UK Trip 2018 : Day 2 – Wisata Mainstream London 

Jam menunjukkan pukul 3.40 dini hari saat Adzan berkumandang di HP melalui aplikasi muslim pro. Seumur-umur ini sholat subuh tercepat yang pernah saya lakukan. Setelah sholat lanjut memasak untuk sarapan sekaligus menyiapkan bekal dan barang bawaan untuk jalan-jalan nanti. Bahan masakan ini saya bawa dari Indonesia. Tidak banyak, karena memang hanya dikhususkan untuk hari-hari pertama kami di London untuk mengantisipasi kelaparan andai belum sempat belanja ransum di supermarket lokal misalnya. Sedangkan sebagian lainnya memang sudah disiapkan oleh host kami di dapur seperti telur, sereal, susu, aneka bumbu, butter, minyak goreng, sayuran dan buah.
Apartemen kami di Camden Town sangat mini tapi terasa homey banget. Atmosfer sekitar kompleks juga terasa sangat nyaman. Cocok untuk keluarga traveller dengan balita seperti kami. Di depan flat ada taman bermain dan tak jauh dari sana ada kanal yang terhubung ke Regent’s Park. Supermarket 7/11 juga dekat dari sini. Hanya sekitar 2 blok saja.

Di sekitar flat kami di Camden Town

Setelah semua sarapan, saya dan Kak Idu seperti biasa berbagi tugas. Saya mencuci piring dan merapikan kamar sedangkan dia memandikan anak-anak hingga mereka rapih dan siap diajak jalan. Hari ini kami akan ke pusat kota London mengunjungi Big Ben, Westminster Abbey dan London Eye. Jika masih sempat, rencananya kami juga akan ke St. James Park dan Buckingham Palace yang berada di lokasi yang sama. Menuju semua destinasi itu sangat mudah dari sini dengan bus ataupun underground alias kereta bawah tanah.

Kami meninggalkan flat setelah menjamak sholat dzuhur dan ashar karena Kak Idu tiba-tiba demam dan lemas. Padahal sejak semalam sudah direncanakan akan keluar selambat-lambatnya pukul 8 pagi. Saya putuskan Kak Idu istirahat saja dulu setelah dia meminum tablet sanmol yang tadi diberikan oleh co-host kami, Allycat. Sementara dia tidur di kamar, saya dan anak-anak main di sekitar flat. Tidak pernah terpikirkan bahwa demamnya ini ternyata karena terkena penyakit malaria. Kami mengetahui hal ini setelah kami berada di Liverpool beberapa hari kemudian. Itupun saat di rawat di rumah sakit.

Flat / apartemen kami di Camden Town

Cara menuju Big Ben dari Camden Town

Dari flat kami berjalan kaki sekitar 200 meter hingga tiba di stasiun Camden Town. Lalu naik underground menuju Waterloo selama 13 menit. Kami harus melipat stroller karena tidak ada lift di stasiun. Sementara eskalatornya sangat curam dan tentu tidak stoller friendly. Saat itu suasana stasiun sangat ramai. Tidak heran sih, karena di kota super sibuk seperti London pemandangan ini adalah biasa. Saya justru kehilangan kata-kata ketika seseorang menawarkan diri membantu kami membawakan dua stroller ke bawah sehingga Kak Idu bisa memegang Ochy. Sedangkan Yui saya gendong sambil kak Idu juga memegangiku. Agak wow saja karena dibayanganku, kota super sibuk itu biasanya identik dengan orang-orang yang individualis.

Wajib banget lho foto dengan red box telepon ini. Banyak tersebar di mana-mana kok.

Dari Waterloo kita bisa memilih naik underground (2 menit) ke stasiun Westminster bisa juga dengan berjalan kaki. Dari sini kita sudah bisa melihat Big Ben, Westminster Abbey sekaligus bianglala raksasa bernama London Eye. Lalu lalang bus HoHo dan double decker dengan warna merah menyala menjadi pemandangan yang sangat atraktif. Saya sendiri mampir dulu di Tesco (supermarket seperti Alfa Mart atau Indomaret kalau di Indonesia) membeli beberapa camilan sebelum melangkah lebih jauh.

Bus HoHo dan Double Decker
Bus HoHo
Bus HoHo dengan latar Westminster Abbey dan Big Ben
Ramai pengunjung

Sebagai tujuan wisata nomor satu dunia, wajar banget area ini tumpah ruah dengan manusia. Di stasiun, di koridor, di jalan, orang-orang saling berdesakan. Kami memutuskan beristirahat dulu di depan London Eye, di sebuah kursi panjang yang menghadap sungai Thames. Hasil belanjaan saya di Tesco tadi nyaris habis saking lamanya kami duduk di sini. Bukan karena terpana dengan keindahan westminster ataupun karena meredakan rasa kecewa karena Big Ben yang sedang direnovasi. Tapi karena sakit kepala Kak Idu kambuh lagi yang disertai dengan demam tinggi.

Setelah merasa baikan, kamipun berjalan ke seberang untuk melihat sisi westminster dari depan. Di tengah perjalanan, kami mampir di sebuah toko souvenir membeli beberapa potong baju kaos, magnet kulkas dan pajangan untuk oleh-oleh. Dan betapa surprisenya karena si penjual bisa berbahasa Indonesia bahkan bahasa Makassar. “Murah saja. Ini cuma sepuluh.” Begitu katanya sambil menyodorkan gantungan baju kaos dan bertanya lagi kami dari daerah mana di Indonesia. Ketika kami sampaikan dari Makassar, eh dianya teriak-teriak : “Sampulo.. sampulo sajalah.” Kami ngakak so hard dan akhirnya jadi deh beli di toko tersebut. Padahal di depan sana dan diseberang juga masih ada beberapa toko souvenir. Keliatan banget ya kalau orang-orang Indonesia itu doyan belanja. Sampai-sampai penjual nun jauh di Inggris beginipun bisa mengucapkan beberapa kata dalam Bahasa Indonesia.

Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah bertansaksi di toko souvenir tersebut. Awalnya pengen naik HoHo ataupun double decker buat keliling-keliling ke semua tempat the most visited in London tapi anak-anak sedang rempong jadinya kami mampir ke taman yang ternyata taman rumah sakit. Anak-anak girang sekali kejar-kejaran merpati, lari sana sini, manjat, guling-gulingan, baca buku. Puas main pokoknya. Saya juga bisa meluruskan kaki dan badan di rumput. Selonjoran bahkan tiduran. Sedangkan Kak Idu tertidur pulas di kursi panjang tak jauh dari kami. Ketika langit sudah memerah dan sebentar lagi masuk waktu maghrib, kamipun memutuskan pulang ke apartemen. Saya melirik jam, sudah setengah sembilan malam. Ketika musim panas begini, waktu siang memang menjadi lebih panjang dari waktu malam. Bayangin saja, sholat subuh sebelum jam 4 pagi dan magrib nanti jam setengah sembilan begini.

Saya pastikan kembali tidak ada barang yang tertinggal setelah memunguti semua barang yang tadi saya tumplek ke rumput. Kamera, hp, go pro, buku, kotak bekal, saya rapikan kembali ke dalam anello. Sedangkan semua sampah yang kami hasilkan seperti bungkus makanan, kemasan snack, botol bekas, tissue, kotak buah, jerigen susu saya kumpulkan ke dalam kantong plastik lalu membuangnya ke tong. Ketika berdiri tegak dari posisi saya saat ini nampak view yang luar biasa indahnya. Saya baru sadar kalau dari spot inilah gambar-gambar yang beredar tentang London di instagram rupanya diambil dari sini. Keren sekali memang. Karena dalam satu bidikan kamera dapat menangkap landskap istana, jam raksasa dan jembatan sekaligus. Jika beruntung, kapal ferry yang melintas akan semakin melengkapi keindahannya. Langit jingga yang kemerahan menjadi bonus berlipat-lipat membingkai gambar tersebut.

Menjelang maghrib
So instagramable right?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s