Discover Amsterdam

Siang itu pesawat Qatar Airways yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Schipol. Perjalanan yang sangat panjang sejak kami meninggalkan kota Makassar kemarin pagi. Saya sesungguhnya masih sangat lelah. Apalagi selama perjalanan itu harus membagi diri mengeloni dua krucils, si toddler yang super manja yang kalau mau tidur harus pegang siku emaknya dan si baby yang maunya nempel terus di PD. Tapi mengingat posisi saya sekarang sudah berada di belahan bumi Eropa, luapan kebahagiaan seketika menenggelamkan semua kelelahan itu. Haru dan tangis bahagia tak bisa dibendung. Bagaimana tidak, ini adalah salah satu perjalanan impian kami.

Meski kami duduk tepat di belakang kursi bussiness class atau kursi pertama kelas ekonomi, tapi kami memilih meninggalkan pesawat belakangan. Salah satu kebiasaan keluarga kecilku dalam urusan penerbangan.

Terbang bersama Qatar Airways adalah pengalaman perdana kami dengan maskapai terbaik pertama di dunia versi Skytrax 2017. Pelayanannya asli bintang lima. Apalagi untuk penumpang yang membawa bayi dan balita seperti kami, diprioritaskan. Ada bassinet pula untuk si baby sehingga tidak harus memangkunya sepanjang perjalanan. Makanannya enak-enak, children mealsnya juga lezat ditambah snack box yang keren. Ochy suka sekali apalagi pas dengan warna favoritnya, merah. Activity booknya juga keren dengan pensil dan layar ajaib yang bikin Ochy betah duduk lama-lama di kursi. Dan yang terpenting nih, ruang di kaki legaaaaa banget. Saya bahkan bisa tidur di kursi sambil selonjoran. Review lengkap tentang pengalaman kami terbang bersama Qatar Airways mungkin akan lebih baik jika dibuatkan tulisannya sendiri. (Semoga saja saya ingat dan punya waktu untuk mereviewnya. Hehehe)

Bassinet

Snack box for children

***

Siang itu, langit Amsterdam cerah. Dengan modal tanya petugas, kami membeli tiket kereta di mesin. Mesin tiket ini sangat mudah ditandai, berwarna kuning dan jumlahnya tersebar di banyak titik. Penggunaannya juga sangat mudah karena selain berbahasa Belanda, juga tersedia pilihan bahasa lain. Sayangnya belum ada pilihan Bahasa Indonesia karena itu kami memilih Bahasa Inggris saja. Sebenarnya bisa juga sih membeli di loket. Tapi antrian saat itu sangat padat sehingga kami lebih memilih membeli lewat mesin, tiket menuju stasiun Sloterdijk (stasiun sebelum Amaterdam Centraal station) karena kami menginap di Hotel Meininger yang tak jauh dari stasiun Sloterdjik tersebut.

Amsterdam Centraal

Amsterdam Centraal adalah petunjuk utama bagi setiap pendatang di Amsterdam, tidak terkecuali kami sebagai turis yang melakukan perjalanan tanpa travel agent. Kemana-mana patokannya pasti ke sini. Centraal Station adalah pusat Amsterdam yang menjadi hub berbagai jalur transportasi seperti tram, kereta api, bus dan subways. Tidak hanya melayani jalur domestik dan wilayah luar Amsterdam tetapi juga untuk tujuan ke luar negeri. Lokasinya hanya satu stasiun dari hotel kami di Sloterdjik.

Ada banyak hal yang bisa kita nikmati gratis di Amsterdam Centraal ini. Salah satunya adalah naik ferry menyusuri kanal-kanal legendaris Belanda. Selain itu, semua atraksi penting dan utama di Amsterdam dapat dicapai dengan mudah dari sini baik dengan naik tram ataupun berjalan kaki. Sebut saja Rijksmuseum, Dam Square, Bloemenmarkt dan Red District.

Kami sendiri di hari pertama Amsterdam, tidak mempunyai rencana kemana-mana. Hanya ingin beristirahat di hotel untuk menyesuaikan diri dengan zona waktu yang berbeda 6 jam dengan kota kami, Makassar. Kalaupun ada tempat yang ingin dikunjungi mungkin hanya di sekitar hotel saja, mencari supermarket dan merasakan atmosfer kota. Setelah makan, sholat dan bersih-bersih (secara sejak dari Kuala Lumpur kami belum mandi), kami tertidur begitu pulas dan bangun pukul 3 subuh karena lapar lagi. Hahaha.

Giethoorn

Hari kedua di Amsterdam kami habiskan di Giethoorn, sebuah desa terapung yang bebas polusi. Disebut juga sebagai Venicenya Holland karena rumah-rumah di sana dipisahkan oleh kanal dan transportasi yang beroperasi hanyalah perahu dan sepeda. Tidak ada kendaraan bermotor seperti mobil.

Jarak dari Amsterdam ke Giethoorn ini terbilang jauh yaitu sekitar 3 jam sekali jalan. Mungkin tidak banyak turis yang ingin ke sana karena dengan jarak tempuh yang sama, mereka sudah bisa sampai di Paris, destinasi favorit dunia. Tapi dasar saya dan suami yang lebih suka dengan alam pedesaan, kamipun bela-belain ke sana dan menutup mata atas pesona menara Eiffel sebagai landmark top dunia , museum Louvre yang kaya sejarah, Arch De Triomphe yang merupakan gerbang kemenangan Napoleon, dan wisata-wisata terkenal lainnya di Paris yang gemerlap.

Saat di kereta selama perjalanan ke Giethoorn, kami sama sekali tidak mendapat pemeriksaan tiket. Padahal tiket ke sana lumayan mahal, sekitar 500 ribuan per orang. Rupanya sistem pemeriksaan tiket di negara maju seperti ini menggunakan sistem random. Tujuannya sangat mulia, untuk melatih kejujuran warganya. Sehingga diperiksa ataupun tidak, mereka sadar diri untuk selalu membeli tiket kereta. Sebab denda yang dikenakan ketika tertangkap tangan tidak mempunyai tiket ini bikin merinding, bisa 100 kali lipat dari harga tiketnya! Untuk turis kere seperti kami tentu saja bikin merinding karena bisa saja kami turun tahta dari backpacker ke begpeker. Hahaha.

Satu hal yang menarik dalam perjalanan ke Giethoorn ini karena kami berkenalan dengan couple asal India yang sudah lama menetap di Singapore. Belakangan, mereka ini ternyata banyak sekali membantu kami. Apalagi saat pulang dari Giethoorn ketika kereta harus dialihkan karena mengalami kerusakan. Kami juga berkenalan dengan solo traveler wanita asal Korea yang dimulai percakapan singkat tentang Ochy yang dia sangka sebagai orang Korea juga. Hahaha. Sisi positif dari jalan sendiri tanpa travel agent yang paling saya rasakan adalah bagian ini, mendapat teman baru.

Zaanse Schans

Hari ketiga di Amsterdam kami mengunjungi Zaanse Schans, sebuah desa yang memberi gambaran akurat tentang kehidupan masa lampau Holland di abad ke 17 dan 18. Di sini kita bisa melihat rumah otentik, pabrik keju dan susu serta kincir angin yang masih aktif digunakan hingga saat ini. Selain itu juga ada museum yang patut dikunjugi seperti museumwinkel (toko kelontong dari masa lalu sebelum supermarket besar bermunculan), bakkerijmuseum (museum toko roti dengan koleksi kerajinan kuno dari pembakaran roti) , museum Zaanse Tijd dengan koleksi jam uniknya serta Zaan museum yang memiliki koleksi khusus peralatan, pakaian dan lukisan dari daerah tersebut. Satu lagi yang tidak ketinggalan adalah boat tour sebagaimana di daerah Belanda lainnya. Namanya juga negeri kanal jadi ya dimana-mana memang ada wisata menyusuri kanalnya. Hehehe.

Dari Zaanse Schans sebenarnya kami ingin sekali ke Volendam, desa nelayan yang terkenal di Amsterdam. Namun apa daya, kami sudah cukup kelelahan sehingga dengan terpaksa harus mencoret Volendam dari itinerary kami. Semoga masih diberi kesempatan ke Belanda suatu hari nanti untuk menuntaskannya. Amiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s