnya bagi kami sih tidak ada kata nyasar dalam kamus hidup kami. Yang ada adalah menemukan tempat baru, menciptakan pengalaman baru seperti kejadian ini.

    Salah stasiun cyiint. Mentang-mentang namanya Arashiyama. Hahaha
    Meskipun nyasar tapi pemandangannya itu lho! Sakuranya bikin meleleh.

    Nah syukurnya kami punya kartu sakti Kansai tadi yang bisa digunakan sesuka hati naik kereta tanpa bayaran lagi, sebanyak apapun kita berganti kereta selama masih dalam hari yang sama. Jadi kamipun kembali lagi ke stasiun, menunggu kereta berikutnya untuk melanjutkan perjalanan hingga ke stasiun terakhir.

    Begitu keluar dari kereta, masih perlu jalan kaki lagi melewati perkampungan warga yang padat menuju bamboo grove yang konon katanya menjadi settingan film Samurai-X. Rumah-rumah yang dilalui ini bentuknya heterogen, ada yang modern dengan konsep bangunan bergaya western klasik adapula yang bersusun-susun menyerupai apato. Sangat berbeda dengan kompleks perumahan sebelumnya yang berbentuk rumah khas Jepang. Tiba di ujung jalan, kita langsung berhadapan dengan toko yang menjual souvenir, makanan, jajanan, pakaian tradisional Jepang (kimono dan yukata) serta berbagai toko lainnya yang membentang di kanan kiri jalan menuju Katsura River yang di sana terdapat Jembatan Togetsukyo.

    Kompleks perumahan padat yang dilalui setelah sampai stasiun. Paritnya bersih banget
    Jalan menuju Bamboo grove

    Kami mampir di beberapa kedai membeli souvenir dan mencicipi aneka jajanan kaki lima ala Jepang. Harganya cukup mahal jika dibandingkan di Dotonburi dan Shinsaibashi Osaka. Ice cream greentea adalah favorit saya dan bakpao isi kacang merah di antara jajanan yang kami anggap aman bagi muslim :  takoyaki tanpa alkohol (sejenis seafood yang diolah dan dibentuk bulat lalu dipanggang dan ditusuk menggunakan tusuk sate dan disiram dengan mayonaise dan taburan bawang), ikayaki (sate cumi-cumi) dan imagawayaki (sejenis pancake tebal berisi berbagai macam varian : coklat, keju, custard, daging, dll).

    Jalan menuju Togetsukyo Bridge. Banyak toko souvenir dan makanan di sepanjang jalan ini
    Suami di depan jembatan Togetsukyo, masih hujan.

    Di bamboo grove, saya tidak melanjutkan perjalanan hingga tuntas karena sepatu wedges boot yang saya pakai sudah tidak nyaman lagi, membuat kaki bengkak dan berair serta betis terasa nyeri. Mungkin karena sudah berjalan kaki terlalu lama. Padahal ini adalah salah satu sepatu andalan saya karena sangat stylish. Di beli di toko everbest beberapa minggu sebelum berangkat ke Jepang yang lagi diskon 40%. Sepatu flat bootnya sengaja ditinggal di hostel karena belum kering setelah hujan-hujanan di Osaka Castle lalu. 

    Melihat saya kesakitan, suami langsung minta lepas dan mengubek-ubek ranselnya lalu memberikan saya sendal tidur kebesaran (karena memang bukan ukuran saya), hasil belanja di shinsaibashi semalam. Aduuhh sumpah gak banget! Penampilan langsung gugur pokoknya. Hahahaha… saya terlihat seperti badut kesasar di antara rimbunnya pohon bambu.

    Saya lalu teringat dengan sneaker for couple yang kami beli di GU siang tadi. Alhamdulillaahh… jadi badutnya gak kelamaan. Ihhiyyyy!

    Dunia serasa milik berdua. Yang lain numpang doang. Sorry ye! Hahaha

    Dotonburi : Sebuah Kejujuran

    12 April. Musim semi 2015

    Ini adalah hari ketiga kami di negeri sakura. Sejak tiba selalu berangkat pagi dan pulang malam ke hotel. Mengunjungi beberapa tempat wisata yang cukup touristy di Osaka : Osaka Castle, Shinsaibashi, Dotonburi, Shitennoji, Shinsekai, Minami (Namba) dan Umeda Sky Building. Nah ada kejadian mengesankan di Dotonburi, sebuah pusat perbelanjaan, jajanan dan hiburan yang terhampar di sepanjang jembatan Dotonbori-Nipponbashi. Saat itu malam hari. Sedikit gerimis dan suhu dingin. Namun keramainnya tetap memperlihatkan sisi flamboyan Osaka.

    Suasana malam di Dotonburi Street
    Semakin malam semakin ramai

    Kami mengantri di salah satu kedai street food yang menjual takoyaki tepat di samping reklame kepiting raksasa Kani Douraku. Antriannya panjaaaaang banget. Asumsi kami, ini pasti enak nih karena orang yang antri banyak sekali. Ketika telah di 2/3 antrian, salah satu pelayannya menatap saya dengan senyum dan ngocehlah dia memakai nihon go. Sebagai balasan, saya tersenyum balik padanya. Mungkin dia memahami saya tidak mengerti maksudnya, diapun meminta bantuan ke temannya yang lain. Berdua, mereka meninggalkan pembakaran takoyaki dan merapat ke arahku. Dua pemuda Jepang yang sangat unyu mengenakan apron hitam dan kain senada diikatkan ke kepala. Sayangnya, teman yang dimintai bantuan tadi juga tidak fasih berbahasa Inggris. Maka body language pun adalah solusi. Bahasa pemersatu ummat manusia di seluruh dunia. Hehehe. 

    Laki-laki yang lebih jangkung yang tadi dimintai bantuan itu, menunjuk pashminaku berkali-kali dan menyebut alkohol berulang-ulang sambil menaikkan jempol kanannya lalu menunjuk suatu arah di depan sana. Saya mencoba mengolah informasinya dengan menebak : Mungkin maksud mas-mas ini apakah aman bagi saya yang berhijab memakan takoyaki yang ada unsur alkoholnya? Dan benar saja! Seseorang yang ikut dalam antrian itu, sepertinya warga Jepang juga namun fasih berbahasa Inggris menyampaikan bahwa takoyaki ini mengandung alkohol. Apakah itu halal bagi saya? Jika tidak, beberapa meter di depan sana ada kedai takoyaki yang lain yang tanpa alkohol. Seketika hatiku mengharu biru. MasyaAllaaahhh… betapa orang-orang ini sangat peduli dengan kami yang muslim. Berupaya berlaku jujur pada konsumen tanpa takut kehilangan calon pembeli.

    How to made takoyaki. Di depan panggangan itu, antrian pembeli mengular.
    Bye takoyaki. Kamu kelihatannya enak sih. Tapi maaf, kamu gak halal beb.

    Nah karena itu tidak halal, kamipun batal menikmati takoyaki yang baru diangkat dari panggangan itu. Sebagai balasan kejujuran pelayan kedai, kami tetap membeli hanya saja diberikan kepada si translator yang tadi antri di depan saya.

    Maka benarlah kata orang bijak : mereka yang mengedepankan nilai kejujuran, tidak akan pernah kehilangan untung.

    Osaka : Sakura, Kastil dan Pesta

    In life, it’s not where you go. It’s who you travel with -Charles Schulz-

    Perjalanan ini sebenarnya sudah lama, musim semi 2 tahun yang lalu. Ditulis kembali sebagai arsip pribadi. Agar kelak ketika saya tua dan menjadi pikun, membacanya lagi bisa menghangatkan cinta yang mungkin ikut memudar bersama warna rambut yang keperakan.

    Osaka Prefecture, 9 April 2015

    Sakura di Osaka Castle

    Suhu pagi itu 10°C. Terasa dingin menusuk tulang. Sweater yang kukenakan tak lagi cukup menghalau dingin udara pagi Osaka. Kusematkan coat berlapis, memasang kaos tangan dan menutup telinga dengan earmuff. Saya yang tinggal di negara tropis tidak terbiasa dengan suhu sedingin ini membuat tampilanku sedikit aneh dari kebanyakan warga lokal. Tapi ini di Jepang dimana semua orang santai saja, sibuk dengan urusan sendiri dan sama sekali tidak peduli seberapa berbeda penampilan kita. 

    Saya dan suami beserta 2 orang teman lainnya tiba di kompleks Osaka Castle cukup pagi setelah melalui perjalanan 13 menit dari stasiun Namba dengan kereta Midosuji Line menuju stasiun Motomachi, disambung dengan kereta Chou Line menuju stasiun Tanimachi Yonchome. Di musim semi seperti ini, pemandangan sakura dari luar jendela kereta begitu indah, tersusun rapi memagari jalan dan bangunan perumahan. 

    Keputusan kami berangkat pagi tidak ada salahnya. Selain menyaksikan keindahan pohon sakura, kami juga ikut merasakan atmosfer warga Jepang di stasiun kereta yang begitu sibuk. Berpakaian necis dan jalan dengan langkah mantap yang cepat, berpacu dengan waktu menuju kantor ataupun sekolah. Dua hal yang tidak kudapati di negeriku Indonesia.

    Tiba di kompleks Osaka Castle tidak serta merta langsung melihat istana Osaka yang kini dialihfungsikan menjadi museum modern. Kita masih perlu berjalan kaki cukup jauh melewati taman dan pohon sakura yang indah berwarna pastel : mirabella, baby pink, soft rose, peach dan broken white. Saya bisa membayangkan betapa mengagumkannya pesta sakura hanami – kumpul dan makan bersama di bawah pohon sakura, yang sayangnya telah berlangsung beberapa hari sebelum kedatangan kami di Jepang.

    Osaka Castle
    Taman di dalam area Osaka Castle
    Pohon sakura yang bermekaran

    Saat menyusuri jalan, gerimis turun sesekali dan suhu udara drop seketika menjadi 7°C. Namun itu sama sekali tidak menyurutkan langkah kami mengunjungi kastil yang dulu dipimpin Toyotomi Hideyoshi, seorang anak petani yang awalnya menjadi jendral istana hingga akhirnya diangkat menjadi kaisar menggantikan Oda Nabunaga yang terbunuh habis garis keturunannya oleh pasukan Tokugawa di zaman Jepang kuno. Kita dengan rela tetap berjalan meski dingin begitu menyiksa. Kita dengan setia menunggu di mulut istana yang  basah oleh hujan hingga antrian mengular itu berhenti pada giliran kita. Juga dengan penuh  keikhlasan menenggelamkan diri dalam kerumunan pengunjung yang berdesak-desakan menonton Karakuri Taikoki, diorama kehidupan Toyotomi Hideyoshi di lantai 7 istana. Berpindah dari 1 layar ke layar lainnya, menggenapi 19 scenes kehidupan Sang Kaisar di monitor yang setiap layarnya butuh perjuangan bagi kita untuk menontonnya. Dan lagi, kesetiaan kita untuk menunggu antrian yang panjang demi foto kostum ala Jepang di dalam istana.

    Sakura di bawah gerimis sama sekali tidak berkurang keindahannya. Sungguh, sama sekali tidak. Bunganya yang berguguran laksana permadani, memenuhi jalan-jalan beraspal di sekitarnya. Keindahan itu terasa semakin lengkap dengan kehangatan cinta yang kita rasakan. Di bawah payung cerah, berdua kita melangkah. Menyulam jari bergandengan tangan. Romantis sekali!

    Sakura pink mirabella di taman Osaka Castle
    Taman sakura di dalam kompleks Osaka Castle : baby pink
    Taman sakura putih di Osaka Castle
    Karpet sakura. Bunga sakura yang berguguran oleh gerimis
    Sakura hanami : kumpul dan makan bersama di bawah pohon sakura

    Saya berharap selalu mengingat masa-masa ini. Tentang perjalanan kita yang begitu romantis di musim semi. Pun ketika wajahku telah keriput dan rambutku memutih. Atau bahkan saat aku sudah lupa tentang diriku sendiri. 

    Osaka kara ohayògozaimasu!

    Do not follow where the path might lead. Go instead where there is no path and leave a trail -Ralph Wado Emerson-

    Jepang. Musim semi 2015

    Pagi itu matahari bersinar cerah, tampak menawan di langit Osaka. Saya baru saja membuka mata diterpa sinarnya dari jendela pesawat yang sebentar lagi akan mendarat di Bandara Kansai. Kulirik jam, hampir pukul 7 pagi. Lelaki di sampingku sama lelahnya. Saya suka memandang wajahnya saat dia tidur begini. Damai.

    Sejenak kuperhatikan suasana di dalam cabin pesawat. Wajah-wajah Asia mendominasi. Beberapa penumpang sepertinya juga baru bangun, bergegas antri di depan toilet. Sebenarnya sudah sejak tadi saya juga ingin buang air, panggilan alam di awal pagi. Namun tidak sanggup membangunkan lelaki di kursi sebelahku yang tak lain adalah suamiku sendiri. Tidurnya begitu pulas. Mungkin saking lelahnya kejar-kejaran di KLIA semalam sambil gotong koper dan ransel.

    Ah… rasanya geli sendiri membayangkan kembali kejadian semalam sebelum boarding. Kami lari dengan kekuatan maksimal mengejar pesawat di lorong-lorong bandara tengah malam buta. Counter check-in dan boarding gate memang terpisah sekian kilometer. Sempat salah gate pula karena entah mengapa petugas di counter check-in mencoret tulisan gate yang tertera di tiket dan menggantinya dengan gate yang lain sehingga kami harus mememutar jauh lagi.

    Kejadian ini sebenarnya diawali oleh keterlambatan pesawat dari Jakarta yang harus delay selama satu jam untuk alasan yang tidak kami mengerti menyebabkan kedatangan kami di KLIA juga mundur dari jadwal seharusnya. Ditambah lagi dengan kelalaian petugas check-in tadi yang mungkin karena sudah mengantuk sehingga tidak sadar mengganti gate kami menyebabkan miss understanding menuju boarding gate. Syukurnya connecting flight ke Osaka dan semua sebab musabab keterlambatan ini memang diluar kesalahan kami sehingga kedatangan kami tetap ditunggu. 

    Hap! Tiba di pesawat dengan napas yang ngos-ngosan. Lalu terjadilah pemandangan itu! Ratusan pasang mata memandang kami serentak begitu memasuki pesawat. Tatapan yang memiliki banyak arti. Dan saya paham, diantaranya bermakna kekecewaan. Menganggap kami sebagai alasan mereka harus terpaksa menunggu lama untuk terbang ke Jepang.

    Pesawat akhirnya mendarat. Mulus tanpa goncangan hebat. Suara merdu pramugari dengan logat Jepang yang kental memenuhi ruang, mengucapkan selamat datang. Mengumumkan keadaan cuaca. Lelaki di sampingku membuka mata. Refleks tengok kanan dan kiri. “Sudah sampai?” Kalimat pertamanya. Sambil tersenyum saya mengangguk pelan.

    Ohayògozaimasu Osaka! Alhamdulillah sampai juga di negeri sakura. Di sebuah kota kecil yang pernah menjadi Ibukota Jepang kuno di zaman Naniwa. Salah satu kota penting bagi keluarga kecil kami karena nama anak kami diambil dari Toyotomi Hideyoshi, seorang anak petani sederhana yang akhirnya diangkat menjadi kaisar karena kehebatannya memimpin Osaka yang saat itu berhasil menyatukan daratan Jepang.

    Saat keluar dari terminal kedatangan, matahari tetap cerah namun angin kencang menerpa. Menampar wajah dan menggigit tubuhku. Mengibarkan ujung pashmina merah yang kukenakan. Meskipun sedang musim semi tapi suhu masih terasa dingin. Mungkin sisa-sisa winter sebelumnya. Kamipun segera mengenakan jaket tambahan. Suami bahkan men-double-nya dengan coat. Pagi ini, kami siap menjelajah sudut kota Osaka bermodal peta gratisan yang diambil di information centre.