Nyala Papua di Hari Peringatan HUT RI Ke-74

Dua hari setelah upacara dan perayaan HUT RI ke-74, Papua memanas tidak terkecuali daerah tambang emas, Timika. Demo besar-besaran yang serentak terjadi di Jayapura dan Sorong, ikut memicu daerah Papua lainnya. Demo ini sebagai bentuk protes dan perlawanan orang asli Papua (OAP) atas intimidasi sejumlah mahasiswa Papua di Jawa Timur oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Demo tersebut berujung rusuh berkepanjangan. Gedung perkantoran dirusak, dibakar. Bahkan ruko dan rumah warga pendatang tak luput dari anarkisme demonstran. Kondisi Jayapura dan Sorong sangat mencekam. Di Timikapun bergejolak. Hotel dan kantor layanan publik jadi sasaran, termasuk kantor suami yang hancur bagian depannya oleh pengunjuk rasa. Security yang bertugas saat itupun babak belur nyaris meregang nyawa karena amukan massa yang tidak terkendali. Beruntung, Allah masih melindungi mereka semua. Meski luka-luka, mereka selamat dengan jalannya masing-masing. Ada yang berhasil melarikan diri ke hutan, adapula yang diselamatkan oleh orang tak dikenal. Alhamdulillah suamiku juga selamat dari kejadian tragis itu. Kurang lebih 5 menit sebelum kantornya diserang, ia telah tiba di rumah. Dengan panik luar biasa, ia meminta segera membuka pagar. Tubuhnya bergetar hebat, bersimbah peluh yang terasa dingin. Bergegas, kami mengunci semua pintu dan jendela. Kaca mobil ditutupi degan tikar seadanya.

Selama satu pekan pasca demonstrasi itu, status Timika siaga satu. Sekolah-sekolah diliburkan, jam kerja perkantoran dibatasi. Kami tak berani keluar rumah lebih jauh. Masyarakat di luar sana tidak tahu menahu kondisi terkini di Timika sebab luput dari liputan media massa. Akses internet di seluruh daratan Papua pun diputus oleh pemerintah.

Satu minggu kondisi membaik, Papua kembali menyala. Demonstrasi jilid 2 di Jayapura dengan tuntutan yang lebih banyak atas ketidakpuasan terhadap pemerintah, termasuk desakan aktivasi jaringan internet. Kali ini jumlah massa lebih banyak. Pengrusakan di mana-mana termasuk berbagai fasilitas umum.

Jangan bayangkan demonstrasi di Papua sama seperti demonstrasi pada umumnya! Di Papua, para demonstrannya bebas membawa senjata tajam. Jangankan saat demonstrasi begini. Saat kondisi aman terkendali sekalipun, mereka bebas kemana-mana membawa golok dan panah. Di jalan raya, kami sudah biasa dengan pemandangan itu. Golok tanpa sarung dengan kilatan tajam di salah satu sisinya dibawa begitu enteng berkeliling area publik.

Jangan tanya bagaimana perasaan kami saat tahu kerusuhan kembali terjadi di Jayapura sebagai efek demonstrasi jilid kedua. Kami takut Timika ikut bergejolak sebagaimana yang sudah-sudah. Hingga suatu sore menjelang maghrib, saya ditelepon oleh suami untuk segera packing yang penting-penting, sekarang juga! Kami akan dievakuasi keluar Papua sesegera mungkin.

Pagi-pagi sekali kami telah meninggalkan rumah. Saya bahkan belum tidur sejak semalam karena sibuk packing. Bukan karena barang bawaannya banyak. Tapi karena saya harus memenuhi hak-hak anak saya terlebih dahulu baru bisa packing dengan leluasa. Dalam kondisi begini, sulit bagi saya mengajak anak-anak packing bersama. Alih-alih cepat selesai, adanya akan molor berjam-jam karena drama anak balita.

Semua maskapai menuju Kota Makassar, Denpasar dan Jakarta telah full hari itu. Satu-satunya yang tersedia adalah penerbangan lanjutan dari Kota Sorong. Karena itu kami ke Sorong dulu lalu lanjut terbang ke Makassar. Pak suami pun tidak bisa menemani saya dan anak-anak di Makassar karena ia akan lanjut ke Bali. Untuk sementara, dia beserta rekan-rekan kerjanya akan berkantor di Bali hingga kondisi di Papua dianggap aman.

Transit di Sorong

Dua minggu kemudian, saya dan anak-anak dijemput suami untuk sama-sama ke Timika. Alhamdulillah kondisi di Timika berangsur membaik. Dan alhamdulillahnya lagi… Ke Timika kali inipun untuk berpamitan sebab suami mutasi ke Kota Batam. MasyaAllah… Sungguh kado istimewa tepat di hari pernikahan kami yang ke enam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s