UK Trip : Day 11 – Perjalanan Antar Bandara

Hari terakhir perjalanan biasanya menjadi hari pemulihan atas semua kelelahan kami selama melakukan trip. Tidur, massage dan spa di hotel. Tapi sejak punya anak, dua yang terakhir itu hampir tidak pernah lagi dilakukan. Apalagi Yui masih ASI yang cuma mau direct di PD. Sulit meninggalkannya lama-lama dan susah jika diajak ikut. Sebagai gantinya, tidur bersama sepanjang hari, malas-malasan di kasur sampai kelelahan sendiri. Ekspektasinya sih begitu. Tapi kenyataannya tetap saja sibuk momong anak.

Hari ini kami akan pulang ke tanah air. Tidak seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya yang merasa sedih karena waktu liburannya telah usai, kali ini kami justru senang sekali sebentar lagi akan pulang. Kalau mau jujur sih sebenarnya sejak di Liverpool saya sudah mau balik ke Indonesia. Trauma banget dengan kondisi Kak Idu yang diserang penyakit malaria.

London

Kami check out dari Novotel pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum jam sarapan. Dengan shutle bus seharga £ 10 per orang dewasa, kami menuju terminal 4 Heathrow.

Berhubung ada beberapa barang yang gak muat masuk koper sehingga cuma ditampung tote bag yang kurang aman, maka kami wrapping semua tas tentengan. Hitung-hitung buat ngabisin koin poundsterling juga sih. Soalnya kalau sudah sampai di Indonesia, nilai tukarnya jatuh banget. Beda dengan uang kertas yang cenderung statis.

Setelah check in dan bagasi beres, kami menuju pemeriksaan imigrasi. Bandara Hetahrow ini keren banget. Sistemnya canggih dan humanless. Apa-apa serba self-service. Bahkan untuk pemeriksaan yang melalui x-ray, tidak ada petugasnya. Kita cukup menyimpan barang-barang di kantong plastik transparan dan mengikuti prosedur hingga tiba di antrian imigrasi untuk stempel keluar Inggris. Selanjutnya menuju boarding gate dan ruang tunggu. Di ruang tunggu ini akan dilakukan pemeriksaan ulang dengan bantuan anjing pelacak. Saya agak jijik sih. Apalagi si doggy mengendus – endus ranselku dan meninggalkan jejak liur di ujungnya. Hiks.

Dubai

Setelah 7 jam perjalanan udara dari London, kami akhirnya mendarat di Dubai International Airport. Overall, bandaranya super mewah. Desainnya kontemporer kelas dunia yang didominasi kaca transparan sehingga cahaya alami masuk dengan maksimal. Tidak hanya mewah, Dubai International Airport juga sangat megah. Walkalator ada di mana-mana saking besarnya bandara ini. Aneka toko yang ada di dalamnya juga serupa labirin saking banyaknya. Dan yes, untuk penumpang yang membawa anak-anak seperti kami bahkan disediakan stroller gratiisss yang bisa digunakan sampai ke pintu pesawat. Strollernya juga bukan merek ecek-ecek. Maclaren buibu! Saya yang bawa cocolatte pockit kan rada minder. Huhuhu.

Waktu transit kali ini sangat singkat, hanya 1 jam 45 menit saja sehingga kami harus serba cepat. Beda saat kedatangan kami yang waktu transitnya lebih lama sebelum terbang ke London yang mencapai 5 jam. Karena itu dengan terpaksa saya menutup mata dari meriahnya tenant dan toko-toko berkelas di airport. Padahal konon kabarnya, coklat di sini sangat murah dan enak. Parfum branded dan kosmetik internasional katanya juga lebih murah di sini daripada di negara lainnya.

Tapi dasar wanita! Bagaimanapun, godaan belanja sulit dihindari. Minimal windows shoping deh. Saya sendiri tidak percaya bisa selincah itu mampir ke beberapa gerai dalam perjalanan kami menuju check in desk dan imigrasi. Ketika melewati gerai Kiehl’s, saya mengintip produknya di etalase. Beneran lebih murah lho! Sunblock yang biasanya seharga 600 ribu, di sini cuma 400-an ribu jika dikonversi ke rupiah. Serumnya juga murce, cuma 600-an. Eye creamnya juga murah. Bahkan ada paket diskon hingga 50 % untuk produk body care. Ya ampuun rasanya pengen ngeborong semua.

Lewat di outlet nike, saya juga sengaja mendekat dan langsung ke sepatu yang sama dengan milik kak Idu agar lebih mudah membandingkan harganya. Ternyata di sini lebih mahal. Sempatin juga mampir di toko coklat. Beberapa brand yang familiar di Indonesia juga ada di sini seperti kit kat, kinder joy, m&m, cadbury, toblerone, silverqueen. Ceki-ceki harga emang lebih murah sih. Tapi masa iya bawa oleh-oleh begitu? Padahal di Indomaret depan rumah juga bisa didapatkan. Bergeser ke sebelah, di sini ada aneka coklat kiloan. Mirip-mirip dengan yang dijual di Arab. Harganya? Mahalan dikit jika dibandingkan di Madinah dan Mekah. Jadi kesimpulan yang mengatakan bahwa semua barang di bandara Dubai itu murah, sebenarnya tidak tepat.

Hmm… Kalau dipikir-pikir kok niat banget ya melakukan komparasi harga produk padahal sangat tergesa-gesa karena waktu transitnya singkat. Habis penasaran cyiint! Jadi saya ingin membuktikannya sendiri. Yess, cuma mau tahu saja. Gak beli. Hahaha.

Kak Idu berkali-kali geleng kepala dengan senyum masam karena sebentar-sebentar saya nyangkut lagi di sebuah toko. Tapi keluar-keluar selalu dengan tangan kosong. Ini menurut Kak Idu wasting time banget. Baginya, kalau mau beli ya sudah beli saja. Ngapain keluar masuk toko cuma buat liat-liat? Buang waktu. Tapi entahlah, bagi emak-emak seperti saya kok ya happy banget windows shoping begini. Ada sensasi rasa senang yang sulit dijelaskan.

And finally, dari sekian toko yang sempat saya singgahi, ujung-ujungnya cuma beli magnet kulkas sebagai penanda kami sudah pernah ke Dubai meski cuma transit saja. Wkwkwk.

Satu hal lagi tentang bandara Dubai yang saya cermati. Entah mengapa justru begitu sulit menemukan musholla di bandara super megah ini. Pas sudah ketemu, ruangan jamaah pria dan wanitanya di pisah pula. Jauuuuhhh lagi. Biasanya kan sampingan begitu. Lha ini sampai beratus-ratus meter jaraknya. Nyarinya juga susah banget lagi. Penumpang yang datang bersama pasangan kan agak repot apalagi yang membawa anak balita seperti kami yang mesti gantian jaga anak buat sholat.

Kuala Lumpur

Kami tiba di KLIA pukul 8 pagi. Padahal take off dari London pukul 9 pagi. Lelah selama perjalanan saya tuntaskan dengan mandi di bandara Kuala Lumpur. Selanjutnya body massage di kursi khusus. Mirip-mirip dengan yang ada di fun world. Gak tau apa namanya tapi itu lho kursi yang kalau dimasukin koin, akan memutar tonjolan-tonjolan halus diatasnya seperti gerakan memijit. Lumayan bantu mereda rasa pegal di punggung dan kaki tanpa harus meningglkan anak. Yui bahkan asyik sekali memandangi saya dari strollernya.

Satu hal yang saya sesali di KLIA, sudah berkali-kali ke sini tapi sekalipun tidak pernah kesampaian beli buku di Lonely Planet. Selalunya pasti dilewatin dan ingatnya pas sudah jauh sekali.

Penerbangan selanjutnya akan menuju Jakarta dengan Malaysia Airlines yang ditempuh kurang lebih 2 jam perjalanan. Ini pertama kalinya saya naik MH dan menurut saya servisnya sangat bagus. Take off dan landingnya mulus, makanannya enak dan porsinya lebih banyak dari GA tapi sayang gak ada hadiah toys buat anak-anak. But overall mantaplah dengan harga tiket yang cuma 600 ribuan saja.

Jakarta

Akhirnya, tiba juga di tanah air. Malam sudah cukup larut tapi aktivitas di bandara tetap ramai. Telinga kami akrab kembali dengan Bahasa Indonesia.

Tidak neko-neko langsung ke pangkalan taxi dan meluncur ke hotel buat istirahat.

Advertisements

2 comments

  1. Last day itu selalu bikin sedih. Apalagi kalo traveler yang masih single (hm?). Setelah berhari hari dari pagi sampe tidur bareng temen temen, tiba tiba duduk sendirian di ruang tunggu bandara. :((

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s