OURS (Part 1 : Yes, I Do)

Jodoh itu misteri

Kalimat ini pastinya sudah sangat familiar di telinga kita. Saya rasa siapapun pernah membaca, mendengar ataupun mengalaminya sendiri. Sungguh tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa mengetahui kelak akan berjodoh dengan siapa, kapan datangnya dan seperti apa rupanya. Ini adalah rahasia Allah semata. Tak bisa diduga, dikira-kira apalagi dipaksakan harus dengan si X, Y ataupun Z seberapa cepat atau lamapun kita menjalin hubungan dengannya.

Persis seperti kisah saya dan Kak Idu yang awalnya hanya berkenalan di sebuah lembaga pendidikan bahasa asing di Makassar. Jika saya tidak salah ingat (dan semoga memang tidak), saat itu Maret 2011 saya dan Kak Idu terdaftar sebagai siswa persiapan tes TOEFL untuk tiga bulan kedepan yang jam belajarnya dimulai pukul 7 malam.

Selama 3 bulan itu, tak pernah sekalipun kami berinteraksi lebih dari teman kelas. Bertemu di kelas, berpisahnya juga di kelas. Punya nomor telepon masing-masing aja nggak. Kalaupun hangout selepas kelas usai, itu juga ramai-ramai dengan teman yang lain. Syukurnya peserta di kelas kami sangat kompak. Tim pengajar dan management yang menangani bahkan menobatkan kelas kami adalah yang terkompak dan tergokil yang pernah ada sejak mereka bekerja di sana. Padahal kami sangat heterogen dari segi usia dan profesi. Ada yang karyawan BUMN, karyawan bank swasta, guru SMK, kontraktor, pengusaha, dan fresh graduate. Karena sangat kompak jadi sangat mudah untuk menyatukan suara buat hangout di akhir pekan. Nongky di cafe, nobar di cinema atau traveling ke tempat wisata. Cuma Kak Idu aja tuh yang biasanya menghilang karena dia sibuk pacaran melulu. Tapi baiknya, dialah yang paling sering mentraktir kita kalau makan-makan. Hahahaha.

Jadi pernah ada kejadian lucu. Di depan tempat kursus tuh ada penjual kebab, burger, toko roti dan bakso gerobak yang mangkal di parkiran. Kak Idu tuh paling senaaaangggg sekali mentraktir teman-teman makan bakso karena dia memang pecinta bakso gerobak pendek (bakso daeng atau di Makassar disebutnya nyuknyang. Soalnya yang jualan bukan orang Jawa seperti mas-mas tukang bakso umumnya, tapi orang lokal). Mungkin tidak berlebihan jika saya menyebut Kak Idu nyuknyangholicย karena hampir tiap malam dia pasti nyangkut di sana beramai-ramai dengan teman yang lain termasuk sahabatku sendiri, Miftah. Jadi kebetulan saat itu saya gabungnya telat karena mendiskusikan sesuatu dengan Sir Wawan, pengajar kami. Begitu melihat saya datang, Kak Idu langsung nawarin saya bakso. Terus saya refleks menolak. Soalnya saya memang tidak terbiasa dan tidak suka dibayarin sama cowok sih dan lagi selama saya belajar di sana memang belum pernah sekalipun mencicipi jualan bakso itu. Nggak doyan karena kelihatan kurang bersih, menurut saya. Karena itu saya biasanya hanya membeli kebab di toko sebelah kalau gak roti. Waduhh ternyata dia tersinggung dan menyindir gak usah sok bersih dan bla bla bla… (Dalam hati nih cowok mulut ember juga ya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…)

Sejak saat itulah genderang perang pecah diantara kami. Hampir selalu kami bersilangan pendapat dalam hal apapun. Iya, dalam hal apapun. Bukan hanya tentang pelajaran tapi juga hal remeh temeh lainnya. Anehnya teman-teman yang lain malah menciumnya sebagai tanda-tanda cinta. Jadilah kami dijodoh-jodohkan. Padahal saat itu, baik saya maupun Kak Idu sama-sama menjalin hubungan dekat dengan seseorang.

Meskipun sering bersilang pendapat, tapi kami bukan anak kecil yang harus musuhan. Semuanya baik-baik saja dan disikapi dengan dewasa. Kami tetap berkawan baik sebagaimana teman yang lainnya. Gak ada yang berubah meski sebelumnya tegang-tegangan syaraf mempertahankan pendapat masing-masing. Kalau diskusinya sudah selesai, ya sudah. Kembali lagi seolah tidak terjadi pertentangan apa-apa.

***

Bagi saya, pribadi Kak Idu ini sangat unik. Jadi suatu ketika saya baru selesai sholat magrib di musholla samping kelas sementara Kak Idu baru akan memulainya karena baru saja tiba. Ketika saya memasang sepatu diluar, sholat magrib berjamaah sedang dilaksanakan di dalam. Berhubung, bacaan sang imam sangat merdu, saya menyesal kenapa tidak sholat magrib bareng mereka saja ya, padahal tadi saya sholatnya cuma sendiri. Habis gak kepikiran sih bakalan ada jamaah yang datang setelahku karena saya sendiri tibanya sudah telat. Beberapa menit lagi, kelas akan dimulai. Dan betapa kagetnya saat sepatu sudah terikat sempurna di kaki, lalu membangkitkan badan hendak menuju kelas saya melihat pemilik suara merdu itu adalah Kak Idu! Rada aneh sih awalnya. Soalnya gak nyangka cowok playboy seperti dia, bagus juga bacaan alqur’annya. Padahal dia itu gokil sekali. Gak ada tanda-tanda sholehnya. Hahaha.

Terus kok bisa akhirnya berjodoh???

Itulah mengapa pembuka tulisan ini dimulai dengan kalimat jodoh itu misteri. Karena memang gak disangka-sangka. Jadi setelah kelas TOEFL berakhir, kami kembali ke dunia masing-masing. Bertemu kembali setelah 2 tahun lamanya yaitu bulan Maret 2013 di acara reuni kecil-kecilan sesama ex Melbourne Class. Cerita ngalor ngidul dari yang konyol sampai cerita kesuksesan masing-masing. Ada yang akhirnya berhasil mendapat beasiswa ke luar negeri, ada yang berhasil masuk kerja di perusahaan impiannya, ada juga yang berhasil dalam bidang enterpreneur seperti saya dan sahabatku Miftah yangย  mendirikan lembaga pendidikan.

Di sela-sela cerita itu, ada saja teman yang masih mengingat tentang dijodoh-jodohkannya kami dulu. Arisan saya naik lagi deh. Jadi bahan ejek-ejekan teman. Tapi dari sanalah akhirnya terkuak sebuah kebenaran bahwa saya dan Kak Idu kini sama-sama sendiri.

tiada hujan tiada angin, tiba-tiba Kak Idu langsung nembak aja, “Ya sudah kita sama-sama saja sekarang kalau gitu. Kan sudah sama-sama sendiri”. Diucapkannya malah sambil tertawa mengejek, bikin sakit hati sih ekspresinya. Terus saya menanggapinya dengan jutek dong. Lalu saya bilang dengan dingin : “Datang ke rumah jika serius.” Kemudian buang muka lalu senyum malu-malu. Hahaha. Nah jadilah sejak saat itu, saya dan Kak Idu akhirnya saling bertukar nomor telepon untuk pertama kalinya.

Besoknya, dia beneran datang setelah saya beri alamat rumah. Padahal saya tidak harap sih karena sudah nge-judge di awal Kak Idu itu bukan tipe laki-laki yang serius. Udah gitu, pas ketemu malah langsung ngomong serius ke orang tua. Memohon restu untuk mengenali lebih jauh anak perempuan semata wayangnya untuk diajak berumah tangga. Saat itu cuma ada mamak karena bapak masih di luar kota. Mamak ditodong begitu, ya cuma bisa bilang tergantung anaknya, mau apa tidak. Lha, saya dengar kata seperti itu jadi salah tingkah pastinya. Apalagi ini langsung berhadapan begini. Diajakin nikah lagi!

Kak Idu bilang, disempat-sempatkan datang ke rumah malam ini karena besok pagi dia sudah harus balik lagi ke Timika. Ternyata selama gak ada kontak 2 tahun itu, Kak Idu sudah tidak bekerja lagi di bank seperti dulu waktu masih belajar TOEFL. Dia sudah pindah ke salah satu perusahaan BUMN dan untuk sementara ditugaskan di Timika.

Terus habis itu apa? Ya gak ada apa-apa. Dianya sibuk kerja di Timika, saya juga sibuk kerja di Makassar. Meski sudah mengantongi nomor telepon masing-masing, kita jarang banget contact-an. Kalaupun ada kesempatan luang, kita gunakan lebih banyak bercerita tentang diri dan keluarga masing-masing sebagai upaya saling mengenal lebih jauh. Tapi itupun jarang banget.

***

Dua bulan kemudian, keluarga Kak Idu datang melamar secara personal. Saat itu diwakili oleh kakak laki-laki tertua yang datang bersama istri dan anak-anaknya. Ajaibnya orang tuaku menerima lamaran itu. Padahal bapakku sendiri belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Kak Idu. Tau gimana bentuk mukanya saja tidak. Pokoknya bapakku iya saja. Saat saya tanya kok mau aja pak? Jawabannya bikin ngeces cuy! Bapak bilang : hanya laki-laki baik-baik yang berani memulai hubungan cinta dengan jalan halal. Makanya saya terima karena saya tau dia laki-laki yang baik. MasyaAllah bapaaakk ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Selanjutnya dilangsungkanlah acara mappetttuada, yaitu prosesi lamaran secara formal yang saat itu dilakukan di bulan puasa. Acara itu semacam pertemuan resmi kedua belah keluarga besar untuk menentukan hari pernikahan dan besarnya mahar yang akan diberikan kepada calon mempelai wanita. Prosesnya alhamdulillah sangat singkat dan berjalan lancar meskipun Kak Idu sendiri tidak bisa menghadirinya karena dia masih di Timika.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, untuk pertama kalinya Bapak dan Kak Idu akhirnya bertatap muka. Pertemuan keduanyapun terbilang unik. Jadi saat itu, Bapak sedang mengecat rumah sementara kedua saudara lelakiku merapikan gorden dan membersihkan kamar mandi. Saya dan mamak sibuk di dapur membuat buras dan aneka makanan untuk hidangan hari raya nanti.

Saat kami semua sedang sibuk, samar-samar terdengar suara seseorang di depan pintu mengucap salam. Bapaklah yang menyambut suara itu lebih dahulu. Dengan masih belepotan cat di tangan sambil menggenggam sebuah kuas, beliau berbincang ringan dengan seseorang di teras rumah.

Tidak lama bapak memanggilku. Sudah pastilah panggilan membuat minuman untuk tamu. Namun berhubung ini bulan ramadhan, sayapun keluar dengan tangan kosong tanpa nampan berisi minuman dan snack.

Ekspresi pertama saya tentu kaget cenderung panik. Rasanya pengen buru-buru masuk ke dalam rumah lagi. Kalau saya tau dia yang datang kan saya bisa dandan dulu kek, pakai baju yang bagus dulu, mandi dulu biar segar dan wangi. Gak lusuh begini memakai daster aroma beras ketan bercampur santan. Tapi mau bagaimana lagi. Saya sudahย  terlanjur nampak seperti ini. Orang yang bertamu itu ternyata adalah Kak Idu, calon suamiku yang rupanya hingga kehadiran saya di tengah-tengah mereka, Bapak belum menyadari juga jika lelaki di depannya ini adalah calon menantunya.

Setelah Kak Idu memperkenalkan diri, tawa kami pecah berbarengan. Bapak geleng-geleng kepala entah berapa banyak. Lalu meleburlah mereka dalam hangatnya pelukan calon mertua dan menantu. Saya tidak bisa menahan haru menyaksikan pemandangan ini. Bagaimana ketulusan Kak Idu menerima saya dan keluarga apa adanya. Pun bagaimana Bapak merestui Kakย  Idu dengan penuh cinta.

Beberapa hari setelah lebaran, tepatnya pada 9 September 2013 akad nikah dan resepsipun digelar. Berlangsung singkat dalam sehari. Tidak seperti adat Bugis-Makassar pada umumnya yang akan menghabiskan waktu sedikitnya tiga hari. Saya dan Kak Idu basically sangat santai bawaannya, tidak terkecuali dalam urusan pesta pernikahan.

Pagi hari menyelenggarakan mapacci, (padahal umumnya dilakukan di waktu malam sehari sebelum akad nikah), siang akad nikah lalu sore hingga malam menggelar resepsi. Selesai. Gitu aja. Sangat minimalis. Tidak perlu mengikuti ritual macam-macam. Lalu resmilah kami menjadi pasangan suami istri. Alhamdulillah sah dan insyaAllah sakinah mawaddah warahmah. Aamiin ๐Ÿ™‚

****

Kisah pacaran setelah menikahpun dimulai. Rasanya nano-nano banget. Ada lucu-lucunya karena masih malu-malu, ada rasa canggungnya karena dulunya sering bertengkar, ada rasa romantisnya sebagai pengantin baru, ada cerita konyol di dapur mertua hingga carita malam pertama yang bla bla bla… Hahahaa. Nah bagaimanakah kisahnya?? Nantikan di postingan berikutnya yaaa.

________________________________________

9 September 2017.

Ditulis sebagai kado ulang tahun pernikahan kita yang keempat. Jika saat membacanya ingatanmu kembali ke masa-masa itu lalu senyummu merekah atau mungkin ngakak, saya sudah sangat bahagia. Iya, sesederhana itu. Juga kutulis kisah ini andaikata besok lusa saya telah tutup usia namun belum sempat mengisahkan perjalanan cinta kita ke anak-anak , semoga tulisan ini bisa mewakili.

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s