UK Trip 2018 : Day 4 – London To Liverpool

Menuju Liverpool

Liverpool dapat ditempuh dengan berbagai moda transportasi dari London. Kereta, bus ataupun rideshare. Waktu tempuh paling cepat adalah dengan kereta Virgin West Coast yang menghabiskan sekitar 2 jam di perjalanan. Adapun kereta reguler Chiltern Railways selama 3.5 jam dan bus selama 6 jam. Sedangkan dengan mobil waktu tempuhnya mencapai 4 jam.

Liberpool City Centre

Pilihan kami tentu saja Virgin West Coast. Kereta ini mengantarkan kami dari stasiun London Euston hingga ke Liverpool Lime Street station. Meskipun harga tiketnya paling mahal dari semua, tapi lebih hemat waktu. Apalagi kalau traveling bareng anak balita yang susah dijaga moodnya saat berada di transportasi umum, pasti pengennya yang cepat-cepat sampai. Mungkin akan berbeda jika kami hanya traveling berdua. Sebagai penganut travel on budget, bisa dipastikan pilihannya naik bus karena harga tiketnya yang paling murah.

Stasiun London Euston

Tiket kereta ini saya beli sejak masih di Indonesia sebulan sebelum keberangkatan. Iseng-iseng cek harganya on the date, omaigaaattt sudah 3 kali lipat. Untuk anak-anak di bawah 5 tahun masih free tapi jika ingin booking kursi untuk mereka, bisa memasukkan usia 6 tahun ke atas untuk mengantisipasi memangku atau menggendong saat kereta penuh penumpang. Kami sendiri hanya membeli 2 tiket dewasa dengan kursi dekat jendela yang dilengkapi dengan meja. Berdasarkan pengalaman kami di Eropa dulu, anak-anak selalu kebagian kursi. Ternyata kali ini tidak berlaku! Keretanya penuh sehingga saya harus memangku Yui selama perjalanan dan Kak Idu berbagi kursi dengan Ochy. Dua orang penumpang lainnya yang satu meja dengan kami adalah warga Inggris tulen yang tinggal di London. Seorang nenek dan cucu lelaki yang akan berkunjung ke world museum melihat pameran Terracota yang langsung didatangkan dari China. Kami berbincang banyak hal selama di perjalanan dan berpisah di Liverpool Lime Street Station.

Menuju Apartemen

Kami disambut hujan dan suhu dingin begitu keluar stasiun Liverpool. Buru-buru saya memakaikan jaket anak-anak. Apartemen yang kami booking melalui air bnb sebenarnya sangat dekat dari sini. Berdasarkan infonya, lokasinya di London Road sangatlah strategis. Berada di tengah-tengah pusat kota sehingga kemana-mana bisa ditempuh dengan berjalan kaki. World Museum, Central Library, Imperium, Cinema, dan berbagai destinasi wisata terkenal di Liverpool sangat dekat dari sana. Gerai makanan halalpun berderet sepanjang jalan di depan apartemen. Sedangkan dari stasiun Liverpool ini katanya kurang dari lima menit berjalan kaki. Mudah saja sih sebenarnya. Tapi karena hujan dan membawa koper besar plus 2 stroller, agak sulit melalui jalanan yang menanjak.

Liverpool Lime Street Station
Liverpool City Centre

Kamipun memesan salah satu taksi (black cab) yang mangkal tepat di depan stasiun. Sayangnya tidak seorangpun yang mau mengangkut kami. Alasannya sama : terlalu dekat. Bahkan ketika Kak Idu menawari harga tiga kali lipat, tetap tidak ada yang mau mengangkut. Naik lagi lima kali lipat juga tidak ada yang mau. Kami menawari berapa harga yang mereka inginkan (padahal ini cuma pancingan saja. Kalaupun ada yang meminta 50 pound, misalnya. Tentu kami juga masih waras untuk menolak). Dan surprise, tetap tidak ada seorangpun yang mau pemirsaaahhh! Pendirian mereka teguh pada satu kalimat : Sorry, I Can’t. Please just walk this way and you’ll find your flat.Β It’s so near from here. Hmm… Sopir taksi di Inggris itu memang aneh. Ini momen penolakan kedua yang kami temui. Sebelumnya ketika masih di London, seorang sopir black cab menolak kami karena arah jalan yang kami tuju katanya macet. Padahal mbok ya, ini taksinya pakai argo kok. Harusnya senang kan, karena argonya bisa melompat-lompat girang menghadapi kemacetan sehingga penumpang kere seperti kami bisa bangkrut mendadak. But yeah, their main purpose is not about money. Setidaknya begitu yang bisa saya simpulkan selama beberapa kali naik black cab di Inggris.

Di atas black cab

Tidak ada taksi yang mau mengangkut kami. Tidak juga ada uber yang berhasil dipesan. Di sisi lain, Stacey, pemilik apartemen mendesak Kak Idu untuk segera datang mengambil kunci karena ia akan pergi ke tempat lain. Akhirnya Kak Idu putuskan jalan kaki sendirian ke apartemen menembus hujan sementara saya dan anak-anak menunggunya di stasiun. Sempat khawatir sebelumnya. Karena saya lupa mengambil paspor dan uang untuk berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk : terpisah. Suhu di luar stasiun juga dingiiinn sekali. Yui bibirnya sampai biru dan Ochy menggigil karena tadi sempat basah-basahan ikut ke pangkalan taksi. Dengan gerakan cepat, saya membongkar koper dan mengambil baju ganti anak-anak karena yang saya siapkan di ransel ternyata kurang cocok menghadapi suhu yang tiba-tiba drop menyentuh angka 7 derajat.

Liverpool City Centre
Pengen masuk ke sini tapi takut kalap. Takut digodain toko -toko yang lagi diskon besar-besaran.

Saya semakin gelisah ketika Kak Idu tak kunjung menampakkan diri sementara saya dan anak-anak melawan hawa dingin di luar stasiun. Karena sudah tidak tahan, akhirnya saya meninggalkan koper dan masuk ke dalam stasiun menghangatkan diri. Instingku cukup kuat untuk meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Kalaupun Kak Idu nantinya hanya menemukan koper saat ia kembali, saya sangat yakin ia akan ke dalam stasiun mencari kami. Meskipun saya membawa Hp tapi tidak bisa berfungsi maksimal karena hanya bermodal wifi gratisan. Kalau ketemu wifi (garis bawahi : yang gratis) ya berfungsi, kalau tidak ya ikutan ‘mati’alias gak bisa dipakai komunikasi. Beda dengan Kak Idu yang memang dibekali dengan paket telepon dan internetan kartu Halo yang kami aktifkan begitu mendarat di Heathrow. Jadi selama tidak bisa berkomunikasi dengan telepon genggam, kami komunikasinya pakai telepon hati. Wkwkwk. Lalu bagaimana dengan kopernya? Apa tidak takut dibawa kabur orang lain seperti yang sering kejadian di film-film? Saya sudah pasrah sih. Daripada anak-anak kedinginan di luar. Mau bawa sekaligus kan juga tidak bisa. Secara mendorong dua stroller bersamaan saja susah. Apalagi mau ditambah koper segede gaban. Dan nggak mungkin juga kan saya bawa anak-anak terlebih dahulu ke dalam baru kembali lagi buat ngangkut koper. Ntar kalau saya kembali terus anak-anakku yang sudah tidak ada karena dibawa kabur orang kan lebih sereeemm.

Liverpool Lime Street Station
Liverpool City Centre

Alhamdulillah semuanya berjalan baik. Kak Idu akhirnya datang dan langsung mencari kami di dalam. Pas keluarpun hujan juga sudah berhenti. Kamipun berjalan kaki ke apartemen dengan komposisi saya menggendong adek dan mendorong stroller Ochy sementara Kak Idu menggeret koper dengan ransel di punggung dan satu tangannya menenteng stroller yang dilipat. Bersama-sama kami menapaki jalan mendaki, melewati blok restoran Turki dan toko halal. Tiba di sini, jalanan sudah datar dan apartemen kamipun sudah terlihat. Yang paling membahagiakan, Tesco berdiri persis di sampingnya. Dalam hati saya mafhum. Pantas saja tidak ada taksi yang mau mengangkut kami. Ternyata memang dekaaatt banget.

View dari jendela apartemen

Tiba di apartemen, ganti baju, masak, makan lalu menidurkan anak-anak. Kak Idu juga memilih terlelap bersama anak-anak. Saya sendiri meminta izin berjalan-jalan di sekitar apartemen sekalian berbelanja ke Tesco untuk membeli beras, buah, sayur dan susu beserta beberapa keperluan lainnya. Saat musim panas begini, waktu siang akan lebih panjang dari malam. Sehingga langit masih terang meskipun sudah pukul delapan malam.

Pulaaassss
Liverpool City Centre

Saya menikmati indahnya Kota Liverpool sendirian. Berjalan santai dari setiap blok ke blok. Mengabadikan gambar demi gambar dalam bidikan kamera. Bersandar di kursi taman memandangi bunga lavender dan bangunan-bangunan bersejerah di sekelilingnya. Mencicipi aroma makanan yang lezat dari restoran dan kedai pinggir jalan. Ketika melewati area pusat perbelanjaan, sempat tergoda untuk masuk. Beberapa toko branded langsung menyita perhatian karena tulisan sale besar-besaran di pintu kaca. Cek dicek eh harganya beneran murah jauh dibandingkan di Indonesia. Tapi tetap saja, saya tidak belanja. Gak ada suami kurang asyik. Soalnya Kak Idu tuh paling seru kalau belanja bareng. Bisa dimintai pendapatnya ini bagus atau tidak. Ini cocok atau tidak. Hehehe.

Liverpool
Bunga Lavender. Duhh pengen bawa pulang nanam di rumah. Hehehe
Liverpool City Centre

Puas jalan sendiri sekitar 2 jam saya balik lagi ke apartemen. Tiba di sana, ternyata Ochy sudah bangun sementara Yui dan Kak Idu masih terlelap. Sayapun mengajak Ochy ke bawah, jajan dan belanja bahan makanan di Tesco.

Hasil belanja di Tesco

7 comments

  1. Halo mba, salam kenal , nanya dong wkt di Edinburgh nginep nya di mana ? Boleh share nama apartemen nya? Thank you

    Like

  2. Hi mbak Ainun salam kenal sy isyuliani rencana mau jalan ke london dan mau nginep di liverpool utk nonton pertandingan liverpool fc mei 2020 mohon info dan sarannya mks

    Like

    • Halo mbak Isyuliani. Salam kenal juga.

      Info dan saran apa yang dibutuhkan mbak? Boleh lebih spesifik? Soalnya saya juga bingung mau ngasih saran apa mbak πŸ˜…

      Like

  3. Hi Mbak Ainun..salam kenal ya mbak πŸ™πŸ˜Š mohon info nama apartemen nya dong mbak yg di liverpool via airbnb..makasih byk mbak sblm nya πŸ™πŸ˜Š

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s