Explore Malaysia With Baby : George Town World Heritage Site

George Town adalah ibukota negara bagian Pulau Pinang atau Penang, Malaysia. Kota ini merupakan salah satu pelabuhan utama di selat Malaka dan menjadi persinggahan penting bagi perdagangan China dan India. 

George Town terkenal akan bangunan bersejarah peninggalan Inggris dan Portugis, pusat pertokoan China, kawasan pemukiman India, serta masjid melayu yang tersebar di berbagai sudut kota tua Penang. Selain mempertahankan sisi kunonya, George Town juga sekaligus membuka diri sebagai kota yang modern dengan mall dan gedung-gedung pencakar langit.

Hari ini adalah hari terakhir kami di Penang setelah melewati perjalanan panjang penuh drama dari Kuala Lumpur kemarin.

Setelah check out dan sarapan di hotel kamipun menuju pusat kota George Town yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Berbekal peta dan informasi dari resepsionis kami sudah siap keliling dengan bus gratis yang bisa diakses di 19 halte. Salah satu haltenya persis di samping kiri hotel. Bismillah… semoga hari ini terisi dengan indah.

Saat menunggu bus, saya iseng jalan ke arah kanan hotel. Dari sana saya melihat banyak turis berjalan kaki. Setelah berunding dengan sahabat saya, Aisda kamipun memutuskan jalan kaki saja apalagi busnya juga belum datang. Kalau mau dibilang sebenarnya sih bukan berunding, lebih tepatnya hasil keputusan saya sendiri. Soalnya sahabat saya ini asli penurut sekali. Apapun yang saya katakan, dia ok saja pokoknya. 

Sepanjang menyusuri jalan kami melewati berbagai street art, lukisan tiga dimensi yang digambar di dinding-dinding bangunan kota tua Penang. Kami juga melewati area China Town dan Little India serta mampir di Masjid Kapitan Keling sekalian mencicipi kuliner lokal Penang pada warung terbuka di depan masjid yang sangat ramai.

Salah satu bentuk street art di George Town
Bangunan tua disulap menjadi lebih berharga dengan sentuhan artistik
Sangat menggoda di tengah terik matahari Penang. Saya bahkan berkhayal ini nyata sehingga bisa menikmati susu soyanya. Hehe

Perut sudah kenyang, kaki berenergi kembali setelah istirahat di masjid, kamipun tetap melanjutkan keliling Penang dengan berjalan kaki hingga ke gedung putih George Town, meskipun matahari sudah agak tinggi dan sedikit terasa panas. Ochy sendiri saya gendong di baby carrier sejak meninggalkan hotel dan hanya diturunkan saat makan tadi juga saat beristirahat di Masjid Kapitan Keling.

Di Depan Masjid Kapitan Keling. Kubahnya mengingatkan saya pada Masjid Baiturrahman Meulaboh Aceh

Selama berjalan kaki itu kami disuguhi pemandangan kota Penang yang sangat kuno dan artistik. Kami bahkan speechless saat melihat parkiran di toko ataupun warga lokal berlalu lalang mengendarai sepeda motor yang pernah eksis di Indonesia pada tahun 90-an. 

Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa kota George Town sangat memelihara kulturalisme budayanya. Melayu, China dan India menyatu dengan baik sekali.

Bangunan-bangunan tua di sepanjang George Town Heritage Site. Mengajak kita menikmati sisi kuno Kota Penang.

Karena hari sudah semakin siang dan panas mulai menyengat kamipun memutuskan kembali ke hotel untuk mengambil koper kami yang dititip pada resepsionis tadi dengan menaiki bus. Saat memperhatikan peta di mana halte terdekat dengan posisi kami saat ini, mata saya menangkap salah satu gambar museum yang hanya satu blok di depan kami. Meskipun bukan penggemar museum tapi yang satu ini sepertinya layak dikunjungi yaitu Upside Down Museum, sebuah museum futuristik yang menggambarkan kehidupan serba terbalik. Kami cukup excited mengingat hal ini belum pernah kami jumpai di Indonesia (setidaknya hingga perjalanan kami ini, Februari 2016). Meskipun sekarang akhirnya mulai muncul di Bali, Malang dan Bandung.

Upside Down Museum Penang

Upside Down museum adalah sebuah museum interaktif yang berlokasi di Kimberly Street George Town. Merupakan museum terbalik dimana segala perabotan rumah tangga diposisikan terbalik di atas kepala kita. Secara resmi museum ini pertama kali dibuka untuk umum pada 8 Agustus 2015. Jadi masih terbilang wisata baru di Penang. Harga tiket masuk dibedakan untuk lokal dan turis. Karena kami bukan warga Malaysia maka dikenakan tarif turis sebesar RM 26/orang. Museum ini terbuka sejak pukul 09.00 pagi hingga 06.30 petang.

Antrian di depan Upside Down Museum

Saat kami datang, antrian sudah panjang sekali. Sebelum masuk alas kaki dilepas dan disimpan dalam loker yang telah disediakan. Di setiap ruangan akan disajikan suasana berbeda layaknya sebuah rumah yang terdiri dari ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, dapur dan kamar mandi bahkan dilengkapi cafe dan toko yang juga terbalik. Tidak usah khawatir bagaimana cara mengambil foto karena di setiap ruang selalu ada petugas yang siap mengarahkan gaya dan mengabadikan gambar kita. Juga tidak perlu khawatir berdesak-desakan meskipun pengunjung sedang ramai karena akan tetap antri di setiap ruangan hingga pengunjung sebelumnya selesai berfoto.

Upside Down Museum ini menjadi penutup wisata kami selama di Penang. Sebenarnya masih ingin mengunjungi Penang Hills tapi waktu sudah tidak memungkinkan. Kami harus ke bandara untuk melanjutkan perjalanan ke Singapore. Kamipun segera kembali ke hotel untuk mengambil koper kami. Kami naik taxi saja biar lebih mudah dan cepat. Harganya juga tidak mahal-mahal amat hanya RM 10 atau sekitar Rp 36.000.

Dari hotel kami ke bandara dengan bus gratis yang sebelumnya tidak jadi kami naiki. Bus ini membawa kami berkeliling George Town dari utara ke selatan. Dari penyebrangan ferry Butterworth hingga ke bandara melewati titik-titik wisata yang sebagian sudah kami kunjungi tadi. Dari atas jendela bus kami menikmati sisi lain kota George Town yang menyuguhkan bangunan-bangunan tua dan bersejarah peninggalan Inggris dan Portugis yang masih terjaga baik kondisinya. Beberapa di antaranya malah difungsikan sebagai pusat perkantoran. Melewati kawasan ini seperti tidak sedang berada di tanah Melayu. Kita seperti diajak ke masa lalu di negeri barat.

Overall dalam one day trip ini, Ochy sangat bersahabat. Ia begitu menikmati perjalanan kami khususnya di Upside Down Museum. Melihat segala perabot terbalik menjadi hal paling menyenangkan baginya. Sepanjang jalan menuju bandara, ia terlelap di pangkuanku. Saking lelapnya, ia mendengkur seperti orang dewasa.

TIPS.

  1. Jika bepergian bersama anak, selalu perhatikan jadwal dan menu makannya. Karena saat kenyang anak tidak akan rewel. Sediakan camilan dan makanan favorit anak sebagai bekal. 
  2. Kondisi fisik anak dan orang dewasa sangat jauh berbeda. Jika anak sudah kelihatan capai (meskipun kita menggendongnya selama perjalanan), tidak perlu memaksakan untuk menuntaskan semua itinerary. Fleksible itu penting. Dan kesehatan anak lebih utama!
  3. Selalu membawa sabun cair ukuran botol mini. Sangat membantu ketika anak pup dalam perjalanan. Karena tidak semua toilet umum menyediakan sabun mandi.
  4. Bawa mainan favorit anak. Sewaktu-waktu dibutuhkan saat anak rewel karena merasa panas atau bosan. Ochy sendiri tipikal anak yang bisa menerima mainan apapun termasuk botol air minum yang sudah kosong sehingga saya tidak harus melakukan persiapan khusus.
  5. Menggendong anak di baby carrier memang sangat membantu dan memudahkan perjalanan. Namun sebaiknya istirahatkan anak dari baby carrier setidaknya 30 menit sekali untuk menghindari cidera dan pegal pada punggung anak.

Well, happy traveling mommy-mommy kece 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s