UK Trip 2018 : Day 8 – Keliling Manchester Gratis Dengan Bus

Kota Manchester biasanya tidak luput dari tujuan wisata para traveller yang melakukan perjalanan ke Inggris. Ini sudah semacam paket mainstream bersama London, Oxford dan Liverpool. Mungkin karena jaraknya yang saling berdekatan dan mudahnya diakses dengan transportasi umum membuat kebanyakan orang memilih rute tersebut. Begitupun dengan kami. Selama lima hari di Liverpool, sayang banget jika tidak mengunjungi Manchester yang cuma tiga puluh menit naik kereta.

Di depan Manchester Piccadilly setelah hujan reda

Kami disambut hujan begitu tiba di stasiun Piccadilly. Ini adalah stasiun terbesar di Manchester. Sambil menunggu hujan reda, kami sarapan di sebuah cafe yang menjual aneka roti dan coklat panas. Beberapa jilbaber bermuka Arab, Turki juga memenuhi cafe tersebut. Berhubung kursi di dalam sudah penuh semua, saya jadinya take away saja. Syukur beberapa meter ke depan ketemu kursi stasiun yang masih kosong. Kursi ini mirip dengan kursi ruang tunggu di klinik dengan posisi yang saling membelakangi. Bedanya, di setiap ujung kursi dilengkapi meja buat naruh barang – barang. Sisi sebelah sudah ditempati keluarga asal Arab (setidaknya berdasarkan mukanya) dengan tiga orang anak usia sekitar 5 tahun, 3 tahun dan 2 tahun yang semuanya perempuan meskipun tidak berkerudung. Tidak seperti ibunya yang tampil dengan sangat modis memakai gamis sutra hitam, sepatu boot coklat dan jilbab yang senada dengan outer berwarna khaki. Sambil menikmati coklat panas yang tadi saya beli, telingaku awas mencuri dengar ibu dan ketiga anaknya di belakangku yang ternyata sedang murajaah surah-surah pendek. MasyaAllah.

Jika saya bandingkan dengan Eropa, lebih mudah menemukan orang-orang yang berhijab di Inggris. Muslimah kulit putih, hitam, sawo matang, mata bulat, sipit semuanya tersebar di tempat-tempat umum di London dan Liverpool. Bahkan ada seorang petugas stasiun yang berhijab lho! Beberapa kali juga saya bertemu jilbaber modis dengan working look di kereta, baik yang akan berangkat kerja maupun yang akan pulang ke rumah, membuat saya berkesimpulan : jilbab tidak menjadi masalah bagi muslimah yang ingin berkarir di ranah publik Inggris.

Manchester Metroshuttle Bus

Setelah sejaman di stasiun, alhamdulillah hujan lebat digantikan gerimis halus. Bergegas kami keluar dan mengantre di halte buat keliling kota Manchester dengan bus. Nah saking baiknya pemerintah Manchester, mereka menyediakan bus bernama Manchester Metroshuttle untuk berkeliling kota dengan gratis! Lumayan banget kan bisa hemat ongkos. Hehehe.

Adapun tempat yang kami kunjungi dalam waktu singkat di Manchester adalah sebagai berikut :

1. Albert Square

Albert Square adalah alun-alun kota berisi sejumlah bangunan, patung dan monumen bersejarah. Diantaranya Town Hall, Albert Memorial, Abbey National, Carlton House dan lain sebagainya. Bangunan kontemporer berisi toko, restoran dan pusat perbelanjaan juga ikut meramaikan Albert Square.

Siapkan saja kaki yang kuat dan stamina yang prima untuk menjelajahi semua tempat di Albert Square. Kalau saya sih tidak sanggup. Secara, jalan sendiri saja lelahnya minta ampun. Apalagi bawa dua bocah begini. Makanya saya hanya memilih beberapa tempat yang secara lokasi saling berdekatan.

2. Manchester Town Hall

Town Hall berada di kawasan Albert Square dan menjadi salah satu landmark Kota Manchester. Bangunan ini didesain oleh Alfred Waterhouse pada abad ke 13 dengan arsitektur neo-gothic bergaya victoria. Yang paling khas dari Town Hall adalah jam menara yang menjulang setinggi 85 meter yang sepintas nampak seperti Big Ben di London.

Menurut wikipedia, bangunan ini berisi kantor dan aula besar yang dihiasi dengan mural tentang sejarah kota. Kami sendiri tidak bisa masuk karena bangunannya sedang direnovasi dan akan dibuka kembali pada tahun 2024. Omg! Lamaaa juga ya!

Meskipun tidak kesampaian masuk tapi kami cukup puas bermain di pelataran. Kejar-kejaran, makan bekal lunch dan duduk santai mengamati orang-orang sekitar.

3. Manchester Cenotaph

Manchester Cenotaph adalah memorial perang dunia pertama di depan balai kota yang dirancang oleh Sir Edwin Lutyens untuk St. Peter’s Square. Tugu peringatan ini terdiri dari sebuah sentral cenotaph dan batu Remembrance yang diapit oleh obelisk kembar.

Saya mengistirahatkan kaki di sini. Duduk selonjoran di sebuah batu menghadap halte tram. Sedangkan Yui dan Ochy asyik sekali memberi makan burung merpati yang menghampiri mereka. Kalau Kak Idu kemana? Oh dia sibuk membeli tiket kereta ke Old Trafford untuk menyambangi kandang The Red Devils.

4. St. Peter’s Square

Alun-alun lain di pusat kota Manchester adalah St. Peter’s Square. Alun-alun ini menggabungkan peace garden sekaligus menjadi
Tempat perhentian tram Manchester Cenotaph dan Strol Metrolink Square.

Di sini kami sempat kebingungan arah menuju Old Trafford karena ada dua halte yang saling berhadapan yang keduanya menunjukkan rute jurusan tram ke Old Trafford di papan display. Masalahnya tram yang satunya ke kanan, satunya lagi berjalan ke kiri. Akhirnya saya mencegat seorang nenek usia kurleb 60 tahun yang kelihatannya warga lokal (soalnya di area ini para turis tumpah ruah). Dia menjelaskan dengan lengkap dan antusias tapi entah mengapa saya tidak mengerti. Saya justru larut dalam aksennya yang sangat British dan berkhayal logat bicaraku bisa seperti dia. Liat saya kebingungan, eh dia malah ngajakin saya ke halte lho! Duh baik banget sih nek! Terharu.

5. Old Trafford

Hmm.. nantang ya bro? Hahaha

Setelah turun dari stasiun terakhir, rupanya masih harus jalan kaki sekitar 1.2 km untuk sampai di stadion Manchester United. Berbekal gmaps, kami menyusuri jalan kota. Melewati pemukiman, gedung perkantoran, kanal dan menyebrangi jalan berkali-kali hingga ketemu rombongan turis Asia yang kelihatannya juga menuju ke tempat yang sama. Kami berusaha mengejar rombongan asal Cina itu tapi kok ya gak keburu. Jalan mereka cepaaaattt banget! Akhirnya kami jalan sendiri lagi dan harap-harap cemas saat menyebrang karena jalannya sangat lebar sementara jeda lampu pejalan kakinya sebentar sekali. Semakin terasa sebentar karena harus dilalui dengan dorong-dorong stroller yang rodanya suka nyangkut di peving block batas aspal dan pedestrian. Kan gak lucu kalau ketabrak pas ditengah-tengah jalan.

Pulang dari sini kami naik black cab saja yang mangkal tepat di depan stadion. Sudah capek banget soalnya. Gak kuat jalan kaki sampai ke stasiun kereta tadi. Lagian kalau naik di sana, turunnya ya di St. Peter’s Square sementara kami harus ke stasiun piccadilly karena akan melanjutkan perjalanan ke Edinburgh, Scotland.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s