Everyday is Holiday in Bali

Sejak kami pindah ke Bali dan menjadi warga Denpasar rasanya kualitas hidup kami meningkat sekian persen untuk kesenangan batin. Ini bukan tanpa alasan. Mengenyam hidup selama 2 tahun lebih di tanah Papua yang kering dan serba terbatas akan segala sesuatu khususnya di Kota Timika membuat kami seperti zombie yang setiap hari dengan rutinitas itu-itu saja. Parahnya, tak ada tempat refreshing yang memadai untuk sekadar melepas penat. Tak ada akses yang menunjang untuk mengeksplore kekayaan alam Timika. Pun tak ada festival budaya yang mempertontonkan keunikan adat istiadat Papua yang begitu tersohor. 

Ya, meski berada di Papua namun Kota Timika tidak seperti daerah lainnya. Sebut saja Jayapura yang alamnya luar biasa dengan akses yang sangat ramah turis. Bahkan hampir setiap tahun mengundang banyak pengunjung domestik dan internasional dalam pagelaran budaya Papua di Festival Danau Sentani. Atau seperti Biak yang dianugerahi keindahan laut, pantai dan air terjun. Atau seperti Raja Ampat yang dikarunia gugusan pegunungan karst yang keindahannya telah diakui dunia. Atau mungkin seperti Nabire yang memiliki sejuta kekayaan biota, flora dan fauna. 

No! Timika is totally different. Benar bahwa di Timika ada gunung. Tapi tidak mudah mengaksesnya (jika tidak terkesan tidak dapat dijangkau). Benar pula bahwa di Timika ada Kuala Kencana, kota di dalam hutan. Namun itu bukan objek wisata. Adalah sebuah fakta bahwa di Timika ada distrik Pomako yang menyuguhkan pemandangan perairan. Tapi menuju kesana setidaknya 2 jam tanpa jaminan keselamatan karena masih sering terjadi bentrok antar suku di beberapa daerah yang kita lalui sebelum akhirnya bisa melihat laut Pomako. Hal yang benar pula bahwa Timika memiliki Tembagapura yang kontur alamnya berbukit-bukit. Namun lagi-lagi tidak bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Tembagapura dengan segala keindahannya adalah restricted area yang hanya bisa dimasuki oleh karyawan PT. Freeport Indonesia. 

Bagi kami warga umum yang numpang tinggal di dataran Timika hanya bisa bolak balik dari ujung timur ke barat, utara dan selatan kota. Ketemunya itu-itu saja. Jika tidak ke Kuala Kencana, mainnya ya di daerah bandara Mozes Kilangin. Jangan bayangkan ada mall dengan segala gemerlap etalase toko. Tidak pula cinema untuk menikmati film layar lebar terbaru. Di Timika hanya ada ruko lantai tiga dan itu sudah dianggap mall di sana.

Maka tinggal di Bali dengan segala kekayaan alam dan budayanya ibarat menemukan sepotong surga yang jatuh di bumi. It feels like everyday is holiday! Kami tidak harus menunggu weekend ataupun hari libur untuk menikmati sunset yang indah di pantai. Juga tak mesti merencanakan waktu khusus untuk melihat ragam budaya Bali yang begitu memesona. Kami benar-benar menikmati setiap sudut daerah Bali dari ujung pesisir hingga di ketinggian gunung. Dari satu pantai ke pantai lainnya. Dari alam pedesaan hingga ingar bingar perkotaan. Bali is truly completed in one package.

Namun di atas itu semua, baik Timika maupun Bali sama-sama memberi banyak pelajaran hidup bagi kami. Di Timika kami bisa belajar tentang sabar dan banyak-banyak bersyukur. Setidaknya kebutuhan dasar seperti air dan listrik bukan barang langka. Sedangkan di Bali, kami belajar banyak tentang hidup sederhana dalam kemewahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s