UK Trip 2018 : Day 9 – Seharian di Old Town dan Royal Mile Edinburgh

Perjalanan dari Manchester Piccadilly ke Edinburgh Waverley station ditempuh selama 3 jam 10 menit. Tiket keretanya cukup mahal yaitu £67 untuk dua orang dewasa. Inipun sudah dibeli sebulan sebelum keberangkatan. Ketika saya cek di hari keberangkatan ternyata sudah naik menjadi £158 per orang. Haddeuuhh!

Kereta yang kami tumpangi sangat penuh penumpang. Kami yang sudah booking seat sekalipun tidak dapat menemukan kursi. Akhirnya saya berdiri di dekat pintu sambil menggendong Yui dan kak Idu bersama Ochy berdiri di koridor diantara tumpukan orang. Beberapa penumpang bahkan harus ada yang lesehan, nyempil diantara koper, anjing dan barang besar lainnya. Saya sempat marah-marah dan protes kepada petugas. Apalagi kami sudah bayar mahal. Ketidaknyamanan seperti ini tidak kami harapkan. Ya kali kalau harus 3 jam dengan kondisi begini. Bagaimana kalau Yui minta asi? Bagaimana kalau Ochy pegal berdiri? Perjalanan masih 3 jam lho ini! Kalau di India sih mungkin saya bisa maklumi. Tapi ini di Inggris dimana transportasinya sangat maju dan sangat tersistem. Wajar dong kalau ekspektasi saya tinggi.

Ternyata oh ternyata… kereta yang seharusnya mengantar kami ke ibukota Skotlandia mengalami kerusakan sehingga seluruh penumpangnya dialihkan ke kereta yang sekarang ini kami tumpangi. Jadilah keretanya penuh sesak begini karena penumpangnya digabung. Syukurnya satu jam terakhir sudah lebih longgar karena beberapa penumpang telah turun di stasiun sebelumnya. Saya juga akhirnya bisa duduk di kursi dekat jendela sebagaimana tiket yang sudah kami beli.

Kegondokan yang tadinya meledak-ledak di dalam diri perlahan surut. Pemandangan dari jendela kereta yang sangat spektakuler berhasil menelan rasa ketidaknyamanan tadi. Bagi pecinta landscape seperti saya, disuguhi view padang rumput, perbukitan, pedesaan, biri-biri, laut lepas yang menghampar luas adalah surga.

Pukul 7 malam kami akhirnya tiba di Waverley station. Hawa dingin langsung menyerang begitu keluar kereta. Di luar stasiun bahkan hujan dan berkabut tebal. Mengaburkan keindahan kota Edinburgh. Dari sini kami naik black cab ke apartemen. Biayanya £10.

Keesokan harinya, kota Edinburgh masih basah oleh hujan. Kata beberapa warga lokal sih memang selalu begini. Skotlandia tidak mengenal musim panas. Kalaupun sedang cerah, biasanya tidak berlangsung lama. Karena itu payung dan rain coat wajib ada di setiap rumah.

Hari ini kami akan ke old town dan jika masih sempat juga akan ke Glasgow University di seberang kota yang bisa ditempuh satu jam naik kereta. Sebagai penggemar berat Harry Potter, saya dan Kak Idu memang berharap bisa berkunjung ke real Hogwarts.

Apartemen kami di Edinburgh

Kami meninggalkan apartemen pukul 10 setelah brunch. Dengan naik uber kami langsung menuju pusat kota tua dan menyusuri kawasan royal mile. Ada kejadian lucu dengan driver uber ini. Dia seorang anak muda yang tampan, pemilik sebuah restoran halal pula di Edinburgh. Jadi awalnya dia menganggap kami mungkin bukan muslim. Tapi baginya aneh karena saya dilihatnya berkerudung. Ketika Kak Idu bertanya tentang restoran-restoran halal di Edinburgh barulah semuanya terungkap jelas. Jadi rupanya dia mengucapkan salam kepada kami ketika ia membukakan pintu. Tapi karena saya dan Kak Idu sama-sama tidak mendengarnya, kamipun tidak menjawab salamnya. Lha, dianya langsung menunduk sambil menutup mulut, katanya. Dia pikir kami ini mungkin bukan muslim. Tawa kamipun akhirnya pecah lalu mengalirlah pembicaraan sepanjang jalan.

Terus apa saja sih yang bisa kita nikmati di Old Town ibukota Skotlandia ini?

1. Edinburgh Castle

Katanya belum ke Edinburgh jika belum ke benteng yang berdiri kokoh di atas castle rock yang merupakan bekas gunung merapi ini. Tidak hanya menjadi ikon Edinburgh tetapi juga Skotlandia secara keseluruhan. Karena itu tempat pertama yang kami kunjungi adalah Edinburgh Castle yang ternyata harus mendaki jalan beraspal mulus untuk sampai ke gerbang pembelian tiket masuk.

Kunjungan kami rupanya bertepatan dengan event internasional yang digelar di depan Edinburgh Castle menyebabkan setiap jalan tumpah ruah dengan manusia. Gerimis yang datang bersama kabut tebal sama sekali tidak menghalangi riuhnya orang berdatangan. Di sini kami juga bertemu lagi dengan keluarga asal Indonesia yang sedang kuliah di DenHaag. Kemarin kami kenalan ketika bertemu di Old Trafford di depan stadion Manchester United.

Antrean di depan castle sudah ratusan meter. Melihat cuaca dan panjangnya antrean, kami memutuskan cukup sampai di depan gerbang saja. Jangan tanya berapa harga tiket dan apa saja yang bisa kita lihat di dalam castle! Kami sudah balik haluan sebelum hujan deras menghantam. Gak kuat kalau mau basah-basahan tanpa coat. Perjalanan kami masih panjang soalnya.

2. Royal Mile

Kalau ada tempat yang paling ramai dengan wisatawan di Edinburgh maka di royal mile inilah tempatnya. Lokasinya memang strategis karena menjadi penghubung dua bangunan penting yaitu Edinburgh Castle di castle rock dan Holyrood Palace di old town. Royal mile sendiri adalah sebuah jalan yang kini terbagi menjadi beberapa jalan raya seperti Lawnmarket, Castlehill, Canongate, Highstreet dan Holyrood. Jalan-jalan tersebut dipenuhi dengan berbagai macam toko dan restoran serta bangunan-bangunan bersejarah yang semuanya bergaya abad pertengahan. Jarang sekali menemukan bangunan masa kini di Edinburgh. Kalaupun ada, jumlahnya tak seberapa.

Di Royal Mile ini ada banyak sekali tempat wisata yang bisa kita kunjungi. Istana, gereja, pementasan, museum dan semua kesenian Scotlandia yang dikemas secara kontemporer. Sangat kontras dengan bangunannya. Kami menghabiskan waktu berjam-jam di sini. Makan di restoran halal, menonton atraksi seniman jalanan, menikmati keindahan arsitektur bangunan-bangunan tua dengan St. Gile’s Cathedral yang menjadi pusatnya.

Karena hari semakin gelap meski masih pukul enam sore (normalnya di musim panas begini pukul sepuluh malam pun masih terang), kami memutuskan pulang ke apartemen dengan berjalan kaki untuk menikmati keindahan Kota Edinburgh seperti warga lokal. Jalan kakinya lama juga ternyata. Setengah jam lebih yang diantaranya harus menembus hujan karena tidak ada tempat untuk berteduh. Tapi entah mengapa semua seperti sangat menikmati. Kak Idu dan anak-anak happy sekali bermain hujan.

Kak Idu dan pengamen di Royal Miles. Ganteng mana hayoo??
Think how? Ini orang beneran lho

Kami tidak kesampaian ke Glasgow hari ini. Kami tunda ke hari esok saja. Makan yang hangat-hangat lalu mendekam di bawah bedcover bulu angsa adalah pilihan terbaik setelah basah-basahan begini.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s