Osaka kara ohayògozaimasu!

Do not follow where the path might lead. Go instead where there is no path and leave a trail -Ralph Wado Emerson-

Jepang. Musim semi 2015

Pagi itu matahari bersinar cerah, tampak menawan di langit Osaka. Saya baru saja membuka mata diterpa sinarnya dari jendela pesawat yang sebentar lagi akan mendarat di Bandara Kansai. Kulirik jam, hampir pukul 7 pagi. Lelaki di sampingku sama lelahnya. Saya suka memandang wajahnya saat dia tidur begini. Damai.

Sejenak kuperhatikan suasana di dalam cabin pesawat. Wajah-wajah Asia mendominasi. Beberapa penumpang sepertinya juga baru bangun, bergegas antri di depan toilet. Sebenarnya sudah sejak tadi saya juga ingin buang air, panggilan alam di awal pagi. Namun tidak sanggup membangunkan lelaki di kursi sebelahku yang tak lain adalah suamiku sendiri. Tidurnya begitu pulas. Mungkin saking lelahnya kejar-kejaran di KLIA semalam sambil gotong koper dan ransel.

Ah… rasanya geli sendiri membayangkan kembali kejadian semalam sebelum boarding. Kami lari dengan kekuatan maksimal mengejar pesawat di lorong-lorong bandara tengah malam buta. Counter check-in dan boarding gate memang terpisah sekian kilometer. Sempat salah gate pula karena entah mengapa petugas di counter check-in mencoret tulisan gate yang tertera di tiket dan menggantinya dengan gate yang lain sehingga kami harus mememutar jauh lagi.

Kejadian ini sebenarnya diawali oleh keterlambatan pesawat dari Jakarta yang harus delay selama satu jam untuk alasan yang tidak kami mengerti menyebabkan kedatangan kami di KLIA juga mundur dari jadwal seharusnya. Ditambah lagi dengan kelalaian petugas check-in tadi yang mungkin karena sudah mengantuk sehingga tidak sadar mengganti gate kami menyebabkan miss understanding menuju boarding gate. Syukurnya connecting flight ke Osaka dan semua sebab musabab keterlambatan ini memang diluar kesalahan kami sehingga kedatangan kami tetap ditunggu. 

Hap! Tiba di pesawat dengan napas yang ngos-ngosan. Lalu terjadilah pemandangan itu! Ratusan pasang mata memandang kami serentak begitu memasuki pesawat. Tatapan yang memiliki banyak arti. Dan saya paham, diantaranya bermakna kekecewaan. Menganggap kami sebagai alasan mereka harus terpaksa menunggu lama untuk terbang ke Jepang.

Pesawat akhirnya mendarat. Mulus tanpa goncangan hebat. Suara merdu pramugari dengan logat Jepang yang kental memenuhi ruang, mengucapkan selamat datang. Mengumumkan keadaan cuaca. Lelaki di sampingku membuka mata. Refleks tengok kanan dan kiri. “Sudah sampai?” Kalimat pertamanya. Sambil tersenyum saya mengangguk pelan.

Ohayògozaimasu Osaka! Alhamdulillah sampai juga di negeri sakura. Di sebuah kota kecil yang pernah menjadi Ibukota Jepang kuno di zaman Naniwa. Salah satu kota penting bagi keluarga kecil kami karena nama anak kami diambil dari Toyotomi Hideyoshi, seorang anak petani sederhana yang akhirnya diangkat menjadi kaisar karena kehebatannya memimpin Osaka yang saat itu berhasil menyatukan daratan Jepang.

Saat keluar dari terminal kedatangan, matahari tetap cerah namun angin kencang menerpa. Menampar wajah dan menggigit tubuhku. Mengibarkan ujung pashmina merah yang kukenakan. Meskipun sedang musim semi tapi suhu masih terasa dingin. Mungkin sisa-sisa winter sebelumnya. Kamipun segera mengenakan jaket tambahan. Suami bahkan men-double-nya dengan coat. Pagi ini, kami siap menjelajah sudut kota Osaka bermodal peta gratisan yang diambil di information centre.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s