Explore Malaysia With Baby : Red Town of Melaka

Awalnya sering melihat gambar bangunan merah (red square) ini yang belakangan saya tahu namanya Stadthuys, wara wiri di desktop juga sering muncul di beberapa sosial media yang saya follow. Saya pun penasaran dan mencari tahu tentang bangunan bersejarah di Melaka itu. Hasil pencarian saya akhirnya memutuskan untuk mengunjunginya langsung yang ternyata telah menjadi salah satu warisan dunia UNESCO di Tanah Melaka.

Berhubung suami tidak bisa berangkat, sayapun bepergian dengan anak kami Ochy yang saat itu usianya baru 13 bulan juga salah seorang sahabat saya, Aisda. Ini sekaligus menjadi traveling internasional perdana saya dengan baby. Karena sebelum punya anak biasanya ngebolang ke luar negeri berdua saja dengan  suami.

Persiapan Sebelum Berangkat

Pagi-pagi kami sudah sarapan. Sebelum meninggalkan hotel di Kuala Lumpur, saya sudah siapkan segala keperluan Ochy berupa satu backpack khusus yang isinya baju, celana, sweater, topi, popok, asip, pompa asi, dot, pencuci botol, tissue basah, tissue kering, makanan ringan (biskuit), buah yang telah dipotong-potong kecil, susu uht, sabun mandi, baby carrier dan mainan. Dan  berhubung Ochy sudah bisa jalan sendiri, makanya baby carriernya tidak langsung dipakai. Soalnya anaknya doyan jalan dan lari ke sana ke mari. Hanya minta digendong kalau sudah merasa capai. Karena itu baby carriernya hanya diletakkan di bagian samping backpack agar mudah di ambil ketika sewaktu-waktu dibutuhkan. Sengaja tidak membawa stroller karena ukurannya yang besar bisa membuat lebih repot. Saya sendiri hanya membawa satu pasang pakaian ganti.

Rute Kuala Lumpur – Melaka
Jarak dari Kuala Lumpur ke Melaka sekitar 113 km dan bisa ditempuh hanya dengan perjalanan darat selama 2 jam jika arus lancar. Dalam hal ini kami menggunakan bus. Jadwal bus sendiri sangat banyak dan beragam, tersedia dari pagi buta hingga tengah malam.

Karena menginap di Hotel Prescot yang dekat sekali dari terminal KL Sentral maka kami pun memulai perjalanan ke Melaka dengan rute KL Sentral – Stasiun Bandar  Tasik Selatan – Terminal Bersepadu Selatan (TBS)- Melaka Sentral. Tidak ada bus yang melayani langsung dari KL Sentral ke Melaka. Maka harus ke Stasiun Bandar Tasik Selatan terlebih dahulu dengan KTM Komuter seharga RM 1/orang. Anak di bawah umur 2 tahun gratis saja. Tiba di sana, ikuti saja petunjuk arah ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS).

Stasiun Bandar Tasik Selatan yang terintegrasi dengan Terminal Bersepadu Selatan (TBS)
Penampakan jalur kereta di Stasiun Bandar Tasik Selatan dari luar.

Deretan counter tiket akan terlihat di sebelah kanan begitu kita memasuki terminal. Pilih saja counter yang antriannya tidak terlalu padat dengan memperhatikan apakah memiliki rute langsung ke Melaka. Harga tiketnya RM 10/orang dan gratis untuk anak di bawah 2 tahun. Bagi warga asing alias non Malaysian wajib memperlihatkan passport.

Bangunan dan sistem TBS ini sangat modern untuk ukuran terminal bus. Saking modernnya bahkan lebih mirip bandara. Ada counter check-in dan juga pemeriksaan tiket layaknya pemeriksaan boarding pass. Nama bus, platform, waktu dan nomor kursi sudah tertera di tiket. Jadwal kedatangan dan keberangkatan bus juga terpampang lewat papan digital serta ruang tunggu yang bersih dan sangat nyaman.

Bus kamipun berangkat. Namanya bus Transnasional. Perjalanan ke Melaka alhamdulillah lancar jaya hari itu. Termasuk Ochy yang anteng-anteng saja hingga tiba di Melaka Sentral. Suasana langsung berubah drastis begitu kami turun dari bus. Bangunan Melaka Sentral terlihat tua dan agak kumuh. Sangat jauh berbeda dengan TBS Kuala Lumpur. Kamipun mencari makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke kompleks bangunan merah yang masih harus ditempuh dengan bus khusus selama  15 menit. Kami sengaja memilih tempat makan yang penjualnya berhijab serta ada sertifikasi halalnya dan yang pasti menyediakan fasilitas wifi gratis. Biar bisa tetap eksis gitu. Hehehe

Melaka Sentral – The Stadthuys

Menuju kompleks bangunan merah atau red square atau red town atau Bandar Hilir Melaka Bandaraya Bersejarah (sumpah sebutannya banyak banget) sangatlah mudah dari Melaka Sentral. Cukup menunggu bus Panorama di terminal lokal platform no.17. Lokasinya berseblahan dengan terminal antar kota. Siapkan uang pas RM 1 dan disimpan pada nampan kecil di sebelah kiri sopir sebelum kita menuju kursi bis untuk ditukar dengan tiket. Tiket ini sudah return sehingga saat pulang nanti kita tidak perlu membayar lagi. Duduknya boleh dimana saja dan boleh naik bus apa saja selama masih bus Panorama.

Bis Panorama yang membawa kita ke kompleks bangunan merah

Welcome to Red Square

Akhirnya sampai juga di area ikonik Melaka. Ini merupakan sebuah kompleks dengan dominasi bangunan yang di cat merah berupa museum, gereja, benteng, makam dan perpustakaan hasil peninggalan Belanda, Portugis dan Inggris. Adapun bangunan lain di sekitarnya seperti tourist information centre, toko-toko souvenir, wahana permainan, taman, menara serta pusat kuliner bernama jonker street yang sangat ramai saat malam.

TIPS. Jika tidak menginap seperti kami, maka siapkanlah waktu seharian untuk mengeksplore kompleks tersebut. Ambillah peta di tourist information centre untuk menentukan bangunan apa saja yang ingin kita kunjungi mengingat area ini luaaasssss banget. Gempor deh kalau mau didatangi semua dengan berjalan kaki, apalagi sambil gendong anak. Ada sih pilihan naik becak, tapi harganya mahal sekali. Selain becaknya superheboh karena dihias sedemikian rupa juga ada musiknya yang kencang sekali. Walhasil bakal jadi pusat perhatian pengunjung. Makanya saya ogah naiknya. Jangan lupa bawa payung juga ya karena ini area outdoor dan sangat panas.

The Stadthuys Melaka. Orang bertopi itu adalah tukang foto keliling yang berkali-kali nawarin jasa ke kami
The surviving gate of The Famosa Portuguese Fort
Toko souvenir. Di sini saya membeli beberapa tempelan kulkas sebagai  oleh-oleh.

Untuk urusan sholat tidak perlu khawatir karena ada masjid di dalam kompleks tersebut. Letaknya tepat di depan gereja Stadthuys atau di atas bangunan tourist information centre. Untuk kembali lagi ke Melaka Sentral bisa menunggu bus Panorama di beberapa titik halte. Kebanyakan wisatawan sih akan menunggu bis tersebut di depan gereja bangunan merah (tempat pertama kali diturunkan saat memasuki kawasan ini). Saya sendiri karena merasa capai jika harus berjalan balik ke titik awal di mana tadi kami diturunkan, sayapun memutuskan terus jalan saja hingga menemukan halte yang lain. Keputusan ini ternyata membawa langkah kami ke kawasan  Melaka Megamall yang ada di ujung jalan. Ah… seperti menemukan surga! Soalnya tadi sudah jalan kaki sekian kilometer di bawah terik matahari pula.

Bangunan tinggi di depan Ochy itu adalah Melaka Megamall

Melaka Megamall sangat lengkap. Beberapa toko branded dan gerai makanan franchise ada di dalamnya. Kami singgah di Burger King untuk meluruskan kaki sekalian untuk mengisi perut dan tentu saja demi wifi gratis. Sebenarnya ada banyak pilihan restoran, tapi ini yang paling dekat dari pintu utama yang kami lalui tadi saat masuk ke dalam Melaka Megamall. Saat menunggu orderan diantar ke meja, terjadilah insiden tumpah susu oleh Ochy. Sumpah malunya minta ampun. Dengan cepat-cepat saya berusaha membersihkan lantai tapi langsung dicegat oleh salah seorang karyawannya. Sambil tersenyum, mbak-mbak itu bilang tidak apa-apa lalu alat pelnya segera digosokkan ke lantai. Ia juga sempat mencubit pipi Ochy sebagai tanda sayang. Alhamdulillah… tuh kan traveling bareng anak tuh gini, banyak berkahnya.

Setelah tenaga agak pulih, kami terus berjalan menuju halte. Jalannya di dalam mall saja biar adem sekalian bisa cuci mata juga. Sebelum tiba di pintu keluar yang terintegrasi dengan halte, eh ada gerai Uniqlo di depan kami. Toko favorit saya dan Aisda ke manapun kami melancong. Saat di Jepang dulu, kami malah sampai over bagasi gara-gara kalap belanja di Uniqlo. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu doyan belanja tapi bisa betah di sana untuk mencarikan barang yang ok buat suami. Soalnya kalau sudah di Indonesia entah mengapa harganya kok berkali-kali lipat, syukur-syukur juga kalau barangnya ada. Nah bisa ditebak deh apa yang terjadi kemudian. Karena terlalu lama tawaf di sana, bus Panorama sudah banyak yang lewat. Kamipun kebagian bus malam menuju Melaka Sentral.

TIPS. Ketika ke Melaka dan tidak berencana menginap sebaiknya sudah mempunyai tiket kembali ke Kuala Lumpur yang bisa dibeli di Melaka Sentral tadi agar tidak terjadi hal yang seperti kami alami : kehabisan tiket pulang! Hiks.

Melaka Sentral – Kuala Lumpur

Begitu tiba di Melaka Sentral, semua counter yang kami datangi sudah tidak ada yang mempunyai tiket Melaka-Kuala Lumpur alias habis. Padahal saat itu masih jam 7 lebih sedikit. Sempat terlintas untuk menginap saja di Melaka tapi bingung mau menginap dimana. Lagipula sayang jika kamar kami yang nyaman di Hotel Prescott kosong melompong malam ini padahal sudah kami bayar mahal-mahal.

Ketika sedang duduk di luar terminal untuk menghirup angin malam, seorang bapak mendatangi kami sambil membawa lembaran tiket. Kalau di Indonesia semacam calo begitu. Ia menawarkan kami tiket ke Kuala Lumpur dan bapak itupun tetap menjualnya dengan harga normal sesuai yang tertera di counter-counter tiket. Tidak hanya menawari kami dengan ramah, ia pun berkali-kali meyakinkan kami apa benar mau membeli tiketnya padahal ini adalah jadwal bis terakhir ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS) Kuala Lumpur. Dengan mantap kamipun mengiyakan.

Kami meninggalkan Melaka Sentral sudah pukul 10.30 malam. Padahal jadwal ditiket pukul 9.30 malam. Ketika saya tanya mengapa busnya belum berangkat padahal penumpang sudah di atas semua, kenetnya dengan santai bilang sopirnya istirahat dulu. 

Busnya berupa double decker, bus dua tingkat. Kami duduk di kursi tingkat dua dan ternyata itu adalah keputusan yang keliru karena goncangan bus begitu terasa sehingga kadang membuat oleng dan mual. Belum lagi ada penumpang yang kakinya bau sekali duduk di dekat kursi kami semakin membuat saya berasa morning skickness. Tapi syukur anak saya lelap saja dan tidak terganggu sama sekali.

Setengah jam perjalanan saya sudah tidak tahan. Saya akhirnya pindah ke kursi yang kosong agak jauh di belakang. Tanpa bau kaki setidaknya di sini lebih nyaman meskipun goncangan bus lebih terasa. Saya sempat mengobrol dengan salah seorang penumpang. Dari dia barulah saya tau jika terminal terakhir bus ini bukanlah di Kuala Lumpur tapi hingga ke perbatasan Bangkok.

Akhirnya tiba juga kami di TBS. Dan semua counter tiket telah tutup karena jam sudah lewat 12 malam. Padahal kami masih harus ke KL Sentral karena hotel kami lokasinya dekat sana. Saya meskipun terbiasa backpackeran dan dalam situasi tertentu kadang harus menginap di terminal, tidak jadi masalah. Tapi kali ini tidak mungkin karena saya membawa bayi! Tidak mungkin saya membiarkan Ochy terus di terminal hingga pukul 6 pagi nanti. Akhirnya kami memutuskan naik taxi. Saya sama sekali tidak punya gambaran seberapa jauh jalan yang akan kami tempuh karena jalur kereta dan mobil tidaklah sama. Juga tidak tahu model sopir seperti apa yang akan membawa kami. Benar-benar hanya memasrahkan semuanya kepada Allah.

Bersyukur kami tiba di hotel dengan selamat dan selama perjalanan, hanya murattal yang mengalun dari radio pak sopir yang ternyata seorang ustadz. Sebelum kami tau kalau dia itu ustadz, sebenarnya dia sudah bertanya mengapa pulangnya malam-malam? Kami dari mana? Suaminya dimana? Dan demi alasan  keamanan, saya cenderung diam saja setelah mengatakan suami saya sudah menunggu kami di hotel. Khawatir kami diapa-apain kalau terlalu jujut soalnya. Lalu diapun menasihati kami sebaiknya lain kali jangan berada di luar rumah hingga tengah malam begini. Apalagi tanpa lelaki dewasa karena sangat berbahaya. (Duh pak… terharu banget. Alhamdulillah diingatkan. Tapi sebenarnya kami juga tidak menginginkan ini dan jika sesuai planning seharusnya kami sudah tiba di hotel jam 9-an).

Karena sudah pukul 1 dini hari maka dikenakan cas 50% dari harga argo. Awalnya saya kaget dan bersuudzon jika dia telah mengelabui kami. Lalu Pak sopir itupun menunjukkan stiker di pintu dan dashboard tentang peraturan tersebut yang dihitung mulai pukul 12.01. 

Berhubung pak sopirnya baik, jujur dan telah membawa kami tiba di tujuan dengan selamat, kami tetap memberinya tip dan dia begitu bersyukur dengan berkali-kali mengucap hamdalah.

Mari tidur dan siapkan tenaga buat destinasi besok. So far, baby Ochy baik-baik saja. Jadwal makan dan minum susunya tidak ada yang berubah. Hanya jadwal tidur saja yang sedikit bergeser. 

View dari jendela kamar keesokan harinya. Sudah pukul 8 pagi tapi hari masih gelap

Jadi yang masih mikir ngajakin anak apalagi yang masih di bawah 2 tahun buat traveling bareng, saya cuma bisa bilang berikan pengalaman berharga untuk buah hati anda melalui traveling karena banyak pelajaran yang insyaAllah bermanfaat baginya dikemudian hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s