NHW#1 IIP – Karena Ilmu Itu Bisa Diajarkan Namun Adab Hanya Bisa Ditularkan

Ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan — Materi 1 Adab Menuntut Ilmu, Institut Ibu Profesional.

Menuntut ilmu bisa dilakukan di mana saja dan dari siapa saja karena pada dasarnya setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Jika diumpamakan hidup ini adalah universitas, maka dunia ini adalah kampusnya, setiap manusia adalah mahasiswanya dan masalah hidup adalah ujiannya. Karena itulah mungkin muncul istilah “Universitas Kehidupan”. Seperti universitas formal saat kita kuliah, kita pun sama – sama belajar untuk menekuni satu bidang ilmu. Bedanya, masa studi kita di Universitas Kehidupan tidak ada batasan waktu. Sepanjang hayat, seumur hidup.

Ketika mengerjakan NHW#1 saya merenung cukup lama di poin pertama : Jurusan ilmu apa yang akan ditekuni di universitas kehidupan ini? Jujur saja saya bingung. Pikir saya, saat memilih jurusan di kampus saja yang notabene pilihannya sudah jelas berderet, tinggal centang doang, saya masih bingung. Apalagi ini di Universitas Kehidupan yang sama sekali kosong alias tidak tersedia pilihan buat dicentang saking banyak dan luasnya karena mencakup seluruh kehidupan kita.

Selama berhari-hari saya terjebak dalam perasaan semangat dan bingung. Semangat ingin segera menuntaskan NHW#1 tapi saya bingung bagaimana menyelesaikannya. Saya bahkan meminta bantuan kepada suami dengan menanyakan hal serupa tapi dia malah godain saya. Menganggap saya aneh tumben-tumbennya membahas hal serius begini.

Hasil diskusi di kelaspun seharusnya membuat saya tercerahkan sebagaimana teman-teman yang lain yang akhirnya menemukan jawabannya dengan mantap. Namun saya tidak. Seperti sudah ‘kelihatan’ tapi buram. Samar-samar. Tidak jelas. Kalau berdasarkan hasil diskusi di kelas sih, yang ingin kita tekuni di kehidupan seharusnya adalah hal yang kita senangi dan membantu mencapai tujuan hidup kita. Maka dari itu setiap orang pasti memiliki jawabannya sendiri.

Jika berdasarkan hal yang disenangi, tentu saja saya pasti memilih travelling, lalu disusul membaca, parenting, menjahit dan memasak. Itu semua adalah hal yang saya senangi. Tapi apakah semua itu benar-benar membantu mencapai tujuan hidup saya? Jangan-jangan itu hanya hobi saja?

Saya renungkan kembali hal-hal yang membuat saya bergairah namun terkoneksi kuat pada visi misi keluarga saya, selaras dengan alasan kehadiran saya di dunia ini. Sebab kita ada di dunia ini tidak mungkin Allah SWT ciptakan begitu saja. Pasti ada tujuannya sebagaimana secara gamblang disebutkan dalam QS. Adzzariyat ayat 56 : Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.

Saya pikir-pikir, NHW ini memang luar biasa. Bukan karena tugasnya yang berat. Pertanyaannya bahkan cenderung sepele. Hanya saja kita diajak untuk meneropong jauh ke dalam lubuk hati, jujur pada diri sendiri.

Maka setelah perenungan mendalam itu, saya pun akhirnya menemukan jurusan ilmu apa yang akan saya tekuni di Universitas Kehidupan ini yaitu ilmu berumah tangga. Sebab berumah tangga itu sepanjang hayat yang menjalankan tiga peran sekaligus dalam waktu yang bersamaan yaitu sebagai pribadi (perempuan), sebagai istri dan sebagai ibu (bagi yang telah dikaruniai anak). Berumah tangga itu ladang dakwah yang setiap sisinya menjanjikan pahala kebaikan. Berumah tangga itu adalah ibadah terlama kita sebagai manusia. Dan ini sejalan dengan tujuan hidup saya di dunia yaitu untuk mengejar ridha Allah dalam beribadah kepadaNya.

Berumah tangga memang sangat kompleks. Dua kepala, dua kepribadian, dua latar belakang dengan segala perbedaannya yang unik diramu dalam satu atap agar selalu bergerak dalam resonansi yang sama. Jika tidak didasari dengan ilmu yang baik, perbedaan-perbedaan itu berpeluang menimbulkan konflik yang tak berkesudahan. Sebaliknya jika dilandasi dengan ilmu yang benar, maka rumah tangga yang sakinah mawadddah dan warahmah, insyaAllah bisa kita raih.

Untuk berumah tangga yang baik, sudah semestinya saya mempelajari ilmunya dengan benar. Kasihan suami dan anak-anak jika saya begini-begini saja, tidak meng-upgrade ilmu tentang berumah tangga tapi mengharapkan output yang maksimal. Bagaimana mungkin? Apa yang saya tanam tentu itu pula yang akan saya tuai. Lalu apa yang akan saya tuai jika tidak menanam apa-apa.

Menurut saya setidaknya mata kuliah berikut ini adalah yang wajib di pelajari di jurusan rumah tangga yaitu ilmu agama, ilmu parenting, finansial, manajemen, komunikasi (termasuk belajar kerja sama dan problem solving, conflict management) serta ilmu pengembangan diri dan sosial. Bagi saya ini adalah kurikulum yang lengkap untuk mengangkat kualitas kita sebagai pribadi, istri dan ibu serta sebagai makhluk sosial.

Jika ada yang bertanya apa tidak terlalu banyak yang akan dipelajari? Mengapa tidak fokus saja pada satu hal misalnya tentang parenting saja atau tentang ilmu manajemen saja? Sepintas pertanyaan ini sangat menjebak. Sayapun awalnya berpikir begitu. Berpikir untuk mempelajari satu hal saja yaitu parenting. Tetapi semakin saya renungi, saya semakin yakin bahwa mata kuliah tersebut tidak bisa dipisahkan karena ilmu- ilmu ini saling berkesinambungan satu sama lain dalam membina rumah tangga yang baik. Sederhananya seperti saat kuliah dulu. Saya harus mempelajari ilmu perencanaan, administrasi, pembiayaan, manajemen mutu, asuransi kesehatan, manajemen pelayanan, ekonomi kesehatan, hukum dan kebijakan kesehatan untuk menjadi seorang kesmas yang baik. Kurang salah satunya, maka akan timpang membuat suatu kebijakan kesehatan.

Nah untuk mencapai tujuan dari jurusan ilmu rumah tangga yang saya pilih dalam Universitas Kehidupan ini, saya menyusun strategi menuntut ilmu sebagai berikut :

Lebih banyak dan lebih sering mempelajari Alqur’an dan hadist yang merupakan pedoman hidup saya sebagai seorang muslimah.

Mengikuti majelis, seminar, training, workshop dan bergabung dengan komunitas yang bermanfaat dalam mata kuliah di jurusan ilmu rumah tangga yang saya sebutkan di atas.

Membaca buku, artikel dan jurnal yang sejalan dengan mata kuliah di jurusan ilmu rumah tangga baik online maupun offline.

Membuat jurnal mingguan untuk mengevaluasi apa saja yang perlu di pertahankan, diperbaiki ataupun ditingkatkan.

Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan dengan learning by doing. Sebab ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan.

Membuat skala prioritas. Dengan banyaknya mata kuliah yang berhubungan dengan jurusan ilmu rumah tangga ini, maka perlu dibuat skala prioritas agar tidak keteteran.

Adab Menuntut Ilmu

Banyak diantara kita terlalu terburu-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya. Namun barang siapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan bermanfaat baginya.

Karena ilmu itu adalah prasyarat untuk sebuah amal, maka adab adalah hal yang paling didahulukan sebelum ilmu. Adab itu pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.

Adab adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horizontal antara dirinya dengan guru yang menyampaikan ilmu maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para ibu profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu – ilmu yang lain? Karena adab tidak bisa diajarkan. Adab hanya bisa ditularkan. Para ibulah nanti yang harus mengamalkan adab menuntut ilmu ini dengan baik sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh adab baik dari para ibunya — Materi 1 Adab Menuntut Ilmu, Institut Ibu Profesional.

Berkaitan dengan menuntut ilmu, perubahan sikap yang akan saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut adalah :

Ikhlas dan membersihkan jiwa dari hal – hal yang buruk agar ilmu tidak terhalang masuk ke dalam hati. Sebab ilmu itu bukan hanya rentetan kalimat dan tulisan melainkan “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati

Selalu menjadi gelas kosong agar mudah menerima setiap ilmu yang disampaikan.

Menuntaskan ilmu yang dipelajari. Tidak setengah-setengah dan tidak mood-moodan. Soalnya saya ini termasuk tipe pembosan.

Istiqomah. Saya tahu ini hal yang paling berat. Berkali-kali saya menetapkan sesuatu namun pada akhirnya kembali lagi seperti di awal. Misalnya no gadget untuk anak. Selama dua tahun kami mampu menjalaninya dengan baik. Tapi setelah adiknya lahir, saya tidak bisa istiqomah sehingga perjuangan dua tahun itupun terasa sia-sia. Begitupula pada hal-hal lainnya. Namun saya percaya, semakin sering kita melatihnya, sikap istiqomah ini akan tumbuh dengan sendirinya.

Berpikiran terbuka terhadap pendapat dan masukan orang lain.

Bersabar dan banyak – banyak bersyukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s