UK Trip 2018 : Day 3 – Platform 9 3/4 dan Tower Bridge

Hari ketiga kami di London dilalui dengan sangat santai. Sarapan – jemur baju – tiduran – mandi – ngeteh di teras – ngobrol dengan tetangga – bermain di playground – ke supermarket – keliling kompleks. Rutinitas yang sama seperti di rumah sendiri. Inilah salah satu alasan mengapa kami lebih senang jalan sendiri ketimbang ikut tour dengan travel agent. Bagi kami, tak mengapa tak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Apalagi cuma sekedar datang, foto lalu pulang dan membagikannya di media sosial, dapat likes and comments, selesai. Well, itu mungkin gaya traveling kami beberapa tahun yang lalu. Seiring dengan seringnya kami bepergian, gaya travelingnyapun bergeser. Tidak lagi untuk mengejar itinerary dan checklist objek wisata. Lompat sana lari sini kejar sono demi sebuah tanda centang telah berkunjung ke tempat X. Sekarang kami lebih memilih menikmati. Menikmati atmosfer kota London sebagai warga lokal.

King Cross Station

Kami meninggalkan apartemen setelah sholat Ashar. Hari ini kami akan ke King Cross Station, stasiun yang sama sejak awal kedatangan kami di London. Stasiun ini berhadapan langsung dengan St. Pancras yang merupakan stasiun internasional penghubung London dengan kota-kota besar lainnya di Eropa. Selain untuk mencetak tiket kereta yang telah kami beli sejak masih di Indonesia dulu, kedatangan kami ke King Cross ini juga dilatarbelakangi tujuan ke peron 9 3/4. Kalau Anda penggemar Harry Potter, tentu tidak asing dengan platform yang menuju Hogwarts ini.

King Cross Station and St.Pancras
Suasana di dalam King Cross Station

Ada kejadian kurang menyenangkan ketika kami sedang mengantre di konter pencetakan tiket. Saat itu saya dan anak-anak yang keduanya berada di stroller masing-masing, berkeliling keluar masuk konter. Dari bilik mesin-mesin khusus untuk yang mau cetak sendiri (self service), sampai di ujung koridor yang dilayani dengan beberapa petugas. Niatnya sebenarnya untuk membunuh kebosanan anak-anak menunggu Kak Idu yang berhadapan dengan seorang petugas untuk mencetak tiket-tiket kami. Daripada mereka melihat pemandangan itu-itu saja, ya saya ajaklah mereka berkeliling. Ketika saya akan keluar konter, seorang pria menegur saya dengan salam. Dari penampilannya kutaksir usianya mungkin 40-an tahun. Dia berbahasa Arab dan saya sama sekali tidak mengerti selain kata untuk menjawab salamnya dengan wa’alaikumussalam. Melihat raut muka saya yang kebingungan, dia akhirnya berbahasa Inggris. Menurut bapak itu, dia kehilangan tiketnya. Dia telah melapor ke petugas tapi katanya dia tidak mendapatkan tiket pengganti. Sebagai solusinya, bapak itu disuruh membeli kembali tiket yang baru. Nah, katanya dia sudah tidak punya uang lagi. Karena itu dia meminta bantuan saya. Dari sekian orang yang ada di konter tersebut, bapak itu memilihku karena saya berhijab yang berarti saudara seiman. Dia membacakan saya beberapa hadis tentang membantu sesama juga beberapa kali mengakhiri kalimatnya dengan wallahi untuk menunjukkan dirinya bersungguh-sungguh.

Konter tiket
Di depan konter tiket

Sebenarnya tidak banyak yang dia minta. Cuma 10 pound saja. Tapi masalahnya saya tidak memegang uang sama sekali. Jangankan 10 pound, 1 penny saja saya tidak punya. Semua uang dibawa Kak Idu. Saya sangat bimbang. Antara ingin menolong bapak itu atau mempertaruhkan hijabku menjadi tontonan orang-orang karena menerobos antrian di belakang Kak Idu hanya untuk mengambil dompet. Dan pada akhirnya, saya hanya menyampaikan kalimat lirih , I’m so sorry brother. But I don’t have money. Bapak itu pun tersenyum, menangkupkan kedua tangannya di dada memberi salam lalu pergi. Sedih banget rasanya.

Ekor mataku membuntuti ke mana bapak itu pergi. Berharap setelah Kak Idu selesai, saya bisa menyusulnya. Tapi dengan banyaknya orang di stasiun ini, bapak itu segera menghilang. Celingak celinguk ke sana kemari sambil mendorong dua stroller sekaligus rupanya menjadi hal yang mencurigakan di mata petugas yang sedang berpatroli. Dia mendekatiku dan dengan sopan bertanya apakah aku tersesat? Apakah aku membutuhkan bantuan? Dengan sama sopannya saya juga menyampaikan bahwa saya hanya berkeliling agar anak-anak tidak bosan menunggu bapaknya mencetak tiket di dalam. Kupikir setelah mendengar itu dia akan segera pergi. Eh saya malah ditanya macam-macam. Mirip interogasi ringan begitu. Seperti dari mana? Mau kemana? Sama siapa? Tinggal di mana? Berapa lama di London? Mau ngapain aja? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang lebih berhak disampaikan oleh petugas imigrasi.

Ketika Kak Idu selesai, saya menyampaikan ke petugas tersebut bahwa lelaki berjaket tosca yang berjalan keluar antrian itu adalah suamiku. Kirain dengan info itu dia sudah bisa meninggalkanku. Tau-taunya dia menunggu sampai Kak Idu benar-benar hanya beberapa langkah saja dari kami. Dia pergi setelah saya meminta anak-anak memanggil papanya dan dibalas Kak Idu dengan senyum lebar. Mungkin si petugas baru percaya bahwa saya memang benar-benar dengan semua perkatannku tadi : hanya menunggu suami yang sedang mengantre mencetak tiket!

Saya sampaikan semua kejadian itu ke Kak Idu. Tanggapannya : untuk bapak yang meminta bantuan bisa jadi itu hanya salah satu modus penipuan. Jangan mudah percaya sama orang yang tidak dikenal. Apalagi minta-minta uang begitu. Untuk bapak petugas, mungkin karena wajahku mirip penculik anak-anak atau mirip teroris yang sedang kebingungan mau meledakkan bom di mana sehingga petugasnya nempel terus dan menginterogasi. Katanya sambil terkekeh mengejek yang saya balas dengan cubitan di lengannya sekuat-kuatnya.

***

Platform 9 3/4

Semua tiket kereta yang kami beli sejak masih di Indonesia kini sudah ada tiket fisiknya. Kak Idu mencetaknya di konter yang tidak jauh dari platform 9 3/4. Orang-orang sudah banyak mengantre untuk berfoto dengan trolley berisi koper dan sarang burung milik Hedwig yang setengahnya terlihat tertancap ke dalam tembok. Tua, muda, single, keluarga semuanya lebur dalam barisan mengular yang rapih. Sebagai pecinta Harry Potter, kami tentu tidak melewatkan sesi ini. Kita akan difoto oleh petugas resmi dari The Harry Potter Shop yang hasilnya bisa dicetak di toko merchandise Harry Potter di depan. Bisa juga foto sendiri dengan kamera pribadi. Saran saya sih foto saja dengan kamera sendiri. It’s free. Kalaupun bepergian sendiri, bolehlah meminta bantuan orang yang mengantre di belakangmu untuk di fotokan. Sebagai balasannya, nanti kamu fotokan dia balik dengan kameranya sendiri. Ketimbang difotoin sama petugas merchandise. Sudahlah hasilnya kurang ok, harga cetaknya muahhaaal yaitu £20 atau sekitar 400 ribu rupiah per foto ukuran paling standar mereka : 10 R.

Antrian pertama untuk foto di platform 9 3/4
Antrian kedua untuk berfoto di platform 9 3/4

Posisi titik foto ini berujung pada sebuah pintu toko yang menjual merchandise resmi Harry Potter. Saya sendiri karena kebingungan jadi langsung iya saja saat ditodong petugas untuk mengambil hasil cetakan fotonya. Saya pikir, ini wajib diambil. Jadi sayapun ok saja untuk mencetak 3 foto sekaligus : Foto keluarga lengkap, saya bersama anak-anak dan foto Kak Idu seorang diri. Lumayan dapat diskon 10 pound jika mencetak 3 foto sekaligus. Setelah saya tiba diantrian kasir, saya melihat beberapa orang melewati petugas cetak foto cuek saja bahkan ada yang menolak. Ya ampuuunn tau gitu kan, saya gak perlu mencetak foto-foto ini. Toh di kamera kami juga sudah ada, difotoin sama gadis remaja bule yang senang banget godain Yui. Terus gimana dong? Mau dikembalikan, udah gak mungkin. Keluarin duit sejuta untuk foto-foto ini juga kok rasanya ogah banget ya. Lemeesss.

Calon murid Gryfindor

Saya jadi ingat peristiwa di konter tiket tadi. Ketika seorang bapak meminta bantuan 10 pound tapi saya tidak memberinya karena memang tidak mengantongi satu penny-pun meski sebenarnya saya punya pilihan menerobos antrean untuk mengambil dompet di Kak Idu. Tapi saya tidak melakukannya. Sekarang saya malah ‘dipaksa’ keadaan mengeluarkan 50 pound. Masih mau ragu-ragu sedekah?? Maki saya dalam hati.

Kejadian itu membuat saya kehilangan gairah untuk membeli barang dagangan lainnya. Padahal jatuh cinta banget sama mug gryfindor. Cuma pas liat harganya ya Allaahh rasanya pengen cepat-cepat keluar dari antrian kasir ini. Gak sanggup. Hahahaha. Di way out gate sudah ada Kak Idu dan anak-anak yang menunggu. Dia heran kok saya hanya membawa cetakan foto, tidak membeli apa-apa. Padahal dia tau saya ini Potter Head banget. Saya cuma geleng kepala. Gak sanggup berkata-kata. Akhirnya Kak Idu gantian masuk dan saya jagain anak-anak. Keluar-keluar, dia sudah menenteng tas belanja. Saya intip isinya seperti baju kaos.

Taman di depan King Cross Station

Keluar dari kerumunan orang-orang di The Harry Potter Shop, kami menuju taman di depan King Cross station. Di sana kami membuka bekal dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Tower Bridge.

Tower Bridge

Sangat mudah menuju Tower Bridge dari King Cross station. Cukup naik underground kurang lebih 12 menit lalu ikuti petunjuk berjalan kaki yang tertera di signboard ketika tiba di stasiun tujuan. Untuk yang membawa stroller seperti kami, siap-siaplah menggotongnya di tangga karena tidak ada eskalator apalagi lift. Selanjutnya akan tiba di persimpangan jalan yang berhadapan dengan sebuah castle. Dari sini harus lanjut lagi berjalan kaki sejauh 300 meter untuk tiba di jembatan ikonik tersebut.

Setelah signboard ini, hanya ada tangga sebagai akses pertama menuju Tower Bridge.
Castle di depan persimpangan jalan

Kedua arah di persimpangan tadi semuanya menuju Tower Bridge. Hanya saja untuk menghasilkan foto dengan latar belakang jembatan dan tower yang keren sangat dipengaruhi dari keputusan arah yang kita ambil. Kami sendiri awalnya mengambil arah ke kanan. Tapi sudah berjalan beberapa meter, kami diguyur hujan. Akhirnya kembali lagi karena kami tidak membawa payung dan mantel. Berbekal kantong kresek untuk melindungi kepalanya, Kak Idu berinisiatif melihat jembatan dari sisi kanan ini. Balik-balik, eh dia sudah basah sebagian badan. Kak Idu lalu menyarankan mengambil arah yang kiri saja. Karena dari arah kiri, cenderung lebih dekat berdasarkan hasil pengamatannya.

Di depan kereta underground. Kiddos sudah terlelap semua di stroller. Hahaha

Kamipun menerobos malam dengan sisa-sisa hujan yang menggantung di kaki langit. Setengah perjalanan, ternyata hujan menderas lagi. Syukurnya ada terowongan untuk berlindung. Bersama pengunjung lainnya, kami menunggu hujan reda di terowongan ini. Hujan di London memang datang dan pergi dalam kurun waktu yang singkat. Orang-orang biasa menyebutnya hujan lewat. Tapi setelah menunggu 25 menit, kok tidak ada tanda-tanda mereda sementara malam semakin pekat dan anak-anak mengantuk berat. Kami putuskan pulang. Hanya sempat melihat Tower Bridge dari dekat tapi tidak  berhasil mengabadikan dalam satu potretpun. Hujannya awet.

6 comments

    • Hai Jessica, terimakasih ya sudah berkunjung ke sini. Kalau toilet sebenarnya banyak dan tersebar di beberapa tempat umum. Hanya saja semuanya berbayar, tidak ada yang gratis 😁. Sekali masuk sekitar 1 pound atau setara dgn 17 ribu rupiah 😂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s