Lolai : Negeri di Atas Awan Toraja Utara

Lolai adalah salah satu daerah pelosok di ketinggian 1300 mdpl yang selama satu tahun terakhir ini menjadi populer oleh keindahan negeri di atas awannya. Terletak di Kecamatan Kapalapitu Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, kurang lebih 20 km dari Rantepao dengan waktu tempuh 30 menit jika arus lancar. Akses menuju Lolai cukup menantang : menanjak, sempit dan berliku dengan jurang di sisi kanan kirinya. Namun demikian, tetap bisa dilalui dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sebagian jalannya sudah beraspal mulus, sebagian lagi masih pengerasan, sisanya tanah merah yang jika sedang hujan akan berlumpur dan becek sekali. Dengan medan seperti itu, keahlian berkendara sangat diperlukan.

Kapan Waktu terbaik mengunjungi Lolai?

Sebenarnya tidak bisa dipastikan kapan waktu terbaik ke Lolai agar mendapatkan view awan yang sempurna. Semuanya sangat bergantung pada cuaca. Jika sedang hujan deras, kemungkinan besar tidak akan melihat gumpalan awan. Jika sedang cerah juga belum tentu mendapat pemandangan awan yang spektakuler karena curah angin juga mempengaruhi. Namun berdasarkan banyak pengalaman orang, sesaat sebelum matahari terbit hingga matahari setinggi tiang adalah momen-momen terindah menikmati negeri di atas awan Lolai. 

View Lolai sesaat setelah matahari terbit. Sayang mataharinya bersembunyi sehingga efek langit jingga yang dinanti tak kunjung terlihat.

Saya sempat bertemu dengan pengunjung yang katanya telah puluhan kali ke Lolai bahkan telah rela menginap di sana namun belum sekalipun mendapat view awan yang bagus. Petugas hansip yang juga berjaga di sana mengutarakan hal serupa bahwa gumpalan awan yang sempurna yang membuat tempat ini benar-benar berada diatasnya tidak selalu nampak. Semuanya tergantung alam, kata bapak berusia 70 tahun itu.

Kami sendiri sangat bersyukur karena ini adalah perjalanan perdana kami dan Tuhan berkenan memberi pemandangan yang luar biasa dimana desa Lolai nampak di atas awan oleh gumpalan putih dibawahnya. Bersyukurnya lagi tidak sedang ramai pengunjung karena kami ke sana memang saat weekdays dan dijaga ketat oleh sejumlah Satpol PP karena dikabarkan keesokan paginya, istri Bupati Toraja Utara akan melakukan kunjungan ke sini. Bapak hansip yang tadi mengobrol dengan kamipun mengapresiasi keberuntungan kami. Mencubit pipi Ochy dengan gemas. Bahkan menyebut-nyebut Ochy sebagai pembawa keberuntungan. Ah… Ada-ada saja! Hehehe.

Cara Menuju Lolai dari Rantepao

Ada beberapa cara menuju Desa Lolai dari Rantepao yaitu :

  • Dengan angkot. Tarifnya Rp 20.000/orang dewasa maupun anak-anak. Naik dari pasar pagi Rantepao atau di pasar baru Tallungpilu
  • Dengan ojek. Tarifnya beragam tergantung keahlian menawar. Namun pada umumnya berkisar Rp 30.000-Rp 50.000. Naik ojek biasanya lebih cepat sampai daripada naik angkot
  • Dengan kendaraan pribadi. Jika membawa kendaraan sendiri maka ikutilah jalan melalui jembatan arah bandara Pongtiku. Belok kanan di pertigaan menanjak lalu ikuti saja terus jalan itu. Jika mengalami kesulitan, bertanyalah pada warga karena pada umumnya mereka tau jalan menuju Lolai.

Kami sendiri menuju Lolai dengan kendaraan pribadi dan di-guide oleh salah seorang warga lokal yang juga OB kantor papa cabang Toraja. Karena dia nyetirnya terlalu kencang, mobil kami sering ketinggalan jejaknya di pertengahan jalan. Namun kami tidak menemukan banyak kesulitan atas bantuan informasi warga yang kami tanyai di jalan.

Jalan menuju Lolai : mendaki dan berliku. Ini masih di awal-awal perjalanan. Meski sedikit mendaki namun di kiri-kanan jalan masih datar. Selanjutnya semakin tinggi ke atas, hanya jurang yang mengapit jalan sempit itu.

Haruskah menginap? Di mana?

Seperti telah saya tuliskan sebelumnya bahwa waktu terbaik menikmati keindahan Desa Lolai pada umumnya sesaat sebelum matahari terbit hingga setinggi tiang (waktu dhuha) maka tentu harus menginap agar tidak ketinggalan momen yang hanya beberapa jam itu. Menginapnya bisa di kota Rantepao ataupun langsung di Desa Lolai.

Jika menginap di Rantepao maka perjalanan ke Lolai sudah harus dimulai sejak dini hari paling lambat setelah subuh. Pilihan penginapan di Rantepao ada banyak sekali. Mulai dari kelas wisma Rp 150.000/kamar hingga hotel berbintang seharga Rp 500.000-Rp 1.000.000/malam.

Jika memutuskan menginap di Lolai karena tidak ingin berangkat pagi buta, kamu bisa memilih penginapan kelas guest house atau wisma, rumah adat tongkonan ataupun tenda.

Nah kami memilih opsi yang kedua yaitu menginap di Lolai karena ingin merasakan suasana berbeda. 

Setelah membayar biaya retribusi Rp 10.000 (sudah termasuk jasa parkir) kamipun ditawari penginapan oleh beberapa orang bersarung yang merupakan warga lokal. Ada dua pilihan lokasi yaitu view puncak yang hanya menyediakan rumah adat tongkonan dan tenda lepas saja atau wisma yang lokasinya sekitar 100 meter ke bawah dari puncak. Harga dan fasilitas berbeda untuk tiap jenis penginapan tersebut. 

Rumah adat tongkonan hanya berupa ruang persegi panjang tanpa dinding. Dapat dihuni 5- 7 orang dewasa. Untuk menghalau angin, hanya dibalutkan kain panjang di tiap sisinya. Fasilitas : kasur kapuk lipat, bantal dan selimut. Harga sewa : tidak sempat ditanyakan karena sudah ngeri duluan membayangkan tidur di sana. Soalnya tongkonan itu biasanya dijadikan tempat untuk menyenyayamkan jenazah.

Tenda lepas berupa tenda yang dipakai camping pada umumnya. Bisa dihuni 2-3 orang dewasa (tergantung ukuran tenda yang dipilih dan juga ujuran body tentu saja ya). Fasilitas : sleeping bag. Harga sewa : Rp 100.000-Rp 150.000

Wisma, terdiri dari beberapa pilihan kamar. Single, double ataupun family room. Fasilitas : kasur springbed, selimut, bantal dan air panas untuk membuat minuman teh/kopi. Harga sewa : Rp 350.000-Rp 500.000

Melihat kondisinya, kami tentu saja memilih wisma meskipun lokasinya sedikit jauh dari view utama. Apalagi setelah dicek wisma untuk family room cukup ok. Tapi… baru saja hendak meletakkan semua barang di kamar, kami langsung berubah pikiran. Soalnya tidak ada toilet! Kebayang gak sih, penginapan tanpa kamar mandi? Lha bumil ini gimana yang menuntut sekian menit sekali mau pipis? Masa pipis di celana??? Oh no! Papa Ochy sampai godain saya untuk memakai popok Ochy saja karena muka saya sudah berlipat-lipat saking stressnya.

Menurut sang pemilik yang memblokir area wisata dengan semua wisma miliknya, memang belum tersedia fasilitas toilet/kamar mandi karena semua masih dalam tahap pembangunan. Sebagai gantinya, dibuatkan toilet sementara di lantai bawah. Ya, semua wisma di sini memang berupa rumah panggung yang didominasi kayu. Masalahnya adalah toilet sementara yang dia maksudkan itu berupa kotak seadanya yang ditutupi kain karung putih yang tepat berada di depan barak para pekerja yang semuanya laki-laki. Gila aja lu!

Ini wisma yang tadinya mau kami tempati. Yang putih di kolong itu adalah toilet sementara yang dimaksud sang pemilik wisma sedangkan barak di depannya adalah tempat tidur para pekerja

Akhirnya kami kembali ke lokasi view puncak karena toilet umum hanya tersedia di sana. Dengan terpaksa kami menginap di tongkonan karena tenda sungguh tidak memungkinkan untuk Ochy. Tongkonan ini juga masih miliknya dan kami dikenakan biaya seharga kamar family room di wisma tadi. Kami tidak berani protes apalagi berdebat mengingat kami hanya pendatang di area asing seperti ini. Mungkin jika tidak melakukan kesalahan seperti kami di awal, harga sewanya bisa lebih murah.

Tenda lepas yang disewakan di Lolai. Belum berani ngajak Ochy tidur di sana apalagi jaket yang dibawa tidak terlalu tebal
Akhirnya menginap di tongkonan. Ini pertama kalinya juga kami merasakan atmosfer rumah adat Toraja itu. Excited sekaligus ngeri sih.

Haruskah membawa bekal makanan?

Meskipun daerah pelosok, namun di Lolai bisa dijumpai kios/warung yang menjajakan makanan dan minuman. Makanan yang tersedia berupa nasi goreng telur, mie instan rebus/seduh dan aneka jajanan ringan. Sedangkan minuman yang bisa dibeli berupa kopi/teh ataupun minuman seduh instan lainnya. Jadi haruskah membawa bekal makanan? Tentu saja ini tergantung pilihan masing-masing. Kalau kami sih disarankan membawa bekal oleh OB kantor yang bernama Pak Alex itu berupa roti, susu, buras, abon dan makanan ringan lainnya seperti kacang telor, keripik, dll. Soalnya tidak yakin akan kehalalan masakan di sana juga tidak kuat jika hanya mengandalkan mie instan saja.

Keindahan Negeri di Atas Awan Lolai

Saya pernah membaca quote entah dimana bahwa semakin sulit suatu perjalanan biasanya semakin indah pula pemandangan yang dijanjikannya. Dan kami menemukan itu di Lolai. Perjalanan menantang sebelumnya terbayar lunas dengan indahnya gumpalan awan di bawah kaki kami.

Suasana malam di Lolai. Bisa melihat Kota Rantepao dari atas
Papa dan Ochy bisa foto sepuasnya karena tidak banyak pengunjung. Ketika sedang ramai, sangat sulit mendapat gambar yang privat begini.
Pengunjung mulai ramai berdatangan. Foto ini diambil sesaat sebelum rombongan istri Bupati Toraja Utara tiba.
Advertisements

2 thoughts on “Lolai : Negeri di Atas Awan Toraja Utara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s