Brussels And All Its Drama.

Brussels
Perjalanan dari Amsterdam ke Brussels bisa ditempuh dengan berbagai moda transportasi seperti kereta, bus dan kereta cepat. Masing-masing tentunya punya plus dan minus. Kalau mau yang paling hemat, pilihannya tentu saja naik bus. Tiket busnya bahkan ada yang cuma 1€ jika berhasil mendapat promonya. Kekurangannya, waktu tempuh yang cukup lama yaitu sekitar 4.5 jam. Meski demikian, perjalanannya terasa menyenangkan karena busnya super keren. Ada tv lcd di masing-masing kursi, ada wifi gratis, tempat tas dan soket colokan listrik. Sangat cocok bagi pejalan yang low budget seperti kami.
Tetapi perjalanan kami ke Brussels ditempuh dengan kereta cepat Thalys. Ada beberapa alasan mengapa kami memilih kereta cepat. Yang pertama karena ingin menambah pengalaman berkereta cepat kami (ini adalah yang kedua setelah naik Shinkansen di Jepang). Alasan lainnya karena waktu tempuh yang relatif lebih singkat yaitu sekitar 1 jam 51 menit saja. Jauh diatas kereta reguler yang memakan waktu 3.5 jam apalagi bus yang menghabiskan waktu lebih lama.

Saya akui harga tiketnya memang mahal. Ini bahkan menjadi tiket kereta termahal kami selama di Eurotrip kali ini. Padahal sudah saya buking jauh-jauh hari. Tapi demi sebuah pengalaman baru bagi keluarga, saya dan Kak Idu menyepakatinya bersama. Apalagi untuk anak kami Ochy yang sangat excited dengan dunia transportasi. Ini akan menjadi pelajaran berharga untuknya.

Kereta Cepat Thalys

***

Kami tiba di Bruxelles Midi Station sudah pukul 10 malam. Stasiunnya sudah sepi. Toko dan loket tiket sudah tutup. Nyaris tak ada petugas yang bisa ditanyai arah tepat menuju hotel kami yang cuma 2 menit dari stasiun. Bukan apa-apa, salah pintu exit bisa membuat kita jalan kaki berjam-jam karena memutar. Dan bisa lebih lama lagi jika sambil menggotong bayi dan anak yang semuanya tertidur pulas ditambah ransel, koper dan stroller serta mata yang tinggal 5 watt karena sudah mengantuk dan kaki lunglai karena sudah kelelahan. Karena itu kami rela mutar-mutar di dalam stasiun menanyai siapa saja yang penampilannya meyakinkan sebagai warga lokal. Berkeliling di dalam stasiun tentunya jauh lebih aman daripada di luar. Sudah hampir pasrah sih sebenarnya jika malam ini terpaksa menginap di stasiun dan reservasi hotel yang sudah kami lakukan terpaksa hangus. Apalagi malam semakin larut. Kami sudah sejaman lebih di sini dan setiap orang yang kami tanyai tidak ada yang tau. Giliran ada yang ngerti alamatnya, bicaranya malah pakai bahasa Perancis. Ya kali, kami ngerti. Adanya cuma ingat aksen sengau-sengaunya saja. Mengandalkan google maps juga ternyata bikin keliru. Ah nyasar-nyasar seperti ini nih yang akan jadi cerita seru nantinya buat saya ketawain bersama Kak Idu. Apalagi kalau pakai ngotot-ngototan sok benar dengan feeling masing-masing tentang arah mana yang akan dituju. Susah dilupain deh pengalaman kayak gini soalnya. Pengalaman yang hanya bisa dirasakan kalau kita jadi solo traveler begini. Kalau bareng travel agent mah gak bakal ada nyasar-nyasar begininya. Hahaha *menghibur diri*

Suami lalu berinisiatif untuk mempercayai arahan Gmaps. Saya dan anak-anak beserta barang bawaan kami menunggu di stasiun. Tak seberapa lama suami kembali dan memberi kode angkat bahu. Fix, kayaknya beneran nginap di stasiun ini. Huhuhu. Hingga pada akhirnya, seseorang yang kami tanyai berhasil menunjukkan arah yang tepat meskipun memakai kombinasi bahasa Belanda, Jerman dan lebih banyak bahasa tubuh. Alhamdulillah… yeayy! Gak jadi dingin-dinginan di stasiun sampai pagi. Hihihi.

Di Brussels ini unik sekali, orang-orangnya berbahasa Perancis, Belanda dan Jerman. Sangat jarang saya mendengar yang berbahasa Inggris. Begitupun dengan tulisan-tulisan di sign board, memuat empat bahasa sekaligus. 

Menurut saya, ada perbedaan yang mencolok antara otang-orang di Eropa dan Asia saat memberi tahu arah jalan begini. Orang Eropa biasanya menjelaskan singkat kemana kita harus melangkah : ke kanan, ke kiri, maju atau putar belakang dengan instruksi tangan yang digerakkan sesuai arah. Kalau orang Asia biasanya menjelaskan panjang lebar. Terus kalau melihat wajah kita belum paham juga, mereka rela mengantar ke arah yang dia maksud bahkan hingga sampai di tujuan.

Nah berdasarkan informasi dari stranger tadi, kamipun menuju arah exit di depan kami. Dan benar saja, jarak hotel dengan stasiun benar-benar cuma 2 menit jalan kaki sesuai dengan petunjuk dari website hotel. Nama hotelnya bahkan kelihatan dari pintu exit ini. Arah yang tadi sudah kami tuju sebenarnya. Duhh… rasanya kok jadi gemes ya saya. Lokasi hotelnya memang sangat top. Dekat dengan stasiun utama dan juga supermarket serta restoran halal. Syukurlah hotelnya ketemu. Kamipun lalu mandi, makan lalu tidur nyenyak. Siapin tenaga buat jalan-jalan cantik besok.

Hotel kami di Brussels
Supermarket dan restoran halal di dekat hotel
Hotel kami di Brussels

***

Proses pencarian hotel semalam rupanya menjadi awal dari drama perjalanan kami di Brussels. Pagi ini setelah anak-anak dan suami sarapan, sayapun menyiapkan semua keperluan yang akan dibawa keliling kota. Taulah ya bawa baby itu barangnya banyak. Syukur-syukur anaknya masih ASI ekslusif sehingga tidak perlu menambah kerepotan membawa botol, dot, sikat dan termos. 

Setelah semuanya siap, giliran si emak yang harus dandan super cepat. Tapi saya tercengang karena satu-satunya baju bersih yang saya punya ternyata sudah kekecilan bagian lengannya. Gak sadar kalau berat badanku sudah tidak se slim dulu. Baju ini sebenarnya asal saya comot sih ketika packing dari rumah sebelum berangkat ke Eropa karena kejar-kejaran dengan jadwal penerbangan. Niatnya nanti setelah sampai di bandara Kuala Lumpur akan beli baju, makanya cuma bawa 4 potong baju saja. Kenyataannya hingga meninggalkan Amsterdampun, kami belum kesampaian ke toko buat belanja. Hufft.

Sempat bingung mau pakai baju apa. Gak mungkin juga saya pakai baju yang sudah dimasukkan ke kantong laundry. Sudah kotor dan berkeringat. Akhirnya atas saran suami, baju tersebut saya gunting lengannya. Padahal ini salah satu baju favoritku. Karena udara musim gugur memang masih dingin banget, jadi kemana-mana kami selalu memakai jaket. Nah jaket inilah yang menjadi outer untuk menyembunyikan baju tanpa lengan asal gunting tersebut. Wkwkwkwk. Sumpah deh beda kreatif dan kere itu tipiiiissss banget. Gak papalah ya yang penting bisa jalan-jalan keliling kota. Nanti kalau ketemu mall, bisa mampir buat beli baju baru.Yippiii.

Brussels

Hari ini kami berencana mengunjungi Grand Place dan atomium. Grand Place sendiri adalah alun-alun kota yang dikelilingi bangunan-bangunan indah dan bersejarah yaitu Townhall, Guildhall dan Brodhuis. Area ini menjadi the must visit when in Brussels karena telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Tempat ini juga disebut dengan Grand market karena terdapat banyak kafe, restoran dan toko-toko souvenir. But you know guys, kami gak kesampaian makan waffle Belgia yang mendunia itu, yang kata orang-orang tokonya ada di area ini, kecil tapi antriannya selalu mengular. Sudah dua kali mutar-mutar tetap saja cuma ketemu toko souvenir dan coklat. Gak ketemu penjual wafle sama sekali. Terakhir malah nyangkut di halaman JW. Marriot buat internetan gratis.

Karena keasyikan online, akhirnya dalam sehari itu kami hanya mengunjungi area Grand Place saja. Tidak jadi ke atomium karena menurut pak suami atomium itu biasa saja. Tidak ada istimewanya. Padahal dia sendiri belum pernah ke sana tapi memberi opini seperti itu. Keasyikan online ya pak? Sampai gak mau beranjak dari sini. Hahaha. Dasar faqir wifi. Pas ketemu jadi gak mau pulang. Hahaha.

Grand Place Brussels
Restoran di Grand Place
Brussels

Tiket kereta keliling Brussels sebenarnya berlaku selama 1 jam. Karena kami sudah lebih berjam-jam akhirnya harus membeli tiket baru untuk pulang ke hotel mengambil koper yang tadi kami titip saat check out. Di stasiun ini ternyata hanya tersedia mesin tiket saja. Tidak ada loket dan petugas yang melayani seperti di stasiun Bruxelle Midi. Pas mau beli tiketnya kita bingung bagaimana mengoperasikannya karena berbahasa Perancis. Pencet-pencet tombol untuk ganti bahasa malah tidak mau. Nah saat lagi pusing begini, saya cegat seorang cleaning service yang baru saja meletakkan peralatannya di pojok dinding dekat mesin tiket lainnya. Alhamdulillah dia bisa berbahasa Inggris. Dari si bapak itulah kami baru tahu kalau tombol ganti bahasanya bukan dipencet tapi diputaaaarrrr. Hahahaha. 

Mesin tiket

Karena sejak awal, Belgia memang negara yang cuma disisipkan dalam itinerary kami, maka tidak banyak waktu yang kami alokasikan di sini. Sore hari kami sudah menuju bandara Brussels untuk terbang ke prague. Ada kejadian unik ketika di stasiun Midi sebelum membeli tiket terusan ke bandara. Berhubung saya belum makan waffle di Belgia, maka sayapun bela-belain cari toko yang ada menu wafflenya di stasiun. Alhamdulillah ketemu. Hanya saja pelayannya gak bisa bahasa Inggris jadinya salah beli deh. Mintanya waffle fresh from the oven, dikasinya yang dihangatkan pakai microwave. Mintanya waffle coklat, yang saya terima malah waffle polos. Oh Tuhan! Tapi yasudahlah, setidaknya saya sudah bisa memberi centang tebal pada wishlist makan waffle di Belgia. Hahaha

Kamipun segera ke konter tiket untuk membeli tiket kereta ke bandara Brussels. Dalam perjalanan ke konter tiba-tiba seorang ibu menepuk pundak saya lalu mengoceh dengan suara sengau yang bahasanya sama sekali tidak kumengerti. Menyadari saya kebingungan, ia menarik saya ikut bersamanya. Agak takut sih awalnya. Tapi karena dia berhijab, saya percaya saja niatnya pasti baik. Dan masyaAllah ibu itu memang benar-benar berniat membantu kami. Entah darimana ia tahu kalau kami akan ke airport. Ia membawa kami ke konter yang tepat. Konter berbeda dengan yang akan kami datangi tadinya. Setelah itu ia cuma senyum, memberi salam dan berlalu. Padahal saya bahkan belum sempat menanyakan nama dan asalnya. 

Setelah mendapatkan tiketnya, kamipun segera ke platform yang tulisannya kurang jelas karena cuma ditulis tangan oleh si petugas. Kami hanya menduga-duga dengan memperhatikan penampilan calon penumpang. Kalau banyak yang membawa koper, bisa dipastikan ini platform yang benar yang akan menuju bandara. Keretanya sudah standby ketika kami tiba di platform. Saya tanya ke petugas apakah ini menuju bandara, dia hanya mengangguk. Kamipun bersiap naik. Kak Idu menaikkan koper terlebih dahulu lalu menyimpannya di tempat yang telah disediakan di kompartemen sebelah. Setelah itu barulah dia akan membantu saya menaikkan stroller yang ditempati Ochy tidur. Soalnya keretanya tidak stroller friendly, ada anak tangga di pintu sehingga saya harus menunggu Kak Idu untuk menaikkannya sebab kemampuan saya terbatas dalam posisi menggendong Yui begini. Tapi belum juga Kak Idu selesai menyimpan koper, pintu kereta tertutup dan tidak bisa dibuka lagi. Sementara saya dan anak-anak masih di luar. Sempat bercanda dengan diri sendiri, serius nih saya ketinggalan kereta? Serius nih suami saya terjebak di dalam? Padahal paspor dibawa semua oleh Kak Idu berikut uang dan kartu debit. Tiket kereta juga dia yang bawa. Saya satu sen pun tidak pegang uang sama sekali, pun tidak ada kartu identitas sama sekali. Kalau terkena razia petugas, bisa-bisa saya dianggap imigran gelap.

Dari dalam kereta Kak Idu tampak panik. Ia menekan tombol pintu berkali-kali, memukul-mukul jendela masinis tetap saja pintu kereta tak bergerak walau sesenti. Beberapa penumpang juga mencoba membantu tapi kereta telah terkunci rapat. Kak Idu juga dengan panik memberi saya kode untuk memberitahu petugas. Lalu dengan tergopoh-gopoh karena menggendong bayi dan mendorong stroller sayapun mengetuk jendela masinis dari luar. Saya sampaikan apa yang terjadi tapi petugasnya cuma bisa bilang, maaf kereta harus segera berangkat. Tidak ada waktu. Silahkan menunggu kereta berikutnya. Setelah itu ia menutup kembali jendelanya dan seolah tidak peduli lagi denganku. Lalu sayapun memohon-mohon dan entah kenapa tau-tau saya sudah menangis saja. Sang petugas lalu menelepon seseorang. Saya tidak tahu siapa yang dia telepon tapi tidak lama setelah itu datanglah petugas lainnya lalu membuka pintu dari luar dengan kode yang saya tidak tau. Kak Idupun diminta cepat-cepat turun. Alhamdulillaah… syukurlah bisa bersama lagi. Saya gak kebayang kejadian berikutnya jika harus terpisah begini.

Eh btw, tadi kan saya cerita kalau pakai baju yang lengannya digunting dadakan. Karena alhamdulillah semuanya berjalan aman-aman saja, saya jadi lupa kalau memakai baju tanpa lengan. Hingga akhirnya dihadapkan pada situasi genting yang bikin muka saya tiba-tiba jadi pucat pasi. Saat itu lagi di Bandara Brussels sedang mengantre di pemeriksaan X-Ray.

Ketentuan internasional pemeriksaan X-Ray ini memang mengharuskan melepas jaket, ikat pinggang, dan syal. Begitu masuk antrian, saya baru sadar bahwa saya sama sekali tidak mengenakan long jhon hari ini sehingga jika jaketku dilepas maka seluruh tanganku akan telanjang. Astagfirullah’aladzim. Bingung dan paniklah ya pastinya. Akhirnya saya dan Kak Idu memberanikan diri bernegosiasi dengan petugas. Menyampaikan kondisiku dan apa masalahnya. Tapi mereka bahkan bergeming. Tidak mau menerima alasan kami. Dan yaaa… jaket harus dilepas. Rasanya sedih, malu, merasa bersalah, berdosa aahh campur aduk deh. Meskipun sebenarnya orang-orang cuek saja dan sibuk dengan urusan masing-masing, tidak memberi attention kepada kami tapi saya malu sama Allah yang maha melihat. Syukurnya lilitan hijabku panjang sehingga sisa kainnya kugunakan untuk menutupi yang bisa ditutupi. Posisi menggendong Yui juga cukup membantu menyembunyikan sikuku yang kuselip diantara perutnya dan ergo baby. Lalu saya buru-buru memasuki body detector dan Kak Idu segera mengambilkan jaket yang telah melalui sinar X.

Oh Brussels… why you welcome us with so many dramas 😂

Advertisements