Greeting From Papua: Welcome 2017

#timikapapua

Advertisements

Desember baru saja berlalu. Menyisakan rinai hujan akhir tahun di pucuk-pucuk cemara. Kota ini tak pernah sepi dari ledakan kembang api, siang dan malam. Tak peduli hujan memadamkan percikan bunga indah yang dikeluarkannya. Tak peduli berapa banyak rupiah yang harus ditukar untuk mendapatkannya. Pun tak peduli pergantian tahun masih sebulan lagi. Sama tidak pedulinya Januari telah berlalu sekian hari. Masyarakat Papua bersuka cita penuh bahagia.

Kami, para perantau di Kota Tambang Emas ini juga ikut merasakan euforia masyarakat lokal menyambut tahun baru.

Ini adalah yang ketiga kali bagi saya. Melewatkan pergantian tahun di Pulau Cendrawasih yang terkenal dengan tambang Gresbergnya. Di Kota Timika yang cuacanya sangat sulit diprediksi. Saat sedang terik-teriknya, hujan turun begitu saja tanpa permisi. Kota kecil di sudut timur Indonesia yang mengajarkan saya banyak hal tentang makna hidup khususnya toleransi atas perbedaan, sabar dan bersyukur dengan segala keterbatasannya.

Sebagai seorang muslim, saya dan keluarga menjadi bagian minoritas dari penduduk Timika yang menganut agama kristen, baik penduduk asli maupun pendatang yang akhirnya berdomisili di sana hingga beranak cucu. Namun demikian, mereka begitu menghormati kami dengan keyakinan kami yang berbeda. Selama tinggal di sana, sekalipun kami tidak pernah mendapat gangguan dalam hal ibadah. Semua hidup berdampingan dengan damai.

Adapun yang marak diberitakan media tentang kekacauan yang sering terjadi di Timika memang tidak bisa dinafikkan. Hanya saja jika saya boleh jujur, berita yang dikabarkan tersebut sifatnya hiperbolis. 

Memang terjadi kekacauan yang biasanya berupa perang antar suku. Namun itu terbatas dalam distrik tertentu dan biasanya jauh di dalam hutan belantara. Tidak terjamah oleh masyarakat umum dan tertutup dari dunia luar. Kalaupun terjadi di pusat kota, biasanya berupa tindakan  kriminal semacam pencopetan, pemukulan atau perampasan barang yang dilakukan oleh orang-orang yang kehilangan kesadarannya karena berada di bawah pengaruh minuman keras. Dan saya rasa di daerah manapun terdapat kasus-kasus seperti itu.

Anyway welcome 2017. Salam hangat dari Timika, Papua 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s