Traveling ke Jayapura : Itinerary dan Budget

Beberapa hari yang lalu kami baru saja mengunjungi Jayapura, Ibukota Provinsi Papua selama 3 hari 2 malam. Kami berangkat dari Kota Timika dengan jarak tempuh kurang lebih 50 menit menggunakan pesawat terbang. Berikut itinerary kami selama di Jayapura :

Hari 1 : Danau Sentani-Bukit MacArthur-Danau Love

Kami tiba di Jayapura sudah pukul 10.00 pagi dan langsung menuju Danau Sentani diguide oleh teman baik kami, Fe. Perkenalan dengan Fe ini sangat unik. Pertama kali tahu tentangnya hanya lewat blog. Saya suka tulisan-tulisannya terutama tentang kisah percintaan yang sepertinya mirip-mirip dengan masa laluku, sebelum saya menikah dan akhirnya hidup bahagia bersama lelaki yang tepat : korban pengkhianatan. Hahahaha. Dan yang berasa jleb banget ketika menemukan satu kalimat dalam tulisannya “Kamu tuh pintar tapi bego dalam urusan asmara. Mau-maunya selalu disakiti oleh pria yang sama berkali-kali” katanya ini diucapkan oleh sahabatnya. Percaya atau tidak, sahabat saya dulunya sampai kesal luar biasa karena seringnya mengulang kalimat itu. Dia sampai menampar wajahku agar tersadar dari kenyataan bahwa kesetiaanku telah dibayar telak dengan pengkhianatan. Pergi tanpa pesan. Belakangan saya tahu telah ada perempuan lain bersamanya. Ah kok malah jadi curhat nih!

Terlepas dari kisah cinta yang serupa, tentu saja cara Fe menyikapi masalah serta pemikirannya yang positif membuat saya suka dengan pribadinya. Lalu sayapun memfollow instagramnya. Albumnya so stunning, traveller sejati kayaknya. Nah ketika saya komen di salah satu fotonya, ternyata suami saya juga komen di sana. Barulah akhirnya kami saling tahu jika Fe ternyata teman suamiku yang pernah sama-sama terlibat dalam kegiatan sosial 1000 Guru Papua. Oalaah.. dunia ini sempit ya pemirsaaahhh! Hahaha.

Kembali ke itinerary, puas menikmati keindahan Danau Sentani kami lalu melanjutkan perjalanan ke bukit MacArthur. Bukit ini menjadi wisata wajib saat ke Jayapura karena tidak hanya menyuguhkan perpaduan keindahan pegunungan Cyclops yang hijau dan Danau Sentani yang tenang tapi juga karena nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. 

Bukit MacArthur adalah saksi bisu Perang Pasifik yang merupakan bagian dari Perang Dunia ke II dimana Jendral Douglas MacArthur yang kala itu memimpin pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour mendapat serangan mendadak dari Jepang yang melemahkan kekuatan tentara AS. Namun dalam rentang 3 tahun berselang, sang Jendral akhirnya berhasil melumpuhkan balatentara Jepang dengan strategi menggempur pusat kekuatan mereka di Tanah Papua. Di Papua pasukan AS memilih posisi bertahan di Ifar Gunung dekat Danau Sentani. Bukit inilah yang kemudian dikenal dengan bukit MacArthur.

Letak bukit MacArthur tidak jauh dari bandara Sentani. Bisa ditempuh selama 15 menit berkendara dengan kontur jalan mendaki dan berkelok. Karena lokasinya berada dalam kawasan Resimen Induk Kodam XVII Trikora maka kita wajib melapor untuk meminta izin masuk dengan menyetor KTP atau tanda pengenal lain di pos penjagaan tentara sebagai jaminan. Selama berkendara dalam kompleks militer tersebut, kita juga diharuskan menurunkan kaca jendela mobil.

Tiba di Bukit MacArthur kita akan menemukan sebuah tugu memorial dan sebuah bangunan kecil yang berisi informasi masa-masa MacArthur datang ke Papua. Dari ketinggian ini, kita bisa menikmati keindahan Sentani sambil duduk di kursi panjang ataupun gazebo yang telah disediakan.

Kami melewatkan siang cukup lama di sini. Duduk santai menatap landscape alam yang begitu luar biasa.

Menjelang sore kami lanjutkan perjalanan ke Danau Love dengan mampir makan terlebih dahulu di restoran Christo. Suasananya nyaman, pemandangannya bagus, makanannya juga enak. Tapi sayang pelayanannya lamaaaaa banget. Saya sampai sempat tertidur saking lamanya menunggu makanan kami diantarkan. Tapi karena waktu yang molor begini, kami jadi punya timing yang pas buat ke Danau Love. Sebab dikabarkan, saat matahari tenggelam adalah moment terbaik menikmati keindahan danau berbentuk gambar hati ini.

Perjalanan ke Danau Love sangat mengesankan. Bukit-bukit yang indah menjulang di kanan kiri jalan. Sebenarnya nama danau ini adalah Danau Emfotte tapi karena berbentuk love, belakangan lebih terkenal dengan sebutan Danau Love. 

Danau Sentani
Bukit MacArthur
Tugu MacArthur. Tugunya ternyata seperti ini
Danau Love
Sisi lain Danau Love
Perjalanan menuju Danau Love
Bukit-bukit indah di Danau Love

Hari 2 : Teluk Youteva-Pantai Hamadi-Pantai Base G-Pemancar TVRI-Puncak Skyline-Jayapura City

Di hari kedua ini sebenarnya lebih dikhususkan untuk silaturrahim dengan rekan kerja suami yang bertugas di Cabang Jayapura. Maka agenda ke Skow, perbatasan Indonesia-Papua New Guine dicoret dari daftar karena perjalanan bolak balik sudah memakan waktu sekurangnya 4 jam. Itinerary kami hari ini dipusatkan keliling Kota Jayapura saja mengunjungi pantai dan puncak.

Kami meninggalkan hotel pukul 9 pagi dan langsung menuju Teluk Youteva yang berseblahan dengan Pantai Hamadi. Saya sangat jatuh cinta dengan teluk yang tenang ini. Perasaan saya terbawa pada sebuah desa nun jauh di belahan barat bumi bernama Hallstatt, tempat yang sangat ingin saya datangi sejak pertama kali melihat gambarnya di kalender kala saya masih kecil.

Agak kontras dengan ketenangan Teluk Youteva, Pantai Hamadi menyuguhkan kekuatan ombak yang riak menabrak tepian. Secara umum pantainya bersih, berpasir coklat dan halus. Tidak padat pengunjung meskipun saat weekend begini sehingga kami merasa sebagai pemilik pantai saking sepinya.

Destinasi berikutnya adalah pantai Base_G. Saya lebih suka di pantai ini karena pasirnya yang putih bersih dengan butiran besar namun tetap terasa lembut. Persis seperti pasir di Pantai Kuta Lombok (bukan Kuta Bali). Selain itu, laut lepas yang menghadang menambah keindahan pantai berlekuk tebing ini. Dan yang pasti, suasananya yang tenang karena tidak banyak pengunjung sehingga kami bisa menikmati setiap sisi pantai layaknya sedang di private beach. Ochy bahkan tidak rela meninggalkan tempat ini saking asyiknya bermain pasir. Berkali-kali diajak pulang, dia meronta. Ombak yang tiba-tiba menghantam wajahnyalah yang berhasil membujuk dia meninggalkan pantai Base_G.

Setelah puas bermain di pantai, kami melanjutkan perjalanan menelusuri keindahan puncak-puncak Jayapura. Menikmati kota Jayapura dari ketinggian. Diantaranya puncak pemancar TVRI, puncak skyline dan puncak Jayapurawood atau Jayapura City. Disebut juga Jayapurawood karena tulisan Jayapura City ini terpahat indah di sebuah bukit layaknya tulisan Hollywood di Amerika. Favorit saya adalah puncak skyline. Dari ketinggian ini kita disuguhkan alam Jayapura yang begitu indah : gunung dan laut dalam satu pandangan mata. Kesegaran es kelapa muda yang langsung diminum dari batoknya semakin membuat betah lama-lama di sini.

Teluk Youteva
Pantai Hamadi
Pantai Base_G
Puncak Pemancar TVRI
Puncak Skyline
Puncak Jayapura City
Puncak Jayapura City

Hari 3 : Pulang ke Makassar

Sejak pagi hingga jelang pukul 12 siang, kami habiskan di kamar hotel saja. Beristirahat siapkan stamina untuj perjalanan udara 3 jam lebih nanti ke Makassar. Jadwal check out hotel pukul 1 siang dan setidaknya harus dilakukan 10 menit sebelumnya jika tidak ingin dikenakan denda 50% dari harga kamar. Waah ngeri juga ya! Karena itu kami segera check out setelah sholat dzuhur dan menunggu mobil jemputan ke bandara Sentani.

Budget. Nah saya tahu ini bagian yang kalian paling tunggu-tunggu. Kami habis berapa sih selama liburan di Jayapura kemarin? Iyya kan? Hayoo… hehehehe. Soalnya banyak yang beranggapan bahwa ke daerah Papua itu pasti serba mahal dan memakan budget yang besar. Padahal sebenarnya budget ini bisa ditekan jika kalian liburan ramai-ramai sehingga bisa sharing biaya terutama untuk transportasi sebab biaya sewa mobil di Jayapura memang cukup mahal yaitu Rp 400.000-Rp 600.000/8 jam.

Well, berikut pengeluaran kami selama liburan di Jayapura kemarin :

Hari pertama :

  • Tiket pesat Timika-Jayapura : Rp 859.958/ 2 orang dewasa + 1 infant
  • Sewa mobil Innova : Rp 400.000/ 8 jam
  • Bensin : Rp 200.000
  • Hotel 2 malam di Cityhub Abepura : Rp 793.163 setelah dapat diskon Rp 300.000 dari kupon traveloka
  • Tiket masuk Danau Love : Sebenarnya ada pungutan biaya Rp 50.000 untuk mobil dan R 20.000 untuk motor. Tapi karena saat kami datang dan pulang, tidak ada penjaga dan kami tidak tahu harus menyimpan uangnya dimana. Jadinya gratis deh.
  • Makan di Restoran Christo : Rp 470.000 / 3 orang
  • Beli snack dan minuman : di skip aja ya.

Hari kedua :

  • Sewa mobil : free karena memakai mobil kantor
  • Bensin : free karena tidak dibolehkan sama teman suami
  • Tiket masuk Pantai Hamadi + parkir : Rp 20.000
  • Tiket masuk Pantai Base_G : free
  • Makan di Resto Rumah Laut : Rp 658.000 /4 orang
  • Tiket masuk puncak TVRI : free
  • Tiket masuk puncak skyline + parkir : Rp 10.000
  • Es kelapa muda : Rp 25.000
  • Tiket masuk puncak Jayapura City + parkir : Rp 10.000
  • Beli snack dan minuman : di skip aja ya karena ini optional kok.

Hari ketiga :

  • Tiket Jayapura – Makassar : Rp 2.680.000/2 dewasa + 1 anak
  • Sewa mobil Innova dari hotel Cityhub Abepura ke Bandara Sentani : Rp 200.000 (sedangkan jika pakai jasa hotel biayanya Rp 350.000)
  • Oleh-oleh : Rp 700.000

Totalnya silakan dihitung sendiri. Kalian bisa men-skip biaya makan dengan menyesuaikan selera. Tempat makan di Jayapura ada banyak sekali dengan menu yang sangat beragam. Tapi katanya sih gak afdhol kalau gak nyobain ikan mujairnya. Ikan mujair ini bisa dinikmati mulai dari harga Rp 95.000/ekor.

Well, semoga informasinya bermanfaat ya. Silakan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan. Selamat berlibur di Jayapura!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s