Jembatan Merah

Jembatan Merah Riso

Jika kita jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor, kita bisa menjumpai jembatan merah yang konon bisa membuat putus cinta. Karena itu disarankan bagi pasangan kekasih untuk tidak melalui jembatan bercat merah yang membentang di atas Sungai Ciliwung tersebut. Kalaupun kekeuh ingin melangkahkan kaki di sana, sebaiknya tidak bersama pasangan. Begitulah mitos yang beredar. Saya sendiri tidak meyakini hal tersebut. Tidak masuk akal bagiku. Bagaimana mungkin sebuah hubungan dikendalikan kelanggengannya oleh sebuah jembatan? Oleh sebuah benda mati pula. Tapi ya namanya juga mitos ya. Benar tidaknya tergantung kepercayaan sendiri-sendiri. Dan sebagai muslim tentu saja imanku menolaknya. Lagipula faktanya, hubungan asmaraku toh pada akhirnya putus di tengah jalan. Padahal saya melalui jembatan ini tanpa sang kekasih alias seorang diri. Oh… enough! Cukup sampai di sini. Tidak perlu memperpanjang cerita tentang sang kekasih eh sang mantan. Masa lalu bo! Sudah tutup buku. Hahahaha

Nah lain di Bogor lain pula di Enrekang-sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan kelezatan fermentasi susu sapinya yang biasa disebut Dangke. Enrekang juga mempunyai kebun raya bernama Massenrempulu dan jembatan merah namun keberadaan jembatan gantung ini tidak di dalam kawasan Kebun Raya seperti di Bogor tetapi di sebuah perkampungan bernama Riso. Jembatan kayu dengan penyangga besi di kedua sisinya membentang kokoh membelah Sungai Saddang, sungai terpanjang di seantero Sulawesi Selatan. Lokasinya persis di belakang rumah mertua saya dan menjadi spot favorit untuk menikmati kemerahan langit di sore hari karena pemandangan gunung dan sungai bisa disaksikan dari jembatan ini. Sangat panoramik!

Gunung, bukit dan sungai menyatu. Sayang airnya coklat susu πŸ˜…πŸ˜‚

Jembatan merah Riso murni difungsikan sebagai jalur penghubung ke desa tetangga yaitu Desa Lekkong tanpa embel-embel kepercayaan yang menyesatkan. Jembatan ini hanya bisa dilalui oleh sepeda motor dan akan terdengar bunyi kletek-kletok yang besar dari kayu yang bergesekan dengan ban jika dua motor berpapasan. Nah Kak Idu agak ngeri tuh dengan bunyi-bunyi itu, takut jika jembatannya sewaktu-waktu roboh. Sementata saya dan Ochy sangat menikmatinya. Saking enjoynya kami bahkan sengaja menghentak-hentakkan kaki cenderung melompat dan berlari agar bunyi kletok kayu terdengar lagi. Semakin melompat, semakin stresslah Kak Idu melihat kami. Hahahaha. Dan entah mengapa memandangi ekspresi wajahnya yang penuh cemas itu, tawa saya dan Ochy justru semakin pecah. Bandel ya kami! Hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s