Mengurus Paspor Bayi di Kantor Imigrasi Makassar

Salah satu syarat wajib jika akan bepergian keluar negeri adalah mempunyai paspor. Berhubung di keluarga kami ada penghuni baru yaitu Baby Yui yang sekarang berusia 2 bulan maka kamipun membuatkannya paspor sebagaimana anggota keluarga lainnya yang sudah terlebih dahulu mempunyai dokumen penting tersebut. Lho memangnya mau kemana? Masih bayi kok sudah dibuatkan paspor segala? Belum kemana-mana sih tapi kami percaya bahwa dengan punya paspor saja dulu berarti perjalanan keluar negeri sudah siap 50%. Sisanya ya semoga ada rezeki buat beli tiket pesawat serta biaya hidup selama berada di negeri orang. Amiin.

Lalu bagaimana cara membuat paspor bayi? Berikut langkah-langkah yang harus ditempuh :

Persyaratan Dokumen

Membuat paspor bayi  atau secara keseluruhan anak di bawah usia 18 tahun sebenarnya sama saja sih dengan mengurus paspor untuk orang dewasa. Bedanya hanya pada kelengkapan berkas yang harus ditambah dengan surat jaminan orang tua. Surat jaminan itupun sudah disiapkan oleh pihak imigrasi, kita hanya perlu menandatanganinya saja diatas materai.

Sebelum masuk prosedur pembuatan paspor, pastikan dulu berkas kita sudah lengkap yaitu :

  1. KTP kedua orang tua
  2. Kartu keluarga
  3. Buku nikah
  4. Akte lahir anak
  5. Paspor kedua orang tua
  6. Surat jaminan orang tua

Semua berkas tersebut difotocopy satu rangkap pada kertas A4 dan khusus KTP, tidak boleh di potong (tetap dibiarkan dalam satu lembar kertas). Mungkin dimaksudkan agar tidak mudah tercecer kali ya. Selain copy-annya juga harus membawa berkas aslinya ya.

Prosedur Pembuatan Paspor

Jika berkasnya telah lengkap maka langkah selanjutnya adalah ke kantor imigrasi terdekat. Untuk daerah Makassar bisa diajukan di kanim Daya maupun kanim Alauddin.

Secara runut, prosedurnya seperti ini :

  1. Mengambil nomor antrian
  2. Ke loket pemeriksaan berkas. Jika dianggap lengkap maka akan diberi formulir pengajuan paspor
  3. Wawancara
  4. Foto
  5. Selesai. 

Selanjutnya melakukan pembayaran ke bank dan kembali lagi ke kantor imigrasi empat hari kemudian untuk mengambil paspor.

Kelihatannya sangat mudah sekali ya. Namun apa yang saya alami rupanya jauh berbeda.

Jadi awalnya saya datang ke kanim Alauddin karena jaraknya yang lebih dekat dari rumah. Saya tiba di sana sekitar pukul tujuh pagi dan ternyata saya sudah tidak bisa dilayani! What?? Jam segitu sudah tutup layanan? Lha kantor ini bukanya jam berapa memang sih?? Padahal sejak di rumah tadi saya sudah membayangkan bisa lebih leluasa karena datang sebelum jam kerja. Tapi rupanya jam 7 pagi pun saya tidak kebagian nomor antrian. (Nomor antriannya ini masih manual, nama kita ditulis dalam daftar pada lembar kertas double folio). Saya bahkan tidak sempat sama sekali berbincang dengan petugas imigrasi karena massa telah mengerubungi di pintu masuk hingga parkiran. Saya tanyalah salah seorang diantara mereka. Dan saya sangat tercengang karena menurut pengakuannya dia datang mengantri sejak pukul 3 subuh bahkan ada yang harus menginap. Ckckckck. Saya disarankan datang senin subuh saja berhubung hari ini jum’at yang berarti besok dan lusa libur weekend.

Karena gagal di kanim Alauddin, sayapun ke kanim Daya. Meskipun sebenarnya di pikiranku meragukan niat itu karena bisa saja mendapatkan hasil serupa : tidak dilayani. Mengingat kanim Daya adalah kelas satu yang loadingnya pasti jauh lebih besar daripada kanim Alauddin yang hanya unit layanan pembantu. Tapi hati kecilku terus berbisik : jauh lebih baik berusaha maksimal dulu. Kalaupun nanti hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, setidaknya saya telah melakukan yang terbaik. Karena itu saya tetap melanjutkan ke kanim Daya.

Tiba di kanim Daya sudah pukul sembilan lewat, hampir jam sepuluh karena terhalang macet di pintu dua Unhas. Seperti yang kuduga, orang-orang yang mengajukan paspor di sini ternyata lebih banyak daripada di kanim Alauddin. Dan lagi-lagi saya tidak kebagian nomor antrian. Nomor antriannya juga masih manual, ditulis di sepotong kertas kecil yang dibagikan berdasarkan posisi duduk di kursi (bukan berdasarkan kedatangan). Parah yaaa! Yang tidak mendapatkan nomor antrian ternyata bukan hanya saya yang baru saja tiba. Bahkan mereka yang sejak subuh buta di sini juga tidak kebagian hanya karena mereka terlanjur memilih duduk di kursi belakang saat kedatangan mereka di awal tadi, sebelum datangnya petugas pembagi nomor antrian. Ya ampuunn kasian juga ya. Masalah nomor antrian ini sepertinya menjadi PR besar bagi kantor imigrasi Makassar. Akan lebih bijak jika mengupayakan penggunaan mesin antrian otomatis seperti di Bank dan rumah sakit.

Saya tak lantas pulang meskipun sudah tidak mendapat nomor antrian. Setahu saya ada layanan prioritas untuk bayi! Saya lalu menemui petugas pembagi nomor antrian tadi dan menanyakan hal tersebut. Alhamdulillah benaran ada! Sayapun diberi nomor urut 16 dengan catatan menunjukkan bayinya sebagai bukti. Soalnya saya ke sana tanpa Baby Yui yang saya tinggal bersama kakek di mobil. Sayapun kembali ke parkiran dan membawa baby Yui ke loket. Saat itu sedang diproses antrian ke 13 yang berarti dua orang lagi tibalah giliranku. Sayangnya, kursi di depan loket sudah terisi penuh semua dan tidak ada yang peduli untuk mengikhlaskan kursinya bagi ibu yang menggendong bayi. Padahal kebanyakan diduduki anak-anak muda.

Ketika nomor antrian ke 15 diproses, tiba-tiba seseorang mencolek saya dari belakang. Rupanya seorang ibu-ibu berusia sekitar 50-an bernama Hana. Dia menawarkan diri untuk menggendong bayiku karena tak mampu berdiri lama jika harus memberikan kursinya padaku. Maka sebagai gantinya, beliau rela memangku baby Yui. Dan betapa tercengangnya karena beliau datang jauh-jauh dari Bulukumba dan tiba di kanim Daya pukul 6 pagi tapi mendapat nomor antrian ke 70. Ya Allaaahhh… betapa mulianya Ibu Hana ini. Semoga keberkahan senantiasa tercurah kepadanya.

Akhirnya tiba juga giliranku. Sebelum memeriksa berkasku, terlebih dahulu menanyakan mana bayinya. Sayapun menunjuk Yui yang dipangku Ibu Hana. Pemeriksaan berkaspun dilanjutkan. Dan keputusan petugas menyatakan berkasku DITOLAK! Jreng… jreng… rasanya kakiku lunglai, lidahku kelu. Tak bisa berucap apa-apa. Membayangkan perjuangan Yui hari ini yang begitu luar biasa sejak selepas subuh. Tiba pagi-pagi di kanim Alauddin tidak bisa dilayani, hingga menantang matahari pukul 9 di atas mobil pick up kakek yang panasnya masyaAllah karena perjalanan ke Daya bertepatan menghadap matahari. Hanya air mata yang menetes begitu saja. Melihat saya menangis, bapak yang melayaniku (kira-kira usia 40-an tahun) menyampaikan bahwa secara urutan dokumen, sebenarnya sudah lengkap tapi KK saya belum distempel sehingga dianggap berkas tidak memenuhi syarat. Mendengar penjelasannya, air mataku makin banyak yang keluar. Padahal saya sudah berusaha keras menahan agar tidak menangis. Tetapi seperti ada dorongan kuat yang terus mendesaknya keluar hingga pipiku kebanjiran air mata. Bukan apa-apa sih, pembuatan KK ini juga penuh drama soalnya karena harus bolak-balik ke Denpasar, Bali.

Mungkin karena saya nangisnya dari hati, bapak itu luluh. Apalagi saat tahu jika KK ku diterbitkan di Denpasar. Dengan suara sangat rendah, beliau memberi saya formulir pengajuan paspor beserta dokumen-dokumenku dan menyuruh masuk ke ruangan di sebelahnya untuk menemui bosnya. Cenderung berbisik, dia menambahkan bawa bayinya ya, biasanya tidak ada orang yang tega kepada bayi.

Saya masuk ke ruangan itu bersama bapak dan baby Yui. Kami disambut security yang telah mengetahui kondisi kami dari bapak petugas loket agar membawa saya ke atasannya. Security itulah yang menjelaskan permasalahanku ke pak bos sebelum kami bertatapan muka. Rupanya pak bos yang dimaksud ternyata masih sangat muda. Mungkin seumuran dengan suamiku. Singkat saja tanyanya, suaminya dimana? Kok tidak ikut? Setelah saya sampaikan bahwa dia ada di Timika, Papua,  dia tanya lagi. Kerja apa di sana? Mendengar jawabanku, langsung saja dia acc berkasku dengan catatan, saat pengambilan paspor nanti harus membawa KK yang sudah distempel agar berkasnya bisa ditukar. Selanjutnya saya mengisi formulir pengajuan paspor dan menandatangi surat jaminan orang tua (karena saya mengajukan paspor untuk bayi) dan langsung dibawa ke ruang foto, didahulukan karena anak bayi. Tapi lagi-lagi drama! Proses foto yang seharusnya cuma 5 menit saja molor hingga setengah jam gara-gara Yui tertidur. Pengambilan foto paspor harus memuat seluruh muka, sementara baby Yui tidurnya pulas. Susaaahh banget banguninnya.

Memasuki menit ke 40, alhamdulillah berhasil membangunkan baby Yui. Jepret! Foto selesai, slip pengambilan paspor terbit. Bayar di bank dan kita datang empat hari lagi dengan paspor sudah di tangan insyaAllah 😘

Kenyataannya…

2 minggu kemudian baru bisa kembali ke kanim Daya karena proses KK yang harus bolak balik Bali untuk di stempel. Parahnya, KK kami harus cacat karena dicoret-coret Ochy sebelum selesai di laminating. 😭😭

Pas pengambilan paspor, eh ditolak lagi. Gara-gara yang datang ambilkan si kakek yang sudah tidak satu KK dengan kami. Dan tidak ada pula surat kuasa yang dibawa. Maka yang harus datang sendiri adalah salah satu orang tua si anak. Ya ampuunn.

Setelah jum’atan saya pun ke kanim Daya tanpa membawa Ochy maupun Yuiko. Anak-anak saya titip di rumah orang tua. Ke kanim Daya juga naik angkot karena mobil sudah tak punya, dijual untuk beli rumah. Motor ada sih, tapi agak takut karena sudah lamaaaaaa sekali tidak naik motor. Kalau cuma dalam kompleks sih masih berani. Tapi kalau di jalan raya protokol begitu agak ngeri sendiri. Lalu saya pesan taxi online, tapi gak ada juga yang dekat-dekat. Akhirnya naik angkotlah saya ke sana dengan dua kali rute : Antang – Tello lalu Tello – Daya karena saya berangkat dari rumah orang tua. Nah parahnya, karena juga sudah bertahun-tahun gak naik angkot, eh saya malah kebablasan sampai di lampu merah perempatan pasar Daya. Kantor imigrasi sudah jauh terlewat di belakang. Ya Allaaahh. Dramanya ini sudah level berapa sih 😭😭

Nah nyebrang ke sisi jalan buat naik angkot balik. Alhamdulillah kali ini tidak terlewatkan karena sebelumnya saya beritahu pak sopir untuk menurunkan di kanim Daya. Tiba di sana sudah pukul 1.30 siang. Saya dapat nomor antrian 171 sementara yang baru terproses saat itu nomor 83. Imagine it? How long it will be?? Hiks.. Mana loketnya cuma buka sampai jam 3 sore pula. Jadi kalau sudah waktunya tutup ya tutup. Gak peduli meskipun masih ada yang antri. Yang gak kebagian yaaa ikut hari kerja berikutnya. Terus saya pulang gitu?? Oh no! Pokoknya saya akan pulang jika melihat sendiri loketnya tertutup. Saya akan lebih puas sendiri jika telah melakukannya dengan maksimal. Pun jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, setidaknya saya telah memaksimalkan usaha.

Nomor antrianku 171 boo

Nah… Alhamdulillah, ajaibnya banyak nomor antrian yang tidak ada orangnya. Mungkin mereka sudah terlanjur pulang karena mengira nomornya yang gak akan kebagian di loket.

Daaaann… tadaaaaa… passport adek akhirnya di tangan. Alhamdulillah.

Jadi kesimpulannya :

  1. Boleh mengurus paspor di kantor imigrasi manapun, meskipun beda domisili. Seperti kami yang alamatnya di  Denpasar bisa membuat paspor di Makassar.
  2. Untuk daerah Makassar sebaiknya pilih Kanim Daya untuk pengurusan paspor
  3. Pastikan berkasnya lengkap sehingga tidak harus bolak-balik
  4. Datang pagi banget dan selamat mengantri berjam-jam 😁😂

Delivering The Baby Birth : Welcome To The World, Baby Yui!

View Kota Makassar dari kamar rumah sakit.

Rabu, 3 Mei 2017

Pagi-pagi sekali saya mengecek kembali isi tas yang akan dibawa ke rumah sakit yang sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Saya memastikan kembali tak ada barang yang ketinggalan terutama untuk keperluan bayi. Jika sesuai dengan HPL, hari ini insyaAllah saya akan melahirkan. Tapi dari pagi hingga malam, tanda-tanda melahirkan tak kunjung ada. Saya masih seperti biasa, sehat bugar dan aktif. Belum mengalami kontraksi sama sekali.

Selepas maghrib, saya mendapat kejutan. Kak Idu ternyata datang lebih awal dari yang dijadwalkan. Bahagia, tentu saja! Apalagi jika sebelumnya dapat berita bahwa ia tidak bisa pulang menemani saya melahirkan anak kedua sebab jadwal cutinya nanti jelang lebaran idul fitri bulan depan. Jujur saya stress berat menerima berita itu. Membayangkan saat-saat pertaruhan nyawa tanpa didampingi suami tercinta tentunya menyakitkan sekali.

Pukul dua dini hari saya mengalami kontraksi hebat. Sakitnya minta ampun! Tapi saya bisa pastikan ini hanyalah kontraksi palsu sebab jeda rasa sakitnya belum teratur. 

Kamis, 4 Mei 2017

Sedang sarapan pagi bersama. Menunya nasi kuning yang saya pesan melalui ojek online. Nafsu makan saya tidak berubah. Tetap lahap dan selalu merasa lapar terus. Baru makan setengah porsi, kontraksi datang tiba-tiba. Rasa sakitnya lebih kuat dari semalam. Saking sakitnya, saya harus menjatuhkan badan ke lantai. Meringkuk salah, telentang pun rasanya tak enak. Ingin kembali duduk, juga terasa sakit. Tak ada posisi yang nyaman. Tak berapa lama, kontraksinya berhenti. Dan dasar saya yang masih kelaparan, nasi kuning yang tadi sempat ditinggal, saya makan lagi hingga piringnya bersih. Hahahaha. Setelah itu kamipun siap-siap ke rumah sakit.

Di kamar rawat inap sebelum Ochy pulang bersama kakek dan nenek.
It’s how mom and son talk each other from heart to heart. Memberi pengertian mengapa Ochy tidak bisa ikut menginap

Di RS Siloam Makassar kami mendapat kamar di lantai tujuh dengan view laut yang super keren terutama saat matahari terbenam. Ochy tidak kami izinkan menginap di rumah sakit. Karena itu ia ikut kakek-nenek pulang pada pukul 9 malam. Ini adalah yang kedua kali saya tidur berpisah dengan si anak lanang sejak saya tinggalkan ke Jepang 2 tahun lalu. Rasanya bikin nyesek! 

View Kota Makassar dari jendela kamar

Jum’at 5 Mei 2017

Pukul 6 pagi saya sudah mandi dengan sabun khusus yang telah disiapkan perawat. Baunya tidak enak dan membuat kulit terasa kering. Setelah memastikan ke dokter saya boleh memakai body lotion, segera saya usap ke seluruh badan. Selang infus telah terpasang sejak kemarin. Tapi baru hari ini disambungkan dengan cairan. 

Pukul 8.30 saya dibawa ke ruang operasi dengan kursi roda. Jauh berbeda dengan kondisi saya saat melahirkan anak pertama yang harus digiring ke kamar operasi di atas ranjang karena emergency. Persalinan kali ini tetap akan dilakukan secara sectio caesarea meskipun sebenarnya jika saya rasa, bisa saja dilakukan dengan persalinan normal jika mengacu pada berat badan bayi yang lebih ringan dari anak pertama dan jarak kelahirannya sudah masuk 2 tahun lebih. Tapi psikis saya yang tidak siap. Sangat trauma dengan kelahiran anak pertama. Berjuang untuk normal tapi tetap berakhir di ruang operasi karena bukaan macet. Trauma dengan sakitnya kontraksi persalinan yang rasanya nyawa sudah di ujung maut tapi bukaan tidak kunjung bertambah.

Di ruang operasi. Menunggu hingga persiapan selesai
Di ruang operasi. Menuju eksekusi persalinan sc

Pukul 9 tepat, operasi dimulai dan tangis bayi pecah 10 menit kemudian. Maka lahirlah anak kedua kami. Seorang bayi perempuan cantik, sehat dan lucu dengan berat badan 3.080 gram dan tinggi 47 cm yang kami beri nama Yuiko Hanami Salsabila.

Baby Yui ditimbang dan diukur tinggi badan serta lingkar kepalanya
Baby Yui diambil cap kakinya oleh perawat
Disinari dulu sebelum dipindahkan ke ranjang bayi
Sudah siap di bawa ke kamar

Kondisi saya post operasi baik. Kak Idu mengucapkan selamat, menciumiku berkali-kali dan bercerita dengan penuh semangat tentang Baby Yui yang lucu saat diadzankan dan dimandikan. Diperlihatkannya foto dan videonya. Saya tidak begitu memperhatikan karena entah mengapa saya merasakan nyeri luar biasa. Sakitnya seperti luka robek yang tersiram cuka. Periihhhh banget. Padahal saat operasi sesar yang pertama saya bahkan tidak merasakan sakit apapun setelah operasi selesai. Melihat saya menangis menahan sakit, Kak Idu menggenggam tanganku kuat-kuat. Mencium keningku dan mengusap air mataku yang seperti tak mau berhenti mengalir. Sedetikpun ia tidak beranjak dariku. Bahkan ia rela menahan desakan air kemih yang sudah membuatnya sakit perut demi menemaniku. Ia hanya meninggalkanku saat sholat jum’at.

Sabtu, 6 Mei 2017

Dokter SpOG yang menangani saya visite. Saya sampaikan keluhan nyeri yang saya rasakan kemarin setelah operasi. Dokter Lenny bilang kenapa saya ngomongnya baru hari ini. Sambil bercanda beliau sampaikan ” waahh itu kan ada obatnya. Sudah saya sampaikan waktu operasi kemarin, kalau dirasa ada nyeri beritahu perawat ya. Nanti dikasih obat. Kalau gak ada nyeri yaa gak perlu dikasih. Waduhh.. bahaya ini. Nanti kamu kira operasi di siloam makassar kok sakit, sementara di Bali tidak?” Spontan tawa seisi ruangan pun pecah.

Karena saya belum leluasa bergerak, hanya mampu miring kanan dan kiri saja maka seluruhnya saya sangat bergantung pada suami. Meskipun perawat rumah sakit juga bisa diandalkan tapi Kak Idu lebih senang melakukannya sendiri untuk saya. Sangat bersyukur punya suami super siaga. Sangat telaten dalam merawat. Menyuapi makan, bantu ganti baju, bantu buka pasang gurita, jagain anak sekaligus menghibur istri dengan berbagai lelucon. Ia bahkan tidak mengizinkan ibuku repot mengurusiku. I feel so blessed having him in my life! Alhamdulillah, so thank you Allah.

Salah satu menu makan siang. Jenis makanannya bisa di request mau yang asian food, oriental food ataupun western food.

Hal lain yang banyak disyukuri adalah dikarunia teman-teman yang sangat baik. Meskipun saya tidak membalas satupun chat atau telepon mereka yang menanyakan saya di kamar berapa, rupanya mereka tetap saja bersikukuh datang menjenguk dengan bertanya di bagian informasi rumah sakit. Bahkan ada yang harus terpaksa tidak ketemu karena jam besuk telah habis. Padahal maksud saya tidak membalas chat dan telepon mereka agar tidak perlu repot-repot datang.

Ahad, 7 Mei 2017

Kondisi saya semakin membaik. Sudah bisa jalan sendiri ke kamar mandi. Sudah bisa duduk, tidur dan bangun sendiri meski semuanya masih dilakukan dengan sangat terbatas. Sebenarnya saya dijadwalkan pulang besok. Tapi karena saya merasa sudah lebih baik, sayapun minta pulang hari ini. Lagian, senyaman-nyamannya di rumah sakit kok yaa rasanya tetap lebih enak di rumah sendiri.

Tiba di rumah, tamupun tak kunjung putus hingga malam. Keluarga, tetangga, teman semuanya datang dengan penuh suka cita. Bahkan yang terlanjur tiba di rumah sakit dan tidak menemukan kami karena sudah check out rela mengemudi ke rumah demi mengucapkan selamat dan berjumpa dengan baby Yui. Alhamdulillah wa syukurillah. Sungguh salah satu bentuk rezeki adalah dikelilingi orang-orang yang baik. 

Anw, thank you world for welcoming baby Yui 😘😘

Jelang HPL

Ketika hamil terutama masa-masa jelang partus, konpal alias kontraksi palsu sering terjadi. Kondisi ini ditandai dengan peregangan otot rahim yang disertai rasa nyeri khususnya di bagian vagina. Meskipun ini normal dan tidak berbahaya namun tetap saja menimbulkan rasa tidak nyaman.

Pada kehamilan pertama, saya cukup direpotkan dengan kontraksi yang dalam dunia medis dikenal Braxton Hiks ini. Saya kesulitan membedakan kontraksi palsu dan kontraksi persalinan meskipun sebagai alumni kesmas, saya telah khatam tentang keduanya secara teori. Mungkin efek panik, excited sekaligus kesakitan sehingga membuyarkan segala kesadaran dan mengaburkan semua pengetahuan yang saya punya. Akibatnya saya dan suami harus berkali-kali bolak-balik ke rumah sakit. Padahal jarak Denpasar ke Kuta lumayan juga. Apalagi kalau sedang macet, bisa lebih lama lagi di jalan. Kontrol kehamilan saya memang dilakukan di RS Internasional Siloam Bali yang lokasinya di daerah Kuta. Di Denpasar ada banyak sih RSIA maupun rumah sakit umum tapi karena setiap kontrol kesehatan dilakukan di Siloam, ya sudah pas hamil sekalian kontrolnya di sana juga biar sekali jalan gitu. Pas mau lahiran baru deh berasa susahnya kalau jarak jauh begini.

Pada kehamilan kedua ini, persiapan saya lebih matang menghadapi persalinan. Kontraksi palsu yang kerap muncul saya cuekin saja. Cukup menarik napas panjang dari hidung dan dihembuskan lewat mulut alhamdulillah sudah kembali merasa nyaman. Ibu saya yang justru sangat khawatir melihat saya sedikit-sedikit nyengir menahan sakit. Jangan-jangan saya sudah mau melahirkan, katanya. Berkali-kali diajak ke rumah sakit tapi saya selalu pastikan belum saatnya. Ini masih kontraksi palsu. Pokoknya selama rasa sakitnya belum teratur dan masih di sekitar daerah Miss V saja, tidak perlu khawatir. Sebab bisa dipastikan belum saatnya melahirkan. Sementara kontraksi persalinan yang sebenarnya, wuiihhh… gak kebayang rasanya. Pokoknya senyum saja sudah tidak sanggup dilakukan saking sakitnya! Rasa nyerinyapun menyebar hingga ke pinggul. Dan ini berlangsung selama beberapa jam hingga akhirnya bukaan lengkap dan kepala bayi mencuat keluar.

Saat melahirkan Ochy saya gagal dengan jalan pervaginam karena bukaan saya macet sementara badan sudah membiru menahan sakitnya kontraksi. Kata dokter SpOG yang menangani saya sejak hamil hingga mau lahiran ini, seharusnya saya sudah bukaan delapan berdasarkan observasi jeda kontraksi. Tapi nyatanya saya mentok di bukaan dua saja. Parahnya, beberapa jam kemudian bukaannya malah gak ada sama sekali alias kembali nol. Ya Allah… padahal sakitnya sudah tidak tertahankan. Nyawa sudah seperti diujung. Saya sempat minta diinduksi tapi tidak diizinkan karena kondisiku dianggap tidak memungkinkan. Maka sayapun segera dipindahkan dari kamar persalinan ke kamar operasi untuk tindakan sectio caesarea.

Ini adalah operasi pertama saya selama hidup. Dan jujur saja, saya ketakutan. Mendengar kata operasi saja rasanya sangat menyeramkan. Bagaimana jika operasinya gagal? Bagaimana jika pendarahan? Bagaimana jika terjadi begini dan begitu? Aaakk… Selftalk saya mulai menjalar mengisi kepala. Sebelum menelan saya bulat-bulat dan melumatkan segenap keberanian yang saya punya, secercah harapan datang menerangi. Mungkin kiriman do’a dari orang-orang yang menyayangiku. Kekuatannya begitu terasa. Seketika saya mampu berpikir logis bahwa semuanya akan baik-baik saja. Toh saya ditangani tenaga medis profesional, di rumah sakit terbaik, ditemani keluarga dan sahabat terlebih saya punya Allah yang maha kuasa. Cukup meminta keridhaanNya semoga dilancarkan dan diselamatkan. Yaa.. hanya meminta! Dan belas kasihNya insyaAllah tercurah.

Melihat saya berjuang menahan sakit, Kak Idu sekalipun tidak berhenti menyemangati meski saya tahu dia sendiripun sebenarnya berusaha melawan ketakutannya. Matanya merah. Terlihat jelas ia menahan tangis. Ekspresi wajahnya cemas. Namun genggaman tangannya tetap kokoh mentransfer energi positif kepadaku. Yaa.. suamiku itu kadang memang sedikit jabe sih (terbawa perasaan gitu). Hahaha. Biasanya kalau melihat saya menangis, matanyapun ikut basah. Kak Idu itu tipikal suami yang selalu berusaha membahagiakan istri. Dia paling tidak tahan jika ada hal yang membuatku bersedih. Apapun akan dilakukannya agar senyumku kembali tersungging, termasuk bertingkah bodoh menjelek-jelekkan wajahnya dengan berbagai ekspresi konyol : gigi dimonyong-monyongkan, mata dijuling-julingkan, hidung ditekan dan kedua lubangnya diangkat dengan jari, joget-joget ala monyet, lompat-lompat seperti vampire China, garuk-garuk ketek, dan lain-lain semata-mata agar aku kembali goodmood. Jadi kebayang kan gimana perasaanya dia saat ini, menyaksikan saya berjuang habis-habisan untuk sebuah kehidupan sang anak sementara dirinya tidak mampu melakukan banyak hal. Saya tahu dia pasti begitu tersiksa.

Singkat cerita, lahir juga tuh si Ochy dengan berat badan 3.500 gram dan panjang 52 cm. Operasinya alhamdulillah berjalan lancar dan cepat. Kurang dari 30 menit, suara bayi menangis memecah ruang dingin yang sepi itu. 

Sulit saya jelaskan bagaimana rasanya ketika memandang Ochy secara langsung. Segera dia didekapkan ke dadaku untuk IMD dan mulai saat itu, saya resmi bergelar IBU. Momen paling mengharukan bagi seorang wanita. 

Beberapa hari ke depan, insyaAllah saya akan melahirkan anak kedua. Jika sesuai HPL (Hari Perkiraan Lahir) insyaAllah akan jatuh pada tanggal 3 Mei mendatang. Meski bukan kelahiran yang pertama tapi tetap saja excited, was-was, bahagia ah pokoknya campur aduk deh. Baby girl yang selama ini hanya bisa kuajak bicara tanpa melihat wajahnya secara langsung akan segera hadir di hadapanku. Baby girl yang selama ini hanya kurasakan pergerakannya di dalam rahim sebentar lagi berjumpa denganku. Menimangnya, mendekapnya, mengelus wajahnya, menyusuinya dengan penuh cinta. Semoga diberi kemudahan dan kelancaran, serta ibu dan bayi selamat. Amiin yaa Rabb

*menunggu hari 😍😍

Rencanakan Keuangan Yuk!

Tidak bisa dipungkiri bahwa traveling itu pasti butuh biaya. Bahkan biaya yang tidak sedikit jika bepergian bersama keluarga, pun pada destinasi yang kita tuju. Biaya perjalanan domestik dan internasional jelas beda jauh. Begitupun rute Asia tentu akan berbeda dengan Eropa. 

Kami menyadari betul bahwa biaya sangat mempengaruhi kualitas traveling. Karenanya sebisa mungkin perencanaan keuangan kami dimatangkan. Bukan semata-mata demi kelancaran agenda traveling sih. Tapi lebih kepada keseimbangan cashflow agar tidak lebih besar pasak daripada tiang. Dan yang lebih penting lagi agar kami mampu ‘membeli’ impian-impian kami.

Bagi kami, perencanaan keuangan itu sangat penting. Teramat penting malah! Sebab sebesar atau sekecil apapun penghasilan kita, jika berantakan dalam penggunaannya pasti akan habis juga. Syukur-syukur jika tidak sampai minus.

Sebelum menikah saya selalu berusaha mengatur penghasilan. Meskipun penerapannya agak sulit terutama di saat saya bekerja di daerah terpencil Kutai Kartanegara yang gajinya sering tidak jelas kapan dibayarkan. Kadang tiap bulan, kadang tiga bulan sekali, pernah malah di rapel hingga setengah tahun! Masalah klasik bagi mereka yang memilih mengabdi. Kesejahterannya sering tidak dipedulikan oleh pemerintah. 

Alhamdulillahnya sih sebagian kebutuhan harian seperti makan selalu bisa terpenuhi. Saya dan beserta dokter PTT yang tinggal seatap di rumah dinas memanfaatkan lahan belakang untuk menanam cabai, tomat dan beberapa sayuran. Lebih seringnya juga ditraktir sama teman dokter sih. Meskipun mereka sendiri pembayaran gajinya sama tidak jelasnya, tapi paling tidak mampu bertahan dengan hasil pemeriksaan pasien yang dilakukan di rumah. 

Nah kesulitan dalam mengatur penghasilan untuk kondisi seperti itu adalah menahan hasrat untuk tidak ‘bersenang-senang’ saat menerima rapelan gaji yang jumlahnya lumayan banget bagi wanita single. Soalnya maunya kabur ke kota, mencari hiburan dengan alasan sebagai bayaran atas kesabaran menahan diri di daerah serba terbatas. Jadilah makan di restoran, main ke mall, belanja rupa-rupa bahkan mungkin untuk hal yang sebenarnya belum terlalu diperlukan. Akhirnya apa? Dompet kembali menipis. Huhuhu.

Hal yang sama juga saya rasakan ketika bekerja di yayasan kesehatan. Agak repot mengurus keuangan pribadi yang masuknya tidak teratur karena dibayarkan per project. Enaknya kerja di proyek karena biasanya ada bonus tambahan yang jumlahnya berkali-kali lipat setiap akhir proyek yang kita lakukan. Pusingnya, kita jadi bingung sendiri bagaimana mengaturnya. Yang ada biasanya kita kalap karena seperti mendapat durian runtuh. Pengennya belanja apapun, jalan-jalan kemanapun sebagai kompensasi atas lelah diri bekerja. Ujung-ujungnya, duitnya habis gak bersisa. Hahaha

Saat bekerja di salah satu kantor BUMN, saya mulai terbiasa dengan pengaturan keuangan yang lebih baik. Setidaknya saya bisa menabung. Metode yang saya gunakan pun sangat sederhana. Saya sengaja membuka lima rekening berbeda yang saya bagi sebagai berikut :

  1. Necessity account (rekening khusus pengeluaran pribadi dan biaya hidup) 
  2. Saving and investmen account (rekening khusus tabungan dan investasi)
  3. Education account (rekening khusus pendidikan dan pelatihan)
  4. Social and giving account (rekening khusus sosial)
  5. Play account (rekening khusus hiburan)
Hanya ilustrasi

Necessity Account

Adalah rekening yang saya khususkan untuk kebutuhan biaya hidup dan keperluan sehari-hari, termasuk di dalamnya untuk membayar tagihan (jika ada). Rekening ini menyedot sebagian besar penghasilan yang saya punya per bulannya.

Untuk keperluan makan, transportasi, kosmetik, personal hygine, pakaian, dan semua belanja kebutuhan dasar, saya mengambil biayanya dari rekening ini. Termasuk untuk diberikan ke orang tua. Yaa meskipun orang tua kita tidak pernah meminta sepersen pun, tapi bagi saya adalah kewajiban untuk memberikan sebagian penghasilanku untuk mereka. Saya sadar, jumlahnya tidak seberapa tapi insyaAllah orang tua kita bahagia menerimanya. Nah karena ini merupakan kebutuhan terbesar, maka saya menyisihkan 55% dari penghasilanku untuk memenuhinya.

Saving and Investment Account

Masalah terbesar kebanyakan orang adalah susah menabung. Dan sayapun dulunya termasuk kaum itu. Pokoknya kalaupun bisa nabung, selalu gak bisa konsisten. Bulan ini nabung, bulan depannya eh gak ada yang bisa ditabung. habis gajian, habis juga tuh uang. Kadang malah belum habis bulan, gajinya sudah ludes duluan. Hahahaha. Syukurnya saya segera bertaubat dan mengaplikasikan ilmu money jar yang saya dapatkan dari training finansial yang pernah saya ikuti.

Nah kesalahan saya saat itu karena untuk tabungan dan investasi selalu saya jadikan urutan terakhir. Kalau ada sisa gaji, ya ditabung. Kenyataannya tak pernah ada sisa untuk ditabung. Seberapapun penghasilan saya. Heran juga sih! dapat segini eh habis juga. Dapat lebih besar, tetap aja habis juga. Wkwkwkw

Jadi, sebelum penghasilan kita diubek-ubek, sebaiknya langsung menyisihkan untuk tabungan dan investasi. Karena percaya deh, kalau mau nabung sebagai sisa uang yang kita punya, tidak akan jadi nabung-nabungnya! Ada aja alasan buat dibelanjakan.

Jumlah tabungan ini juga sebaiknya konsisten (kalau bisa) dan masuk akal ya. Jangan masuk perasaan saja! Misalnya nih, pengennya nabung besar-besar sekian juta tapi lupa diri kalau kebutuhan lainnya banyak yang harus dipenuhi. Ujung-ujungnya kalau sudah kepepet, tetap aja bakal membobol rekening ini. Iyya gak?! Karena itu menabung dan investasinya gak harus dalam jumlah yang besar. Gak papa sedikit-sedikit asalkan istiqomah insyaAllah lebih kelihatan hasilnya. Saya sendiri hanya menyisihkan 10% penghasilan untuk rekening ini. Hasil tabungannya bisa dipakai untuk ‘membeli’ impian-impian kita.

Education Account

Diri kita adalah aset yang paling berharga. Agar tetap tumbuh dan berkembang (ke arah yang positif pastinya) tentu dibutuhkan usaha. Salah satu usahanya melalui pendidikan. Pendidikan yang saya maksud di sini tidak harus formal berjenjang seperti lanjut s2 setelah s1 dan lanjut s3 setelah s2. Bukan… bukan! Pendidikan yang saya maksud adalah semua cara yang bisa membuat wawasan kita lebih bertambah dan kepribadian kita bertumbuh. Misalnya membeli dan membaca buku, mengikuti pelatihan/training, mengikuti seminar, menonton DVD motivasi, skill, dll. Nah sisihkanlah penghasilan kita untuk hal-hal tersebut. Gak perlu banyak-banyak. Sesuaikan saja dengan kondisi kita. Saya sendiri menyisihkan 10% penghasilanku untuk memenuhi kebutuhan ini.

Social and Giving Account

Karena kita adalah makhluk sosial, tentu tak lepas dari hubungan bertetangga, teman, kerabat, dan lain-lain. Rekening ini saya khususkan untuk kebutuhan sosial seperti hajatan nikah, aqiqah, acara syukuran, menjenguk yang sakit, melayat, dan semua yang berhubungan dengan kehidupan sosial termasuk sumbangan-sumbangan untuk komunitas ataupun yayasan tertentu.

Meskipun tidak besar, tapi jika kebetulan bersamaan semua waktunya (kebetulan ada yang nikah, aqiqah, sakit, dll di hari yang sama) bisa jadi jumlahnya banyak juga kan. Nah karena sudah punya rekening ini, kita tidak perlu pusing-pusing untuk menjebol post biaya hidup. Saya sendiri menyisihkan 5% penghasilanku untuk disimpan di rekening ini secara rutin tiap gajian.

Play Account

Saya sadar diri sebagai makhluk pecinta traveling. Ngebolang ke sana kemari meski harus backpackeran untuk penghematan biaya demi destinasi impian saya. Karena itu saya sengaja membuka rekening ini khusus untuk memenuhi travel addict saya.

Play account ini sebenarnya memuat semua keperluan hiburan kita. Misalnya yang suka hang out di mall, nonton di cinema, karaokean, perawatan di salon and everything your heart desire deh. Jujur saja diantara semua rekening yang saya punya, ini adalah rekening favoritku. Meski demikian, saya merasa cukup dengan menyisihkan 10% penghasilan saja untuk rekening ini.

Setelah menikah konsep money jar ini saya leburkan dengan konsep habiskan saja uangmu yang diaplikasikan suami selama ini dalam mengatur keuangannya. Setelah resign dan sepenuhnya ikut dengan suami, konsep ini tetap kami pertahankan untuk menggerakkan roda perekonomian keluarga kecil kami.

Ya, syukurnya saya menikah dengan lulusan Ekonomi yang melek finansial. Syukurnya lagi kami berdua sangat interest dengan hal-hal seperti ini sehingga tidak sulit bagi kami untuk mendiskusikan apa yang sebaiknya kami adopsi dari kedua metode financial planning tersebut yang sekiranya sesuai dengan kondisi kami.

Pada intinya sih kedua metode pengelolaan finansial itu sama saja yaitu membantu mengatur cashflow kita sedemikian rupa agar tetap seimbang. Adapun kelebihan yang dimiliki habiskan saja uangmu karena metode ini lebih terperinci per item, sangat detil hingga ke hal-hal kecil dan mengedepankan sisi spiritual. 

Pada konsep habiskan saja uangmu secara sederhana hanya mengurangi saja jumlah pemasukan dengan pengeluaran dan hasilnya harus SELALU NOL. Namun di tiap jumlah pemasukan maupun pengeluaran benar-benar dirincikan secara lugas. Jumlah pemasukan bisa meliputi gaji suami/istri, sumber lain (misalnya hasil investasi, hasil dagang, dll). Semuanya di total hingga ditemukan berapa jumlah uang dari semua pemasukan tersebut. Selanjutnya, sebelum jumlah uang itu di postkan ke hal lain, terlebih dahulu dikurangi dengan zakat dan sedekah. Barulah ditemukan jumlah penghasilan bersih. Mengapa harus dikurangi dengan zakat dan sedekah? Karena di dalam harta kita, ada hak orang lain. Zakat juga sekaligus untuk mensucikan harta dan sedekah insyaAllah menjadi jalan kecukupan bagi kita. Sebab sedekah itu tidak akan membuat kita miskin, malah lebih sejahtera melalui kesehatan yang baik, kehidupan rumah tangga yang baik dan perluasan rezeki yang baik.

Pemasukan bersih telah diperoleh. Selanjutnya apa? Langkah berikutnya adalah total rincian pengeluaran yang dibagi ke dalam pengeluaran wajib, pengeluaran rutin, pengeluaran investasi dan pengeluaran hiburan. 

Pengeluaran wajib harus diurutkan terlebih dahulu sebab namanya juga wajib artinya harus dibayarkan. Biaya ini meliputi semua biaya yang mesti kita bayar termasuk utang. Misalnya biaya kontrakan rumah, cicilan rumah, cicilan kendaraan, tagihan PAM, biaya bpjs kesehatan dan lain-lain. 

Pengeluaran investasi adalah biaya yang kita keluarkan untuk menyimpan uang dalam bentuk investasi. Pengeluaran ini secara otomatis akan menggiring kebiasaan menabung kita.

Pengeluaran rutin maksudnya biaya yang sering kita keluarkan untuk kebutuhan rutin seperti belanja bulanan keperluan rumah tangga, pulsa handphone, langganan tv, internet, dll. Pengeluaran ini diposisikan pada urutan ke tiga karena pada dasarnya ini adalah pengeluaran yang besarannya bisa kita kontrol sendiri. Beda dengan pengeluaran wajib yang jumlahnya telah ditetapkan dimana setiap jatuh tempo memang harus dibayarkan, punya uang atau tidak!. Sementara pengeluaran investasi menduduki urutan kedua agar kita terbiasa menyisihkan uang untuk disimpan, baik dalam bentuk tabungan konvensional maupun investasi modern seperti reksa dana.

Lalu yang terakhir adalah rincian pengeluaran hiburan. Ini juga perlu sebab kita hidup bukan hanya untuk bekerja. Perlu keseimbangan dengan kesenangan batin. Kesenangan batin ini biasanya mencakup hal-hal yang kita senangi seperti menyalurkan hobby, rekreasi, dll.

Berikut salah satu contoh metode habiskan saja uangmu. Silakan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan.

Habiskan saja uangmu

Semoga tulisan ini membantu yaa. Jika saat ini belum bisa menabung, tidak perlu khawatir karena kamu tidak sendirian kok. Sayapun dulunya seperti itu. Hahaha. Yuk segera bertaubat, mumpung hari ini gajian 😀

5 Barang Wajib Saat Traveling Bersama Anak

Dulu kalau traveling, saya dan Kak Idu sangat percaya diri hanya membawa daypack saja meskipun untuk perjalanan jauh dan lama. Bagi kami ransel dipunggung terasa lebih ringkas dan nyaman dibawa pindah kemana-mana. Barang yang dibawapun gak banyak-banyak amat. Hanya beberapa potong baju buat di mix and match. Dan ajaibnya tetap sukses membuat tampilan ok untuk ootd-an.

Sejak punya anak, kalau mau traveling tuh ngurusin barang bawaan setidaknya seminggu sebelum berangkat. Jauh-jauh hari sudah harus prepare terutama bawaan buat si kecil Ochy yang gak ketulungan banyaknya. Berasa pengen angkut lemari aja deh pokoknya. Hahaha.

Berikut 5 barang yang wajib di bawa ketika traveling bersama anak berdasarkan pengalaman kami :

1. Trunki

Ochy and his trunki bus

Trunki ini koper khusus anak yang didesain sedemikian rupa sebagai tempat penyimpanan barang layaknya koper pada umumnya sekaligus bisa menjadi mainan anak. Meskipun ukurannnya kecil, tapi mampu menampung beban hingga 50 kg. Jadi kalau lagi pegal berdiri, saya kadang ikutan duduk di atas trunki jika tidak menemukan kursi. Hahaha.

Trunki Ochy sudah keliling kemana-mana baik perjalanan domestik maupun internasional dan terbukti memang sangat membantu kami terutama saat di ruang tunggu bandara atau ditempat-tempat menunggu lainnya. Soalnya bisa di ride on sehingga anak tidak merasa bosan. Anak bisa kayuh sendiri ataupun diajak main keliling tanpa ia capek berjalan kaki. Ukurannya yang cabin size membuat kita bisa membawanya ke atas pesawat dan karena dianggap sebagai koper khusus anak, barang bawaan seperti cairan diatas 100 ml bisa lolos dengan mudah untuk perjalanan internasional. Saya pernah membawa termos berisi air panas 350 ml dan air minum 500 ml di botol dan tetap bisa masuk cabin tanpa membuang isinya di gate pemeriksaan X-Ray. Asyiikkk!

Ride it on. Yyiiihhhaaa….!!

Selain itu, trunki juga membantu kemandirian si anak untuk terlibat menyiapkan sendiri barang-barangnya. Memilih barang apa saja yang ia inginkan sekaligus bertanggung jawab atas barang-barang tersebut. Memang sih bakalan masih berantakan susunannya di dalam trunki dan pada akhirnya kita tetap harus turun tangan untuk merapikan isi koper tersebut. But at least, he knows what he has to bring on.

Sekarang ini banyak sekali produksi trunki yang palsu alias abal-abal. Saran saya sih sebaiknya beli yang original karena insyaAllah kualitasnya terjamin. Mending mahal tapi sekali beli daripada murah tapi cepat rusak kan? Trust me, it saves your money more!

2. Baby carrier

Awal-awal Ochy masih bayi, baby carrier ini sangat penting dibawa ketika traveling bersama. Sangat mempermudah mobilitas kita apalagi jika sering berpindah-pindah tempat ataupun alat transportasi.

Baby carrier sangat beragam jenisnya. Dari yang standar dengan posisi depan belakang hingga yang lebih modern dengan enam posisi duduk yang nyaman buat anak seperti i-angle ataupun ergobaby hipseat. Harganyapun variatif sesuai model dan merk. Baby carrier pertama Ochy adalah yang biasa yang banyak dijual di toko-toko perlengkapan bayi. Dulunya sempat melirik ergobaby 4 position karena saat itu jenis hipseat belum diproduksi. Harganya sekitar 2,5 juta untuk produk original. Tapi karena kado aqiqah Ochy banyak yang ngasih baby carrier meskipun semuanya standar saja, sayapun mengurungkan niat membeli ergobaby tersebut. Pemborosan soalnya. Dan nyatanya, baby carrier standar ini juga cukup kuat. Terbukti ketika saya mengajak Ochy berkeliling Malaysia : menjelajahi Kuala Lumpur, Melaka, Johor Bahru dan Penang. Juga ketika mengeksplore Singapore.

Baby Carrier

Belakangan, dengan pertimbangan berat badan Ochy yang semakin bertambah, kamipun memutuskan membeli baby carrier jenis hipseat yang ada insert khusus infantnya sehingga bisa juga dipakai oleh calon adik Ochy yang sebentar lagi lahir, insyaAllah. Sementara baby carrier sebelumnya kita sumbangkan. Ini prinsip sederhana yang kami jaga dalam keluarga kecil kami. Boleh punya barang sejenis yang baru selama yang lama kita sedekahkan. Tentunya dalam kondisi bagus yang masih layak pakai ya!

Nah pengalaman pertama Ochy dengan si hipseat ini ketika kami melakukan perjalanan umrah ke tanah suci dan terbukti sangat membantu terutama dalam proses tawaf dan sai.

3. Stroller

Ka : di Masjid Nabawi Madinah dengan stroller Yoya. Ki : di Beachwalk Kuta dengan stroller baby elle.

Sekarang ini stroller menjadi barang wajib yang sepertinya harus dimiliki oleh ibu dengan bayi. Jangankan untuk ibu tipe traveller. Ibu-ibu yang doyan ngemall aja punya. Alasannya praktis untuk mempermudah mobilitas kita. Si baby bisa tiduran, duduk, main, makan sampai urusan buang air di atas stroller.

Stroller perdana Ochy merk baby elle dan sangat membantu kami selama tinggal di Denpasar terutama bagi saya yang kebanyakan ditinggal kerja suami dan kemana-mana hanya berdua saja dengan Ochy. Misalnya ketika belanja bulanan di supermarket atau ketika ngajakin jalan-jalan di lapangan renon pun ketika ke rumah sakit untuk imunisasi atau kontrol kesehatan bahkan ketika saya me time di salon untuk relaksasi. Karena yes! Menjadi ibu rumah tangga itu terkadang tingkat stressnya lebih tinggi. Bayangin aja, dari buka mata yang dipikirin tuh cucian piring, baju, ngepel lantai, bikin sarapan, bersiin rumah, mandiin anak, layani suami dan segudang pekerjaan lain yang seperti gak ada habis-habisnya. Gitu aja terus sampai malam. Maka relaksasi itu sangatlah penting! Apalagi bagi ibu menyusui karena sangat mempengaruhi kuantitas dan kualitas ASInya. Jadi sambil di massage, kita bisa tetap mengawasi si baby.

Stroller juga sangat membantu kami ketika melakukan perjalanan udara. Ukurannya yang cabin size memudahkan kita membawanya ke atas pesawat sehingga tidak perlu susah payah gendong anak dari terminal keberangkatan hingga boarding. Begitupun ketika travelling, pastinya memudahkan kita mengeksplore suatu tempat.

Stroller baby elle milik Ochy 90% materialnya dari besi. Sehingga cukup berat dibawa ketika dalam posisi dilipat. Karena itu saat mengajak Ochy traveling ke luar negeri, sekalipun saya tidak pernah membawa stroller ini. Belakangan hadir stroller merek yoyo yang memang didesain khusus travelling. Sumpah ngebet banget dengan fitur-fitur super praktisnya! Tapi setelah mengecek harganya, saya mundur teratur. Hahahhaha. Almost 10 juta bo! Hiks. Pengen sewa aja sih tapi gak nemu toko di Makassar yang menyewakan jenis stroller ini. Adanya merek yoya, buatan china yang sumpah miriiiipppp banget! Jika melihat sepintas, sangat sulit menemukan perbedaan keduanya. Nah si yoya ini diberandol dengan harga dibawah 2 juta saja lho. Wow! Namun demikian, saya tetap gak beli. Cukup menyewa di rental toys saja seharga 100 ribu untuk sebulan. Hahahahaha. Pilihan lainnya ada cocolatte pockit, harga di bawah 2 juta juga dan sangat ramping ketika dilipat. Tapi sayangnya meskipun ramping tapi tetap saja lebih berat dari yoya. 

4. Travel Cooker

Travel cooker

Saat traveling apalagi dengan budget pas-pasan maka membawa travel cooker adalah pilihan tepat. Sebab pastinya bisa hemat uang untuk makan. Selain hemat biaya, juga hemat waktu sih karena gak harus muter-muter cari restoran atau tempat makan. Dengan travel cooker kita bisa makan sepuasnya di kamar hotel pun kehalalannya sudah pasti terjamin karena bahan baku dan proses memasaknya kita sendiri yang siapkan. 

So far kami percaya dengan travel cooker maspion mec-3500. Satu set sudah lengkap dengan kompor listrik, panci, mangkok, sendok dan garpu. Ukurannya yang mini dengan desain minimalis tapi fungsi komplit yang maksimal cocok banget dijadikan teman jalan. Bisa dipakai masak nasi, sayur sup, tumisan, goreng nugget, ceplok telur, dll. Masaknyapun bisa sambil melakukan aktivitas lain seperti mandi, buang air, setrika baju, dll.

5. Setrika lipat portable

Sumber gambar : google. Gak sempat fotoin punya sendiri karena dibawa suami ke Timika

Tampil rapi dan kece saat traveling tentunya harus dong ya. Karena penampilan kita sedikit banyak membawa pengaruh atas penilaian orang lain terhadap diri kita. Saya dan Kak Idu sih sebenarnya bukan semata-mata karena alasan itu. Tapi karena kami memang merasa nyaman saja saat pakaian terlihat rapi. Apalagi saya berhijab. Menjaga penampilan terutama ketika traveling di negara-negara minoritas muslim menjadi misi saya pribadi. Kesan bahwa muslimah itu bersih, rapi dan tetap fashionable ingin saya bagikan kepada mereka. Seperti ketika di Hong Kong. Saya berkenalan dengan warga lokal yang cukup terkesima dengan hijab saya. Katanya, selama ini yang sering ia lihat di tv adalah model muslim yang fundamental, lusuh dan sering jadi pengemis di tempat-tempat umum jika bukan teroris dengan bom-bom molotov. Saat berkenalan dengan saya, dia mengaku pandangannya sedikit berubah. Yaa… meskipun saya tidak tau seberapa banyak perubahan itu. Tapi saya bersyukur, telah menjadi jembatan baginya mengenalkan muslim.

Begitupun ketika saya di Jepang. Saat itu saya dalam perjalanan menuju Kyoto. Saya berkenalan dengan warga lokal di kereta gara-gara menolong dia memungut barang-barangnya yang jatuh berserakan ketika kereta tiba-tiba berhenti. Berawal dari obrolan ringan asal usul hingga akhirnya merembet ke percakapan tentang keyakinan karena baginya cara berpakaian saya aneh. Sayapun bersyukur dengan momen itu karena setidaknya saya bisa mengenalkan bagaimana perempuan diatur cara berpakaiannya di dalam Islam.

Setrika lipat portable ini wajib banget dibawa ketika traveling. Selain tetap bisa menjaga penampilan kita rapi juga menghemat biaya laundry cyiint. Soalnya biaya setrika baju di luar negeri itu muahaaall, bagi kami sih! Bayangin aja, satu lembar baju bisa 50 ribu-an. Nah kalau 10 baju?? Apalagi membawa anak kecil pula yang dalam sehari bisa ganti 3-4 kali baju. Berasa kan mahalnya!

Nah itulah barang-barang yang wajib dibawa ketika traveling terutama saat membawa anak kecil. Semoga bermanfaat ya 😁😁

Happy 2 Years Old, My Boy!

Hari ini, tepat 2 tahun yang lalu engkau hadir melengkapi fitrahku sebagai wanita. Karenamu aku bisa mendapat kemuliaan perempuan yang dipanggil ibu. Olehmu, aku merasakan nikmatnya hidup yang jungkir balik : siang jadi malam dan malam menjadi siang. Hidup yang penuh tantangan : makan, mandi, dan tidur yang berantakan. Hidup yang penuh proses : sabar, telaten, kelola emosi, lelah tak berkesudahan. Namun dengan kelahiranmu dari rahimku, surga telah di tempatkan di bawah kakiku.

Waktu memang sifatnya ambigu. Ia terasa lambat sekaligus terasa cepat. Aku masih ingat bagaimana harus berjuang melewati malam-malam panjang bersamamu di ruang NICU. Kuabaikan rasa sakit operasi yang masih membekas ketika bergerak demi menjagamu di ruang asing itu. Kurelakan segala kenikmatan tidur terenggut demi menyusuimu yang kadang membuat pinggang encok karena posisi yang tidak nyaman. Lalu entah mengapa waktu seperti berkonspirasi denganmu, mengalun dalam dawai lambat. Masih lekat pula dalam memori bagaimana berjuang pada masa-masa MP Asimu. Sering membuatku stress jika engkau tidak mau makan sementara berat badanmu terus menyusut.Dan lagi-lagi waktu memihakmu. Membuat segalanya berjalan semakin lambat. 

Ochy 0-12 months old

Lalu hari ini, kamu sudah saja berusia 2 tahun. Sedang lucu-lucunya. Menggemaskan! Rasanya baru kemarin menimangmu. Tahu-tahu sekarang kamu sudah begitu lincahnya lari dan lompat ke sana kemari. Belum juga lepas dalam ingatan bagaimana engkau terbata-bata dan berusaha keras memanggilku mama. Sekarang apapun yang keluar dari ucapanmu adalah kalimat yang sangat fasih.

Ochy 7 months old
Ochy 1.5 years old

Wahai anakku, Ochy. Tetaplah tumbuh dalam limpahan cinta dan kasih sayang. Tetaplah menjadi pribadi yang membanggakan bagi kami orang tuamu, terlebih bagi Tuhan. Jadilah anak yang penuh manfaat bagi sesama. Yang kehadirannya senantiasa dirindukan.

Anakku Ochy, Muhammad Hideyoshi Almahendra. Kelak jika engkau bertanya mengapa tak ada perayaan hari lahirmu? Mengapa tak ada pesta ulang tahunmu? Mengapa tak ada kue dan lilin? Mengapa tak ada balon dan mainan? Mengapa tak ada doa dan harapan? Mengapa tak ada liburan ke pantai bahkan keluar negeri sebagai kado? Mengapa tak ada hadiah apapun layaknya kebanyakan orang yang berulang tahun? Tidakkah mama dan papa mencintai Ochy? 

Sungguh kuharap tak pernah terbesit niat engkau mempertanyakan itu. Tapi jikapun hatimu resah tentangnya, cukuplah engkau tahu cinta dan kasih sayang kami tak pernah kurang untukmu. Karena sungguh, kami tak harus menunggu ulang tahunmu untuk mendoakanmu, memberi hadiah, mengajak traveling dan membelikan mainan. Kami hanya ingin keluarga kecil kita hidup lebih baik dalam tuntunan agama. Dan sungguh perayaan ulang tahun itu tak pernah ada dalam ajaran agama kita.

Aku tahu engkau masih terlalu muda untuk memahami itu semua. Namun izinkan mama dan papa meneladankan nilai-nilai agama sejak dini. Pun jika engkau berkenan, izinkan mama dan papa menjadi penghuni surga oleh indahnya akhlakmu kelak. Amin yaa Rabbal ‘alamin.