Hallstatt, Negeri Dongeng di Dunia Nyata.

Landscape Hallstatt

Jika dibandingkan dengan ibukota Austria, saya justru lebih dulu mendengar nama Hallstatt daripada Viena. Saat itu saya masih sekolah dasar kelas lima dan mendapat tugas menggambar dari guru. Karena saya payah dalam hal gambar menggambar, saya tidak punya ide apapun selain meniru gambar pemandangan di kalender dengan kumpulan huruf kecil membentuk tulisan Hallstatt di pojok kanannya. Ehm…wait, bukan meniru. Tepatnya sih menjiplak. Huhuhu. Dan taulah ya, buku gambar anak SD tidak selebar kalender dinding, jadinya yang dijiplak cuma setengahnya saja. Ah… Sdahlah! Lupakan saja cerita memalukan itu. Mari kita kembali ke Hallstatt.

Jadi Hallstatt ini merupakan sebuah desa di Austria yang menyajikan pemandangan alam luar biasa indah. Terletak di depan danau dan dikelilingi dengan pegunungan berselimut salju abadi. Benar-benar berasa seperti di negeri dongeng.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

Karena keindahan desanya inilah, banyak traveller yang melakukan perjalanan ke sana. Bahkan konon kabarnya, orang-orang kaya Eropa, khususnya Austria menghabiskan liburan musim panasnya di tempat ini.

Kami sendiri mengunjungi Hallstatt pada musim gugur. Keindahannya berlipat-lipat karena warna daun pepohonan yang menguning, orange dan kemerahan. Suasana pedesaan yang tenang membuat saya berangan-angan betapa nikmatnya menghabiskan masa tua di tempat ini.

Sejarah Hallstatt

Dalam bahasa Celltic, Hall berarti garam dan Hallstatt bermakna lokasi garam. Konon Hallstatt adalah daerah penghasil garam pertama di dunia. Jadi dulunya orang-orang makan tanpa garam. Dan setelah ditemukannya garam di Hallstatt, makanan terasa lebih nikmat saat dicampurkan. Harga garam pada saat itu melambung, jauh melampaui harga emas. Karena itu, garam disebut white gold di zamannya dan diyakini sebagai komoditas yang membuat Austria menjadi negara yang kaya dan makmur.

Museum of history – Hallstatt

Bukti sejarah Hallstatt bermula dari ditemukannya mayat seorang pria yang membeku di dalam batu garam. Mayat ini dipercaya sebagai pekerja tambang yang menjadi korban kecelakaan saat bekerja sekitar tahun 1.000 SM. Penemuan ini kemudian melahirkan kisah “Men in Salt” yang kini menjadi objek wisata dalam tur Saltmine Hallstatt.

Selain “Men in Salt”, sejarah aktivitas pertambangan juga ditunjukkan potongan-potongan tanduk rusa pada 1838 yang dipakai untuk mengeruk garam. Potongan tersebut adalah bukti keberadaan masyarakat zaman neolitikum.

Cara menuju Hallstaat

Kami menuju Hallstatt dari Wien atau Vienna. Perjalanan dari Wien Hbf ke Hallstatt Hbf dapat ditempuh selama 4 jam dengan satu kali transfer kereta di Attnang-Pucheim. Pastikan tetap melek ya karena pemandangan di luar jendela luar biasa indahnya. Fasilitas di kereta juga sangat nyaman. Ada meja, tempat tas, gantungan jaket, colokan listrik dan heiii… wifi gratis! Ada dua perusahaan kereta Austria yaitu oebb dan westbahn. Oebb adalah kereta nasional yang beroperasi di seluruh negeri sedangkan westbahn adalah perusahaan swasta yang hanya melayani wilayah tertentu. Kami naik kereta oebb dengan fasilitas seperti yang saya sebutkan di atas.

Halte bus, Hallstatt
Perhatikan jadwalnya ya. Karena jadwal bus tiap 1 jam sekali. Kalau telat, ya nunggu sejam berikutnya.

Jika tujuannya hanya ke Hallstaat saja, maka turunlah di stasiun utama yaitu Hallstatt Hbf . Untuk menuju desanya bisa ditempuh dengan naik ferry, bus ataupun berjalan kaki. Jika ingin menyusuri keindahan danau hallstattersee, naik ferry adalah yang terbaik. Bisa ditempuh selama 15 menit perjalanan dengan membayar €8 per orang dewasa. Harga tersebut sudah pergi-pulang.  Sedangkan tarif bus lebih murah yaitu €2 per orang dewasa dengan lama perjalanan kurang lebih 10 menit. Kalau mau lebih hemat sambil bakar kalori, boleh juga berjalan kaki. Lama perjalanan kurang lebih 30 menit dengan pemandangan pedesaan yang spektakuler. Keunggulannya berjalan kaki, kita bisa berhenti kapanpun jika ingin berfoto ataupun menikmati spot tertentu. 

Menginap di mana?

Ketika mencari penginapan di Hallstatt, saya tidak menemukan harga yang cocok untuk kantong kami (2 dewasa, 1 anak dan 1 bayi). Rata-rata harganya mulai 3 juta-an per malam. Padahal saya sudah searching sejak 2 bulan sebelum berangkat setelah mengantongi visa schengen. Harga tersebut terlalu mahal bagi kami. Apalagi akan menghabiskan 3 malam di sana. Bisa-bisa gak makan tuh! Huhuhuhu. Kabar gembiranya, anda yang berangkat sendiri atau hanya berdua dengan pasangan tersedia banyak hotel dengan harga bersahabat. Tapi untuk keluarga, rata-rata harganya segitu di musim gugur karena penginapan di Eropa sebagian besar memang membebankan biaya tambahan untuk anak-anak. Makanya kami tidak menginap di Hallstatt tapi di Obertraun, desa tetangga. Harga permalam yang kami dapat di sana sekitar 2.3 juta per malam jika di rupiahkan. Nama hotelnya Seehotel am Hallstattersee, hotel yang sama ditempati oleh mbak vicky (www.jejakvicky.com) saat ia berkunjung ke Hallstatt bersama suami dan mertuanya di musim semi. View dari hotel ini luar biasa indah. Kamar kami dilengkapi balkon yang langsung menghadap kolam renang dengan deretan pegunungan berselaput es di sekitarnya. Backyardnya apalagi! Bersisian langsung dengan danau Hallstattersee dilengkapi lapangan bermain yang luassss dengan aneka permainan termasuk buku bacaan dan perlengkapan untuk barbaque. Ochy puas lari-lari, lompat ke sana kemari, jungkat jungkit, perosotan. Asyik banget buat liburan keluarga. Keren habis pokoknya.

Hotel di Hallstatt yang tidak terjangkau kantong kami. Huhuhu
Hotel kami di Obertraun
View di backyard hotel

Ada bagusnya juga sih menginap di Obertraun ini. Kami jadi bisa merasakan suasana dua desa sekaligus. Desa Hallstatt cenderung lebih ramai karena memang pamornya lebih dikenal diantara tiga desa di wilayah Salzkammergut (Hallstatt – Obertraun – Bad Ischl). Kebanyakan wisatawan memang mengunjungi desa ini. Sedangkan Obertraun lebih tenang karena tidak terlalu banyak wisatawan di sana. Jarak tempuh dari Obertraun ke Hallstatt cukup dekat. Pak suami bahkan pulang pergi ke Hallstatt sebanyak dua kali dalam sehari yaitu saat pagi ramai-ramai bersama kami dan sore hari ia berangkat sendiri. Alhamdulillahnya lagi, selama kami di sana cuaca ceraaaahhhh meski suhu mencapai satu digit. Hujan deras mengguyur persis di hari terakhir kami di Hallstatt saat perjalanan menuju Munchen, Jerman.

Advertisements

11 comments

    • Iya Budew. Sy sll pilih yg sekamar berempat. Biasanya masukkan data 2 adults dan 2 children. Nanti ada keterangan usia anak brp. Setiap hotel biasanya punya kebijakan masing2. Ada yg free anak2 smp umur 4 th ada juga yg mesti bayar. Tp klo di Hallstatt bagus skl itu hotelnya Seehotel Am Hallstattersee. Kalau kita check in bilangiki saja kita tau hotelnya dr blogger. Banyak yg kasi review blogger asal Indonesia. Populer skl ini hotelta di negaraku. Saya dulu bilang begitu Eh na upgradeki kamarku dengan view terbaik tanpa biaya tambahan. Padahal yg sy booking kamar biasaji. Hehehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s