Happy 2 Years Old, My Boy!

Hari ini, tepat 2 tahun yang lalu engkau hadir melengkapi fitrahku sebagai wanita. Karenamu aku bisa mendapat kemuliaan perempuan yang dipanggil ibu. Olehmu, aku merasakan nikmatnya hidup yang jungkir balik : siang jadi malam dan malam menjadi siang. Hidup yang penuh tantangan : makan, mandi, dan tidur yang berantakan. Hidup yang penuh proses : sabar, telaten, kelola emosi, lelah tak berkesudahan. Namun dengan kelahiranmu dari rahimku, surga telah di tempatkan di bawah kakiku.

Waktu memang sifatnya ambigu. Ia terasa lambat sekaligus terasa cepat. Aku masih ingat bagaimana harus berjuang melewati malam-malam panjang bersamamu di ruang NICU. Kuabaikan rasa sakit operasi yang masih membekas ketika bergerak demi menjagamu di ruang asing itu. Kurelakan segala kenikmatan tidur terenggut demi menyusuimu yang kadang membuat pinggang encok karena posisi yang tidak nyaman. Lalu entah mengapa waktu seperti berkonspirasi denganmu, mengalun dalam dawai lambat. Masih lekat pula dalam memori bagaimana berjuang pada masa-masa MP Asimu. Sering membuatku stress jika engkau tidak mau makan sementara berat badanmu terus menyusut.Dan lagi-lagi waktu memihakmu. Membuat segalanya berjalan semakin lambat. 

Ochy 0-12 months old

Lalu hari ini, kamu sudah saja berusia 2 tahun. Sedang lucu-lucunya. Menggemaskan! Rasanya baru kemarin menimangmu. Tahu-tahu sekarang kamu sudah begitu lincahnya lari dan lompat ke sana kemari. Belum juga lepas dalam ingatan bagaimana engkau terbata-bata dan berusaha keras memanggilku mama. Sekarang apapun yang keluar dari ucapanmu adalah kalimat yang sangat fasih.

Ochy 7 months old
Ochy 1.5 years old

Wahai anakku, Ochy. Tetaplah tumbuh dalam limpahan cinta dan kasih sayang. Tetaplah menjadi pribadi yang membanggakan bagi kami orang tuamu, terlebih bagi Tuhan. Jadilah anak yang penuh manfaat bagi sesama. Yang kehadirannya senantiasa dirindukan.

Anakku Ochy, Muhammad Hideyoshi Almahendra. Kelak jika engkau bertanya mengapa tak ada perayaan hari lahirmu? Mengapa tak ada pesta ulang tahunmu? Mengapa tak ada kue dan lilin? Mengapa tak ada balon dan mainan? Mengapa tak ada doa dan harapan? Mengapa tak ada liburan ke pantai bahkan keluar negeri sebagai kado? Mengapa tak ada hadiah apapun layaknya kebanyakan orang yang berulang tahun? Tidakkah mama dan papa mencintai Ochy? 

Sungguh kuharap tak pernah terbesit niat engkau mempertanyakan itu. Tapi jikapun hatimu resah tentangnya, cukuplah engkau tahu cinta dan kasih sayang kami tak pernah kurang untukmu. Karena sungguh, kami tak harus menunggu ulang tahunmu untuk mendoakanmu, memberi hadiah, mengajak traveling dan membelikan mainan. Kami hanya ingin keluarga kecil kita hidup lebih baik dalam tuntunan agama. Dan sungguh perayaan ulang tahun itu tak pernah ada dalam ajaran agama kita.

Aku tahu engkau masih terlalu muda untuk memahami itu semua. Namun izinkan mama dan papa meneladankan nilai-nilai agama sejak dini. Pun jika engkau berkenan, izinkan mama dan papa menjadi penghuni surga oleh indahnya akhlakmu kelak. Amin yaa Rabbal ‘alamin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s