Explore Malaysia With Baby : Perjalanan Penuh Drama Ke Pulau Pinang (Penang)

Penang atau orang lokal menyebutnya Pulau Pinang bisa ditempuh dengan tiga cara dari Kuala Lumpur : kereta api (6-7 jam), bus (4-5 jam) dan pesawat (30 menit). Lalu apa yang menentukan sebaiknya naik apa? Keadaan!

Awalnya saya ingin sekali naik kereta. Meskipun jalur tempuhnya lebih lama tapi akan memberikan sensasi berbeda karena akan melewati bukit-bukit yang indah terlebih bisa lebih hemat penginapan semalam karena akan menghabiskan malam di atas kereta. Lagipula keretanya juga bagus, ada kamar penumpang lengkap dengan kasur. Sehingga perjalanan panjang itu tentu lebih terasa nyaman. Tapi sayang sekali, kami harus naik bus karena semua tiket kereta telah habis terjual. Mau naik pesawat lebih repot karena harus kembali dulu ke KLIA. Bisa lebih lama dan lebih mahal di ongkos. Sebagai gambaran, tiket KLIA Express dari Kuala Lumpur ke airport saja sudah RM 55 one way. Bolak balik sudah RM 100. Belum harga tiket pesawatnya dan juga mesti standby 2 jam sebelum keberangkatan di bandara. Rempong!

Karena sudah kehabisan tiket kereta, pilihannyapun jatuh pada bus. Bus ke Penang biasanya ada 2 tujuan yaitu Sungai Nibong atau Butterworth. Kami mendapat tiket tujuan Sungai Nibong seharga RM 35/orang yang berarti akan melalui Penang Bridge yang merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Sedangkan untuk kembali ke Kuala Lumpur nanti kami telah mengantongi tiket pesawat Air Asia karena akan melanjutkan perjalanan ke Singapore.

Jembatan Penang dari jauh

Kami tiba di Sungai Nibong sudah malam. Perjalanannya cukup melelahkan. Ditempuh sekitar 6 jam karena mengalami kemacetan di beberapa titik. Syukur selama perjalanan, Ochy tenang-tenang saja. Emaknya saja yang kelelahan luar biasa mengangkat dan menurunkan Ochy dari kursi berkali-kali. Entah mengapa dia sangat menikmati permainan itu. Alhamdulillah sahabat saya Aisda yang menjadi teman perjalanan kali ini banyak sekali membantu. Kami benar-benar menjadi team yang baik. Untuk urusan perjalanan, mulai dari itinerary hingga booking tiket dan akomodasi semuanya diserahkan kepada saya karena menurutnya saya lebih berpengalaman. Sedangkan dia kebagian tugas menjaga Ochy terutama disaat saya sedang istirahat.

Menuju Penginapan

Begitu turun di terminal Sungai Nibong saya bingung bagaimana menuju penginapan yang telah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya di booking.com. Menurut warga lokal yang saya tanya, kami harus ke Komtar terlebih dahulu seharga RM 2. Dari sana naik bus lagi dan turun di halte yang saya agak samar-samar mengingatnya. Daripada repot berganti-ganti transport lagi, akhirnya kamipun memutuskan naik taxi saja. Kami memilih taxi yang tidak pakai argo alias sesuai kesepakatan. Setelah deal dengan harga yang kami tawarkan yaitu RM 20 kamipun segera meninggalkan terminal Sungai Nibong. 

Sudah kebayang kasur yang empuk untuk meluruskan punggung serta teh hangat sebagai welcome drinking. Tapi rupanya sopir taxi ini tidak tahu persis letak penginapan kami (padahal sebelumnya manggut begitu meyakinkan saat kami menunjukkan peta). Jadilah kita mutar-mutar selama berjam-jam di tengah malam yang sunyi. Tanya dari satu orang ke orang lain yang masih on di setiap cafe yang kami singgahi. Mampir dari satu hotel ke hotel lain hanya untuk menanyakan ke resepsionis kira-kira tempat yang kami cari ini dimana. Padahal di peta yang saya print out cukup jelas jalan dan bloknya. Wassalam deh! Untung saja tadi gak pakai taxi argo. Kalau tidak, bisa bangkrut mendadak dan terancam jadi gelandangan. Kelar idup gue!

Parahnya saat pencarian itu, kami sempat melewati jalan dimana segerombolan preman menyiksa seorang pria bermotor dan tepat di depan taxi kami, pria itu ditikam. Dalam hati, saya terus berdo’a memohon perlindungan kepada Allah. Bersamaan, saya dan Aisda saling pandang sambil memeluk erat Ochy yang tertidur lelap di pangkuanku. Pak sopir yang mungkin juga sama takutnya dengan kami, langsung menginjak gas dalam-dalam dan segera kabur tanpa memedulikan preman-preman itu yang bisa jadi ada yang kesenggol ataupun kakinya terinjak dengan taxi kami.

Taxi terus melaju kencang menghilang dari satu blok ke blok lain. Menyelinap di antara gang-gang yang sempit. Saya tidak berani menengok ke belakang. Takut akan kenyataan gerombolan preman itu mengejar kami. Begitu dirasa aman, sopir taxi menghentikan mobilnya. Menarik napas panjang dan menengok ke arah kami. Ekspresinya antara lelah sekaligus kasihan kepada kami yang sudah dini hari begini belum juga mendapatkan tempat untuk beristirahat. Diapun menyarankan agar menginap di hotel lain saja. Dan kami sepakat. Sepertinya itu ide terbaik. 

Saat sopir taxi itu hendak memutar balik mobilnya, ia terpekik keras sekali sampai-sampai Ochy terbangun. Saya dan Aisda lagi-lagi saling menggenggam erat. Ochy saya dekap dalam-dalam. Saya sudah berserah diri, memasrahkan apapun takdir Tuhan untuk kami. Mungkinkah preman-preman itu akhirnya menemukan kami?

Rupanya pak sopir baru saja membaca tulisan di sebuah rumah yang persis dengan nama penginapan kami : Thirty Three Stewart Houze. Diapun turun dan mengecek sementara kami dibiarkan di dalam mobil dulu. Diintainya rumah itu dari depan, samping dan belakang. Tak ada tanda-tanda orang. Sedikit ragu-ragu, ia membuka pagar setinggi pinggang dan dipencetnya bel berkali-kali. Nihil. Tak ada siapa-siapa. Begitu ia menutup pagar kembali, ia baru sadar jika ada tempelan kertas berisi nomor kontak di sudut kanan. Ia pun menelepon nomor itu dan alhamdulillah tempat itu benar guest house yang kami pesan. Pantas saja susah dapatnya. Letaknyapun di gang-gang sempit begini. Ada juga sih manfaatnya insiden kabur tadi. Kita jadinya menemukan tempat yang kita cari-cari. Benar-benar penuh drama. Dan sayangnya drama itu belum berakhir sampai di sini.

Bapak sopir yang baik hati itupun mempersilahkan kami turun sementara ia mengangkut koper kami. Ia memberitahu bahwa pemilik guest house akan datang 1 jam lagi. Kami pun menunggu di dalam teras, duduk di kursi yang lengkap dengan meja.

Tempat kami menunggu di dalam teras

Satu jam berlalu dan yang ditunggu-tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. Saya lalu menelpon nomor kontak yang ditempel di depan pagar. Begitu tersambung, saya menanyakan mengapa kami belum juga ada yang bukakan pintu sementara di luar sangat dingin dan saya datang bersama bayi. Berkali-kali ia memohon maaf dan kembali berjanji akan tiba 2 jam lagi. Whaaatttt??? 2 jam lagi??? Situ waras?! Asli tengsin dini hari. Rasanya pengen ngamuk tapi sayangnya tidak ada sasaran amukan. Heran juga kok bisa dapat poin 8.8 dari booking.com dengan pelayanan seperti ini.

Seharusnya kami sudah leyeh-leyeh di kamar ini. Kami memesan tipe kamar ini sebelum ke Penang. 

Sayapun memutuskan mencari hotel lain di sekitar sini. Jadilah kami dorong-dorong koper menyusuri sepanjang gang sambil gendong Ochy di baby carrier. Sempat bertemu dengan  seorang pria yang sepertinya hendak berangkat kerja. Dengan ramah ia bertanya apa yang bisa ia bantu. Kamipun menyampaikan maksud kami yang sedang mencari hotel dan dipertegas hotel beneran setidaknya bintang tiga kalau gak ada yang bintang empat atau lima. Bukan hotel-hotelan. (Dasar kami ya! Sudah mau ditolong, ngatur-ngatur pula. Siapa suruh nawarin! Hehehe). Ia pun menaiki motornya dan jalan pelan sekali nyaris dikayuh pakai kaki sementara kami mengikutinya hingga akhirnya tiba di Hotel Malaysia, hotel berbintang tiga.

Karena masih pukul 3 pagi, kami belum bisa check in untuk transaksi perhari ini. Terpaksa kamipun check in untuk transaksi kemarin yang berarti kami harus check out sebelum pukul 12 siang nanti. Harganya lumayan juga. Sekitar  1 juta rupiah. Mungkin jika booking jauh-jauh hari sebelumnya harganya bisa setengah lebih murah. Tapi bagi saya setelah semua kejadian tadi, fasilitas dan servisnya sesuai dengan harga. Kami benar-benar dilayani dengan sangat baik. Yaaa meskipun cuma beberapa jam saja karena sebelum siang kita harus cepat-cepat meninggalkan kamar kalau tidak mau dikenakan cas lagi.

Kamar kami di Hotel Malaysia. Luas dan sangat nyaman
Akhirnya menemukan kasur setelah perjalanan panjang yang penuh drama. Tapi ini si kicik-kicik malah melek, minta main. Oalaahh nak.. nak!
Kamar mandinya nyaman. Ada bath tub, water heater dan hair dryer
View dari jendela kamar kami di Hotel Malaysia, Georgetown di pagi hari

Hikmahnya :

  1. Beli tiket ke Penang jauh-jauh hari sebelumnya agar tidak kehabisan sehingga bisa lebih leluasa memilih moda transportasi apa menuju Penang. Tiketnya bisa dibeli secara online.
  2. Jika memang harus naik bus, sebaiknya pilih jurusan Butterworth. Selain lebih murah, pemandangannya juga lebih cantik karena menggunakan penyebrangan ferry ke George Town.
  3. Saat booking akomodasi sebaiknya lokasinya di print out via google map lengkap hingga ke lorong-lorongnya. Jangan nama jalannya dan nomornya saja.
  4. Hubungi pihak penginapan setidaknya 2 jam sebelum tiba di tempat untuk memastikan bisa diterima resepsionis atau akan dititipkan kunci di tempat tertentu agar tidak terkatung-katung seperti kami.
  5. Traveling bersama anak, lelah sih tapi seru. Bagian ini tetap ya! Hehehe. Dan yang pasti traveling bersama anak selalu membawa berkah. InsyaAllah selalu ada pertolongan Allah.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s